Hai!

:D Glo kesini bawa c11 loh! Ufufufu…

Ada yang gembira kah?

Engga? /nangisdipojokan.

Ehm, eniwei… Kepada kamu, iya, kamu. Tanpa kamu, cerita ini sangat krik sekali. Tanpa ada yang baca, tanpa ada kritik dan masukan.

Cerita ini… mungkin ga bakal ada lanjutannya, tanpa kalian semua.

Jadi, Glo sangat berterimakasih kepada kalian, dengan adanya kalian disini, Glo jadi semangat nulis. :D

Terimakasih juga kepada semua yang udah nyemangatin Glo, yang udah nunggu – nunggu cerita Glo. Padahal Glo masih ingusan di dunia ini, tapi semuanya pada baik sama Glo! /ingusan

Warning: chap sebelumnya. *kabur dari tanggungjawab* *digebuk*

Disclaimer: Karakternya punya Jun Mochizuki kecuali Michelle punya saya dan Mizuaki punya Kak Ninta~


Balesan Review!

hana-chan kirei: HALO HAHAH XD Makasih sudah mau menyempatkan diri kesini~ Aduh sampe lumutan *bersiin lumut* Oke oke, balik ke topik. Masih aja cuci motor dan kampret lol XD Aku jarang keluar rumah sih, jadi jarang ngeliat hal epic (?) abaikan saya, sekali lagi makasih loh udah mau dateng dan ripyu! XD

Taviabeta-Primavera: Hai unyuhhh! XD Makasih udah mau dateng kesini! Huaaaa humornya kurang? XD maaf, maaf. Chappie ini spesial untuk kenangan kita tahun lalu loh! Bersedia untuk baca? :D Haha~ eniwei gomen ne! *sembah sujud* ini genrenya friendship, huaaa humor senseku hilang berarti! Haha XD Sekalih lagi makasih udah mau dateng dan ripiuh~!

Midorishi Seki: Halo kak! :D Makasih udah mau dateng lochh yaww ihihi *cipikacipiki* Sesuai request anda~~ chapter 11 tentang ngisi acara! Maafkan diriku iniii jika tidak sesuai dengan yang kau maksoeddhhh huwhuhwuhwu *nangis dipojokan* eniwei tp bukan disekolah mereka, melainkan disekolah... gataudeh dimana, yang jelas bukber XD eniwei makasih udah mau kasih ide, udah mau dateng dan ripiu!

Satria DK: Halo! ^^makasih udah mau baca~! Udah baca sampe c11? BACA! BACA! *maksa* *apaini* Wah Glo ikut sneeng deh kalo kamu suka (kamuuu?) *kabur* sekali lageee makasih udah mau baca dan review ya! ^^

Yosukegalih: Halooo~! Makasih udah mau dateng, maap typo T_T kegembelan dakuwh huhuhu. Aku bales satu - satu ya! 1. Wah yang ini kurang tau, mungkin di 15? ^^" minta sarannya ya. 2. Enak aja! Om Glen supir bajaj tau! *eh. 3. Sekarang! 4. BENER BANGETTT! 5. No comment. *digebuk* okeoke, makasih udah mau dateng dan ripiyuuu kesini!

Urara: Hai - hai! ^^ Makasih udah mau baca cerita ini~! Hyaaaa akiu seneng deeeh XD BTW, HAPPY BDAY MAF TELAT MAAF TELAT MAAF TELAT ato malah belom? *doeng* Pokoknya Hepi bedey Urara! Sekali lagi maksih udah mau baca dan ripiu! XD

kay. kei. key. sky males login: Halooo! XD huahahaha dibaca! DIBACA! *ditabok* Makasih udah mau mampir yaaa! Sky suka! Asik asik /nebarbunga Waaa Glo seneng banget Sky mau nyempetin untuk ripiu cerita disini ahahha XD ini berlanjut kokk~ di c11, tapi gatau selesai di chappie berapa *pundung* ehm ehm, makasih udah mau baca dan ripiu ya!

Dinlok: Haiiiii! MAKASIH UDAH MAU MAMPIR *peluk* Hyaaa seneng deh kalo ada yang ketawa~ muah muah. Gilozalice kan triple baka~ XD Aku mau nyoba nonjolin Reo gitu, hehe XD sekali lageee, makasih udah mau mampir kesini dan mau ripiu! Makasih juga udah mau nunggu!

faricaLucy: Halo Kak Faricaaa *peluk* *siapaeluGlo* Nyaa~ Makasih udah mau mampir XD Asik asik ada yang ketawa /nebarconfetti Bayangin aja deh, Om Glen masak mi kuah pas udah mateng berubah jadi bubur, hebat kan (?). Hyahaha kasian Reo suka terlupakan makanya aku bikin kayak gitu... *abaikan* eniweii makasih udah mau mampir dan ripiu ya~!

Amber Desu: Halo My! XD GYAAA makasih udah mau mampir! XD hyaa Myda *nari tor tor* Nggapapa kok! malah Aku seneng banget ada yng mau baca cerita ini XD Ahaha maafkan ripiuku di ceritamu gak mutu... *bows* eniwei, kutunggu ffnyah~ kalo apdet bilang! Sekali lagi makasih mau ripiu dan mampir kesini!

Miki Yuiki Vessalius: Haloooo~! XD makasih udah mau mampir ke ceritaku yang begini... *nangis terharu* Kalo gak gila, bukan PanCo namanya! XD Reo emang keren kok semenjak deket sama Vince *apaini* Ehm ehm, eniwei, Makasih ya udah mau baca, mampir, dan ripiu! Makasih banyak! XD

Penjelmaan Authorjelek: Halooo! XD Makasih udah mau mampir! *peyuk* Hiyaaaa kepanjangankah? Gomen T_T *nangis di pojokan* Err... Elleo dalam bentuk pair? *tos* saya juga (HAMPIR) bukan fujo XD tapi ngga ngerti deh, disini kan kurang banyak Elleonya (?) Elliot paling naas? ganti - gantian kok (?) walaupun emang IYA banyakan dia XD eniwei, makasih mau mampir dan ripiu kesini yap!

salmahimahi: Halooo Salmaaaa! Lama tak jumpoooo! *peyuk* makasih udah mau mampir~! Hyaa, itu ada kan di vol. 14 YANG COVERNYA ELLI ELLI ELI UOOOOO *ditabok* ehm, bek tu topik. Rufus Lotti itu crackpair ya...? Yaah... *pundung* di chappie ini ada yang lebih crack Loh! XD *ditabok* sekali lagi makasih banget yoo udah mau mampir plus ripiu ceritakoh iniii! Pelukcium untuk anda!


.

.

.

O—oke, cukup ngomongnya, capcus ke cerita! :D

U Mad?

