HAI HAHAHAHA HAHAHHA

akhirnya jadi juga update ngebut bin bin ini...

Saya capek, mau tidur QAQ.

Special thanks dibawah, balesan review!


Update for Kak Puspa's Late bday XD and for all READERS!


Tavibeta-Primavera: HALOOOO HAHAHAHAH! Lama tak bersua disini! Kyaaa masih sudi aja main kesini ih ^^ TSB Kayaknya bakal kumasukin di project ini, entah, aku lupa, kayaknya chapter depan bakal berkisah ttg sekolahnya, sih, mungkin nanti ada yang bahas ekskul. Anyway, enjoy this chap! :) Thanku for the review!Dan terimakasih udah mau baca~~

Shinju-R: Halo Shinju-senpai! Wah, manusia september, lama tak bersua QAQ, ketawa? *peluk* ahahaha akhirnya ada juga yang ketawa XD, oke, ada beberapa sih yang bilang hahaha~ pembelajaran untuk kedepan (: Anyway, enjoy this chappie! Thanks for the review dan terima kasih untuk baca!

Yosukegalih: Yoo-Suu-Ke! XD Halo~ UDAH BERAPA LAMA GA UPDATE INI HAHAHAH XD Oke, karena aku stress bikin update ini, semoga masih kerasa humornya, ya? (: Anyway, sesuai requestmu, nih, ku mix tentang ulangan dan urband legend sekolah~ Haha, emang melenceng dari tujuan awal malah, anyway, hope u like this chap & thanks for the review! 3

Miki Yuiki Vessalius Desu XD: Halo Miki chan! :D NASI KUNING? NASI KUNINGGG? *ngerebut* Ahahaha tenang, Elliot di sini selalu di siksa x)~ HAHAHA maafkan daku bila update kilat ini memakan waktu 2bulan, seriously, aku sibuk ngurus design XD (?) Oh ya, ini chapter 14, hope u like this chap and thanks for read & review (:

Just 'Monta-YukiYovi: Halo Yovi! (: Kehehe, mohon dimaklumi kesalahan kayak gitu, ya XD Yaampun, mataku udah mendelep ke dalem kalo ngetik, haha XD Modus itu... Hm... Semacam apa ya, progress perlakuan hal hal kriminalitas, tapi kalau kupake ini mungkin slang karena lebih ke sexual harassment XD Anyway, hope u enjoy this chap and thanks for the read & review! (:

faricaLucy: Halo Senpai! XD Kyaaaa ada senpai main ke sini *culik* *kurung di bawah tanah (?)* Oh, ya, Glo seneng kalo udah bisa menghibur orang XD AAAHH ITU BENERAN DINOMINASIIN? XD Kyaaaa sankyuu veri mach, senpai! XD Walaupun akhirnya gak ada yang lolos, tapi, yasudahlah XD Haha, pengalamanku untuk tahun ini~ anyway, hope u enjoy this chapt and thanks for the read & review! :)

KoroCorona: Halo! XD Iyanih lama bangetya... *pundung ampe mata kaki* Mau siksa Elliot? Tenang, mungkin chap - chap selanjutnya bakal nyiksa elliot terus kok XD (?) Kode? Ini ada di extra~ ahahha XD Dori? YOI MENNN hahahaha setiap endingnya itu kacau XD Oh, ya, here's da chappie 14, hope u like this chap and thanks for the read & review! (:

Amber Desu: Halo Emberrr! Xd Kyaaaa MANA JANJI FF PHMUU? *gegulingan* yey wkwkwk awas kau kalo ketemu *siapin bantal guling buat gebuk ember* (?) WOI SEMUAAA ADA THE REAL DORI DI SINI LOH HAHAHAHA *nunjuk Amber* *digebuk pake ransel* Ampun qq -u-v Mau Elliot lebih disiksa? Di chapter ini! XD *digaplak* anyway, this is chap 14, hope u enjoy, and thanks for the read & review! XD

hana-chan kirei: Alo senpai! XD Kado? Kado? Telat 1 minggu lebih gapapa? *pundung ampe mata kaki* Butuh maho? Di chapter ini tepatnya (?) XD *digaplok* Tenang, Dr. Henry udah resign kok XD *ditabok* aduh maaf banget ya yang ini... : telat bgt, anyway, terimakasih untuk review dan kesediaan untuk membaca, love you! XD

Big Kuma: Halo senpai! XD Gapapa kok, yang penting udah baca (?) XD umm, cita cita senpai sama Lotti sama...? SAMA DONG KITA HHAHAHAHA *gila* Aduh, itu, bener - bener black, ya tulis aja lempar kemaluan XD Well, ini update-annya, senpai! *Menyodorkan CH14* Hope u like this chap and thanks for the review! XD

Tsukiyomi Amu-Chan Hinamori: Halo, Tsuki-chan! XD Iya haha, aku kalo bangun siang mulu (: Ahaha kupikir humornya udah lumayan naik, trnyata belum, ya? Ah, toh aku emg nulis untuk genre friendship, tapi, terimakasih masukannya XD Well, Omake mah kacangin aja, itu aku iseng doang kok XD Dan kode dibahas di chap ini, kalo kode satu lagi... ditunggu! XD anyway thanks for the review and hope u like this chapt! (:

salmahimahi: Halo reviewers ke 102! XD *ditabok* Gapapa, gapapa, yang penting udah baca XD Aduh, terus Gil jadi apa dong? jadi stripper? *kemudiandigampar* ehehehe, Ahahha selau sama aku mah~~ Ga gigit kok *nunjukin taring* anywayyym this is chapter 14, hope you like this chap and thanks for the review! XD


Urban Legend

/Urban Legend di sekolah? Hiiyyy! Serem tau! Serem!/

.

.

.


"Pak! Mending kita liburan lagi!"

"Iya, iya! Masa kita belajar, sih?"

"Lotti! Jangan teriak di kuping gue!"

"PAK! LIBUR AJA ELAH!"

Suasana di kelas XI.1 sangat berisik diisi oleh anak – anak coretimbisilcoret PanCo.

Lho, kok? Harusnya kan mereka kelasnya pisah?

"Heh, nilai kalian tuh banyak yang bolong!" tegas Pak Rufus Barma, "Apalagi kamu!" lanjutnya sambil menjewer Break.

"Lah ilah, KOK SAYA YANG KENA GETAHNYA? Kan saya daritadi diem!" protes Break.

"Ngomong – ngomong, pak... kenapa kelas anak PanCo digabung, ya?" tanya Reo.

"Hmm, kalian digabung karena kalian udah banyak banget bolos sekolah," ujar Pak Rufus Barma.

"Istilahnya kayak kelas special gitu, ya?" tanya Oz.

"Ah, iya!" Rufus Barma tersenyum 'manis', "Berhubungan dengan kelas kalian yang special, maka untuk kalian ada sesuatu yang special!"

"Apaan tuh?" tanya Gilbert.

.

