Sesungguhnya ini adalah pemandangan yang mengerikan bagi Seongwoo. Berdiri di depan kelas, di hadapan orang-orang yang tidak dia kenal sama sekali. Kepalanya terus menunduk menghindari tatapan dari adik kelasnya yang terlihat antusias sekali menyambutnya. Rasanya, dia ingin cepat duduk dan bersembunyi di balik hoodie biru yang dipakainya. Takut, sangat takut.
"Ini Ong Seongwoo. Kakak kelas kalian. Saya harap kalian membantu dan memperlakukannya sebaik mungkin," ujar Yongguk.
Seongwoo membungkukkan badan memberi hormat, perlahan mengusap keringat dingin yang membasahi dahi. Yongguk menepuk pundaknya kemudian menunjukkan kursi yang berada di pojok belakang kelas, berjarak dua kursi dari tempat duduk Youngjae. Dia berjalan ke arah kursinya, mengabaikan Youngjae yang sudah berbinar bahagia melihat Seongwoo masuk ke dalam kelasnya. Bukan, bukan Seongwoo sengaja mengabaikan. Memang sedari tadi dia tidak berniat untuk menatap seisi kelas tersebut, terlalu takut.
Daehyun memperhatikan gelagat riang Youngjae, ingin mengatakan sesuatu namun diurungkan karena takut merusak mood pemuda manis yang suka naik-turun tidak jelas itu. Mengalah-ngalahi mood wanita saja.
"Daehyun," panggil Youngjae. Cengiran bahagia terlukis di wajahnya. "Nanti ajak Seongwoo makan siang, yuk?"
Oh, tentu saja Daehyun langsung menggelengkan kepala kuat-kuat. Youngjae langsung mengerucutkan bibir sebal mendengar penolakan Daehyun, padahal dia ingin mengakrabkan diri dengan anggota kelas baru yang selama ini dinantikan olehnya.
"Maaf, ya. Aku harus mengembalikan buku perpustakaan. Bisa didenda kalau telat," ujar Daehyun sebagai alasan penolakannya. "Tapi kalau aku sempat, kususul ke kantin."
Wajah sebal itu kini berganti lagi ke senyum ceria sebelumnya, bisa dilihat kedua tulang pipinya sangat terlihat ketika dia menarik senyum. Youngjae menganggukkan kepala lalu kembali beralih pada kegiatan sebelumnya, menyalin tugas kimia Daehyun. Ingatkan dia untuk mengerjakannya lebih cepat karena Bu Jieun akan datang sekitar sepuluh menit lagi. Semoga dia punya waktu.
。。。。。。
Seperti yang Daehyun katakan, dia segera keluar kelas dengan buku-buku perpustakaan dalam pelukannya setelah pamit pada Youngjae. Teman sekelas lain juga sudah berhamburan keluar, menghilangkan penat dari pelajaran kimia yang membuat otak mereka tinggal separuh karena terbakar.
Di kelas kini hanya ada dirinya dan Seongwoo yang sedari tadi masih tidak bergerak dari kursi. Youngjae bangkit lalu mendekati Seongwoo yang terus menunduk. Penasaran kenapa dari tadi Seongwoo sama sekali tidak mengerjakan apapun seperti mengobrol atau izin ke toilet. Ah, tidak semua murid ingin ke toilet saat pelajaran berlangsung, sih. Apa mungkin Seongwoo canggung karena berada di kelas baru?
"Seongwoo~" sapa Youngjae. "Ternyata kakak kelas itu kamu."
Seongwoo mengangkat kepala dan sekilas menatap Youngjae sebelum mengalihkan pandangan keluar jendela. Youngjae sudah biasa dengan itu, sejak pertama kali mereka bertemu juga Seongwoo selalu menghindari tatapannya.
Dilihatnya Seongwoo mengusap tengkuk gugup. Badannya juga terlihat agak gemetar entah kenapa. Jelas saja Youngjae tidak bisa mengabaikan hal itu meskipun dia terkesan cuek pada orang lain.
"Seongwoo tidak apa-apa?" tanya Youngjae khawatir. "Sakit?"
"Tidak, Youngjae. Aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah memperhatikanku," jawab Seongwoo.
Jarinya memainkan hoodie biru di kepala, masih memperhatikan keluar jendela dimana banyak orang yang berlarian di lapangan, bermain-main dengan temanya.
"Ke kantin, yuk."
"Aku pass," jawab Seongwoo cepat yang langsung mendapat reaksi kecewa dari Youngjae. Tapi tak lama dia kembali tersenyum.
"Kalau begitu aku akan menemani Seongwoo di sini."
Baru saja Youngjae mau menarik kursi di depan meja Seongwoo, tapi gerakan itu tertahan ketika dia melihat seseorang masuk ke dalam kelas dan menyentuh kedua pundak Seongwoo posesif.
