Daehyun dan Jaebum turun dari mobil Ayah Youngjae, mereka diantarkan oleh orang tua Youngjae yang kebetulan ada urusan pekerjaan di Busan. Youngjae masih diam di kursi belakang, menatap Ayah dan Ibunya lekat-lekat. Sengaja menyuruh Daehyun dan Jaebum turun lebih dulu karena ingin membicarakan sesuatu dengan orangtuanya. Sudah jelas kalau yang akan dia ceritakan adalah tentang phobianya.
Youngjae menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian mengulurkan tangannya untuk menyentuh telapak tangan Ayah dan Ibunya. Ketika epidermis kulitnya menyentuh kulit kedua orangtuanya, tidak ada perasaan aneh seperti yang dia rasakan saat disentuh oleh Jaebum siang tadi. Rasanya sama seperti disentuh oleh Daehyun. Nyaman dan hangat.
"Aneh...," gumam Youngjae. "Aku bisa menyentuh kalian dan rasanya... seperti kalian menyentuhku sebelum kejadian itu."
Ayah tersenyum, kini dialah yang menggenggam tangan Youngjae dengan lembut. Sudah udah bertahun-tahun sang Ayah tidak bisa menyentuh anaknya sendiri, bukankah rasanya menyakitkan?
"Kau berhasil melawannya, Jae."
"Tidak. Belum sepenuhnya," ujar Youngjae. "Ini juga berkat bantuan dari Daehyun."
"Daehyun?" tanya Ibu.
Youngjae menjawabnya dengan anggukan, lalu matanya melirik pada Daehyun yang masih menunggu di luar dan Jaebum yang berjalan pergi dengan wajah kesal. Sepertinya terjadi sesuatu di antara mereka berdua.
"Entah bagaimana, dia banyak membantuku," kata Youngjae. "Youngjae harus masuk. Ini sudah malam sekali. Kalian juga harus istirahat, kan? Besok harus bekerja lagi."
"Youngjae." Suara Ibu menahan gerakan tangan Youngjae yang akan membuka pintu mobil. Wanita itu tersenyum pada Youngjae lalu mengelus helaian rambut Youngjae pelan, menyalurkan rasa rindunya yang sudah lama terpendam. "Ibu sangat senang, entah kenapa. Baik-baik pada Daehyun dan Jaebum, mereka temanmu yang berharga."
Sekali lagi, Youngjae menganggukkan kepala. Kemudian dengan cepat mengecup pipi Ayah dan Ibu sebelum dia keluar dari mobil dan menghampiri Daehyun. Pemuda itu terlihat menyunggingkan senyum tipis saat melihat Youngjae yang ceria sekali saat keluar dari dalam mobil. Tangannya juga terulur untuk mengacak rambut Youngjae pelan.
"Ayah, Ibu, hati-hati!" seru Youngjae sebelum sedan hitam itu berjalan menjauhi gerbang asramanya. Youngjae juga tidak akan bisa melihat senyuman seperti apa yang Ibu dan Ayahnya lukiskan ketika melihat Daehyun dan Youngjae akrab seperti itu.
"Masuk, yuk."
Daehyun berbalik dan berjalan lebih dulu dari Youngjae. Mau tak mau Youngjae harus mempercepat langkahnya agar bisa berjalan bersama Daehyun. Daehyun terdengar bernyanyi-nyanyi kecil, hingga seketika Youngjae lupa ingin menanyakan apa yang terjadi antara Daehyun dan Jaebum tadi.
Setelah kejadian Youngjae meneriaki Jaebum siang tadi, sebenarnya mereka sudah berbaikan. Youngjae sudah minta maaf karena berkata kasar pada Jaebum, Jaebum juga sudah minta maaf pada Youngjae karena menyentuh Youngjae tanpa izin dan pada Daehyun yang sempat dia maki. Youngjae pikir, semuanya sudah selesai sampai di sana, tapi sayangnya tidak. Ada hal lain yang Youngjae tidak ketahui.
Saat hampir sampai di pintu masuk asrama, Youngjae sempat melihat sesuatu yang bergerak dalam kegelapan. Dia menghentikan langkah dan memperhatikan sesuatu yang dia lihat itu. Ternyata orang yang dia kenal, Himchan, berdiri di taman dengan beberapa buku di tangan, juga Pak Yongguk yang tersenyum manis sebelum mengacak rambut Himchan dan pergi ke arah asrama guru.