"Rahasia~!" balas Pak Rufus Barma dengan genit.

.

"Aih, bapak mainnya rahasia – rahasiaan nih sekarang sama aku?" tanya Eida sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Udah ah, bapak cabut dulu! Arrivederci amore mio!" lanjut Pak Rufus Barma sambil dadah – dadah gaje ke arah anak murid yang duduk bengong.

"Apa yang special, sih?" tanya Sharon.

"Muka gue nih, special!" ujar Cheshire sambil mengangkat dagu.

"Muka lu gua ulek, baru noh special!" ejek Jack.

"Muka gua yang special! Minggir lo semua!" Vincent berteriak dari pojok kelas.

"Kok gue punya feeling buruk?" tanya Michelle kepada Liam.

"Jangan – jangan, yang special itu…" Liam menggantung kalimatnya.

BRAK!

"Saya yang special."

Seorang laki – laki berumur sekitar 45an, ganteng, berwibawa, menggunakan tuxedo dan kacamata hitam masuk ke dalam kelas sambil membawa soal ulangan. Tinggal bawa – bawa tongkat, persis orang buta yang ganteng. Ngapain coba ke dalem kelas pake tux dan sunglasses?

"Hahahaha, iyadeh, om paling special, ampun deh." Liam cengengesan.

"Tuh kan! Pasti papa!" bentak si kembar Alice dan Alyss.

"Yoi men, berhubung gua special, gue jadi pengawas lo lo semua, lo semua harus nurut sama gue! Gak ada yang namanya membangkang, ngerti?" bentak Om Glen yang ngaku – ngaku special, lalu menggebrak meja.

Om Glen menyibakkan rambutnya yang mirip penyanyi terkenal di tanah air kita tercinta. Syah, Glen Van Houten dari eSTeh12, sodara – sodara.

"Oke, siapin pulpen, kalian akan mengerjakan soal IPS sekarang," lanjut Om Glen cuek bebek sambil membagikan kertas.

"Mampus!" Alice, Jack, Gil, Break, Cheshire dan Lotti berteriak kompak dan pucat setelah melihat soal pertama.

Kertasnya hanya 1 lembar, tapi dipenuhi soal esai IPS. Mantap.

.

"Om! Kok ga pilihan ganda, sih?" protes Michelle.

"Protes aja sih kamu," ujar Om Glen sambil menyibakkan poninya lagi. Syah, seksi sekaleeee. "Bapak absen ya, semua hadir?" tanyanya malas.

Anak – anak PanCo celingak – celinguk.

"Ah," Alyss angkat bicara, "Mizuaki ga masuk!"

"Kenapa ga masuk?" tanya Om Glen.

"Gatau om!" jawab mereka serempak.

"Yaudah, kalo ada kabar, tolong kasih tau saya," balas Om Glen dengan tegas.

"Mau banget gua kasih tau, hah?" cibir Lotti pelan, berharap Om Glen nggak denger.

"Aduh… mampus…" rintih Gil yang udah mau nangis.

"Kenapa Gil?" bisik Jack.

"Gue gatau jawaban soal nomor 1! Cih, esai sih! Kalo pilihan ganda gua jabanin dah!" cibir Gil.

"Gue juga masih kosong, selaw." ujar Jack berusaha menenangkan Gil, tapi justru malah membuat Gil semakin panik.

.

.

.

Gil melihat langit – langit kelas dengan pandangan frustasi, mengharapkan mukjizat tiba – tiba turun, dan BOOM! Selesai sudai esainya, tapi itu semua hanya mimpi, sungguh.

PLUK!

Secercah harapan mengenai kepala Gil, lebih tepatnya, rumpelan kertas lusuh dari arah depan.

Gil, dengan mata nanar, langsung membuka kertas tersebut.

'Gil, ini gue, lo mau jawaban esai nomor 1?'

Ia melirik ke arah depan, oh, kayaknya Elliot, dia duduk di samping Reo yang lagi sibuk nulis. Enggan membuang kesempatan untuk mencontek anak pintar, ia membalas surat tersebut.

'Mau dong, El! Emang jawabannya apa?'

Gil menulis balasan tersebut, lalu dengan hati – hati melempar kertas tersebut ke arah Elliot. Dengan harap – harap cemas, Gil menatap Elliot yang nyengir dengan tatapan percaya dan yakin. Seakan harapan terakhirnya adalah Elliot, penyelamatnya adalah Elliot. Alah.

Setelah menulis balasannya, Elliot kembali melempar kertasnya dengan hati – hati ke arah Gil.

'Mau banget gua kasih tau? Mimpi. Selamat bersuram – suram!'

Gil yang tadinya udah terbang ke langit serasa kepentok, merasa kecewa, dia kelepasan teriak, "BABI LO, EL! GUA SUMPAHIN LU MASUK NERAKA PALING DALEM! KAMPRET!"

"HAHAHAHA GIL MAU BANGET GUA KASIH CONTEKAN? MIMPI! ANJRIT HAHAHAHA!" tawa Elliot menggelegar.

Naas.

"Elliot, Gilbert." Om Glen mendelik, eh, memelototkan matanya, eh, menatap sangar ke arah mereka berdua. "Keluar, sekarang." lanjutnya dingin.

"Gue udah selesai ini~" ujar Elliot sambil berjalan ke luar kelas, dengan santainya dia bersenandung. Sedangkan Gil sudah pucat, saking paniknya, tiba – tiba rambutnya lurus. Gak deng, boong. Ga kebayang tuh.

"Sa—saya juga keluar?" tanya Gil. Om Glen hanya mengangguk, syah! Poninya, sodara – sodara!

Dengan lemas, Gil meninggalkan kertas ujiannya yang kosong melompong, sebenernya ga kosong sih, di setiap soal esai dia hanya menulis 'Karena' tanpa jawaban yang spesifik.

"Oh, kertas," Gilbert memeluk kertasnya dengan dramatis, "Aku tak yakin kapan kita 'kan bertemu lagi, tapi suatu saat, pasti. Tunggu aku, aku akan membawa titik terang dalam nilaiku!"

"Keluar sana, buruan!" perintah Om Glen ganas, dan Gil langsung ngibrit.

"Nah," Om Glen membenahi (?) poni seksinya, "Jika mau mencontek, silahkan, asalkan jangan sampai ketahuan oleh saya, mengerti?"

"N—ngerti, om…," sahut beberapa anak sambil bergidik ngeri.

Kini Jack yang keringat dingin.

'Mampus, gua bikin contekan di tangan! Ketauan gak, ya?' batin Jack sambil sesekali melihat ke arah tangannya yang penuh contekan.

Ia melihat beberapa temannya yang mengerjakan dengan santai tanpa gugup sedikitpun, walaupun ada beberapa anak yang lihai menyembunyikan contekan.

"Oke, Om Glen lagi gak liat ke sini," bisik Jack culas, ia melirik – lirik tangannya yang penuh contekan.

