02. Between Two Hearts
"And tears welled up suddenly. Feeling weak and wretched. Uneasy and lonely. I wanted some warmth, in a faint voice." Hamasaki Ayumi—Angel's Song
"Teman-temanku," Ukitake berdiri di alun-alun.
"Sayembara ini berlangsung ketat. Dari ratusan peserta, sekarang hanya tersisa sepuluh peserta saja. Berikut nama-nama peserta yang lolos ke babak selanjutnya; Ishida Uryuu—yang namanya saya sebut, dipersilakan maju ke depan. Inoue Orihime. Arisawa Tatsuki. Hitsugaya Toushirou. Kurosaki Ichigo. Yasutora Sado. Shiba Kaien. Shiba Kuukaku. Grimmjow Jeagerjackques. Nelliel tu Odelschvank."
Setelah selesai memanggil nama-nama tersebut, sepuluh orang sudah berbaris di hadapan Ukitake. Paling kiri adalah seorang pemuda berambut hitam berumur sekitar dua puluh tahunan. Dia memakai kacamata sehingga Ukitake tak bisa melihat matanya dengan jelas. Dia memakai pakaian dan jas serba putih. Kalau dilihat sekilas, dia mirip pendeta—apalagi dengan kalung salib yang dipakainya. Dia membawa panah dan anak panah yang diselempangkan ke tubuhnya.
Kemudian, di samping pemuda itu, ada seorang gadis yang nampak ceria berumur kira-kira beberapa tahun lebih muda dari pemuda disampingnya. Matanya abu-abu lebar, dan rambutnya panjang berwarna kecoklatan. Dia memakai pin rambut berbentuk bunga biru di kedua sisi kepalanya. Dia memakai yukata pink dengan corak bunga-bunga. Dia tampak tak cocok dalam bertarung, sehingga membuat Ukitake agak resah.
Di samping kiri gadis itu, ada seorang gadis lagi dengan perawakan sangar. Umurnya kira-kira sama dengan gadis disebelahnya. Rambutnya hitam dan acak-acakan. Kalau tidak dilihat baik-baik, semua pasti mengira dia adalah laki-laki. Tapi karena dia memakai yukata, jadi bisa terlihat bahwa dia perempuan. Gadis itu memakai yukata warna abu-abu gelap dengan corak-corak merah.
Di sampingnya lagi, ada seorang anak laki-laki kecil. Umurnya kira-kira masih empat belas—lima belas tahunan. Rambutnya putih—dan sangat menyolok. Matanya berwarna biru kehijauan. Tingginya mungkin hanya sekitar 130 senti. Tapi walaupun fisiknya nampak kecil dan kekanakkan, tapi perawakannya terlihat sangat dewasa. Dia tak banyak bicara dan tangannya disimpan dibelakang tubuhnya. Dia memakai yukata biru gelap bercorak naga putih. Dia menggenggam pedang bersarung biru.
Di sampingnya, ada pemuda tinggi dengan rambut berwarna oranye berumur sekitar dua puluh tahunan. Rambut oranyenya acak-acakan dan mungkin sengaja ditata secara tidak rapi. Perawakannya menakutkan karena alisnya yang mengkerut, tapi dia terlihat sangat tenang dan dewasa. Tinggi, tegap dan berisi. Matanya berwarna cokelat hangat. Dia memakai yukata hitam polos dengan lambang tengkorak kecil di dada dan haori putih bercorak ular yang disampirkan di bahu. Terdapat pedang yang ujungnya dihias rantai hitam dengan sarung hitam tergantung di pinggangnya.
Di samping pemuda itu, terdapat seorang yang lebih tinggi lagi. Kurang lebih dua meter tingginya. Ukitake sendiri mengira dirinya cuma kurang lebih sedadanya saja. Umur orang ini kira-kira beberapa tahun lebih tua dari pemuda berambut oranye di sebelahnya. Tinggi, tegap, berotot dan kulitnya berwarna gelap. Dari penampilan luarnya, jelas dia bukan orang sini. Mungkin dari luar—sama seperti pendeta tadi. Dia juga tidak menggunakan yukata, dia menggunakan semacam kaos tanpa lengan dan celana panjang. Bibirnya tebal dan rambutnya hitam kecoklatan keriting—menutupi matanya. Sekilas nampak menakutkan, tapi dia tampak tenang.