"Youngjae, ada apa?" tanya Daehyun yang merasakan Youngjae tidak mengikutinya.
Tersadar, Youngjae dengan cepat menggelengkan kepala dan menghampiri Daehyun. Pemuda berkacamata itu menarik tangan Youngjae dan menggenggamnya erat. Dan lagi, dia mengatakan sesuatu yang entah kenapa membuat wajah Youngjae memerah sempurna.
"Jangan sampai jauh dariku," ujarnya. Sangat pelan, tapi Youngjae masih bisa mendengarnya.
Pemuda manis itu hanya tertawa kecil dan membalas genggaman tangan Daehyun. Bersyukur karena mereka sampai di asrama saat hampir jam malam asrama sehingga tidak ada yang bisa melihat mereka berdua bergandengan tangan, karena jika tidak, besok pagi akan ada gosip yang tidak-tidak soal mereka.
。。。。。。
"Youngjae~"
Kelas selesai lebih awal karena kepala sekolah melaksanakan rapat antar staff sekolah. Himchan yang baru saja selesai melakukan tugas piket kelas berjalan menuju kantin karena perut yang mendadak berbunyi minta diisi, kebetulan, dia melihat Youngjae sedang makan bersama Daehyun di sana.
Iya, Daehyun selalu, selalu menempel dengan Youngjae. Himchan jadi heran sendiri. Sebenarnya wajar, sih, Daehyun teman sekamarnya, tapi, kalau diperhatikan lagi, Daehyun berada di samping Youngjae benar-benar dua puluh empat jam.
Youngjae tersenyum manis, menyuapkan ramyeon ke dalam mulut lalu menghela nafas karena kepedasan. Daehyun di depannya membukakan botol minum lalu diberikan kepada Youngjae. Himchan bisa melihat Youngjae berujar terima kasih pada Daehyun dengan kontak mata, Daehyun juga tersenyum tipis setelahnya.
"Kalian pacaran?"
Seketika itu juga Youngjae tersedak air yang masuk ke tenggorokkan, terbatuk kencang sambil menepuki dada. Daehyun tertawa pelan mengejek, tapi kemudian membantu mengusap punggung pemuda manis itu pelan-pelan. Nah, ini lagi. Youngjae tidak apa-apa disentuh Daehyun seperti itu.
"Hyung, apa-apaan, sih!" gerutu Youngjae.
"Kalian kelihatan seperti itu~" jawab Himchan santai. "Ah, aku belum pesan makanan. Tunggu aku, jangan pergi kemana-mana. Temani aku makan."
Tanpa persetujuan, Himchan meninggalkan mereka untuk membeli kupon makanan. Setelahnya Youngjae dan Daehyun saling berpandangan, lalu bertukar senyum penuh makna. Tak ada yang tahu apa yang ada di dalam pikiran dua remaja penuh misteri itu. Biarkan merek saja, yang lain tak perlu ikut-ikutan.
"Kakak kelas itu akan masuk besok, ya?" tanya Youngjae.
"Hm." Daehyun menyuapkan jjajangmyeon porsi keduanya. "Kenapa kau penasaran sama orang itu?"
"Namanya tidak diberitahu, sih, kemarin."
Benar juga, soal kakak kelasnya itu, Daehyun juga diam-diam penasaran. Siapa yang akan mengulang kelas? Ke kelas mana dia akan masuk? Kalau masuk ke kelas Daehyun, jelas dia tidak akan mau berhubungan. Dengan Youngjae saja sudah merepotkan begini, apalagi dengan yang lain. Tapi, dia cukup merasa senang dengan ini.
Tak lama Himchan kembali dengan dua porsi jjajangmyeon dan sekotak susu stroberi. Makhluk cantik luar biasa itu porsi makannya tak beda jauh dengan Daehyun ternyata. Cara makannya juga—sebelas-duabelas, mirip. Melihat Daehyun yang membuat ekspresi jijik saat melihat cara makan Himchan membuat Youngjae ingin memberikan kaca besar pada pemuda itu. Lihat cara makanmu sendiri, Daehyun.
Mengelap mulut setelah selesai dengan makannya, Youngjae menenggak habis air di dalam botol. Bersamaan dengan habisnya air, acara makan Himchan dan Daehyun pun juga selesai. Daebak. Mereka makan seperti vacum cleaner yang menghisap debu dengan sekali sedot. Sangat cepat.
