"Hei, kau tidak penasaran soal senior kita yang mengulang kelas itu?"
Daehyun mengintip Youngjae yang sedang mengeringkan rambut dari balik catatan biologi yang sedang dia baca. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, tapi tak ada satupun dari mereka yang berniat untuk tidur. Kebetulan karena besok adalah hari Sabtu dan sekolah libur jadi mereka bisa puas begadang. Daehyun lebih memilih untuk menghabiskan waktu membaca catatan karena Senin nanti ada ulangan biologi sedangkan Youngjae kini sibuk dengan ponselnya, mengabari Ibunya karena kemungkinan dia bisa pulang ke rumah.
"Hm? Kau penasaran, ya?
Daehyun malah balik bertanya. Catatannya dia tutup dan lebih memilih untuk mendengarkan Youngjae. Tidak tahu kenapa, rasanya obrolan Youngjae selanjutnya akan terdengar lebih menarik. Youngjae mengangguk lalu menggantungkan handuk dan duduk di meja berlajar yang bersebelahan dengan Daehyun. Si manis penasaran bagaimana sosok seniornya itu.
"Aku hanya penasaran kenapa dia sampai bisa mengulang kelas padahal nilai-nilainya bagus," kata Youngjae. Tangannya terulur untuk mengambil Pocky di atas meja Daehyun.
"Kata Pak Yongguk absensinya kurang," jelas Daehyun, "Bingung aku kenapa dia hanya masuk kelas hampir sebulan sekali."
"Mungkin... ada beberapa kejadian yang membuatnya takut untuk masuk kelas?"
Daehyun memiringkan kepala, "maksudmu? Trauma atau phobia sepertimu?"
Youngjae mengangguk. Mengingat hampir semua orang berpotensi untuk mempunyai phobia atau trauma baik secara sadar atau tidak. Youngjae juga awalnya tidak sadar soal phobia yang dia punya.
"Mungkin saja. Tapi trauma atau phobia macam apa?"
Youngjae mengendikkan bahu lagi-lagi tangannya meraih Pocky milik Daehyun lalu memakannya dengan santai. Daehyun tidak protes, malah dia membuka bungkus keripik dan menyodorkannya pada Youngjae.
"Ah, Daehyun. Soal kemarin..."
Menaikkan sebelah alisnya. Daehyun seakan bertanya pada Youngjae dengan tatapan mata.
"Ehm... Soal terapi... aku ingin mencobanya lagi." Youngjae berujar pelan.
Ah, Daehyun mengerti. Youngjae sekarang sedang menantang dirinya sendiri untuk jadi lebih berani. Senyum tipis terukir di bibir Daehyun.
"Kau akan ke psikiater?"
Kepala Youngjae menggeleng pelan lalu dia menunduk dan menengadahkan tangan ke arah Daehyun.
"Apa kau keberatan kalau aku meminta bantuanmu agar aku bisa sembuh?"
Hening. Daehyun masih terus menatap Youngjae dan telapak tangannya bergantian. Sedangkan Youngjae sendiri sudah menggigit bibirnya pelan, menunggu reaksi dari Daehyun yang lama sekali menjawab pertanyaannya. Dia mau membuat Youngjae jadi gila karena terlalu lama menunggu apa?
"Oh, ayolah. Cepat jawab! Jangan buat aku malu!"
Tiba-tiba ada sentuhan hangat di telapak tangan yang dia ulurkan. Kepala Youngjae perlahan terangkat. Dilihatnya Daehyun yang menggerakkan jemarinya menari di atas telapak tangan Youngjae.
Menarik nafas dalam. Youngjae tercekat menahan teriakan yang akan keluar dari mulutnya. Bukannya menjawab, Daehyun malah menyentuh telapak tangan Youngjae saat dia belum siap. Tapi bukannya menghentikan gerakannya, sekarang Daehyun membiarkan telapak tangannya menempel pada Youngjae. Daehyun membawa Youngjae ke dalam sebuah genggaman tangan yang tidak begitu erat.