Di samping kanannya, ada seorang pria. Umurnya kira-kira sekitar tiga puluhan. Rambutnya hitam acak-acakan dan sekilas mirip dengan pemuda berambut oranye tadi, hanya saja berambut hitam dan bermata biru laut. Dia memakai yukata hitam pula, tapi dengan corak ombak dan warna biru. Dari perawakannya, dia tampak ramah, berpengalaman, dan murah senyum. Dia nampak sedang berbicara dengan wanita di sampingnya. Dia menggenggam sebuah tombak bermata tiga di tangannya.
Kemudian, di sampingnya ada seorang wanita yang nampak beberapa tahun lebih muda dari lelaki di sampingnya. Wanita ini cacat—tangan kanannya buntung. Tapi dia tampak berotot. Rambutnya panjang dan dia memakai penutup kepala sehingga agak sulit melihat warna matanya. Dia tampak berbicara dengan pria di sebelahnya—nampaknya keduanya adalah kakak-beradik. Di punggung wanita ini terdapat sebuah pedang pendek—wakizashi.
Di samping wanita tersebut, ada seorang pemuda yang nampak sangar. Umurnya sekitar dua puluhan. Rambutnya berwarna biru langit dan dia punya bekas luka di dahi sebelah kiri dan di dadanya yang sedikit terbuka. Dia memakai semacam jas putih yang lengannya digulung ke atas, dan di pinggangnya terikat pedang dengan sarung berwarna biru. Dia nampak tak bisa tenang dan gelisah. Kakinya bergerak-gerak terus dan alisnya ditautkan. Ukitake pun melihat bahwa nampaknya pemuda ini terus memperhatikan pemuda berambut oranye yang berdiri beberapa kaki darinya. Mungkin dendam pribadi—Ukitake tak ingin tahu.
Kemudian di ujung paling kanan, ada seorang wanita yang tampak dewasa. Umurnya kira-kira beberapa tahun lebih tua dari pemuda berambut biru di sampingnya. Rambutnya berombak panjang, warna hijau muda—senada dengan warna matanya. Dia menggunakan pakaian putih yang berlapis-lapis dan menutup tubuhnya dari leher sampai ujung kaki. Dia tidak menggunakan yukata, tapi memakai semacam jaket, dan memakai celana panjang yang didobel. Di pinggangnya tergantung pedang bersarung hijau.
Ukitake berdeham sambil tersenyum penuh arti. Ini akan jadi sayembara yang mengasyikkan baginya.
"Nah, saudara-saudara sekalian, inilah kesepuluh peserta yang berhak maju ke babak kedua. Silakan beri tepuk tangan meriah." Ketika orang-orang yang menonton bertepuk tangan meriah dan bersuit-suit, Ukitake tersenyum senang. "Sebentar lagi, babak kedua akan segera dimulai. Dan babak ini menguji kekuatan, kelincahan dan kerja sama. Sekarang, saya akan membagi kesepuluh orang ini menjadi dua kelompok."
Ukitake berdeham dan mengeluarkan kertas yang dia selipkan di yukatanya. "Kelompok pertama; Ishida Uryuu, Inoue Orihime, Kurosaki Ichigo, Yasutora Sado, dan Nelliel tu Odelschvank. Kelompok kedua; Arisawa Tatsuki, Hitsugaya Toushirou, Shiba Kaien, Shiba Kuukaku, dan Grimmjow Jeagerjackques. Silakan bergabung dengan kelompok masing-masing."
Orang-orang itu terbagi menjadi dua dan masing-masing bergerak dalam kelompok yang telah ditentukan.
"Nah, kelima orang sudah masuk ke dalam kelompoknya masing-masing," kata Ukitake. "Babak selanjutnya adalah tantangan duel tangan kosong."
Penonton bertepuk tangan riuh sementara para peserta tetap diam.
