Baca sampai bawah karena ada pengumuman.
。。。。。。
Daehyun cukup terkejut ketika melihat kamarnya sekarang. Dia baru saja tiba dan disambut dengan pemandangan yang sangat—Waw! Daehyun suka ini!
Banyak makanan berada di atas meja. Tidak banyak juga, sih, ada tiga menu yang semuanya disuguhkan dalam porsi besar. Jajangmyeon, pizza dengan ekstra keju dan cheese cake—bukan steamed cheese cake bungkusan yang rasanya aneh itu, tapi benar-benar cheese cake. Di sana sudah ada Youngjae yang tersenyum manis, mungkin sudah menunggunya sejak tadi.
"Bagaimana bisa banyak makanan—"
"Aku meminta bibi kantin memesannya. Ah, jajangmyeonnya bibi kantin yang masak," ujar Youngjae cepat sebelum Daehyun bertanya macam-macam. Perutnya sudah keroncongan karena waktu makan malam sudah lewat lebih dari satu setengah jam lalu. "Cepat duduk sini."
Daehyun menurut saja. Setelah melepas sepatu, jas dan dasi sekolahnya, dia langsung duduk di kursi, berhadapan dengan Youngjae. Tangannya dengan cepat mengambil dua mangkuk jajangmyeon, menyatukan bagian atasnya yang masuk tertutup plastik lalu menggocoknya—cara mengaduk bumbu jajangmyeon agar cepat merata. Setelahnya dia memberikan pada Youngjae, menggulung lengan baju lalu mengambil sumpit yang disediakan.
"Kenapa bibi kantin mau memesankan ini? Bukannya akan merugikan dia?" tanya Daehyun. Yang ditanya hanya mengelurankan cengiran lucu—seharusnya Daehyun tahu apa maksud senyuman itu. "Dasar orang kaya."
"Maaf. Tolong berkaca," kata Youngjae. "Cepat makan atau aku habiskan semua ini. Aku sudah menepati janjiku, lho."
Daehyun tak lagi banyak bicara dan langsung menyantap makanan sebelum Youngjae merebutnya. Mana bisa Daehyun berpisah dengan belahan jiwa itu. Ah, soal janji, saat tadi di sekolah Youngjae mengatakan pada Daehyun bahwa dia akan membelikan banyak makanan kalau Daehyun mau membantu Yongguk bersama dengan Daniel. Pantas saja Daehyun langsung menyetujui tanpa protes sedikitpun. Makanan semua, sih, yang ada di pikirannya.
Senyum di mulut Youngjae terkembang ketika melihat Daehyun yang melahap makanannya tanpa henti tanpa bicara sedikitpun. Mulutnya yang penuh dengan saos jajangmyeon membuat Daehyun terlihat sangat imut. Ingin Youngjae cubiti jadinya kedua pipi yang sedang menggembung itu.
"Hari ini tidak aneh-aneh, kan? Tidak marah-marah pada Daniel, kan?"
Kepala Daehyun menggeleng cepat, "malah dia yang mencoba memancing amarahku. Tapi sesuai janjiku padamu, aku tidak akan mencari gara-gara dan akhirnya aku pergi dari sana. Pak Yongguk juga meneriaki kami karena berisik di depan ruangannya."
"Pak Yongguk sepertinya menjadi stress karena masalah ini."
Ujaran Youngjae ditanggapi dengan anggukan setuju dari Daehyun yang sudah menghabiskan menu pertamanya. Mulutnya yang penuh saos membuat Youngjae gatal. Dia meraih beberapa lembar tisu, mencondongkan badan ke arah Daehyun lalu mengusap pelan saos yang tersisa di pinggir bibir Daehyun. Keduanya terdiam lama, seperti yang sering terlihat di dalam drama-drama roman picisan tontonan Ibu-ibu di televisi.
Perlahan Daehyun meraih lengan Youngjae dan menariknya agar pemuda itu lebih mendekat. Daehyun menatap manik kecoklatan Youngjae dalam-dalam, kemudian melirik ke arah bibir yang sedikit terbuka seakan meminta izin pada Youngjae untuk menyentuhnya. Setelahnya, Youngjae mengangguk. Membiarkan Daehyun untuk memotong jarang dan mendaratkan sebuah kecupan di bibirnya.
