"Kalau kubilang aku mencintaimu, apakah kau akan menerimaku?"
Sepasang mata Youngjae menatap lurus ke arah Daehyun yang masih setia mengelus helaian rambutnya. Nafasnya tercekat ketika mendengar pertanyaan yang lebih seperti pernyataan yang keluar dari belah bibir tebal Daehyun. Pernyataan itu keluar tanpa ragu dan berhasil membuat lidah Youngjae kelu.
Apakah ini artinya Daehyun menyatakan cinta padanya?
Apakah Daehyun ingin menjalin sebuah hubungan dengannya?
Tapi Youngjae tidak mengerti. Apakah jika dia menjawab 'iya' maka dia akan menjadi kekasih Daehyun? Yang dinamakan sebagai kekasih itu akan menjadi seperti apa?
Apakah hubungan mereka akan menjadi seperti Pak Yongguk dan Himchan? Apakah itu artinya mereka akan menjalani hubungan sampai ke pernikahan? Apakah... Daehyun ingin hubungan di antara mereka menjadi seperti itu?
Tapi mereka, kan, masih muda...?
Eh, tapi Himchan juga masih muda seperti mereka.
Youngjae benar-benar bingung. Apa yang harus dia katakan pada Daehyun?
"Hei."
Suara Daehyun seakan menariknya kembali pada kenyataan. Kembali fokus untuk menatap manik kembar di balik kacamata Daehyun yang selalu membuatnya mabuk. Tatapan yang begitu lembut, serta sentuhan hangat yang tak pernah membuatnya merasa takut.
Sekarang, degup jantungnya benar-benar tidak bisa terkontrol. Bunyinya terdengar sangat kencang seperti ingin meloncat keluar dari dada. Youngjae mengontrol nafas, dia mencoba untuk itu.
"Kau masih belum bisa menjawab?" tanya Daehyun lagi. "Atau kau tidak mau menerimaku?"
"Bukan begitu..."
Youngjae meraih tangan Daehyun yang masih setia mengusapnya, kemudian menariknya menuju dada. Daehyun sedikit terkesiap ketika mendengar degup jantung Youngjae. Rasanya sama, seirama dengan degup jantungnya.
"Kau pasti merasakannya juga..." bisik Youngjae. "Degup jantungku..."
Pemuda berkacamata itu menyungging senyum tipis lalu menarik tangannya dari genggaman Youngjae. Hal itu seketika membuat hati Youngjae mencelos, ada rasa sakit yang menusuk ketika Daehyun melakukannya. Tapi sedetik kemudian rasanya kembali menghangat. Ini tidak pernah Youngjae duga.
Daehyun perlahan merengkuh erat tubuhnya, kemudian mendaratkan sebuah kecupan di dahi Youngjae. Semuanya terasa begitu lembut, juga hangat. Daehyun selalu tahu cara untuk membuat Youngjae merasakan nyaman.
"Kau tidak perlu menjawabku," bisik Daehyun. "Cukup berada di sini bersamaku. Aku mencintaimu."
Mendengar perkataan Daehyun membuat Younjae refleks menganggukkan kepalanya. Keinginan Daehyun sama dengan keinginannya. Youngjae pun ingin Daehyun untuk terus bersama dengannya. Mereka merasakan perasaan yang sama.
Hanya saja Youngjae masih belum menyiapkan hatinya. Dia sama sekali belum siap untuk memiliki hubungan yang lebih, dan untungnya Daehyun mengerti.
Daehyun selalu mengerti.
"Aku akan selalu menjagamu, Youngjae..."
。。。。。
Yang keesokan harinya Youngjae dapati di sekolahnya adalah damai. Tak ada foto-foto Himchan lagi yang ditempeli di seluruh sekolah, bahkan murid-murid juga tak lagi membicarakan kejadian kemarin. Semuanya rumor itu menghilang, menguap bersama aroma embun pagi yang menenangkan.
