Hening merayap di langit-langit kamar dan menyerang ke seluruh ruangan. Hanya terdengar suara helaan nafas dari Daehyun dan cetikan kuku dari Youngjae yang terlihat gugup di atas kasurnya.

Mata bulatnya menerawang, mengingat sosok Jin yang sebenarnya dia rindukan, tapi, rasa takut yang lebih besar menyelimutinya.

"Maaf karena memintamu menceritakan hal ini," ucap Daehyun pelan sekali.

"Hm." Mengusap matanya yang mendadak terasa panas. "Setidaknya ada tempat aku bercerita selain dengan orangtuaku dan Jaebum."

Manik Daehyun bergerak gusar. Takut-takut jikalau Youngjae tiba-tiba menangis seperti kemarin. Menenangkan orang yang sedang menangis adalah salah satu kelemahan pemuda berkacamata tebal itu. Meraih tisu di nakas, kemudian Daehyun meletakkannya di sisi Youngjae. Persiapan kalau air mata Youngjae sudah mengalir, pikirnya.

Setelah mendengar banyak hal dari mulut Youngjae membuat Daehyun penasaran tentang bagaimana nasib Jin setelah itu. Dengan gugup, dia mengajukan pertanyaan pada Youngjae untuk menghilangkan rasa penasarannya.

"Maaf kalau lagi-lagi aku lancang," ujarnya, "Bagaimana nasib Jin setelah itu?"

Pertanyaan itu melukiskan sebuah senyuman pilu di wajah manis Youngjae. Menyentuh satu titik di dada Daehyun yang mendadak terasa nyeri saat melihatnya. Senyuman yang tak ingin Daehyun lihat dari Youngjae.

"Jin meninggal dunia di rumah sakit jiwa," jawab Youngjae. "Depresi dan menjadi gila. Itu yang kudengar dari orangtuanya."

Getaran kembali menerjang Youngjae, membawanya kembali ke ruang nostalgia. Dimana Youngjae kecil menangis kencang melihat sosok Jin yang terbaring kaku di dalam peti kayu bersama tumpukan bunga lili dan mawar putih. Luka yang menghiasi pergelangan tangan, juga warna kebiruan di leher pucatnya, menandakan berapa banyak usaha yang pemuda itu lakukan untuk mengakhiri hidupnya.

Terbayang bagaimana suara yang memanggil namanya dengan penuh keputusasaan dan air mata yang mengalir dalam tangis setiap malam. Jin pasti ketakutan dan kesepian di sana. Di rumah sakit jiwa tempat dimana Jin memutuskan untuk menyudahi semuanya. Meletakkan semua beban di pundaknya dan melangkah menyusul adiknya.

"Jika saat itu aku tidak meninggalkan Jin sendirian..."

Setelah kejadian itu, butuh waktu lama bagi Youngjae untuk menjadi histeris. Berbulan-bulan dia diam hingga akhirnya bom waktu meledak. Youngjae menangis dalam diam dengam lembaran tisu pemberian Daehyun di tangannya.

Dan malam ini, disaksikan sepasang mata Daehyun yang mengintip dari kacamata tebalnya, Youngjae terlelap dalam air mata. Dia lelah menangis hingga dia tertidur pulas di atas kasurnya.

"Hei, izinkan aku menjagamu."

。。。。。。

Manik itu menerawang langit malam dari balik tirai tipis yang bergerak tertiup angin. Begitu kosong, tak ada kilat kehidupan. Pemuda itu juga tersenyum entah pada siapa. Tak ada siapapun di luar sana.

"Hei."

Kepalanya bergerak ketika merasa di panggil. Daniel mendekati pemuda berambut segelap malam itu dan berjongkok di depannya. Meraih tangan pemuda itu lalu menggenggam tangannya seerat mungkin. Pemuda itu berjengit aneh, mata kucingnya seakan tidak mengenali sosok bersurai madu di hadapannya.

"Siapa?" tanyanya lembut.

Daniel tersenyum lembut, mengusap jemari dingin itu dengan jempolnya perlahan.

"Kang Daniel. Teman sekamarmu, Hyung."

"Ah! Daniel."

"Ya, ini aku."

Tangan pemuda itu terlepas lalu meraih wajah Daniel. Membawa Daniel mendekat padanya. Sebuah kecupan mendarat di pipi gembil si pemilik gigi kelinci. Daniel tertawa kecil lalu memeluk pinggang kurus pemuda itu, kepalanya disandarkan di atas paha.

"Maaf, aku tidak sadar tadi."

"Hm... tidak apa~ Seongwoo-hyung."

Pemuda itu―Seongwoo―mengusap helaian rambut Daniel penuh kasih sayang. Sesekali tersenyum melihat betapa manjanya beruang besar itu.

"Tadi... aku bertemu Daehyun," bisik Daniel.

Kepala Seongwoo memiring, matanya seakan bertanya siapa pemilik nama yang Daniel sebutkan tadi. Dia tidak bisa mengingatnya walau nama itu terdengar familiar baginya. Pemilik nama Daehyun di Korea bukan cuma satu orang, kan?