"Lagi apa kamu?"

SYAHHHH! JEGYERRRRRRR!

"Ehhhh si Om," Jack nyengir – nyengir menghadapi Om Glen yang menggunakan jurus maut yang biasa digunakan para guru pengbawas, yaitu ilmu teleportasi ke belakang murid yang dicurigai mencontek.

Wow.

"Lagi ngapain kamu?" tanya Om Glen.

"Lagi do'a om, hehehehe," balas Jack sambil gaya ala doa, mau gak mau, contekannya keliatan.

"Lantas, apa yang berada di tanganmu itu, wahai penerus generasi bangsa?" kini poni Om Glen berkibar laksana bendera merah putih tanah air, syahhhh.

"Tadi kan saya berdo'a untuk mendapat jawaban ulangan ini, wahai Om Glen sang tukang jagal," ujar Jack, "Dan YAAMPUN! DOA SAYA DIKABULIN! INI JAWABANNYA! YAAMPUNNN! OMG!" lanjutnya hiperbolis sambil menunjuk ke arah contekannya.

"Nice try, wahai muridku, kini, waktunya kau keluar dari tempat suci ini," dengan bijak, Om Glen menyeret Jack selaku korban ketiga untuk keluar dari ruang ujian.

"AMPUN OMMM! AMPUNIN SAYA! SALAH SAYA APA? TADI TUH DO'A SAYA BENERAN DIKABULIN!" Jack berkilah, Om Glen pun tak juga mengalah (?), kisah kedua tokoh ini berakhir dengan Jack yang sudah berdiri di luar kelas.

BLAMMM!

Om Glen membanting pintu dengan keras, kini sudah 3 korban berjatuhan.

"Siapa yang mau jadi korban selanjutnya?" tanya Om Glen dengan sinis.

Semua memilih memperhatikan soal esai masing – masing ketimbang eye contact dengan sang tukang jagal, rawr.

Lotti yang tadinya udah lirik – lirik jawaban Echo langsung konsen lagi terhadap esai miliknya karena gertakan dari Om Glen. Begitu juga Cheshire dan Break.

"Sungguh," Om Glen membuka topik pembicaraan, "Disaat kalian mencontek, artinya kalian ragu atas diri kalian sendiri, kalian telah berbohong kepada saya, dan diri kalian."

'Gak ngerti…,' batin semua yang ada di ruang ujian.

"Om tuh ngeluarin mereka dari ruangan, supaya mereka dapet pelajaran berharga, bukan karena Om galak sama anak muda kayak kalian," sambung Om Glen.

'Dari awal lo juga udah galak, kaliiii,' cibir semua yang ada di ruangan itu dalam hati.

"Om juga udah tau kok kalo sekarang si Break lagi ngelirik – ngelirik jawaban esainya Oz."

DZIGH!

Break pucat.

"Eh… si Om… apaan deh? Hahahahahaha…," Break ketawa pasrah.

"Mau saya keluarkan dari sini, atau kamu sendiri yang keluar tanpa harus saya seret?" tawar Om Glen sambil tersenyum manis.

MANIS.

"Saya sendiri aja deh om, hehehe, saya bisa kok, hehehehe…," dengan lemas, Break meninggalkan ruang ujian tersebut dan baru mengisi beberapa esai miliknya.

"Ada lagi?" tanya Om Glen.

Semua menggeleng.

"Oke, waktu ujian 10 menit lagi, kalau sudah selesai, langsung kumpulkan, mengerti?"

"Ngerti, Om," sahut mereka kompak.

Reo dan Liam yang sudah selesai langsung mengumpulkan lembar esai miliknya kepada Om Glen, lalu langsung keluar dari ruang ujian tersebut.

"Lumayan susah, ya?" tanya Liam.

"Iya, lumayan lah, gak susah – susah amat," timpal Reo dengan santai.

"Gak susah – susah amat?"

Saat Liam dan Reo menjejakkan kakinya di luar, ia mendapat sambutan tatapan kematian dari Gil, Jack, dan Break.

"Lah," Elliot mencibir, "Emang beneran gampang, kan?"

"TAPI GARA – GARA ELO GUA JADI KELUAR RUANGAN, KAN?" pekik Gil sembari mencekik Elliot.

"HOEKKKK! GILLL! LEPASINN!" bentak Elliot.

"Ehm, Gil," Reo menyela pertengkaran mereka, "Sebenernya yang tadi nawarin contekan itu bukan Elliot, tapi gue."

.

.

.

DOENGGG

"NAH KAN! LEPASIN GUEEEE!" bentak Elliot.

Gil hanya tercengang.

"Sabar ya, bro!" ujar Jack dan Break sambil menepuk punggung Gil.

"Oh iya," Liam mencairkan suasana, "Gila! Tadi soal yang di halaman belakangnya agak susah deh."

"Lo ngejek ya?" tanya Break sensi, "Gua lagi nyontek bagian situ, eh, diusir."

"Halaman belakang?" tanya Elliot.

"Iya," balas Reo, "Jangan bilang lo gak ngerjain?"

"Emang ada halaman belakangnya?" Tanya Elliot dengan polosnya.

"Itu kan satu lembar, terus dicetak bulak – balik gitu, ngerti kan maksud gue?" terang Jack.

.

.

.

"PAAAAKKKK! IZINKAN SAYA UNTUK MASUK! HALAMAN BELAKANG BELOM DIKERJAIN! AAAAA!" Elliot berusaha menerobos masuk ke dalam 'ruang suci'.

"HAHAHAHA RASAIN!" ejek Gil.

"Jangan masuk, El!" pekik Reo dan Liam sambil menarik Elliot menjauh dari pintu ruang ujian.

"Nanti nyawa lu gak selamat!" ujar Jack memperingatkan.

"PAKKK! BAPAKKK! AYAH! OOMMM! OM GLEN YANG CAKEP! BUKAIN PINTU! HUHUHU! HUHUHU!" rengek Elliot sambil gedor – gedor pintu.

"Biarkan dia!" timpal Break sambil menangis penuh sesal, "Biarkan dia memilih jalannya sendiri!"

"Lo. Lebay. Ngedh."

Om Glen keluar dari sarangnya (?) sambil menatap ganas ke arah anak – keenam anak imbisil yang menganga super lebar.

"Sekali lagi," Om Glen membenahi poninya, "LO. LEBAII. NGEDH."

Laksana terhipnotis, keenam anak imbisil tersebut masih menganga menatap Om Glen. Dan Om Glen kembali masuk ke dalam kelas.

"Yo!" Vince yang baru saja selesai mengerjakan esai miliknya langsung menyapa teman – teman yang sudah berada di luar. Tapi ia menemukan kejanggalan di sana, apa, ya?

"Om Glen…," Elliot bergumam sambil menganga.

"Om Glen kenapa?" tanya Vince bingung. Teman – temannya masih menganga. Sesekali Vincent iseng menggoyangkan tubuh mereka, tapi belum juga ada reaksi selain menganga.

