"Kira-kira menurutmu apa yang ingin aku tanyakan?"
Daehyun mengalihkan pandangan dari novel di genggaman tangannya. Youngjae sedang mengeringkan helaian rambut basahnya dengan handuk kuning yang mengalung di leher. Kebiasaan mandi malamnya mulai lagi setelah kamar mandi di tiap kamar asrama dipasangi water-heater. Sambil memilah piyama warna apa yang akan dia pakai hari ini, dia menunggu jawaban yang akan keluar dari bibir Daehyun.
Pemuda berkacamata tebal itu menghela nafas kasar. Setelah sering berbicara dengan Youngjae, waktu membaca bukunya banyak berkurang sekarang. Novel itu dia tutup setelah diberi pembatas berbentuk cheesecake dan diletakkan dalam sela-sela buku lain di rak kecil di atas meja belajarnya.
"Soal aku, Daniel dan Seongwoo, kan?"
"Benar! Tapi ini soal hubungan di antara kalian yang tidak aku ketahui," jelas Youngjae.
Membuka kaos abu-abu tanpa lengan lalu menggantinya dengan piyama bergambar beruang berwarna biru muda. Rambut basahnya dibiarkan menutupi dahi, handuk masih setia menggantung di lehernya. Dia berjalan untuk menghangatkan air dispenser, menyobek susu sachet dan memasukkannya ke dalam gelas plastik berwarna kuning miliknya. Ingatkan dia kalau susu yang dia sobek tadi adalah milik Daehyun.
"Untuk apa kau ingin tahu soal kami? Kau tidak perlu tahu," ujar Daehyun seperti ingin menghindari pertanyaan yang akan Youngjae berikan. Memang dia ingin menghindarinya, sih.
"Kau tahu banyak soalku, jadi jangan sok misterius dan tidak menceritakan masalahmu padaku," timpal Youngjae. "Itu kalau kau menganggapku teman dan masih ingin berada di dekatku."
"Kau mengancam?"
Youngjae tersenyum memaksa lalu mengangguk. Dia benar akan melakukannya jika Daehyun benar tidak akan menceritakan masalahnya. Youngjae bukannya sangat penasaran apa yang terjadi pada Daehyun, Daniel dan Seongwoo. Dia hanya malas disuruh menjauhi Seongwoo tanpa tahu apa yang terjadi.
Youngjae kan ingin berteman dengan Seongwoo, tapi Daniel malah melarangnya seperti itu.
"Baiklah, aku akan bercerita," ucap Daehyun. "Dan setelah ini adalah keputusanmu mau memandangku seperti apa."
Youngjae tertawa hingga giginya terlihat. Memasukkan air panas ke dalam gelas lalu mengaduknya dengan bungkus susu yang tadi telah dia sobek. Tangannya meraih roti stoberi di atas meja lalu beranjak mengambil posisi nyaman di kasurnya. Ingatkan lagi kalau susu dan roti stoberi yang dia ambil tadi adalah milik Daehyun juga.
Kenapa? Milik Daehyun adalah miliknya juga, bukan?
"Baiklah. Dengarkan aku." Daehyun bisa melihat kalau Youngjae kini bersiap dan memasang telinganya baik-baik. "Aku dan Daniel adalah sepupu—"
。。。。。。
Pemuda di depannya menghela nafas frustasi. Melihat lembaran kertas berisi sebuah artikel yang mirip seperti artikel gosip panas dengan foto Himchan dan Yongguk terpampang lebar di sana. Mata sipitnya menatap ragu, bibirnya terkelupas karena digigit-gigit pelan.
"Kau yakin akan melakukan ini?" tanyanya.
"Tentu saja. Ini demi menyelamatkan klub kita." Lawan bicaranya menjawab cepat. Bibir tipisnya menyungging senyum lebar saat lembar artikel terakhir sudah keluar dari mesin cetak. "Uangnya juga lumayan untuk menambah anggaran."
