03. Black Sun
"Now have witnessed sadness that you should never have seen, crying tears that should have remained dry. We may not be tough enough to live on the truth alone, but you know, we don't need to be." Aqua Timez—Velonica
"Duel pedang?" Renji menarik napas. "Yang benar saja! Pedangmu belum diperbaiki! Kau tempo hari mati-matian melawan Grimmjow, bukan?"
Renji menarik Ichigo dan menarik pedangnya dari pinggangnya. Ichigo sudah mencoba melawan, tapi percuma saja. Renji sudah menarik Tensa Zangetsu dari sarungnya dan menelitinya. Ada sedikit retak di bagian ujung hand-guard. Renji memperlihatkan bagian yang retak pada Ichigo, "nih, lihat! Bagian yang ini sudah retak gara-gara kamu sering mempergunakannya sembarangan. Gara-gara kamu tarung sama Grimmjow juga kan Tensa Zangetsu jadi retak begini?"
Ichigo mengangkat bahu, "apa boleh buat, aku emang payah kalau disuruh buat pedang." Katanya santai.
"Santai banget kamu! Besok kamu sudah harus tanding, tahu! Dan aku nggak tahu kalau ada pandai besi yang bisa memperbaiki pedangmu dalam waktu semalam!" kata Renji.
"Hoi, yang mau tarung besok itu aku, kok malah kamu yang sewot?"
Renji mengeplak jidatnya sendiri lalu mengerang. "Dasar, kayaknya yang peduli sama kamu disini cuma aku." Katanya. Lalu ia mengamati pedang itu lagi. "Hm, retaknya emang gak terlalu parah. Tapi melihat caramu bertarung selama ini, hanya dalam beberapa kali pukul saja retak ini akan cukup untuk mematahkan Tensa Zangetsu jadi dua." Katanya.
Ichigo merebut Tensa Zangetsu dari tangan Renji dan mengamatinya. Memang ada retak disitu. "Aku bisa memperbaikinya dalam semalam." Katanya.
Renji memutar mata, "plis deh. Kalaupun kau bisa, kau akan menguras habis seluruh tenagamu sampai besok pagi—padahal pertarungannya dimulai pagi-pagi sekali." Katanya.
"Tak masalah," kata Ichigo dengan mantap. "Tenaga memang terbatas, tapi otak kan juga harus bekerja." Katanya dengan senyum arogan itu. Melihat senyum itu, Renji langsung geleng-geleng kepala.
"Aku tahu kau merencanakan sesuatu," kata Renji. "Dan senyum mengerikan itu, pasti kau sudah merencanakan ini sejak awal kan?" tanyanya.
Ichigo tersenyum arogan, "mungkin kamu tidak tahu kalau sebenarnya pedang ini sudah kuperbaiki." Katanya. Renji mangap mendengarnya. "Wajar kalau kamu tidak tahu, aku memang tidak memberitahukannya pada siapapun. Tapi ingat tidak, kemarin, waktu Kenpachi melawanku? Dia meretakkan Tensa Zangetsu waktu itu. Setelah berpisah darimu waktu itu, aku langsung menuju ke tempat pandai besi tempat aku kerja dan memperbaikinya secepat yang aku bisa. Retak ini masih lumayan dari yang dulu. Tinggal kuperbaiki sedikit lagi, dan aku bisa mendapatkan Tensa Zangetsu yang bagus seperti baru. Masalahnya adalah waktu." Kata Ichigo. Kemudian dia menggumam, "bagaimana caranya memperbaiki benda ini tepat waktu?" gumamnya pelan.
Renji menutup mulutnya yang mangap sedari tadi dan menggeleng kepala. "aku tidak tahu kalau kau ini selalu mengantisipasi sesuatu terlebih dulu."
Ichigo mengangkat bahu, "tidak juga." Katanya. Lalu dia menyarungkan pedangnya kembali dan menghampiri Zangetsu. "Aku tidak mengantisipasi kalau aku tidak bisa memperbaiki pedang ini dalam semalam." Katanya pelan.
"Ha?" Renji sekali lagi mangap. "Kau bercanda, kan?"
Ichigo menatap temannya itu tanpa emosi yang tergambar di wajahnya. Renji yang melihatnya melebarkan mata tapi tak berkata apa-apa. Lalu Ichigo memalingkan wajahnya dari Renji, "Renji," katanya pelan. "Terima kasih, ya. Aku benar-benar berterima kasih memiliki teman seperti kau." Katanya pelan.
Renji yang menatapnya langsung mengkerutkan alis, "bicara apa kau, Ichigo? Kau berkata seolah-olah kita takkan bertemu lagi." Katanya. "Jangan menakutiku."