Hanya sebuah kecupan, seperti yang mereka lakukan sebelumnya.
"Hei, terima kasih," bisik Daehyun.
"...Untuk?"
"Semuanya. Untuk segalanya." Daehyun melepas genggamannya pada pergelangan tangan Youngjae, kemudian membawa jemari mereka bertaut satu sama lain. "Terima kasih sudah ada di sini."
"Kau sudah cukup mengatakannya kemarin," ujar Youngjae pelan. Memejamkan mata ketika merasakan elusan ibu jari Daehyun dalam genggamannya. Orang yang menyimpan sebuah kebencian yang besar ternyata memiliki sisi lembut seperti ini.
"Jangan pernah tinggalkan aku, ya."
Dan kata-kata Daehyun tak dijawab oleh Youngjae yang kini larut dalam kenyamanan. Duduk di samping Daehyun dan menyadarkan kepalanya, memejamkan mata dan saling bergandengan tangan. Youngjae tak tahu harus menjawab Daehyun dengan kata apa, karena dia sendiri belum merasa yakin dengan perasaannya. Begitupun dengan Daehyun yang terus memikirkan perkataan Daniel di depan ruangan Yongguk tadi.
"Kau tidak menjadikan Youngjae sebagai tamengmu, kan?"
。。。。。。
Pagi ini sebelum berangkat sekolah, Youngjae menghampiri Himchan ke kamarnya. Kepala Sekolah meminta Himchan untuk sementara tidak hadir sampai pelaku penyebaran foto dan berita itu tertangkap. Himchan menurut saja. Toh, demi kebaikannya sendiri. Dia juga harus istirahat karena perutnya terus-menerus merasa sakit akibat stress.
"Sudah ada petunjuk siapa pelakunya?" tanya Youngjae.
Himchan mengangguk lemah dia atas kasurnya. Berkali-kali mengoleskan minyak angin agar perutnya terasa sedikit hangat. Ah, Himchan benci ini. Setiap kali stress, pencernaannya akan langsung berantakan. Untung Youngjae tadi membawakannya sekotak susu. Setidaknya untuk menetralisir rasa sakit di perutnya.
"Tapi aku yakin sekali kalau bukan hanya satu. Entah kenapa..."
"Maksud hyung?"
"Ada yang menyuruh si pelaku untuk melakukan ini. Entahlah, aku pusing memikirkannya," gerutu Himchan.
"Kalau begitu hari ini Hyung istirahat saja. Jangan sampai banyak pikiran. Perutmu akan semakin sakit nanti. Tidak bisa bertemu dengan Pak Yongguk dulu, kan, sekarang?"
Himchan mengerucutkan bibirnya. Sebal karena selama beberapa hari kedepan dia tidak bisa bertemu dengan Yongguknya. Tapi apa boleh buat. Himchan tidak ingin membuat Yongguk repot lebih dari ini.
"Aku ke sekolah dulu, ya. Daehyun sudah menungguku di gerbang. Cepat sembuh, Hyung."
Youngjae melambaikan tangan, berjalan meninggalkan Himchan yang masih terbaring di tempat tidurnya. Sebenarnya tadi ingin membantu memijat Himchan, tapi dia masih ragu untuk menyentuh pemuda cantik itu. Ah, dia harus cepat-cepat pergi. Daehyun pasti jengkel kalau dia berlama-lama.
Sepeninggalan Youngjae, Himchan memutuskan untuk memejamkan mata. Niatnya melanjutkan tidur yang sempat tertunda. Dia baru tidur selama tiga jam karena pusing memikirkan masalah. Kadang Himchan ingin mengeluh banyak-banyak, tapi dia sadar kalau mengeluhkan segala sesuatu di kehidupannya tidak akan membuahkan hasil apapun. Dia hanya bisa pasrah dan mencari jalan terbaik untuk keluar dari masalahnya.
Hampir saja Himchan jatuh tertidur kalau tidak mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Dengan kesal dia bangkit dari sana dan berjalan untuk membuka pintu. Wajahnya terlihat masam sekali.