"Ga…," Elliot mulai geleng – geleng dan mengerjapkan matanya, tinggal menjulurkan lidah dan menggongong, jadilah… anjing. *digebukElliotFC*

"Ga apa? Lo pada kenapa deh? Ga apa – apa, kan?" tanya Vince yang mulai khawatir.

Mulut mereka serempak mulai mengatup, lalu mengambil ancang – ancang untuk berteriak berjamaah.

.

.

.

"GAANNNTEEEENGGGG!"

Setelah berteriak, Reo langsung membuka topik, "YAAMPUNNN! LO LIAT PONINYA GAK TADI? OMG! SEKSI BANGEUDHHHH!"

"Asal lo tau, ya," potong Break dengan nada sombong, "Matanya tadi tuh ngeliatin gue terus! Ha! Iri gak lo? IRI GAK?"

"Kyaaa! Kyaaaaa!" Gil teriak dengan suara 3 oktaf lebih tinggi dari biasanya, "KYAAAA GUE IRI BANGET!" bentaknya.

"Liat aja," Liam membenarkan kacamatanya, "Dia pasti bakal jatuh di pelukan gue."

"DEMIAPA?" tanya Jack dengan nada cewe – cewe ceribel, "Gak, ini gak boleh terjadi."

"Eh teman – teman, aku punya usul nich," ujar Elliot dengan manja, "Kita bikin GFC yuk!"

"Apa tuch?" tanya Reo.

"GLEN FANS CLUB! KYAAAA!" teriak Elliot.

"KYAAAAA! KYAAAAAAA!" teriak mereka serempak.

Kini gantian Vince yang menganga.

.

.

.


"LO HARUS PERCAYA SAMA GUE!"

Pagi itu, suara Vince menggelegar di sepanjang selasar sekolah.

"Percaya?" tanya Michelle gak kalah ganas, "Ngapain gua percaya sama elo, ha?"

"Parah, lo harus bantu gue!" pekik Vince.

"Tapi gak ada bukti!" balas Michelle, "Gak ada bukti." lanjutnya sambil menggeleng.

Kebetulan, Oz melewati mereka berdua.

"Aih," Oz menggeleng, "Vince pagi – pagi udah modus aja, nih."

"OZ!" Vince berlari memeluk Oz, "OZ! LO HARUS PERCAYA SAMA GUE!"

"ANJRITTT! MAHO!" bentak Oz.

"Gue minta tolong kalian berdua," pinta Vince, "Tolong kumpulin Cheshire, Alyss, dan Echo, lo berdua juga harus ikut gue. Gue tunggu di atap,"

Oz dan Michelle saling lirik, lalu mencari orang – orang yang dipanggil Vince.

.

.

.

"Segini doang, kan?" tanya Michelle sambil ngos – ngosan.

Vincent, Oz, Michelle, Cheshire, Alyss dan Echo berkumpul di atap.

"Ada apaan nih?" tanya Alyss, "Kenapa cuma segini yang ngumpul?"

"Lotti, Sharon, Alice dan Eida lagi bantu – bantu buat pentas seni sekolah, kita kasih tau mereka belakangan aja." jawab Vince.

"Langsung ke masalah pokok aja, deh," pinta Cheshire dengan malas.

"Lo ngerasa ada yang aneh gak sama mereka berenam?" tanya Vince.

"Berenam? Maksud lo Gil, Jack, Elliot, Reo, Liam dan Break?" sahut Oz.

"Yup."

"Engga sih…, emang mereka kenapa?" tanya Alyss.

"Kata Vince," sela Michelle, "Mereka berenam naksir sama bokap lo, Lyss."

"WHAAAATTTT?" tanya Alyss dengan muka pucat.

Vince mengangguk, "Coba aja lo liat mereka hari ini, pasti ada yang aneh, terutama Gil."

"Ah," Echo angkat bicara, "Tadi Echo berpapasan dengan Gil, dan…"

"GYAAAA! MATI LO BERENAM!" bentak Alyss, lalu ia mencari – cari Gil dan kawan - kawan.

"Oi, oi! Tungguin gua!" seru Cheshire sambil berlari menyusul Alyss.

Oz hanya menganga, hingga ada lalat beranak di dalam mulutnya (?) gak deng, lebay aja.

Echo shock.

"Echo, emang Gil tadi kenapa?" tanya Michelle.

TEEEEETTT TEEEEETTT

"Hape gua bunyi," sahut Vince.

"Ya angkatlah, dodol!" ejek Oz.

"Echo…? Echoooooo~" panggil Michelle sambil menggoyang – goyangkan badan Echo.

"Ah… Itu…," Echo mengerjap – ngerjapkan matanya.

Kini muka Vince yang gantian pucat.

"Haidih, ini orang – orang pada kenapa, sih?" tanya Michelle gelisah.

"Gue dikabarin sama Cheshire," Vince menelan ludahnya, "Alyss pingsan."

"Kok bisa?" tanya Michelle gelagapan."

"Shock berat. Astaga, ini parah banget," keluh Vince.

"A—ayo, jenguk Alyss!" seru Oz sambil menarik tangan Echo.

"Modus lu!" ujar Vince.

"Biarin!" ejek Oz, "Daripada lu! Mau modus gagal terussss!"

Vincent gondok setengah mampus.

.

.

.


"Ah, akhirnya kalian di sini!" seru Eida sambil memeluk Michelle yang baru saja datang ke UKS bersama Vincent, Oz, dan Echo.

"Alyss kenapa?" tanya Oz.

"Alyss papasan sama Gil tadi, tiba – tiba dia jatuh tersungkur. Gitu deh, gue juga gatau…," keluh Cheshire.

"Kak…, bangun, kak…," gumam Alice pelan.

Semua hadir di sana, kecuali anggota GFC dan Mizuaki yang sakit.

"Aduh," gumam Lotti, "Pasti ada apa – apanya ini, kepriben."

"Iki piye, iki piye iki piyeee~" nyanyi Cheshire.

"Ssssh! Serius ah!" bentak Sharon.

.

Sesaat setelah orang – orang yang berada di UKS grasa – grusu ga jelas, Alyss mulai mengerjap – ngerjapkan matanya.

"ALYSS! ALYSS BANGUN!" pekik Oz.

"Kakakkkkk!" teriak Alice manja sambil menggelayuti kembarannya.

"Lyss," panggil Vince, "Kenapa pingsan?"

"Aaah…," Alyss masih mengerjapkan matanya, "Tadi gua papasan sama Gil."

"Terus?" tanya semuanya.

Alyss menarik nafas panjang, lalu berkata dengan mimik pucat, "Rambut Gil LURUS. DICATOK."

.

.

.

"HAAAAHHH?"

"Belom selesai!" potong Alyss, "BULU KAKINYA DICUKUR HABIS!"

"Kok lo tau?" tanya Oz, "Bukannya dia pake celana pan—"

"DIA PAKE ROK, OZ." bantah Alyss dengan nada horror.

