"Semua ini berawal dari kakak sepupuku."
。。。。。。
Youngjae Point of View
。。。。。。
Aku adalah anak tunggal di keluarga Yoo. Anak laki-laki yang di dapatkan dengan susah payah oleh Ayah dan Ibuku setelah bertahun-tahun menunggu. Kandungan Ibu sangat lemah sehingga saat hamil Ayah selalu berada di samping Ibu untuk menjaganya dan ketika aku lahir, aku selalu menjadi kebanggaan mereka.
Itulah cerita yang aku dengar ketika aku sudah berusia tujuh tahun. Ketika itu aku bertanya kenapa semua permintaanku dikabulkan oleh mereka. Iya, semua. Mainan mahal, jalan-jalan keluar negeri, dan semua kemauanku yang lain. Memang keluargaku bukan orang susah, sih.
"Kau beruntung memiliki orang tua seperti mereka."
Itu yang aku dengar dari teman-temanku yang selalu mengeluhkan soal orang tua mereka yang pelit karena tidak mau membelikan mereka mainan. Padahal seharusnya mereka bersyukur saja atas apa yang sudah mereka dapatkan. Setidaknya, mereka punya orang tua dan saudara yang berada di sisi mereka. Bukan orang tua yang selalu sibuk seperti orangtuaku.
Sebagai anak tunggal, tentunya aku sangat menginginkan sosok kakak atau adik yang bisa menemaniku. Bermain dan melakukan hal menyenangkan bersama-sama.
Dan akhirnya permintaanku dikabulkan.
Saat berusia sepuluh tahun, aku dipertemukan dengan sepupuku untuk pertama kalinya. Sosok laki-laki dewasa yang menarik semua atensiku dengan senyuman hangat dan telapak tangan besar yang mengelus kepalaku.
Kim Seokjin—atau dia memintaku untuk memanggilnya Jin—adalah anak dari kakak laki-laki Ibu. Sepupu yang memiliki perbedaan usia enam tahun dan kini sedang menempuh tes perguruan tinggi.
Kata Ayah, Jin sangat pintar karena bisa lulus SMA di usianya yang masih muda. Aku tidak terlalu mengerti tentunya, karena aku masih berada di kelas lima SD dan belum mengerti apa itu perguruan tinggi. Jadi aku hanya mengiyakan kata-kata Ayah.
Sejauh yang aku kenal, Jin adalah sosok yang sangat baik. Dia selalu membawakan makanan ketika bermain ke rumah, mengajakku pergi jalan-jalan ketika kami sama-sama ada waktu senggang dan kadang mengantar-jemputku ke sekolah.
Dia memenuhi sosok Kakak yang selalu aku inginkan.
Aku sangat senang ketika Ayah berkata kalau aku akan tinggal bersama Jin di apartemennya sementara waktu karena orangtuaku harus pergi selama sebulan untuk mengurus perusahaan mereka yang sedang bermasalah di Jepang. Tentu saja aku tidak diperbolehkan untuk ikut karena absen sekolah sudah terlalu banyak bolong.
"Aku akan menjaganya. Aku kan sangat menyayangi Youngjae," ujar Jin pada Ayah dan Ibuku yang terlihat sangat khawatir.
"Aku tidak akan nakal! Aku janji!" seruku sambil menggenggam tangan Jin erat.
Jin tersenyum lalu mengacak rambutku yang tadinya di tata rapi oleh ibu. Mendengar kata-kata Jin membuat orangtuaku tersenyum lega. Berkali-kali mengucapkan terima kasih pada Jin dan dengan tenang meninggalkanku bersamanya.
。。。。。。
"Youngjae, ayo bangun dan sarapan."
Jin mengelus rambutku, membangunkanku dari tidur yang lumayan panjang. Seharian kemarin membuatku sangat lelah. Jin mengajakku pergi ke taman bermain dari pagi hingga malam dan itu membuatku kelelahan sehingga aku tertidur lumayan lama.
Kuusap wajahku perlahan, bisa kulihat Jin tersenyum manis dan mengelus pipiku dengan telapak tangan besarnya yang hangat. Aku selalu suka saat Jin mengelus kepala dan pipiku. Benar-benar membuatku merasa nyaman.