"Masing-masing orang dari tiap kelompok akan bertarung dengan tangan kosong melawan kelompok lain. Jika ada yang kalah, maka itu akan mempengaruhi nilai kelompok. Ini menguji kerjasama kalian." Kata Ukitake. "Peraturannya, tidak boleh menggunakan senjata. Pedang, panah, tombak—apapun. Saya ulangi sekali lagi, tidak diperbolehkan menggunakan senjata apapun. Dan dalam berduel, dilarang keras saling membunuh. Duel akan berakhir bila dalam tiga detik salah satu peserta tumbang." Kata Ukitake. "Jelas, semuanya?"
Para peserta mengangguk.
"Bagus." Ukitake mengangguk dan tersenyum puas. "Silakan para kelompok untuk maju ke samping saya. Kelompok pertama di sebelah kanan dan kelompok kedua di sebelah kiri saya." Kedua kelompok itu beringsut menuju tempat yang ditunjukkan oleh Ukitake.
"Babak kedua dimulai..." Ukitake mengangkat tangannya. Seiring dengan bunyi gong yang bergema, Ukitake menurunkan tangannya, "SEKARANG!"
"Tuan puteri," Rukia menoleh pada suara itu.
"Hinamori." Rukia meluruskan sikap duduknya. "Ada apa?"
"Kenapa Tuan Puteri tak melihat sayembaranya?" tanya Momo dengan sopan. "Bukankah anda sendiri yang bilang kalau anda ingin melihat siapa yang menang?"
Rukia tersenyum kecil, "ingin mengetahui siapa pemenangnya tidak sama dengan ingin menonton pertandingannya, Hinamori." Katanya.
"Tapi, tapi, ini pertandingannya berlangsung dengan seru, lho. Dan kebetulan hari ini agak mendung jadi udaranya tak terlalu panas. Anda bisa menonton dengan santai tanpa terganggu sinar matahari." Kata Momo. "Lagipula, dari sini pun kita bisa melihat dengan jelas ke alun-alun. Aku sengaja ingin melihat Shiro-chan bertarung."
Rukia mendesah. Baiklah, sekali ini dia akan mengalah. Ia berdiri dan bergabung bersama Momo dan Rangiku yang sedang menonton pertandingan di taman istana. Momo tersenyum lalu menarik tangan Rukia, "lihat, Tuan Puteri!" katanya sambil menunjuk alun-alun. "Pemandangannya jelas sekali, bukan?" katanya dengan senyum lebar. "Ditambah lagi cuacanya bagus! Ini yang terbaik! Ukitake-sama benar-benar beruntung bisa menonton pertandingan dari jarak sedekat itu." Kata Momo.
"Hinamori, panggil aku Rukia saja." Kata Rukia sambil tersenyum.
Rukia melihat wajah Momo memerah dan kemudian dia membungkuk, "maafkan saya, Rukia-sama." Katanya. Rukia tersenyum.
"Rukia-san," Rangiku yang sedang bersandar di pagar bambu menonton pertarungan di alun-alun bawah tersenyum dan menghadap ke arahnya, "apa kau tidak lihat bagaimana mereka bertarung? Keren sekali, kan?" Rangiku tersenyum mesum ke arah cowok-cowok yang sedang bertarung dengan telanjang dada. "Ahh, itu cowok yang rambutnya biru—sumpah, deh... keren abis..."
Rukia memutar matanya melihat tingkah Rangiku, "Rangiku-san, kurasa kau harus memperbaiki seleramu." Kata Rukia.
"Hei, hei, hei! Aku kan sudah bilang berkali-kali, panggil aku Ran saja!" kata Rangiku. "Dan apa maksudmu dengan selera? Aku memang menyukai cowok yang... apa ya, istilahnya? Berisi gitu..." Rangiku menerawang dengan tampang mesum. Rukia memutar mata—sekaligus bergidik.
"Ran! Kau harus hormat pada Rukia-sama!" Momo segera mengingatkan temannya.