"Sepertinya Kakek memindahkannya ke sekolah ini," ujar Daniel lagi, "kuharap dia tidak tahu Hyung ada disini."

"Kenapa kalau dia tahu aku di sini?" tanya Seongwoo.

Daniel lebih memilih bungkam. Dia bangkit, menggendong tubuh kurus Seongwoo dan membawanya ke atas kasur. Seongwoo membiasakan tubuhnya merasakan empuknya kasur asrama mereka sedangkan Daniel duduk di sampingnya. Mengelus rambut Seongwo, menunggu Seongwoo terlelap.

"Hyung."

"Hm?"

Daniel menggeleng, merendahkan tubuhnya lalu mengecup bibir Seongwoo singkat. Hanya sebuah kecupan kecil yang selalu dia berikan pada Seongwoo sebelum tidur.

"Jangan sakit lagi," bisik Daniel. "Selamat tidur."

Seongwoo mengangguk lalu memejamkan matanya. Dia tidak tahu apa maksud kata-kata Daniel, tapi, lebih baik dia diam ketimbang harus bertanya lebih banyak. Otaknya cukup lelah mengingat-ingat nama yang tadi Daniel sebutkan.

Daniel memastikan Seongwoo tertidur lebih dulu sebelum dirinya. Kebiasaan yang Daniel lakukan sejak Seongwoo mengalami kejadian di masa lalu yang membuatnya trauma.

"Aku tidak akan membiarkan Daehyun bertemu denganmu, Seongwoo," katanya. Sekali lagi dia menggenggam jemari Seongwoo dan mendaratkan kecupan di bibir pemuda yang sedang tertidur di sana.

"Tidak akan kubiarkan dia menyakitimu lagi."

。。。。。。

Tangan Daehyun meraba huruf demi huruf yang tercetak di atas kertas usang di hadapannya.

Haphephobia bisa hilang jika pengidap haphephobic menginginkannya. Pengobatan paling populer untuk ini adalah menemui psikolog, psikiater dan hipnoterapis.

"Hipnoterapis?"

Daehyun menelisik lagi isi buku tersebut ketika mengingat bahwa pengobatan hipnoterapis biasa hanya bersifat sementara. Meskipun seorang hipnoterapis dapat mengubah alam bawah sadar si penderita, tetap saja setitik ingatan dapat merusak pengobatannya. Daehyun pernah mengalami itu sebelumnya.

Penderita harus diperkenalkan dengan saran dan ide-ide positif setelah menemukan masalah pemicu phobia tersebut. Saran tersebut dapat digunakan untuk membantu membuat perubahan yang diinginkan, salah satunya mengatasi ketakutan sentuhan.

"Apa mungkin aku bisa mencoba membantu menyembuhkannya?" Daehyun bertanya pada dirinya sendiri. Memperhatikan telapak tangannya yang menutup lalu membuka.

"Mencoba membantu orang lain dengan keadaanmu yang menyedihkan itu?"

Suara itu menginterupsi kegiatan Daehyun hingga membuatnya berpaling dari buku. Hampir menggeram melihat sosok yang dia kenali itu kini menghampiri dan duduk tepat di depannya.

Suasana perpustakaan seakan menegang seakan akan ada bom yang akan meledak kapan saja di sana. Untung hanya diisi oleh mereka berdua sehingga tidak perlu khawatir akan ada yang melihat.

Kang Daniel mengulas senyum tipis saat melihat tatapan tak bersahabat dari Daehyun.

"Kau tidak pernah berubah sejak saat itu," kata Daniel.

"Kau yang terlalu banyak berubah, Kang Daniel," desis Daehyun. "Apa yang membuatmu jadi seperti itu?"

"Masih berani bertanya?" Daniel menaikkan alis, lalu tanpa sadar bertepuk tangan riang, "kau mungkin sudah melupakan hal itu sejak lama, Daehyun."

"Tapi aku tidak akan melupakan apa yang telah kau lakukan hingga menyebabkan Seongwoo-hyung menjadi seperti sekarang."

"Maksudmu?"

"Tidak perlu kujelaskan, bukan? Semua hal yang kau sebabkan karena kelakukan sok pahlawannu itu," ujar Daniel santai.

Daehyun jengah. Dia berdiri lalu membantingkan buku di tangannya hingga hampir mengenai wajah Daniel, tapi untungnya buku itu mendarat di atas meja. Daniel tertawa geli, dia juga berdiri tanpa melepaskan tatapannya sedikitpun dari Daehyun.

"Kebahagiaan siapa lagi yang akan kau rebut, sepupuku?"

"Diam!" Daehyun mendekat. Meraih kerah seragam yang menempel di tubuh Daniel. "Mulutmu tak berhak menghakimiku."

