Hallow temand – temand quwn nand imoedhh dan luthuw!

*digampar*

Ehm, Glo kangen banget sama kalian!

Dan Glo bawa c12 loh! Yaiyalah, kalo ngga, ngapain Glo kesini coba?

Anyway, based on… banyak. Banyak yang minta tentang masa lalu Michelle. Kalian ngerasa aneh gak chapter 12 baru diceritain masa lalunya? Ato malah harusnya gausah dibikin sekalian ya? .u.

Err, anyway. Kalo bisa sih masa lalu Michelle jangan di skip, tapi kalo mau ngeskip sih gapapa :D.

Special thanks to RnB family for the sweet and sour memories. :)

special thanks yang lain dibawah, ya!


Muah, balasan review!

Yosukegalih: HALO YOS! makasih menyempatkan diri untuk baca :D err... maaf untuk typonya, dan kyknya di sini bakal ada typo juga (?) aku ngetiknya buru - buru *teruskenapa* Wah, TS? kurang tau deh ya :) ANYWAY HEPI BEDEY YOSUKE GALIH VESSALIUSS WOOHOOO! Thanks for reading and for the review, 3 hopu u like diz chappie!

Dinlok: HALOOO! Makasih loh udah mau baca aw aw 3 maaf yaa aku nyampah di TL twitternya 3 ehm, eniwei, jangan ditahan! Ketawa ajaaaa (?) XD maafkan daku mengenai castnya, mian *sembahsujud* Iya gak lagi - lagi deh nambahin cast, maaf ya, paling cuma nambah 1 atau 2... *digampar* enhweyy! Makasih udah mau baca dan ripiu, hope u like diz chapter!

Taviabeta-Primavera: HAI HERMOSAAA! MAKASIH LOH FICTNYA DSALKFHLKSABDJKSV Oh iya, mengenai idenya, I'm saving the best for the last. Whaddya think? :3 untuk penutupan, aku insyallah pake cerita itu, gimana? Gimana? :D Doakan saja yaaa :3 unyunyu makasih lo cermettt! makasih udah mau baca + ripiu yah say!

AngieCarol: Halooo! :D Terimakasih udah mau mampir ya :D hiyaaah makasih udah bilang cerita ini uchul (?) XD aaaa lupyuuu! Iya ya, seandainya beneran terjadi... rela deh beli tiket untuk nonton dramanya (?) eniwei abaikan saya, sekali lagi makasih udah mau mau baca, mampir, dan ripiu cerita ini, ya! :D

Miki Yuiki Vessalius: Hai Miki~! Kyaaaa beneran seru? :D *jungkirbalik* Elliot disiksa juga part favoritku loh~! *teruskenapa* Mungkin aku harus banyakin peran Elliot disiksa ya? =A= (?) eniwei makasih udah mau mampir dan baca serta ripiu di cerita ini! Semoga suka sm chappie ini, ya!

nanana-i: Halo kak senpai! (?) Hiyaaa makasih udah mau mampir! :D Gyahahaha santai saja kaka! :D aku juga ga masuk pas kelas kaka tampil kan ya? Maafkan daku diriku dirinyaaaaa (?) hyahahaha speechless? Liatin muka akuh aja biar ga sepicless aw aw (?) Oke abaikan, makasih udah mau baca+ mampir+ ripiu! Semoga suka chappie yang ini, ya!

Penjemaan Authorjelek: Haiiii author... Oke, Hai author-san! (?) terimakasih sudah mau baca fic abalism ini! XD Iyaaa aku masukin ES21... dikit aja... dikit aja... *padahal makan porsi setengah cerita, hmp* Maafkan daku jika tak sreg! XD Hyahaha untuk puisi Jack, ada creditnya di bawah! Ada nama webnya sih kalo gasalah, buka aja, pny orang tuh XD eniweyhh makasih udah mau baca + mampir + ripiuuu! sayangkamohhh! (?) 8D

Camparella: Haloooo Shinju-san! *pelukcium* makasih udah mau ngasih ripiu disini, loh! XD hemmm, untuk scene, ada beberapa yang bakal ku pake untuk bday gift... mungkin? :D HYAHAHAHA TUNGGU SAJA! MUAHAHAHAH! MUAHAHAHAHAHAH (?) Ehm, untuk c11. Maafkan daku! Mungkin bakal kuganti sama figur tokoh aja... Yang lagi ngetrend! Okelah, makasih untuk saran + udah mau baca + ripiu + sempet mampir! lopyuww!

KoroCorona: Halooo! :D makasih udah mau mampir kesini yappp hahaw~ untuk idenya boleh dicoba tuh! :D Kyaa ditunggu aja ya! Untuk ide yang di DM mengenai pairing, belom bisa ku apa - apain kayaknya :( liat aja kedepannya ya, hyahahaha~ Simak terus ya cerita abal - abal ini~! XD thanks udah mau mampir + baca + ripiu! Makasih banyakkkk!

hana-chan kirei: HALO HANAAA HAHAHAH (?) MINGGIR KAMOH! AKABAH PUNYAKOOOOHHH! (?) Emm... untuk ES21nya, ini kan FPHI jadi merasa bersalah aja gitu lho :( maafkan aku kawan - kawan, maafkan daku beta katong (?) Katong apa lagi hem. HYAAAAA AKU GATAU BAHASA MINANG tapi kalo bahasa palembang ayokkk! (?) Eniwei makasih ya han-senpai udah mau baca plus mampir plus ripiu!