"Cuci muka, sikat gigi lalu ganti bajumu," katanya. "Aku akan menunggu di ruang makan."
Kepalaku mengangguk dan bergerak menuruti kata-kata Jin. Setelah mencuci muka dan sikat gigi, aku mengganti pakaian dengan kaos dan celana yang disiapkan Jin di atas kasur. Kaos biru bergambar beruang dan celana pendek berwarna krem yang dibelikan Jin untukku. Tidak, aku tidak memintanya, tapi, Jin bilang aku akan sangat cocok memakainya. Hehe.
Apartemen Jin terlihat sangat luas—bagiku yang berbadan mungil sekarang ini—tapi, Jin hanya tinggal seorang diri. Jin pasti sangat kesepian, sama sepertiku.
Kuhampiri Jin yang sudah menunggu di meja makan sambil menyesap teh hangat. Senyum teduh dilayangkannya padaku. Jin tidak banyak bicara saat makan—saat bermain juga dia tidak terlalu banyak bicara, sih—jadi kami selalu makan dalam keheningang. Hanya bunyi dentingan sendok dan garpu di atas piring saja yang terdengar.
Selama hampir dua minggu aku tinggal bersama Jin, yang kuperlajari dari pemuda ini adalah dia memiliki senyuman yang teduh, kasih sayang dan perhatian yang luar biasa, juga dia sangat suka mengelusku. Kepala, pipi, tangan. Dia sangat suka menyentuhku dengan lembut.
Aku bertanya-tanya kenapa Jin selalu memperhatikanku penuh dengan kasih sayang seperti itu. Tidak, tidak. Bukannya aku mau protes soal ini. Hanya saja banyak yang mengganggu otak kecilku.
"Jin-hyung."
Jin yang tadinya fokus pada novel yang sedang dia baca kini menoleh ke arahku. Aku duduk di sampingnya, menatapnya penuh tanya.
"Ada apa?" tanya Jin.
"Aku penasaran," ujarku. Masih menatap Jin dalam-dalam.
"Tentang apa?" Jin mengelus rambut, "Apa tentang adikku?"
Aku menganggukkan kepalaku. Jin menutup novel dan meletakkannya di atas nakas di samping tempat tidur. Kuminta dia bercerita tentang adik laki-lakinya.
Seperti kata Ayah waktu kami bertelepon kemarin malam, Jin berkata dia pernah memiliki seorang adik laki-laki yang seumuran denganku. Namanya, Jimin. Jin sangat menyayangi Jimin dan selalu menemani Jimin kemanapun dia pergi. Bisa dibilang, Jin terlalu protektif terhadap Jimin. Semua itu dikarenakan Jimin mengidap penyakit berat. Jantung Jimin lemah sejak dia dilahirkan dan Jin merasa memiliki tanggung jawab sebagai kakak untuk menjaga Jimin.
Kata Jin, Jimin adalah anak yang sangat aktif walaupun pada akhirnya dia sering keluar-masuk rumah sakit. Jimin tidak pernah takut terjatuh dan terluka. Mirip sepertiku, itu kata Jin, bukan kataku.
Saat Jimin menginjak usia tujuh tahu, sakitnya menjadi semakin parah. Jin yang merasa bersalah terus menemani Jimin di rumah sakit hingga rela tidak masuk sekolah. Padahal Jin termasuk anak dengan prestasi luar biasa di sekolahnya. Dia terus-menerus menjaga Jimin agar Jimin tidak kesepian.
Hingga akhirnya, Jin harus merelakan Jimin untuk pergi meninggalkannya. Jimin menutup mata dalam genggaman tangan Jin.
Jin frustasi.
Selama setahun dia terus mengurung diri. Lari dari dunia kejam yang telah merebut Jimin darinya. Jimin yang selalu menjadi alasan Jin untuk hidup selama tiga belas tahun ini, kini sudah pergi meninggalkannya.
Tapi akhirnya Jin kembali bangkit karena dia harus tetap menjalani hidupnya. Dia harus tetap hidup untuk Jimin, itu yang Jimin minta pada Jin sebelum dia pergi.