"Tsk! Siapa, sih, yang mengganggu tidurku—"
Gerutuan Himchan langsung terhenti ketika melihat sosok tinggi yang berdiri di depan pintunya. Tersenyum tipis sambil mengacak rambut ikalnya yang menyentuh dahi.
"Boleh aku masuk?"
。。。。。。
"L... L..."
Daniel menyebut huruf itu berulang-ulang sambil menatap daftar nama yang ada di tangan yang sudah dicentang beberapa. Tadi dia baru menemui Lee Euiwoong yang merupakan anak klub sastra dan menanyakan ini itu padanya, tapi hasilnya nihil. Si Lee Euiwoong ini sama sekali tidak menunjukkan kalau dia adalah pelaku penyebaran foto tersebut.
Kepala Daniel pusing. Di saat seperti ini Daehyun malah tidak ada—Ah, ada! Matanya baru saja menangkap sosok Daehyun yang sedang... menggusak kepala Youngjae lalu mengecup puncak kepala pemuda itu sebelum Youngjae memukulnya dan berlari meninggalkan Daehyun.
Daniel meringis melihatnya. Untung saja tempat itu sedang tidak ada orang sekarang, kalau tidak, mungkin saja mereka akan menjadi korban gosip selanjutnya. Daniel biasa saja, sih. Toh dia juga sering mengecup dan memeluk Seongwoo.
"Malah enak-enakan, ya," ujar Daniel saat Daehyun menghampirinya.
"Kau sendiri juga sama saja, kan."
Daehyun merogoh saku jasnya dan mengeluarkan kertas yang sama seperti milik Daniel.
"Kim Myungsoo-sunbae yang punya nama panggilan L itu juga terbukti tidak bersalah," ujar Daehyun. "Seharusnya semua nama yang ada di daftar sudah tercoret sekarang."
Daniel memperhatikan daftar miliknya dan mencocokkannya dengan milik Daehyun. Meneliti satu per satu nama yang ada di sana kemudian mengangguk.
"Kau benar." Daniel menggaruk kepalanya. "Kenapa kita harus mencari ke seluruh sekolah? Kenapa bukan ke klub koran langsung?"
"Karena belum tentu pelakunya ada di sana. Selain itu juga tidak ada dari mereka yang berinisial L," jelas Daehyun.
Dia mengeluarkan dua buah koin dan memasukkannya ke dalam vending machine untuk membeli minuman. Tangannya meraih dua buah kaleng dari dalam sana dan melemparkan salah satunya pada Daniel. Sekaleng susu soda rasa stoberi.
"Apa ini? Sogokan agar memaafkanmu?" tanya Daniel.
"Kalau kau anggap begitu berarti maafmu terlalu murah," ujar Daehyun.
"Sialan."
"Memang dari dulu di matamu aku begitu, kan? Sialan dan brengsek."
Daehyun mendudukkan diri di salah satu kursi, kemudian menepuk sisi sebelahnya seakan menyuruh Daniel duduk di sana. Daniel menurut saja dan duduk di samping Daehyun, membuka kaleng susu soda lalu meneguknya pelan.
Kalau begini, Daniel jadi ingat saat masih kecil sebelum Seongwoo datang. Dia dan Daehyun duduk di taman belakang rumah sambil meneguk sekaleng susu soda. Sebuah senyuman tipis terlukis di wajah Daniel, bagaimana bisa dia mengingat hal itu di saat seperti ini?
"Teringat masa lalu, huh?" tanya Daehyun.
Alis Daniel terangkat,Daehyun seakan membaca pikirannya sekarang. Dia pikir Daehyun tidak akan pernah mengingat hal semacam itu karena dalam pandangannya selama ini Daehyun tidak pernah peduli padanya. Daniel cukup dibuat terkejut dengan kata-kata yang keluar dari mulut Daehyun tersebut.
"Kau pasti berpikir kalau aku tak pernah peduli padamu, kan?"
Daniel tertawa hambar, kemudian menganggukkan kepalanya pelan. "Kupikir, kau memang tak pernah peduli pada orang lain. Dulu kau seperti itu. Tapi ketika melihatmu dengan Youngjae, kupikir kau sudah banyak berubah."
