The Last


Mizuaki Relessai (c) Akira Yuu

Michelle Relessai (c) Siebte Gloxinia

Pandora Hearts (c) Jun Mochizuki


Balesan review:

Kujo Kazuza Phantomhive: Hai! :D Ehh ceribel kehilangan 2 anggotan loh /plak *apa-apaan* xD denger-denger Reo mau daftar (?) Bagus deh kalo Kazuza-san suka! Oke, ini apdet terakhir, semoga suka :) Dan terimakasih udah mau mampir, love you! 3

Taviabeta-Primavera: Hai Wiul, aku selesain hari ini buat kamu xD PENCERAHAN? DARI HONGKONGGGG! WKWKWKWK Oke bodo, sip. Sabar ya kalo dicerocosin sama aku terus! BTW, AI LAP YU! MAKASIH LOH YA

margetts: Hai kak... ripiunya panjang sekali x'D *hug* Oh iya, ini sebelum UN ya apdetnya? xD Aduh lupa, ngomong-ngomong, gajadi hiatus kan? Aniwai, makasih udah mau mampir loh kak, semoga suka sama yang ini!

yosukegalih: HAI ECCHI AHHAHAHAHA Oke abaikan. WOW HAHAHA APA ITU 69 oke abaikan lagi... Ngomong-ngomong, gimana UNnya? xD terimakasih! PMS kan bebas sebelum menopause apalah itu kan? OAO oh iya, terimakasih udah mau baca+ripiu!

Amber Desu: HAI TOP HAHAHAH gamau tau! temenin gue nonton T_T btw, Reo seksi. Sekian. HAHAHAHAHA! Oke abaikan, makasih udah mau baca dan mampir! Semoga suka yang iniii!

Shanaa12: Haiii! udah lama gak ketemu! xD Mehh, tiiiiiiiit apa tuh? xD Ahahaha iya, aku juga sekarang nilai turun juga jadi cuek *plek* oh iya! Terimakasih udah mau baca+review ya! :D semoga suka yang ini

Fakkufakku: Hai! Terimakasih udah doain saya UAN *padahal masih taun depan* xD Cowok 6HAGREGS seksi seksi loh! xD sekali lagi, terimakasih! Semoga menikmati chapter yang ini, ya!

Miki Abaddonia Lucifen: Hai! OKE INI UDAH APDET! B) tenang, Elliot akan disiksa di Series berikutnya! Makasih ya udah mau main kesini! Milafyuuu! Muah xD

Just 'Monta -YukiYovi: HALO YOVIII aaaa iconmu itu unyuuu! xD emang kok, itu emang sinetron *salah* Chesc... kenapa ya? Lebih enak aja xD aniwai terimakasih udah mau dateng+ripiu! Semoga suka sama yang ini!

RiikuAyaKaitani: Halo! xD Maafin Glo yah... *sembahsujud* Sip, ini diaaaa TS16! Semoga suka sama update yang ini ya sempai! Terimakasih udah mau mampir! XD

faricaLucy: Halo senpaiii! xD Gapapa-gapapa, udah pada mampir aja Glo udah seneng kok~~ xD OKE. SERIES BERIKUTNYA KITA SIKSA ELLIOT! ATO DI FF SATU KAMAR AJA YA KUSIKSA HAHAHAH oke, ini udah apdet, semoga suka ya! 3

Tsukiyomi Amu-Chan Hinamori: Haiii! Oh, Alice Human Sacrifice? Nanti ya kalo aku udah naik kelas 9, biar ga terlalu sibuk x( Nanti aku cari sumber lagi :) Ngomong-ngomong, terimakasih udah mau ripiu! Semoga suka sama yang ini!

hana-chan kirei: Hai kak! xD NAH! IYA! MAKSUDKU GITU HHAHAHAHAH Yang ide waktu itu? Doain aja ada di Series baru ini, tenang, insyallah bakal diracik sedemikian rupa xD Aniwai, makasih udah mau ripiu dan mampir! Muucihhhh!

Shachii Kyorarin: Hai! Ini yang fotonya aku komentarin beberapa hari lalu bukan sih? xD fans? *Glo mendadak malu-malu kucing* Ahahaa aku seneng kok udah ada niat mau mampir ke sini! Ngomong-ngomong makasih yaa! Semoga suka sama update-an ini!

Ilya The 3rd daughter of Vessalius: Haiii! Wahh, ada si-ders yang muncul OAO Leo Sama Echo dimunculin lebih banyak? Hmm... tunggu di series berikutnya aja ya! xD Semoga suka sama last update TS ini, enjoy!

Half-Human Girl: Haii! Ahh aku seneng ada yang ngoreksi + mau niat baca dan ripiu di sini, makasih ya! Semoga menikmati update yang ini ya! :D

LelouchZero18: Yo! Terimakasih udah mau mampir xD Eh? Di Buku? Aniwaiiii, ini dia chapter 16! Semoga menikmati! xD

.