Ichigo menoleh lagi padanya, kali ini dengan senyum yang paling palsu yang pernah dilihat Renji. Bagi orang seperti Renji, yang sudah bersahabat dengan Ichigo selama bertahun-tahun, mudah baginya untuk membedakan mana senyum palsu dan mana yang bukan. Bila matanya terbuka, akan mudah terlihat bila dia benar-benar tersenyum atau hanya berpura-pura saja. Tapi biasanya, matanya akan tertutup bila dia sedang tersenyum, sehingga mudah bagi Renji untuk mengetahuinya. Ichigo akan selalu menutup mata bila tersenyum palsu.
"Hei," Renji berkata hati-hati. "Ada apa, Ichigo?"
Ichigo memalingkan muka, "tak ada apa-apa." Lalu dia menaiki Zangetsu dan menarik tali kekangnya. "Aku hanya tak yakin aku akan menang, Renji. Tapi aku harus berusaha, kan?" tanyanya.
Renji merasakan sesuatu. Perasaannya tak enak—seperti yang biasanya dirasakannya jika Ichigo menyembunyikan sesuatu darinya. Saat Ichigo bersiap untuk pergi, Renji memberanikan diri bertanya, "Ichigo," Ichigo menoleh padanya. "Kau akan melakukan apa saja untuk menang," dia berhenti sejenak, "bukan?"
Ichigo tersenyum. Renji tak tahu apa makna senyum itu. Itu pertama kalinya dia melihat senyum itu dari Ichigo. "Kau tahu aku, Renji." Kata Ichigo kemudian. "Aku pergi dulu." Dia pamit dan setelah itu dia pergi, kudanya berderap entah kemana, Renji tak tahu. Tak lama kemudian, Renji mendesah. Ichigo memang orang yang paling rumit yang pernah dia kenal. Sejenak dia santai, sejenak dia serius, kemudian tahu-tahu dia membawa atmosfir yang tidak dia kenal. Atmosfir berat, seakan ada yang hilang, dan membuatnya ingin segera menemukan apa yang hilang itu.
Tapi Ichigo adalah Ichigo. Renji mengenalnya seperti Ichigo mengenalnya. Ini adalah salah satu keunikan bergaul dengan orang seperti itu, Renji mengakui. Tapi sebenarnya, Renji masih tak mengerti temannya itu. Bahkan terkadang, Renji merasa seperti tak mengenalnya sama sekali.
Ichigo memacu kudanya ke pandai besi tempat dia bekerja. Berpacu ke wilayah Rukon lagi. Dia menghentikan kuda hitamnya di depan sebuah toko bertuliskan "Urahara Shouten"—"Toko Urahara". Ichigo bekerja sebagai pandai besi disini, dan disinilah dia mendapatkan bahan pedang dan bekerja keras membuat Tensa Zangetsu.
Ichigo turun dari kudanya dan berputar ke pintu belakang setelah mengikat tali kekang Zangetsu ke pohon terdekat. Di pintu belakang, dia disambut oleh penjaga toko nyentrik itu, "Kurosaki-san! Sungguh suatu kejutan kau datang hari ini! Kukira kau akan berada dalam Sayembara?" katanya riang sambil mengipas-ngipaskan kipas ke wajahnya sementara matanya tertutup bayangan topi bergaris yang selalu dipakainya.
Ichigo mendesah, "jangan pura-pura, Urahara-san. Apa yang tidak kau ketahui?" kata Ichigo, lalu dia berjalan ke tempat dia biasa membuat besi.
"Ara, Kurosaki-san jangan ketus begitu." Kata Urahara. "Aku lihat kau akan memperbaiki pedangmu lagi. Apa ada yang terjadi? Apa sayembara tadi mematahkan pedangmu?" tanyanya.
"Tadi itu bukan pertarungan pedang. Pertarungan pedangnya besok, dan Tensa Zangetsu masih belum diperbaiki, jadi aku kesini untuk memperbaikinya. Aku pinjam peralatanmu, Urahara." Kata Ichigo secara singkat, padat, jelas.
"Boleh-boleh saja!" kata Urahara—masih tersenyum. "Aku bisa bilang pada Tessai untuk membantumu, kalau kau mau." Tawarnya.
Ichigo tersenyum kecil, "terima kasih, Urahara-san."
"Ah, ini hanya bantuan untuk pekerjaku yang manis." Balasnya.
Mendengar itu, alis Ichigo langsung mengkerut. Tapi dia tak berkata apa-apa. Dia hanya mengambil pedangnya, dan mulai bekerja.
"Pekerjaannya akan butuh waktu lama, Kurosaki-san. Kau harus begadang untuk memperbaiki bahkan retak sekecil itu." Kata Urahara. "kau yakin kau mau melakukan ini sendirian?" tanyanya sekali lagi.