"Tak apa, Hinamori. Aku lebih suka seperti ini. Kalian boleh panggil aku Rukia kalau kita sedang dalam keadaan non formal seperti ini." Kata Rukia. "Dan aku juga akan memanggil kalian seperti yang kalian mau." Rukia tersenyum.
Momo merasakan pipinya memerah, "kalau begitu, kalau anda tidak keberatan, tolong panggil saya Momo saja, Rukia-san." Katanya sambil membungkuk.
"Tak usah membungkuk. Anu... Momo." Kata Rukia terbata.
"Lihat! Lihat! Itu yang rambutnya oranye itu maju ke depan! Ini pasti jadi seru!" seru Ran memotong percakapan mereka.
"Benarkah? Benarkah? Aku lihat, aku lihat!" Momo segera berlari ke arah pagar di sebelah Ran dan memincingkan matanya. Lalu dia melihat cowok tegap berambut oranye itu berdiri di tengah-tengah alun-alun dalam keadaan telanjang dada. "Ah, itu kan cowok yang tadi menang dari Shiba-sama?"
"Menang dari Shiba?" tanya Rukia. Shiba Clan adalah salah satu klan bangsawan tertinggi setelah klan Kuchiki. Rukia mengenal salah seorang dari keluarga Shiba, pria yang sudah menikah, namanya Shiba Kaien. "Shiba siapa, maksudnya?" karena penasaran, Rukia mendekat dan ikut menonton dari balik pagar.
"Itu, Shiba Kaien-sama. Rukia-san kenal kan, guru kendo anda." Kata Momo.
"Ya, tentu saja aku kenal." Kata Rukia. "Dan siapa katamu tadi yang berhasil mengalahkannya? Maksudku, benar-benar mengalahkannya, tanpa curang?"
Ran menunjuk pada pemuda berambut oranye yang sekarang sedang berhadapan dengan pemuda berambut biru, "itu, itu orangnya! Bukankah menurutmu dia keren, Rukia-san? Dia benar-benar mengalahkan Kaien-sama! Dengan tangan kosong, dan tak ada tipuan mata! Waktu Kaien-sama mau melakukan serangan punggung, pemuda itu menghindar dengan salto yang keren abis—dan malah Kaien-sama yang terkena serangan punggung. Kaien-sama pun kalah, deh." Kata Ran menggebu-gebu. "Ah, Rukia-san tidak lihat, sih. Padahal dia keren sekali waktu melakukan sapuan kaki dan serangan kuncian punggung."
Rukia memincingkan mata dan berjinjit untuk melihat lebih jelas. Tak lama kemudian, Rukia mendesah, ingin menyalahkan badannya yang terlalu pendek.
"Wah, Rukia-san kalau yang menyangkut Kaien-sama langsung antusias, ya?" Ran tersenyum menggoda. Rukia hanya memerah, tapi dia tak membalas perkataannya dan tetap berusaha untuk melihat lebih jelas.
Jarak antara taman istana yang terletak di atas bukit dengan alun-alun di bawahnya tidak terlalu jauh, kira-kira hanya beberapa meter saja dan hanya dipisah oleh ilalang hijau yang tak terlalu lebat. Istana terletak di kaki bukit, tapi kaki bukit ini tidak terlalu tinggi sehingga orang-orang awam masih bisa melihat hampir seluruh bagian atas istana, dan Rukia bisa melihat ke seluruh desa di bawahnya.
Tapi dalam jarak segitu pun, anehnya, Rukia bisa melihat dengan jelas pria berambut oranye itu. Dalam keadaan telanjang dada dan kulit yang berkilau terkena sinar matahari dan basah oleh karena keringat, Rukia menyadari kalau dia tak bisa melepaskan pandangannya dari pria itu. Rambut oranyenya yang terang membuatnya terlihat menyolok, tapi rambutnya terlihat lembab. Mungkin karena keringat. Dia bisa melihat alis oranyenya yang mengkerut karena konsentrasi. Matanya yang berwarna cokelat hangat... entah kenapa, untuk pertama kalinya, Rukia merasa tenggelam. Hanya dengan menatap mata cokelat pria itu, Rukia merasa ingin tenggelam. Struktur matanya tajam, dan Rukia yakin, hanya dengan satu kali tatap, pria itu bisa melihat menembus langsung ke dalam jiwanya. Tapi bukannya merasa takut dengan pikiran itu, Rukia malah menyadari bahwa dia ingin terus menatap mata cokelat itu.
