Jika berpikir setelah aksi Daehyun yang berlari untuk mengejar dan bertemu dengan Youngjaenya akan berakhir baik-baik saja, maka jawabannya adalah tidak. Jika berpikir bahwa Daehyun akan baik-baik saja setelah itu, maka jawabannya juga tidak. Tidak ada yang menyangka kalau setelahnya Daehyun tidak pernah kembali ke pelukan Youngjae. Dia sama sekali tidak menjenguk dan menjemput Youngjae di rumah sakit, bahkan setelah menyanggupkan diri untuk masuk sekolah seperti biasa Youngjae sama sekali tidak menemukan Daehyun. Dimanapun.
Keberadaan pemuda dingin berkacamata itu seakan menghilang di telan bumi.
Dia sempat bertanya kepada Himchan dan Minhyun namun keduanya tetap tidak tahu dimana Daehyun berada sekarang. Daniel dan Seongwoo juga tidak pernah muncul lagi di sekolah membuat Youngjae dipenuhi pertanyaan sekarang.
"Apa yang sebenarnya terjadi..."
"Memikirkan apa?"
Youngjae yang sedang duduk diam di perpustakaan dikejutkan oleh kehadiran Jaebum yang muncul tiba-tiba dan menepuk pundaknya. Dia hanya bisa mengusap dada untuk menetralkan kerja jantungnya yang tiba-tiba menjadi lebih cepat. Jaebum ini selalu suka muncul tiba-tiba dan mengejutkannya.
"Sedang apa di sini?" tanya Jaebum sambil melirik ke arah tumpukan buku biologi di atas meja. "Oh, kau mengerjakan tugas? Tumben."
"Berisik. Aku terpaksa mengerjakannya karena tidak bisa meminjam pada Daehyun," katanya.
Menggigit bagian dalam pipinya, Jaebum terlihat kesal saat bibir Youngjae menyebutkan nama orang yang dia anggap (secara sepihak) sebagai musuh bebuyutannya itu. Air mukanya langsung berubah kesal dan dia langsung membantingkan bokong ke atas kursi di samping Youngjae.
"Kau masih memikirkannya? Orang itu..."
"Dia menghilang tiba-tiba. Tanpa kabar dan tidak ada satupun orang yang mengetahuinya." Youngjae tersenyum tipis sambil memainkan pulpen di atas meja. "Bagaimana bisa aku tidak memikirkannya?"
"Kau memikirkan orang yang sudah meninggalkanmu tanpa kabar, Youngjae." Jaebum terlihat meremat kuat buku yang ada di genggaman tangannya. Tak bisa menyembunyikan kekesalan dan kebenciannya.
"Daehyun tidak meninggalkanku, Jaebum. Dia tidak akan pernah," sanggah Youngjae cepat.
"Tapi—"
"Apa yang membuatmu berkata begitu?" Youngjae menahan nafas, menatap mata Jaebum yang tertutupi kacamata berbingkai hitam yang menghiasi wajahnya. Lurus tepat di kedua matanya. "Apa yang membuatmu begitu membenci Daehyun?"
Jaebum terdiam. Pertanyaan yang dilontarkan Youngjae seakan tepat menusuk jantungnya. Dia membenci Daehyun? Jika ditanyakan seperti itu maka dia akan dengan cepat menjawab kalau dia benar-benar membenci Daehyun, tetapi jika ditanya kenapa dan apa yang membuatnya membenci Daehyun maka dia belum bisa menemukan jawabannya. Dia... tidak bisa menjawabnya.
Dia menyukai Youngjae dan Daehyun berada di posisi yang sangat dengan Youngjae. Bahkan pemuda itu punya tempat spesial di dalam hati Youngjae dan mendapat lebih banyak perhatian dari Youngjae. Tapi itu tidak bisa dijadikan alasan baginya untuk membenci Daehyun. Daehyun tidak melakukan apapun yang membuatnya harus membenci, sebaliknya dialah yang selama ini menekan dan membuat kesal Daehyun.
"Kau tidak bisa menjawabnya, kan?" Tangan Youngjae dengan cepat membereskan buku-buku yang berada di atas meja. Moodnya untuk mengerjakan tugas sudah menghilang entah kemana. "Kau sahabatku, Jaebum, dan Daehyun adalah orang yang berharga untukku. Tolong jangan buat aku merasa risih dengan perlakuanmu yang seperti ini, terlebih pada Daehyun. Kumohon."
Youngjae beranjak dari tempat duduknya, berniat untuk meninggalkan Jaebum dan segala kata yang tertahan di ujung lidah. Dia berjalan meninggalkan pemuda yang lebih tinggi darinya keluar dari perpustakaan. Sudah cukup lelah dengan pikirannya yang terus menanyakan keberadaan Daehyun, Youngjae tidak ingin menambah beban pikiran dan masalah dengan Jaebum.
"Youngjae!"
Suara teriakan Jaebum tak mampu menghentikan langkah kaki Youngjae yang sudah menjauh dari perpustakaan. Meskipun ingin berlari, tetap saja Jaebum tidak bisa melakukannya, seakan tubuhnyapun berkata kalau dia tidak seharusnya mengejar pemuda itu. Mengejar Youngjae yang sudah memberikan pagar pembatas tinggi agar dia tidak bisa masuk dan mengusik isi hati Youngjae yang hanya berisi Daehyun di dalamnya.
Jaebum tidak akan bisa membuat Youngjae jatuh hati padanya.
Dan dia menyalahkan Daehyun untuk segala sesuatu yang terjadi padanya.
Jaebum merasa dirinya sungguh bodoh. Sangat bodoh.
"Aku mencintaimu..."
Kata itu hanya bisa Jaebum bisikkan dengan pelan. Kepada dirinya sendiri.