"Hm~"

Daniel hanya mengulum senyum ketika Daehyun menyentakkan tangannya lalu berbalik pergi meninggalkannya. Betapa senang dia mengganggu sepupu kesayangannya itu. Mengingat betapa dekatnya mereka dulu, Daniel hanya bisa tersenyum miris. Daehyun telah merenggut hal yang dia sayangi. Setidaknya, Daniel tidak ingin hal itu terulang lagi.

Tidak untuk yang kedua kalinya.

。。。。。。

"Kau benar, Hyung! Pasta ini enak sekali!"

Youngjae berseru senang dengan mulut penuh makanan. Himchan yang sedang sibuk dengan bahan masakan lain di tangannya hanya tertawa kecil melihat keimutan Youngjae. Pipinya terlihat begitu bulat, membuat Himchan ingin mencubitinya. Tapi tentunya dia tidak bisa.

"Benar, kan? Aku memang pandai sekali memasak!"

Himchan berkata dengan percaya dirinya. Hobinya yang satu ini memang menguntungkan. Dia bisa menghemat uangnya untuk membeli bahan masakan dibanding membeli makan di kantin yang cukup mahal.

Himchan bukan berasal dari keluarga yang terlalu berada. Dia bisa masuk ke sekolah ini juga karena mendapatkan beasiswa yang susah payah dia kejar. Bersyukur juga karena kebanyakan murid di sini tidak terlalu peduli dengan status sosial orang lain. Tapi memang kadang ada saja yang mulutnya nyinyir seperti perempuan.

Himchan yang keibuan saja tidak seperti itu.

"Setelah ini mau kemana?" tanya Himchan. Menyodorkan sepiring puding pada Youngjae yang langsung di lahap oleh si manis itu.

"Kembali ke kamarku, mungkin? Ada tugas dari Bu Jieun yang belum kuselesaikan," ujar Youngjae. "Bu Jieun galak. Aku jadi takut kalau tugasku tidak selesai. Beda sekali dengan Pak Yongguk."

Himchan tersenyum ketika mendengar keluhan Youngjae. Memang benar, di balik wajah cantik bak malaikat Bu Jieun terdapat jiwa penuh kekejaman yang dapat membuat para lelaki ketakutan. Berbanding jauh dengan Pak Yongguk yang memiliki wajah seram namun berhati malaikat. Senyumnya juga indah. Himchan ambyar rasanya.

"Baiklah kalau begitu, cepat selesaikan dan kembali ke kamarmu. Jangan sampai terlalu larut. Daehyun pasti menunggumu," ujar Himchan.

Youngjae tertawa, menyuapkan potongan puding terakhir ke dalan mulutnya lalu dengan cepat meneguk jus mangga di gelasnya. Ternyata tidak buruk juga berteman dengan Himchan, perutnya bisa jadi sekenyang ini. Dia jadi merasa bersalah soal yang lalu-lalu.

"Baiklah, Hyung! Doakan tugasku selesai tepat waktu," seru Youngjae seraya bangkit dari tempat duduknya. Lalu dia berlari keluar menuju kamarnya yang berada di lantai dua.

Kadang Youngjae ingin mengeluh kenapa jarak antara kamarnya dan Himchan terlalu jauh. Beda satu lantai, tapi cukup melelahkan karena harus naik-turun tangga. Belum lagi kamar Himchan terletak di ujung lorong dan lumayan jauh dari tangga. Lift hanya boleh digunakan untuk membawa barang-barang berat saat pindah kamar dan sampah.

Youngjae berjalan menyusuri tangga. Matanya menangkap sosok pemuda yang duduk di tangga sambil menatap kearah bulan yang bersinar terang dibalik jendela besar yang terpasang hampir di setiap dinding. Bahkan di tangga juga.

Agak terkejut rasanya ketika pemuda itu bangkit dan berbalik. Menatap Youngjae yang terdiam terpesona. Kulit putih dengan beberapa bekas luka yang tertimpa cahaya bulan, bibir tipis yang mengulas senyuman tak kalah tipis juga tatapan mata yang begitu lembut. Apa dia tidak kedinginan berada di luar kamar hanya dengan selembar kaus lengan pendek abu-abu yang menutupi tubuh kurusnya sedangkan angin musim gugur berhembus kencang di luar sana.

Tanpa sadar Youngjae membuka jaketnya, mendekat lalu menyampirkannya di bahu kecil pemuda itu. Tetap berhati-hati agar tidak bersentuhan.

"Biarkan dirimu tetap hangat," ujar Youngjae lembut.

"Terima kasih," katanya pelan. "Namaku Ong Seongwoo."

"Aku Yoo Youngjae. Kau bisa kembalikan jaket itu kapan saja."

Lalu Youngjae berlalu tanpa berkata apapun lagi. Tak dia sangka dinginnya semenusuk ini. Youngjae jadi rindu penghangat ruangan di kamarnya.

"Yoo Youngjae..."

。。。。。。
To be continued?
。。。。。。

Sorry for very late update.
Kuotaku tidak mencukupi aaaa /menangis

Thanks for reading this story. I'll love you so much guys

Oke, review? 😘