Jadi kedatangan Daehyun ke Seoul tengah malam itu bukanlah tanpa alasan yang pasti. Setelah bertengkar—tepatnya berdebat—dengan Kakek dan Daniel kemarin malam, Daehyun langsung berlari ke kamarnya untuk mengambil tas dan pergi keluar tanpa pamit. Ya, buat apa dia pamit? Toh, perhatian semua orang kini hanya tertuju pada Seongwoo dan Seongwoo seorang. Pura-pura lemah, padahal sudah menghancurkan seluruh kebahagiaan Daehyun.

Ah, Tidak.

Daehyun masih punya sumber kebahagiaan lain. Pemuda yang sekarang dia coba untuk sembuhkan phobianya, Yoo Youngjae yang kini berada di rumahnya di Seoul. Tanpa pikir panjang, Daehyun berlari memanggil taksi lalu melesat menuju stasiun kereta di Busan dan memesan tiket menuju Seoul. Mumpung belum terlalu malam—masih sekitar pukul sembilan waktu dia pergi—dan kereta yang dia pesan sampai di tujuan sekitar pukul sebelas-setengah dua belas malam. Daehyun menyempatkan untuk makan ramyeon instan sambil menunggu Youngjae yang akan menjemputnya.

Sebenarnya, Daehyun juga tidak menyangka kalau Youngjae akan benar-benar menjemputnya tengah malam begini. Apalagi melihat Youngjae yang terkantuk-kantuk di dalam mobil, Daehyun jadi merasa bersalah karena telah mengganggu waktu tidur si manisnya itu. Hm, manisnya Daehyun. Dia juga tidak pernah berpikir kalau orang tua Youngjae akan menyambutnya dengan baik. Begitu turun dari mobil dengan Youngjae dalam gendongannya, Daehyun disambut oleh Ayah Youngjae yang tersenyum cerah dan menyuruh Daehyun untuk masuk ke dalam dan ikut tidur di kamar Youngjae—mereka tidak punya kamar tamu di rumah yang ini.

Keluarga Youngjae membesarkan anak mereka dengan baik. Sepasang orang tua yang selama ini Daehyun harapkan, tapi tak pernah diberikan. Tidak, Daehyun tidak iri melihat Youngjae yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang seperti itu, karena dia tahu kalau dalam kesempurnaan dalam diri Youngjae, terdapat luka dalam yang masih belum bisa tertutup. Phobianya.

。。。。。。

Pagi ini Daehyun terbangun dengan suara yang tidak biasa. Ada tangan yang mengusap helai rambut hitam Daehyun dengan lembut, membuatnya ingin terbuai kembali ke alam mimpi. Tapi si pemilik tangan itu menyuruhnya untuk bangun dan itu terdengar seperti perintah mutlak di pendengarannya.

"Bangun, ya. Sudah hampir jam sembilan pagi."

Suara wanita itu terdengar lembut, begitu juga paras yang ditangkap dalam pengelihatan rabun Daehyun. Rambut panjang yang digelung berantakan, senyum lembut dan tangan kecil yang hangat. Mirip sentuhan sang ibu dulu.

"Maaf, ya. Bangunkan Youngjae juga."

"Ah, baik, Tan—"

"Ibu. Panggil aku Ibu saja," ujar wanita itu sebelum pergi keluar dari kamar Youngjae.

Daehyun mengerjap bingung sekali. Baru kali ini ada wanita yang baru dia kenal meminta agar dia memanggil dirinya Ibu. Biasanya, 'kan, wanita pasti bilang agar tidak dipanggil Ibu atau Tante karena akan berkesan kalau dia sudah tua. Tapi, tadi? Tadi wanita itu meminta untuk dipanggil Ibu. Daehyun benar-benar tidak mengerti wanita.

Meraba ke nakas di samping dan meraih kacamata bulatnya, setelah itu Daehyun membangunkan Youngjae yang masih terlelap di sampingnya. Si manis mengulet lucu di dalam selimut. Pagi itu memang agak dingin, sih. Perlahan Daehyun mengguncang tubuh Youngjae, tapi pemuda itu tak kunjung membuka mata. Daehyun langsung putar otak. Mendekatkan bibirnya ke telinga Youngjae, Daehyun membisikkan sesuatu yang entah apa itu dan dalam sekejap Youngjae langsung membuka mata lebar-lebar.