"WHUATTTT?"

Lotti pingsan.

Sharon shock.

Eida nangis.

Oz membatu.

"CHEL! LU IKUT GUA! BURUAN!" ujar Vince sambil menarik Michelle.

"Gue ngecheck Break! Lu pada tunggu sini aja!" perintah Cheshire, "Oz, lu jagain anak – anak cewek, ya!"

"Roger…," ujar Oz lemas.

.

.

.


"Cent, Vincent!"

"Aduh, kenapa sih, Chel?"

"Itu Gil!" pekik Michelle sambil menunjuk ke arah seseorang.

"Demiapa?" tanya Vincent, "Itu? Yang pake rok?"

"Iya deh kayaknya, coba samperin deh…" bisik Michelle.

Vince dan Michelle mentoel(?), maksudnya, mencolek seseorang yang diduga sebagai Gil tersebut.

"Gil…?" tanya Vince.

"Ya?"

Suara Gil 3 oktaf lebih tinggi dari biasanya.

"Ini… elo? Kenapa pake rok mini, hah?" bentak Vince, "Dan kenapa elo nyatok rambut lo?"

"Aduh, lu apaan sih?" tanya Gil, "Gue kan GFC, wajar kalo gue tampil seksi."

"ELU TUH COWOK, DUH."

"Biarin," Gil menggeleng, "Apa peduli lo sama gue?"

"Gue tuh selalu ngebanggain elo sebagai kakak!" Vince mencoba meredam emosi, "Tapi elo malah begini!"

"Mundur, Vin," perintah Michelle, "Jangan sampe emosi."

Vince mendecak kesal, lalu ia mundur dengan teratur.

"Gil," Michelle mencolek bibir Gil, "Ini… apaan? Shiny gitu."

"Oh, itu lip gloss."

"A—ahh… begitu, toh…," Michelle menarik tangan Vincent, lalu balik kanan, bubar jalan.

Sedangkan Cheshire sedang mencari – cari Break, tetapi matanya mulai nakal melirik – lirik cewek lain.

'Ah, Mizuaki lagi sakit ini, gapapa lah gue main mata sama cewe – cewe cakep dulu,' batin Cheshire sambil nyengir mesum.

…hingga seorang gadis yang memiliki tubuh atletis pun berpapasan dengan Cheshire.

"Kiw, kiw! Cewek! Godain abang, dund!" goda Cheshire.

Cheshire pun mendapat tatapan tajam dari satu iris berwarna merah darah.

"B…b-b-b-b…," Cheshire gelagapan, "B…b-b-b-b…," lalu mulai mengambil ancang – ancang siap gerak, balik kanan, bubar jalan.

"Eits, tunggu dulu…," cegah Break.

"Ampun ndoro… saya tidak melakukan kesalahan! Lepaskan saya!" rintih Cheshire.

"Gue mau nanya, rambut gue bagus gak?" tanya Break sambil sesekali memainkan rambut panjang miliknya.

"Kok bisa panjang gitu?" tanya Cheshire, telmi emang.

"Gue pake hair extension nih, hm, bagus ga?" tanya Break dengan nada mengancam.

Demi kelestarian hidup sang titisan vokali Kanjen Band, balik kanan, NGIBRIT!

.

.

.


"Gak bisa begini terus, pak."

Alyss membuka topik.

"Lalu kalian maunya apa?" tanya Pak Rufus Barma.

Di ruangan komputer tempat biasa PanCo rapat, Alyss, Alice, Vince, Oz, Lotti, Cheshire, Michelle, Sharon, Echo dan Eida berkumpul bersama Pak Rufus Barma untuk mendiskusikan masalah ini.

"Ya, makanya kita ke bapak, mungkin bapak punya solusi," ujar Oz.

"Iya pak, kasihan tuh Vince, lemes bgt daritadi," ujar Lotti sambil menunjuk Vince yang sedang bersender di pundaknya.

"Itu mah bukan lemes, ya," sindir Michelle, "Itu modus namanya."

"Yeee cemburu dia," ejek Sharon.

"Udah, udah. Kembali ke masalah awal!" perintah Eida dengan garang, rawr.

"Aduh," Pak Ru –panggilan kerennya Rufus Barma— hanya bisa menggeleng pasrah, "Bapak kurang tau, ya."

"Coba kita tanya Mizuaki," usul Cheshire sambil menekan tombol hape miliknya.

TEEETT TETTTT

Hape di set ke loudspeaker.

"Halo sayang~" goda Cheshire.

"Halooo!" ujar Mizuaki di seberang sono.

"Kamu masih sakit ya, yang?" tanya Cheshire dengan nada manja.

"Uuu~ iya nih, kamu kapan mau ke sini?"

"Nanti ya, pas pulang sekolah, kamu udah makan belum?"

"Belum nih…," balas Mizu dengan manja, "Aku kan nunggu kamu ke sini, nanti suapin aku, ya."

"Iya, tenang aja, hehehe," nada bicara Cheshire yang semua manja menjadi kelihatan mesum (?), "Kamu lagi ap—"

"WOIII CEPETAN TANYA!" teriak yang lain dengan serempak, penuh amarah, penuh benci, dan tentunya bagi yang single, penuh iri.

"Gua aja yang ngomong, elu mah lama," ujar Michelle, "Woi, Mizu!"

"Woiii!" sapa Mizu.

"Eh, nih ya, gue sama temen – temen lagi clueless nih," keluh Michelle, "Sebutin beberapa clue yang mendeskripsikan sekolah dong!"

"Hmm, apa ya?" gumam Mizu, "Ada beberapa sih, misalnya, kelas, meja, kursi…"

"Aduh, jangan yang basi – basi dong! Gue punya pemikiran hal – hal mistis gitu, nih, soalnya ada 6 orang yang kayak kesurupan gitu," ungkap Michelle, "Tapi gua gatau bener apa salah."

"Ooh, yang mistis…" balas Mizu, "Mungkin sekolah punya beberapa urban lege—"

TUT TUT TUT

"IIIITUUUUU DIAAAAA!" ujar Michelle hiperbolis sambil menunjuk hidung Pak Ru, super sekali, sodara – sodara.

"Itu apa?" tanya Pak Ru bingung.

"Oh!" Alice otaknya mulai jalan sedikit, "Gue ngerti maksud Michelle! Pak, di sekolah ini ada urban legend gitu, ga?"

Pak Ru mengangguk, "Ada sih… Tapi cuma 1."

"APA ITU, WAHAI PADUKA?" semua berseru, menatap tajam ke arah mata Pak Ru.

Pak Ru membuka kipasnya, lalu duduk ala – ala jepang, layaknya di mana seseorang yang sudah menerima asam garam kehidupan bercerita kepada anak cucu yang masih imut – imut dan polos – polos, "Ada segerombol murid yang mati perlahan – lahan di sini, jauh sekali dari angkatan kalian."