Tiba-tiba, tanpa peringatan, mata cokelat itu menatapnya. Rukia merasakan pipinya memerah, tapi dia tetap tidak mengalihkan pandangannya dari mata pria itu. Sementara, mata cokelat itu sendiri juga melebar dan balik menatapnya selama kurang lebih tiga detik. Tiga detik itu cukup untuk membuatnya kehilangan konsentrasi pada pertarungan dan menerima pukulan di pipinya.
Pria itu jatuh dan Rukia menarik napas kaget tanpa menyadarinya. Kedua pelayan yang berada di sebelahnya menatapnya tanpa berkata apa-apa. Rukia tak menyadarinya dan terus menatap pria itu—sekarang dengan rasa bersalah. Dari kejauhan, dia melihat pria berambut oranye itu bangkit lagi dan menatap lawannya, pria dengan rambut biru. Beberapa saat kemudian, pria itu melirik ke arahnya lagi. Nampaknya dia mengetahui rasa bersalah yang ada di matanya, dan kemudian dia tersenyum. Senyum yang mantap, senyum yang penuh semangat, senyum yang arogan, senyum yang mengatakan, 'aku pasti menang'. Dia tidak meringis. Hanya tersenyum. Tapi senyum itu—entah kenapa—membuat hati Rukia serasa berdebar dan membuat perutnya naik ke dadanya. Rukia tahu wajahnya pasti merah sekarang, sebab pria itu tersenyum geli kali ini, dan kembali berkonsentrasi pada lawannya. Ketika pria berambut oranye itu menangkis serangan bertubi-tubi dari pria berambut biru, Rukia menyadari bahwa dia—entah kenapa—tak ingin pria itu terluka, tak ingin pria itu kalah, ingin melihat pria itu tersenyum lagi.
"Rukia-san? Mukamu merah, kamu sakit?" pertanyaan tiba-tiba dari Momo membuat Rukia memalingkan pandangannya dari pria itu dan terlihat bodoh.
"Hah? Apa?" tanyanya tak mengerti.
Ran bersiul rendah, "bukan, Momo. Mukanya merah karena tadi dia sedang memperhatikan cowok berambut oranye itu." Katanya dengan nada menggoda.
Rukia merengut kesal dan dia tahu wajahnya pasti merah sekarang, tapi dia tak bisa membantah karena itu memang yang dia lakukan tadi. Dia hanya memalingkan pandangannya dari teman-temannya dan kembali memandang pria itu. Kali ini, pria itu melakukan sapuan kaki dan mengunci punggung pria berambut biru itu. Caranya melakukan itu membuat Rukia kagum. Cepat sekali, pikirnya.
"Benar, kan kataku?" kata Ran sekali lagi ketika melihat Rukia memandang pria itu sambil melamun. "Rukia-san? Apa kau akhirnya jatuh cinta juga?" tanya Ran dengan nada menggoda. Rukia menoleh. "Tadi aku melihat kalian, lho. Pria itu juga menatapmu, kan—sampai akhirnya dia kena pukul? Tapi kemudian dia tersenyum padamu. Ahhh, romantis sekali!" Ran menggenggam tangannya sendiri dengan berbunga-bunga
Rukia mendesah. "Ran, tolong jangan sampai situ." Kata Rukia sambil merengut. "Aku sudah dijodohkan dengan ayahku, jadi jatuh cinta dengan pria lain itu sama saja dengan berdosa." Kata Rukia.
"Tapi itu bukan berarti tidak benar, kan?" tanya Momo. "Kau kan belum menikah, jadi menurutku, sah-sah saja kau jatuh cinta. Lagipula, kau akan dijodohkan dengan orang yang bahkan tidak kau ketahui wajahnya. Menurutku, itu lebih menakutkan daripada jatuh cinta dengan orang yang baru kita kenal." Momo menunduk dengan wajah memerah karena tiba-tiba wajah Hitsugaya terbayang di benaknya.