。。。。。。
"Satu menit lagi, ya!"
Satu anggukan dari Youngjae menjadi sebuah jawaban. Dia berdiri di samping panggung dengan hairstylist yang merapikan tatanan rambut cokelat terangnya. Sekali lagi dia memperhatikan sosoknya di cermin kecil yang disodorkan oleh hairstylist noona, mengecek kesempurnaan penampilannya. Youngjae merasa cukup puas.
Terhitung sudah empat tahun sejak dia kehilangan kontak dengan Daehyun. Dalam empat tahun itu pula Youngjae menjalani terapi penyembuhan dari phobianya. Dengan semangat dari hati, juga berbekal sebuah cacatan yang Daehyun tinggalkan di atas meja belajarnya, Youngjae menetapkan keinginannya agar dapat segera sembuh dari semua hal yang membuatnya merasa takut.
Ingat catatan perkembangan Youngjae milik Daehyun? Setiap hari pemuda berkacamata bulat itu menulis semuanya dengan detail. Dan di catatan terakhir, Youngjae menemukan sebuah tulisan kecil yang membuat hatinya menghangat. Sebuah ucapan yang kaku namun terasa sangat manis.
Cepat sembuh. Kau pasti bisa melalui semuanya. Aku akan selalu mendukungmu meski aku tidak berada di sampingmu.
Aku menyayangimu, Youngjae. Sangat.
Hanya berbekalkan itu, Youngjae berhasil melalui semuanya, karena dia tahu kalau Daehyun akan selalu mengawasinya. Meski tak pernah lagi berkontak, Youngjae yakin mereka pasti akan terus berhubung. Hati mereka masih terhubung, hingga sekarang.
"Woah, kenapa aku segugup ini, ya?"
Pertanyaan Youngjae ditanggapi dengan tawa oleh noona. Wanita yang sedang sibuk membereskan peralatannya menjawab pertanyaan Youngjae sebelum dia kembali ke ruang tunggu.
"Mungkin hari ini akan ada sesuatu yang spesial? Semangat, ya, performnya~"
Jawaban dari wanita itu dianggap angin lalu oleh Youngjae. Panggilan terakhir dari kru televisi, Youngjae berjalan menuju panggung yang bersinar di depan mata.
Semua orang sudah menantikan penampilannya.
Solois Yoo Youngjae.
Youngjae menyanyikan title track di album terbarunya yang berjudul With You. Dengan suara merdu hasil berlatih selama bertahun-tahun lamanya, Youngjae mampu menggetarkan hati penggemar dan membuat mereka ikut bernyanyi.
Dalam setiap lirik yang dia buat, disana tertumpah rasa rindu yang mendalam untuk Daehyun.. Hati kecilnya selalu berteriak kalau dia ingin bertemu dengan pemuda itu. Pemuda yang telah pergi setelah kurang ajar mencuri hatinya. Youngjae ingin bertemu dengan Daehyun dan memeluknya seerat mungkin. Memamerkan pada pemuda itu bahwa sendiripun dia telah berhasil keluar dari ketakutannya.
Youngjae larut dalam nyanyian hingga kedua matanya tertutup rapat di sepanjang penampilan. Satu lirik terakhir sebelum lagu berakhir, Youngjae perlahan membuka mata. Dengan setitik air mata yang mengalir, dia menatap lurus ke depan, berniat menelisik ekspresi yang ditunjukkan oleh penggemarnya. Namun matanya malah terpaku ke satu tempat, menatap sesuatu yang sungguh membuatnya terkejut bukan main.
Daehyun ada di sana. Berdiri di kerumunan orang dengan senyum tipis di wajahnya.
Rambut hitamnya sudah berganti menjadi soft purple, kacamatanya berganti dengan kontak lensa berwarna biru gelap. Meski dari kejauhan, Youngjae bisa dengan jelas melihat sosok itu. Sosok yang selama ini sangat dia rindukan.
Reaksi selanjutnya sempat membuat suasana hampir kacau. Youngjae yang tak bisa berpikir panjang langsung berlari turun dari panggung, menerobos kerumunan penonton, berlari ke arah Daehyun sebelum sosok itu pergi menjauh darinya.
Youngjae berhasil memeluknya erat, dia berhasil menahan tubuh Daehyun agar tetap berdiri di sana. Tangannya melingkar kuat di leher Daehyun, wajahnya melesak di perpotongan lehernya, menyesap aroma stoberi yang sangat dia rindukan. Sedangkan Daehyun tertawa pelan karenanya, tangannya melingkar di pinggang Youngjae—membalas pelukan itu tak kalah eratnya.
"Kau sudah berusaha banyak, Youngjae."
Youngjae hanya bisa bungkam, menganggukkan kepala pelan dan menangis dalam diam. Tak peduli pada ratusan pasang mata yang sekarang memperhatikan mereka. Dia hanya ingin menyalurkan kerinduannya pada Daehyun. Dengan dirinya yang sekarang, dia bisa melakukannya. Dia bisa memeluk Daehyun sepuasnya.
Dalam hatinya, Youngjae berterimakasih pada Tuhan yang telah menuliskan kisahnya. Pertemuannya dengan Seokjin, phobia yang dia miliki, bertemu dengan Daehyun yang kini sudah kembali ke dalam pelukannya. Semua adalah kisah yang membuatnya sangat bahagia.
Kini dengan kedua tangannya dia bisa terus menggenggam tangan Daehyun, dan tidak akan membiarkannya pergi. Lagi.
。。。。。。
Finish
。。。。。。
Hello, cerita ini tamat sampai di sini. Dan ada 2 sequel yang bakal di publish kemungkinan setelah lebaran.
Terima kasih yang sudah bersedia menunggu sampai sekarang. Sampai jumpa di fanfic selanjutnya~
Love you all.