Itu Kang Daniel yang entah kenapa selalu datang saat dia dan Seongwoo ingin berbicara berdua. Seakan menghalangi Seongwoo untuk dekat dengan orang lain saja. Seongwoo sendiri terkejut ketika merasakan ada yang menyentuhnya. Perlahan mendongakkan kepala dan terkejut melihat siapa yang datang.
"Daniel..."
"Ayo, kita makan ke kantin bersama," ajak Daniel. Tapi terlihat Seongwoo memberikan bahasa tubuh bahwa dia tidak ingin. Bahunya bergerak pelan hingga Daniel melepaskan tangan darinya.
"Kakek bilang jangan bertemu seperti ini di sekolah, kan?"
Bukan bertanya, Seongwoo lebih seperti menegaskan pada Daniel tentang apa yang Kakek pernah katakan sebelum dia mulai kembali bersekolah, yang tentu saja tidak setujui oleh Daniel. Bagaimanapun, entah mengapa dia merasa Seongwoo adalah tanggung jawabnya.
Seongwoo tahu kalau Daniel sekarang memasang wajah tidak suka, tapi dibiarkannya begitu saja. Dia hanya tidak ingin melawan perkataan Kakek meski Daniel bersikeras untuk menghampiri.
"Bagaimanapun juga aku harus menjagamu, Seongwoo."
"Tapi aku bisa sendiri, Daniel." Seongwoo berdiri dengan dua telapak tangan yang mengepal kuat meski gemetar. "Kumohon, biarkan aku melakukannya kali ini. Aku bisa sendiri."
Seongwoo melangkah melewati Daniel. Berlari pergi meninggalkan Daniel yang terlihat frustasi dan Youngjae yang masih tidak tahu menahu soal apapun yang terjadi antara mereka. Daniel menghela nafas, kemudian menatap Youngjae dengan ujung bibirnya yang ditarik ke atas, memberikan sebuah dengusan dalam seringai kesal.
"Tolong jangan dekati Seongwoo," katanya. "Dan jangan biarkan dia berdekatan dengan Daehyun."
Tanpa Youngjae sempat melontarkan kata, Daniel sudah pergi berlari untuk menyusul Seongwoo yang kemungkinan sekarang berada di perpustakaan di gedung lama yang sepi.
Youngjae menggaruk kepala, dibingungkan dengan keadaan di sekitarnya. Sesuatu yang baru dia ketahui, tentang Seongwoo dan Daniel yang berhubungan dengan Daehyun. Sesuatu yang tidak dia tahu tentang Daehyun karena pemuda berkacamata bulat itu sama sekali tidak pernah menceritakan apapun padanya.
"Aku harus bertanya pada Daehyun nanti..." bisiknya. "Tapi sebelum itu aku harus mengisi perut dulu."
Tertawa geli sendiri mendengar perutnya berbunyi, Youngjae memutuskan untuk pergi ke kantin sendirian. Baru saja dia sampai di depan kelas, Jaebum berdiri menghalangi langkah pemuda itu. Dengan senyum manis terlukis di wajah dan dua batang cokelat di tangannya.
"Youngjae, kalau aku beri ini. Apa kau mau makan bersamaku?"
。。。。。。
Youngjae ingin sekali melemparkan sendok plastik di tangan pada Jaebum yang tengah tertawa riang saat menceritakan kebodohan Youngjae saat kecil. Tentang Youngjae yang berteriak dan menangis karena menyangka kalau dia akan mati karena seekor nyamuk menyedot darahnya yang tak seberapa. Dia mengadu pada Jaebum dan pemuda itu langsung mencari nyamuk tersebut untuk membalas dendam.
Konyol sekali.
"Hentikan cerita bodoh itu. Kau membuatku malu," gerutu Youngjae.
Tawa dari Jaebum perlahan berhenti dan dia kembali menyendokkan nasi ke dalam mulutnya. Lama mereka diam menikmati makanan, hingga akhirnya Jaebum memberanikan diri untuk kembali membuka suara.
"Maafkan aku soal hari Minggu kemarin."
Youngjae meletakkan sendok. Mendorong piring yang makanannya masih tersisa setengah lalu meninum susu sampai habis. Dia kenyang, entah kenapa. Tapi bibirnya masih menyungging senyum, menunggu apa yang akan Jaebum katakan setelahnya.
"Aku sungguh tidak tahu kalau kau masih..."
Jaebum menggantung kata. Mengurungkan niat untuk kembali berbicara setelah melihat Daehyun datang dengan sebuah sandwich yang dibeli dari mesin penjual otomatis, hanya sebuah.
Dia berhenti tepat di depan Youngjae dan Jaebum lalu duduk tanpa izin di sana. Membuka sandwich lalu memakannya tanpa berbicara. Jaebum melirik ke arah Youngjae, meminta izin untuk melanjutkan obrolan. Youngjae mengangguk pelan mempersilahkan Jaebum, tapi belum sempat lagi Jaebum bicara, Daehyun sudah memotongnya.
"Katanya bersama murid baru di kelas itu," kata Daehyun.
