04. White Moon
"And just when I thought I'd lost my way, you gave me strength to carry on. That's when I heard you say, I promise you, I'm always there, when your heart is filled with sorrow and despair." Leona Lewis— Footprints on the Sand
Rukia tak merasakan bahwa dirinya menahan napas ketika melihat pria itu tumbang dengan tubuh berlumuran darah. Tidak, pikirnya panik. Tidak. Tidak. Tidak. Jangan mati. Jangan. Jangan mati! Dia tak mungkin mati! Dia tak boleh mati!
Mana boleh dia mati?
Tanpa sepengetahuannya sendiri, dia turun dari bukit ke pintu gerbang istana yang terbuka dan turun ke ke alun-alun, mendekati tempat Ukitake-sensei. Barulah dia bisa melihat jelas wajah pria itu. Tapi dia tetap tak bisa melihat dengan jelas karena wajahnya berlumuran darah.
"Ukitake-sensei!" serunya panik.
Ukitake-sensei menoleh ke arahnya, "Tuan Puteri," katanya. "Anda seharusnya tidak disini." Katanya.
"Pria itu," kata Rukia panik. "Dia—apakah dia—?"
Ukitake mencoba menenangkan sang putri, "tenanglah, Putri Rukia. Dia tak apa-apa. Dia masih hidup. Hanya kehilangan banyak darah." Kata Ukitake-sensei. Rukia menghembuskan napas lega. Untunglah dia masih hidup. Ukitake-sensei mengamati Rukia. "Kenapa anda begitu peduli padanya, Putri Rukia?" tanyanya dengan nada menggoda. "Apa kau kenal dengannya?" tanyanya.
Rasa panas yang merayap ke wajahnya membuat Rukia tahu bahwa dia memerah lagi. "Aku tidak kenal dia." Kata Rukia. "Aku bahkan tak tahu siapa namanya."
"Namanya Kurosaki Ichigo, Putri Rukia." Kata Ukitake-sensei.
"Aku tidak bertanya." Kata Rukia.
Ukitake-sensei tergelak. "Putri Rukia, jika anda merasa lebih baik bila anda bisa mendekatinya, maka dekati saja. Mumpung tak ada yang mengetahui identitas anda." Katanya.
"Apa boleh?" tanya Rukia ragu. "Aku memang ingin mendekatinya, tapi—"
"Aku takkan bilang pada Kaisar." Janji Ukitake.
Mata Rukia melebar dengan harapan, "sungguh?" tanyanya.
Ukitake meletakkan tangan di dadanya, "ini salah satu janjiku untuk Tuan Puteri." Katanya.
Rukia tersenyum mendengarnya, "terima kasih, Ukitake-sensei." Dia membungkuk. Kemudian dia lari ke arah pria itu.
Pria itu masih tak sadarkan diri. Para tabib sedang mencoba menutup lukanya dengan menggunakan kulit kayu dari pohon willow. Saat itu, kulit kayu pohon willow memang yang dipercaya ampuh untuk menyembuhkan luka luar. Wajah dan tubuh pria itu masih berlumuran darah. Rukia mengeluarkan saputangan putihnya, membasahinya dengan air, dan mengusap darah di wajah pria itu. Setelah wajahnya bersih dari darah, Rukia baru bisa melihat dengan jelas wajah pria itu.
Alisnya oranye—senada dengan warna rambutnya. Dan bulu matanya panjang-panjang. Kulitnya agak lebih gelap dari kulit Rukia—pasti karena dia sering latihan di bawah sinar matahari. Hidungnya agak mancung, dan bibirnya tipis. Wajahnya bersih dan nampak berkilau karena sinar matahari yang dipantulkan oleh keringat dan air yang membasahi wajahnya. Rukia menelan ludah. Baru sekali ini dia memperhatikan seorang laki-laki dengan begitu... intens. Ya, mungkin itu kata yang tepat.
Seorang anak yang nampak rapuh memandangnya, "anu... Rukia-sama... lebih baik anda mundur dulu." Katanya ragu dengan takut-takut. "Orang ini baik-baik saja... anu... Lukanya sudah... agak menutup. Mu-mungkin... setelah ini, dia hanya butuh sedikit istirahat saja." Katanya dengan agak tergagap.