Tsukiyomi Amu-Chan Hinamori: Haiii! :) Makasih udah mau mampir! Wah Glo seneng kalo ada yang baca, deh! :) eniweyh... untuk yang Fb, udah kan? :) yang DM juga udah kan? well, kutunggu fic ficnya lagi loh :D sekali lagi terimakasih udah mau mampir + baca + ripiu, ya!


Okay, let's start the fict!

.

.

.

Everything

/saking malesnya kasih judul, BEGINI DEH AHAHAHHAHHA/

.

.

.


"Cis, kerumah paman mesum itu?" tanya Break.

"Yaudahlah, kita harus bilang makasih karena udah biayain kita jalan – jalan sampe ke Paris." ujar Alyss.

"Gapapa! Sekalian bolos sekolah!" sahut Lotti culas.

"Silaturahmi sih iya… TAPI KAN RUMAHNYA DI BANDUNG! KITA DI TANGERANG! GILA LO! TIDUR DI MANA KITA? EMPERAN?" bentak Gil.

"Sante aja kali, Mbak." ujar Jack menenangkan.

"Kita bisa numpang tidur di sana." usul Oz.

"Euh… apa itu sopan?" tanya Eida takut – takut.

"Kasian, Pak Oscar udah ngundang kita." sahut Sharon dengan mata nanar.

BRUK!

Echo membanting pintu dari luar.

"Wess, nyante mbak." Alice kaget.

"Pak Rufus Barma sakit mendadak." ujar Echo.

"KOK BISA?"

"Maag." jawab Echo.

"Itu anak dua ajak ga?" tanya Elliot.

"Anak dua?" Reo bingung sendiri.

"Maksudnya… Mizuaki sama Cheshire?" tanya Liam.

"Upin Ipin, yaiyalah! Siapa lagi coba?" Elliot emosi.

"Yaudah, Michelle! Panggilin Mizu sama Cheshire dong!" pinta Sharon.

KRIK KRIK KRIK.

"Ka—kayaknya ga ada Michelle deh daritadi…" ujar Eida gelagapan.

"Gue panggil deh, nanti Cheshire sama Mizuaki dijemput aja di rumahnya, yang lain masuk ke van, ajak Pak Rufus Barma sekalian." sahut Vince.

"Lah, yang nyetir siapa?" tanya Oz.

"Gue aja. Tapi nyetirnya serampangan." ujar Vince sambil berlalu.

.

.

.


Kelas XI.2

Seorang gadis berwarna rambut pirang dengan irisnya yang berwarna biru langit sedang menatap sayu ke salah satu meja di pojokan kelas.

"…huruf terakhir… Y!" ujarnya senang.

Michelle kembali memandangi sudut meja tersebut, ada sebuat coretan menggunakan marker berwarna biru langit bertuliskan K. C. B. J. . B. Y. Merasa ada yang memperhatikan,"Ada apa kesini?" tanya Michelle. Ketus banget nadanya.

"Engga, gue cuma manggil elo doang, kan kita mau pergi ke Bandung." ucap Vince lirih. "Lagian, kenapa lo ga ikut rapat PanCo? Kan anak – anak udah pada pulang."

"Oh, itu… Hahaha, ayok kita pergi aja sekarang!" Michelle mengalihkan topik.

Vince tak tahu apa alasannya, tapi… yasudah lah.

.

.

.


Di Van.

"Naik – naik ke puncak gunung, tinggi – tinggi sekali." beberapa anak bernyanyi sarap saat memasuki tol.

"Kira – kira rumah Pak Oscar kayak apa ya?" tanya Break yang laper, iya, ganyambung banget.

"Peduli amat rumahnya kayak gimana." sahut Elliot.

"Cheshire tinggal di mana?" tanya Vince yang mengemudi.

"Dia tinggal di rumah gue." ujar Alice sambil duduk anteng di sisirin sama Sharon. Kayaknya abis diancem sama Sharon.

JEGERRRR

"GUNUNG MELETUS! BUMI GONJANG – GANJING! MANUSIA BANGKIT DARI KUBURNYA! UOOOOHHH!" Jack, Oz, Gil, Elliot, Break, dan Vince spontan menjerit seperti banci taman lawang.

"Lebay aja." (*) Alyss sweatdrop.

"MATI! SIAPA YANG BAKAL MANGGIL DIA DARI MANSION NERAKA ITU?" Gil nangis di pangkuan Oz dengan lebaynya, ingusan lagi.

"Najong, gausah ingusan!" bentak Oz.

"Yaudah sih manggil Cheshire doang." Liam malu punya temen kayak mereka (?).

"GUE ENGGA! GUE GAMAU!" Break mojok.

"Gue nyetir, jadi gabisa manggil." elak Vince.

"Gue lagi nenangin Gil, kasian dia." Oz pura – pura nangis.

"Alasan tingkat rendah." Reo sweatdrop.

