Hi! Bertemu lagi dengan saya, Siebte Gloxinia si penulis biadab /dor! Ini chap kedua dari Teenage stories. Jangan harap ini hubungannya sama true story 8'D *kicked* Anyway, Michelle Relessai is going to show on the next chap! 8D

And, Elliot! Start the fict!

Elliot: Tch, kalo gue ga buka nih fict, gue diancem kaga muncul di cerita! Sialan lo Glo, mati aj- ehm. By the way, we presenting you... Teenage stories Chap. 2! She's my Lil Sist, Silly! Da main Char are Liam and Lily! Selamat membaca semuanya! *muntah*

Btw. ini balesan ripiu untuk yang ngga bisa dibales lewat PM:

Taviabeta Kuchiki: Thanks fo da ripiu, my chairmate! :D *dor* Cila? aku dunddd kan aku facila XD thanks for da ripiu again!

Review yang lain udah dibales lewat PM :D

Well, Selamat membaca!

.

.

.


.

.

.

Oh iya, Mochi-san! Karakternya masih aku pinjem loh *pasang muka celeng* *ditusuk pake pena*

Warning: Feel gak kerasa, OOC, gaje, dan sumpah OOC *diulang lagi*. Ga tanggung kalo mata anda - anda yang baca bisa lompat, Author ga tanggung. 8D Author hanya menulis cerita ini, dan satu warning lagi, ELLIOT ITU PACAR SAYA *meluk Elliot* *ditabok* Kalo ada kata yang gak ngerti bisa di review *licik* nggadeng, ada penjelasannya kok di a/n. and... jengjengjeng! Beware of cursing words cuz It can be cursing u back x3

Disclaimer: Pandora Hearts itu punya Mochi-san. Elliot Nightray juga punya Mochi-san, Elliot itu dijodohin sama aku cuma dia nggamau terus dia akhirnya kabur ke Abyss *DOR ENGGADENG*. Michelle Relessai is mine.

Thanks to: yang udah baca, author yang kasih inspirasi untuk menulis serta yang ngasih review~ *cium*

She's my Lil Sist, Silly!


.

.

.

.

.

.

Yah, ini bukan pagi.

Bukan juga siang, tetapi siang menjelang sore yang menegangkan.

"Fuuuh." Laki - laki yang mendapat julukan ganggang laut itu sedang duduk disebelah laki - laki yang terkenal psycho. Walaupun ia Psycho, ia adalah adik sang ganggang laut, serta loncat satu kelas dan sekelas dengan kakakknya, kurang pintar apa coba?

Ganggang laut itu menghirup sesuatu.

"Mau dicampur marijuana?" Ujar si psycho.

"Boleh!" Ujar si ganggang laut dengan girang.

.

.

.

.

.

.

Apa? Marijuana?

.

.

.

.

.

DRAP DRAP DRAP.

.

.

.

.

.

.

Langkah kaki itu sepertinya menghampiri mereka berdua yang sedang menghirup rokok dibawah pohon.

"GILBERT! VINCENT! LO GILA YA?"

Padahal, baru saja orang itu sampai, ia sudah menghardik kakak beradik itu.

"Liam?" Tanya mereka kalem -tanpa merasa bersalah dengan apa yang barusan mereka lakukan.

.

.

.

.

"LO NGERTI GAK SIH KALO DI SEKOLAH ITU DILARANG NGEROKOK? APALAGI DICAMPUR BAHAN BERBAHAYA! KALIAN PERNAH MIKIR GAK SIH KALO ADEK - ADEK KELAS KITA ITU BAKAL MENGHIRUP ASAP ROKOK YANG KALIAN TIMBULKAN? KALIAN ITU UDAH JADI PEMBUNUH SECARA GAK LANGSUNG! KALO MAU NGEROKOK MBOK YA DILUAR TOH, KASIAN MEREKA!"

.

.

.

.

.

.

Hening.

"HIIII... !"

Kakak beradik itu mengambil langkah seribu, meninggalkan Liam sendiri. Dibawah pohon itu.

.

.

.

.

.

"Hhh, akhirnya pergi juga!" Gumam Liam.

Ia menyembunyikan sesuatu.

Yah, ia duduk bersender di bawah pohon itu. Letaknya agak jauh dari gerbang SD. Dan mata yang terlapisi dengan kaca itu selalu menoleh kearah gerbang SD.

Tunggu, untuk apa?

Mencari adiknya? Sepupunya? Kenalannya? Atau... Pacarnya?

Anak SMA... dengan anak SD?