.

.


"Eeeh?" anak-anak PanCo ngelap iler mereka.

"Ini… di mana?" tanya Eida selaku yang paling bolot.

"Aduh," Elliot menepuk dahinya, "Kita di Malaysia, tau!"

"WHATTTT?"

Jeng jeng jeng!

Sepertinya jetlag membuat beberapa anak PanCo lupa diri (?) salah, maksudnya, lupa ingatan sedikit.

"WHAT? OMG! SEJAK KAPAN KITA DI SINI?" Lotti heboh teriak-teriak di bandara Malaysia.

"Kenapa kita harus ke sini?" tanya Echo.

"Kasihtau gak yaaaa~" goda Pak Ru, ih genit deh.

"Kenapa sih saya juga harus ikut?" tanya Om Glen sangar, sambil manyun-manyun gak jelas.

"Gapapa, kan kita liburan pi~" ujar Lacie.

"Kenapa papa lo harus ikut sih, Lyss?" bisik Jack kepada Alyss dengan takut-takut.

"Oh iya, gak cuma itu," Pak Ru membawa info yang akan menghancurkan mimpi anak-anak PanCo untuk libur, "Om Glen dan Tante Lacie juga ikut tour bareng kita, loh!"

"UAPAAAAH?"

JEGEERRRRR!

"Kayaknya kalian gak seneng kalo ada Om?" tanya Om Glen sensi.

"SENENG KOK OM SENENG BANGET MALAH HEHEHEHEHEHE." jawab Jack, Gil, Vincent, dan Oz sambil meringis pasrah. Sedangkan beberapa anak cowok yang masih sayang nyawa gak mau ikut-ikutan.

Setelah melakukan tetek bengek yang harus dilakukan di bandara, akhirnya mereka duduk di bis dengan (tidak) tenang karena mendapat tatapan mematikan dari belakang (baca: Om Glen).

"Intinya, kenapa gue harus ikut?" tanya Om Glen lagi.

"Buat ngurus anak-anak, kalo cuma gue sendiri kan repot, duh." Pak Ru ngeluh, "Lo temen gue kan? Mau bantu gue, kan? Yayaya?"

"Hmph. Padahal lo juga yang nyaris ngebuat gue dicerein."

Sedangkan keadaan di depan…

"Mati kita! MATI KITA! GAK BEBAS!" bisik Break kepada Liam yang duduk di sebelahnya.

"Gue mau pacaran aja susah…" rengek Jack yang pacarnya duduk di deket bapak ibunya. Udah kayak anak beruang dijagain mama papa beruangnya. Sip.

"Hahhh, dasar, gak tenang nih ada predator di belakang." Gil keringet dingin membayangkan muka Om Glen.

"Udah, nikmatin aja," Elliot duduk santai.

"Gue iri sama lo semua," gumam Cheshire, "Kalo ada study tour kan lo-lo pada biasanya dijagain sama artis korea lah, motivator lah, orang kece lah. LAH GUA? GUAAAA? SAMA OM GLEN?"

"Oz, kok lu senyum-senyum doang daritadi?" tanya Reo.

.

"Hehehehehe," Oz makin cengar cengir, "HEHEHEHEHEHEE."

"Apa sih? Lo megang apaan? Sini gue liat." Liam yang gak sabaran akhirnya memaksa membuka telapak tangan Oz, lalu ia mendapati sehelai rambut berkilau.

"Oh," Liam mangap, "HEHEHEHEHEHEHE."

"Apaan sih lu berdua? Ketawa-ketawa mulu." Break ikutan penasaran, setelah melihat apa yang Liam dan Oz tertawakan, dia malah ikutan, "OOOH! HEHEHEHEHEHEHE."

"Anjir, gua merinding. Lo semua pada kenapa?" Reo ingin menjauh, apa daya, ia juga harus menyelamatkan teman-temannya dari jurang stress.

"Gapapa, sini-sini, liat," Oz memaksa Reo untuk melihat. Setelah Reo melihat benda tersebut, reaksinya…

"HEHEHEEHEHE."

"Lu nyeremin dah." komentar Elliot yang mencoba tidur.

"Gak! Lo harus liat! Sini!" paksa Reo, mau gak mau, Elliot harus liat.

"Kok… kayaknya cuma gue yang gak ngerti?" tanya Elliot dengan superpolos.

"MAKSUDNYA SANTET GITU LOH, KAN KITA UDAH ADA RAMBUTNYA, YA TINGGAL DISANTET GITU LOH EL. ADUH BHOLODH SEKALI DIRIMU." Vincent emosi.

"Loooh ini kan rambut oom?" tanya Om Glen 'SOK' polos, ia tiba-tiba muncul di kerumunan anak-anak cowok yang lagi heboh.

.

.

.

Semua anak cowok membatu.