"Gue harus jagain Pak Rufus Barma, kasian." Liam rupanya takut sama Om Glen.

"Err… gue… gue… harus bantu Vince! Iya! Bantu Vince!" Elliot semangat 45.

"Bantu apa?" tanya Vince.

"GATAU! SERAH ELU!" Elliot sembah sujud (?).

"Yang cewek? Ga ada yang mau?" tanya Reo.

Eida, Lotti, dan Echo geleng – geleng.

"Sibuk!" teriak Alice dan Sharon berbarengan.

"Duh, nggak deh." tolak Alyss.

"Err, gue? Gue kan ga terlalu deket sama Cheshire ato Om Glen. Elo aja ya, Re. Heheheh." Michelle cengengesan.

"EEEH! ITU CHESHIRE BUKAN? CHESHIRE BUKAAAN?" Oz heboh nunjuk – nunjuk kaca van yang berhadapan dengan Mansion Om Glen.

Bener aja, si Cheshire lagi duduk sambil membuat gunung (?) (gunung apa hayoooo) gak deng, lagi duduk di sebuah bangku yang ada di taman mansion itu.

Dan dia gak sendiri.

Seorang gadis hadir menemaninya bagai bidadari yang turun dari khayangan, sangat berbeda dengan Cheshire yang seperti tampang kriminil. Oke, ampun.

Mereka bercanda tawa sambil cubit - cubitan, apa mungkin mereka baru aja kenalan lewat fasilitas Chat 'N Date? Eh? Masih jaman?

"Wah, si Cheshire anak baru aja udah belagu. Masa langsung dapet cewek?" Break terusik terhadap kebahagiaan yang Cheshire alami.

"Sodok aja pake garpu." usul Reo.

"Si Ches anak mana sih? Belagu amat! Ntar gua cegat di Prapatan Cikoleang!" Elliot sirik setengah mati.

"Emang Prapatan Cikoleang di mana?" tanya Lotti.

"Nggatau." bales Elliot kalem.

"MATA ELU BUTEK APA GIMANA? ITU MIZU! MIZU!" bentak Liam.

.

.

.

Semua menganga.

"Haidiiih kok Mizu mau main sama dia?" tanya Jack.

"Peduli amat! Jemput sana! Ajakin kerumah Pak Oscar!" bentak Lotti yang sebenernya cemburu tingkat mampus.

"Echo, foto gih. Ancem aja kalo gamau ikut ntar disebar fotonya," usul Gil yang TUMBEEEEEEN otaknya jalan.

"Baik." Echo bertugas untuk jeprat – jepret dan ngancem.

.

.

.


Sejurus (?) kemudian.

"Done." Echo kembali ke van dengan membawa dua insan yang dimabuk asmara, oke, author ngaco.

"NJIR! MASA GUE DIFOTO SAMA DIA?" bentak Cheshire yang masih mencoba merebut kamera Echo.

"Terus? Peduli? Elo curhat gitu? Merasa penting?" tanya Elliot bertubi – tubi. Bertubi – tubi – tubi yang kurasakan~ cialah, lagunya siapa tuh? D'bag*ndas? Oke, Glo. Fokus. Fokus.

"Yaudahsih gasuka banget liat hari – hari gue tentram gitu!" Cheshire masih kalang kabut ngambil kamera dari Echo, sayangnya, Echo cekatan dalam menghindari Cheshire. Di sisi lain, muka Mizu merah kayak abis digamparin warga satu kecamatan. Gak deng, merah merona karena malu, aw aw.

"Ches, diem." perintah Reo dingin.

DEG.

Tanpa disuruh dua kali, Cheshire langsung diem.

"Wuih, ajaib!" puji Eida.

Kalo langsung nurut gini, mungkin Ches bisa diperintah seperti : 'Ches, berguling!'. Eh… kayak guk guk.

"Oke, mau lo semua apa?" Cheshire merinding tingkat ajeb – ajeb.

"Lo harus ikut kita..." Vince menggantung kalimatnya.

"…ke rumah Pak Oscar, atau…" Jack juga menggantung kalimatnya.

"…foto lo lagi berduaan sama Mizu bakal disebar!" ancam Break.

"Emang kalo disebar kenapa?" tanya Cheshire dengan nada menantang.

"Oh, gatakut?" Oz nanya balik.

"Ntar gue tambahin embel – embel 'Seorang siswa kelas XI.5 mencoba memperkosa siswi kelas XI.4' terus nanti lu dikirim ke Arab sama Pak Oscar, terus nanti lu dihukum pancung disana, terus lu dirajam, terus…" cerocos Elliot.

"OKE, OKE! Fine!" Cheshire gedek setengah mampus.

"Emangnya Cheshire sama Mizu kenapa harus ikut sih?" tanya Sharon yang akhirnya angkat bicara karena ada yang mengganjal di hatinya. CIE.

"Ya untuk disuruh – suruh lah!" tukas Alice.

"Pasti tuntutan skenario!" potong Eida.

"Singkatnya, jadi babu gitu ya?" Mizuaki sweatdrop.

"Gak," Alyss mengambil alih pembicaraan. "Karena mereka anggota PanCo yang ke 16 sama 17."

Semua terdiam.