Tidak mungkin.

.

.

.

.

RINGGGGG RINGGGGGGG!

"Sudah waktunya." Liam tersenyum, dan masih menatap gerbang tersebut.

"Ngng, rambut orange, mata biru." Gumamnya.

.

.

.

Itu dia!

Langit, Liam melihat langit di matanya.

.

.

.

"IIIIIIIHHHHHH LILYYYYYYYYYYYY LIAT KAKAK YANG ITU DEH! DIA LIATIN KAMU TERUS! NANTI KALO DIKASIH PERMEN JANGAN MAU YA! KATA MAMAKU TAKUT DICULIK."

Pekikan anak kecil yang berada di sebelah Lily sangatlah keras, yah, berisik.

Dan tangannya menunjuk kearah... Liam?

'Si-sialan' batin Liam.

Mata Liam menangkap pandangan Lily.

"IIIIIIIIIIIIIIIIHHHHH KALO KATA MAMAKU..."

Liam menunggu tudingan temannya yang satu lagi, ia juga berada di sebelah Lily.

.

.

.

.

.

.

"ITU PEDOPHIL GALAKU TAUK!"

.

.

.

.

.

.

JLEB.

Menohok? Tentu.

Mata Lily membulat, menatap mata Liam yang menyipit melihat kelakuan teman - temannya.

"Ngng..." Sahut Lily takut - takut.

"Dia orang baik kok! Percayalah! Kak Liam itu bukan orang yang seperti kalian pikirkan!" Lanjut Lily dengan ceria.

Liam pun... Tersenyum.

Dan matanya terus mengikuti punggung gadis berambut orange itu hingga hilang dikerumunan.

.

.

.

.

.

.

"Ng, kayaknya gue harus balik ke markas PanCo." Ujar Liam puas.

Ia berdiri, dan masih membayangkan hal tadi. Dan berjalan menuju markasnya.

BRAKKKKKKKKKK!

"AUW~!" Erang seorang anak kecil... Eh?

"O -Oz?"

"YAP! AKU TAHU LIAM! CUKSTAW YAAA AKU TUH PENDEK! GAUSAH DITABRAK - TABRAK DONG!" Ujar Oz kesal, ternyata bukan anak kecil, melainkan anak sepantaran Liam yang -yah... pendek tapi imut.

"Ya sori, gue ga liat."

"Dasar Pedophil galaku."

.

.

.

.

.

.

"Hah? Please jangan dis-"

Kalimatnya terputus mendapati Oz sudah berlari kencang dan menjauh.

"Sialan!" Umpat Liam. Walupun kakinya panjang, lari Oz tidak terkejar. Dan akhirnya Liam lari membabi buta kearah Markas Panco -atau lebih bisa dibilang, ruang komputer sekolah.


.

.

.

.

.

"GRAAAAAAH! MANA OZ?" Ujar Liam seperti ... kesetanan? ZOMG /shot. Ia membanting pintu, dan ia hanya mendapati satu orang.

Itu... Sharon.

Tatapannya kosong.

"Ngng, Sharon?"

Liam mendekati Sharon, takutnya Sharon kesurupan karena tatapannya kosong gitu.

.

.

.

Langkah demi langkah ia lalui.

Sayangnya, setelah ia melewati pintu...

"ATTACK!"

GEDUBRAK GEDUBRUK GUBRAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK.

"Arghhhhh! Apaan nih?" Liam stress mendapati teman - temannya muncul dari samping. Dan beberapa memegangi tangannya.

"JACK! BANTING LIAM!"

"ROGER MILADY!"

"ELLY! INJAK PUNGGUNGNYA!"

"NGGA USAH CEREWET, KELINCI UBAN!"

"BREAAAAAAK! TAHAN KAKINYA!"

"INI SUSAH TAU!"

"GILLLLLLLL AKU MAU DAGING!"

"ALICE! AKU SEDANG SIBUK MEMEGANGI LIAM!"

"ALYSS! AKU NGAPAIN?"

"REO! KAMU PEL LANTAI YANG DISEBELAH SANA!"

"..."

"VINCENT! TUSUK LIAM PAKE GUNTING!"

"LO GILA APA, ALICE?"

"AMBIL KURSI, AMBIL KURSI!"

"KENAPA GA KAMU SENDIRI AJA YANG AMBIL, ALYSS!"

"IIIIH KAMU BERISIK BANGET SIH! ALICEEEEE!"

.

.

.

Semua sweatdrop ngeliat Alice dan Alyss jambak - jambakan.