"Siapa dalang dari semua perbuatan ini?" sosok Om Glen mendadak menjadi berwibawa.

Anak laki-laki langsung menunjuk ke arah Oz.

"Pengkhianat lu semua!" bisik Oz dengan nada mengancam dan penuh sesal.

"Sori, kita juga sayang nyawa." bela Break yang disetujui oleh yang lainnya.

"Oz," Om Glen tersenyum RIAAAANGGG sekali pertanda akan ada bencana, "Mungkin kita bisa selesaikan masalah di belakang?"

"I—iya om, hehehe, hehehehhee," Oz tertawa lemas lalu pasrah saja tubuh mungilnya diseret Om Glen.

Sementara itu, anak-anak PanCo menyusun rencana untuk mengusir Om Glen dari bis mereka.

"O—oke, kenapa kita ngumpul?" tanya Mizuaki agak panik, "Kalo bisa jangan macem-macem yah… calon keluarga besar gue tuh."

"Justru itu, kita bakal ngelakuin hal yang lebih ekstrem," Gil mencoba menenangkan Mizu yang ketakutan.

"Kalo Om Glen gak dilenyapkan, korban jiwa makin berjatuhan!" ujar Sharon memotivasi dengan benar… benar salah.

"Echo kenapa liatin Oz terus di belakang? Tenang aja, dia gak akan dimangsa kok." Eida menenangkan Echo.

"Tapi kan… Oz dalam bahaya," terang Echo datar.

"Sekarang gini," Jack memberikan keputusan, "Lo mau kita yang tertindas atau orang tua kayak mereka yang dibuang?"

Semua nampak berpikir keras.

"Justru itu, tapi kan etika buat mereka yang lebih tua…," Michelle sangat ragu.

"Oke, anak-anak!" Pak Ru menyapa anak PanCo dengan sumingrah, menghancurkan lamunan mahapenting mereka, "Kita di sini mau liat bangunan di Malaysia."

"Ooooh," semua tampak berpura-pura menyimak.

"Itu stadion." tunjuk Pak Ru.

"Ooooooooh," mereka manggut-manggut.

"Oke, kita ke singapur, sekarang."

.

.

.

"WHAT? PAK? KITA CUMA KE MALAYSIA BUAT LIAT ITU DOANG? WAD?" bentak Michelle sangar.

"Cing cay lah," Pak Ru gak mau ambil pusing.

"Beneran harus kita buang kayaknya," timpal Cheshire yang udah mulai kesel.

"Harusnya disaat kritis gini, kita butuh mereka berdua," saran Eida sambil menunjuk Alice dan Alyss yang duduk pasrah sambil dijagain Glen dan Lacie.

"Gak, lah. Jahat banget sih kita mau nyelakain mereka," Reo mulai berpikir agak waras dan agak jernih.

"Gue punya ide sih untuk menghilangkan hama alias Om Glen." celetuk Elliot tanpa menghiraukan perkataan Reo sebelumnya.

"Gimana?" tanya anak-anak PanCo agak antusias, walaupun mereka tau ini arahnya akan kemana.

"Jadi gini, pas Om Glen kebelet pipis, kan dia turun tuh, di jalan raya." Elliot makin antusias, "NAAAAHHHH disinilah klimaksnya! KITA DORONG OM GLEN DARI PINTU BIS, TANCAP GAS, KABUR! DAN GAK AKAN PERNAH NGELIAT MUKA DIA LAGI!"

"Ini beneran anak XI.2? Sejenius ini?" Jack desperate.

"Kalo Om Glen gak kebelet pipis?" tanya Echo polos.

"Oh iya," Elliot menepuk jidatnya.

"Kenapa Engkau memberi cobaan begitu berat kepada kami?" sesal anak-anak PanCo atas kehadiran Elliot yang mahabolodh (?).

"Udahlah, terima aja, gini jadinya…," akhirnya, semua terima apa adanya… dan membiarkan Oz kena damprat sama Om Glen.

.

.

.


[Deket Singapura, tapi belom sampe]

"Kebelet pipis…," keluh Echo. Wajar aja, 7 jam perjalanan sih. Ditambah 1 jam lagi untuk sampe di imigrasi Singapura, dan 30 menit untuk sampe di hotel.

"Echo masih bisa ta—"

"Gak." jawab Echo jutek dan memotong perkataan Pak Ru.

"Hhhh, anak didik gue," Pak Ru menggeleng-gelengkan kepalanya, "Pak supir, kita berhenti dulu. Di sini ada rest area ga sih?"

"Waduh pak, kayaknya ngga ada ya," jawab Pak supir.

Raut wajah Echo mulai berubah menjadi sedikit gelisah. Sedikit loh ya. Ajaibnya, di balik pepohonan rindang, tiba-tiba ada rest area.

"Itu dia," Pak Ru menghela nafas lega. "Anak-anak, kita bentar lagi bakal turun untuk makan."