"Tapi kita tidak harus melakukan ini—"
"Cukup Cha Hakyeon," potongnya. "Ini demi kita. Demi klub koran yang kota pertahankan mati-matian ini."
"Juga demi mendapatkan cinta Himchan, bukan, Taekwoon?"
Cha Hakyeon. pemuda bermata sipit itu menatap lawan bicaranya yang terlihat antusias dengan apa yang dia lakukan. Taekwoon selaku ketua klub koran itu hanya mendengus geli mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Hakyeon.
Cinta Himchan? Ah, Hakyeon tidak salah juga dengan kata-katanya. Dia memang melakukan ini karena suruhan orang lain, tapi dia juga menyetujuinya karena ini adalah satu-satunya cara agar dia bisa mendekati Himchan dan menarik perhatiannya.
Taekwoon membetulkan posisi kacamata bulatnya, merapikan artikel di pelukannya lalu tersenyum dingin pada Hakyeon.
"Apapun, Hakyeon. Apapun demi menyelamatkan klub ini dan cinta Himchan," katanya.
Hakyeon hanya bisa menatap punggung Taekwoon yang menghilang dari balik pintu ruang klub. Alisnya bertaut menyiratkan kesedihan dan kegalauan dalam hatinya. Taekwoon melakukan apapun untuk klub ini juga Himchan, begitupun Hakyeon yang rela melakukan apapun untuk Taekwoon meski dia harus ikut andil menyebar berita buruk seperti ni. Tapi kenapa, Taekwoon sama sekali tidak pernah memperhatikannya? Memperhatikan Hakyeon yang berjuang untuk mendapatkan hati Taekwoon.
"Kenapa... Taekwoon?
。。。。。。
Susu di dalam gelas sudah habis, begitupun roti stoberi yang tinggal kenangan dan menyisakan plastik yang diremat-remat oleh tangan Youngjae. Berkali-kali pemuda itu menghela nafas ketika mendengar kata demi kata keluar dari bibir tebal Daehyun dan menimang-nimang apa yang harus dia katakan setelah mendengar kata-kata Daehyun.
Satu yang pasti.
Youngjae ingin menampar Daehyun sekuat-kuatnya sekarang.
"Ah, kau benar-benar..."
Daehyun tahu reaksi apa yang akan Youngjae berikan—tidak—semua orang berikan ketika mendengar cerita dari sudut pandangan Daehyun. Mereka akan membenci Daehyun setelah ini dan Daehyun sudah biasa dengan semua penolakan itu.
"Kalian masih terlalu kecil untuk main benci-bencian," ujar Youngjae. "Dan kurasa ada yang salah dengan otakmu."
"Aku tahu. Dan aku sudah siap jika kau mau menjauhi setelah ini," timpal Daehyun.
Moodnya sudah terlalu buruk untuk lanjut mendengar apa yang akan Youngjae katakan. Semuanya sama. Youngjae akan membencinya seperti Daniel setelah ini. Daehyun berbaring, menarik selimutnya hingga menutupi kepala. Menghela nafas sekencang-kencangnya menghilangkan sesak di dada lalu mencoba menutup matanya dan pergi ke alam mimpi.
Tapi semuanya batal ketika dia merasakan selimutnya ditarik oleh tangan kecil Youngjae. Daehyun hampir saja mengerang kesal, tapi satu sentilan di dahi membatalkan protesnya. Youngjae menarik kacamata bulat miliknya, melipatnya lalu menyimpannya rapi di atas nakas.
"Menanamkan kebencian seperti itu tidak ada untungnya, Daehyun." Youngjae berujar lembut sambil mengusap helaian rambut hitam Daehyun. "Belajarlah untuk memaafkan. Kau tidak salah, Seongwoo juga tidak salah. Kalian kan tidak tahu apa-apa dulu."
Daehyun terdiam lama. Menikmati hangat tangan Youngjae yang mengusap kepalanya pelan-pelan.
"Kau tidak ingin marah padaku?" tanya Daehyun.
