01. Chasing Destiny


"Why was I able to run across someone this important? Holding on to these fingers that they almost hurt, I see the dream that had disappeared into sadness. Farewell, Solitaire." Chrono Crusade—Sayonara Solitaire

"Renji, bodoh! Kenapa kau ikut-ikut?" seru Ichigo sambil ngos-ngosan. Sahabatnya itu ikut lari juga, tapi di atas Zangetsu—yang tentu saja membuat Ichigo iri setengah mati.

Sahabatnya itu meringis, "aku cuma ingin tahu bagaimana caramu memecahkan kode sesulit itu." Katanya. "Tapi aku heran, ini kan di kota, kenapa kodenya berhubungan dengan laut?" tanyanya—bukan pada siapa-siapa.

Tahu-tahu Ichigo berhenti berlari dan bertumpu pada kedua lututnya. Dia meletakkan kepalanya diantara lututnya. Wajahnya pucat dan dia berkeringat banyak sekali. Renji merasa kasihan pada sahabatnya itu. Dia segera melompat turun dari Zangetsu dan melemparkan botol air minum pada Ichigo yang langsung diteguknya habis. Renji mendekati Ichigo dan menepuk pundaknya pelan, "mungkin lebih baik kau istirahat dulu, teman."

Ichigo sudah berlari hampir setengah keliling ibu kota dan dia masih belum memecahkan kode itu. Dari pagi dia sudah lari, dan sekarang sudah menjelang malam. Dia sudah berlari seharian tanpa berhenti. Tampaknya dia benar-benar harus memecahkan kode itu kalau mau lolos di babak ini. Ichigo mengusap dahinya yang penuh keringat.

"Aku butuh mandi," kata Ichigo pelan.

Renji tertawa, "yah, benar! Kau bau!" katanya tergelak.

Ichigo tergelak pelan. Tenaganya sudah terkuras habis. Dia butuh makan, dia butuh minum, dan dia tidak ingin merasakan apapun selain air dingin yang membilas tubuhnya. Dia butuh mandi.

"Aku tahu rumah teman di dekat sini, mungkin kau bisa menumpang mandi dan istirahat sementara kau memecahkan kode itu." Kata Renji. Dia bangkit dan membantu Ichigo bangkit. Renji menuntun Zangetsu ke beberapa rumah dari situ.

Renji mengetuk pintu rumah kecil yang terbuat dari bambu. Pintu dibuka oleh seorang anak kecil yang langsung berteriak girang melihat Renji. Renji tersenyum lebar.

"Siapa?" tanya Ichigo.

"Ini rumah teman adikku." Kata Renji.

Seorang gadis berambut cokelat panjang dikuncir kuda berdiri di muka pintu, "oh, ternyata Renji-san." Katanya sopan. "Pantas Kei-kun jadi semangat. Masuklah. Ada yang kau perlukan?" tanyanya dengan senyum sopan.

"Terima kasih, Reii." Kata Renji seraya masuk ke dalam. Dia mengisyaratkan pada Ichigo agar masuk juga.

Ichigo menarik lengan yukatanya, "Renji, tunggu. Aku kan nggak kenal—"

"Sudahlah, tenang saja. Aku kenal, kok!" kata Renji tertahan.

"Apa ada yang salah?" gadis yang disebut Reii oleh Renji itu berbalik dengan tatapan penuh tanda tanya.

"Ah, tidak! Cuma sedikit salah paham." Kata Renji buru-buru. Dan dengan gerakan cepat, dia menggaet lengan Ichigo dan memaksanya masuk ke dalam.

Begitu Ichigo masuk ke dalam, dia merasa seperti di rumah. Tempat itu tidak lebih besar dari rumahnya dan semuanya terbuat dari bambu. Malah, rumah ini bisa dibilang lebih bagus dari rumah Ichigo. Setidaknya masih ada sekat yang membatasi ruang dapur dengan ruang tidur. Di rumah Ichigo, ruang tidur dan ruang dapur jadi satu.