"Aduh, tempatnya meragukan," ujar Vincent sambil menyibakkan poni (?). "Gak ada tempat makan yang lebih berkelas gitu?"

"Sarap."

"Buruan," Echo udah gak tahan. Udah kebelet baget.

"Iya-iya," Pak Ru ikutan panik (?). Setelah bis itu berhenti di rest area yang namanya disamarkan tersebut, Echo langsung lari ke kamar mandi dengan gesit dan penuh harapan (?).

"Mehh, makan di sini?" protes Elliot. Tempatnya sih gak kotor, bersih. Cuma kan… aneh aja.

"Makan aja sihhh elah," Pak Ru mulai gemes.

"GAK!" seisi bis menolak untuk makan di sana.

Echo datang dengan wajah pucat.

"Kenapa? Muka lu kok pucet gitu?" tanya Michelle sedikit khawatir.

Echo gak jawab, mukanya masih agak datar, ia terhuyung-huyung berjalan ke kursinya.

"Err, Echo?" Semua anak-anak PanCo yang di bis langsung menoleh ke arah Echo.

"Oke, jalan, pak," ujar Pak Ru.

Bis berjalan, semua baik-baik saja. Namun itu semua tak bertahan lama setelah Negara api menyerang… Oh salah. Itu semua tak bertahan lama setelah Jack memutuskan untuk ganti kelamin.

Oh, salah juga.

Itu semua tak bertahan lama ketika Echo muntah di perjalanan. Lebih tepatnya, di dalam bis.

.

.

.

"WUEKKK!"

"Echo muntah!" pekik Eida girang.

"Wow!" semua takjub melihat ekspresi Echo yang gak datar… Oke, kalian freak.

"Maaf," Echo mengelap mulutnya, lalu kembali duduk manis sambil memasang muka datar. Sedangkan pak supir memasang muka paling basi miliknya yang pernah ada.

"Muntah! MUNTAH!" Pak Ru norak dan agak keki melihat muntah sehingga ia teriak-teriak gajelas.

"Oh iya," Elliot bergumam sebentar, "OH IYA, ECHO MUNTAH! BANTUIN ELAH KENAPA MALAH JADI KAGUM GITU?"

"OH IYAAA!"

Beberapa anak langsung menghampiri Echo, "Echo gapapa?" pertanyaan standar.

"Meh," balas Echo sekenanya.

Beberapa anak juga mengelap muntahan Echo, siapa lagi kalo bukan perintah sang mahaganteng dan maha ngeselin… Om Glen. Dan itu menelan korban yang beranggotakan Cheshire, Jack, Gil, Vincent, Liam, dan Break. Sisanya?

"Huft, kita selamat!" ujar Oz bangga, dan mendapat tatapan sirik dari anak-anak yang dibabuin.

"Kamar mandinya," Echo masih memegangi mulutnya.

"Kenapa?" tanya mereka antusias.

Echo menghela nafas panjang, "Mantap." ujarnya, "Mantap banget, ada kerak."

"Kerak apa?" tanya Mizu antusias.

"Kerak pup-nya lah." Echo menjawab dengan muka standar dan datar, lalu mencoba melupakan segalanya dengan tidur.

.

.

.

"WHATTTT? EWWW!"


[SINGAPORE!]

Setelah melakukan imigrasi babibu, tujuan mereka hanya satu.

Orchad Road.

"YEAAAAHHH!" cewek-cewek yang terlibat tour, yah, termasuk tante Lacie, berteriak kegirangan sambil berlari sana-sini, mengharapkan baju-baju trendy yang branded dan murah.

Yang cowok?

"Sampe kapan kita disiksa?" rengek Liam yang dipaksa Lotti untuk ngebawain belanjaan.

Yang cowok cuma bisa pasang muka asem. Hingga akhirnya mereka dibagi 3 grup.

Yang pertama, berpencar ke arah Far East Plaza,yaitu Lotti, Eida, Michelle, Liam, Vincent, Echo, Oz dan Gil.

Yang kedua, berjalan ke toko branded bernama ForeverMuda, ada Tante Lacie dan Om Glen. Serta yang berperan menjadi babu, yaitu Cheshire, Mizu, Jack, Alice, dan Alyss.

Sisanya, berjalan entah kemana, terlunta-lunta tanpa mengetahui siapapun, ada Elliot, Reo, Break, dan Sharon. Ini adalah grup terpencil alias nyasar.

Kita mulai dari grup kedua.

"Aih, mom! Aku mau yang ini!" tunjuk Alyss sambil memilih sweater garis-garis.

"Iya, bolehh, kasih aja ke Jack, suruh dia yang bawa," sahut Tante Lacie tenang.

'Gapapa! Demi direstuinya hubungan gue dengan Alyss! Ini bukan apa-apa! Gak masalah!' Jack mencoba menghibur dirinya sendiri sambil senyum-senyum.