Rukia memandang orang itu. Rukia kenal, itu anak tabib yang bernama Yamada Hanatarou. Anak ini selalu takut-takut. Rukia tersenyum menenangkan, "begitu, ya? Kalau begitu, aku menyerahkan dia padamu, Hanatarou." Katanya sambil tersenyum.
Melihat senyum itu, Hanatarou agak merasa lebih tenang. "I-iya, Rukia-sama." Katanya.
"Tolong jangan panggil aku sama." Kata Rukia. "Panggil aku biasa saja."
Hanatarou agak terkejut tapi dia mematuhi, "ka-kalau begitu, boleh saya panggil Rukia-san?" tanyanya.
Rukia tersenyum, "Terima kasih."
Mendengar itu, Hanatarou menegakkan duduknya dengan mata berbinar, "I-iya!"
"Oh, ya. Hanatarou." Rukia mencuci saputangannya yang tadi digunakannya untuk mengusap darah dari wajah pria itu. "Aku ingin kau memberikan saputanganku pada orang ini setelah dia bangun nanti. Sebagai jimat supaya dia tak terluka lagi." Katanya sambil memberikan saputangan putihnya yang sudah dicucinya.
Hanatarou menerimanya sambil tersenyum gugup, "i-iya, Rukia-san."
"Tolong, jangan beritahu identitasku yang sebenarnya padanya." Kata Rukia. "Untuk sementara, jangan sampai dia tahu kalau aku seorang putri. Bisakah kau berbuat ini untukku, Hanatarou?" tanyanya.
Walaupun bingung, Hanatarou mengangguk, "iya, Rukia-san."
Setelah itu, Rukia bangkit dari tempat itu dan berjalan ke tempat Ukitake-sensei. "Ukitake-sensei," katanya. Setelah melihatnya, Ukitake-sensei berdiri. Rukia mendekat, "Sensei, aku harus pergi. Kalau ayah mengetahui aku turun ke bawah—" Rukia tak ingin menyelesaikan kalimat itu.
Ukitake-sensei mengangguk mengerti. "Baiklah. Hati-hati, Putri Rukia." Katanya. "Turunlah lagi ke bawah, kapan-kapan." Katanya dengan wajah yang membuat Rukia merasa nyaman.
Rukia tersenyum sambil mengangguk. Lalu dia naik ke atas dan mengamati dari balkon kamarnya. Dia tak ingin ayahnya tahu kalau dia baru saja turun. Kalau ayahnya tahu dia baru saja turun ke kaki bukit—ugh, Rukia bahkan tak ingin menyelesaikan pikiran itu. Dari balkonnya, dia bisa melihat Hanatarou sedang membalut luka pria tadi dan nampaknya pria itu masih tak sadarkan diri. Mungkin Ukitake-sensei terlalu bersemangat menonton pertarungan tadi. Paling-paling pengumuman pemenangnya akan diterima besok.
Rukia berjalan masuk ke kamarnya dan membaringkan diri di tempat tidur, menatap langit-langit. Apa yang akan terjadi pada kelinci-kelinci kesayangannya? Apa yang terjadi pada pria itu—Kurosaki Ichigo? Rukia mendesah, dan menutup mata.
Ichigo membuka matanya. Kepalanya terasa ringan, kelopak matanya terasa berat dan dia siap pingsan kapan saja. Lalu dia melirik ke samping kirinya. Ada seorang anak yang nampak gugup yang dengan terampil membalut lengan dan bahunya yang sobek. Dia mengerang ketika anak itu terlalu kencang mengikat perban.
Anak itu mundur sejenak dan tergagap, "a-ah, Ichigo-san, maafkan saya. Terlalu kencang, ya? Saya akan segera memperbaikinya!" katanya buru-buru.
Ichigo mengangkat alis ketika menngetahui anak itu tahu namanya, "kau... tahu namaku?" tanyanya lemah.