Ichigo terdiam, "karena itulah aku kesini, Urahara-san." Katanya tanpa menoleh. "Bukankah keberadaanmu saja sudah cukup membantu?" tanya Ichigo.
Urahara tersenyum di balik kipasnya, "begitu, ya?" tanyanya. "Terima kasih, aku tersanjung, Kurosaki-san." Lalu dia berbalik, "aku akan memanggil Jinta dan Tessai untuk membantumu. Panggil aku kalau kau butuh apa-apa, aku akan ada di toko depan." Katanya sambil lalu.
Dia tak mengharapkan jawaban atau terima kasih dari Ichigo, karena dia mengenal bocah itu. Tapi tetap saja, Ichigo mengucapkannya, "terima kasih, Urahara-san."
Urahara tersenyum mendengarnya, "sudahlah." Lalu dia menghilang di balik pintu yang hanya ditutupi oleh kain.
Ichigo hanya menoleh sejenak ke arah pintu itu. Kemudian, dia mulai memanaskan pedang hitamnya ke perapian. Ichigo menjaga agar suhu apinya tetap dengan cara memasukkan batu bara dan memasukkan oksigen agar apinya tetap menyala. Beberapa jam kemudian, pedangnya berwarna merah menyala, itu adalah tanda bahwa pedangnya sudah siap diperbaiki.
Ichigo melepaskan yukatanya karena udara disitu panas dan tubuhnya sudah mulai berkeringat. Dengan hati-hati, dia mengeluarkan pedangnya dari perapian dan mulai memperbaiki bagian yang retak. Dengan menggunakan sedikit besi baru, dia melumerkan bekas retakan tersebut dan memukul-mukulnya dengan menggunakan palu. Ichigo bekerja dengan serius, selalu berpikir dulu sebelum mengambil langkah selanjutnya. Perlahan tapi pasti, bekas retakan tersebut tertambal dengan besi baru dan mulai menutup kembali.
Sedikit lagi! Sedikit lagi, dan pedangnya akan seperti baru kembali!
Rukia menutup buku yang dibacanya dan meniup lilin yang ada di atas meja tulisnya. Malam sudah larut. Semua orang sudah tidur di tempat tidur masing-masing. Rukia berdiri dari kursinya dan berjalan menuju balkon.
Dari balkon tersebut, dia bisa melihat seluruh wilayah yang dikuasai ayahnya. Kamarnya memang terletak di lantai paling tinggi sehingga dia bisa melihat seluruh desa. Apalagi saat malam hari. Saat malam cerah, Rukia senang melihat bintang. Bertaburan seperti garam, berkilauan seperti permata, berkedip seperti mata. Kadang, Rukia malah bisa melihat beberapa rasi bintang—karena begitu imajinatifnya dia. Saat terang bulan, Rukia benar-benar bersyukur kamarnya terletak di tempat tinggi, karena dia tak perlu mendongak lagi untuk melihat bulan. Bulan putih yang besar itu terletak persis di depan balkonnya dan nampak begitu besar dan bersinar terang hingga Rukia merasa bulan itu nyaris bisa disentuhnya.
Rukia mendongak ke atas. Bintang-bintang bertaburan—sama seperti malam-malam sebelumnya. Samar-samar dia bisa melihat rasi bintang angsa di atas sana. Rukia tersenyum sendiri—membayangkan apalagi cerita yang disimpan oleh bintang-bintang di atas. Rukia selalu merasa bintang-bintang itu sedang bercerita. Bila dia melihat dan memperhatikan dengan baik, dia selalu menemukan cerita-cerita unik dibalik kedipan bintang-bintang tersebut. Ada induk beruang yang dengan putus asa mengejar anak beruangnya hingga separuh dunia. Dan ada cerita tentang Perseus yang membunuh Medusa untuk menyelamatkan Putri Andromeda.
Setelah capek menatap ke atas, dia mengalihkan pandangannya ke bawah. Tak seperti di atas sana—tak ada yang menarik di bawah. Seperti biasa, di bawahnya adalah taman istana yang dikelilingi tembok batu dan dijaga oleh segudang penjaga yang masing-masing membawa obor dan tombak. Kemudian, di bawahnya adalah alun-alun desa yang sekarang gelap dan hanya diterangi oleh sebatang obor di tengah-tengahnya. Setelah alun-alun, ada serentetan rumah-rumah bagus yang dibangun dengan menggunakan beton dan dengan atap asbes. Tanahnya ditutup dengan aspal dan semuanya dibangun dengan rapi—begitu juga dengan taman dan tanam-tanaman. Itu adalah kompleks Seirei, dimana para bangsawan—orang-orang yang paling dekat dengan Kaisar—dan para orang-orang kaya elite tinggal. Setelah kompleks tersebut—yang dikelilingi juga dengan tembok kayu tebal—ada serentetan rumah-rumah yang terbuat dari bambu dan dibangun secara tidak teratur. Tanahnya adalah tanah merah atau tanah humus dan dimana-mana ada pepohonan yang tumbuh tak teratur. Itu adalah kompleks Rukon, dimana rakyat jelata biasanya tinggal.
