05. Caught the Destiny
"What if I never knew? What if I never found you? I don't know how you found me, but from the moment I saw you, deep inside my heart I knew, from now until eternity, you were always meant to be my destiny." Destiny—Jim Brickman
"Saya minta perhatian semuanya!" seru Ukitake. Semua orang yang sedang bersorak sorai pun pelan-pelan terdiam. "Terima kasih. Saya akan menyebutkan nama-nama peserta yang boleh melanjutkan babak selanjutnya." Ukitake merogoh kertas yang diselipkan di yukatanya dan berdeham beberapa kali.
"Pertama, beri tepuk tangan pada Hitsugaya Toushirou!" dan semua penonton bergemuruh memberi tepuk tangan ketika anak berambut perak itu naik ke alun-alun dan membungkuk pada penonton. "Selanjutnya, beri tepuk tangan pada Grimmjow Jeagerjackques." Semua orang pun bergemuruh ketika pria berambut biru itu naik ke alun-alun dengan tampang cuek. "Dan yang terakhir; yang bertarung hingga titik darah penghabisan, yang memiliki semangat juang yang tinggi, dan kemauan yang keras; beri tepuk tangan pada Kurosaki Ichigo!"
Ketika namanya disebut, Ichigo hampir tak bisa bernapas dan tadinya dia mengira dia terkena serangan jantung. Bukan, itu bukan serangan jantung. Tapi saking gembiranya, jantungnya sampai lupa berdetak selama satu detik. Dia segera lari dan naik ke alun-alun dengan senyum menang yang tak pernah lepas dari wajahnya. Dengan gembira, dia membungkuk penuh terima kasih pada penonton yang terus bersorak-sorai padanya dan menggemuruhkan namanya. Dia tak mengetahui kalau Grimmjow terus-terusan melemparkan pandangan death glare padanya dan menatapnya dengan penuh dendam.
"Nah, untuk sayembara ini, kita akan pindah ke taman istana. Karena itu, silakan para peserta untuk naik ke atas bukit dan para penonton silakan naik dengan tertib." Kata Ukitake. Ukitake-sensei adalah orang yang dihormati, dihargai, dan disegani di Kerajaan Wasuru. Semua orang menyukainya dan mendengarkan kata-katanya. Jadi bila Ukitake-sensei bilang, 'harus tertib', maka semua orang—termasuk bangsawan dan rakyat jelata—akan tertib.
Ichigo lari naik ke atas tangga beton saking semangatnya. Dan dia akhirnya menyadari seseorang yang harusnya ada di samping taman istana—tapi tak ada seorang pun disana. Harusnya gadis itu ada disini. Dia ingin gadis itu ada disini. Tapi ini bukan saatnya memikirkan gadis itu.
"Kurosaki-kun, sayembaranya di sebelah sini." Kata Ukitake-sensei sambil berjalan menduluinya sehingga Ichigo bisa mengikutinya.
"Eh, iya. Ukitake-sensei." Kata Ichigo buru-buru dan dia pun mengikuti Ukitake ke arah yang dia maksud sambil melihat-lihat taman yang dirawat dengan baik itu.
Taman itu semuanya hijau dan tumbuhannya dirawat dengan rapi. Ada bunga mawar, marigold, cosmos, pohon sakura yang masih mekar, needle-point flower, bunga-bunga petunia dan semak azalea ditanam disana-sini—membuat keadaan taman jadi semarak dengan berbagai warna-warni bunga. Selain bunga, ada banyak semak obat yang berbau mint dan pohon-pohon sakura, cemara, dan pinus yang ditata sedemikian rupa sehingga membentuk seperti gapura disekeliling kolam koi.
"Bagus sekali tamannya, Ukitake-sensei." Komentar Ichigo. "Terutama bunganya." Tambahnya.
"Ah, ya. Almarhum Empress Hisana menyukai bunga-bungaan, jadi Kaisar menyuruh para tukang kebun untuk menanam berbagai jenis bunga disini." Kata Ukitake-sensei. "Kaisar bahkan menanam semak azalea di kuburannya—di hari peringatan kematian beliau, karena beliau menyukai bunga azalea." Lanjutnya.
Kemudian, mata Ichigo menangkap semak bunga lili putih di pojokan, di sudut dekat kolam ikan koi. "Bagaimana dengan bunga lili itu?" tanya Ichigo. "Itu, yang disitu. Kenapa ditanam di tempat terpencil seperti itu?" tanyanya pada Ukitake-sensei.