Anak itu mengangguk, "ya, Ukitake-sensei yang memberitahukannya padaku. Namamu Kurosaki Ichigo, bukan?" Katanya. Anak itu tersenyum sambil memperbaiki balutan perban yang tadi terlalu kencang, "namaku Yamada Hanatarou." Katanya. "Salam kenal."
Ichigo tersenyum lemah sebagai balasan. Dia masih malas mengucapkan satu kata pun karena rasanya tenggorokannya sakit sekali. Dia mungkin bisa tercekik hanya karena mengucapkan satu kalimat. Tiba-tiba dia mendengar teriakan dari samping kanannya. Dari suaranya, Ichigo sudah tahu itu siapa tanpa harus menoleh. "Ichigo! Bodoh kau! Kenapa kau nekat seperti itu, hah?" seru Renji. "Dan jangan berbaring terus disitu! Bangun kau, brengsek!" Renji menendang pinggang Ichigo yang diperban yang kemudian membuat Ichigo bangkit sambil mengerang-erang dan memeluk perutnya. Hanatarou yang kaget langsung memegangi Ichigo.
"Brengsek! Buat apa itu, hah? Apa kau tidak tahu kalau aku baru saja berada di ambang hidup dan mati?" seru Ichigo marah.
Hanatarou tersenyum. Kalau dia bisa marah dan berteriak begitu, artinya dia baik-baik saja. Maka dia pun kembali membalut perut Ichigo yang berdarah—lagi—gara-gara ditendang oleh Renji. "Abarai-san, lihat apa yang kau lakukan. Luka Ichigo-san terbuka lagi, nih." Katanya.
Renji memutar mata, "sudahlah, Hanatarou. Obati saja dia dan biarkan dia sendiri. Si bodoh ini akan tetap hidup walau dia sudah terpotong jadi dua—percayalah." Kata Renji sambil berkacak pinggang.
Sebuah pembuluh darah muncul di jidat Ichigo, "bagus sekali bicaramu." Katanya dengan hawa membunuh. "Ah, kau kenal anak ini?" tanya Ichigo tiba-tiba teringat.
Renji memutar mata, "yahh, dia sering mengobati aku kalau aku terluka dalam pertarungan. Kan, Hanatarou?" tanyanya pada anak itu.
Anak itu tersenyum lalu mengangguk, "ya, ya, ya! Aku banyak dengar tentang Ichigo-san dari Abarai-san." katanya. Kemudian dia teringat sesuatu. "Oh, ya. Ichigo-san. Ada sesuatu untukmu." Hanatarou merogoh yukatanya dan mengeluarkan sebuah saputangan putih bersulamkan benang perak.
Ketika Hanatarou menyerahkan benda itu padanya, Ichigo mengangkat sebuah alis. Dia menerimanya dengan heran. Lalu diamatinya benda itu. Saputangan itu berwarna putih bersih dan nampaknya menggunakan kain sutra yang biasa dipakai untuk membuat shiromuku, kimono pengantin wanita. Di tiap sudutnya bersulamkan benang emas dan terdapat corak bunga dan daun yang disulam dengan benang perak. Ichigo mengendus saputangan itu. Ada wangi anggrek dan mawar—bercampur dengan bau darah. Ichigo mengerutkan alisnya ketika mengetahui ada bau darah di saputangan itu, sedangkan tak ada noda darah sama sekali disitu. Putih bersih, seperti salju. Ini pasti mahal kalau tidak dijahit sendiri. Siapa yang bahkan mau berpikir untuk memberinya benda secantik ini?
"Hanatarou, ini milik siapa?" tanya Ichigo.
Hanatarou ingat apa pesan Rukia, "itu milik Rukia-san." Katanya dengan jujur. "Dia tadi datang kesini dan cemas sekali melihatmu berlumuran darah, Ichigo-san. Tadi dia menggunakan saputangan ini untuk membersihkan darah dari wajahmu."
Nah, itu menjelaskan darimana bau darah itu—itu bau darahnya. Tapi, Ichigo mengangkat alis mendengar nama asing, "Rukia?" tanyanya. "Itu siapa?" tanyanya dengan tampang tak berdosa.