"Maaf, merepotkanmu, Reii," Renji memulai dan duduk di bantal duduk. "Temanku dan aku berniat untuk meminjam sumur dan menumpang makan malam ini. Dia baru saja mengikuti sayembara dari Kaisar." Kata Renji menjelaskan.

"Ah, begitu rupanya." Mata hijau Reii membulat dan dia tersenyum ramah pada Ichigo. "Kurasa, kau yang namanya Kurosaki Ichigo itu, bukan?" tanyanya dengan sopan. "Renji-san sering menyebut-nyebut namamu. Dan kau cukup terkenal." Katanya dengan senyum sopan. Ichigo cuma bisa tersenyum sopan sebagai jawaban.

Seorang anak kecil berlarian dan menarik-narik kerah Renji, "Renji-nii, kita mau latihan pedang lagi, ya?" tanyanya dengan girang. Ichigo menaikkan alis mendengar anak itu memanggil Renji, Renji-nii?

Renji tertawa pelan lalu mengusap kepala anak itu, "Kei, kau ini persis seperti kakakmu. Tapi kita takkan latihan hari ini. Ini sudah malam, dan kau butuh istirahat." Katanya.

"Apa maksudmu 'sama seperti kakak'?" tanya Reii sambil memasang muka manyun. "Tapi Renji-san benar, Kei-kun. Kamu harus tidur." Kata Reii sambil menarik anak itu menjauh dari Renji.

"Ah, maaf sudah lancang, tapi apa anak ini adikmu?" tanya Ichigo tiba-tiba.

Reii tersenyum, "benar. Kei ini adikku. Kita belum berkenalan secara resmi, ya, Kurosaki-san? Maaf, namaku Higarashi Reiiko. Dan ini adikku, Higarashi Keiita. Yoroshiku onegai shimasu." Katanya dengan sopan. "Kalian boleh menumpang makan disini—mumpung masih ada makanan. Dan sumurnya ada di belakang rumah. Kalian boleh meminjamnya." Kata Reii.

"Terima kasih, Higarashi. Kau baik sekali." Kata Ichigo.

"Sama-sama, Kurosaki-san."

Ichigo segera bangkit dan menuju sumur dimana tadi ditunjukkan oleh Reii.

Sepeninggal Ichigo, Renji menggaruk kepalanya. "Ah, anu, maaf, Reii. Aku sudah datang malam-malam begini, tapi malah merepotkanmu. Tapi kami benar-benar butuh bantuanmu. Kau tahu dari ceritaku, kan? Kalau Ichigo itu keras kepala dan agak... tidak sopan. Tapi setidaknya dia punya kemauan keras dan kenekatan yang luar biasa." Kata Renji sambil tergelak. Reii pun ikut tergelak mendengar kata 'kenekatan luar biasa'. "Yah, memang, kadang dia itu keberaniannya lebih besar daripada kemampuannya. Jadi dia selalu nekat duluan—dan kadang dia tak menggunakan otaknya." Reii dan Renji tertawa lagi.

"Tapi sebenarnya, Kurosaki-san itu pintar, bukan?" tanya Reii. "Katamu dia suka sekali dengan kode-kode?"

"Oh, ya. Kau benar. Aku juga kadang-kadang kagum. Dia selalu pintar dalam menghubungkan titik-titik dan menganalisa kode prosa. Cuma, dia tak terlalu suka menggunakan otaknya. Dia baru akan menggunakan otaknya kalau ototnya sudah menyerah." Dan setelah kata-kata itu keluar, Reii tertawa lagi.


Ichigo mendesah lega ketika dia merasakan air dingin membasahi sekujur tubuhnya. Sumurnya memang ada di belakang, tapi masih tertutup dengan anyaman daun bambu sehingga dia bisa mandi tanpa khawatir ada yang melihat. Ini masih mending, rumah Ichigo bahkan tak ada kamar mandi, sehingga dia harus selalu mandi di sungai.