Momo benar. Dia tidak bisa membantah. Sekali lagi, dia menatap pria itu dan merasakan hatinya berdebar. Pria itu sedang membungkuk pada penonton yang sedang bersorak sorai padanya—nampaknya ia menang. Tanpa disadarinya sendiri, bibir Rukia terangkat menjadi sebuah senyum kecil—sesuatu yang jarang ia perlihatkan. Tahu-tahu, pria itu berbalik dan menatapnya. Mata Rukia melebar. Kemudian pria itu meringis dan melambai padanya. Rukia ingin balas melambai, tapi dia hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa ia mendapat pesannya. Pria itu tersenyum senang seperti anak kecil dan kemudian berbalik kembali ke arah penonton dan turun dari alun-alun. Semua penonton menyorakinya dan teman-temannya juga bersorak untuknya. Rukia tersenyum lagi.
"Rukia-san, apa cowok itu barusan melambai ke arahmu?" tanya Ran tak percaya.
Rukia menoleh dan tersenyum malu, "Entahlah." Katanya singkat. Rukia juga tak benar-benar yakin apa pria itu benar-benar melambai ke arahnya atau ke arah lain.
"Ah! Ini sudah resmi!" seru Ran sambil melonjak pada Momo, "Rukia-san kita jatuh cinta pada pandangan pertama dengan si kepala oranye!" serunya antusias.
"Hee! Akhirnya Rukia-san jatuh cinta juga!" kata Momo sambil ikut melonjak bersama Ran.
"A—bo, bukan!" Rukia merasakan wajahnya memerah. Tingkah laku teman-temannya ini memang konyol bukan main, tapi Rukia yakin bukan itu alasan kenapa pipinya memerah. "Aku tidak jatuh cinta, itu tadi hanya... hanya—"
"Hanya apa, Rukia-san?" tanya Ran. "Apa kamu mau bilang kalau kau menatapnya terus sedari tadi—bahkan tersenyum padanya—dan pria itu terus-terusan tersenyum padamu tanpa dia mengetahui kalau kau seorang putri itu cuma kebetulan saja?" tanya Ran. "Itu tidak mungkin, Rukia-san. Kau dan pria itu bertatapan selama kurang lebih tiga detik, tapi itu saja sudah cukup. Akuilah, kau sudah jatuh cinta." Kata Ran.
"Aku tidak jatuh cinta," Rukia membantah sambil melipat tangannya di depan dada. "Aku bahkan tak tahu siapa dia."
Momo mendesah, "Ran-san. Kurasa butuh waktu bagi Rukia-san untuk benar-benar jatuh cinta." Kata Momo. "Lagipula, kau belum pernah benar-benar jatuh cinta, kan, Rukia-san? Jadi wajar bagimu kalau kau tidak tahu bagaimana rasanya." Katanya.
Benar juga. Rukia tidak pernah melihat pria lain selain ayahnya, dan dia juga tak punya teman cowok. Dia hanya berteman dengan para pelayan sebayanya dan dia tak pernah bertegur sapa dengan para pengawal. Para pengawal terlalu takut padanya untuk bahkan menatap matanya. Setiap kali dia mendekat, para pengawal cowok itu akan takluk dan membungkuk tanpa melihat matanya. Dia tak pernah merasakan apa itu jatuh cinta. Dia hanya sering mendengar dari Momo dan Ran saja.
"Baiklah, terserah kau sajalah, nak." Kata Ran sambil mengibaskan tangannya. "Tapi ingat, jangan bilang kalau kami tidak memperingatkanmu. Kami sudah sering jatuh cinta dan sering patah hati—jadi kami lebih tahu tentang hal ini." Kata Ran dengan gaya sok dewasa.
"Oh, ayolah, Ran," kata Rukia sambil tersenyum menyindir. "Kau tidak akan mulai ceritamu lagi tentang pria yang mematahkan hatimu itu, kan?" tanyanya.