Hanatarou tak boleh bilang kalau Rukia adalah sang putri, maka dia berkata, "ah, nanti kau juga akan bertemu dengannya. Tapi kau harus menang kalau kau mau bertemu dengannya, Ichigo-san. Rukia-san tidak ingin kau terluka lagi—makanya dia memberimu saputangan itu." Katanya dengan muka merah.
Ichigo menatap saputangan itu dengan bingung dan tetap membolak-baliknya untuk mencari petunjuk tentang siapa pemiliknya. Tapi Renji lagi-lagi harus tetap mengganggu dengan menatapnya dengan tatapan menyindir. Sebenarnya kehadirannya pun sudah membuat Ichigo cukup terganggu. "Wahhh, ternyata kau punya penggemar rahasia." Katanya dengan tampang yang membuat Ichigo jijik. "Aku penasaran seperti apa orangnya. Jangan-jangan dia gadis yang kau taksir tempo hari, Ichigo?" tanyanya.
Mendengar kata-kata Renji, Ichigo langsung teringat pada gadis yang sama—yang mengenakan yukata ungu yang tadi menatapnya dari atas bukit istana. Dia langsung mendongak ke tempat gadis itu terakhir kali berdiri, tapi tak ada seorang pun disana.
"Wah, nampaknya akan ada pasangan baru, nih." Goda Renji dengan tampang sok tahu yang membuat Ichigo ingin menonjoknya. "Oh, ya. Aku lupa bilang padamu. Tadi aku baru saja bicara dengan Ukitake-sensei. Katanya hasil dari pertandingan hari ini akan diumumkan besok karena—yahh... karena apa yang terjadi pada para peserta hari ini." Katanya sambil melirik Ichigo yang tubuhnya babak belur.
Ichigo menyentuh dadanya yang ditebas dari bahu. Masih sakit dan belum menutup. "Lalu bagaimana dengan babak selanjutnya?" tanya Ichigo.
"Kata Ukitake-sensei, takkan ada lagi pertarungan. Pertarungannya sudah cukup, dan besok dia akan membuat sayembara khusus. Tapi masih rahasia, jadi aku tidak diberi tahu. Pokoknya para peserta harus dalam keadaan baik dulu, katanya." Kata Renji menjelaskan. "Nampaknya Ukitake-sensei agak merasa bersalah karena kurang-lebih telah menyebabkan para peserta babak belur. Apalagi dengan apa yang terjadi padamu tadi—Ukitake-sensei tadi mengaku takut kalau kau mati karena kau adalah salah satu peserta favoritnya." Kata Renji—kali ini dengan agak sebal—dia melipat tangannya di depan dada. "Harus kuakui, aku iri padamu. Kenapa dia lebih memfavoritkanmu, padahal selama ini tak ada yang pernah memfavoritkanku?" tanyanya lebih pada diri sendiri.
Ichigo tertawa—dan dengan segera terbungkuk karena merasakan tusukan rasa sakit tajam di dadanya. "Kalau menurutku, kalau bukan karena faktor face, kau juga harus mengganti tatomu itu." Katanya sambil menahan tawa.
Renji memberi death glare pada temannya itu, tapi Ichigo tetap saja tertawa—walaupun tawanya tak seberapa karena kalau dia tertawa terlalu keras lukanya akan terbuka lagi. "Kau punya masalah dengan tatoku?" tanya Renji dengan hawa membunuh. Ichigo tertawa makin keras.
"Ichigo-san, jangan tertawa lagi, nanti lukamu terbuka..." kata Hanatarou.
Ichigo menghentikan tawanya, "ya, aku tahu, Hanatarou." Katanya. Lalu berdeham untuk menyamarkan tawanya. Kemudian dia menatap saputangan putih yang ada di pangkuannya. "Hanatarou," katanya. Hanatarou mendongak. "Kau bisa ceritakan siapa itu Rukia?" tanyanya.