/Terus? Salah gue? Salah nenek gue?/

/salah elo lah, gausah deh bawa - bawa nenek elo./

/request from Midorishi Seki/

/based on Unevours's drama scenes/

.

.

.


.

.

.

Pagi itu, suasana di kelas XI.5 sangatlah ribut.

"Semuanya! Kali ini kita kedatangan murid baru," ujar Nenek Cheryl selaku wali kelas XI.5 mereka. Heran, kok masih kuat ngajar ya?

"Murid baru?" Semua anak grasa – grusu gaje.

"Cewek? Cowok? Ganteng gak? Cantik ga?"

"Kalo cewek cantik, gua jadiin pacar gua yang kedua!" ujar Break.

"Gua aduin ke Sharon nyahok lo!" sanggah Alice.

"Taruhan sama gue, murid barunya cowok." sahut Gil.

"Ufufufu, kalo cewek, cewek mana sih yang gak tahan sama rayuan gue?" Jack menyombongkan diri.

"Gue ga tertarik…" keluh Oz.

"Elo… homo?" tanya Break tak percaya.

"Nenekmu!" bantah Oz.

"HUACHIH!" Neneknya Break yang berada nun jauh di sana bersin. Oke, kita abaikan neneknya Break.

"Nenek gua cewek! Mana bisa!" sahut Break sambil melempar kaos kakinya.

"Ew." Alice dan Gil menghindar dengan serempak.

BRAKKK!

"DIAM!" bentak Nenek Cheryl sambil melempar kursi rodanya kearah Break, Jack, Alice, Oz, dan Gil yang duduk di barisan belakang.

Semua diam tanpa harus disuruh dua kali.

"Jadi," Nenek Cheryl kembali duduk manis di kursi guru (kursi rodanya udah melayang entah kemana). "Akan ada murid baru disini," lanjutnya.

Semua masih diam. Tak lama, ada yang mengetuk pintu.

"Halo." ujarnya sopan.

.

.

.

"...ELO LAGI?" ujar Jack, Gil, Break, dan Oz secara bersamaan.

"Eh? Elo lagi." anak baru tersebut membuang muka.

"Ano, perkenalkan dirimu." sela Nenek Cheryl.

"Saya Cheshire. Mohon bantuannya." Cheshire membungkuk, lalu melirik kearah Nenek Cheryl dengan tatapan dimana-gue-harus-duduk.

"Ah, kamu bisa duduk di sebelah Gil, bukankah itu kosong?"

"Kh." dengan amat sangat terpaksa ia duduk disebelah Gil.

"Halo, Tuan Preman." sindir Gil.

"Cut it off." Cheshire lagi males berantem.

"Oi, vokalis Kang*n Band." panggil Break usil.

"Lo manggil gue?" Cheshire tersinggung. Mungkin karena rambutnya yang mirip… uhm.

"Iya, elo." ujar Break dengan nada menghina.

"Maksud lo apa?" Cheshire mengambil ancang – ancang untuk mukul Break.

"Gausah belagu deh." Break mulai melipat lengan seragamnya.

"Kata lo siapa yang menang?" bisik Jack ke Gil, Oz dan Alice.

"Taruhan ye? Ga ikut deh, bulan puasa." ujar Oz kalem.

"Break." sahut Gil datar sambil memberikan selembar lima ribuan ke Jack.

"Elo, Lice?"

"Nek Cheryl." tak tanggung – tanggung, Ia memberikan selembar seratus ribuan ke tangan Jack.

"Oke, gua pasang dua puluh ribu di Break." ujar Jack.

Kini nasib seratus dua puluh lima ribu rupiah itu masih terombang – ambing. Entah siapa yang akan menang.

.

"RIBUT? HAYOK GUA JABANIN!" Cheshire melipat lengan seragamnya hingga sepundak.

"SIAPA TAKUT!" kini Break melipat lengan seragamnya ke ketek.

"MAJU! JANGAN NGELIPET – LIPET LENGAN SERAGAM DOANG!" Cheshire emosi.

"Elu juga ga maju – maju!" bela Break.

"Rambut kayak jenggot Dumbledore(*) aja belagu!" sentak Cheshire.

"Bagian mananya yang mirip jenggot Dumbledore hah? Daripada elu! Rambut lu kayak Andikhey Kanjen Bend!" Break bener – bener emosi sekarang, ia hendak melempar bangkunya, tetapi…

TRAKKK!

Sebuah tutup marker mengenai jidat Break dengan GLBB (?) yaitu Gerak Lurus Beraturan Bebas yang memungkinkan untuk melakukan akselerasi terhadap laju tutup marker tersebut.

"Ohohoho, Break. Cheshire. Sepertinya tadi kalian TIDAK mendengarkan pelajaran saya." ujar Oma Cheryl dengan suara tinggi, nama panggilannya berubah lagi.

"De—dengerin kok bu!" bela mereka berdua, dengan gemetar, salah – salah nanti pispotnya Oma Cheryl yang dilempar, hii.

"Sebutkan tabel Sin Cos Tan dan kerjakan soal vektor yang sudah saya tulis di depan."

Semua diam membisu.

'MAMPUS-APAAN-TUH?' batin mereka berdua.

Jack, Gil, dan Alice masih tetep cengo sambil mikirin 'apaan tuh vektor?'

Sebagian teler, sebagian ngupil, sebagian nyoret – nyoret buku tulis dengan gambaran Oma Cheryl dengan style chibi dan diikuti embel – embel Cheryl-chan, silahkan bayangkan sendiri.

"Psst, psst." Alice membisiki Jack dan Gil. "Berarti taruhannya gua yang menang, ya!"

Abaikan mereka, karena kelas XI.5 akan tetap hening sebelum Cheshire dan Break menjawab. Oh, Oma Cheryl. Sungguh terlalu, deh.

.

.

.


Sedangkan di kelas XI.4

"Su—sumimasen." ujar gadis itu dengan sopan.

"Perkenalkan dirimu." guru yang dikenal dengan nama Rachel Cecil itu mempersilahkan murid baru untuk memperkenalkan dirinya.

"Na—nama saya Mizuaki, salam kenal."

"AAAAH ELOOO! PANTES KAYAKNYA KENAL!" seseorang berteriak dari jejeran bangku dari belakang.

"Ah… Lotti?" Mizuaki mencoba mengingat – ngingat.

"Yop!" Lotti nyengir ala kuda nil. "Sini – sini! Duduk sini!"

"Terimakasih Lotti!"

"Tak apa, hehe. Oh ya, kenapa pindah sekolah kesini?" tanya Lotti.

"Err itu…"

"Ah!" Lotti menyela Mizu seakan tahu sesuatu, "gara – gara elo pindah serumah sama Michelle?"