Ukitake-sensei tersenyum, "ah, bunga itu ditanam disitu karena tak ada tempat lagi untuk menanamnya di antara bunga-bungaan yang lain." Katanya.
"Tapi kan kasihan bunganya. Lagipula dia berada di bawah bayangan pohon. Dia bisa mati kalau tak terkena sinar matahari." Lanjut Ichigo. Tahu-tahu Ukitake-sensei berhenti berjalan dan menatap Ichigo selama beberapa detik hingga Ichigo mengangkat satu alis. "Eh, aku mengatakan sesuatu yang salah, ya?" tanyanya gugup.
Ukitake-sensei tersenyum, "ada sesuatu tentangmu yang berbeda, Kurosaki-kun. Aku tahu itu." Katanya. Ichigo memandangnya tak mengerti, tapi Ukitake-sensei hanya tersenyum penuh arti dan kembali berjalan. "Ayo, ini sayembara terakhir. Kau tak ingin terlambat dinobatkan menjadi ksatria, bukan?"
Ichigo meringis dan menyusul Ukitake-sensei. Dia berkata seperti itu seolah Ichigo sudah pasti akan menang dan menjadi ksatria. Tahu-tahu Ichigo sudah menyukai orang ini.
Mereka sampai di bagian taman yang agak terbuka seperti padang rumput dan berbatasan dengan hutan. "Ini adalah taman berburu istana." Kata Ukitake-sensei. "Kaisar dan keluarganya sering berburu disini." Setelah para peserta menempatkan diri di belakangnya dan para penonton menempatkan diri dengan tertib di belakang mereka, Ukitake-sensei berbalik ke arah mereka semua.
"Tugas kalian gampang sekali," katanya. Lalu beberapa pelayan muncul dengan sebuah meja dorong yang diatasnya terdapat banyak sekali alat-alat untuk berburu. "Kalian cukup menangkap satu saja kelinci dari banyak sekali kelinci yang dilepas di padang rumput ini. Silakan menggunakan alat apa saja. Batas waktunya sampai besok, dan aku yakin kalian bertiga bisa menangkapnya dengan sekali pandang. Begitu kalian mendapat satu kelinci, datanglah padaku. Aku akan memberitahu apa yang harus kalian lakukan selanjutnya."
Maka, Toushirou, Grimmjow dan Ichigo pun mendekati meja dorong itu. Di atas meja itu terdapat alat-alat seperti jaring, pedang, pisau, golok, tali, panah—semua alat-alat berburu ada disana. Ketika melihat Toushirou mengambil jaring dan Grimmjow mengambil golok, Ichigo mendesah. Apa perlunya, sih alat-alat seperti ini? Ini hanya menangkap seekor kelinci—bukan berburu harimau.
Kemudian dia melihat seorang pelayan yang ada di belakang Ukitake-sensei. A-ha! Ada sebuah bohlam lampu di atas kepalanya. Dia ada ide. Dia mendekati pelayan perempuan itu. "Permisi," katanya. Pelayan itu nampak terkejut bahwa dia diajak bicara. "Apa dapur istana punya wortel?" tanyanya.
Pelayan itu mengangkat alis. "Kami punya banyak wortel. Ada apa, ya?" tanyanya dengan heran dan bingung.
"Aku minta satu." Kata Ichigo.
Pelayan itu bingung, tapi dia mengangguk dan menyuruh Ichigo menunggu. Dengan patuh, dia menunggu. Satu menit, dua menit, akhirnya pelayan itu datang—dengan sekeranjang wortel. Ichigo terbelalak. Dia hanya minta satu buah—bukan satu keranjang. Pelayan itu mengaku bahwa keluarga Kuchiki tak terlalu suka wortel, jadi setiap kali beli selalu bersisa. Ichigo sudah menolak dengan halus, tapi karena merasa tak enak, Ichigo pun mengambil seluruh keranjang itu. Dia tak melihat Ukitake-sensei yang cekikikan karena geli dengan ulahnya.
Sementara, Toushirou sudah memasang jebakan yang terbuat dari tali yang tadi diambilnya, dan masih menunggu. Dan nampaknya Grimmjow masih sibuk menodong-nodongkan goloknya—bukan pada siapa-siapa, karena para kelinci langsung lari ketakutan sebelum dia bahkan sempat datang. Ichigo masih sibuk dengan wortelnya.