"Kalau segini rasanya bagaimana?"
Entah kenapa suara Daehyun terdengar lebih berat dan menggelitik di telinga. Youngjae menggeleng pelan, dia sudah cukup terbiasa ketika Daehyun menggenggamnya seperti beberapa waktu lalu. Sensasi kupu-kupu yang menggelitiki perutnya masih ada. Dia harus membiasakan diri.
"Boleh lanjut?" tanya Daehyun lagi.
Youngjae hanya bisa mengangguk sebagai jawaban. Entah kenapa kepalanya terasa samgat kosong sejak Daehyun menyentuhnya. Bibirnya yang biasa mampu merangkai kata kini membisu. Youngjae pening.
Genggaman mereka terlepas dan kini jemari Daehyun bergerak lagi setelah mendapat ijin. Menyentuh pergelangan tangan Youngjae dengan perlahan. Youngjae bisa merasakan telapak tangan Daehyun yang besar dan kulitnya sedikit kasar. Rasanya geli, namun sama sekali tidak menjijikkan. Tak ada niatan dari Youngjae untuk menepis tangan Daehyun.
"Hhh..."
Helaan nafas Youngjae akhirnya terdengar setelah lumayan lana tertahan. Bulu-bulu halus Youngjae meremang ketika sentuhan Daehyun kini sampai ke bahunya. Tidak tepat di kulitnya, Daehyun menyentuhnya dari luar kaos biru yang dia kenakan. Youngjae meremas celana pendek yang dia kenakan saat melihat Daehyun berdiri dan mendekatinya. Tangannya sudah tidak berada di lengan Youngjae, tapi menyentuh kepala pemuda manis itu dan mengusapnya pelan.
"Kau takut kalau kusentuh di tangan dan kepalamu?"
Rona merah menjalar di pipi tembam Youngjae saat merasakan hangat tangan Daehyun yang mengusap kepalanya. Terasa benar-benar berbeda dengan sentuhan yang membuatnya merasa takut.
Benar-benar terasa lembut dan tulus.
Seperti sentuhan penuh kasih sayang yang pernah Jin berikan padanya sebelum Jin berubah menjadi menakutkan.
Daehyun melepaskan tanganya karena melihat Youngjae yang terus bungkam. Merasa mungkin dia sudah bertindak terlalu jauh dan membuat Youngjae tidak nyaman.
"Hei, Youngjae."
Kepala Youngjae terangkat dan pandangan mereka berdua bertemu. Sedikit terkejut ketika melihat sepasang mata bulat Youngjae yang menumpuk air mata.
"Kau takut? Maafkan aku..."
Senyum terlukis di wajah Youngjae. Mencoba menahan air mata yang siap jatuh kapan saja. Tangannya meraih jemari Daehyun lalu menggenggamnya erat-erat.
"Kenapa... kenapa sentuhanmu terasa hangat seperti sentuhan Jin yang penuh kasih sayang dulu..."
。。。。。。
"Maafkan aku... maaf..."
"Bukan aku yang melakukannya... sungguh..."
"Hh... kumohon maafkan aku..."
"Daehyun..."
Seongwoo terbangun dari dengan nafasnya yang terengah. Keringat dingin membasahi punggung hingga piyama yang dia kenakan basah. Tanpa sadar air mata mengalir membasahi pipi.
Mimpi buruknya kembali datang.
Mimpi tentang masa lalu karena rasa bersalah yang selalu menghantui dan menjadi beban di pundaknya.
"Hyung, kau kenapa?"
Kepala Seongwoo sontak menoleh ke arah Daniel yang baru saja kembali ke kamarnya. Latihan di klub dance hari Jumat memang selalu menyita waktu hingga malam. Mau bagaimana lagi? Jika tidak begitu dia tidak akan bisa pulang ke rumah Sabtu ini.