"Ah, bukan. Tapi…" Mizu mencoba menjelaskan.

"Aah! Tunggu, tunggu!" lagi – lagi Lotti menyela, "Karena ada cowok ganteng di sini? Jadi elo bela – belain kesini?"

"Engga! Bukan itu, umm, begi—"

"ARGHH! JANGAN KASIH TAU GUE DULU!" bentak Lotti.

Hening.

"Oke gue nyerah, kenapa lo pindah kesini?" lanjut Lotti.

Mizu menghela nafas panjang. "Jadi, gini—"

"Bentar! Kayaknya gue tau!" sela Lotti lagi.

Oh, betapa inginnya Mizu menyelimuti Lotti dengan tepung roti lalu melemparnya ke wajan yang berisi minyak panas. Kini ia menyesali keputusannya duduk di sebelah Lotti.

.

.

.


Waktu istirahat, Ruang Komputer.

"WUAPAAAAAAAAAAH?"

Empat belas suara teriakan siswa berpadu menjadi satu —minus Echo.

"Gausah muncrat." keluh Pak Rufus Barma yang kecipratan hujan lokal dan hujan lokal susulan dari Elliot.

"WUAPAAAAH?"

"Udah, udah." Pak Rufus Barma stay cool sambil mengelapi ludah yang menempel di wajah tampannya.

"HUAPPPAAAAAAH?"

Sip, kayaknya mereka sengaja muncratin kearah Pak Rufus Barma.

"Pokoknya kalian harus, HARUS mengisi acara tersebut." terang Pak Barma.

"Kenapa harus kita sih pak?" tanya Oz.

"Perintah Pak Oscar, mana saya harus bantu kalian lagi. Haduuuh ngurusin kalian tuh capek tau ga sih…" curcol Pak Rufus Barma.

.

"Oh iya! Bapak kerja part time di provider Prihatin ya?" sentak Lotti.

"Kok kamu tau? Kamu yang godain saya ya?" tanya Pak Rufus Barma.

"Amiiiit!" Lotti bergidik jijik.

"Okelah, susun aja schedule acaranya, saya ikut aja. Acaranya dari jam 2 siang sampai maghrib." Pak Rufus Barma meninggalkan kumpulan anak – anak madesu tersebut.

"Err, kenapa harus kita sih?" tanya Elliot.

"Bagus dong! Artinya kita dikasih kepercayaan untuk mengisi acara." jelas Alyss.

"Huaaah! Jadi kita dibebasin sampe pulang sekolah untuk ngerancang jadwal pengisian acara?" tanya Gil yang bete karena lima ribunya raib diambil Alice.

"Bagus dong!" beberapa anak berteriak – teriak gaje saking senengnya.

"Err, oke! Durasinya 4 jam dan kita mau isi pake acara apa?" tanya Liam sambil membenarkan letak kacamatanya.

"Break?" Sharon menyadari tampang Break yang bete.

.

"Hng?" jawab Break pendek.

"Ada apa? Kok kusut banget mukanya?"

"Dijewer oma." ujar Break.

"I see." Sharon geleng – geleng.

"Kayaknya berlima belas orang kurang deh." sahut Eida yang disetujui oleh anak – anak lainnya.

"Oke! Gue panggil seseorang ya!" ujar Alice sambil ngacir.

"Gue juga!" tambah Lotti.

"Oh iya. Kan si Mizu pindah sekolah kesini!" sahut Michelle.

"Panggil!"

.

"Males ah." Michelle kembali guling – guling di lantai (?).

"Cheshire juga." ujar Jack dengan muka ditekuk (bisa emang?) dan tampang sebete – betenya karena dua puluh ribunya masuk ke kantong Alice.

"Jodoh." ujar Reo sambil mencorat – coret jadwal acaranya bersama Alyss.

"Yoo!" Lotti kembali ke ruang computer sambil membawa tumbal, eh, Mizu.

"Michelle!" Mizu melompat – lompat gaje menghampiri Michelle.

"Yooo!" Michelle memeluk Mizu lalu kembali berguling – guling dilantai (?).

"Oh ya, kelasnya pada di split ya?" tanya Mizu.

"Yop! Kelasnya berdasarkan nilai, sih." jawab Michelle dan tentu saja SANGAT MENOHOK bagi Lotti, Jack, Oz, Gil, dan Break. Untungnya Alice sedang keluar memanggil seseorang.

"Alyss, Liam, Reo dan Elliot berada di kelas XI.1, sedangkan aku, Sharon, dan Vince berada di kelas XI.2, di kelas XI.3 ada Eida dan Echo. Di kelas XI.4 ada Lotti dan kelas XI.5 ada Alice, Oz, Gil, Jack dan Break." lanjut Michelle.

"I—I see… aku di XI.4, berarti aku dodol…" keluh Mizu.

"E—eh! Aku ngga bilang gitu lho!" seru Michelle cepat.

"Yo!" Alice membawa tumbal keduanya.

"Erghhh! Ngapain lagi sih gue dibawa kesini? HAH?" bentak Cheshire ke Alice yang manyun – manyun.

"Bawel, gua aduin Reo nyahok lo! NYAHOK LOOO!" ancam Alice sambil menunjuk kearah Reo.

.

.

.

SYUUUUUUTTT, nyali Cheshire langsung ciut.

"Ha! Gabisa macem – macem kan lu!" tuding Break sotoy.

"Ufufufu, ada bahan troll." Vince memainkan guntingnya.

"Uh. Ngapain gue dibawa kesini?" tanya Cheshire untuk yang kedua kalinya.

"Jadi gini, kita disuruh ngisi acara bukber DAN ELO harus jadi tumbal kita." terang Gil.

"Dan kalo gue gamau gimana?" tanya Cheshire.

Sebuah senyum maut terukir di muka Reo.

"OKE! GUA MAU! GUA MAU!" pekik Cheshire sambil bergidik ngeri.

"Oh ya." Alyss mengganti topik, "Menurut lo, acara apa yang kira – kira kita isi untuk 4 jam?"

"BACA PUISI!" seru Elliot. Anak – anak PanCo teringat ke masa lalu mereka.

.

Flashback—

"HITAM! KELAM! MENGAPA HITAM? MENGAPA KELAM? MENGAPA HIDUPKU BEGINI? APA TUJUAN HIDUPKU? HITAM!"

End of Flashback—

.

"Gak deh, makasih." ujar Alyss dengan penuh sesal. Elliot manyun.

"Saran lain?" tanya Reo.

"Drama." saran Echo.

"Bagus!" ujar anak – anak PanCo serentak, Cheshire dan Mizu ngikut aja.