"Begitukah? Malah kupikir aku terlalu peduli dengan orang lain... dengan cara yang salah," ujar Daehyun.
Keduanya terdiam lama, bersama kedua kaleng susu soda yang sudah habis isinya. Masa bodoh dengan bunyi lonceng sekolah yang mengalun kencang. Sesekali bolos kelas tak apa mungkin bagi Daehyun.
"Kau tahu aku tidak akan meminta maaf padamu, kan?" tanya Daehyun.
"Ya. Karena seharusnya kau meminta maaf pada Seongwoo. Kau banyak menyakitinya." Daniel berdiri untuk membuang kaleng tersebut ke tempat sampah. "Tapi dia sudah memaafkanmu, sejak lama."
Daehyun masih terdiam di tempatnya, menatap Daniel yang menghampiri dan menepuk pelan pundaknya. Pemuda itu tersenyum, memperlihatkan gigi kelincinya pada Daehyun.
"Selama ini aku berusaha untuk membencimu karena membuat Seongwoo menjadi seperti itu, tapi aku tidak bisa. Kau masih hyungku yang aku hormati seperti dulu," jelas Daniel. "Dan selama Seongwoo di kelasmu, tolong jangan ganggu dia. Aku lelah melihatnya menangis semalaman karena merasa ketakutan."
"Dua tahun lagi kami akan angkat kaki keluar dari rumah Kakek," ujar Daniel lagi.
"Kenapa...?"
"Untuk menyembuhkan Seongwoo dan mengembalikan kebahagiaanmu yang sempat kami ambil."
Tangan Daniel dengan santainya menggusak kepala Daehyun. Tertawa kecil lalu berjalan mendahului Daehyun. Pemuda berkacamata itu tak habis pikir. Sama sekali tidak mengerti bagaimana kerja otak manusia bergigi kelinci satu itu. Dulu Daniel berkata kalau dia membenci Daehyun, tapi sekarang dia malah berkata dia tidak bisa membenci. Daehyun pusing sendiri mendengarnya.
"Ayo! Kita harus laporan ke Pak Yongguk." Daniel berteriak kencang di koridor. Membuat Daehyun menepuk pelan dahinya. Ini sedang jam pelajaran, bagaimana kalau ada guru yang melihat mereka berkeliaran seperti ini?
"Dasar bodoh," bisik Daehyun. "Aku juga... bodoh..."
。。。。。。
Youngjae mengambil tempat makan yang diberikan Bibi kantin padanya. Tempat makan berisi sup yang akan dia berikan pada Himchan agar tubuh pemuda itu terasa sedikit lebih baik. Daehyun sudah menunggu di luar kantin setelah mengembalikan buku ke perpustakaan.
Kalau dipikir-pikir, sejak kapan mereka sering berdua seperti ini? Maksudnya, Daehyun selalu bersikeras untuk menunggu Youngjae atau mengantarnya kemana-mana meski dalam lingkungan sekolah sekalipun. Meninggalkan Youngjae juga kalau dia benar-benar memiliki urusan yang sangat penting. Dipanggil oleh guru, misalnya. Kalau Daehyun berkata dia tidak mengerti jalan pikir Daniel, dia sendiri juga tidak mengerti cara berpikirnya sendiri.
Daniel benar. Daehyun sudah banyak berubah sejak bertemu Youngjae. Menjadi lebih perhatian pada orang lain daripada dengan tumpukan buku yang selama ini menemaninya.
Keberadaan Youngjae benar-benar telah mengubah seluruh hidupnya.
"Mau ke tempat Himchan sekarang?" tanya Youngjae.
Daehyun menganggukkan kepala, meraih tangan Youngjae lalu menggenggamnya erat-erat. Yang digenggam tangannya sama sekali tidak menolak. Malah membalas genggaman tangan tersebut agar terasa lebih erat.
Keduanya berjalan dalam keheningan. Menikmati langit senja yang terlukis indah dengan warna jingga. Terkadang saling bertukar tatap dan senyum jika ada orang yang melihat mereka dengan tatapan aneh. Seakan tak peduli pada mereka-mereka yang nantinya akan berbisik nyinyir.