Youngjae melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas. Hari ini dia sedikit terlambat karena harus menyalin tugas sastra klasik. Dia lupa mengerjakan kemarin malam karena tertidur dalam pelukan Daehyun. Untung Daehyun selalu mengerjakan tugasnya dari jauh-jauh hari, jadi dia bisa meminjamkannya pada Youngjae. Daehyun sendiri sudah berangkat lebih dulu karena ada tugas piket pagi. Dia harus membersihkan papan tulis dan membantu guru untuk menyiapkan materi.
Tak lama setelah Youngjae mendaratkan bokong di kursi, seseorang mendekatinya. Ternyata itu adalah Seongwoo yang membawa sesuatu berukuran kecil berbungkus kertas kado bermotif bunga sakura.
"Youngjae, ini untukmu... dan Daehyun juga..."
Seongwoo berujar pelan sekali, dan menyunggingkan sebuah senyum tipis nan manis pada Youngjae. Youngjae yang melihat itu langsung menerima pemberian Seongwoo. Sedikit berhati-hati agar tidak bersentuhan.
"Terima kasih, Seongwoo!"
"Sama-sama..." Seongwoo mengusap tengkuknya gugup. "Mungkin kau sudah tahu tentang masalahku dan Daehyun. Kuharap kau tidak marah padanya karena hal itu."
"Tidak. Aku tidak pernah marah akan hal itu. Justru sebaliknya, jika aku meninggalkan Daehyun maka dia akan semakin terpuruk," kata Youngjae.
"Kau benar-benar orang baik, Youngjae..."
Seongwoo sempat melihat sebuah senyuman tipis yang terlukis di wajah Youngjae. Hanya sekilas sebelum dia kembali memalingkan pandangannya.
"Tolong jaga Daehyun, ya. Sebagai seorang Kakak aku merasa menyesal karena tidak bisa melakukannya," ujar Seongwoo. "Sekali lagi terima kasih..."
Belum sempat Youngjae menjawab perkataan Seongwoo, pemuda bermata cantik itu sudah berbalik dan berjalan keluar dari kelas. Baru Youngjae sadari kalau pemuda itu tidak mengenakan seragam sekolah. Tasnya juga tidak ada di meja. Hal itu membuat Youngjae bingung, tapi kebingungannya itu teralihkan ketika seorang murid masuk ke dalam kelas dengan wajah ceria.
"Bu Jieun hari ini tidak masuk kelas. Jadi pelajaran pertama kita kosong!"
Hm... sebenarnya apa yang terjadi hari ini?
"Tahu begitu aku tidak akan terburu-buru," gumam Youngjae.
Tasnya diletakkan di dalam laci meja bersama dua kado dari Seongwoo. Dia yang tadinya ingin duduk, kini memutuskan untuk berjalan-jalan keluar kelas dibanding mati bosan. Daehyun belum kembali dari ruang guru, jadi dia tidak ada teman mengobrol.
"Apa ke kelas Jaebum saja, ya?"
Setelah mondar-mandir di depan kelas, akhirnya Youngjae memutuskan untuk pergi ke kelas Jaebum. Sepengetahuannya, kelas Jaebum hari ini sedang jadwal pelajaran olahraga, jadi kalau tidak sedang berganti pakaian di dalam kelas, pemuda itu sekarang berada di lapangan.
Jarak kelas Jaebum dan Youngjae lumayan jauh. Kelas Jaebum berada di dekat perbatasan antara gedung lama dan gedung baru, jadi cukup memakan waktu untuk jalan ke sana. Youngjae mengintip dari balik pintu sesampainya di sana. Anak-anak di sana terlihat santai-santai saja. Tidak ada yang berganti pakaian ataupun belajar. Dan Jaebum tidak ada di sana.
"Cari siapa?"
Youngjae terlonjak ketika mendengar suara di belakangnya. Dia berbalik dan mendapati seorang pemuda berkacamata bulat seperti Daehyun berdiri di belakangnya. Mata pemuda itu menatap Youngjae dari atas ke bawah kemudian membenarkan posisi kacamatanya.
"Cari Jaebum, ya?"
Pemuda itu tahu. Kemungkinan dia mengenal Jaebum hingga dia tahu kalau Youngjae adalah teman Jaebum. Youngjae hanya mengangguk patah-patah dan itu membuat si pemuda mendengus pelan.