Beberapa tersenyum hangat, beberapa senyum – senyum najong kayak homo. Mereka berpegangan tangan, muter – muter, lalu menatap indahnya langit. Mereka pun melihat matahari yang lebih mirip sama kepala bayi. Mereka kembali ke rumah mereka yang berbentuk setengah lingkaran, dan makan kue tabi yang keluar dari mesin, bunyi mesin itu seperti 'crot – crot'.

Oke, author ngaco, ga fokus. Nyasar ke telebabis.

"Karena mereka anggota PanCo ke 16 sama 17." ulang Alyss, biar dramatis.

"Gausah diulang nyet, gue denger." bentak Alice.

"APASIH GA SENENG BANGET LIAT SUASANA DRAMATIS GINI!" Alyss menjambak rambut Alice.

"APA LO! GUA ADUIN MAMAK NIH!" gertak Alice.

"ADUIN! GUA GA TAKUT!" tantang Alyss.

"LAPANGAN KOSONG WOY!" sahut Alice emosi sambil lempar sepatu.

"TERUS? PEDULI GITCHU? OMAGA!" ujar Alyss sok gawl*.

"YAUDAH SIH RIBUT AJA!" Liam yang jangkung dan memiliki jiwa kebijaksanaan melerai mereka berdua yang tingginya imut – imut dengan menarik kerah bajunya ke belakang.

"Uhuk, uhuk. Jalan nak, jalan." perintah Pak Rufus Barma yang BAHKAAAAN tidak diketahui jika ada seorang Rufus Barma di dalam van itu. Diem mulu sih lo.

.

.

.


Tol Cikampek, gatau? Sama.

Oke, posisinya gini.

Vince di posisi supir, Michelle duduk di samping Vince sebagai navigator, tau ngga? Author ngga tau. Pokoknya yang nunjukin jalan aja. Tapi sebenernya di tol kan cuma lurus doang? Kenapa mesti ada navigator deh…

Break, Jack, Gil, Oz duduk leyeh – leyeh di sembarang tempat (?). Tadinya sih mau sama pacar masing – masing bagi yang punya pacar. Sayangnya ada hama (baca: Pak Rufus Barma) yang mengawasi mereka biar ga macem – macem.

Elliot, Reo, Eida, dan Echo duduk manis sibuk dengan gadget dan buku. Elliot baca majalah coretplayboycoret untuk remaja yang berisi tentang Vanessa Hudgens dan sejumlah artis barat lainnya. Reo ngebaca buku '99 Hari Menuju Kesuksesan'. Eida sibuk dengan ponsel miliknya, sedangkan Echo sedang sibuk dengan SLR miliknya.

Alice dan Alyss masih berdebat, mereka duduk disebelah Sharon dan Lotti yang masih kasak – kusuk gossip tentang hubungan Cheshire – Mizuaki.

Cheshire dan Mizuaki duduk ngga dempet – dempet amat. Masih ada space lah. Terlihat mereka sibuk berkutat dengan hape masing – masing. Liam lah yang paling apes karena disuruh ngejagain Pak Rufus Barma, jadi dia gak bebas kemana – mana.

Tapi, diantara delapan belas insan tersebut, Michelle lah yang mukanya terlihat paling galau, muka Vince terlihat lebih mellow dari biasanya, dan muka Elliot yang terlihat paling najong karena senyum – senyum sendiri sambil baca majalahnya.

Suasana begitu ramai di bagian belakang van, hanya Michelle dan Vince yang terlihat diem – dieman. Atau karena mereka belum mencoba memakai fasilitas Chat N' Da—OMG FOKUS. FOKUS!

Vince melirik kearah pergelangan tangan Michelle.

"Hm, Vince? Lo harusnya liat ke arah jalan, awas kalo nabrak." ancam Michelle.

"Masih lo pake jam itu? Udah buluk kali. Udah lama gak diganti." Vince terkekeh pelan.

"Biarin." Michelle memandangi jam yang melingkar manis di pergelangan tangannya. Jam berwarna biru pucat tersebut merupakan saksi bisu diantaranya dan Vince.

Vince…

Jam itu juga yang dapat membawanya ke sebuah pecahan dari memorinya, dimana hanya Michelle yang bisa melihat betapa pahitnya bagian – bagian memori tersebut untuk dikenang, tetapi terlalu manis untuk dilupakan.

Perlahan, Michelle kembali menyusun ingatan – ingatan bersama seseorang yang duduk di sebelahnya. Ia menghela nafas panjang, dan…


Flashback

Hanya sahabat.

Dua kata yang cukup bikin nyesek, bagi seorang Michelle Relessai.

Gimana engga?

"Vin…" Michelle menatap orang yang berada di sebelahnya, Vince.

"Oi?"

"Nggapapa nih, gue dibayarin nonton?" tanya Michelle ragu.

"Nggapapa kali, kan sahabat." Vince terkekeh pelan.

.

"Vin…" di dalam bioskop, Michelle malu – malu memanggil Vince.

"Kedinginan, ya?" tanya Vince, Michelle hanya mengangguk pelan. Vince membuka jaketnya, lalu memberikannya kepada Michelle.

"Err… er… nggapapa nih?" Michelle ragu – ragu mengambil jaket Vince.