"Apa-apaan itu?!" Youngjae ingin berseru, tapi suaranya serak khas orang bangun tidur.

Daehyun hanya tertawa geli lalu turun dari ranjang dan menuju kamar mandi dalam kamar Youngjae untuk membasuh mukanya. Meninggalkan Youngjae yang masih mengantuk dengan wajahnya yang memerah karena bisikan Daehyun sebelumnya.

"Menyebalkan sekali, sih!" gerutu Youngjae sambil mengusap matanya pelan. Daehyun benar-benar menyebalkan.

"Aku akan menciummu kalau kau tidak bangun segera."

"Main cium-cium segala. Pacar juga bukan."

Youngjae sebal. Youngjae ingin menendang bokong Daehyun setelah pemuda itu keluar dari kamar mandi nanti. Tapi tetap saja itu tidak terjadi karena begitu melihat Daehyun keluar kamar mandi dengan wajah dan kacamatanya yang ikut basah, Youngjae malah tertawa sekencang-kencangnya sampai diteriaki sang Ibu dari lantai bawah.

Daehyun selalu, selalu, lupa melepas kacamatanya saat cuci muka dan mandi.

Kebiasaan memang.

Setelah bergantian untuk mencuci muka dan sikat gigi, mereka berdua berjalan menuju ruang makan karena sudah ditunggu oleh anggota keluarga yang lain. Makan bersama keluarga Youngjae memang sangat unik. Bukan hanya anggota keluarga inti saja yang ikut, tapi juga supir dan pembantu mereka juga ikut makan bersama-sama. Biar ramai, biar tahu keluh kesah apa saja yang para pegawai rumahnya miliki. Daehyun senang melihatnya.

"Youngjae bercerita banyak tentang Daehyun saat dia sampai kemarin siang." Suara wanita yang tadi—Ibu Youngjae—yang membuka pembicaraan dengan Daehyun. Daehyun menoleh ke arah wanita berparas manis yang masih meneruskan makannya sambil mengobrol, "terima kasih banyak karena sudah menjaga Youngjae. Jaebum tidak selamanya bisa diandalkan."

Ah, lagi-lagi nama Jaebum di sebut. Seberapa dekat keluarga ini dengan Jaebum, sebenarnya?

"Ah, tidak masalah. Saya justru senang bersama Youngjae. Saya pikir akan sendirian di asrama, tapi ternyata ada Youngjae yang pindahnya bersamaan dengan saya," ujar Daehyun.

"Jangan terlalu formal, Daehyun-ah. Santai saja." Kali ini Ayah Youngjae buka suara. "Kudengar kau banyak membantu Youngjae."

Daehyun tersenyum kikuk, sedangkan Youngjae sudah mengembangkan senyum lebar melihat interaksi canggung Daehyun dan Ayah-Ibunya. Apakah perlakuan orang tua Youngjae akan membuat Daehyun lebih terbuka nantinya? Entahlah. Setidaknya ini adalah salah satu cara agar teman sekamarnya itu lebih terbuka dengan orang lain.

Kemarin Daehyun sempat memberitahukan alasan kenapa dia tiba-tiba berada di Seoul melalui telepon. Masalah keluarga. Hanya itu yang dia ucapkan. Tidak mengatakan masalah seperti apa yang sedang dia hadapi sekarang ini. Ah, bukannya Youngjae kepo. Tapi, Youngjae sudah terlalu banyak menceritakan tentang dirinya pada Daehyun dan pemuda itu banyak membantunya. Bukankah akan lebih baik kalau Daehyun akan terbuka dan membiarkan Youngjae membantu masalah yang sedang Daehyun hadapi?

"Daehyun pintar, lho, Yah! Baca buku terus di asrama," ujar Youngjae lalu mengunyah habis bacon dan roti yang menjadi sarapannya.

"Benarkan? Kalau Youngjae rajin tidak, Daehyun?" tanya Ayah.

Daehyun yang tidak tahu harus menjawab apa hanya melemparkan senyum canggung. Mau menjawab kalau Youngjae tidak rajin salah... menjawab Youngjae rajin juga, hm... Youngjae rajin, kok. Rajin mencontek tugas Daehyun. Daehyun juga suka rela, sih memberikan contekan pada Youngjae. Padahal dulu banyak yang bilang Daehyun sangat pelit kalau soal tugas seperti ini.