"Ah, Seongwoo pergi ke perpustakaan," timpal Youngjae asal, padahal dia tidak tahu Seongwoo berlari kemana setelah melihat dua orang tadi terlihat seperti bertengkar.
"Benarkah? Kami tidak bertemu."
"Ada perpustakaan lain di gedung lama. Mungkin dia ke sana karena buku-bukunya lebih lengkap dibanding di gedung baru." Kali ini Jaebum menjelaskan. Air mukanya mendadak berubah kaku seakan tidak suka Daehyun ada di sana dan mengganggu obrolan mereka. "Kenapa kau tidak kesana saja?"
"Gedung lama terlihat seram. Aku takut ada hantu tiba-tiba muncul dan mengejutkanku."
"Oh, benarkah? Kau takut hantu ternyata," timpal Jaebum.
"Ya, terlebih yang wajahnya sepertimu."
Youngjae terlihat menahan tawa mendengar candaan Daehyun, tapi berbeda dengan Jaebum yang menganggapnya terlalu serius hingga menggebrak meja dan membuat seisi kantin melihat ke arah mereka. Jaebum marah lalu beranjak meninggalkan Daehyun dan Youngjae berdua.
Meringis sedikit saat Youngjae mendaratkan pukulan pelan di bahunya, Daehyun kembali menikmati sandwich tanpa berkata apapun lagi.
"Kau terlalu kasar, Daehyun," kata Youngjae.
"Maafkan aku." Daehyun mengeluarkan susu dari saku lalu menyedotnya hingga habis.
"Minta maaf pada Jaebum. Kau sudah tidak sopan tadi."
Daehyun hanya mengangguk-angguk pelan, mengiya-iyakan suruhan Youngjae meski dia ogah sekali meminta maaf pada Jaebum. Salah Jaebum sendiri karena terlalu emosi menghadapi Daehyun. Keduanya terlihat kekanak-kanakan jika berkelahi karena masalah tidak jelas seperti ini.
"Ah, aku ingin kau bercerita padaku nanti di asrama."
"Tentang apa?"
Alis Daehyun naik antusias. Apa yang ingin Youngjae tanyakan hingga nada bicaranya terdengar serius seperti itu. Wajah manisnya juga berubah menjadi sangat penasaran dan menuntut. Padahal biasanya sepenasaran apapun Youngjae, dia tidak akan pernah terlihat seperti itu.
"Tentang kau, Daniel dan Seongwoo."
Wajah Daehyun berubah seperti halnya Jaebum saat marah tadi. Tangannya mengepal hingga kotak susu di tangannya tak beraturan lagi. Melihat Daehyun yang seperti ini, Youngjae tahu jika Daehyun benar-benar menyimpan sesuatu antara dia dan kedua orang itu. Dia pikir dulu Daehyun hanya bermasalah dengan Daniel saja, tapi ternyata sampai ke Seongwoo. Itu benar-benar membuatnya penasaran.
Daehyun hanya diam dan menanggukkan kepala. Dia tidak bisa lari dari rasa penasaran Youngjae tentang dirinya meski dia tidak mau bercerita. Youngjae harus tahu segala sesuatu tentang Daehyun seperti Daehyun yang begitu mengenali Youngjae.
。。。。。。
Ruangan itu gelap dengan cahaya merah yang mendominasi. Banyak lembar kertas foto basah yang menggantung di tali. Dua orang tersenyum manis melihat hasil jepretannya.
"Kita bisa gunakan ini," kata salah satu dari mereka.
"Kau yakin?"
Pemuda itu mengangguk dengan segala ambisi yang meluap dari tubuhnya. Memanfaatkan lembaran foto di hadapan untuk melakukan dua hal yang menurutnya akan berhasil dengan mudah.
"Dengan ini kita bisa kembali menaikkan kembali nama klub kita," katanya. "Juga bisa menghancurkan hubungan mereka."
Pemuda itu kembali menatap tiga lembar foto di depannya semangat, tapi tidak dengan pemuda lain yang terlihat ragu akan ide ini. Sesekali menggigit kuku ketika melihat dua orang yang tercetak di foto tersebut. Senyum mereka terlihat terlalu berharga untuk di hancurkan, tapi ini adalah sebuah perintah yang harus dia jalankan dan bayaran yang mereka terima tidak murah.
Yang memberikan perintah menawarkan cukup banyak uang untuk membantu klub mereka yang sedang kesusahan dan itu membuat mereka tergiur. Tapi sungguh, pemuda itu sebenarnya tak sanggup melakukan ini.
"Kita akan bocorkan hubungan terlarang guru dan murid ini." Salah satu foto yang menangkap gambar dimana dua orang itu sedang tersenyum manis dengan sebuah kotak kado di dalam pelukan. "Yongguk dan Himchan."
。。。。。。
To be continued?
。。。。。。
Hallo, saya berencana ganti jam tayang(?)
Kemungkinan bakal update setiap Rabu malam atau Kamis~ karena jadwal kosongnya jam segitu dan malah weekend yang sibuk hehe.
Thanks for reading~ XOXO