"Nggapapa lagi, kan kita sahabat."

.

Ga cuma sampe situ.

"Vin…" cegah Michelle.

"Mbak, nanti makanan dia saya yang bayar ya." potong Vince. Waitress itu mengangguk. Lalu waitress tersebut menyodorkan brosur.

'Discount 15% untuk sepasang kekasih.' begitu tulisannya di brosur tersebut. Vince langsung tersenyum lebar, lebih lebar dari pantat Barney si dinosaurus ungu.

Sedangkan Michelle masang senyum paling kecut.

"Chel, diskon Chel! DISKON!" bisik Vince yang sebenernya kedengeran sama waitress tersebut.

"Ya—yaudah." Michelle ngangguk – ngagguk bae.

"Mbak, jadi, diskon 15% kan?" tanya Vince culas.

"Anda berdua sepasang kekasih?" balas waitress tersebut. Vince ngangguk – ngangguk, Michelle dengan terpaksa ngangguk juga. Lalu mbak waitressnya ikutan ngangguk (?) dan meninggalkan mereka berdua.

"Ma—makasih." ujar Michelle dengan pipi bersemu merah.

"Nggapapa lagi, kan kita sahabat." balas Vince sambil tersenyum yang tulus… mungkin?

Michelle langsung tersenyum kecut. Sebenarnya, ia berharap lebih…

.

Dan belom selesai.

"Aduh, gimana nih?" muka Michelle langsung pucat sehabis menelpon.

"Kenapa, Chel?" tanya Vince yang berjalan di sampingnya.

"Ngga ada yang jemput gue… gimana dong?"

"Hmmm…" Vince berpikir sejenak. "Gue bawa motor sih, mau?"

"Ka—kan gue gaboleh naik motor." keluh Michelle. "Nanti nyokap marah." lanjutnya.

"Yaudah, gue anterin naik taksi aja, ya?" ujar Vince.

"Err, Vin… Nggapapa nih?" tanya Michelle.

"Nggapapa kali, nyante aja." balas Vince sambil mencoba mencari taksi.

"Ma—makasih." ujar Michelle dengan suara kecil. Tetapi didengar oleh Vince.

"Sama – sama, kan kita sahabat." sahut Vince.

Ini baru sehari. Sedangkan mereka udah sahabatan lama banget, rasanya gimana coba… kalo misalnya tiba – tiba Michelle ditinggal?

.

.

.

Semua berjalan seperti biasa, sampai ada sebuah komunitas yang menghancurkan dirinya.

"Vince!" sapa Michelle.

"Eh, Chel…"

"Mau jalan nggak hari ini?" ajak Michelle dengan malu – malu.

"E—err… Chel, gue ada acara keluarga hari ini, lain kali aja, ya?" pinta Vince.

"Okelah." balas Michelle dengan nada kecewa.

Tetapi, bagaimana kalau Vince berbohong?

.

.

.

"Cuz every time I think about you, I think about pain. I remember every single word you'd say. Like de ja vu, you say we're through." Michelle menyanyi, yah, tanpa seseorang pun yang tahu untuk siapa lagu itu ditujukan.

"And now that's all I think about, when I think about you. And it burns…And It burns…" lanjutnya. Kalo Michelle galau, dia emang biasa nenangin diri untuk nyanyi sendiri di karaoke box, dan pasti lagu itu.

Pasti.

Michelle pun keluar dari karaoke box tersebut, senyum yang mengembang tiba – tiba berubah drastis menjadi senyum menahan tangis.

Itu Vince.

Gandeng cewek. Rambut pink belah tengah.

"Ga—gausah gandeng kali, Vin." cegah perempuan itu.

"Nggapapa kali, kita kan sahabat." ujar Vince santai.

Di belakangnya banyak orang – orang, sekitar… sekitar… belasan orang, mungkin.

"Bu—bukannya dia ada acara keluarga?" gumam Michelle sambil melihat Vince. Dan ternyata Vince sadar jika diperhatikan seseorang. Vince terkejut melihat Michelle dengan muka merah, bukan, bukan karena malu. Ekspresi Michelle menandakan ia menahan tangis, marah, benci.

Semua emosi Michelle nano – nano. Asem kecut.

"Sebentar." bisik Vince kepada rombongannya, lalu berjalan kearah Michelle. Sedangkan rombongannya udah mencar – mencar nggatau kemana. "Err… Chel. Tadi ternyata nggajadi ngumpul keluarga."

"Kenapa gak ngabarin gue?" tanya Michelle.

"Pulsa gue abis." elak Vince.

"Kenapa ga kirim surat lewat kantor pos?"

"Iya, nyampenya minggu depan kalo lewat kantor pos." balas Vince sambil tersenyum kecut.

"Elo bosen sama gue?" tanya Michelle.

"Ga gitu, ja—jadi gue udah menjadi bagian dari Pandora Community." jelas Vince. Kini Michelle yang tersenyum kecut.

"Good luck with that." ujar Michelle dengan malas.

"Yep, and I want to give you this." Vince menyodorkan sebuah kotak transparan berisi jam tangan berwarna biru pucat.

"Untuk apa?" tanya Michelle sambil mengambil kotak tersebut dari tangan Vince.

