Kesal. Kesal. Kesal.
Daehyun merasa kesal dengan dengan dirinya yang selalu saja cepat menyerah dan merasa sakit hati. Kesal karena tidak mampu meyakinkan Jaebum kalau dialah yang mampu menjaga Youngjae. Meringis karena punggungnya yang menabrak tembok akibat dorongan Jaebum tadi. Mungkin punggungnya ada sedikit memar sekarang.
Melangkahkan kaki menuju kelas yang sudah tak berpenghuni. Jelas, karena Daehyun baru saja kembali dari rumah sakit dengan berjalan kaki. Dia tidak mampu berpikir dan berhenti untuk sekedar memanggil taksi. Otak dan hatinya dipenuhi dengan bayangan Youngjae yang tadi berteriak kencang hingga terdengar keluar.
Youngjae kenapa? Apa yang terjadi dengannya?
Ah, Daehyun bingung dengan apa yang harus dia perbuat sekarang. Dia tidak mungkin menemui Youngjae saat ada Jaebum bersamanya. Manusia tengik (menurut Daehyun) satu itu tidak mungkin akan membiarkan dia bertemu dengan Youngjae.
Berjalan ke mejanya untuk mengambil tas dan buku yang dia tinggalkan, melirik ke arah bangku Youngjae yang tasnya juga masih ada di sana. Sepertinya dia harus membawanya kembali ke asrama juga. Daehyun menghampiri meja Youngjae, membuka tasnya kemudian merogoh laci untuk mencari apakah ada buku yang tertinggal di dalam sana.
Tuk
Ada sesuatu yang jatuh.
Daehyun menangkap dua kotak yang berbungkus kertas kado bergambar anjing laut dan beruang kutub. Bungkusnya manis dan... ada sepucuk surat yang ditempelkan di belakang kotak kado tersebut.
Dia mengambil keduanya, kemudian meraih surat yang berada di belakang kado bergambar beruang kutub. Surat dari Seongwoo.
Hello, Daehyun. Ini Seongwoo! Kau pasti tahu aku, kan? Tahu, dong. Hehe.
Maafkan aku karena hal terakhir yang bisa kulakukan untukmu sebelum aku pergi hanyalah memberi hadiah kecil dan menuliskan surat ini untukmu dan Youngjae. Semoga berkenan, ya! Jangan dibuang, lho. Buatan tanganku sendiri, nih!
Sebelumnya untukmu, Daehyun. Aku ingin mengucapkan banyak kata maaf yang selama ini tidak pernah bisa aku sampaikan. Aku sudah menjadi pengecut yang terlalu takut untuk bertemu dengamu, bahkan bertatap mata denganmu. Maaf, jangan tersinggung. Tatapan matamu benar-benar menakutkan bagiku. Huhu L
Tapi tidak apa-apa! Setelah aku pulang nanti aku pastikan kalau aku bisa menatap matamu dengan berani. Ah, bukan hanya matamu, tapi aku akan menatap dunia yang selama ini aku abaikan. Aku akan melihat betapa indahnya pemandangan di depanku tanpa harus takut lagi.
Dan... maafkan aku karena telah merebut kebahagiaanmu. Aku sama sekali tidak pernah bermaksud begitu... Kau tahu, kan? Aku juga ingin bahagia, tapi aku sama sekali tidak bermaksud untuk merebut Ayah darimu. Bahkan sebenarnya aku sering menyuruh Ayah untuk pulang dan menemuimu, menyuruh Ayah untuk mengabaikan keberadaanku. Ayah juga sebenarnya masih sering mengunjungimu. Datang ke kamarmu dan mengelus rambutmu dengan penuh kasih sayang. Kau tahu, Ayah sangat menyayangimu! Aku merasa iri.
Terakhir, aku ingin minta maaf karena harus pergi sekarang. Aku meminta pada Ayah dan Kakek untuk pergi bersama Daniel dan menjalani terapi di London. Ini kulakukan agar Pak Yongguk tidak merasa terbebani dengan keberadaanku dan kau bisa menghabiskan waktu bersama Ayah.
Terima kasih, Daehyun sudah mau menjadi saudaraku. Maafkan aku karena tidak bisa menjadi sosok Kakak yang baik untukmu.
Sampaikan salamku pada Youngjae, ya! Kau harus benar-benar menjaganya, lho! Dia sangat menyayangimu.
Aku dan Daniel pergi dulu.
Salam hangat, Ong Seongwoo.
Entah kenapa membaca kata demi kata yang Seongwoo tuliskan membuat perasaannya semakin memberat. Selama ini dia selalu berburuk sangka dengan apa yang Seongwoo lakukan padanya. Malah, dialah yang membuat keadaan Seongwoo menjadi buruk hingga mengalami trauma dan mempunyai phobia. Dia tidak menyangka kalau dirinya sendirilah yang sangat buruk selama ini.