Seongwoo bangkit dari tempat tidurnya. Berlari ke arah Daniel lalu memeluknya erat-erat. Meremas jersey oranye yang di pakai Daniel hingga kusut. Daniel bingung, Seongwoo menangis sesegukan dalam pelukannya.
"Hiks... Daniel..."
Tas olahraganya kini terdampar di lantai begitu saja. Tangannya kini merengkuh tubuh kurus Seongwoo, menepuk-nepuk punggung Seongwoo pelan agar pemuda itu tenang.
Kalau Seongwoo menangis seperti ini sudah Daniel pastikan kalau dia mengalami mimpi buruk lagi. Dan si gigi kelinci itu hanya bisa memeluknya sambil membisikkan kata-kata menenangkan.
Sekarang Daniel duduk di kasur dengan Seongwoo di pangkuannya. Tangannya tidak berhenti mengusap rambut Seongwoo.
"Besok ikut aku pulang, ya," bujuk Daniel.
Seongwoo menggeleng pelan, "Ada... Daehyun..."
"Tidak, kok. Tidak akan ada Daehyun. Aku janji."
Daniel masih terus membujuk Seongwoo agar ikut dengannya pulang. Setidaknya Seongwoo akan tetap dalam pengawasannya dan tidak sendirian di asrama. Daniel takut akan terjadi sesuatu jika dia tidak berada di samping Seongwoo.
"Janji, deh, nanti aku akan ajak hyung jalan ke taman bunga yang kemarin."
Seongwoo menenggelamkan wajah di ceruk leher Daniel. Menyesap aroma keringat Daniel tanpa rasa jijik. Nafasnya masih tersengal dan sesegukan.
"Daniel janji ya..."
Menggumam untuk mengiyakan perkataan Seongwoo. Daniel tersenyum tipis kala mendengar suara tawa kecil yang menyejukkan telinganya.
Jika orang lain mengetahui bagaimana sikap Daniel pada Seongwoo, mungkin mereka akan berkata kalau Daniel terlalu protektif pada sosok yang lebih tua itu. Tapi Daniel seperti itu bukan tanpa alasan jelas. Dia benar-benar ingin melindungi Seongwoo yang begitu rapuh dan ringkih.
Dia tidak ingin Seongwoo tersakiti untuk yang kesekian kalinya.
。。。。。。
Sabtu pagi itu cukup cerah dan tidak terlalu terik. Youngjae sudah siap dengan tas punggung kecilnya. Sengaja tidak membawa baju karena dia masih meninggalkan banyak di rumahnya. Youngjae menyalakan mp3 player sembari menunggu Jaebum yang akan ikut pulang bersamanya.
Sejak bangun tidur tadi, dia tidak melihat sosok Daehyun di kamarnya. Mungkin Daehyun juga pulang ke rumahnya dan berangkat pagi-pagi sekali. Tapi ternyata tidak. Pintu kamarnya terbuka dan Daehyun masuk dengan wajah masam. Youngjae bisa melihat seorang dengan kemeja hitam yang menunggu di depan pintu.
Sayup-sayup suara bentakan Daehyun terdengar dari balik earphone yang dipakainya.
"Sudah kukatakan berapa kali! Aku tidak akan pulang! Katakan pada Kakek!"
Tapi pria bertubuh tegap itu masih tetap berdiri menunggu di sana dan seperti siap menyeret Daehyun kapan saja. Pintu merah itu dibanting kencang sampai Youngjae terkejut sebadan-badan.
Mata Daehyun melirik Youngjae yang sudah berpakaian rapi. Menghampiri Youngjae lalu berjongkok di depannya.
"Kau pulang?" tanya Daehyun.
"Iya, mumpung dapat waktu bebas dari asrama," jawab Youngjae.