"Kado perpisahan." jawab Vince enteng.

.

Marah? Kecewa? Iya.

Marah karena apa? Marah untuk kebahagiaan sahabat sendiri?

There's ex-boyfriend or ex-girlfriend tapi nggak ada yang namanya ex-friend di persahabatan. Nggak lucu aja kalo seandainya ada ex-friend dan orang pada ngomong 'itu bekas temen gue'.

Michelle bingung, kecewa. Dia cuma jalan entah kemana, yang jelas jauh, jauuuuuuuh banget dari Vince dan temen – temen barunya.

Sampai langkahnya berhenti di kedai kopi yang berada di lantai bawah di mall tersebut.

"Loh, Michelle?" sapa seseorang berwarna rambut cokelat.

"Sha—Sharon?"

"Sini – sini." Sharon mengajaknya duduk. Yep, saat itu Sharon belum masuk Pandora Community. "Elo nangis?"

Michelle menggeleng pelan, dan Sharon mengeluarkan death glare miliknya agar Michelle bercerita. Michelle menghela nafas panjang, lalu mulai bercerita dari awal kejadiannya. Sharon menyimak cerita Michelle hingga habis.

"Yah, gitulah." ujar Michelle di akhir cerita. Sharon tidak mengomentari cerita Michelle, hanya duduk diam sambil menyesap kopinya.

Mereka duduk tanpa berbicara sepatah – kata pun setelah cerita Michelle berakhir.

Michelle pun mengutak – ngatik jam tersebut, ternyata di belakangnya ada sebuah tulisan.

.-[7(81):7(4)""7(4)]

.

.

.

Pandora Community nggak berakhir disitu aja.

Malapetaka terjadi lagi disaat Sharon jadian dengan Break.

"Berarti Michelle masuk PanCo juga kan?" tanya Sharon.

'Oh, God. Gausah bawa – bawa gue masuk ke komunitas itu!' rutuk Michelle dalam hati.

Namun, nasib berkata lain. Semua mengangguk dan setuju.

Dan Michelle kembali memasang senyumnya yang paling basi yang pernah ada.

"Sst, sst." Vince memberikan sinyal kepada Michelle dari kejauhan agar Michelle menghampirinya.

"Apa?" tanya Michelle yang menghampiri Vince yang berada di bawah pohon.

"Jadi… elo masuk PanCo?" tanya Vince basa – basi sambil menyalakan rokoknya.

"Iya." balas Michelle pendek.

"Kenapa? Bukannya lu benci anak – anak yang nyari eksis kayak Pandora Community?" tanya Vince lagi, lebih tepatnya, nyindir.

"Demi sama – sama kayak dulu lagi, kenapa ngga?" jawab Michelle sambil 'tersenyum'.

It burns? Setuju dah, setuju.

.

.

.

End of Flashback

Mari kita kembali ke realita.

"Hahaha." Vince tertawa hambar. "Nyante aja kali, mbak."

"Udah liatin jalan, gausah ngobrol dulu." ujar Michelle.

"Ada yang galau, ada yang galau~" sindir Break kepada Michelle.

"Enak aja." balas Michelle.

"Ada yang galau?" pekik Elliot. "NYANYI AH!"

.

OH NO!

"MARI KITA TELANJANG DI ATAS RUMPUT DAN BERGOYAAAAANGGG!" Elliot nyanyi lagu Ebiet G dengan ngaco…

"Ngaco!" potong Alyss sambil ngegeplak Elliot.

"APASIH LO SIRIK AJA! ENGGA PUNYA SUARA BAGUS KAN KAYAK GUE? MAKANYA ELO SIRIK? HAH?" bentak Elliot

"Diem deh." Reo mencoba melerai mereka berdua.

"Salah lagu, ya?" Elliot kembali bernyanyi. "KESANA KEMARIII MEMBAWA ALAMAT, JENG JENG! NAMUN YANG KUTEMUI BUKAN DIRINYA~~" ia menyanyikan lagu Ayu Tangtingtangtingtung, ituloh, yang jadi iklan di tv.

"Boleh liat jam tangannya?" pinta Vince. Michelle memberi jam tersebut kepadanya.

Disaat tangan Vince meraih jam berwarna biru pucat tersebut…

.

.

.

"AAAAA SETIRNYA JANGAN DILEPAS, GOBLOK!" bentak Michelle yang langsung berubah jadi siluman macan (?).

"AAAAAAAAA KITA BAKAL MATIII! MATIIIIII!" teriak anak – anak PanCo dan Pak Rufus Barma, minus Echo yang mungkin pasrah…

"MATI? KITA BAKAL MATI?" tanya Elliot. "MATIII AKUUU! AYAHKU TAU! AKU SEDANG BERDU—"

"NYANYINYA NANTI AJAAAA!"

Vince langsung melepas jam tersebut, lalu membanting setir van tersebut ke kiri dan menginjak rem kuat – kuat.

"AAAAAAAAA!"

CKIIIIITTTT!

Van berhenti dengan sukses dengan posisi ngeblokir jalan tol.

"Mati kita, mati…" Michelle yang duduk lemas setelah van tersebut berhenti dadakan.