Setelah selesai mandi, dia merasa jauh lebih segar daripada tadi.

Ichigo mendesah dan berdiri di tengah halaman belakang. Dia menatap ke langit. Langit malam ini cerah, tak berawan, bintang-bintang kecil yang berkedip-kedip muncul, dan bulan purnama putih terbit di tengah-tengah. Cahayanya yang keperakan menimpa wajahnya dan membuatnya berpikir lagi tentang kata-kata Renji sehari sebelum sayembara. Putri Kuchiki yang katanya bagaikan dewi bulan itu. Ichigo tak terlalu percaya, tapi entah kenapa, begitu melihat bulan purnama putih yang bercahaya keperakan dan menerangi dalam ketenangan membuatnya terus berpikir tentang putri yang bahkan tak pernah dilihatnya itu.

Ichigo menggelengkan kepala dan menyadarkan dirinya sendiri masalah apa yang harusnya dipikirkannya sekarang. Sekarang bukan waktunya memikirkan sang putri. Dia harus memecahkan kodenya sebelum pagi tiba—kalau tidak, dia takkan bisa lolos ke babak selanjutnya!

Ichigo mengusap dagunya sambil mengernyitkan dahi—tanda bahwa dia sedang berpikir keras. Renji benar, kenapa kodenya tentang laut? Apa ada hubungannya dengan laut? Tapi itu tak mungkin. Kerajaan Wasuru terletak jauh dari pantai sehingga tak mungkin menggunakan jalur laut. Lalu apa maksudnya? Kerang? Kepiting? Kerang tak bergerak dan selalu mengikuti arus laut untuk berpindah-pindah, sedangkan kepiting selalu berjalan secara miring. Mungkinkah maksudnya jalan pintas? Ah! Seandainya ada sedikit petunjuk...

Ichigo selalu jago dalam memecahkan kode-kode dan dalam permainan mencari harta karun. Waktu kakeknya masih hidup dulu, dia dan adik-adiknya sering bermain mencari harta karun. Mereka akan menemukan sebuah kode tempat dimana tersembunyi kode berikutnya, dan seterusnya dan seterusnya, hingga akhirnya mereka sampai pada harta karunnya. Karin dan Yuzu masih terlalu kecil waktu itu, sehingga yang harus memecahkan kodenya adalah Ichigo—yang saat itu masih berumur 5 tahun. Harta karunnya bermacam-macam. Ichigo pernah menerima sekeping uang emas di atas bantalnya. Karin pernah menerima berbutir-butir cokelat di sebuah kotak kecil. Yuzu menerima permen-permen lollipop dibalik selimutnya. Mereka bukanlah keluarga kaya, jadi harta karun yang mereka terima selalu seadanya. Tapi bagi mereka, sekeping uang emas, cokelat dan permen adalah harta yang tak ternilai harganya—yaitu kasih sayang.

"Ha! Ekspresi wajahmu itu!" seru Renji membuyarkan pikiran Ichigo. "Kau pasti masih memikirkan kodenya. Apa sesulit itu? Biasanya kau senang dengan kode-kode dan bisa memecahkannya dengan mudah." Kata Renji. Ichigo tersenyum hambar dan menggosok rambut oranyenya. "Aku masih kepikiran sama Puteri Bulan itu, lho." Kata Renji sambil melihat bulan purnama yang terang di langit.

"Puteri Bulan?" Ichigo menaikkan satu alis.

"Itu, Puteri Kuchiki!" kata Renji sambil meringis. "Aku pengen tahu apa dia benar-benar secantik bulan di atas sana—atau paling tidak, secantik yang digosipkan."

Ichigo mendesah. Dia harus mengakui bahwa dia juga penasaran. Melihat bulan seperti apa sekarang, dia jadi membayangkan bahwa Puteri Kuchiki juga sama seperti bulan di langit itu sekarang. Malu, bercahaya, muram, tenang... Ichigo menggelengkan kepalanya, "Renji, plis deh! Sekarang aku lagi mikir tentang kode itu! Jangan alihkan perhatianku dengan bulan, dong!" kata Ichigo.