"Tapi kan, paling lama kira – kira cuma 2 jam. Sisanya mau dikemanain?" tanya Liam. Keliatan banget deh, yang mikir cuma beberapa orang, sisanya ngikut – ngikut aja.

"Gini aja. Kita dateng telat 2 jam. Kan pas tuh." saran Oz.

"Gue setuju!" Break angkat bicara.

"Gue juga, gapapa kan sekali – kali kita culas?" Michelle menimpali.

"Hhh, okelah." Alyss nyerah juga. Bukannya dia boss di PanCo, cuma otak dia aja yang paling jalan, makanya mimpin kongres ini.

"Naskahnya?" tanya Mizu.

"Umm, Eida ada naskah sih…" ujar Eida.

"LIAT!" Alyss semangat 45.

.

Masuk ke dunia khayalan Eida—

Seorang ibu – ibu tampak mundar – mandir di terminal bis, entah menunggu apa. Padahal banyak gelang emas yang menghiasi tangannya.

Mungkin tujuannya kesini bukan untuk naik ke kendaraan umum.

Ibu itu sepertinya mencari sesuatu, ya, sesuatu.

Pandangan matanya menyapu di sekitar terminal. Diliriknya anak kecil berbaju lusuh yang membawa jajan ta'jil.

Oh, seperti anak kecil itu berjualan.

Si ibu menghampiri anak kecil berbaju lusuh tersebut.

"Dek, dek. Harganya berapa ya?" tanya si Ibu sambil menunjuk kearah kelapa muda yang dijajakan si anak kecil berbaju lusuh tersebut.

"Seribu bu." jawab anak kecil tersebut dengan nada lirih.

"Tiga ratus lima puluh boleh ngga?"

Mata anak kecil itu membulat.

"Jangan ditawar…" ujarnya, sayup – sayup terdengar rintihan, dan…

BRUK!

"Dek? DEK?" pekik si ibu – ibu tersebut, anak itu ambruk, dan menatap langit yang luas, langit biru. Tempat dimana yang akan ia akan kunjungi dalam waktu dekat.

"Saya kena tumor otak bu… Kalo tiba – tiba kaget suka ayan sendiri." Terang anak kecil berbaju lusuh yang nafasnya tercekat, tak beraturan.

"TIDAK! TIDAAAK! KENAPA? HITAM! HI—"

End of Khayalan—

.

"Sebentar." Liam menginterupsi imajinasi mereka terhadap naskah Eida. "Kayaknya gue kenal deh kalimat terakhir."

"Apa gak terlalu… nyontek iklan?" tanya Oz.

"Sejak kapan tumor otak bikin ayan?" Elliot mengoreksi naskah Eida dengan seksama.

"Apa ga terlalu drama anak SD?" tanya Alice sarkastik. Eida langsung nangis plus pundung di pojokan.

"Gue sebenernya bikin sih, tapi…" Gil menggantungkan kalimatnya.

"LIAT!"

.

Masuk ke dunia khayalan Gilbert—

Seorang gadis menatap jendela kamarnya dengan tatapan sendu.

"Hiks… Kenapa ini semua harus terjadi kepadaku? Karena keegoisanku, Isabel marah kepadaku…" keluh Clara, gadis tersebut.

"Mungkin bukan Isabel yang menghilangkan pensilku… Seharusnya aku tidak menuduhnya terlebih dahulu." Clara menangis sesegukan, menyesali perbuatannya.

TOK TOK TOK.

"Masuk." ujar Clara.

Seseorang memasuki kamar Clara.

"Loh Clara, kenapa menangis?" tanya orang tersebut.

"Oh, umm. Eh, Isabel, ngapain kesini?" Clara nanya balik dengan nada ketus.

"Aku cuma mau balikin pensilmu yang hilang, maaf ya, gak ketemu. Jadi aku beli yang baru aja." ujar Isabel sambil menyerahkan pensil kepada Clara.

"Y—yaampun… ini kan pensil mahal."

"Iya, buatmu." Isabel tersenyum, dan Clara juga tersenyum hangat, lalu mereka berdua berpelukan.

END—

.

Krik krik krik.

"Lo yang nulis naskah?" nada kekecewaan tersirat di kata – kata Vince.

"I—iya… tuh kan! Gausah diliat!" Gil malu setengah mampus, mukanya merah, MOEEE! (?)

"Gil salah makan?" tanya Sharon khawatir.

"Drama anak TK banget." keluh Lotti.

Semua merasa iba atas kerusakan otak Gil.

"Aduh." Alyss ngerasa ada yang gak beres sama naskah – naskahnya. "Kita butuh drama yang banyak makan waktu, kayak Romeo and Juliet, Rapunzel, Cinderella, atau Little Mermaid! Kalo kayak naskah drama yang ada di buku – buku anak SD mah sama aja boong!"

"Jadi!" pekik Vince.

Mendadak, ada hawa buruk menyelimuti ruangan tersebut.

"Gue ada hawa buruk." terang Break.

.

Masuk ke dunia khayalan Vince—

"Tidak, tidak! Marco! Jangan!" pekik Himelda dengan suara yang menyiratkan kepedihan.

"Maafkan aku, Himelda." Marco berkata dengan penuh sesal. Ia meregoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah pisau lipat.

"Tidak, Marco. Kumohon, jangan sakiti aku, lebih dari ini." isak Himelda.

Terlambat, Marco sudah mengiris – ngiris kelingking Himelda dengan pisau lipatnya, lalu—

Skip ditengah – tengah naskah—

.

"Apa salahku? Apa salah ibuku?" Michelle bergidik ngeri membaca naskah Vince.

"Astagfirullah, puasa – puasa…" Jack menangis penuh sesal telah membaca naskah tersebut.

"Sebenernya pengen gua pake gergaji listrik daripada pisau lipat, sih." terang Vince.

"Awal scenenya kayak bokep ya." ujar Echo sejujur – jujurnya.

"Tolong jangan sakiti istri dan anak saya." Elliot sedang berlatih berperan menjadi Nazarbudin.

"Kita gak bisa gini terus." ucap Liam.

"Mu—mungkin menurut Mizu, kita harus percaya sama kekuatan temen – temen kita." Mizu menambahkan.

"Yang nggak percaya siapa emang?" tanya Jack. "Kita kan temen semua."

"Tapi," Alice menyela pembicaraan mereka. "Kenapa daritadi yang ngasih naskah anak XI.3 kebawah? Mana anak XI.1 dan XI.2 yang terkenal jenius itu? Siapa sih yang ngasih? Vince doang kan?" lanjutnya.

.

.

.

ZLEB.

Menohok? Tentu.

"Alice, gue gasuka ya elo bawa – bawa kelas." papar Alyss.

"Terus? Lo kira gue suka elo ongkang – ongkang kaki nilai naskah drama sekenanya?" tanya Alice sarkastik.