Hitsugaya melihat Ichigo yang sedang mengiris wortel kecil-kecil dan dia punya ide yang sama, "hei, Kurosaki." Panggilnya. Ichigo mendongak pada anak itu. "Aku minta sedikit, dong." Pintanya. Ichigo memutar mata, tapi diberi juga anak itu. Dia akan butuh umpan untuk menjebak kelinci.
Setelah dirasa cukup, Ichigo membungkus wortel yang sudah diiris itu lalu pergi ke padang rumput. Kemudian mata Ichigo melihat seekor kelinci kecil. Bulunya putih seperti salju dan matanya biru. Kelinci itu menatap Ichigo seperti menatap musuh yang harus diwaspadai. Ichigo menyadari kalau dia jauh lebih besar dibandingkan makhluk kecil itu, jadi dia berjongkok. Kelinci itu tetap di tempat. Ichigo cepat-cepat membuka bungkusan wortel yang dia bawa dan menyodorkannya pada kelinci itu. Kelinci kecil itu mendekat—pelan tapi pasti, dia mendekat dan mengendus makanan yang ada di tangan Ichigo. Kelinci kecil itu mulai makan, dan ketika Ichigo menarik tangannya, kelinci itu mendekat. Ichigo menyentuh telinga kelinci itu, dan kelinci itu tetap di dekatnya. Kelinci itu sudah percaya padanya. Ichigo menyodorkan wortel itu lagi dan kelinci itu makan dengan lahap. Tahu-tahu dari sekeliling Ichigo muncul para kelinci-kelinci lain. Ada yang berwarna cokelat, hitam, oranye, putih, abu-abu... Mereka ada dimana-mana—dan semuanya mendekat pada keranjang wortel yang dibawa Ichigo. Ichigo tersenyum—dia tak menyangka bahwa disukai oleh binatang saja rasanya akan semenyenangkan ini. Maka, Ichigo pun mulai menikmati keadaan tersebut dan malah lupa dengan tugasnya menangkap kelinci. Kelinci-kelinci itu malah ada yang naik ke pangkuan Ichigo, ada yang lompat ke pundaknya, kemudian ke kepalanya—dia malah dikerumuni oleh kelinci-kelinci kecil itu—dan Ichigo menikmatinya. Kemudian terbersit di kepalanya bahwa bermain dengan kelinci seperti ini seperti kegiatan anak perempuan. Sebuah rasa panas yang merayap dari leher ke pipinya menandakan bahwa wajahnya pasti merah sekarang. Tapi dia tak bisa langsung mengusir para kelinci ini. Lagipula tugasnya adalah membawa seekor saja. Dia menggendong kelinci-kelinci itu turun dari tubuhnya dan bangkit. Para kelinci langsung bubar. Kecuali yang satu itu; satu-satunya kelinci yang berbulu putih seperti bola salju dan bermata biru.
Ichigo membungkuk dan menggendong kelinci itu. Kelinci yang satu itu menurut tanpa perlawanan. Dengan lembut, Ichigo menggendongnya dan kembali ke tempat Ukitake-sensei. Ternyata kedua peserta sudah berkumpul—dan dengan tampang bosan di wajah mereka. Ichigo cuma bisa menebak saja sudah berapa lama dia main-main dengan para kelinci itu.
"Heh, lama sekali kau, Kurosaki." Kata Hitsugaya dengan tampang bosan. "Kupikir kau sedang main-main dengan kelinci." Lanjutnya dengan tampang menyindir. Wajah Ichigo memerah mendengarnya, tapi dia tak berkata apapun. Dia melihat Hitsugaya membawa seekor kelinci berbulu cokelat yang terperangkap dalam jaring.
Grimmjow hanya tersenyum meremehkan pada Ichigo ketika dia datang, tapi dia tak berkata apa-apa. Dia membawa seekor kelinci hitam di tangan kirinya dengan cara menarik telinganya. Kaki dan perut kelinci itu berdarah dan nampaknya kelinci itu sudah luka parah karena dilukai golok yang digenggam di tangan kanannya.
Ichigo dengan hati-hati menggendong kelinci putih itu di dadanya dan mempererat pelukannya—berharap kelinci itu tak melihat teman-temannya ditangkap dengan cara begitu.
"Nah, kalian semua sudah disini. Dan masing-masing membawa kelinci? Bagus." Kata Ukitake-sensei sambil menyatukan kedua tangannya. "Satu lagi yang harus kalian lakukan," semua orang menunggu perintah selanjutnya dari Ukitake-sensei. "Bunuh kelinci yang ada di tangan kalian."