Kerajaan Wasuru ini dibangun sesuai sistem kasta. Istana kaisar dibangun di atas bukit, kompleks para bangsawan dibangun di kaki bukit, sedangkan rakyat jelata tinggal di dataran paling rendah.
Kompleks Rukon adalah tempat tergelap saat malam, karena mereka selalu hemat dan menyimpan apa yang mereka punya—termasuk minyak tanah, bahan bakar untuk membuat api. Sekarang yang nampak terang hanyalah sekeliling istana yang diterangi oleh obor-obor yang dibawa oleh para penjaga. Dan kompleks Seirei yang di setiap sudut terdapat obor untuk menerangi malam.
Rukia mendesah dan berbalik untuk kembali ke kamarnya dan tidur karena dia sudah mulai mengantuk. Tapi dia terhenti ketika melihat satu cahaya oranye api yang berkilau di ujung kompleks Rukon. Tumben, masih ada yang bangun. Biasanya kalau sudah larut malam, kompleks Rukon seluruhnya akan gelap gulita. Tapi jauh disitu, ada seberkas cahaya—menunjukkan siapapun yang ada disitu masih bangun—untuk mengerjakan apa, Rukia tak tahu.
Tapi siapa? Pikir Rukia. Dan untuk apa? Rukia memandang cahaya api oranye itu sekali lagi sebelum memutuskan untuk berpikir bahwa itu mungkin salah satu peserta yang sedang mempersiapkan diri untuk sayembara besok. Rukia mengangkat bahu dan kembali ke kamarnya.
Rukia mengganti kimononya dengan yukata tidurnya yang berwarna putih. Yukata itu khusus untuk tidur karena desainnya yang sederhana—tidak rumit—dan kainnya tipis dan halus sehingga nyaman untuk digunakan tidur. Dia punya banyak lagi yukata tidur dengan macam-macam warna—tapi dia tak suka menggunakan yukata yang menyolok. Dia suka dengan sesuatu yang tak terlalu menyolok, tapi masih cocok bila dilihat dengan warna lain. Dengan yukata putih itu, Rukia pun berbaring di ranjang kecilnya dan menguap—siap untuk menghadapi hari besok.
Suara pedang beradu, berdecit dan berderak. Suara kaki yang bergesekkan dengan lantai kayu hingga menimbulkan bunyi berdecit yang tinggi. Bagi sebagian orang, bunyi-bunyian itu mungkin memekakkan telinga. Tapi bagi Kurosaki Ichigo, ini adalah musik yang didengarkannya setiap hari.
Ichigo menunggu dengan hati berdebar—ingin tahu siapa yang jadi lawannya kali ini. Dia masih giliran terakhir, dan ini masih giliran Ishida—dan pemuda berkacamata itu dengan lincah bergerak kesana-kemari menghindari tusukan lawannya sambil sekali-kali menembakkan panahnya pada lawannya—seorang tahanan yang tinggi besar yang membawa tameng dan pedang. Tameng yang besar itu membuat Ishida kewalahan, tapi dia tidak berhenti menembak—sampai lengannya terkena sabetan pedang orang itu.
Ishida minggir ke samping sejauh mungkin dari orang tersebut ketika merasakan rasa sakit tajam menusuk lengan sebelah kanannya. Ishida menatap luka goresan di lengannya. Lukanya agak dalam sehingga sekarang darah mengalir keluar melalui lengan bajunya yang sobek—menodai bajunya yang berwarna putih. Ishida meringis menahan sakit dan kembali berkonsentrasi pada lawannya.
Tiba-tiba gong dibunyikan—dan tahanan itu segera ditangkap kembali sebelum dia melukai orang lain. Tahanan tersebut memang sengaja dikeluarkan hanya sebagai sasaran latihan. Ishida nampak lega ketika orang sangar itu ditangkap kembali dan dimasukkan ke buinya. Tapi ini masih belum selesai.
Ukitake-sensei berdiri dan bertepuk tangan—dan semua orang yang berada di alun-alun pun bertepuk tangan, mengikuti Ukitake-sensei. "Beri selamat pada Ishida-san karena telah berhasil bertahan hingga saat ini." Katanya. Ukitake-sensei segera memerintahkan beberapa orang tabib untuk mengobati luka Ishida.