"Ayolah, setidaknya akuilah bulan itu cantik." Kata Renji.

Ichigo mendesah lalu menatap bulan yang bercahaya meneranginya. Malam hari selalu terlihat terang karena ada purnama yang meneranginya. Ichigo mendesah, "bulan itu memang cantik sekali." Kata Ichigo. Lalu dia membalikkan badan dan menghampiri Zangetsu yang terikat di pohon di samping rumah Reii.

"hahaha, akhirnya kau mengakuinya!" kata Renji sambil tergelak. Tapi dia tetap mengikuti Ichigo.

Melihat Ichigo menghampirinya, Zangetsu meringkik pelan dan mendengus. Ichigo mengelus leher kudanya dengan lembut. Kemudian dia kembali mengernyitkan dahinya—dia selalu melakukannya.

"Hei, hei, hei, kamu itu kenapa? Kalau kamu mikir jangan terlalu lipat-lipat dahimu, nanti kamu jadi cepet tua, tahu!" kata Renji dengan tawa canda. "Hei, jangan marah. Aku cuma bercanda."

Ichigo menoleh pada Renji dengan muka serius, "Renji, waktu kau tanya info tentang sayembara itu, apa Ukitake-sensei berkata yang lain? Sesuatu yang bisa jadi petunjuk tentang kode itu?" tanya Ichigo cepat-cepat.

"Eh? Dia tak bilang apa-apa tentang kode itu, tapi dia mengatakan... beberapa kalimat yang tidak kumengerti." Kata Renji sambil menggaruk kepalanya. "Waktu itu..."

~o0o~

"Ukitake-sama," Renji membungkuk hormat. "Terima kasih atas petunjuknya."

"Sama-sama, Abarai-san," Ukitake tersenyum ramah. "Oh, ya. Abarai-san, kamu bertanya seperti tadi, apa kamu akan mengikuti sayembara?"

"Ah, saya tidak bisa. Saya punya adik yang masih kecil, saya tidak mungkin meninggalkannya hanya untuk sayembara ini." Kata Renji merendah.

Ukitake mengangguk-angguk, "keputusan yang bijak, Abarai-san. Aku bisa mengerti perasaanmu. Kita akan melindungi orang-orang yang kita cintai." Kata Ukitake. Renji mengangguk menyetujui. "Lalu untuk apa kau mencari informasi itu kalau kau tidak berniat mengikuti sayembara?"

"Saya cuma membatu teman saya," kata Renji. "Sejak kami masih kecil, dia sudah bercita-cita menjadi ksatria—sampai sekarang. Dia berasal dari keluarga tak mampu—sama seperti saya. Dia punya terlalu banyak pekerjaan yang bayarannya tak seberapa, tapi dia rela menjalaninya demi adik-adiknya yang masih kecil. Tapi walaupun begitu, impiannya menjadi ksatria sejak dulu tak pernah pudar." Kata Renji sambil tersenyum. "Saya cuma berusaha membantunya semampu saya."

"Padahal kau pun sama seperti dia?" tanya Ukitake. "Apa kau ingin dia menang supaya dia bisa membagi pendapatannya denganmu?"

"Tentu saja tidak, Ukitake-sama! Saya tidak pernah mengemis. Itu sebuah dosa bagi saya. Meskipun saya sama seperti dia, tapi seperti dia juga, saya juga akan bekerja untuk adik saya. Lagipula, tidak seperti dia, tanggungan saya cuma adik saya. Sedangkan dia ada ayahnya yang sering mabuk, dan dua adik kecilnya yang masih kecil." Kata Renji. "Saya rasa, saya masih bisa bekerja lebih keras dari dia."

Ukitake tertawa kecil, "bagus itu. Itu baru namanya semangat. Karena aku bisa melihat ketulusan dan kejujuranmu, Abarai-san, aku akan memberitahu sebuah rahasia padamu." Ukitake berjalan ke arahnya dan berkata dengan suara pelan—seolah takut jika ada yang menguping, "kau tahu kenapa kepiting berjalan miring?"