Hanatarou terpaku sejenak. Bolehkah dia beritahu yang sebenarnya? Tidak, jangan. Rukia-san bisa kecewa—dan dia tak ingin Rukia-san kecewa. Rukia-san sudah terlalu sering mengalami kekecewaan dan dia terlalu peduli untuk menambah penderitaannya. "Anu... dia tak ingin aku mengatakannya padamu, Ichigo-san. Maaf." Katanya dengan jujur.
Ichigo mendesah lalu menatap saputangan itu dan membalik-balikkan benda itu untuk mempelajari lebih teliti lagi. Benang emas... Lalu pola sulaman ini... rasanya pernah lihat. Tunggu dulu, kenapa ada yang berbeda di tengah-tengahnya? "Kalau begitu, kau bisa beritahu ciri-cirinya saja—supaya aku bisa mengembalikan saputangan ini ke orang yang tepat." Tanya Ichigo.
Renji mengangkat satu alis pada temannya. Orang ini memohon. Yahh, dia memang tidak berkata 'aku mohon' atau 'tolong', tapi Renji mengenal Ichigo. Dia selalu menggunakan wajah itu, dan menggunakan nada itu bila sedang putus asa dan dia selalu memohon tanpa menggunakan kata 'tolong'.
Hanatarou nampaknya juga mengetahui nada putus asa dibalik kata-kata Ichigo barusan. Dia pun jadi bimbang. Tapi kalau cuma ciri-cirinya, mungkin Rukia takkan keberatan. "Anu... dia pendek, rambutnya hitam sebahu—agak lebih panjang sedikit, matanya biru violet, dan dia biasanya suka memakai baju putih. Dia suka warna putih, makanya dia menggunakan saputangan yang dibuat dari kain shiromuku." Kata Hanatarou.
Ah, dia tahu gadis yang mana itu—ingatannya tidak pernah salah. "Jadi ini benar dari shiromuku?" tanya Ichigo dengan tatapan menyelidik.
Hanatarou mengangkat alis. "Kau sudah tahu?" tanyanya.
"Ya, tadi aku mengamatinya dan pantas rasanya aku pernah melihatnya. Kain ini persis sama dengan shiromuku ibuku." Katanya sambil membolak-balik saputangan itu. "Dan pola sulaman ini..." Ichigo mengamati sejenak, lalu menatap Hanatarou. "Rukia itu... Sang Putri. Bukan?" tanyanya. Hanatarou membelalakkan matanya, tapi dia tak berkata apa-apa. Melihat reaksi Hanatarou, Ichigo kembali menatap saputangan di pangkuannya. "Ternyata benar." Kata Ichigo pelan.
"Tunggu dulu, bagaimana kau tahu, Ichigo?" tanya Renji.
"Dari pola sulaman dan dari benang emas ini." Katanya sambil memperlihatkan benang emas di saputangan itu. "Benang emas ini terbuat dari sutra dan diwarnai dengan bahan pewarna yang—harusnya—tak dijual disini. Aku belum pernah lihat warna emas seperti ini sebelumnya. Karena itu, orang yang membuat—atau memiliki—saputangan ini pasti punya uang." Katanya. "Selain itu, pola sulamannya—walaupun sama dengan shiromuku biasa milik ibuku—tapi ada satu pola disini yang membentuk huruf kanji. Siapa lagi yang punya nama keluarga Kuchiki kecuali kaisar dan putrinya?"
Renji memincingkan mata untuk melihat huruf kanji yang dimaksud Ichigo, tapi dia tak bisa melihatnya. "Mana, sih? Kau mimpi, ya? Aku tak lihat huruf kanji Kuchiki dimanapun. Putih semua, kok." Katanya.
Ichigo tersenyum, "itu karena kau melihat hanya dengan menggunakan matamu." Katanya dengan senyum arogan. Lalu dia membentangkan saputangan itu dan mengangkatnya ke atas untuk dilihat melalui cahaya matahari. Dari cahaya mentari yang memancar lewat saputangan itu, terlihat sebuah bayangan di tengah-tengah saputangan—huruf kanji Kuchiki. Renji melongo melihatnya.