Mata Hitsugaya dan Ichigo melebar ketika mendengar perintah dari Ukitake-sensei. Sementara Grimmjow hanya memutar mata begitu mendengar perintah tersebut dan mengangkat kelinci di tangan kirinya. Dengan golok di tangan kanannya, dia menebas kepala kelinci tersebut hingga kepala dan tubuhnya terpisah. Darah menciprat kemana-mana; ke baju putih Grimmjow, yukata biru Hitsugaya dan yukata hitam Ichigo. Bahkan sampai ke haori Ukitake-sensei. Dia tak peduli dengan mata lebar orang-orang; penonton, Hitsugaya, Ichigo. Dia baru saja menebas seekor kelinci—dengan cara menebas kepalanya.
Ichigo langsung memalingkan wajahnya dari bangkai kelinci itu—dia tak sampai hati melihat makhluk malang tak berdaya itu mati dengan cara seperti itu. Tubuhnya tergeletak di rumput bersimbah darah dan kepalanya diletakkan di meja dengan darah segar masih mengalir. Ichigo mempererat pelukannya pada kelinci di tangannya. Dia hanya bisa menggendong kelinci putih di tangannya dan berharap bisa melindungi makhluk tak berdaya itu.
Melihat Grimmjow yang nampak begitu langsung dan dengan tanpa belas kasihan membunuh kelinci itu, Hitsugaya nampak ragu-ragu. Dia mengangkat kelinci dalam jaring itu dan meletakkannya di atas meja. Lalu dia mengambil pisau yang tergeletak di sampingnya, dan dengan mata tertutup, dia menusuk perut kelinci itu. Hitsugaya bisa merasakan darah yang masih hangat dan berbau amis menciprat ke pipi, dada dan yukatanya. Binatang malang itu tergeletak berlumuran darah di atas meja dan sekarang dia pun berlumuran darah.
Sekarang semua mata memandang ke arah Ichigo. Secara insting, Ichigo langsung bergerak mundur secara defensif. Kemudian dia memandang kelinci putih yang sedang mengendus-endusnya dengan mata biru tak berdosa. Ichigo memeluk kelinci putih itu lebih erat lagi, dan kemudian dia membungkuk dan melepaskan kelinci itu ke tanah; dimana kelinci itu langsung lari ke padang rumput dan bergabung dengan teman-temannya. Semua mata terbelalak ke arahnya—bahkan mata Ukitake-sensei. Ichigo memandang mereka semua dengan emosi yang terpancar di matanya.
"Maaf, Ukitake-sensei." Kata Ichigo tegas. "Aku tidak bisa membunuh makhluk tak berdosa dan tak berdaya tanpa alasan jelas." Katanya pelan tapi tegas. "Aku masih manusia, aku masih punya hati. Bukan binatang yang hanya memiliki insting membunuh."
Kemudian suasana hening, dan yang terdengar hanyalah suara desiran angin. Ichigo menyangka harapannya untuk menang sudah pupus karena sudah membantah perintah, sampai kemudian Ukitake-sensei bertepuk tangan pada Ichigo—diikuti seluruh penonton yang langsung ramai bersorak-sorai pada Ichigo. Ichigo hanya melongo melihat semuanya. Ukitake-sensei berbalik pada penonton di baliknya, "Para penonton! Mari kita beri tepuk tangan pada ksatria yang baru—Kurosaki Ichigo!" serunya.
Ichigo masih berada dalam dunia mimpi ketika semua penonton bertepuk tangan padanya dan menyorakkan namanya berulang-ulang, 'Ichigo, Ichigo, Ichigo'. Ukitake-sensei meraih tangannya dan menjabatnya, "selamat, Ichigo-kun." Kata Ukitake-sensei. "Aku tahu kau pasti bisa melakukannya."
Aku menang? Pikir Ichigo tak percaya. Aku menang? Ichigo tersenyum penuh kemenangan. "AKU MENANG!"
Renji yang berada di antara penonton pun melonjak penuh semangat, "KAU MENANG!" serunya membarengi sahabatnya.
Ukitake-sensei mengeluarkan sebuah haori hitam yang diambilnya dari pelayan di belakangnya dan menyampirkannya pada kedua bahu Ichigo, "mulai sekarang, kau akan dikenal sebagai Ksatria Kurosaki Ichigo. Tugas utamamu adalah melindungi keluarga Kerajaan Wasuru—melindungi sang putri!" kata Ukitake-sensei.
Ichigo tersenyum penuh kemenangan, "aku akan melindungi sang putri!"