Renji menaikkan satu alis dan menggeleng tak mengerti. Ukitake tersenyum lebar, "karena kepiting itu merasa akan jauh lebih dekat jika berjalan dengan rute miring!" katanya sumringah.

"Aku... tak mengerti." Kata Renji sambil menggaruk kepalanya.

"Tak apa, kau tak perlu mengerti. Bahkan kerang pun tak perlu bergerak untuk sampai di tempat tujuan yang tinggi." Katanya dengan ramah. "Kita tidak boleh terpaku pada sesuatu yang diluar jangkauan kita, Abarai-san. Terkadang, apa yang kita cari justru ada di depan mata tanpa kita sadari."

~o0o~

Ichigo terbelalak mendengar apa yang diceritakan Renji.

"Aku tak mengerti apa yang dia bicarakan, tapi jika ini berguna bagimu, kau pasti mengerti maksudnya." Kata Renji. Dia melihat tampang Ichigo yang nampak berpikir keras. Tahu-tahu, dia melihat mata cokelat itu berbinar dengan harapan dan semangat.

"Renji! Aku butuh kertas!" serunya cepat.


"APA?"

Burung-burung yang berkumpul pagi buta langsung berterbangan dari pohonnya ketika mendengar seruan Renji yang keras. Mentari masih belum terbit, langit masih gelap dan bintang-bintang masih bertaburan, tapi sudah nampak cahaya di arah timur.

"Kamu mau naik kuda?" mata Renji membulat. "Ichigo, Ukitake-sama kan tidak mengatakan apapun tentang boleh menaiki kendaraan!" seru Renji.

Ichigo membetulkan pedangnya dan mengikatnya dengan rapi di pinggang dan menjawab dengan tenang, "memang benar. Tapi beliau juga tidak mengatakan apapun tentang tidak boleh menaiki kendaraan, kan?" tanyanya dengan pede.

Renji melotot, "kau bicara apa?" lalu dia melihat senyum di wajah Ichigo. "Hah... senyum mengerikan itu..." Renji menatap Ichigo dengan aneh. "Jangan-jangan kau sudah..."

"Renji," senyum itu masih menempel di wajah Ichigo. "Kau tahu apa maksud perkataan Ukitake-sensei tentang kepiting yang berjalan miring itu?" tanyanya. Ketika Renji menggeleng, Ichigo tersenyum lebih lebar. "Kepiting maksudnya 'masuklah ke jalan pintas', sedangkan kerang adalah 'tetap bergerak di jalur utama'. Ukitake-sensei bilang, kita terserah menentukan rute jalan menuju ke istana—dan beliau tidak pernah bilang untuk tidak menggunakan kendaraan." Kata Ichigo dengan pede sementara mulut Renji mangap. "Lalu kerang kecil dan kerang besar, itu sebenarnya petunjuk untuk kata kunci ketiga. Kerang itu menunjukkan kata 'jalan'. Mungkin yang ingin dikatakan Ukitake-sensei adalah, 'boleh melewati jalan mana saja dan masuklah ke jalan pintas jika perlu'."

"Lalu apa yang dia maksud dengan 'jangan duduk sambil berjalan'?" tanya Renji.

"Tadinya aku juga sempat bingung. Tapi aku jadi dapat ide dengan kata-kata Ukitake-sensei tentang 'lihat apa yang ada di depan mata'. Dan waktu aku ingat kau yang mengikutiku dengan Zangu, aku jadi dapat ilham. Sebenarnya kata-kata 'jangan duduk sambil berjalan' adalah kata kunci ke kendaraan itu. Maksudnya mungkin, 'naiklah sendiri, jangan membonceng.' Mungkin yang ingin dikatakan Ukitake-sensei adalah, kita boleh mengendarai kuda sendiri, tapi tidak diperbolehkan membonceng kendaraan milik orang lain." Kata Ichigo dengan bangga.