"Oi, oi! Tenang dong! Ini kan untuk kelancaran acara juga!" sela Break.

Hening, kali ini suasana benar – benar kacau.

.

.

.


"Keh! Mana pengisi acara sialannya? Udah telat 2 jam, KUSO(*)!" bentak pemuda tersebut sambil menodongkan AK-47 ke kepala Pak Rufus Barma yang terbilang cukup naas saat itu.

"Sabar, sebentar lagi." Pak Rufus Barma tetep setei kul sambil menghela nafas panjang.

"Kekekeke! Oi, kutu buku sialan! Kembaran elo nih! KEKEKEKEKE!" pemuda itu menunjuk – nunjuk seorang pemuda lainnya yang sedang membaca di pojok ruangan.

"Mou, Hiruma-kun! Jangan seperti itu. Taka, tolong abaikan dia." pinta gadis anggun disebelah pemuda yang bernama Hiruma. Hiruma hanya berdecak kesal.

"Hn." sahut Taka singkat, lalu kembali membaca bukunya.

"Hah, hah, maap telat!" pekik anak – anak PanCo bersahutan. Mereka keluar dari Limousine nan kece milik Cheshire.

"Dia naik mobil tapi kok capek ya?" tanya seorang pemuda cebol berwarma rambut caramel.

"Entah, mungkin mereka kagok untuk tampil di depan kita." sahut pemuda cebol juga, namuk warna rambutnya berwarna putih.

"YA~ Ayo kita mulai acaranya!" pekik gadis berambut pendek yang cenderung… berisik.

"Hah, hah." Alyss tersengal – sengal. "Kita bakal isi acara ini dengan drama, pak! Dan bapak bakal dapet peran penting." terangnya.

"This is madness." Gil memandang naas teman – temannya.

"Naskahnya?" tanya Pak Rufus Barma.

"Ga ada." ujar Alice sambil berkacak pinggang, nafasnya juga tersengal – sengal.

JRENG!

Seseorang menggenjreng gitarnya.

"Fuu, aku akan menjadi background music kalian." ujarnya.

"Hoi, hoi! Itu nggak smart!" pekik seorang yang mirip Elvis Presley.

"Perkenalkan, saya Akaba, dan ini istri saya, Isabel." ujar Akaba sambil mengelus – ngelus gitarnya.

"Bagus, kita ada background music!" semangat anak – anak PanCo mulai timbul. "Oke, kita mulai!"

.

.

.

"Ehm, ehm." Elliot sok – sok batuk (?) di depan mic nya. "Ha—halo! Saya Elliot, dan di sebelah saya ini Lotti."

Krik, krik, krik. Tak ada tanggapan.

"Dan kali ini, kami akan membawakan drama." lanjut Elliot.

Krik krik krik.

"Tau ah." Elliot lari ke backstage sambil berurai air mata bak ditinggal kekasihnya.

"Lah elo kenapa kesini? Baka!" sentak Alyss, yang lain hanya sweatdrop.

"Gue dikacangin." Elliot nangis meraung – raung. Rawr! (?) ia memeluk – meluk tiang backstage sambil bergumam 'hitam-mengapa-hitam-mengapa-kelam'.

"Oke, kita mulai saja yaaa!" ujar Lotti ceria, dan tepuk tangan riuh terdengar dari bangku penonton.

"TUH KAN! DIA DITEPOKIN! GILIRAN GUA KAGAK!" Elliot manyun semanyun – manyunnya.

"TERUS? SALAH GUE? SALAH NENEK GUA?" Alice sensian.

"Oke, langsung saja ya." Lotti melempar senyuman kearah para penonton dan mendapat respon mesem – mesem, lalu ia mulai berkicau.

.

.

.

"Ehm, oke! Suatu hari di Padang. Lebih tepatnya di desa pesisir, terdapat keluarga miskin yang beranggotakan Ibu dan satu anak. Ayahnya meninggal disaat anak tersebut masih balita."

"N—NHAA!(*) SEDIH BANGET!" isak pemuda berambut pirang yang duduk di barisan depan.

"Mizumachi, diam deh." seorang pemuda dengan mata menyeramkan yang duduk disebelah pura – pura tak melihat.

"Psst, psst, Oz! Naik ke panggung!" perintah Alyss dari backstage. "Terus lu acting kayak orang dodol gitu, plenga – plengo."

Oz naik ke panggung dengan plenga – plengo, dan..

ZRAT!

Tiba – tiba ada tali jemuran terangkat di panggung, dan sudah banyak kutang – kutang menggantung dengan manisnya.

"Anak itu bernama Malin Kundang. Ia adalah anak dari ibu yang bekerja sebagai pencari kayu bakar. Parahnya lagi, Malin Kundang ini penderita kleptomania, seperti suka mengambil – ngambil barang gitu." lanjut Lotti.

Oz pun berjalan kearah jemuran dengan mengendap – ngendap bak maling, lalu mengambil salah satu kutang. Dan ia langsung lari lagi ke backstage.

.

"Scene satu, sukses!" pekik Alyss, semua bernafas lega.

"Nanti saya ngomong apa?" Pak Rufus Barma mulai panik.

"Kalo bapak salah, saya kasih kode." ujar Liam santai.

"Kodenya?"

"SBS(*)."

"Okelah." tanpa mengetahui kepanjangan dari 'SBS' Pak Rufus Barma langsung naik ke panggung.

"Naik, Oz!" perintah Alyss.

"Scene duanya emang apa?" tanya Vince.

"Nggatau, kan gue asal tebak." ujar Alyss, sisanya jawdrop.

"Setelah berhasil membawa barangnya. Dengan cekatan Malin menyimpan dengan rapih di lemari koleksinya." terang Lotti.

Kini Oz berakting di scene kamarnya, ia menyimpan kutang yang ia baru saja curi.

"M—m… MUAHAHAHA!" Oz tertawa bak maniak.

"Emang ada adegan ketawa sarap?" tanya Alice di backstage.

"Gak deh kayaknya." sambung Jack.

.

TOK TOK TOK.

Pintu Oz diketuk oleh ibu – ibu yang rambutnya disanggul.

"Malin? Ini ibu, nak." ujar Pak Rufus Barma.

Oz membuka pintu kamarnya. Lalu, dengan aktingnya yang hiperbolis ia seperti mengeluarkan ekspresi terkejut.

"BUNDOOOO!" ujar Oz sambil mencium kaki Pak Rufus Barma.

"Iyo Malin, ini ibu." Pak Rufus Barma keenakan diciumin kakinya. "Kamu maling lagi, ya?" tanyanya.

"Ah bundo nih, kayak nggatau Malin aja." Oz tersenyum garing.