Semua anak yang menyimak cerita Pak Ru bisa dipastikan nafasnya tercekat, "Terus, pak?"

"Terus… ya mereka mati." Lanjut Pak Ru dengan santai.

"MATINYA KENAPA PAKKKK?"

"Selau, bro," ujar Pak Ru, "Yaa, bisa dibilang, selain urban legend, ini juga aib bagi sekolah. Mereka mati bunuh diri…"

Suasana menegang.

"Dan setiap 10 angkatan di atas mereka meminta tumbal…"

Suasana mencekam.

.

.

.

"RAWR!" pekik Pak Ru iseng.

"AAAAAAHHHH!"

"Belom woy, belom," lanjutnya, "Tapi serius, ini aib, dan cuma kalian yang tahu akan hal ini."

"Apa mereka semua cewek?" tanya Echo.

"Betul," balas Pak Ru, "Oh, ya, mereka bunuh diri karena… Ditolak guru pengawas yang ganteng."

JEGEEEERRRR

"Bo—bohong, ah!" pekik Eida ketakutan.

"Emang," bales Pak Ru kalem.

"ARRRRGHHHH!" anak – anak terlihat sangat frustasi.

"Oke, oke. Yang ini beneran," ujar Pak Ru meyakinkan, "Bangunan ini kan bekas rumah sakit, yaa, kelas kalian pas ujian alias XI.1 itu bekas kamar mayat."

Semua terdiam.

"YANG INI BENERAN! SERIUS DEH!" bentak Pak Ru.

"I—iya, deh, percaya…," gumam mereka.

"Mungkin temen – temen kalian yang bertingkah gak normal itu lagi dirasukin 6HAGREGS."

"Apa tuh?" tanya Vince.

"6 HAntu agGREsive GirlS," terang Pak Ru.

"Atur daaah!" seru Cheshire.

"Ini serius, tauk!" sela Pak Ru.

"Jangan – jangan," Alyss memulai spekulasi, "Arwah mereka gak tenang gara – gara ngeliat Ayah saya yang cakep naudzubillah?"

"Mungkin, loh." balas Pak Ru.

"Tapi kenapa yang di masukin malah cowok?" tanya Michelle.

"Iseng kali," balas Sharon.

"Gak lah, gila aja iseng," sela Oz.

"Atau mungkin karena mereka bergerombol berenam!" ujar Lotti, "Kan udah ada larangan secara konvensi, jangan pernah jalan bergerombol enam orang!"

"Cara ngilangin arwah mereka gimana?" tanya Eida.

"Yaa," Pak Ru mengangkat bahu, "Saya kurang tahu kalo soal itu."

Lotti menggenggam tangan Eida, "Lo ngerti kan hal berbau mistis? I trust you, we trust you!"

Eida mengangguk kecil.

.

.

.


"Lo ngerti cara ngilanginnya?" tanya Vince ke Eida.

"Ngerti sedikit, sih…," Eida mengangguk.

"Jadi sekarang kita ngapain? Udah siang, nih! Balik aja atau gimana?" tanya Lotti.

"Umm," Eida mengangkat tangan, kurang kerjaan banget, "Arwah itu kalo muncul di film – film biasanya malem, loh."

"Oke, malem, hari ini kita harus nyelesain semuanya sampe malem, oke?" pinta Alyss. Semua mengangguk.

"Gini aja," usul Oz, "Kita telfon Om Glen sekarang untuk mancing arwah mereka, gimana?"

"Fine, itu tugas Alice," usul Alyss.

"Roger!"

"Sekarang kita cari informasi siapa 6HAGREGS itu dan kita cari gimana cari naklukin mereka," ujar Eida.

"Fine, itu tugas Echo."

.

.

.


Sore hari menjelang malam…

"Hoi," Cheshire membuka conference chat lewat MSN, "Gue bikin Pak Rufus untuk ngulur waktu, sekarang mereka berenam lagi ada di ruang Pak Ru."

"Thanks!" balas Alyss lewat MSN, "Jadi, kita hajar yang mana dulu?"

"Yang punya Gil dulu!" pinta Vince.

"Fine," Oz setuju.

"Kenapa saya dibawa – bawa, hah?" tanya Om Glen garang.

"Papa ikut aja, deh," ujar Alice.

"Jadi, kira – kira arwah mana yang ngerasukin Gil?" tanya Oz kepada Eida.

"Yang ini, kayaknya, soalnya dari data ini, cuma dia yang punya rambut lurus," terang Eida.

"Oh ya?" tanya Lotti, "Hmm, yang namanya Jolie ini?"

"Iya, cara untuk menghilangkan arwahnya…," Sharon melirik Eida, "Apa, nih?"

"Dipeluk…," ujar Eida, "Sama orang yang dia suka…"

Semua yang ada di sana melirik ke Om Glen.

"Pa…," Alice memohon kepada ayahanda, "Bersediakah papa memeluk Gil?"

Om Glen menatap anaknya dengan garang. Tiba – tiba dari matanya keluar laser dan membunuh Alice… gak deng.

"Apa?" balas Om Glen terkejut.

"Iya pa…," Alice menatap mata ayahnya dengan sendu, "Demi orang yang aku suka, pa."

"HAYOLOH HAYOLOH ALICE TERNYATA...," mulut Vince langsung dibekep.

"Fine," dengan langkah gontai, Om Glen menghampiri ruang tempat Gil berada.

"Papa," Alyss berbicara kepada papanya lewat walkie talkie (?), "Papa diem aja di depan ruangan itu."

"Oke," bales Om Glen.

"Ches! Suruh Gil keluar!" perintah Oz lewat MSN.

"Roger!" Cheshire yang berjaga di dekan Om Glen segera menelpon Pak Ru agar menyuruh Gil untuk keluar.

"Beneran harus Om peluk?" tanya Om Glen kepada Chesc dengan agak ragu.

"Iya, om. Kayaknya sih gitu ya."

Tak lama kemudian, Gil keluar dari ruangan itu.

"GYAAAA! GYAAAA!" Gil jejeritan setelah melihat Om Glen.

"ASTAGFIRULLAH! KENAPA RAMBUTNYA LURUS?" tanya Om Glen panik.

"DICATOK OM! DICATOK! CEPET PELUKKK! CEPETTTT!" pekik Chesc ikutan panik, antara harus nahan ketawa atau serius nanggepin Gil yang kesurupan.

Dengan berat hati, Om Glen dengan terpaksa amat sangat memeluk Gil yang kesurupan 6HAGREGS.

'Sabar, sabar… abis ini gua langsung mandi kembang 7 rupa, kalo perlu 14 rupa!' rutuk Om Glen dalam hati.

"KYAAA! DIPELUK OM GLEN! DIPELUK OM—"

Bruk.

Om Glen bengong.

Cheshire bengong.

Gil terkapar, pingsan. Lalu kejang – kejang, dan pingsan lagi.