"Dia sedang ke kantin bersama Himchan. Kelas olahraga hari ini ditiadakan," katanya.
"Ah, terima kasih kalau begitu."
Youngjae membungkukkan badannya kemudian berjalan meninggalkan pemuda yang masih berdiri di depan kelas dan memperhatikannya. Tadi Youngjae sempat melihat nametag di baju kakak kelasnya itu.
Namanya sama dengan nama Youngjae, tapi marganya berbeda.
Akhirnya setelah berjalan agak jauh dari kelas Jaebum, Youngjae memutuskan untuk pergi ke arah lain dibanding ke kantin. Dia melangkahkan kaki ke arah gudang gedung olahraga yang berada di bagian belakang sekolah. Di depan gudang itu ada sebuah kolam ikan dan banyak pohon rindang. Tempat yang sangat cocok untuk menenangkan diri.
"Setidaknya di sini tidak terlalu ramai orang," gumamnya.
Lagi-lagi, baru saja Youngjae ingin mendaratkan bokongnya di atas rumput, suara dari dalam gudang membuat Youngjae mengurungkan niatnya. Suara yang terdengar seperti suara teriakan wanita itu membuatnya bergidik. Memangnya ada perempuan di sekolahnya? Paling juga guru-guru.
"Semua gara-gara kau!"
BRAK
Sial. Sepertinya terjadi kekerasan di dalam sana. Youngjae harus memanggil seseorang. Tapi siapa yang harus dia panggil? Sekarang pelajaran sedang berlangsung, mana mungkin dia memanggil seseorang. Lagipula dia tidak mengenal siapapun kecuali Daehyun, Daniel, Jaebum, Himchan dan Seongwoo. Dan sekarang mereka tidak ada di sini.
"Ah, sial!"
Akhirnya Youngjae memberanikan diri untuk mendekati dan membuka pintu gudang tersebut.
Sungguh dia terkejut ketika melihat pemandangan di depannya sekarang. Di sana ada Himchan yang terduduk di atas lantai dengan lebam yang menghiasi wajahnya. Dia juga bisa melihat darah yang mengalir dari sela-sela celana sekolah Himchan.
Di sisi lain, ada seorang wanita yang berdiri dengan seorang murid di sampingnya. Murid itu menggenggam sebatang kayu yang sepertinya siap dilayangkan kapan saja.
"Hyung!"
"...Youngjae... hh..."
Himchan hendak merangkak mendekati Youngjae, tapi dia terjatuh karena kayu itu dilayangkan tepat ke arah punggung Himchan, membuat Himchan terjatuh hingga dia tak sadarkan diri. Youngjae menggeram, gelap mata ketika melihat Himchan jatuh tak berdaya.
"Kenapa kau melakukan ini... Bu Jieun?!"
Wanita itu, Jieun, mendengus geli mendengar kemarahan Youngjae. Dia berjalan mendekat, berdiri mantap di hadapan Youngjae.
"Anak kecil sepertimu tahu apa soal masalahku?" Jieun meraih dagu Youngjae kemudian mencengkramnya erat. "Aku punya banyak alasan kenapa aku melakukan ini, kau tahu!"
Youngjae merasakan sekujur tubuhnya mendadak beku ketika merasakan sentuhan tangan Jieun di kulitnya. Terasa begitu dingin dan menyakitnya, juga menjijikkan. Cengkramannya juga terasa sangat kuat hingga kuku-kuku tajamnya menujuk ke dalam kulit Youngjae.
Pemuda itu berusaha menepis tangan Jieun dari wajahnya, tapi kalah terlambat. Rasa jijik itu kini semakin menjalar ke tubuhnya hingga kedua tangannya tak mampu mengeluarkan tenaga. Kakinya juga semakin melemah.
Sial. Seharusnya Youngjae tadi memanggil bantuan daripada dia begini. Tapi mungkin Himchan akan berakhir lebih parah kalau dia terlambat menyelamatkan kemuda itu.