"Lu kenapa senyam-senyum sendiri?" tanya Mizu kepada Jack dengan geli.

"Mehh, enggak, cuma agak merasa diperdaya," ujar Jack sambil mendramatisir keadaan.

"Lo baru sekali diginiin udah protes?" hina Cheshire, "Gak gentle!"

"Lo udah sering ya diginiin?" tanya Jack.

"Iya, kenapa?"

"Pantesan, mental pembantu," hina Jack, wah, dendam die. Maka Cheshire cuma bisa manyun.

"Lo gak belanja?" tanya Alyss kepada Alice.

"Ga tertarik," balas Alice pendek sambil (gak niat) melihat-lihat baju. Alice biasa pake apa adanya aja, dan gak recet kalo milih baju, persis papanya. Kalo Alyss lebih condong ke arah mamanya, baju lecek dikit gamau dipake, Dan kalo baju itu udah dipake satu kali, gaboleh dipake lagi.

Dan harga diri Alyss plus mamanya bakal ternodai kalo dia pake ke pesta… dan gak sengaja ketemu orang pake baju yang sama.

Dijamin, mereka langsung pulang dan stress berhari-hari.

.

"IIIHH! YANG INI LUCU YA! YANG INI LUCU!" tunjuk Mizu sambil lompat-lompat dan mengambil baju itu.

Cheshire hanya melongok sebentar, sedangkan Alyss langsung antusias, "Aih! Iya! Lucu loh!"

Mizu sudah berniat untuk membeli baju yang katanya super uchul tersebut, dan setelah melihat price tagnya…

"Kenapa?" tanya Cheshire yang menyadari perubahan ekspresi Mizu secara drastis.

"Meh, itu, gapapa, hehehe, aku mau nyari yang lain," balas Mizu, gengsi mengatakan kepada Cheshire kalau baju itu MAHAL NAUDZUBILLAH.

"INI LUCUUU!" setelah melihat price tagnya, Mizu pergi.

"ITU JUGA LUCUU!" sama seperti yang di atas.

"AAAAH! LUCU BANGET YANG INI!" sama lagi.

Dasar kere.

.

"Ka—kamu kenapa lagi?" Cheshire mulai panik melihat ceweknya semaput setelah liat harga yang tertera di baju itu.

"Ma—mahal…," rengek Mizu, yang akhirnya mengikhlaskan baju itu untuk tetap berada di gantungan toko ForeverMuda.

Cheshire bergaya ala pahlawan, ia membuka dompet, namun naas, "Yah, duit gue juga abis lagi!" rutuknya kesal.

Dasar pasangan kere.

Alice mengambil baju yang lumayan menarik perhatiannya, lalu membantingnya ke lantai.

"APA-APAAN HAH? 45SGD UNTUK SATU BAJU? BUAT DIBASAHIN SAMA KERINGET DARI KETEK DOANG? MAYGADH! MAHAL BANGET! KALO DIRUPIAHIN BERAPA? BISA NYARIS 400 RIBU!"

Tante Lacie dan Om Glen membatu.

Alyss dan Jack mangap.

Cheshire dan Mizu pura-pura gak kenal.

"Alyss," Tante Lacie membisiki Alyss, "Bawa Alice keluar. Malu-maluin aja."

"Haaah," Alyss menghela nafas, lalu menarik Alice keluar dari toko tersebut.

Setelah belanja-belanji dan mengusir Alice, tibalah hari penentuan apakah abang-abang kasir masih hidup setelah disiksa oleh Om Glen, eh, salah, maksudnya tibalah waktunya Om Glen membayar semua belanjaannya istri plus anaknya di kasir.

"Anda orang akan membeli barang ini?" tanya si kasir (yang ketiban sial karena menghadapi pembeli sejenis Om Glen) dengan Bahasa Indonesia yang masih kaku.

"Hmph," Om Glen mengangkat dagunya, dan membiarkan poninya bergoyang (?) sambil memberi uangnya dengan TIDAK IKHLAS. Ia menyipitkan matanya, tatapan maut dan mematikan khas Om Glen yang bertujuan untuk mengintimidasi.

Si abang-abang kasir (?) ketakutan.

.

Oke, kita sekarang ke grup nomor satu. Yang katanya bakal jalan-jalan ke Far East Plaza.

"Kenapa lo semua pada ke sini?" tanya Michelle risih, ini kan shopping, harusnya perempuan yang belanja, cowok yang bawain barang belanjaannya, gausah ikut-ikutan (?).

"Gue gatau mau kemana sih," keluh Oz.

"Gue ngikutin Liam, soalnya dari kerumunan orang, gue cuma liat kepala Liam nongol," ujar Gil.

"Gue ngikut Gil," sahut Vincent.

"Kenapa malah kepala gue yang jadi patokan?" keluh Liam gak terima.