"GIL PINGSAN!" ujar Chesc lewat MSN.

"Bagus," Alyss senang, "Alice! Tugas lu bawa Gil ke sini! Buruan!"

"Roger!"

"5 lagi, sekarang siapa?" tanya Vince.

"Umm, request Break, dong?" pinta Sharon.

"Kalo Break…," Eida memelototi data – data yang ada, "Yang ini!"

"Tau darimana?" tanya Alyss.

"Liat aja, arwah yang namanya Jane ini suka banget mainin rambutnya dan sayang banget sama rambutnya. Bahkan dia pake hair extension paling mahal," terang Eida.

"Cara ngilangin arwahnya?" tanya Oz.

"Gini…," Eida mengela nafas, "Dia itu penyanyi, jadi harus dinyanyiin lagu yang dia suka.

Alyss pucat.

"Jangan bilang…," Vince menelan ludahnya, "Bokap lo ga bisa nanyi?"

Alyss mengangguk.

"MATILAH KITAAAAAA!" teriak mereka serempak.

"Eh!" Eida menginterupsi, "Ada cara lain, tapi ada resiko…"

"Yaudah! Yang itu aja!" pekik Alyss.

"Bikin arwahnya pingsan," Eida mengangguk, "Sebenernya cara ini ampuh untuk semua, kecuali Jolie dan Khloe."

"Kan sisa 5 arwah, nih…," ujar Oz, "Yang Khloe yang mana?"

"Nah itu dia…," Eida geleng – geleng.

"Resikonya apa?" tanya Lotti.

"Kalo gagal bikin mereka pingsan dalam 5 menit, Om Glen bakal…," Eida menelan ludah, "Diperkaos."

Vince mengangguk kecil, "Kita harus relakan Om Glen."

"ENAK AJA!" pekik Alyss, "Biar express, kita pake cara yang ada resikonya."

Alyss meraih walkie talkie miliknya, "Papa, papa! Bantu beta, papa!"

Lalu yang berada di seberang sana menyahut, "Ada apa, wahai anakku?"

"Bantu beta, papa!"

"'Kan selalu papa bantu selagi papa bisa!" ujar Om Glen bersemangat.

"Bikin mereka pingsan, pa!" pinta Alyss.

"Oke anakku, papa ahli dalam hal ini," Om Glen yang berada di sana mengangguk dengan mantap.

Kini Oz meraih bb miliknya untuk MSN Cheshire.

"Woi, suruh semua keluar! Pak Ru juga suruh keluar aja, antisipasi," perintah Oz lewat MSN.

"Roger!" balas Cheshire lewat MSN, lalu menelpon Pak Ru, "Pak, semua suruh keluar, bapak juga keluar, ya!"

Tak lama kemudian, semua yang berada di ruangan tersebut keluar.

"KYAAAA! OM GLEN! OM GLENNNN!" segerombolan anak – anak tersebut mengerubungi Om Glen layaknya Jastin Biber.

"Sepertinya anda cukup terkenal di kalangan pemuda, hm?" sindir Pak Ru.

"Diam kau," balas Om Glen.

"5 menit dari sekarang," gumam Eida.

"Inget misinya, Om?" tanya Cheshire meyakinkan.

"Inget, heh, kamu, yang rambut putih!" panggil Om Glen.

"Saya, Om?" tanya Break, "KYAAA! DIPANGGIL! KYAAA!"

"Sialan lo! Anak sialan! Rambut plastik!" bentak semuanya sambil menjambak Break.

"Kyaaa! Lepasin! Lepasin!" perintah Break, lalu maju cengengesan ke depan Om Glen, "Ada apa Om ganteng? Hehehehe, hehehehe."

PLAKKKK!

"Auw," Break memegangi pipinya, lalu berkata, "Gapapa, selama Om Glen yang nampar, gapapa, hehehe."

"DIBUAT PINGSAN OM, BUKAN DIGAMPAR!" ujar Cheshire mengingatkan.

"Kok belum pingsan?" tanya Om Glen.

DUAAAAGGHHH!

Om Glen mendorong (baca: melempar) Break ke arah dinding.

Semua nganga.

Break mimisan.

"Kok ga pingsan, ya?" tanya Om Glen.

"Om," Cheshire menggeleng, "Tulang idungnya patah..."

"Gapapa, gapapa," Break menggeleng sambil senyam – senyum mesum, "Yang penting dipatahinnya sama Om Glen, hehehehe."

"Sarap nih orang," Om Glen menggeleng.

"4 menit," gumam Eida.

Alyss mendecak, "Dibikin pingsan, pa, bukan digebuk ampe mukanya ancur."

"Gini aja, Om," Cheshire membisiki Om Glen, "Godain."

"Godain? " tanya Om Glen memastikan, nadanya seperti ingin membunuh ponakannya tercinta.

"Iya, godain."

Dengan tak yakin, Om Glen menatap Break lekat – lekat.

"Ada apa om, liatin saya gitu, hehehee, hehehe," tawanya sambil memegangi hidungnya yang penuh darah akibat pukulan cinta (?) Om Glen.

Sedikit jijik, Om Glen meraih dagu Break, "Kamu… Hari ini…, berhasil mengalihkan duniaku."

BRUGH!

"Satu poin untuk anda, 4 orang lagi!" ujar Pak Ru.

"Break pingsan!" ujar Chesc lewat MSN.

"3 menit," gumam Eida… lagi.

"KYAAAA! AKU JUGA MAU!" keempat anak imbisil mengerubungi Om Glen dengan beringas.

"Tenang, tenang," Om Glen menenangkan mereka yang semakin beringas.

"Ayo om!" ujar Cheshire, mencoba menyemangati.

"Mundur kalian," perintah Om Glen, semua langsung mundur dengan teratur sambil senyum – senyum mesum.

SYAAH!

Om Glen buka baju.

"2 menit!" ujar Eida.

"KYAAA! KYAAAA!"

BRUK!

Jack yang pake boots tumbang.

BRUK!

Reo yang dikepang ikutan tumbang.

BRUK!

Liam yang make make up mirip sadako juga tumbang.

Jadi siapa yang belom tumbang?

"YEAHHH! WE DID IT! WE DID IT! HORAAY!" Cheshire, Om Glen, dan Pak Ru joget ala Dora, Peta, dan Boots.

"Siapa yang belom tumbang?" tanya Oz lewat MSN.

"Tinggal Elliot, sih," ujar Cheshire santai.

"Om Glen!" ujar Elliot manja, "Godain aku, dong!"

"Papa!" panggil Alyss lewat walkie talkie, "Sekarang tinggal ngeluarin arwah Elliot!"

"Digimanain?" tanya Om Glen.

"Harus diiket di tiang bendera sekolah dengan lakban. Butuh waktu 2 hari untuk ngilangin arwah di tiang bendera itu soalnya dia yang paling ganas," cerocos Eida.

Dengan kecepatan kilat, Om Glen dan Pak Ru langsung mencari lakban untuk mengikat Elliot.