.

.

.

"LO SEMUA MAU NGAPAIN SIH HAAAAA?" Bentak Liam.

"E..cho gatega..."

"Lotti! Ambil Yasin!"

"LO PIKIR SI LIAM UDAH KO IT APA?"

"Iiih... Udahan dong... Eida takut..."

"ARGHHHHHH! DASAR KELINCI GOSONG!"

"KAMU KELINCI UBAN!
"EH BURUANNNNN IKET LIAM KE KURSI!"

"ARGHHHHH LEPASIN GUE!"

"ooooo TIDAKBIZA"

"INI KURSI! INI KURSI!" Ujar Reo dari jauh.

.

.

.

.

.

SWIIIIIIIIIIIIING GEDUBRAK GEDUBRAK

"KENAPA DILEMPAR BEGOOOOOOOOOOOOOOOO"

"KENAPA GAK LO TANGKEP ?"

"GA ADA YANG NYURUH LU NGELEMPAR KAN?"

"GA ADA JUGA KAN YANG NYURUH LU CUMAN BENGONG DOANG?"

"ELLIOT! REO! JEWER NIH?"

"YANG GAKDIEM GUE TUSUK PAKE GUNTING!"

"HEIIII IKET LIAM, CEPEEEEEEET TALINYA MANA?"

"PAKE GESPERRRRR"

"ELLIOT! PINJEM GESPER!"

"JANGAN JACK! BEGO!"

.

.

.

.

.

.

.

.

"PORNOAKSI PORNOAKSI! ECHOOOOO FOTO BURUAN!"

"Echo... gatega..."

"ELLIOT! PORNOOOOOOO!"

"JACKKKKKKKK GESPER GUE MANA?"

"GAHAHAHAHAHAHAH~!"

"KELINCI UBAN! JANGAN KETAWA!"

"ELLIOT! PAKE CELANA LO!"

"IYEEEE GESPERNYA DIAMBIL BUAT NGIKET, KEDODORAN BEGO!"

"ELLIOT! OMONGANNYA DIJAGA YA!"

"APA LO, PSYCHO SIALAN!"

"DIAAAAAAAAAAAAAAAAAAM!"

Oz datang.

"Pfft. Elliot gapake celana..." Ujar Oz.

"Berisik! INI GARA GARA KAKAK LO NOH GESPER GUE DIAMBIL!"

Dengan sedihnya, Elliot jongkok dipojokan agar celananya ngga melorot - melorot lagi.

"So..." Alyss bantu menenangkan. Sedangkan Alice sudah dibekep oleh Gilbert biar enggak berisik.

"Sharon! Buka matamu! Elliot udah pake celana kok." Ujar Lotti.

"BERISIK!"

"Hihihi, adik kecil ngga bisa pake celana ya..." Ejek Break.

"SUDAH SUDAH! BACK TO TOPIC!" Alyss mengambil alih perhatian.

"Jadi..." Lotti menghampiri Liam, dengan kasar satu kakinya mendarat di dada Liam.

.

.

.

.

"Ukh."

"Kau benar - benar..."

Semua orang dag dig gug...

.

.

.

.

"Seorang... Pedophil?"

.

.

.

.

"Gue ga ngerti pola pikir kalian."

"Kita yang gak ngerti pola pikir lo, Liam." Sahut Break.

"Lo semua tau apa?"

.

.

.

.

Semuanya tertunduk.

"TERSERAH KALIAN SEMUA DEH."

"EITS! KASIH PENJELASAN DULU!" Sharon berteriak.

"MAU TAU?"

Semua mengangguk.

.

.

.

.

"NGIMPI!"

.

.

.

.

.

.

Semua cengo.

Liam, dengan emosi karena tangannya diikat oleh gesper. Ia berjalan dengan kursi ditenteng - tenteng. Dan menekan kenop pintu dengan kaki.

"D... dasar Gila!" Ujar Vincent.

"Nyadar diri dong!" Elliot menggerutu di pojokan.

"Ganti rencana!" Ujar Oz.

"Kita kejar?" Tanya Gil.

"Buntutin aja!" Sahut Reo.

"Ide bagus! Echo! Kamu bagian foto - foto, Lotti bagian update tweet, Eida bagian update status di pesbuk! Dan Sharon bagian Konsumsi!"

"Pembagian tugas apaan nih..." Keluh Sharon.

Akhirnya mereka semua meninggalkan markas mereka -Minus Elliot dan Michelle. Elliot meringkuk di pojok Markas, sedangkan Michelle lagi remedial Fisika.