"Kalian berdua memang monster makan," ujar Youngjae sambil tertawa. Dia mengambil tisu lalu mengelap sisa saus di sekitaran mulut pemuda berkacamata di depannya.
Sesekali Himchan menarik senyum melihat interaksi kedua orang di depannya ini, ingat saat pertama kali dia bertemu dengan Yongguk dulu dan saling jatuh cinta pada pandangan pertama. Ouh, masa muda. Tapi Himchan masih muda juga, ingat dia masih kelas dua SMA.
"Ah, kalian tahu soal kakak kelas itu?" tanya Himchan. Sengaja membuka pembicaraan dengan berita terpanas di sekolah agar dirinya tidak menjadi obat nyamuk diantara Daehyun dan Youngjae yang sedang mesra-mesranya walau mengaku tidak berpacaran.
Youngjae paling semangat mengenai hal ini. Bisa dilihat kedua mata bulatnya makin membesar ketika mendengar tentang kakak kelas itu. Dia penasaran, sungguh.
"Dia teman sekelasku," ujar Himchan lagi. "Dia punya phobia."
"Phobia? Apa sepertiku?"
"Kalau kau, kan, takut disentuh. Kalau dia takut dengan tatapan mata orang lain. Istilahnya apa, ya. Lupa," jelasnya.
Daehyun diam-diam melirik, sedikit tertarik dengan pembicaraan walau tidak menunjukkannya. Jarinya memainkan ujung notebook kecil berisikan rumus fisika, memainkankan hingga ujungnya terlipat kusut. Kepalanya memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan seseorang. Seseorang yang dia tahu memiliki phobia seperti yang Himchan sebutkan.
"Siapa namanya?" tiba-tiba bibir Daehyun tergerak untuk bertanya, dia cukup penasaran. Apakah benar orang itu yang dimaksudkan Himchan.
Himchan baru saja mau membuka mulutnya untuk menjawab, tapi terhenti begitu merasakan sebuah buku mendarat halus di kepala. Mendongak untuk melihat sang pelaku yang ternyata adalah Pak Yongguk yang baru saja membeli sandwich dari mesin penjual otomatis. Wajah Himchan berubah makin cerah, tapi yang lain tidak menyadarinya.
"Kubilang ke ruanganku saat makan siangmu selesai. Tugasmu masih belum kau kumpulkan," ujar Yongguk.
Himchan terkikik kecil, lalu dia berdiri setelah pamit pada Daehyun dan Youngjae. Yongguk mengambil nampan bekas makan Himchan untuk dikembalikan ke konter makanan. Sebuah perlakuan yang biasa saja bagi orang lain, namun sangat manis bagi Himchan.
"Bukankah mereka sangat lucu?"
"Bukankah kita sudah cukup lucu?" balas Daehyun dengan pertanyaan juga.
Youngjae terpaku, Daehyun menatap ke sepasang matanya dalam sekali. Keduanya lalu menertawakan sesuatu yang entah apa itu. Pemandangan yang membuat orang lain terpaku saat menatapnya. Dua makhluk baru di sekolah yang terkenal dengan sikap dingin dengan orang lain kini tertawa berdua di muka umum. Membuat dunia sendiri yang tidak bisa dimasuki oleh orang lain.
Tentu pemandangan itu membuat seseorang bergetar kesal. Merasa kalah oleh orang yang baru masuk ke dalam kehidupan mereka. Jaebum yang baru saja ingin duduk di lantai dua kantin memutuskan untuk kembali turun ke lantai satu, meninggalkan teman-temannya yang menatap bingung kepergian si ketua asrama secara tiba-tiba itu.
"Ada yang panas," ucap salah satu dari mereka.
Tak ada yang menanggapi, sayangnya. Perut mereka sudah terlalu kosong sehingga otak tidak bisa dipaksa untuk berpikir. Akhirnya mereka memutuskan untuk menyusul Jaebum yang sudah duduk sendiri di pojokan kantin dengan wajah muramnya. Makanan lezat di hadapan tidak tersentuh sama sekali.
"Ah, sial..."