Daehyun benar-benar ingin mengutuk kebodohannya.
Tanpa Daehyun sadari, setetes air mata yang dari tadi tertahan perlahan mengalir membasahi wajahnya.
Setelah sekian lama, pertahanan Daehyun kini meruntuh. Hatinya telah luluh.
。。。。。。
Minggu siang yang dingin adalah hal yang paling Daehyun tidak suka. Terlebih sudah lebih dari seminggu Daehyun tidak bertemu dengan Youngjae. Jaebum juga menghilang dari asrama meski dia masih datang ke sekolah. Dia juga sempat melihat Himchan mondar-mandir di sekitaran sekolah dan bertanya padanya apakah dia mengetahui keadaan Youngjae. Namun sayangnya, Himchan tidak tahu.
Ngomong-ngomong ada berita bahagia. Himchan kini sedang membawa keberadaan lain di perutnya. Ya, Himchan sedang hamil sekarang meski kandungannya lemah dan harus sering kontrol ke dokter. Ini semua karena ulah Jieun yang kemarin menendang perutnya hingga hampir saja mengalami keguguran. Heol, dia sama sekali tidak tahu kalau dia sedang mengandung saat itu. Tapi untungnya Tuhan masih menyayanginya dan cherry—nama panggilan untuk anak yang ada di dalam perutnya.
Jieun dikeluarkan dari sekolah dan sedang menjalani pemeriksaan di kantor polisi. Key—siswa yang klub paduan suaranya terancam bubar harus menerima skrosing dan menjadi saksi di pengadilan bersama Taekwoon dan Hakyeon nanti.
Hari ini Daehyun dikejutkan oleh sesuatu yang tidak pernah dia sangka. Orang tua Youngjae datang ke asrama dan sedang mengobrol dengan penjaga asramanya. Daehyun tidak tahu apa yang mereka bicarakan sampai akhirnya penjaga asrama memberikan kunci duplikat kamarnya dan Youngjae. Kemudian berjalan ke arahnya.
"Daehyun, kan?" Ayah Youngjae memberikan sebuah senyum hangat pada Daehyun. "Terima kasih sudah menjaga Youngjae."
Nafas Daehyun tercekat seketika mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Ayah Youngjae. Pria itu masih mengembang senyum meski ada gurat lelah dan khawatir yang tersirat di wajahnya. Ibu Youngjae juga sama, masih berusaha tersenyum meski terlihat berkali-kali menghela nafas berat.
Wanita cantik itu mendekati Daehyun kemudian menangkup wajah si pemuda kacamata. Mengusap pelan pipinya lalu mengacak rambut Daehyun penuh kasih sayang sebelum melewati Daehyun untuk berjalan ke kamar yang dia tempati bersama Youngjae.
Daehyun diliputi perasaan tidak mengenakkan. Dia langsung berbalik dan memanggil Ayah Youngjae.
"Paman..."
Ayah Youngjae berbalik badan. Daehyun benci ini. Benci pada senyum lembut penuh arti yang terlukis di wajah pria paruh baya itu. Dia takut kalau ada sesuatu yang Ayah Youngjae sembunyikan darinya.
"Youngjae—"
"Daehyun," sambar pria itu cepat. "Kami harus membawa Youngjae keluar dari sini."
"Kenapa...?"
"Karena ternyata berada di sini membuat anak kami malah semakin memburuk. Kau tahu, kan, kalau kami selalu ingin yang terbaik untuknya. Kami pun lelah melihat Youngjae yang terus seperti itu," jelas Ayah Youngjae. "Kami tidak ingin keadaan Youngjae parah."
Kalimat itu seakan membuat Daehyun tertusuk seribu jarum. Membuatnya membeku di tempat tanpa bisa sekalipun mengeluarkan kata-kata. Lidahnya kelu.
Keadaan Youngjae memburuk? Apa yang sebenarnya terjadi? Dia sama sekali tidak tahu menahu apa yang terjadi pada... orang yang di sayangi itu. Dan itu adalah kesalahannya. Kesalahan Daehyun karena tidak bisa menjaga Youngjaenya, itu yang Daehyun pikirkan.
Daehyun melemah. Perlahan dia berlutut, kemudian bersujud di hadapan orang tua Youngjae. Air matanya mengalir, lagi. Daehyun jadi cengeng karena seorang Youngjae sekarang.
"Kumohon... Paman... Ibu... Aku ingin bertemu dengan Youngjae..."
"Tidak—"
"Aku merindukannya..." Daehyun bersujud makin dalam, memohon dan meminta. "Aku menyayangi Youngjae... sangat menyayanginya..."
Kemudian dia merasa hangat menyentuh kulit. Daehyun mendongak dan mendapati Ibu Youngjae yang berlutut di hadapannya, mengangkat kedua bahunya agar Daehyun berhent bersujud. Wanita cantik itu menangis, namun masih sempat menghapus jejak air mata di wajah Daehyun.