Ketika Ishida turun dari alun-alun untuk memulihkan diri, Ukitake-sensei kembali berkata lantang, "dan peserta terakhir adalah... Kurosaki Ichigo!" semua orang bertepuk tangan riuh rendah—sementara Ichigo yang tegang hampir kehilangan warna wajahnya. Tapi dia menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan. Itu selalu membuatnya lebih tenang. Setelah merasa lebih tenang—walaupun masih disoraki—dia naik ke alun-alun, dengan pedang hitamnya tergantung di pinggang.
Ia membungkuk hormat pada penonton dan para penonton bersorak-sorai lebih keras lagi. Ichigo memang selalu mengaku tidak peduli apa yang dikatakan atau dipikirkan orang lain terhadapnya. Tapi berada di hadapan orang banyak yang sedang bersorak-sorai untuk memberi dukungan dan menaruh harapan padanya untuk menang bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Bagaimanapun kuatnya penampilan Ichigo, betapapun cueknya dia, di dalam hati Ichigo, selalu ada setitik ketakutan, keputus-asaan. Bagaimana kalau ia kalah? Bukankah ia akan mengecewakan semua orang? Apakah dia akan mati bila dia kalah?
Kemudian, dia merasakannya lagi—perasaan yang sama ketika dia melihat gadis itu menatapnya dari atas bukit. Dengan cepat, ia menoleh ke atas bukit di belakangnya. Dia melihat gadis itu—menggunakan kimono ungu kali ini—sedang menatapnya lagi. Wajah gadis itu berubah merah ketika mata birunya bertemu mata cokelat Ichigo, tapi dia hanya tersenyum malu. Ichigo tersenyum juga—kali ini senyum percaya diri. Entah kenapa, kehadiran gadis itu membuat semuanya jadi lebih baik. Dia tak merasa takut lagi sekarang. Ia merasa percaya diri—ia merasa bisa menang kali ini. Dia akan mengalahkan siapapun lawannya dan menang. Dia harus menang! Dia pasti akan menang!
Ukitake-sensei melihat ketegangan bocah itu berkurang saat dia menengok ke belakang. Penasaran dengan apa yang dilihatnya sehingga ia menjadi tenang, Ukitake-sensei pun menengok ke arah yang dilihat bocah itu. Kemudian beliau terkejut. Sang putri ada diatas, memakai kimono ungu dan sedang menatap bocah berambut oranye itu—dan mereka berdua tersenyum pada satu sama lain. Ukitake-sensei tersenyum terhibur. Kalau kehadiran sang putri bisa menenangkan bocah itu, bocah bernama Kurosaki Ichigo itu pasti akan menang kali ini.
Ukitake-sensei berdiri, "perhatian, semuanya!" serunya cukup lantang hingga seluruh penonton tenang dan menaruh perhatian padanya. "Sekarang kita akan menyambut penantang bagi Kurosaki Ichigo. Mari kita sambut, Zaraki Kenpachi!" suara tepuk tangan kembali bergemuruh.
Tapi di telinga Ichigo, bukan suara tepuk tangan yang bergemuruh—tapi suara jantungnya. Kenpachi? Si brengsek itu ada disini? Dia pasti sengaja! Dia memang selalu ingin bertarung dengan Ichigo setelah dia mengalahkannya tempo hari. Tapi hari itu berbeda. Waktu itu Ichigo berusaha mati-matian untuk menang, untuk melindungi keluarganya. Waktu itu Zaraki masih jadi preman jalanan, dan menantang Ichigo untuk bertarung—kalau tidak, dia akan membunuh adik-adiknya. Ichigo tak terima, maka dia menyetujuinya. Tapi dia kalah telak, sehingga dia terkena tusukan Kenpachi tepat di dada. Tapi kemudian dia bangkit kembali, lukanya menutup, dan dia berdiri lagi dan mulai menyerang dengan kecepatan mustahal. Kenpachi jadi makin semangat melihat kekuatan Ichigo yang sebenarnya luar biasa besar. Akhirnya karena keduanya sudah tak punya tenaga lagi untuk mengayunkan pedang lebih lama, maka mereka memutuskan untuk mengakhirinya dalam satu ayunan pedang berikutnya.
Pedang hitam Ichigo menembus bahunya sampai ke dadanya—tapi pedang Kenpachi menembus perutnya sebelah kiri. Kenpachi mengaku kalah karena pedangnya patah setelah menembus perut Ichigo. Tapi untuk membuat Kenpachi berkata, 'kau menang' pada Ichigo waktu itu membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit—terlalu banyak, malah. Ichigo tak yakin bila pertarungan ini diteruskan, mereka berdua akan masih tetap hidup.