"Ditinggal..." Keluh Elliot.

.

.

.

DRAP DRAP DRAP.

"Eh ada yang kembali kesini?" Pekik Elliot girang.

Sayangnya, kegembiraan itu pupus.

"Hai adik kecil! Aku pinjam gespermu dulu ya." Jack jongkok dan mengacak - ngacak rambut Elliot.

"Ihihihi unyumunyuuuuu! Gabisa pake celana ya... nanti kakak pakein ya!" Sahut Break girang.

.

.

.

.

"Mati aja kalian sana."


Liam duduk diatas kursinya dibawah pohon.

Yah, beruntung kepada kakinya yang panjang, ia jadi tetap bisa berlari walaupun berat.

Ia menatap gerbang SD itu.

Sudah tidak mungkin, ada anak yang ia cari.

.

.

.

"Hopeless."

Ia bergumam, lalu memejamkan matanya.

Dan... Tertidur, tanpa menyadari adanya tatapan mata dari anak - anak PanCo yang membuntutinya.


Sakit.

Ntah, anak itu yang sakit, atau matanya juga merasakan kepedihannya.

Hujan.

Menjadi background dalam pertemuan pertamanya.

"Hhh." Nafas anak perempuan itu tersengal - sengal memegangi bagiannya tangannya yang berdarah.

Berlumuran kemana - mana.

Di sisi lain, ada satu pasang mata yang memperhatikan gadis kecil itu.

Ia tetap memperhatikan gadis itu, langkahnya terlalu malu untuk menghampirinya.

Hujan.

Gadis itu mencoba berdiri.

"AUW!" Dan ia malah terpeleset.

Dengan pantang menyerah, ia meraih tasnya dan...

Kakinya gemetar.

.

.

.

.

.

"GOTCHA!" Sekarang, nafas seseorang juga tersengal - sengal.

Liam.

Liam menggendong gadis tadi, dan langsung melesat ke UKS.

Gadis itu hanya menatap mata yang terlapisi kaca dengan kosong, mulutnya menganga tak percaya. Tetapi tidak juga mengeluarkan sepatah kata.

.

Gadis itu dibawa ke UKS oleh Liam.

.

"Kau... Kenapa bisa dibawah pohon tadi?"

Liam belum mendapat jawaban.

.

GRUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUK

.

"Aku... Lapar..."

Liam sepertinya mengerti, dan mengobok - ngobok tasnya.

"Ini." Ujar Liam. Ia membuka tutup kotak makannya dan mendapati Lasagna yang belum disentuh.

Gadis itu mencoba meraih tempat makannya.

"Hn." Erang gadis itu pelan.

Ah, tangan kanannya...

"Yah, aku mengerti." Ujar Liam sambil mengambil sendok.

Ia tersenyum tipis sambil mengangguk pelan.

"Buka mulutmu."

Mulut kecil gadis itu terbuka.

"Cepat habiskan, sehabis ini aku akan menutup luka yang ada ditanganmu."

.

.

.

.

.

"T... terimakasih, kak."

"Sama - sama." Ujar Liam pendek, ia agak keki juga sih.

"Ngng, aku harus pulang sekarang. Seragamku basah semua."

"Tunggu, lukamu belum diobati."

Liam mengecek meja UKS dan sayangnya ia tidak mendapatkan perban disana.

Liam kembali menatap anak kecil tadi.

Mata biru.

"Hhhh, kami kehabisan perban. Apa boleh buat." Ujar Liam sambil membersihkan luka gadis itu, lalu menutupnya dengan dasi miliknya.

Kini dasi Liam melilit di tangan gadis itu.

"Ngng, sekali lagi. Terima kasih ya kak! Oh iya, namaku Lily. Kalau kakak?"

"Liam..."

"A... aku pulang dulu ya!" Ia melangkah dan terdengar bunyi - bunyi aneh.

.

PCYEK PCYEK.

.

"Sebaiknya jangan pulang sendiri, biar aku antar."

"... Aku terlalu banyak merepotkan kakak."

"Tidak apa - apa, Lily." Liam membuka mantelnya dan memberikan kepada Lily.

"Terimakasih lagi."

"Tidak usah berterimakasih lagi. Ayo naik ke punggungku."

"A-aku bisa jalan!"

"HUP! Jangan bandel! Sini digendong." Liam menggendong Lily dengan paksa, entah. Padahal ia baru pertama kali bertemu dengan Lily.

Ia... sudah menganggap Lily sebagai adiknya, begitu saja.