"Kau yang tidak tahu permasalahan ini jangan coba untuk ikut campur!"
Youngjae merasakan nyeri menyerang ulu hatinya. Kemudian rasa sakit ketika bahunya berbenturan dengan lantai.
"Kudengar kau punya phobia? Haphephobia. Benar, kan?"
Jieun berjongok di atas perut Youngjae, kemudian menjambak rambut pemuda itu kuat-kuat. Youngjae sempat meringis karenanya.
"Lepash..."
"Hm? Kau masih berani memohon padaku setelah berlagak sok pahlawan?"
Kini Jieun berdiri, berjalan mendekati murid yang masih setia menggenggam balok kayu di tangannya. Wanita itu memeluknya dari belakang kemudian berbisik.
"Kau ingat, kan? Aku akan membantumu menyelamatkan klub kalau kau mau menghabisi mereka berdua." Youngjae bisa melihat murid itu mengangguk mantap ketika mendengar perkataan Jieun. "Lakukan sekarang, Key."
Key, murid yang sudah gelap mata itu kini mengangkat tinggi-tinggi balok kayu di tangannya dan bersiap menghantam Youngjae. Tapi belum juga satu pukulan mendarat, gerakannya terhenti ketika seseorang menarik tangannya dan langsung mendaratkan bogem mentahnya ke wajah Key.
Youngjae, dengan sisa-sisa kesadarannya menyebut nama pemuda itu sebelum dia jatuh pingsan.
"Jae... bum..."
。。。。。
Langkah kaki Daehyun terhenti di depan ruang bernomor 102. Dia tak mampu menyembunyikan rasa khawatirnya ketika mendengar kabar dari Kakeknya tentang Youngjae dan langsung berlari meninggalkan kelas tanpa peduli guru sedang menjelaskan pelajaran.
Dia terlalu khawatir pada Youngjaenya.
"Mau apa kau ke sini?"
Mata Daehyun menangkap sosok Jaebum yang berdiri di depan kamar Youngjae, menghalanginya untuk masuk ke dalam sana.
"Aku mau bertemu dengan Youngjae."
"Tapi aku tidak mengizinkanmu!" bentak Jaebum. "Kau tidak boleh menemuinya."
"Aku ingin menemui Youngjae! Jangan halangi aku!"
"Tidak akan kubiarkan!"
Jaebum mendorong tubuh Daehyun ke dinding, mencengkram kuat kerah baju dan mengangkat tubuh Daehyun sehingga pemuda itu hampir tidak bisa berpijak dengan lantai.
"Apa maumu?" tanya Jaebum. "Setelah gagal menjaga Youngjae, sekarang kau ingin menemuinya?!"
"Kau siapa? Kenapa kau harus menghalangiku untuk bertemu dengan Youngjae?" tanya Daehyun. Dia tidak peduli jika nantinya dia akan ditonjok oleh pemuda itu. Tangannya mencengkram pergelangan Jaebum hingga kukunya hampir menancap ke dalam kulit pemuda itu.
Cengkraman tangan Jaebum melemah, namun Daehyun tetap tidak bisa lepas dari sana. Kedua pasang mata itu beradu dalam api. Sama-sama keras kepala ingin melindungi.
"AAAAAAAAA!"
Perdebatan mereka terhenti ketika mendengar teriakan Youngjae dari dalam kamar. Jaebum yang masih memegang kekuasaan langsung membanting tubuh Daehyun hingga pemuda berkacamata itu terjatuh.
"Jangan berani mendekati Youngjae lagi." Jaebum menendang kuat perut Daehyun hingga pemuda itu meringis kesakitan. Jaebum sama sekali tidak peduli dengan siapa dia berhadapan sekarang. Bahkan tadi dia melayangkan bogemnya juga ke wajah Jieun.
"Mulai sekarang. Aku yang akan menjaga Youngjae."
Dan dia melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam kamar Youngjae, meninggalkan Daehyun yang mengumpat dala hatinya. Terus merutuki kesalahannya.
"Seharusnya aku tidak membiarkan Youngjae sendirian..."
。。。。。
To be continued
。。。。。