Wajah Ran langsung memerah, "Ru—Rukia! Jangan ingatkan aku!" katanya sambil memalingkan wajahnya. Momo dan Rukia tergelak.
"Selamat, Kurosaki-kun!" gadis berambut cokelat itu melonjak.
"Kau hebat juga, Ichigo!" gadis berambut hijau itu bertepuk tangan.
"Kau lumayan juga, Kurosaki." Cowok itu membetulkan kacamatanya.
"Hm." Cowok tinggi itu mengacungkan sebuah jempol padanya.
"Kau berhasil, Ichigo!" Ichigo menoleh mendengar suara yang ia kenal itu. Sahabatnya, Renji, mendekat ke arahnya menepiskan orang-orang. "HOI, DISINI!" suaranya kencang sekali. Orang-orang sampai menoleh. Dasar tak tahu malu, pikir Ichigo sambil berjalan ke arah suara Renji tadi.
Dia menemukan Renji melambai-lambai padanya. "Dasar tak tahu malu," katanya sambil tersenyum, "kau tidak tahu suaramu itu kencang sekali, hah?" lalu dia menepuk pundak Renji. "Terima kasih, Renji. Berkat kau juga."
"Ah, aku kan cuma sedikit membantu." Kata Renji. "Kau yang mencapai cita-citamu sendiri." Katanya sambil menepuk pundak Ichigo. "Kau pasti bisa melakukan ini, Ichigo. Aku tahu kau bisa." Katanya tulus.
Ichigo tersenyum, "terima kasih, teman."
"Hei, ini gunanya nakama."
Mereka tergelak bersama dan menggenggam tangan masing-masing.
"Ngomong-ngomong, kau tadi melambai pada siapa di atas sana?" tanya Renji sambil memincingkan mata ke arah taman istana di atas sana. "Tadi ada tiga gadis disitu, yang rambut blonde paling hot." Katanya.
"Heh! Mesum kau!" seru Ichigo. "Tadi... itu... aku tidak tahu itu siapa, tapi..." Ichigo melayangkan pandangan ke atas sana dan hanya melihat dua gadis yang sedang berdebat. Gadis berambut hitam dengan kimono putih tadi sudah tak ada. "Ah, dia sudah tak ada." Kata Ichigo—berusaha menyembunyikan nada kecewanya.
"Kenapa? Kecewa?" tanya Renji dengan nada menggoda. Ichigo merengut pada sahabatnya. Renji tertawa, "tak usah malu mengakui kalau kau jatuh cinta, Ichigo." Katanya sambil menepuk punggungnya dengan keras hingga Ichigo nyaris terpelanting.
Ichigo menunduk sebentar. Jatuh cinta? Ichigo mendengus. Yang benar saja. Tapi kenapa tadi dia tersenyum ke arahnya? Kenapa dia tadi melambai ke arahnya? Kenapa hatinya serasa bergetar saat melihat gadis itu menatapnya pertama kali?
Ichigo harus mengakui, dia adalah gadis paling cantik yang pernah dia lihat. Memang, dia masih kalah dari cewek berdada besar, berambut blonde itu. Tapi entah kenapa, Ichigo tak bisa melepaskan pandangan darinya. Rambut hitam berkilau seperti batu obsidian. Mata sebesar almond yang sewarna dengan batu amethyst biru. Alis yang berbentuk seperti seperti sayap dan hidung bangir. Bibirnya... oh, bibirnya. Bibirnya penuh berwarna merah marun dan sedikit terbuka ketika dia menatapnya dari atas. Ichigo tak pernah melihat gadis yang secantik dia sebelumnya. Sungguh, saat dia menatapnya tadi, Ichigo ingin terus menatapnya. Menatap mata amethyst itu lebih dekat lagi. Dan saat gadis itu menatapnya dengan rasa bersalah di matanya, Ichigo hanya ingin menghiburnya—dan tersenyum hanya satu-satunya cara yang bisa dia pikirkan. Berteriak tak mungkin, dan melambai pun tak mungkin. Jadi ia hanya tersenyum seolah berkata, 'jangan cemas, aku pasti menang.' Dia hanya berharap gadis itu menangkap pesannya.