"Oh iya, Lotti, kita mau kemana sih?" tanya Eida.

"Tempat belanja yang murah, dong!" ujar Lotti dengan riang gembira dan hepi serta bahagia.

-1 jam kemudian-

"Capek," protes Gil, "Kok cewek pada kuat sih belanja plus jalan jauh?"

"Udah kodratnya," balas Echo yang sama sekali gak capek.

"Bentar, tadi namanya apa?" tanya Eida.

"Far East," Lotti masih bingung mencarinya, tunggu, kayaknya di sini deh, tapi, masa iya…

"Apa? Paris?" tanya Eida, BOLOT.

"FAR EAST."Michelle memperjelas.

"Apa? Ke Paris? Kita naik apa ke sana?" Eida bingung. MASIH BOLOT JUGA.

"FAR. EAST." Oz ikut-ikutan kesel, "Far, East! Itu nama daerah di sekitar sini! Aduhhh."

"Oooh, Far east!" Eida baru tanggep.

Lotti muter-muter, kesana-kesini, nyebar sesajen untuk dewi ular (?), eh, maksudnya, mencoba mengingat-ngingat kembali. Namun nihil.

"Sepertinya, kita…" Lotti mendramatisir keadaan.

Deg.

Deg.

Deg.

"Kita… tersesat."

Eida marah saat itu juga.

"APA? GUE BANGSAT?" Eida naik pitam, "GUE TAU GUE BOLOT! TAPI GAUSAH NGATAIN GUE BANGSAT! NGERTI GAK LOE?" tanpa menyadari betapa bolot dan budeg dirinya.

"SIAPA SIH YANG NGATAIN LO BANGSAT? HAH? GUE BILANG KITA TERSESAT! TERSESAT WOYYYY!" Lotti ikutan marah-marah.

"LO SENGAJA NGATAIN GUA BANGSAT DI DEPAN TEMEN-TEMEN LO SENDIRI? SEKARANG LO PUAS?" EIDA MASIH BOLOT JUGA SODARA-SODARA!

"BOLOT YA LOEEEEE!" Liam yang gemas akhirnya menjewer Eida. "Ter. Se. Sat. Ngerti kan?"

"Bagus, udah tersesat, kejebak sama orang bolot pula." sesal Oz.

"Yah, dasar cewek," Vincent hanya bisa geleng-geleng.

"Udah kodratnya," ulang Echo datar.

"Gue gak nyangka Eida mahabolot," ujar Michelle.

Gil melambaikan tangannya, "Oi! Di sini! Di sini!"

"Siapa Gil?" tanya Lotti penasaran.

"Itu, Elliot cs, ngajakin kita main, mau gak?" tanya Gil.

"Okelah…," jawab mereka semua yang udah tersesat dan gak tau mau ngapain.

.

Sekarang kita ke kelompok ketiga.

"Ehhh! Ada Gil!" pekik Elliot. "Ajak main yuk!"

"Main apa coba?" tanya Reo.

"Tadi gue nemu yang seru!" Elliot masang senyum paling dahsyat.

"Pasti gak beres," ujar Break, emang bener sih…

"Gapapa lah, ikutin aja. Daripada gak ada kerjaan," tumben banget Sharon ngebela si Elliot.

"Emang mau main kemana?" tanya Gil cs yang baru bergabung dengan rombongan.

"Adaaa!" Mereka nurut kepada Elliot, hingga akhirnya mereka semua berdiri di depan… sebuah gedung.

"Mana mainannya?" tanya Echo dengan nada kecewa.

"Itu!" Elliot menunjuk eskalator supeeeeeeer panjang.

"Itu? Naik itu?" tanya Michelle ragu, "Emang gak malu?"

"Iya, nanti abis naik ke atas kita turun lagi. Gitu aja," usul Elliot 'cemerlang' sekali.

Mereka, dengan tampang blo'on khasnya menginjak eskalator PUAAANJANGG tersebut.

"Woaaaahh!" semua takjub melihat keindahan eskalator (?) tersebut. Di atas mereka bertemu dengan Pak Satpam. Tanpa ba-bi-bu mereka langsung mengadakan foto bareng dadakan bersama pak satpam, lalu turun lagi.

.

.

.

"SUMPAH GAJE BANGET!" bentak Vincent kepada Elliot.

"Lagi yuk!" ajak Gil ketagihan dan mereka naik eskalator panjang tersebut.

"GAAAK! Malu-maluin banget!" bentak sisanya gak setuju.

"Terus sekarang kita ke mana?" tanya Oz kesepian.

"Gue laper…, padahal kan ini pesta perpisahan kita, harusnya wild, seru. Eh malah dikasih tour gaje gini…," keluh Lotti.

Semua mengangguk.

Bener juga, ya?

.

.

.


[Hotel]

"Yayaaang!" ujar Sharon lewat telpon kepada yayangnya, alias Break. Sedangkan Michelle dan Alice yang sekamar dengannya hanya memandang dengan sirik.