"Kamu jagain Elliot, ya!" seru Pak Ru. Cheshire hanya mengangguk pasrah.


Seperjuangan kemudian…


"Om Glen! Kenapa saya diiket? Kenapa saya diiket?" rintih Elliot yang masih kerasukan (?).

"Ini takdir, nak," ujar Om Glen.

"WAHAHAHA SELESAI JUGA TUGAS KITA!" ujar beberapa anak.

"Euh…, gue pingsan tadi?" tanya Gil.

"Gue…," Reo memegang – megang rambutnya setelah sadar, "Rambut gue siapa yang ngepang?"

"Kok muka gue berat ya…," ujar Liam yang tanpa sadar ada berkilo – kilo lipstick, bedak, eyeshadow, blush on, dan lain – lain.

"Ini juga kenapa rambut gue digerai gini…?" gumam Jack, "DAN KENAPA GUA PAKE BOOTS?"

"LO SEMUA MASIH MENDING!" keluh Break sambil memegangi hidungnya yang patah.

"Jadi, hari ini siapa yang mau jagain Elliot?" tanya Sharon.

Michelle mengangkat tangan dengan tatapan khawatir.

"Yang nemenin?" tanya Oz khawatir.

"Gue aja," sahut Vincent yang langsung mendapat sambutan sinis dari relawan sebelumnya.

"Oke, bubar semua! Bubar!" perintah Om Glen, lalu semua bubar kecuali Michelle dan Vince yang madesu.

"Yah… Yah… aku diiket di tiang bendera lagi, nih…?" keluh Elliot dengan nada madesu tingkat nasional.

.

.

.

TBC!


Elliot diiket lagi di tiang bendera sekolah. Siapa aja yang dapet tugas buat jagain dia selama 2 hari? Mau tau? Mau tau? JAMAAAHHH?


EXTRASTORIES! FYEAH! (buat nambahin word doang, monggo skip gapapa XD)


extratratra!

"Eh, emang muka gua pas kesurupan gimana deh?" tanya Gil kepada Echo.

Echo -dengan polosnya menunjukkan beberapa foto perubahan drastis dari mereka.

"Rambut gue...," Gil menganga.

"Lurus ya?" sindir Vince.

"Kampret," balas Gil, "Liat punya Reo coba."

Echo menunjukkan foto Reo yang dengan manisnya dikepang.

"Aduh, unyu yaa~" komentar Gil.

"Lo udah ga normal?" tanya Vince lagi.

"Bacot!" pekik Gil, "Eh, gue liat foto Elliot, dong."

Echo menyodorkan lagi beberapa foto Elliot.

"Cantik ya, pake jepit gitu, keliatan manis," gumam Gil.

"IHH!" Vince jijik.

"Kalo Liam?" tanya Gil.

Dengan menahan tawa, Echo memberikan foto Liam

...

"ANJRIT! INI LIAM APA SADAKO? MAKE UPNYA TEBEL BANGET! PARAHHHH!"

"Kampret lo!" Liam ngegeplak Gil penuh kekecewaan.


KOOOODEEEE!

"Udah malem," ujar Michelle, "Lo gak balik?"

"Kan gue nemenin elu buat ngejagain Elliot," ujar Vince.

"Kalo mau balik gapapa, kok, gue bisa jagain Elliot sendiri di tiang bendera, lagian, dia udah tidur." balas Michelle ketus.

"Tapi gue mau nemenin elo, Chel," ujar Vince.

"Terserah," Michelle mengalihkan pandangannya jam tangan warna biru pucat, "Oh, iya, kode yang lo kasih..."

"Kenapa? Susah ditebak?" tanya Vincent dengan nada menggoda.

"Bukan gituuu!" Michelle menggeleng, "Hanya... membingungkan."

"Yang .-[7(81):7(4)""7(4)]?" tanya Vincent.

"Iya."

"Caranyaaaaa~" Vince mulai mengajarkan, "Mula - mula, yang ada di dalam kurung coba di akarin."

"Berarti...," Michelle bergumam sebentar, ".-[7(9):7(2)""7(2)]?"

"Yop," Vince mengangguk, "Sekarang, translate pake keypad bb!"

"Err," Michelle mulai mentranslate, "MIQZTCYHZTEYLLZTEYA, astagfirullah, ini apaan?"

"Ada nama lu gak di situ?" tanya Vince.

"Ada sih, kalo huruf QZTYA dilangin," gumam Michelle.

"Nah," Vince menatap Michelle dengan tatapan menggoda, sedangkan Michelle hanya tersipu malu.


Halo!

Selamat datang di kolom curhatan Siebte Gloxinia!

Oke, beberapa kejadian dalam 2 bulan ini menerjang Glo...

Misalkan 7 nominasi IFA gak ada yang lolos, tapi, Glo seneng banget bisa masuk ke dalam table nominasi tersebut, untuk itu, terimakasih yang udah mau vote, ya! Glo sayang kalian!

Lalu, kejadian IRL yang membuat Glo agak kagok dan pundung.

Lalu, Glo cengeng, emang. Tapi Glo gapernah berani negur orang, Glo cmn bisa gigit bibir bawah pas ngeliat ada yang ngikutin cerita Petals & Life punya Glo. Aduh, Glo takut dikecam macem - macem, tapi ya, ini Glo, penakut. Mungkin akan Glo tegur lain waktu (':. Walaupun emang reviewnya dikit, tapi itu fict dedikasi Glo terhadap SGASV++, sungguh.

Dan memang, WB kian menyerang, selain itu, Glo emg lg diterjang masalah seperti yg Glo sebutkan di atas. Dan masih banyak urusan seperti design ID card dan poster untuk acara pensi.

Sekali lagi, Glo minta maaf.

Special Thanks to Berthatavia dan SGASV++ yang sudah menemani Glo dikala galau dan sukacita! XD


Oh, ya. Anyway, Happy late Bday kak Puspa Bahari! (: Wish you nothing but the best!


Selain Beta dan SGASV++, terimakasih kepada author - author lain yang bersedia saya spam TLnya di twitter! Yosu, Lala, salma, ka puspa, kak dina, kak wieu, bertha, Marina, dan beberapa teman seperjuangan! Me lop yu pul! yang namanya ga kesebut siap - siap disebutin next chapt! XD

Terimakasih kepada:

Reader, baik yang si-ders maupun tidak, terimakasih banyak!

Favorite-rs XD Entah apa jadinya tanpa kalian.

Dan Alerters! XD Kyaaa, you're so cute, thanks for the alerts!

Dan... Reviewers (:! Dengan adanya kalian, cerita ini jadi tambah maju! XD

Tanpa kalian, entah apa jadinya cerita ini, hm? (:

Anyway, untuk yang berbaik hati, Glo tak memaksa, tetapi silahkan tinggalkan jejak berupa review! XD Kehehe.

Arrivederci amore mio!

Love you~!