"Ta—tapi, kemarin dia bilang kalau kalian harus lari!" bantah Renji.

"Aku juga sempat memikirkan itu," kata Ichigo sambil membetulkan sadel kudanya. "Tapi kemudian aku sadar itu cuma jebakan. Beliau sengaja mengatakan 'harus lari' supaya kita langsung mengira kalau tidak boleh menggunakan kendaraan untuk mencapai finish. Beliau juga menggunakan trik psikologis dengan menambahkan kata-kata 'yang tidak kuat boleh menyerah' supaya kita benar-benar mengira bahwa kita harus lari dan tidak boleh menggunakan kendaraan untuk mencapai finish." Kata Ichigo. "Padahal kalau dipikir-pikir, mana mungkin kita bisa lari keliling kota dalam waktu sehari? Kota ini luas, lho. Kira-kira 5.000.000 kilometer persegi. Mana mungkin mengelilingi kota yang begini luasnya hanya dalam sehari kecuali pakai kendaraan dan melalui jalan pintas?"

Renji melongo lama sekali.

"Mulutmu terbuka, Renji." Kata Ichigo mengingatkan.

Renji menutup mulutnya. "Kadang-kadang kau harus menggunakan bahasa yang lazim digunakan manusia biasa, Ichigo." Katanya dengan masih kebingungan. Tapi kemudian dia tersenyum sumringah, "kau berhasil! Kau memecahkan kodenya! Kau harusnya jadi penyelidik saja, Ichigo—bukan jadi ksatria! Kau bisa memenangkan sayembara ini, Ichigo! Aku yakin itu!"

"Ya," kata Ichigo pelan. "Itu kalau... tidak ada orang yang memecahkan kodenya lebih dulu daripada aku." Ichigo menaiki Zangu lalu mengelus kepala kudanya dengan lembut. Kudanya mendengus lalu berbalik ke timur—tempat dimana mentari mulai terlihat terbit.

"Ini dia," gumam Ichigo. Ichigo menatap Renji yang menatapnya dari bawah, "Doakan aku, Renji." Kata Ichigo sambil tersenyum.

Renji mengacungkan satu jempol, "semoga beruntung, Ichigo!" serunya sambil meringis. Melihat sahabatnya meringis, Ichigo jadi lebih tenang.

Ichigo menarik napas dalam dan mengeluarkannya lagi. Ichigo menyentakkan tali kekang dan Zangu berderap lari ke timur, ke arah matahari terbit. Renji menatap kuda sahabatnya yang menjauh, "kau akan membutuhkannya, teman." Gumamnya.

Ichigo berpacu dengan waktu. Tinggal lewat jalan pintas, dan dia akan lolos!


"Apa yang dilakukan Baginda dengan kelinci-kelinci piaraan Tuan Puteri?" tanya seorang pelayan bernama Hinamori Momo.

"Entah. Beliau hanya menyuruh kita untuk melepaskan kelinci-kelinci Tuan Puteri ke Taman Kerajaan. Kata Ukitake-sama, ini untuk kepentingan sayembara lusa besok." Jawab pelayan lainnya yang bernama Matsumoto Rangiku.

"Memangnya Tuan Puteri menyetujuinya? Beliau kan sangat menyayangi kelinci-kelincinya. Apalagi ada kelinci putih pemberian almarhum Ratu Hisana-sama. Bagaimana kalau kelinci-kelinci ini akan diapa-apakan?" tanya Momo cemas.

"Ssstt, sudahlah. Kita sudah disuruh, lebih baik kerjakan saja." bisik Rangiku.

"Aku selalu kasihan pada Tuan Puteri, tapi kenapa Baginda tidak pernah melihat keadaan puterinya yang sebenarnya?" tanya Momo pada dirinya sendiri.