"Rajin, kok, Yah~" kata Youngjae.

"Ih, Ayah tanya ke Daehyun, bukan ke Youngjae."

"Ishhh..."

Youngjae meringis saat pipinya dicubit gemas oleh Ayahnya. Selanjutnya, seluruh orang yang ada di ruang makan tertawa melihat Youngjae yang memajukan bibirnya karena kesal. Ayahnya lebih memilih percaya sama Daehyun yang baru saja ditemui daripada anaknya sendiri.

"Ayah, jahat, ih!"

。。。。。。

"Pulang ke asrama kapan?"

Daehyun duduk di tepi ranjang. Melirik ke arah Youngjae yang sedang bermain bersama playstation yang ada di depannya. Sedangkan Daehyun sendiri lebih memilih untuk membaca sebuah novel yang dia bawa di tas kecilnya lkemarin.

"Hm... Malam ini," jawab Youngjae. "Ikut bareng aku sama Jaebum saja pulangnya."

"Sama Jaebum?"

Youngjae mengangguk lalu mengakhiri game yang dia mainkan. Melatakkan stick playstationnya sembarangan lalu menghentakkan tubuhnya di atas ranjang. Tubuh Daehyun juga jadi sedikit berguncang karena gerakan Youngjae. Alhasil bacanya jadi tidak fokus dan Daehyun memasukkan novel itu kembali ke dalam tasnya. Tubuh Daehyun juga kini berbaring di samping Youngjae yang memilin-milin ujung rambut kecokelatannya lalu ditiup-tiup kecil. Uh, sungguh menggemaskan.

"Jaebum, tuh, yang mana ya?" tanya Daehyun.

"Tidak tahu?"

Daehyun menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Youngjae. Youngjae heran, sudah sering bertemu, tapi tidak tahu yang Youngjae maksud Jaebum yang mana.

"Ingat yang makan keripik kamu pas Himchan minta maaf ke aku di kamar?" tanya Youngjae.

"Sama Himchan ingat, Jaebum... lupa. Ketua asrama, kan?"

"Nah, itu tahu."

"Iya. Wajahnya aku lupa."

Youngjae terpingkal mendengar jawaban Daehyun. Daehyun ini benar-benar tertutupnya melebihi Youngjae. Walau begini, Youngjae juga punya satu atau dua orang teman yang dia ingat dan dekat dengannya, sedangkan Daehyun, mungkin Daehyun hanya punya Youngjae sebagai temannya di sini.

Mengatur nafas, Youngjae berubah posisi menjadi tengkurap lalu mendekat ke arah Daehyun. Tangannya terulur untuk menyentuh helai hitam Daehyun yang sudah menutupi matanya, jadi ingin dipotong rata oleh Youngjae.

"Daehyun, coba perhatikan sekitarmu. Sedikit saja," ujar Youngjae.

"Sudah, kok. Aku sudah memperhatikan sekitarku." Daehyun menyampingkan badan agar bisa menatap Youngjae yang ada di sebelah kirinya lebih jelas. "Dengar. Aku memperhatikan apa yang ada di sekitarku. Ada kasur, ada lampu tidur, nakas, playstation."

"Haha! Bukan itu maksudku!"

"Heh, belum selesai."

Daehyun menyunggingkan senyum tipis sebelum melanjutkan kalimatnya yang terpotong tadi. Dua kata yang membuat pipi Youngjae bersemu merah entah kenapa. Dua kata sederhana yang entah kenapa membuat Youngjae ingin menghambur ke dalam pelukan Ibunya karena malu sekali. Telinganya panas, begitu juga wajah dan jantungnya yang kini berdetak kencang.

Daehyun dan suara madunya itu kurang ajar.

"Ada kau."

Ah, Youngjae akan terbang tinggi sekarang. Daehyun menyadari ada semburat yang muncul di pipi Youngjae. Yang membuatnya tanpa sadar menyentuh pipi itu dan memotong jarak diantara mereka berdua. Youngjae tahu keadaan seperti apa yang sedang mereka hadapi sekarang dan dia hanya bisa diam dan menunggu.

Jarak diantara mereka semakin menipis. Pandangan Daehyun jatuh pada bibir merah Youngjae yang meminta untuk di kecup. Youngjae sudah akan menutup matanya kalau benar akan terjadi.