Tak lama kemudian, dari samping alun-alun, dia muncul. Zaraki Kenpachi menyampirkan pedangnya di bahu—dalam keadaan telanjang dada dan dengan bangga memperlihatkan semua bekas luka besar yang ada di dada dan punggungnya. Ichigo mendesah melihatnya. Dia benar-benar berniat untuk bertarung serius dengannya—sama seperti setahun yang lalu.
Ichigo mendesah lagi. Apa salahnya dalam kehidupan masa lampaunya dulu sehingga dia harus berurusan dengan orang-orang seperti ini?
Rukia kaget ketika mengetahui pria itu mengetahui kehadirannya. Sama seperti waktu itu, ketika mata mereka bertemu. Dia tahu wajahnya pasti merah, tapi dia tetap tersenyum padanya. Lagipula, dia sudah agak ingin bertemu dengannya lagi setelah kejadian kemarin. Rukia terkejut dengan pikiran itu. Benarkah? Bukankah itu artinya dia rindu padanya? Rukia menggelengkan kepalanya hebat. Tidak mungkin dia rindu dengannya. Dia bahkan tak tahu namanya—dia bahkan tak tahu siapa dia. Dia baru dua kali berpapasan mata dan tiba-tiba Rukia sudah merasa rindu? Tapi kemudian dia merasakan rasa panas yang merayap naik dari leher ke wajahnya dan dia tahu wajahnya memerah lagi. Rukia berpikir lagi. Itu tak mungkin. Ya, benar. Tak mungkin. Tak mungkin... kan? Sesaat kemudian, Rukia mendesah. Dia beruntung Momo dan Ran sedang tak disini, karena mereka pasti akan mengolok-oloknya bila mereka melihat keadaan Rukia sekarang.
Ran dan Momo—mereka masih sibuk mengepak barang-barang ayahnya yang akan pergi tiga hari lagi—sehingga sekarang Rukia bisa bebas menatap pria itu semaunya tak ada yang mengolok-oloknya. Eh? Kenapa sekarang Rukia jadi kecanduan menatap pria itu, sih? Dia kan bukan stalker. Sekali lagi, Rukia merasakan rasa panas yang merayap dari leher menuju wajahnya dan sekali lagi dia tahu bahwa wajahnya pasti merah sekarang. Akhir-akhir ini, sejak berpapasan mata dengan pria itu—mereka bahkan tidak bertemu secara langsung—dia sering sekali memerah tanpa alasan jelas.
"Hah," Rukia mendesah sambil meletakkan kepalanya ke atas tangannya. Setidaknya, dia bisa mengetahui apakah pria itu akan menang atau tidak.
Memangnya kenapa kalau dia menang?
Bukan urusanmu.
Apa kau akan senang kalau dia jadi ksatria?
Mungkin.
Berarti kau ingin bertemu dengannya?
Siapa yang bilang begitu?
Kau jatuh cinta.
SHUT UP!
Rukia hilang dalam pikirannya sendiri dan berdebat dengan hatinya sendiri. Ia harus menghentikan ini sebelum dia jadi gila. Rukia mendesah lagi dan kembali menatap pria itu. Pria itu masih berdiri disana—bicara pada lawannya—dan dia nampaknya tak begitu senang.
Tadi waktu Ukitake-sensei memperkenalkan pemenangnya, dia memanggil orang yang bernama Kurosaki Ichigo. Jadi... mungkinkah orang ini namanya Kurosaki Ichigo? Mungkin. Dia akan memastikannya pada Ukitake-sensei nanti—setelah pertandingan selesai.
Ichigo merasakan rasa sakit tajam menusuk lengannya. Ia meringis menahan sakit dan mundur beberapa langkah. Ia memandang luka sobek besar di sepanjang lengannya yang sekarang berlumuran darah. "Cih," dia tak menghiraukan rasa sakit menusuk itu dan kembali memasang kuda-kuda ketika dilihatnya Kenpachi mendekat sambil menghunuskan pedangnya.
Tiba-tiba Kenpachi maju ke arahnya dengan kecepatan mustahal sambil menghunuskan pedangnya. Terasa seperti déjà vu. Ichigo melebarkan mata tapi kemudian memblokir serangannya dengan menggunakan pedangnya. Serangannya kuat sekali, pikir Ichigo. Dengan sekuat tenaga, Ichigo memblokir pedang Kenpachi ketika tiba-tiba orang itu menarik kembali pedangnya dan menghunuskannya ke arah perut Ichigo yang terbuka. Melihat pergerakan tiba-tiba itu, refleks Ichigo beraksi. Kaki kanannya menolak ke belakang dengan kuat dan bersamaan dengan itu, pedangnya dihunuskan ke arah bahu Kenpachi. Ichigo melakukan salto untuk menghindari serangan itu ke punggung Kenpachi—bersamaan dengan itu, dia berhasil melukai bahu orang besar itu.