Tak terasa sampai mereka tiba di asrama. Menaiki tangga menuju kamar Himchan sambil bercanda.
"Kau tahu tadi yang bernama Euiwoong mencoba untuk bicara dengan—"
Bugh
Omongan Youngjae terhenti ketika ada yang tak sengaja menabrak bahunya. Pemuda tinggi itu menatapnya tajam dan melangkah pergi tanpa mengatakan maaf sama sekali.
Mata itu, sangat menyeramkan. Seakan-akan ingin memangsa semua yang ada di depannya.
"Youngjae?"
Daehyun meraih bahu Youngjae saat merasakan pemuda itu bergetar pelan. Sorot matanya terlihat ketakutan. Telapak tangan Daehyun mencoba meraih pipi Youngjae kemudian mengusapnya pelan agar pemuda itu sedikit tenang.
"Tarik nafas."
Seperti dipengaruhi mantra, Youngjae menuruti perkataan Daehyun. Menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Youngjae benci ini. Benci saat dia tidak sengaja bersentuhan dengan orang lain dan ketakutan seperti ini.
Untungnya, ada Daehyun yang bersamanya saat itu. Youngjae bisa merasakan sedikit ketenangan.
"Kenapa?" tanya Daehyun lembut. Tangannya mengusap pelan kepala Youngjae.
"Pemuda tadi... tatapannya sangat menyeramkan," bisik Youngjae. "Seperti seekor singa yang ingin melahap mangsanya hidup-hidup."
Daehyun mengerutkan dahinya, pikirannya sedang menyimpulkan banyak hal yang menumpuk di kepalanya. Perlahan di tariknya Youngjae ke dalam pelukan, menepuk-nepuk punggung Youngjae pelan-pelan.
"Tenang saja. Aku ada di sini bersamamu," ujar Daehyun.
"Dan terima kasih sudah membantuku memecahkan semua teka-teki ini," ujar Daehyun juga, dalam hatinya.
。。。。。。
To be continued
。。。。。。
Masalah Daehyun sama Daniel sudah dianggap selesai, yey. Iya, gitu doang. Nggak seru, kan? Karena aku nggak pengen aja bikin adegan beranteman. Males wkwk. Kalau semua bisa diselesaikan baik-baik ya kenapa tidak~
Dan, kalau begini berarti—FANFIC INI SUDAH MAU SELESAI! /keprok/
Sebelumnya aku mau sampaikan sesuatu, mungkin terlambat karena ini sudah panjang banget.
1. Kalau ada cast yang nggak kalian suka di fanfic ini, silahkan klik tombol back.
2. Cerita aku bikin sesuai dengan draft yang ada, jadi sudah ada porsi masing-masing per chapternya. Nggak terima request soalnya bisa melenceng dari awal. (ini udah melenceng jauh dari draft awal sih. HAHA).
3. Silahkan tanya kalau ada yang nggak tahu castnya.
4. MAU VOTING DONG BUAT FANFIC SELANJUTNYA.
Jadi setelah fanfic ini selesai, saya akan hiatus dua minggu sebelum melanjutkan menulis fanfic baru. Berhubung ada dua draft silahkan pilih salah satunya.
Yang pertama judulnya Going Crazy
Tentang Himchan yang selalu dihantui oleh stalker dan dia minta bantuan sama Yongguk buat nyari tahu siapa stalkernya itu.
Yang kedua judulnya Key of Heart
Tentang perjalanan panjang kisah cinta Daehyun dan Youngjae yang meskipun terpisah jauh namun hatinya akan terus bersatu. HAHA. Remake fanfic sebelumnya ini juga, jadi sudah selesai dari awal sampai endingnya~
Fanfic baru bakal dipublish di wattpad karena sebenarnya fanfic cast koreaan gini tuh dilarang di FFn. Ada di rules and guidelinenya kalau fanfic dengan Real Person gitu dilarang, makanya saya mau pindah lapak sepenuhnya. Gitu deh.
Kalau mau cari saya di wattpad bisa langsung cari aja chrnoir. Thank you.
Love you all~