Ichigo sendiri yang salah; dia hanya merasakan ada seseorang menatapnya. Bukan seperti yang biasa dia rasakan saat merasakan tatapan penonton—lebih seperti ada yang menariknya untuk melirik ke atas, ke arah gadis itu berdiri. Dan gara-gara itu, untuk pertama kalinya, dia terpesona oleh seorang gadis; dan kena hantam gara-gara tak konsentrasi. Grimmjow sialan, dia hanya ingin membalas dendam karena Ichigo sudah mengalahkannya tempo hari. Tapi rasanya itu sepadan. Setelah dia tersenyum pada gadis itu, wajahnya memerah. Dia terlihat imut saat wajahnya merah. Ichigo geli sendiri waktu itu. Dan untuk menghindari godaan lebih jauh, dia harus—harus—memalingkan pandangannya dari gadis itu.
Saat dia menang, dia gembira ketika mengetahui gadis itu masih menontonnya. Ichigo hanya bisa meringis dan melambai seolah mengatakan, 'lihat, aku menang'. Gadis itu pun tersenyum dan mengangguk. Untunglah dia mendapat pesannya. Ichigo hanya tersenyum lebar dan sesaat kemudian dia merasa langkahnya ringan.
"Hei, kau melamun lagi, Ichigo!" seru Renji sambil menepuk punggung Ichigo. "Kau melamunkan gadismu?" tanyanya meringis.
"Dia bukan gadisku." Kata Ichigo sambil menekankan kata 'ku'. "Aku bahkan tak tahu siapa dia." Katanya sambil melipat dada.
Renji tergelak, "mungkin masih butuh waktu bagimu untuk benar-benar mengetahui kalau kau benar-benar jatuh cinta." Katanya. "Kalau kalian benar-benar ditakdirkan untuk bersama, takdir juga yang pasti akan mempertemukan kalian. Jadi jangan berwajah murung seperti itu, dong!"
"Wajahku tidak murung." Bantah Ichigo.
"Tapi alismu mengkerut, tuh." Bantah Renji.
"Emang udah begini sejak dulu!" seru Ichigo.
Suara gong membuat mereka berdua berhenti berdebat dan melihat ke arah Ukitake yang berdiri di mimbar alun-alun. "Perhatian, semuanya!" katanya. "Kali ini, kita mendapatkan pemenangnya!" Tepuk tangan lagi selama lima detik. "Saya akan bacakan pemenang yang telah saya dapatkan. Kurosaki Ichigo. Grimmjow Jeagerjackques. Nelliel tu Odelscvank. Hitsugaya Toushirou. Ishida Uryuu." semua orang bertepuk tangan riuh rendah selama tujuh menit. Ukitake-sensei menenangkan mereka dengan mengangkat tangannya, lalu dia berbicara, "dari sepuluh orang jadi lima orang, ini akan jadi sayembara yang menyenangkan. Dan di babak berikutnya besok pagi, kita akan kembali menyeleksi peserta! Harap para peserta menyiapkan diri."
Suara gong kembali dibunyikan, "sayembara berikutnya adalah... pertarungan pedang!"
Author's note:
Saya tidak akan bicara panjang2 disini—karena saya bukan mau pidato. Saya cuma mau bilang kalau adegan tatap2an mata itu murni hasil imajinasi aku sendiri. Kata adikku sih keren dan bikin geregetan. Tapi saya gak tahu kenyataannya—walau saya sendiri bacanya juga geregetan, sih. *sampek gigitin kuku saking alaynya.
Well, chapter dua selesai—tinggal chapter tiga. Kalau tak ada halangan seperti: ulangan, pe er, ujian dadakan, tugas, portofolio, saya bakalan update bulan depan. Kalo enggak, ya... jangan salahin saya. *dihajar massal* Salahin para guru saiaa! *dihajar para guru.
Okeh, abaikanlah semua ke-gaje-an saiaa, dan semoga anda masih sudi untuk mereview.