Tangannya kini mulai berani menyentuh helai rambut Daehyun dan mengusapnya pelan. Phobia Youngjae belum bisa dibilang sembuh sepenuhnya. Dia hanya mencoba memberanikan diri membuka lembaran baru.
Kemarin malam entah bagaimana Youngjae berakhir menangis dalam pelukan Daehyun hingga tertidur. Mengigau menyebut nama Jin dalam tidurnya. Daehyun yang terus terjaga merasa kesal mendengarnya. Dari cara Youngjae memanggil nama Jin, sangat jelas kalau Youngjae pernah mencintai Jin sebelumnya.
Daehyun kesal.
Daehyun... cemburu?
"Pulang sendiri?" Daehyun menangkup pipi Youngjae.
"Tidak, aku bersama Jaebum."
Ehm. Daehyun mengingat-ingat siapa orang yang bernama Jaebum itu. Sepertinya dia pernah berbicara sekali dua kali dengan Jaebum tapi Daehyun melupakannya karena tidak pernah menatap wajah teman Youngjae tersebut.
Tangan Daehyun bergerak tanpa kendali dan mencubit gemas pipi Youngjae. Tidak peduli si empunya mengerang kesal karena pipinya terasa sakit.
"Hati-hati, ya, pulangnya―"
Braaak
"Youngjae! Ayo berang...kat..."
Ups. Sepertinya Jaebum datang di saat yang tidak tepat sekali.
Daehyun langsung menurunkan tangan dari wajah Youngjae dan Youngjae refleks berdiri karena terkejut akan kehadiran Jaebum yang (selalu) tiba-tiba. Padahal sebelumnya Youngjae sudah mengatakan kalau Jaebum harus menghubungi dulu sebelum ke menemuinya.
Jadilah sekarang Jaebum terpaku di depan pintu karena tak sengaja melihat dua manusia bermesraan di depan matanya.
"Em... ah..." Jaebum tergagap.
"Jaebum!"
Youngjae langsung berlari dan mengusir Jaebum keluar dari kamar. Sebelum pergi, dia berteriak pamit pada Daehyun.
"Sampai jumpa lusa, Daehyun!"
Melihatnya Daehyun hanya bisa menghela nafas. Youngjae terlihat lebih segar daripada saat pertemuan pertama mereka.
Sekarang, Daehyun memikirkan bagaimana caranya untuk kabur dari orang suruhan Kakeknya yang masih menunggu di luar. Tak habis pikir kenapa Kakeknya memaksa agar dia kembali ke rumah sampai sebegitunya. Dia malas kalau harus bertemu dengan Daniel nanti.
Tok tok
Umpatan kesal keluar dari mulut Daehyun saat mendengar suara ketukan di pintunya. Tanpa seizinnya, pintu bercat merah itu dibuka oleh orang suruhan sang Kakek.
"Tuan, sudah waktunya," ujar orang itu.
"Siapa yang berkata aku akan pulang?"
"Tapi―"
Omongan orang itu terhenti saat merasakan pundaknya ditepuk dari belakang. Daehyun terkejut melihat sosok Kakeknya kini berada di hadapannya. Sudah cukup lama Daehyun tidak bertemu dengan Kakeknya―tepatnya Daehyun selalu kabur saat diminta bertemu dengan pria tua itu.
Kakeknya menatap Daehyun tajam dan senyuman dingin terlukis di wajah yang tetap terlihat tampan walau penuh keriput itu.
"Pulang bersamaku, Daehyun," ucapnya final.
Dan Daehyun tidak bisa melakukan apapun selain mengikuti perkataan sang Kakek dan berjalan di diam sambil berdoa semoga dia tidak bertemu dengan Daniel.
。。。。。。
To be continued?
。。。。。。
Kalau saya bilang maaf telat update karena sibuk di luar kayaknya bakal jadi alasan banget ya 😂
Tapi maaf banget karena emang begitu :(
Maaf juga karena minggu kemarin gak update chapter baru~
Thanks for reading ❤