Daehyun akan menciumnya, sedikit lagi.

BRAAK

"Youngjae, jadi ma—in...?"

Ya. Kalian sudah tahu siapa yang selalu ada diantara mereka disaat-saat seperti ini.

"DAEHYUN BANGSAT!"

"JAEBUM JANGAN BICARA KOTOR!"

Dan teguran dari Ayah Youngjae terdengar dari lantai bawah menggema di telinga Jaebum. Jaebum langsung menutup mulutnya, tapi matanya masih menatap kedua pemuda yang berada di atas ranjang dan hampir berciuman itu. Dia tahu, Jaebum tahu. Dia bukanlah anak yang polosnya minta ampun seperti Huang Justin—murid kelas satu yang kelewat polos di sekolah mereka. Jaebum tahu apa yang akan Youngjae dan Daehyun lakukan di dalam kamar itu berdua.

Youngjae menghela nafas, perlahan menarik tangan Daehyun dari wajahnya. Youngjae duduk dan menatap Jaebum tajam. Kesal, Youngjae sangat kesal. Dari dulu Jaebum selalu begitu. Tidak tahu bagian mana yang bisa dia ikut campuri dan bagian mana yang privasi. Maksudnya, Jaebum selalu dengan tidak sopannya menggebrak pintu kamar Youngjae—baik di asrama maupun di rumah—tanpa izin. Bukan karena sudah berteman sejak kecil, Jaebum bisa seenaknya seperti itu, bukan?

"Jaebum, sekali lagi seperti itu aku tidak akan segan mengusirmu segera," ancam Youngjae.

Jaebum bungkam, begitupun Daehyun yang kini beradu tatap dengan Jaebum. Mempelajari garis wajah pemuda yang menjadi sahabat kecil Youngjae itu. Jelas terukir kalau dia tidak suka Daehyun menyentuh Youngjae seperti tadi.

"Phobiamu sudah sembuh?" tanya Jaebum tiba-tiba.

"Jangan mengalihkan pembicaraan, Jaebum..."

"Aahh... aku mengerti, maafkan aku!"

Jaebum masuk ke kamar lalu duduk di samping kiri Youngjae yang hanya menggelengkan kepalanya. Heran dengan tingkah laku aneh Jaebum yang tidak berubah sejak mereka kecil.

"Tapi aku benar penasaran..." Jaebum mengulurkan tangan kanannya. "Apa kau benar sudah sembuh?"

Telapak tangan itu kini menempel di pipi Youngjae—seperti saat Daehyun menyentuhnya tadi. Namun ada rasa yang berbeda saat Jaebum menyentuhnya. Rasanya seperti yang pernah dia rasakan sebelum-sebelumnya. Menjijikkan.

PLAK

Daehyun dan Jaebum sama-sama terkejut ketika Youngjae menepis tangan Jaebum dari pipinya. Wajah Youngjae berubah pucat dan tubuhnya bergetar. Daehyun sempat curi-curi menyentuh tangan Youngjae secara kilat. Dingin sekali.

"Sudah kubilang jangan sentuh aku..." bisik Youngjae.

"Youngjae, maaf. Aku hanya—"

"Keluar."

"Tapi—"

"Kalian berdua keluar!"

Daehyun menuruti Youngjae. Dia segera bangkit dan berjalan keluar kamar. Berbeda dengan Jaebum yang sesaat terpaku karena terkejut kemudian berjalan pelan keluar kamar Youngjae dan menutupnya.

Jaebum terlihat syok.

Dan dari sana Daehyun tahu. Kalau Jaebum, sahabat kecil Youngjae, ketua asrama mereka, juga orang yang selalu menganggu saat keadaan sedang hangat-hangatnya di antara Daehyun dan Youngjae tersebut menyimpan sesuatu di dalam hatinya.

Jaebum menyukai Youngjae.

Dan dia cemburu pada Daehyun yang bisa bebas menyentuhnya seperti tadi.

。。。。。。

To be continued?

。。。。。。

Full DaeJae J

Jujur saja saya ngestuck ngetik ini makanya late update terus. Berasa dikejar sesuatu yang entah apa itu. Haha.

Hope you like this chapter :3

Thanks for reading XOXO