"DODOL!" semprot Jack. "KALO TADI KITA MATI GIMANA?"

"Ya kubur lah, nenek – nenek yang lagi kayang juga tau kali!" sahut Oz.

"Saya ngga tau, tuh." ujar nenek – nenek sambil kayang tiba – tiba lewat.

"Kok dia muncul?" tanya Alice.

"Tuntutan skenario, cing cay lah." sahut Eida.

"Sori, sori." Vince menghela nafas panjang. "Gue khilaf."

"Lo khilaf?" tanya Break. "Hai! Gue Break!"

"Gue Gil yang benci sama kucing!" Gilbert jebe – jebe* dan ganyambung.

"Gue Elliot." Elliot jebejebe* sambil menyibakkan poninya.

"YATERUS? MERASA PENTING ELO, EL? APAAN SIH LO SOK JOIN BARENG GITU DEH SAMA ANAK – ANAK GAUL KAYAK GUE GITU AWWW MAYY GADH!" bentak Reo *tunggu, bentak?*.

"RIBUT? AYO RIBUT!" balas Elliot.

"AYO! LAPANGAN KOSONG TUH! GUA TUNGGU LU!" tantang Reo.

"Ngapain di lapangan?" tanya Elliot polos sepolos hati sang buah hati AWWWW.

"Ngepet. YA BERANTEM LAAAH HELLO GA GAWL BANGEDH LOE." Ujar Reo sambil menyibakkan poninya walaupun gak keliatan matanya.

"TERUS? HELLOOOOO PENTING YA?" tanya Liam dengan logat gaul, oh no, the next Elliot.

"Yang penting kita nggak mati." Mizuaki mencoba melerai.

"Bener tuh kata pacar gue!" bela Cheshire.

"Siapa juga sih yang nyalahin pacar elo?" balas Lotti.

"Ada polisi." tunjuk Echo ke arah kaca.

.

.

.

NGUIIINGG – NGUIIIIINGGG!

"BERHENTI DI SANA!" bentak seseorang dari mobil polisi.

"Kita kan belom jalan, kok udah disuruh berhenti?" tanya Break.

Vince membuka kaca van, lalu berteriak "OGAAAAH!" dan tancap gas.

"GILA LO! BERHENTI!" pekik Michelle. "NYARI MATI?"

"NYARI ALAMAT BARENG AYU TINGTANGTINGTUNG! KAGALAH! ITU SI POLISINYA SI MONYONG – MONYONG SIAPAKEK YANG MUNCUL DI CHAPTER DELAPAN!" Vince tetep tancap gas.

"VINCE! BERHENTI!" perintah Pak Rufus Barma, karena sakit, suaranya lebih terdengar serek – serek garing. Kayak bencong abis nelen oli, udah pernah denger? Belom? Sama. Padahal, suara Pak Rufus Barma tuh macho dan kece. Tapi semua berubah ketika kerajaan api datang menyerang. (?)

CKIIIIITTT!

"PEAN SIH BERENTI – BERENTI HAH?" tanya Vince emosi.

"Kita harus taati peraturan jalanan, betul?" tanya Pak Rufus Barma. Semua saling pandang dengan kriknya.

.

.

.


Di Sel Tahanan.

"VINCEEE! HARUSNYA LO KABUR AJA TADI!" bentak anak – anak PanCo emosi, kini mereka sedang di anuin (?) eh, dipertanyakan pertanggungjawabannya saat mereka sedang di jalan tol, dan mereka lagi dipenjara. Ngga, gak ada yang berzinah kok… (?)

"BAWEL LU! SIAPA YANG NYURUH BERHENTI? HAH? KOK NYALAHIN GUE TERUS? SALAHIN SIAPA KEK!" bentak Vince.

"DIAM KALIAN!" bentak pimpinan kepolisian di sana. Semua diam membisu, lidah terlalu kelu untuk berbicara, pantat pada gatel, semua emosi, tenggelam dalam diam. EA.

"Perkenalkan, saya Mario Tegar*" ujar pimpinan tersebut.

"MBUAHAHAHHA MARIO TEGAR? MARIO TEGAR YANG ADA DI TV – TV JADI MOTIVATOR ITU? YANG BOTAK?" Break ngakak dengan jumawa.

"Yang di TV mah Mario Teg*h kaleeee." cela Vince.

Dari botaknya, kacamatanya, mukanya, nyengirnya, SAMA PERSIS!

"DIAM! KARENA KALIAN TAK TUNDUK DENGAN SAYA, KALIAN DI PENJARA SAMPAI MINGGU DEPAN!" ujarnya emosi.

"Hah?"

Mendadak, Break dan Vince dihujani tatapan membunuh dari 16 pasang mata. Elliot yang merasa tidak dibully oleh author pada scene ini pun tersenyum penuh kemenangan.

"HEH KAMU, YANG SENYUM – SENYUM SENDIRI KAYAK MAHO!" tunjuk Pak Mario Tegar kepada Elliot.

"Saya, Pak?" tanya Elliot memastikan.

"Bagus kalo kamu nyadar, kamu ikut saya ke ruang pidana yang kena gangguan jiwa." ujarnya sambil menyeret Elliot.