"Tapi itu tak baik, nak." Pak Rufus Barma mengelus rambut emas Oz, sungguh keibuan.

"Iya, bundo…" Oz berkata lirih.

DOK DOK DOK.

"Misi, misi! Ada Malin gak?" pekik Liam yang ternyata mengambil bagian dalam scene itu juga.

"Loh, Jamil? Ada apa?" tanya Rufus Barma selaku 'Ibundo'nya Malin.

"Kutang saya hilang lagi." keluh Liam.

DRAP DRAP DRAP.

"Bu! Mana Malin?" tanya Vince kasar.

"Kisron? Kamu kehilangan apa?" tanya Rufus Barma, membela Oz selaku anaknya.

"Lemon saya hilang!" keluh Vince. Lemon apa hayooo? Lemon apa? Mikirnya kemana hayooo? Lemon buah, kok.

"Malin! Kamu nyuri buah?" tanya Rufus Barma, Oz hanya mengangguk.

DRAP DRAP DRAP.

"Kali ini siapa?" tanya Rufus Barma yang berakting risih.

Ada Alice, Mizuaki, dan Eida yang berperan sebagai warga yang kehilangan barang – barangnya.

"Beha saya hilang!"

"Komik hentai saya hilang!"

"Idih, siapa yang ngoleksi komik hentai? GAK SMART!" pekik manusia Elvis Pretzel (?) jadi – jadian yang diketahui bernama Kotaro. Padahal koleksi komik hentainya segudang.

"Fuu." JRENG! Akaba memulai aksi dengan memetik gitarnya, perlahan tapi pasti, memberikan suasana ketegangan lewat gitarnya.

"E—eh… tolong jangan sakiti anak saya." pinta Rufus Barma.

Tapi Liam, Vince, Eida, Mizu, dan Alice udah ngambil ancang – ancang untuk ngegebukin Oz.

"KABUR OZ! KABUR LEWAT JENDELA!" perintah Ibundo Rufus Barma. Oz langsung melompati jendela yang ntah darimana datangnya.

"SBS! SBS!" pekik Alyss dan Reo dari backstage.

"Pak, harusnya tuh Malin! Bukan Oz!" ralat Elliot.

Scene pun berganti kembali, semua yang ada di panggung langsung menuju backstage, kecuali Narator.

.

"Malin ketahuan mencuri lagi, warga pun risih atas keberadaannya. Mereka tak berniat mengusir Malin, hanya saja Malin harus meminta maaf dan mengembalikan barangnya kepada warga. Tapi, Malin malah kabur." cerocos Lotti.

"HA! Drama apaan nih? Drama sampah!" ujar pemuda berambut gimbal seperti medusa yang duduk di bangku penonton. Ingin rasanya Lotti membuangnya ke laut.

"KUSO! JANGAN BERISIK, GIMBAL SIALAN! Ada cewek cantiknya! Kekekeke!" ujar pria berambut spike.

Tanpa disuruh dua kali, si gimbal medusa langsung duduk manis.

Kini mereka masuk ke scene selanjutnya, adengan dimana Oz dikejar – kejar oleh para warga.

"WOOOII MALIN! SINI ELOOO! JANGAN KABURRR!" pekik para warga dengan sok berisik, aslinya kan mereka kalem – kalem, yah, kecuali Alice.

Oz dengan gemulainya (?) lompat dari pelabuhan ke bagian belakang kapal yang sudah mulai jalan.

Lalu muncul Gil, Elliot, dan Jack dengan dibalut kain warna biru. Mereka tiduran di depan miniatur kapal tempat Oz, Break, Alyss dan Cheshire akan beradu acting.

"Ngapain mereka?" salah satu dari penonton yang memakai baju serba mesir bertanya – tanya.

"Entah." jawab rekannya yang botak dan mirip preman tanah abang.

Gil, Elliot, dan Jack masih tiduran di sana.

"Naaah, Malin berhasil kabur! Ia melompat kearah dek kapal yang sudah berjalan, artinya ia sudah lepas dari amukan massa! Walaupun ia belum mengucapkan kata – kata perpisahan kepada ibunya. Saat sudah menginjakkan kakinya di bagian kapal, awak kapal melihatnya dengan tatapan aneh." seru Lotti.

Alunan musik kembali terdengar. Akaba dan gitarnya memang pasangan paling klop. Ia memberikan aksen sedikit santai pada musiknya.

"Hei! Siapa kamu?" tanya Cheshire.

"Sa—saya Malin, pak! Saya pengen numpang ke Jakarta!" ujar Oz berakting takut – takut.

"Kasihan, pak. Biarkan saja." ujar Break.

"Iya pak, nanti dia bisa bantu – bantu disini!" Alyss membela Oz.

"Hmmm, ya ya. Kamu boleh numpang ke Jakarta, asalkan kamu ikut bersih – bersihin kapal." sahut Cheshire galak.

"Baik pak!" ujar Oz sambil berakting senyum. 'awas lo bentak – bentak lagi! Gua aduin Reo lo! Gua aduin lo!' batin Oz.

Disinilah akting Gil, Elliot, dan Jack dimulai.

KLEPEK KLEPEK KLEPEK!

"ASTAGFIRULLAH! DIA AYAN! SUZUNA! AMBIL KOTAK P3K!" perintah gadis berambut Auburn.

"Ma—Mamori-san, itu sedang memperagakan ombak, bukan ayan." laki – laki cebol berwarna rambut karamel itupun sweatdrop.

"Kurang properti." Elliot mengeluh sambil tetap memperagakan ayannya. Biar terlihat seperti ombak.

Jenius.

.

"Eh, eh." Alyss membuka topik pembicaraan. "Nama saya Tridjana, nama kamu teh Malin ya?"

"Iya, saya Malin. Kamu mau kemana?" tanya Oz.

"Abdi teh mau ke Surabaya, tapi mampir dulu ke Padang." keluh Alyss (buset jauh banget).

"Kalo nama kamu siapa?" tanya Oz ke Break, entah, pertanyaannya seperti maho.

"Nama saya Entis Sulaiman, dipanggil Joseph." ujar Break kalem.

"Salam kenal, mau kemana?"

"Ke Bandung. Eh, jangan kebanyakan ngobrol. Nanti bisa dipecut sama kapten." Break mengingatkan dengan nada horror.

CTAK! CTAK!

Cheshire sudah siap dengan pecutnya.

Tanpa ba-bi-bu, semua mengepel lantai kapal dengan hikmat dan suasana yang kondusif.

Dan naasnya, Elliot, Gil, dan Jack masih ayan.

.

"Setelah mengarungi lautan, Malin pun sampai di Jakarta, sedangkan Tridjana dan Joseph sudah berada di tempat tujuannya terlebih dahulu. Di Jakarta, ia bertemu dengan seseorang." Lotti mengambil alih ceritanya.