"Rumahmu dimana?"

"Ngng, dari gerbang, lurus, belok kiri, rumah kedua. Cat warna biru pucat."

"OKE! KITA TEROBOS HUJAN!"

Liam berlari kearah gerbang, sedangkan Lily digendong dan ia memakai mantel dan tudungnya.

Ia... tertawa.

.

.

.

.

.

.

"OKE! SAMPAI!" Ujar Liam kewalahan.

"Terim-"

"Sudahlah!" Lily sudah masuk ke teras, sedangkan Liam masih diguyur hujan.

"Kakak mau masuk dulu?" Tawar Lily.

"Tidak usah, sebaiknya langsung mandi air hangat biar tidak sakit."

"O-oke."

.

.

.

"SIAPA DISANA?"

.

.

"Si-sialan!" Umpat Liam, lalu ia langsung berlari lagi menuju sekolahnya. Tanpa mantel, dan hanya kemeja yang menghiasi tubuhnya.

.

.

.

Hujan

Mengguyur badannya.


"Huaaaaaah!" Liam baru bangun dari mimpinya, ia masih baru setengah sadar.

Sudah berapa lama ia tertidur?

"37 menit! Akhirnya Kak Liam bangun juga!" Pekik seorang gadis dengan riang.

Eh?

Bukannya tadi dia tertidur diatas kursi?

Kenapa Liam jadi tergeletak di tanah?

Dan...

"Lily! Kenapa kamu ada diatasku?" Tanya Liam kaget.

"Huh! Bukannya berterimakasih! Aku kan sudah membuka gesper yang melilit di tangan kakak dan yang menaruh kakak ke tanah!" Ujar Lily manja.

Huff.

Liam tersenyum, lalu mengacak - ngacak rambut 'adik' kesayangannya itu.

"Loh, belum pulang?" Tanya Liam.

"Belum, aku bosan dirumah. Lagian aku mau jemput kakak sepupuku dulu."

"Kakak sepupu?"

"Iya, satu angkatan sama kakak."

"Oh, mau kubantu carikan?"

"Ngng, makasih lagi!"

"Sama - sama, mau kugendong?"

"..."

"I take it as a yes." Ujar Liam.


Sementara itu, di Lantai dua, anak - anak PanCo grasak grusuk.

.

.

.

"UOOOOH DITIMPAH! DITIMPAH!" Ujar Gil Heboh.

"Dia... benar - benar memikat anak kecil itu." Sahut Oz Pasrah.

"BENAR - BENAR YA LIAM..." Ujar Sharon geram.

"Apa dia benar - benar Pedophil?" Ujar Reo Ragu.

"ECHO! SUDAH DIFOTO BELUM?" Ujar Alyss panik.

"Lapar... Gil..." Rengek Alice."

"Kau ini lapar terus."

"BIARIN!"

"Hhh... Ini, makan bekalku." Gil mengobok - ngobok tasnya yang terselempang. Lalu mendapati bekal dan melemparnya ke Alice.

"Makasih!" Pekik Alice.

.

.

.

"Hush, diam Alice!" Ujar Alyss yang kupingnya terdengar pekikan dari Alice.

"Liam... Aku kecewa..." Ujar Eida pasrah.

"Eh, sepertinya aku mengenali anak kecil itu." Papar Lotti.

"Apa anak SD kayak dia udah ngerti gituan, Break?" Tanya Jack.

"Entahlah, kalo gue sih dari kelas 4SD, lo Jack?"

"3 SD, diajarin Bokap."

"Serius?"

"Iya, Oz juga."

"punya lu berapa cm?"

"Punya gu-"

"AW! MILADY! KENAPA KAU MEMUKULKU?"

"Sakit, Alyss!"

"Kalian ngomongin apa..." Ujar Sharon dan Alyss sambil memberikan death glare.

"Eh liat! Itu digendong!" Tutur Vince.

"AYO SEMUANYA BALIK KE MARKAS! LIAM BALIK KE MARKAS!" Lanjutnya.

.

.

GUBRAK GUBRUK GUBRUK.

.

.

.

.


Semua duduk manis. Minus Michelle dan Elliot.

.

.

.

BRAKKKK!

.

.

.

"Hai, teman - teman keparat!" Ujar Liam sambil menendang pintu.

Semuanya cengo.

Ia benar - benar menggendong seorang anak kecil.

"Kenalin, ini yang buat kalian salah paham," Ujar Liam. "Namanya Lily, udah gue anggep jadi adek gue sendiri." Tambahnya.