"Kuchiki!" seru Renji. Lalu cepat-cepat membekap mulutnya sendiri. "Bagaimana bisa—Kau jenius! Tapi... kok bisa—?" Renji punya banyak pertanyaan untuk ditanyakan, tapi saking banyaknya pertanyaan yang ingin ditanyakan, akhirnya malah tak ada yang keluar sama sekali.
Ichigo tersenyum, "aku sadar ketika meraba saputangan ini, ada bagian yang lebih tebal dari bagian yang lain. Dan aku meneliti kembali polanya. Ternyata ada sebagian tempat yang dijahit dan dimasukkan dengan kapas sehingga membentuk huruf kanji Kuchiki yang hanya bisa dilihat bila dilihat melalui cahaya. Pintar sekali orang yang membuat saputangan ini." Kata Ichigo. "Atau sang putri sendiri yang menyulam benda ini?" Katanya menebak.
"Tunggu, tunggu, tunggu dulu!" kata Renji. "Maksudmu, cewek yang tadi—yang kemarin ada di atas bukit itu—itu adalah sang putri?" seru Renji. Ichigo tersenyum. Dan Renji tahu makna senyum itu. Dia tak bisa lebih terkejut dari ini. "Aku heran! Kau ini begitu rendah hati, tapi terlalu terkenal! Masak Ukitake-sensei memfavoritkanmu, Yachiru menyukaimu, lalu Reii dan Hanatarou juga mengenalmu—walaupun itu salahku, sih—dan sekarang kau ditaksir oleh seorang Putri! Seorang Putri Kuchiki menyukaimu! Arrgh, aku tidak tahu kau begitu beruntung! Padahal wajahmu biasa saja!" Ah, Renji mulai lagi. Dia harus segera dibungkam, kalau tidak dia bisa menyerang siapa saja.
Ichigo mendesah dan menarik rambutnya yang mirip sapu ijuk itu. Renji pun terbanting. "Hei, buat apa tadi, Brengsek!" serunya marah pada Ichigo. Dia mengusap rambutnya tadi yang ditarik oleh Ichigo.
Ichigo mendesah. "Untuk menenangkanmu." Katanya pelan.
"Teme..." Renji melempar death glare yang nampaknya tak berhasil pada Ichigo.
"Ini sudah mulai sore," kata Ichigo. Yang langsung membuat Hanatarou dan Renji memandang ke arah matahari yang sudah mulai condong ke barat. "Lebih baik kau pulang, Renji. Adikmu pasti sedang menunggumu."
Mendengar itu, Renji pun teringat pada adiknya. "Ah, benar juga." Lalu dia bangkit dan mengemasi barang-barangnya. "Kau jaga diri untuk besok. Masih ada pertandingan—dan kau harus menang. Ingat itu." Katanya sambil bangkit dan menyeruak di antara orang-orang yang masih ada di sekitar alun-alun.
Ichigo mendesah. Tentu saja dia harus menang. Dia pasti akan menang. Kemudian dia baru mengetahui keberadaan Hanatarou di sampingnya dari tadi, "oh, ya. Hanatarou." Dia menoleh ke arah anak itu. Dia melihat Hanatarou sedang mengemasi barang-barangnya. "Bolehkah aku menumpang di rumahmu malam ini saja?" tanyanya.
Hanatarou tersenyum, "Tentu saja boleh, Ichigo-san." Katanya.
Rumah Hanatarou ternyata ada di kompleks Seirei—dan Ichigo kaget begitu ia mengetahuinya. Ternyata dia adalah anak angkat dari Unohana Retsu—bangsawan yang menjabat sebagai salah satu penasihat kaisar. Dan untungnya, Unohana Retsu adalah wanita keibuan yang baik hati dan mengijinkan Ichigo menginap semalam—bahkan mengundangnya makan malam.