Mengetahui Ichigo telah berhasil melukai bahunya, Kenpachi malah meringis dengan semangat. Ichigo yang telah mengantisipasi hal ini langsung mempertajam kuda-kudanya. Bila sudah dilukai, biasanya dia malah tambah semangat menyerang. Dan itu sudah terjadi—berarti Ichigo bisa menjamin bahwa setelah ini, mereka berdua mungkin takkan bisa pulang dengan semangat. Mungkin mereka masih hidup—tapi dalam keadaan sekarat.
"Bagus, Ichigo. Ini kedua kalinya kau berhasil melukaiku." Katanya sambil meringis lebar yang membuat Ichigo bergidik tapi tetap mengkukuhkan kuda-kudanya. "Sudah setahun aku tidak bertarung denganmu," katanya sambil mendekat pada Ichigo. "Ayo, kita buat ini jadi menarik."
Ichigo mengkerutkan alis lebih dalam lagi, "dasar bodoh. Apa kau tak dengar peraturan tadi? Tak ada saling bunuh. Kau harusnya tak ada disini." Katanya.
"Cih, peraturan? Peraturan macam apa itu?" kata Kenpachi. "Aku tak peduli dengan peraturan. Lagipula, kalau tak ada sayembara ini, aku takkan bisa bertarung denganmu lagi, kan? Ichigo." Katanya sambil meringis.
"Ini cuma sayembara, Kenpachi. Kita cuma bertarung sampai salah satu dari kita jatuh—da bukan terbunuh." Kata Ichigo. "Kalau kau masih belum paham, aku akan menyesakkan informasi sederhana itu ke dalam otak kecilmu yang hanya tahu kata bertarung saja." Kata Ichigo agak menyindir.
Tapi bukannya merasa tersindir, Kenpachi justru meringis lebih lebar lagi, "cih, itu artinya aku punya insting—jiwa untuk bertarung. Aku ini hidup untuk bertarung. Untuk menjadi lebih kuat dan lebih kuat—untuk menjalani pertarungan untuk menjadi lebih kuat." Katanya. Lalu dia memandang Ichigo, "sedangkan kau. Kau ini hidup untuk apa, Ichigo? Aku tahu kau masih punya insting bertarung di dalammu—kau hanya tak suka menggunakannya. Itu suatu penyia-nyiaan yang tak berguna, kau harus tahu itu. Bagaimana dengan dulu? Waktu itu mengancam akan membunuh adik-adikmu supaya kau mau bertarung denganku? Bukankah insting bertarungmu bisa bangkit dengan cara itu?" tanyanya. "Atau haruskah aku menggunakan cara itu untuk membangkitkan semangat bertarungmu, Ichigo?" tanyanya dengan meringis sambil mengintimidasi.
Ichigo tak bergerak, "waktu itu aku hanya berusaha melindungi keluargaku, kau brengsek. Aku tak tahu kalau kau sebenarnya cuma ingin main-main saja denganku." Katanya.
"Benar! Apa aku harus melakukan itu lagi untuk membuatmu bertarung sekali lagi denganku?" tanyanya sambil meringis.
"Tak perlu." Kata Ichigo sambil memperlebar kakinya. "Aku sudah tahu apa yang membuat insting bertarungku tumbuh kembali." Katanya pelan.
Kenpachi mengangkat alis, "oh?"
"Aku harus menang."
Dengan tiga kata terakhirnya, Ichigo maju menyerang Kenpachi dengan kecepatan mustahal. Kenpachi membawa pedangnya maju ke depannya dan memblokir serangan Ichigo. Tapi badan Ichigo yang jauh lebih kecil ternyata membawa keuntungan baginya. Dengan mudah, dia lompat kesana-kemari untuk menghindari sabetan pedangnya dan dengan mudah, lompat kesana-kemari untuk mencari bagian terbuka yang mudah untuk dilukai.
Sekarang, selain tangan Ichigo yang terluka, pipinya juga tergores. Bahu kirinya sobek dan dadanya tertebas. Kepalanya terluka dan darah tak berhenti mengalir melewati wajahnya. Kenpachi juga tak lebih baik keadaannya. Dadanya juga tertebas, bahunya sobek, wajah dan tubuhnya berlumuran darah. Tapi kemudian Kenpachi tertawa terbahak-bahak dengan tubuh berlumuran darah—seolah dia bukan merasa sakit tapi merasa geli sekali. Ichigo sudah mengantisipasi hal ini. Semakin dia terluka, semakin dia akan bersemangat untuk bertarung. Setelah ini pasti semua akan jadi kacau. Ichigo menguatkan kuda-kudanya.