"Kau menyayangi Youngjae?"
Dengan cepat Daehyun mengangguk. Tak ada lagi waktu dan gengsi untuk menyatakan apa isi hatinya sekarang. Dia hanya ingin bertemu dengan Youngjae. Pemuda yang membuat tidurnya tidak tenang.
"Pergilah... temui Youngjae..."
Dan saat itu juga, Daehyun memberikan sebuah pelukan hangat kepada wanita itu, berkali-kali berucap terima kasih dan berlari kencang keluar dari asrama. Seperti kemarin-kemarin, dia tidak punya waktu untuk berpikir dan menghentikan taksi sampai-sampai dia berlari kencang menuju rumah sakit.
Lelahpun tidak apa.
Asalkan nanti dia bisa bertemu dengan Youngjaenya.
。。。。。。
Di sisi lain, di rumah sakit. Terlihat Youngjae yang sedang terbaring gelisah di atas tempat tidurnya. Wajahnya masih terlihat pucat seperti dihantui oleh sesuatu. Nafasnya tersengal, seperti sedang mengalami mimpi buruk.
"Daehyun!"
Mata Youngjae terbuka lebar. Tangannya menggapi udara hampa. Dingin sekali. Kemudian dia merasakan air mata perlahan membasahi, dan isakan menggema di ruangan. Youngjae menutupi wajahnya, mencoba menghapus air mata.
Dia merindukan Daehyun, sangat merindukan pemuda itu. Tapi mereka sama sekali tidak bertatap muka sejak hari itu. Jaebum bilang, Daehyun tidak pernah datang untuk mengunjunginya. Hati Youngjae terasa sakit. Youngjae berpikir kalau mungkin Daehyun sudah bosan dengannya. Mungkin selama ini dia telah merepotkan Daehyun hingga pemuda itu pergi dan tidak lagi ingin bertemu dengannya.
Berbagai spekulasi datang mengantui. Pikirannya menjadi kalut dan kacau, ditambah dengan kondisi mentalnya yang terus memburuk. Dia kembali seperti dulu. Kembali ketakutan untuk disentuh. Bahkan dia akan menjerit ketika Ibu atau Ayah mencoba untuk menyentuhnya.
Youngjae takut. Dia ingin Daehyun. Youngjae ingin Daehyun ada di sini untuk membantu mengatasi ketakutannya.
Tapi Daehyun tidak datang. Pemuda itu tidak pernah datang meski Youngjae menunggunya.
BRAAK
"Youngjae!"
Tangisan Youngjae seketika terhenti ketika mendengar suara seseorang memanggil namanya. Suara familiar yang sangat dia rindukan. Dia pikir, orang itu sama sekali tidak akan pernah datang untuk menemuinya. Namun dugaannya salah besar. Malah pemuda itu sekarang berdiri di hadapannya, dengan keringat yang bercucuran dan nafas yang tersengal.
Daehyun datang. Daehyunnya kini telah datang.
"Kau datang..."
Senyum manis terkembang di bibir Daehyun, dia berjalan mendekat ke ranjang Youngjae agar bisa lebih leluasa menatap wajah yang membuatnya uring-uringan selama lebih dari seminggu.
"Hai... Maaf aku baru datang."
Youngjae duduk, lalu menghapus air mata yang masih mengalir. Perasaannya kini menjadi senang. Sangat senang karena Daehyun yang dia inginkan sekarang berada di hadapannya. Kini dia tersenyum, senyum yang manis sekali.
"Boleh aku memelukmu...?" tanya Daehyun hati-hati.
Lama Youngjae terdiam hingga akhirnya sebuah anggukan pelan dia berikan pada Daehyun. Daehyun yang selalu tahu bagaimana kondisi Youngjae perlahan merentangkan tangan kemudian memeluk Youngjae dengan lembut. Memberikan sentuhan yang membuat Youngjae merasakan nyaman. Dia tahu, Youngjae merasa ketakutan, makanya dia mengusap perlahan punggung Youngjae dimana titik itu akan meningkatkan ketenangan.
Perlahan Youngjae juga membalas pelukan Daehyun. Menyentuh punggung Daehyun dengan jemarinya dan meremas kaos baby pink yang dia kenakan. Akhirnya Youngjae merasakannya lagi. Sentuhan yang membuatnya merasa nyaman dan dihargai. Kehangatan yang selalu membuatnya merasa dilindungi dan harum yang entah kenapa dia rindukan.
Daehyun ada di sini, bersama dengannya. Dan dia akan merasa dunianya sekarang menjadi baik-baik saja. Asalkan dia bersama dengan Daehyun.
Daehyunnya.
。。。。。。
To be continued
。。。。。。
Chapter depan chapter terakhir ya~
Cek fanfiksi Daejae terbaru yang ada di wattpad juga