Gerakan tangan Youngjae terhenti, kemudian dengan tidak berperasaannya Youngjae menjambak rambut Daehyun kuat-kuat hingga membuat pemuda itu hampir berteriak dan mengaduh kesakitan.
"Tentu saja aku marah! Nih, aku marah!" seru Youngjae. "Mengatai anak kecil yang tidak tahu apa-apa itu pembunuh dan membuatnya trauma seperti itu. Kau pikir aku tidak marah?!"
Daehyun mencoba melepaskan tangan Youngjae dari kepalanya, tapi kemudian dia merasakan jambakan di rambutnya mengendur dan kembali berganti dengan usapan lembut. Dengan mata rabunnya, samar-samar dia menangkap senyuman manis yang terlukis di wajah Youngjae.
"Tapi masa lalu hanyalah masa lalu, kan? Kita harus coba memperbaiki diri dan maju ke depan."
Mendengar kata-kata lembut Youngjae membuat Daehyun tertegun. Perlahan dia duduk, memindahkan telapak tangan Youngjae ke genggaman tangannya kemudian tersenyum tipis. Ditatapnya sepasang maik kecokelatan milik Youngjae di depannya. Teduh dan menenangkan.
"Hei. Aku jadi ingin menciummu," bisik Daehyun.
Suara rendah itu menggelitik telinga Youngjae, mengirim sinyal menggelitik dari otak menuju perutnya. Pipinya juga memerah ketika Daehyun tanpa izin mendekat hingga dahi mereka bersentuhan. Youngjae tidak bisa berpikir ketika Daehyun menatap mata dan bibirnya bergantian, seakan meminta izin agar dia boleh memberikan sedikit kecupan di bibir pemuda manis di hadapannya.
Youngjae bisa gila. Youngjae bisa gila. Youngjae bisa gila.
Kini telinganya seakan tak menangkap suara apapun, selain nafasnya yang berderu kencang, juga suara jantungnya yang seperti meletup-letup. Kedua matanya kini perlahan menutup dan Daehyun semakin memotong jarak.
Kedua belah bibir itu bertemu. Hanya sebuah kecupan kecil tanpa nafsu. Sebuah kecupan tanda terima kasih dari Daehyun pada Youngjae. Satu kecupan, dua kecupan, tiga kecupan. Hingga akhirnya keduanya kembali berpisah dan saling bertatap dalam.
"Terima kasih," bisik Daehyun. "Terima kasih karena tidak membenciku seperti yang lain."
"Seharusnya aku yang berterima kasih. Kau telah mengubahku menjadi lebih berani seperti ini. Terima kasih," balas Youngjae.
Daehyun tersenyum, menarik Youngjae ke dalam rengkuhannya dan memeluknya sangat erat. Menyesap aroma lemon dan mint yang berasa dari shampo yang Youngjae gunakan. Menyandarkan kepalanya di bahu Youngjae dan berkali-kali membisikkan kata terima kasih pada Youngjae yang terus mengusap pundak Daehyun.
Dan kata terakhir dari Daehyun sebelum dia jatuh terlelap dalam pelukan Youngjae membuat pemuda itu tersenyum simpul.
"Jangan pernah tinggalkan aku..."
Daehyun kini rebah di kasur dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Menyisakan Youngjae yang terdiam dengan senyum manis yang tak henti-hentinya terkembang manis di wajah. Mencoba mengatur detak jantung yang makin kencang berdebarnya.
"Ah, gila." Rambut Youngjae sudah acak-acakan sekarang. "Apa aku jatuh cinta?"
。。。。。。
To be continued?
。。。。。。
Cie, Daejae ciuman cie. Hahah /plak
Udah tau kan siapa yang jahat sama BangHim? Iya, itu si Leo sama N VIXX, tapi pake nama asli aja biar enakeun gitu. Hehe~
Btw, buat yang di Bandung, hari minggu ini ada yang bakal ke event Lollipop yang koreaan? Ada yang dance cover B.A.P jadi aku mau dateng ke sana~ Kalau ada yang ke sana hayu kita meet up :3
Thanks for reading~