"Lily...?"

"Kak Lotti?" Pekik Lily.

"KENAPA KAMU BISA KENAL DENGAN PEDOPHIL SIALAN INI?" Tuding Lotti.

Hup! Lily lompat dari gendongan Liam.

.

.

.

"Panjang!" Ujar Lily manja.

"Kau... sudah apakan saja adik sepupuku ini?" Ujar Lotti geram.

"Tidak ada kak! Kak Liam itu baik!" Lily membela Liam.

.

.

.

.

.

"Yah... Aku percaya." Lotti jongkok, lalu mengacak - ngacak rambut adik sepupunya itu.

"Hmp." Keluh Liam kesal.

.

.

.

.

"Maafkan kami, Liam." Oz angkat bicara.

"Tidak apa - apa." Balas Liam.

"MAAF YAAAAAAA LIAAAAAM~~~" Ujar Break sambil menyerang jidat Liam.

"AUW! Menjauh sana! Badut Gila!"

"Ternyata Liam bukan pedophil, padahal bakalan seru." Ujar Gil.

"Brengsek." Umpat Liam.

"Uuuughhh ada gunting gak sih..." Vince kumat.

"Somebody please help me." Ujar Jack sedikit memelas, ia kerepotan menahan kumatnya Vince.

"Hai adik kecil, gabisa pake celana ya?"

"REO! GESPER GUE MANAAAAAA?"

"Kak Lotti, kakak yang marah - marah itu kenapa?" Tanya Lily.

.

.

.

"Oh itu, orang gila emang, biarin aja." Papar Lotti dengan jahil.

"Kakaaaak~" Lily berjongkok didepan Elliot.

"Ada apa?" Jawab Elliot sinis.

"Nggabisa pake celana ya...?" Tanya Lily polos.

.

.

.

"MBUAHAHAHAHAHA! SINI KAKAK AJA YANG PAKEIN!" Break datang dan membuat gaduh lagi.

"GUE BISA!" Elliot refleks berdiri.

.

.

.

"AAAAAA! PORNOAKSI LAGI! LU DEMEN BANGET SIH JADI BINTANG BOKEP!" Papar Lotti.

"LILYYYYYYY TUTUP MATA!"

"A..."

"WOIIIIIII YANG MEGANG GESPERNYA ELLY BALIKIN DONG!"

"KALIAN MATI AJA SANA!"

"Kalo kita semua mati, siapa yang mau balikin gesper punya elu?"

"OH SHUT UP AND GIMME MY BELT!"

Hari itu pun, berakhir dengan ricuh.


.

.

.

.

-Random time-

"Lily?"

"Ya, kak?"

"Em, mau tanya aja."

"He?"

"Waktu itu, kenapa tangan kamu berdarah?"

"Oh, digigit Bandersnatch. Anjing yang jaga sekolah."

"K-kok bisa?"

"Iya, aku elus elus kepalanya, terus dia ngegigit gitu! abis itu aku lari kebawah pohon, eh, pas aku lagi berteduh, ujan deh. terus darahnya keluar - keluar gitu.

"Astaga! Nanti kakak kalo ketemu Bandersnatch, kakak jitak tuh anjing!"

"Iiih kakak!" Lily tertawa sambil menekan jidat Liam. "Kayak anak kecil, deh!" Lanjutnya.

Liam hanya meringis.

.

.

.

.

.

.


WOOHOOOOO! A EN! GLO LAV YU AL!

AI LOP YU WU RID DIZ STORI! /DOR.

EN AI MOAR LOV YU WU GIP ME A RIPIU! :D

Hihi! *ketawasarap*

Oh ya, Glo sangat sekali kepada yang telah membaca cerita Glo! 8D Glo seneng banget, senengggg. Karena pembaca adalah sumber energi Glo untuk menulis! 8D

and... LiamLily, sengaja ngga dibikin Pairing. soal'e... yah begitulah. Tapi kocak aja ngeliat mereka akur disini, padahalnya di komiknya...

"Ayo Liam... ayo main... Layaknya seorang teman..." Sambil berdarah - darah...

/ditendangLiam.

Eniwei.

Pedophil: Ketertarikan terhadap sesuatu seperti Lolita gitu.

Cukstaw: Cukup tau BAHASA GHA0WL G3WL.

sekian dari saya! Next chapter is about... Sleepovah!

Alias nginep nginep! Kira- kira... rumah siapa ya yang dipake?

Keep reading mah stories ya! visitors and hits. Love you all! Glo sayang kalian semuaaa~