Ichigo melihat ke arah bukit. Sang putri. Kemudian ia menatap saputangan putih yang digenggamnya. Saputangan milik sang putri. Rukia namanya. Berarti namanya Kuchiki Rukia. Saputangan ini ada padanya—berarti dia harus mengembalikannya. Ichigo tahu makna dibalik saputangan itu. Sang putri ingin saputangan ini dikembalikan padanya secara langsung—dan hanya ada satu cara untuk menemui putri untuk urusan sepele seperti ini; menjadi ksatria. Dan hanya ada satu cara untuk menjadi ksatria; dia harus menang. Sang putri ingin dia menang.
Ichigo tersenyum sombong sendiri mengetahui bahwa bahkan sang putri sendiri menginginkan dia menang secara pribadi. Dia pasti akan menang. Dia akan tunjukkan pada sang putri kalau dialah yang pantas menjadi ksatria dan mengembalikan saputangan itu. Sang putri pasti akan terkejut kalau melihat dia ada di istana itu dan mengembalikan saputangan itu.
Malam ini cerah. Ichigo menatap bulan putih yang bersinar di atas kepalanya, dan penasaran, apakah gadis itu—Rukia—apakah dia juga sedang menatap bulan, bintang, langit yang sama?
Rukia tidak bisa tidur. Dia terus mencemaskan pria itu—Ichigo. Apa dia baik-baik saja? Tapi dia orang yang kuat—apa yang dia pikirkan? Orang itu pasti baik-baik saja. Orang itu... Ichigo namanya. Rukia tidak mengenalnya, tapi kenapa dia sekarang terus memikirkannya? Rukia bangkit dari tempat tidurnya dan menuju ke balkon.
Apa sebenarnya tujuannya memberikan saputangan itu kepadanya secara tidak langsung? Padahal itu kan saputangan pemberian ibunya—ibunya yang menyulam sendiri saputangan itu. Dan khusus untuknya, dia menggunakan kain dari shiromuku-nya sendiri. Rukia sangat senang waktu itu. Saat itu dia masih berumur lima tahun dan ibunya masih sehat.
Rukia mendesah. Dia tak seharusnya mengenang saat-saat itu. Ibunya sudah... air mata hampir keluar. Tidak bisa. Tidak boleh menangis. Seorang Kuchiki tak boleh menangis. Seorang Kuchiki tak boleh memperlihatkan kelemahan di depan orang lain. Itu yang selalu diajarkan oleh ayahnya. Akan tetapi, Rukia selalu memperlihatkan kelemahannya hanya di depan ibunya karena hanya dia yang mengerti dia dan segala kekurangannya. Tapi sekarang ibunya sudah tak ada. Dia sudah tak memiliki siapapun yang mengerti dia—yang mengerti kelemahan-kelemahannya. Sekarang dia harus menjadi apa yang selalu diinginkan oleh ayahnya; seorang Kuchiki.
Rukia mendongak ke arah bulan yang sekarang tepat di depannya dan penasaran; apakah pria itu—Ichigo—sedang menatap bulan, bintang, dan langit yang sama?
Author's Note:
Karena chapter yang ini rada pendek, aku akan berusaha untuk update secepat mungkin. minggu depan ulangan akuntansi sama bahasa krama inggil *mati dah gue*. Belum lagi gue gak mudeng sama sekali bab baru matematikanya. Besok harus les! Harus! HARUS! *ditimpuk gara2 berisik* Baiklah, kalo nggak sibuk (dan kayaknya sih bakalan sibuk) aku update minggu depan. Aku hampir gak punya waktu buat nglanjutin fic The Knight and the Princess, I Love My Shinigami, sama The Four Musketeers gara2 tugas sekolah. *damn you, teachers!* Ditambah dengan ketipisan dompetku, aku hampir gak bisa mampir warnet untuk ngapdet. Kecuali anda berniat mendonasi saya, harap maklum. *bungkuk2*
ALIVE TAMAT! ^W^ senangnya! Keren banget final chapternya! Thanks kpd Vie-chan yang udah donlod komiknya dan copy-paste ke akyu. Hehehe! Akan kujadikan inspirasi untuk fic I Love My Shinigami!
Cukup sekian, saya nggak mau dipenggal gara2 kebanyakan curcol. Cukup klik biru2 dibawah ini and I will very appreciate it.