"Sudahlah, Momo-chan." Kata Rangiku. "Kalau kau bicara keras-keras nanti ada yang dengar. Lebih baik kita lakukan sesuai perintah Ukitake-sama. Kalau beliau yang menyuruh, pasti ada maksud baiknya. Lagipula—" Rangiku berhenti sejenak. "Tuan Puteri juga tak mungkin setuju jika beliau tak melihat maksud baik dibalik kata-kata Ukitake-sama."

"Kau benar, Ukitake-sama bagaikan ayah baginya, kan?" tanya Momo polos.

"Ssstt, kita sudah terlalu jauh membicarakan ini!" kata Rangiku tertahan. "Lebih baik kita bicarakan ini nanti di tempat yang jauh lebih aman saja." Katanya pelan.

Mereka berjalan menjauh dari lorong-lorong berlantai kayu di pinggir taman koi sambil membawa kandang-kandang yang berisi kelinci-kelinci kecil menuju ke taman istana yang terletak tengah-tengah istana.

Tak jauh dari tempat itu, seorang gadis tertunduk di balik pintu. Wajahnya tak terlihat karena pantulan cahaya temaram mentari yang memancar dari balik pintu fusumi. Dia mendekam di balik pintu dengan punggung menghadap pintu fusumi kamarnya. Kemudian, dia menekuk kedua lututnya—sesuatu yang amat jarang ia lakukan—dan memeluk kedua lututnya dengan kedua tangannya. Gadis itu meletakkan kepalanya di atas lututnya dan rambut hitamnya yang tak disanggul jatuh di atas lututnya.

Dia mendengar semua yang dari tadi dibicarakan Momo dan Rangiku. Dan dia harus mengakui bahwa kedua orang itu benar. Tanpa disadarinya sendiri, airmatanya meleleh, membasahi pipinya yang halus—tanpa ada yang melihat, tanpa ada yang menyadari.

Solitude, sendirian, adalah kata yang sering diidentifikasikan pada Tuan Puteri. Tapi banyak yang tak mengetahui bahwa satu kata itu benar adanya. Angka satu adalah angka yang paling kesepian.


Author's Note:

Akhirnya chapter satu pun selesai juga. Maaf sudah menunggu selama sebulan, tapi harus diakui, karena bikin fic yang ini paling susah, jadi updatenya juga paling lama, kira-kira sebulan sekali. (maaf yah, para readers yang pengen update kilat, gomen...). jadi chapter dua kira-kira update bulan Februari besok. Kalau yang lain—kalo lagi nggak mati ide, yaaa... paling seminggu sekali. (bohong, bohong, Anxiety aja sekarang gak pernah update lagi...) hus! Itu gara-gara aku mati ide. Makanya bagi kalian yang punya ide cerita yang bagus, tolong kasih tahu saya supaya saya bisa melanjutkan fic yang satu itu.

Bagi kalian yang masih belum mudeng dengan garis pemisah alinea, beginilah:

~o0o~ - garis pemisah untuk flashback

garis panjang tanpa putus - garis pemisah untuk setting yg berbeda.

Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih pada Trectiteior, salah satu reviewer yang udah bikin saya tersanjung (ato ge-er?). Saya harap anda mau mengikuti cerita fic ini karena begitu melihat review darimu, saya langsung bertekad untuk menuntaskan fic yang satu ini. Seenggaknya fic satu ini tuntas lah—gitu maksud saya... masalahnya saya ini seringnya banyak ide yang beda-beda tapi gak ada satu pun yang tuntas. Bener-bener deh, Morte-san emang payah.

Dan aku juga berusaha untuk memperbaiki tulisanku, karena banyak yang ngomong kalo huruf kapital di awal kalimatku bermasalah. Terima kasih untuk Leenalee Shihouin dan Trectiteior yang mengingatkan saya tentang hal itu.

Well, I need to get to work again. So, I just want to say, "MERRY CHRISTMAS" and "HAPPY NEW YEAR" this year. God bless you all and wish you all—reviewers—the best! In the end, RnR please. Would you be so kind to click this blue button below?