"Makasih ya pak!" ujar Oz, Cheshire hanya mengangguk, lalu meninggalkan panggung beserta kapal dan ombak – ombaknya.

"HUANJER CUAPEK!" keluh Jack yang udah mau patah tulang. Begitu pula Gil dan Elliot. Mereka capek bukan main.

"Sharon! Naik ke panggung!" Lotti memberikan kode.

Sharon dengan lenggak – lenggoknya berjalan di panggung berlatar pelabuhan itu.

"Hai, siapa namamu?" tanya Sharon ke Oz.

"Nama saya Malin, ada apa ya?" tanya Oz balik sambil melempar senyum mautnya.

Namun, tak ada yang tertarik dengan senyum mautnya. Yaiyalah, wong penontonnya mayoritas cowok.

"Mau kerja di tempat saya gak?"

"Boleh! Boleh!" Oz berakting senang bukan main.

"Oh iya, nama saya Syahrina. Oke, kalau gitu silahkan naik ke mobil saya. Alhamdulillah yaa kitab bisa ketemu." ujar Sharon. Dan secene itu diakhiri dengan masuknya Oz dan Sharon ke mobil mewah.

.

"Malin bekerja di agensi model Syahrina berkat wajahnya yang tampan—"

"Sampah!" potong si gimbal medusa.

"—tampan. Kini ia menjadi sukses. Dan memiliki boyband sendiri. Popularitasnya pun melonjak bukan main, dengan ini, Malin memiliki keberanian untuk meminang Syahrina." ujar Lotti.

JRENGGG.

Akaba menggenjreng gitarnya, kali ini lagu cinta.

.

Kali ini Jack yang menggantikan peran Oz, ceritanya si Oz udah dewasa gituuuu.

"U—um… Syahrina, bisa kita bicara?" tanya Jack.

"Bisa, ada apa?" tanya Sharon yang berganti nama menjadi Syahrina.

"Aku… suka sama kamu."

KRIK KRIK KRIK.

"Oh ya?" Sharon mencoba meyakinkan. "Sampai kapan kau akan mencintaiku, Malin?"

Jack berdehem sebentar. "Ehm, aku pernah jatuhkan setetes air mata di Selat Sunda. Di hari aku dapat menemukan air mataku kembali, itulah waktunya aku berhenti mencintaimu."

"Oooh." Sharon manggut – manggut kesenengan karena digombalin. "Kapan kamu akan melupakanku?" tanyanya lagi.

"Berusaha melupakanmu, sama sulitnya seperti mengingat orang yang tak pernah kukenal." ujar Jack sambil menggenggam tangan Sharon.

"Suit – suit." mulai ada yang bersiul – siul.

"Kalau suatu saat kamu hancurkan hatiku, aku akan mencintaimu dengan kepingan yang tersisa." lanjut Jack sambil mesem – mesem… tanpa mengetahui keadaan yang terjadi di backstage.

"Mati lo pegang – pegang pacar gue, mati lo." sumpah Break.

.

"Syahrina menikah dengan Malin, dan nun jauh di padang, sesosok ibunda rindu terhadap anaknya yang tak kunjung pulang." ujar Lotti.

"Malinnn, dimana kamu naaaaak?" Pak Rufus Barma berakting gaje dengan mengais – ngais lantai.

"Bu, bu. Ehm, bu." Reo menghampiri Pak Rufus Barma.

"Iya? Ada apa ya?" tanya Pak Rufus Barma.

"Mau kirim surat ga? Pake burung saya." ujar Reo. Entah mengapa kalimatnya seperti om – om.

"Burung… bapak?" tanya Pak Rufus Barma jijik.

"Maksudnya burung merpati milik saya." Reo sweatdrop.

Tangan Pak Rufus menari – nari di satu kertas, selesai menulis, ia memberikan kertas yang digulung ke Reo.

"Tolong kirimin ke Malin ya, anak saya." ujar Pak Rufus Barma dengan lirih.

Reo mengangguk.

.

"Surat itupun sampai kerumah Malin dan Syahrina." ujar Lotti.

"Wow, surat merpati." pekik Jack norak. Ia membaca surat gulung itu… dan menangis.

"I—ibu…" isak Jack.

"Ada apa, Malin?" tanya Sharon.

"Tak apa, Syahrina."

"Yaa, Alhamdulillah, ya." ujar Sharon.

"Tapi aku ijin ya, soalnya aku ada acara di kampuang(*) halaman." keluh Jack.

"Baiklah, tapi cepat kembali, ya." keluh Sharon sambil menitikkan air mata.

JRENGGG!

Kini Akaba menggenjreng gitarnya menjadi lagu mellow.

.

"Kini Malin sampai di Kampuang nan jauh di mato. Untuk menjenguk ibundonya tercinta." Lotti berdecak kagum (?).

"MALIIIIINNN!" pekik Pak Rufus Barma selaku ibundonya.

"Siapa kamu…" Jack mendadak amnesia.

"JAMIL! KISRON! TETANGGA! LIAT ANAK SAYA! UDAH JADI ORANG KAYEEE!" ujaer Pak Rufus Barma dengan logat betawi, oke, nyasar.

JEPRET!

"Dapat." ujar Stalker (baca: wartawan) yang bernama Echo, Jack yang dipeluk Rufus Barma tersebut ia upload ke jejaring sosial untuk dijadikan berita terpanas, 'Ibunya Malin ternyata gembel'.

KRING KRING

"Halo, say?" tanya Jack sambil mengangkat hapenya.

"KAMU! TERNYATA IBU KAMU GEMBEL!" sentak Sharon lewat hapenya.

"Loh… tau darimana?" Jack komat – kamit.

"Ada wartawan ngupload foto kamu sama ibu kamu yang gembel! Aku malu punya suami kayak kamu!" pekik Sharon.

"Tu—tunggu, Syahrina!"

TUT TUT TUT.

.

"Di tempat lain, Syahrina sedang galau." ujar Lotti. Nih orang... jadi narator teksnya pendek - pendek amat.

"Michelle!" panggil Sharon.

"Ya, nyonya?" tanya Michelle, cuma nama dia doang yang gak ganti.

"Urus surat perceraian saya dengan Malin." ujar Sharon ketus, kini ia bete sebete Syahrini dikacangin Anang.

"Baik." Michelle mengangguk.

"Sayaaaang~ hari ini kita kemana?" tanya Sharon ke seseorang.

"Terserah kamu aja say." balas Elliot genit.

Wow, craickpair.

.

"Malin pun shock saat mengetahui Syahrina mengkhianati dirinya, lalu ia melempar segala kesalahannya kepada ibunya." ujar Lotti dengan nada ketus.