"Apa yang?" tanya Break genit.

"Maaf ya, hari ini aku ngerepotin kamu banget…," Sharon manja-manjaan lewat telpon.

"Oh iya," Break menggumam sesuatu.

"Apa?"

"Aku lupa pake celana…," sesal Break.

TUT TUT TUT

"Dasar ngeselin!" Sharon ilfil, lalu membenamkan wajahnya di bantal saking keselnya.

"Dia kenapa?" bisik Alice ke Michelle.

"Mungkin… dimabuk asmara?" tanya Michelle yang sebenernya SALAH TOTAL.

"Tau ah, gue gak ngerti gitu-gitu," ujar Alice cuek.

"Oh, udah jam segini," Michelle melirik dulu. "Gue keluar bentar deh, nyari udara seger." lalu Michelle keluar dari kamar tersebut.

Setelah pintu ditutup, Alice dan Sharon langsung menelpon Break, "Jadi kan?" tanya Sharon kepada Break, Alice yang berada di sebelah Sharon langsung pasang kuping biar gak ketinggalan rencana.

"Jadi lah," Yang diseberang sana menjawab.

.

.

.

"Cent? Vincent?" panggil Michelle sambil mengetuk pintuk kamar Vincent.

"Masuk aja, Chel. Gue di balkon." sahut Vincent.

Michelle memasuki kamar Vincent, lalu mendapatinya sedang merokok di balkon.

Kebiasaan yang aneh.

"Kayak waktu itu ya," Michelle berdiri di samping Vince, "Kayak di balkon rumah Alice dan Alyss."

"Yaah, mirip-mirip lah." balas Vincent sambil nyengir.

"Gue ada rencana sih, buat kedepan," Michelle bergumam, "Gue ngerasa… mau keluar dari Pan—"

"Sssh," Vince menahan kalimat Michelle dengan… rokoknya, yak, rokoknya. Kalo romantis mah pake jari gitu, pake bibir gitu. Ini pake rokok, udah kayak tante-tante. "Jangan asal ngomong."

"Gue serius," Michelle geli sendiri, "Gue gamau ganggu elo sama Lotti, lagian kan, itu udah keputusan e—"

"Elo suka bikin spekulasi sendiri, ya?" Vincent mulai gemas, "Gue gak ada apa-apa sama dia."

"Tapi lo bilang sendiri kalo lo suka sama cewek lain, kan?"

"Lotti sendiri yang bilang kalo dia gak mau ganggu hubungan…, " Vincent menarik nafas sebentar, "Kita."

Michelle mangap.

"Lah! Justru gue yang gak mau ganggu lo berdua."

"Dan dia bilang gak mau ganggu kita," Vincent mengangkat bahunya.

"Terus sekarang?" Michelle menggigit bibir bawahnya.

"Sekarang apa?" tanya Vincent.

"Masih mau ngegantung perasaan gue juga?"

Vincent menghela nafas, lalu mencoba mengalihkan fokusnya ke rokok, "Lo masih betah dan masih mau?"

"Masih." jawab Michelle mantap.

.

"Lo yakin gak akan dikhianatin lagi sama gue emangnya?" tanya Vincent lagi.

"Yang buat keputusan kan elo, gue sih gak berhak ngapa-ngapain." Michelle manyun-manyun dengan santai.

Vincent menginjak rokoknya. "Gue…, cuma takut." lalu ia memeluk Michelle dan membuatnya terkejut.

"Asal lo tau," bisik Michelle di dalam pelukan Vincent, "Gue kesel sama lo." tangisnya mulai pecah, dan memukul-mukul Vince dengan pelan.

"Tapi disaat yang sama gue juga sayang banget sama lo," lanjut Michelle sambil terisak.

"Gue bingung, cewek kayak lo masihhh aja mau sama gue," Vincent makin memperat pelukannya mengelus-ngelus rambut Michelle, "Aneh."

"Iya, gue aneh," Michelle membenarkan statement Vincent.

"Justru itu yang buat gue suka."

Tiba-tiba, balkon menjadi gelap karena tertutup sesuatu.

"Vin, itu apaan?" tanya Michelle sambil melihat benda yang menghalangi pemandangan. Vince melepaskan pelukannya dan melihat benda besar tersebut.

Oalah, karton berukuran besar bertuliskan 'Just One Chance' yang digantung dari balkon atas.

"HEHEHEHEHEHEHE." beberapa suara anak-anak PanCo terdengar sangat familiar dari balkon atas.

"Jadian aja udah!" sahut Gilbert dari atas.

"Iya! Biar gak jadi jomblo ngenes kayak Elliot!" hina Reo.

"Sialan!"

"Hahahaha! Udah! Lo berdua kelamaan! Buruan kek!"