。。。。。。
Seongwoo terus menggigiti kukunya panik. Makanan yang Daniel bawakan di dari kantin sama sekali belum disentuh, padahal sudah sejak dua hari lalu dia sama sekali belum mengisi perut. Ya, sejak bertemu dengan Daehyun sabtu malam kemarin dia belum makan meskipun Daniel memaksa untuk menyuapinya.
"Dia belum siap untuk masuk sekolah besok," ujar Daniel frustasi. Menatap lawan bicaranya dengan mengatup rahang keras, mencoba menahan emosi yang hampir meluap.
"Tapi kau sudah dengan sendiri dari Kakekmu kalau Seongwoo tidak melakukanya kali ini maka dia akan dikeluarkan. Kau tidak mau berpisah dengannya, kan?"
"Tapi, Pak... Keadaan Seongwoo memburuk..."
Lagi-lagi Yongguk menghela nafas, menatap Daniel yang meremat kerah seragamnya sendiri hingga kusut tak kira-kira. Jika dilihat dari sudut pandangnya, di sini terlihat jelas kalau Daniel lah yang terlalu dilihat dengan jelas kalau daritadi Daniel menghalangi untuk berbicara berdua dengan Seongwoo walau ini adalah permintaan dari sang Kakek.
Daniel takut kalau Seongwoo dilukai sehingga dia menjadi terlalu protektif pada pemuda yang dianggapnya lemah itu. Yongguk tahu, Daniel lah yang sebenarnya menakut-nakuti Seongwoo agar Seongwoo bergantung padanya. Yongguk tahu, tapi kali ini dia memilih untuk diam saja dulu dan mengamati. Dia harus tetap tenang dengan banyak pekerjaan yang dilimpahkan padanya.
"Kakekmu tidak mau tahu kali ini," ujar Yongguk. "Aku tahu dia menyayangi Seongwoo, makanya dia ingin agar Seongwoo menghadapi ketakutannya."
Daniel terpaku di tempat, diam dan berputar dalam pikirannya sendiri. Melihat itu Yongguk langsung mencari kesempatan untuk masuk dan menemui Seongwoo yang duduk diam di ranjang. Berjongkok di depan pemuda yang terus menghindari tatapannya, Yongguk tersenyum tipis lalu melembutkan suara beratnya agar tidak menakuti Seongwoo.
"Seongwoo."
Ah, suara yang menenangkan seperti suara seorang Ayah. Seongwoo menggerakkan kepala ke arah Yongguk, tapi dia tidak menatap Yongguk tepat dimata. Sesekali Yongguk melirik luka-luka yang terlukis di tangan Seongwoo. Bukan hanya phobia, tapi mental Seongwoo benar-benar sudah terganggu hingga dia melakukan self injury.
"Seongwoo siap masuk sekolah lagi besok?" tanya Yongguk lembut.
Tak perlu waktu lama, Seongwoo menggelengkan kepala. Giginya masih mengigiti kuku jari tangan kanan, sementara tangan kirinya bergerak menunjukkan angka dua tepat di depan mata.
"Dua hari lagi... berikan aku waktu dua hari lagi," ujar Seongwoo pelan.
Nafas Daniel tercekat mendengarnya, ketakutannya kembali datang. Terlebih dia sudah tahu di kelas mana Seongwoo akan ditempatkan dan itu membuat ketakutannya semakin besar. Daniel ingin berteriak protes, namun tertahan karena Seongwoo lebih dulu membuka suaranya yang bergetar.
"Aku... aku ingin bertemu dan berteman dengan Youngjae."
Dan alasan itu sudah cukup bagi Yongguk. Jika itu yang Seongwoo inginkan maka dia akan sebisa mungkin membantu agar Seongwoo bisa bertahan hingga sembuh total. Ada senyum lega yang terlukis di bibir Yongguk, juga senyum tipis penuh harap yang terkembang indah di wajah Seongwoo. Namun senyum Daniel semakin memudar bersama badannya yang mendingin karena peredaran darahnya seakan berhenti mengalir.
Yongguk berdiri, berjalan menghampiri Daniel yang masih diam dengan nafas yang mendadak tidak teratur. Sepasang matanya menangkap raut wajah Daniel yang terlihat tidak suka.
"Kenapa...," bisiknya.
"Karena dia bukan bonekamu, Daniel. Kau tidak bisa terus membuatnya seperti ini."
。。。。。。
To be continued?
。。。。。。
Sorry kemaren sabtu gak update, gak ada kuota heung :(