"HITAM! MENGAPA GELAP! MENGAPA SURAM! MENGAPA SEMUA BERUBAH SAAT KERAJAAN API DATANG MENYERANG? TIDAK! TIDAK MUNGKIN!" rengek Elliot.

"Cis, dia beneran sarap." ujar Pak Mario Tegar sambil menyeret Elliot.

"WOIII BELAIN GUE DONG!" Elliot mengais - ngais tanah.

Semua cengo dengan jumawa.

"Sial, kita kehilangan objek bully dan korban penyiksaan." keluh Oz.

Apa yang akan dilakukan oleh anak – anak PanCo untuk mendapatkan tumbalnya kembali?

"Kita harus lancarin rencana X. Elliot harus kembali ke tangan kita." perintah Pak Rufus Barma.

...

TUNGGU DI CHAPTER 13! WEWEWEWEWWWW! (?)

.

.

.

TEBECEH!

v Side Story! v


Side Story: Evolution.

Characters: Michelle, Sharon.

"Chel! Michelle! Happy birthday ya!" ujar Sharon sambil memberikan sebuah kado.

"Makasih Sharon! Ini isinya pesenan gue, bukan?" tanya Michelle harap - harap cemas sambil membuka bungkus kado.

Michelle ingin sekali punya miniatur Kucing Hoki, itu loh, patung kucing yang tangannya bergerak ke atas dan ke bawah. Menurutnya, itu imut, lantaran Michelle gak bisa ngurus kucing sama sekali.

Tetapi alangkah kagetnya, kado yang didapat bukan miniatur Kucing Hoki pesanannya.

"Kok isinya... Pulpen angry birds?" tanya Michelle, bingung.

"Hehehe..." Sharon cengengesan. "Jadi begini... hehehehehe, jadi ya, hehehehhee... Gue tuh sebenernya udah beli Kucing Hoki pesenan lu! Sumprit! TAPI GUE JUGA GA TAU KENAPA ISINYA JADI ANGRY BIRDS GITU! TAU GA! ANJRIT GILA SEREM BANGET YA! METAGENESIS KALI YA?" Sharon panik.

"Evolusi kali." ralat Michelle.

"HAHAHA IYAA ITU MAKSUDNYA! ITU!" Sharon menepuk jidatnya.

Michelle memandangi pulpen angry birds itu sambil tersenyum, "Makasih, ya."

"Sama - sama." sahut Sharon sambil ikutan memandangi pulpennya.

Mereka berdua kayak anak autis, ya.


ENAUNSEMEN!

Yang ulangtahunnya bulan September buleh PM, aku ada bedey fict present yang bakal di pablis tanggal 29 / 30. Insyallah, doain ya! :)

untuk kodenya, K. C. B. J. (tanda / simbol lebih besar) . B. Y. itu dari layout keyboard selain qwerty.

untuk .-[7(81):7(4)""7(4)] pake aljabar, sisanya di akarin, terus translate pake keypad bb, gampang kan?


*!*

Lebay aja: Lebay banget, tapi karena 'banget' terkesan berlebihan, maka diganti 'aja'. Jenius.

Gawl: Gaul. Cara bacanya GA-WEL.

Jebe-jebe: Jebe : JB : Join bareng.

Mario Tegar: Plesetannya Mario Tegu*


HELLOWWW PIPOOLLL!

20 Sept! Ada apa?

ADA APAAA DENGANMUUU HAHAHAHAH (?)

Oke maafkan saya ngegaje.

Ulangtahun saya, and having a blast now!

Have a blast? Iya, otas krit krit udah bunyi minta digampar. Ts tuh udah selesai dari sore, dan filenya corrupt.

JENIUS YA. Akhirnya ketik ulang, untung ada bek ap.

KAKAK KELAS ADEK KELAS READERS FAVE REVIEWERS MAKASIH LOHH!

Anyway, Thanks for Shinta Maharani for the gift! Aaaaw loveya! And Sheila, mungkinlo ga baca ini, tapi... (EAAA) lapyu kawan! My Chairmate! Taviabeta-Primavera makasih loooh kadonya! Muach, dan makasih jawaban ulangan aljabarnya HAHAHAHAH!

Untuk Myda Nabila, Ghina Salsabila, alah bila bila lu! Terus Icha, Paww, Naderh, Faraww, Vani 3, kalian so unyu!

Yang ngucapin bedey ke saya, makasih!

YANG UDAH MAU BACA, MAKASIH!

untuk Penulis Buku Doroymon aka Roy, thanks for inspiring me!

untuk ... terimakasih :)

Yosu, Hana, Shinju, Salma, dan segenap author FPHI, readersnya, dan semua muanya (?) MAKASIH LOH YA!

untuk RnB, terimakasih untuk memorinya, tanpa kalian, Glo gabisa ngetik gini. Mungkin kita emang udah gak deket, tapi terimakasih banyak, ya!

Too much makasih, bahkan satu pak kertas hvs pun ga cukup untuk terimakasih ke kalian!

Udah ah, mau mandi dulu.

BYEBYEEEEE LOVE YOU YANG UDAH SEMPETIN MAMPIR KESINI, FAVE, RIPIU, BACA, DLL DLL! MAKASIH!