"Ini semua karena engkau, wahai ibundo!" pekik Jack.

"Oh, tidak, Malin anakku." Pak Rufus Barma meletakkan tangannya di dahi.

"Oh, iya. Ibundo, INI SEMUA GARA - GARA IBUNDO!" tangis Jack pecah saat mencoba menghadapi kenyataan.

Yeh.

JRENG! Akabaka kembali menggenjreng gitarnya jadi lagu rock.

PLAKKK!

Sebuah tamparan mendarat di pipi sang Ibundo.

"Ma—malin…" rintih Pak Rufus Barma sambil berakting nangis tersedu – sedu, sedangkan pemain figuran seperti Gil dan Break nyaris mati ngakak.

"DIAM!" bentak Jack. "KAU BUKAN IBUKU!"

"Kalau kau anakku, AKAN KU KUTUK JADI BAKUL!" pekik Pak Rufus Barma.

"SBS GEBLEK! SBS!" pekik Alyss dan Liam bersamaan.

Whoops, sepertinya lidah Pak Rufus Barma terpeleset.

"Katanya bakul kan?" ujar Reo watados sambil melempar bakul ke tengan panggung, lalu Jack ditarik ke backstage seakan – akan menghilang alias berubah menjadi batu.

KRIK KRIK KRIK.

"Wo—wokeh, sekian dari kami, wassalam." Lotti nyaris nangis gak ada yang tepuk tangan.

.

PROK.

PROKPROKPROKPROKPROKPROK!

Tiba – tiba suara tepuk tangan ramai terdengar.

"Berhasil?" tanya Alice ga percaya.

"Iya." jawab Mizu pendek.

Yang cewek masih tenggelam dalam haru (minus Echo dan Alice).

"Wah, Akaba! Makasih udah mau main!" ujar Eida sambil tersenyum.

Yang cowok sibuk ngurusin masalah masing - masing.

"Maksud lo apa godain cewek gua tadi?" tanya Break ke Jack dan Elliot.

"Well done!" gadis berambut auburn itu tepuk tangan sambil memuji.

"Yah, tak buruk. KEKEKEKEKE! tahun depan kalian harus ngisi acara ini lagi, kuso."

Semua menatap Hiruma dengan pandangan emang-elu-siapa.

"Eh udah mau buka, siapa yang mimpin doa?" tanya Pak Rufus Barma.

"SAYA! SAYAAA!" Elliot dengan semangat mengambil mic.

"TIDAAAAAAAAAAAAK!"

Dunia Khayalan—

"HITAM! MENGAPA KELAM? MENGAPA HITAM? HAH?"

DUAAAAR!

"SPEAKER SATU MELEDAK, SAYA ULANGI! SPEAKER SATU MELEDAK!" pekik Break layaknya FBI.

"BUAT MUKAKU JADI GANTENGGG!"

DUAAAAAAAAAAR!

"SPEAKER DUA MELEDAK!" Break kembali berteriak – teriak.

"SIAPAPUN TOLONG BEKEP ELLIOT!" Reo terkena luka parah karena ledakan speaker, kakinya mendadak buntung.

End of dunia khayalan—

"Eh, udah azan."

"Yah, gue gajadi doa deh." keluh Elliot.

…semua orang malah bersyukur kalo elo ga doa, baka.

.

.

.


OH-MA-KE!

~1. Seandainya Rufus Barma adalah...

Sebuah tamparan mendarat di pipi sang Ibundo.

"Ma—malin…" rintih Pak Rufus Barma sambil berakting nangis tersedu – sedu, sedangkan pemain figuran seperti Gil dan Break nyaris mati ngakak.

"DIAM!" bentak Jack. "KAU BUKAN IBUKU!"

"MEMANG! AKU VOLDEMORT!" ujar Rufus Barma yang sudah berubah wujud ke makhluk tanpa rambut dan hanya berlubang hidung. Silahkan bayangkan sendiri. -by Shinju! XD

.

~2. Istri Akaba. (ES21!)

"Perkenalkan, saya Akaba, dan ini istri saya, Isabel." ujar Akaba sambil mengelus – ngelus gitarnya.

"Perkenalkan, saya Akaba, dan ini istri saya, Kotaro." ujar Akaba sambil mengelus – ngelus Kotaro, orang yang mirip Elvis Pretzel (?)

"GA SUDI!" semprot orang disebelah Akaba.

.

.

.

TBC!


Ya~! bertemu dengan Glo di c11! :D

Glo gatidur kemaren! BANGGA DEH HAHAHAHA (?)

Okelah di mix sama ES21, yang ga baca ES21 anggep aja itu OCku, oke? :D

Special thanks untuk Taviabeta Primavera, yang ada buat Glo.

Terimakasih untuk Yosu dan Shinju! Udah mau berbagi ide untuk dituluskan disini! HIDUP MANUSIA SEPTEMBER! HAHAHAA (?)

Dan terimakasih untuk Unevours / kelas 7.4 angkatan 2010/2011. You rock guys! Makasih udah mau mampir corat coret di kenangan Glo dan bikin drama supergaje tapi kocak!

Terimakasih untuk para pembaca, peripiu, pemfave(?) dan pengalerts! Kalian sudah mengihidupi cerita ini! Makasih banyak!

Terimakasih untuk SuccessKid dot com untuk gombalan - gombalannya! ^^

Terimakasih untuk Akita Beilschmidt karena ff 'Halftime' seriesnya sangat menginspirasi!

Gausah banyak cingcong deh, boleh minta sarannya? ga harus ripiu, PM/Twit/FB boleh! ^^ makasih udah menyempatkan dirinya untuk baca ini!


NOTEEEEE!

Dumbledore: Duh, kalo gasalah gurunya Harry Potter, iya ga sih? Glo ga nonton Harpot soalnya, Glo naksir sama jenggotnya doang.

Kuso: setauku mungkin umpatan / kata kasar gitu kali ya. :D gugel translet : fuu... shi*... begitubegitu

Nhaa: di ES21 si Mizumachi suka ngomong "Nhaa" mungkin sama kayak Deidara ngomong "Un".

SBS: Salah Bego, SALAH! /buatanGlo /abaikan

Kampuang: Err, cuma mengingat lagi masa kecil Glo yang gatau artinya, sounds similar sama Kampung, jadi Glo pake. Kampuang nan jauh dimatooo~ Aah kangen teka deh wkwk


Makasih udah mau baca!

Eh maafin Glo kalo punya salah yo~!

Dan maukah mengisi kotak kosong untuk ripiu? :D Haha, makasih yey udah mau baca ahihi~

u mad? O_o *ditabok*

kalo ada ide, bilang ya :D Insyallah bisa~!

See you on the next chappie! :D