"Bagus. Bagus, Kurosaki. Ini yang kuharapkan." Katanya dengan senyum gila padahal seluruh tubuhnya berlumuran darah. "Karena kita berdua sudah terluka begini banyak, bagaimana kalau kita selesaikan dalam satu serangan—untuk mengenang masa lalu?" katanya.
Ichigo terengah-engah. Dia sudah kehilangan banyak darah dan gerakan reflexnya sudah mulai melambat. Dia tahu kalau mereka harus bertarung lagi, dia pasti takkan bertahan. Kondisinya sudah tak memungkinkan untuk menang. Tapi kalau dalam satu serangan, masih ada kesempatan untuk menang.
"Yah," katanya sambil membawa pedang hitamnya ke belakang. "Yang bisa kulakukan hanyalah membawa seluruh kekuatanku dalam satu serangan lagi setelah ini." Katanya pelan. "Jika setelah ini aku tumbang," katanya. "Aku akan mengaku kalah."
"Hmph, jangan sok suci kau." Kata Kenpachi. "Kalau setelah ini pedangku patah lagi seperti dulu, maka kaulah yang menang." Katanya dengan napas terengah.
Ichigo berdiri dengan napas terengah, tapi dia mengumpulkan seluruh kekuatannya dalam pedangnya. Dia bisa merasakan kekuatannya terkumpul di dalam pedang hitamnya—siap untuk dilepaskan. Kau siap, Tensa Zangetsu? Pikirnya dalam hati. Aku mempercayakan yang satu ini padamu. Ichigo tersenyum percaya diri.
Selesaikan dalam satu serangan!
Mereka berdua maju bersamaan dan dalam kekuatan yang menakjubkan. Ichigo maju dengan kecepatan luar biasa dan mata cokelatnya berpendar biru. Kenpachi sendiri maju dengan kecepatan mustahalnya. Dan dalam beberapa detik saja, mereka saling menabrakkan pedang mereka masing-masing.
Sebuah tekanan yang besar dari kekuatan pedang mereka masing-masing yang menabrak satu sama lain membuat debu tanah dan kerikil terlempar dan membuat debu yang menyelimuti alun-alun sehingga tak seorangpun yang bisa melihat apa yang terjadi.
Para penonton menahan napas ketika mendengar kesunyian yang tiba-tiba setelah keduanya tadi saling menyerang. Tak seorang pun tahu apa yang terjadi dan tak seorang pun yang berani mendekat untuk melihat apa yang terjadi. Ukitake-sensei yang sejak tadi melihat keduanya pun tak tahu apa yang terjadi dan memutuskan untuk menunggu hingga debu asap mereda.
Dari dalam debu asap yang pelan-pelan menghilang, Ukitake-sensei bisa melihat kedua sosok itu. Ichigo mendapat tebasan ke bahu kiri hingga ke dadanya. Sementara Kenpachi mendapatkan tebasan dari perut sebelah kiri, naik ke dadanya. Mereka tak bergerak, tapi juga tak jatuh ke tanah. Melihat pemandangan penuh darah itu, Ukitake-sensei segera menyuruh para penjaga untuk memisahkan mereka.
Ichigo meringis kesakitan. Lalu sedikit déjà vu membuatnya mengenang masa lalu. Dulu pun seperti ini. Tapi rasanya kakinya tak lagi sanggup menanggung berat tubuhnya sehingga sekarang tubuhnya berniat menyerah. "Aku kalah, Kenpachi." Bisiknya. Lalu dia tumbang dengan tubuh berlumuran darah.
Kenpachi memandang bocah itu tumbang ketika pedangnya menebas bahu bocah itu. Kenpachi tersenyum kalah, "cih, apanya yang kalah?" katanya pelan. Dan dia melihat pedangnya yang sekali lagi patah. Lalu dia merasakan pandangannya kabur. "Kau menang, bodoh."
Kemudian semuanya gelap.
Author's Note:
Baiklah, karena teguran dari salah satu reviewer yang baik hati, saya memutuskan takkan bicara lama-lama. Saya insyaf curcol. *halah.
Overall ceritanya terinspirasi dari Avatar: the Legend of Aang. Adegan pertarungannya completely nyontek dari pertarungan Kenpachi vs Ichigo. Ditambah dengan perubahan seperlunya tentunya. Adegan akhir pertarungan itu sebenarnya dari Ichigo vs Byakuya.
Okeh, chapter tiga sudah selesai—tinggal chapter empat. Kalau tak ada halangan, maka akan segera update bulan depan. See you reviewers. Maaf jika tidak memenuhi harapan anda—semoga anda masih sudi untuk mereview.