"Aku beruntung bertemu denganmu, Youngjae," kata Jin padaku yang menangis mendengar ceritanya. "Aku kembali menemukan sosok harus yang aku lindungi."
Tangan Jin lagi-lagi mengelus rambutku lalu membawaku ke dalam dekapan hangatnya. Tubuh kecilku membalas pelukan Jin seerat mungkin. Mencoba untuk menarik kesepian yang mengelilingi hatinya.
Dalam hatiku sendiri aku berjanji, kalau aku akan terus menemani Jin .
。。。。。。
Aku mendengar derap langkah kaki yang tergopoh-gopoh dari lorong sekolah. Dobrakan pintu yang kencang membuatku terkejut. Kulihat sosok Jin yang terengah-engah, keringat juga bercucuran di dahinya.
"Youngjae! Kau tak apa?" tanya Jin panik saat melihat betis kiriku yang dibalut perban.
Aku menyungging senyum cerah agar Jin tidak khawatir. Menggerakkan kakiku seperti biasa walaupun terasa sangat sakit.
"Aku tidak apa-apa!" seruku.
Tapi Jin tidak percaya semudah itu. Dia menghampiriku lalu memelukku dengat sangat erat. Bisa kurasakan getaran hebat di tubuh Jin yang terlihat sangat ketakutan. Sepertinya Jin buru-buru datang ke sekolahku sejak guru menelpon dan mengatakan kalau aku jatuh dari atas pohon dan betis kiriku terluka. Padahal lukanya tidak terlalu parah, tapi, melihat Jin sekhawatir ini aku jadi merasa sangat bersalah.
"Kumohon jangan lakukan hal berbahaya lagi..." bisiknya lirih.
Bisa kurasakan seragam sekolahku mendadak basah. Jin menangis.
"Jangan tinggalkan aku, Youngjae..."
Dan aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya bisa diam dan mengelus kepalanya perlahan. Aku semakin tidak bisa meninggalkan Jin sendirian.
Sejak saat itu Jin semakin protektif padaku. Dia tidak memperbolehkanku untuk keluar dan bermain di taman bersama teman-teman. Mengantar-jemput ke sekolah setiap hari dan mengurungku di apartemennya setelah itu. Awalnya aku biasa saja. Teman-temanku juga satu per satu menghilang. Aku masih tetap biasa saja.
Tapi, akhir-akhir ini tatapan Jin membuatku merasa risih. Mata sayunya sering menatapku lamat-lamat. Kadang saat aku hampir terlayang dalam tidur, bisa kurasakan Jin yang menghampiriku dan mengelus rambutku. Aku berpikir, mungkin Jin benar-benar tidak ingin kehilangan sosok adiknya untuk yang kedua kali.
Dua minggu terakhir aku merasakan hal yang berbeda. Sentuhan Jin semakin intens—maksudku, semakin tidak biasa. Kadang dia suka mengelus bahuku, memintaku untuk tidur bersamanya. Kadang juga saat bermain playstation, dia suka meminta agar aku duduk di pangkuannya.
Aku tidak bermasalah, tapi, Jin suka sekali menyentuh di bagian yang aneh-aneh. Awalnya dia suka melingkarkan lengan di perutku. Dan akhirnya semakin sering mengelus pahaku. Kalau aku menolak, dia pasti akan meremas pahaku gemas.
"Youngjae jangan menolak," bisiknya. Suaranya terdengar berat dan dalam. Aku tidak suka.
Aku meronta dalam pelukannya, berlari ke dalam kamar setelah terbebas lalu mengunci pintu kamarku.
Aku takut. Takut pada Jin yang menjadi seperti itu.
。。。。。。
Senang atau sedih. Aku tidak tahu harus merasa seperti apa. Orangtuaku akan menjemputku nanti sore untuk pulang kerumah. Ya, pekerjaan mereka telah selesai dan kemarin malam mereka kembali ke Korea. Aku merasa lega karena bisa bertemu dengan orangtuaku lagi. Tapi, Jin?