"Yaudah, mau gimana lagi? Kita berdua udah sama-sama suka, udah sama-sama tau." ujar Vincent dengan agak geli.

"Jadi…?" tanya Michelle.

"Jadi?" Vincent bertanya balik.

"Mulai sekarang, ya. 22 Mei 2012, jam 22.47."

"HASYII!"

"Lo… bersin?" tanya Vincent heran.

"Engga," Michelle geleng-geleng, "Kayaknya ada yang gak beres di kamar lo."

"Kamar gue?" Vincent bergegas ke kamarnya. Dan bener aja. Oz, Alice, Jack, Echo, dan Mizu nekat ngumpet di bawah kasur. Sedangkan Liam…

"Lo… ngapain?" Vincent bingung melihat Liam.

"Gue… jadi lampu. Hehehhe, hehehehehe," setelah keberadaan Liam diketahui, ia langsung ngibrit keluar.

"Ah, elu sih Oz! Pake acara bersin!" sentak Alice. Akhirnya mereka berlima juga ikut ngibrit. Malu lah, udah ketauan (?).

"Kok gue jadi kagok gini dah… ditinggal berdua," ujar Michelle.

"Kan kita tinggal berdua," Vince menggenggam tangan Michelle, "Jadi…"

"Jadi?"

"Ikutin aja," ujar Vince dengan meraih dagu Michelle dan mendekatkan ke arah wajahnya.

.

.

.


[Paginya, Lobi Hotel.]

"KITA BAKAL PISAH! BAKAL PISAHHHH!" rengek Elliot yang disetujui anak-anak PanCo.

"Gue bakal kangen lu semua!" pekik Michelle, "Makasih!"

"Padahal, gue udah terlanjur sayang sama kalian," ujar Mizu.

"Gue juga!" sahut Gil.

"Ini pesta perpisahan kaga ada sedih-sedihnya…," komentar Alyss.

"Gak nyangka ya, udah setahun." Reo bawa-bawa kalender.

"Ada yang gak beres," ujar Echo.

"Bukannya kita naik ke kelas tiga?" tanya Eida polos.

"Terus?" Liam bingung.

"Berarti kita masih satu sekolah kan?" tanya Eida lagi.

"E—iya sih," Lotti mulai mengangguk-ngagguk.

"Berarti kita gak pisah kan?" cerocos Eida. "Kenapa ada pesta perpisahan?"

.

.

.

"OH IYAAAAAAAA!"

End.


"Apah? udah abis?"

"Gakkk, tenang aja, El! Nanti ada TS PART 2!"

"APAAAAAAAAAAH?"

"IYAAA! GUE BENERAN!"

"APAAHHHH? GUE BAKAL DISIKSA LAGI?"


Ngelepas TS mentok di chapter 16, sedih rasanya.

TAPI ADA PART 2 KOK HAHAHAHHA

Mau hiatus, sekalian tamatin TS dulu deh. Insyallah nanti TS yang nyeritain mereka pas kelas XII!

Ah, Glo gak sabar.

Jujur, Glo ngetik ini sedih... bukan karena plot, tapi rasanya TS sendiri juga... udah gak akan di apdet lagi.

Where's dat feeling?

Oh iya.

HAPPY BIRTHDAY TEENAGE STORIES!

Terimakasih telah menemani Glo selama 1 tahun!

Special Thanks:

Allah.

Bertha, Ghina, Myda, dan SGASV++!

Segenap author yang telah membantu,

Fave(rs) sesuai abjad: Amber Desu, AngieCarol, Aoife the Shadow, Authorjelek, azz76, BigKuma
faricaLucy, Half-Human Girl, hana-chan kirei, Just 'Monta -YukiYovi,
Just Teen Reader -.- Hamazaki, KoroCorona, Kujo Kazuza Phantomhive,
Lady Beilschmidt, LelouchZero18, margetts, matsura akimoto,
Midorishi Seki, Miki Abaddonia Lucifen, mirai hakurai itu sone,
ReoGuangtengBanget, RiikuAyaKaitani, salmahimahi, satria DK,
ShachiiKyarorain, Shanaa12, Sildara Jongwoon, Taviabeta-Primavera,
X-Eddreine-X, yosukegalih, dan Yuna Claire Vessalius Kusanagi.

Alert(ers) sesuai abjad: AngieCarol, cila-miyuki, Half-Human Girl, hana-chan kirei,
Lady Beilschmidt, margetts, Mizumi Kurokami, Mugi-pyon,
RiikuAyaKaitani, satria DK, Shachii Kyarorain, Taviabeta-Primavera,
dan yosukegalih.

Entah apa jadinya saya dan cerita ini tanpa kalian :)

Sekali lagi

Terimakasih untuk semuanya. :) Yang mau ngasih saran nama untuk sekuel ini, silahkan PM/Ripiu/twitter/FB

Terimakasih! :)

* Aduh, Glo jadi sedih, haha xD *