Jin terlihat muram sejak pagi dan aku tidak berani menyapanya. Bahkan saat dia mengantarku ke sekolah juga dia tidak berkata apa-apa selain dia tidak bisa menjemputku hari ini karena ada urusan mendadak. Aku hanya menganggukkan kepala dan turun dari mobilnya.
Saat aku kembali ke apartemen Jin setelah pulang sekolah, aku agak terkejut melihat sepatu Jin yang terletak berantakan di depan rak sepatu. Aku masuk ke dalam dan mendapati Jin sedang duduk di atas sofa dengan yang sangat kusut.
"Jin-hyun?"
Dia menoleh saat kupanggil. Senyuman tersungging di wajah tampannya, lalu dia berjalan menghampiriku.
"Youngjae..."
Entah kenapa, aku refleks berjalan mundur. Jin semakin dekat dan saat aku hendak berlari, dia menggenggam tanganku erat.
"Jangan pergi."
Lalu dia menarikku masuk ke dalam kamar. Dengan kasar membanting tubuhku ke atas ranjangnya. Tentu saja, aku gemetar ketakutan. Ingin berteriak, namun suaraku tercekat. Jin memelukku erat dan kuat sehingga aku tidak bisa kabur. Aku meronta, namun tetap kalah tenaga.
"Aku akan menjadikan Youngjae milikku selamanya."
Telapak tangan yang biasanya hangat itu tak lagi kurasakan. Tangan kanan Jin menahan kedua tanganku sedangkan tangan kirinya meraba masuk ke dalam kaos hijau yang kupakai. Aku bisa merasakan nafas hangatnya di perpotongan leherku.
Aku takut, kesal... Jijik.
Sentuhan tangan itu membuatku merasa jijik.
"Youngjae-ah... jangan pergi..."
Air mataku terus mengalir ketika mendengarnya merapalkan namaku. Aku tidak bisa mengerti apa yang terjadi, namun tubuhku tak berhenti meronta.
"KIM SEOKJIN!"
Kedua mataku terbuka lebar. Samar-samar bisa kulihat Ayah dan Ibuku yang berdiri dengan wajah terkejut di ambang pintu kamar Jin. Pegangan Jin di tubuhku melemah.
"Kurang ajar!"
Ayah menarik tubuh Jin dan menghempaskannya dengan keras ke dinding. Jin tidak melawan saat Ayah menampar pipinya. Kulihat Jin hanya diam dan terduduk lemas. Membenamkan wajah di balik lututnya yang terlipat.
Aku masih duduk gemetar di atas kasur. Air mata tidak mau berhenti mengalir membasahi wajahku. Kutepis tangan Ibu yang tadinya ingin memeluk dan menenangkanku. Ibu diam walau air mata mengalir tak kalah banyak di wajah cantiknya.
"Akan kulaporkan kejadian ini pada Ayahmu." Ancam Ayah. Tapi, Jin masih tetap diam terpaku di tempatnya.
"Ayo, Youngjae. Kita pulang." Suara lembut ibu membujukku untuk bangkit.
Turun dari kasur, kutatap wajah Jin yang terlihat sangat menyesal. Ayah dan Ibu berjalan di belakangku. Sebelum aku keluar dari apartemen Jin, aku bisa melihatnya yang hendak berlari menghampiriku.
"JANGAN TINGGALKAN AKU!"
"YOUNGJAE! YOUNGJAE!"
Teriakan penuh rasa sakit itu masih menggema di telingaku, membuatku ingin kembali dan memeluk tubuh Jin erat. Tapi ada rasa aneh yang menggerogotiku.
Sentuhan Jin terasa sangat menjijikkan.
Dan menakutkan.
。。。。。。
To be continued
。。。。。。
Fansnya Jin, maafkan aku aaaaaaaaaa. Soalnya gak tau lagi siapa yang mau dijadiin sepupu Youngjae, jadi aku memutuskan untuk jadiin si Jin sama Jimin aja xD
Jangan kutuk aku aaaa.
Oke, thanks yang mau baca sampe chapter ini. Thanks juga yang udah review di chapter sebelumnya. Aku terharu fanfic ini ternyata masih ada yang baca hehe.
Oke, jangan lupa reviewnya ya xD
Love you~