Kelinci putih itu lari ke dalam istana, melewati sekelompok orang-orang bersorak sorai yang tak mempedulikan keberadaannya. Kelinci putih itu lari ke koridor lewat pintu dapur dan naik ke lantai atas melalui tangga. Kelinci itu lari menyelip-nyelip kaki orang-orang yang lewat dan menyelip-nyelip pintu yang akan tertutup. Sampai kelinci itu sampai di tempat yang sangat dia kenal dan sangat dia sukai. Dia menyelipkan tubuhnya yang mungil lewat pintu yang sedikit terbuka, dan menghambur masuk ke ruangan itu. Dia bisa mengendus wangi majikannya, dia ada di balkon, seperti biasanya. Kelinci itu berlari ke balkon dan melihat majikannya berdiri di balkon, sedang memandangi senja.
Kemudian majikannya itu menyadari kehadirannya dan tersenyum lebar, "Chappy, bagaimana kau bisa sampai sini?" Rukia membungkuk untuk meraih kelinci putih itu dan menariknya dalam pelukannya. "Kau tidak terluka, kan?" tanyanya yang tentu saja hanya menerima kedipan dari kelinci itu. Rukia berjalan ke kamarnya dan mendapati pintunya terbuka sedikit. "Hm, pantas tadi kau bisa masuk. Dasar kelinci nakal." Dia menggosok kepala kelincinya dengan gemas.
Tahu-tahu pintu terbuka dengan suara deritan kecil. Rukia menoleh dan dia terbelalak ketika matanya berpapasan dengan mata cokelat yang ia kenal. Pria itu ada di ambang pintunya—pria berambut oranye itu. Kenapa bisa ada disini? Pria itu juga nampaknya sama kagetnya dengan Rukia ketika mata mereka bertemu untuk ketiga kalinya. Untuk ketiga kalinya, sama seperti saat mata mereka pertama kali bertemu, wajah Rukia memerah dan Ichigo saking kagetnya tak bisa mengatakan apa-apa. Suasana disitu hening dan Rukia hanya bisa mendengar detak jantungnya yang tahu-tahu berdetak cepat di dalam dadanya. Rukia hanya bisa menatap pria didepannya dan mempelajarinya. Dia nampak sama seperti saat dia menatapnya dari atas waktu itu. Hanya saja sekarang pria itu nampaknya juga memerah.
Akhirnya, pria itu memutuskan untuk mengakhiri suasana canggung itu. Dia nampak gagu dan gugup, "eh, ini kamarmu? Anu, maaf. Kelinci itu tadi kabur ke dalam istana begitu saja dan kuikuti dia masuk kesini, dan kupikir dia—eh, itu kelincimu, ya? Maaf mengganggu kalau begitu. Tolong jangan bilang siapa-siapa. Aku bisa dibunuh nanti. Sudah, ya." Pria itu bicara terburu-buru dan bahkan tidak memberinya kesempatan untuk merespon kedatangannya. Tapi Rukia juga terlalu terkejut untuk merespon.
Rukia tidak tahu apa yang dia pikirkan ketika dia berseru untuk menahan pria itu, "tunggu!" Pria itu berhenti dan menoleh—nampaknya bersyukur dia telah menahannya. "Kamu... siapa namamu?" tanya Rukia akhirnya.
Pria itu tersenyum penuh kemenangan. "Ichigo. Kurosaki Ichigo." Katanya. Lalu dia mendekat beberapa langkah padanya—dan artinya, dia masuk ke ruangannya. Nah, biasanya, Rukia akan langsung waspada jika ada orang asing yang masuk ruangannya. Tapi entah karena Rukia masih terlalu terkejut, atau karena dia masih dalam keadaan setengah bermimpi, Rukia diam saja dan membiarkan pria itu mendekatinya sejauh jangkauan tangan. Kemudian pria itu mengambil sesuatu dari yukatanya—sebuah saputangan putih. Bukan cuma saputangan putih, itu saputangan putihnya! "Aku yakin, ini milikmu, Rukia." Dia menyodorkan saputangan itu padanya dan menyebut namanya dengan penuh percaya diri—yang membuat Rukia kaget.
Rukia terbelalak, tapi dengan ragu dia mengambil kembali saputangannya. Dia mencoba bertanya dari keadaan-setengah-mimpi-nya. "Darimana kamu—?"
"Yahh, aku lebih pintar dari kelihatannya." Katanya sambil mengangkat bahu. "Pokoknya, aku harus pergi. Ukitake-sensei akan segera memanggilku. Senang bertemu denganmu, Rukia. Sampai nanti!" dan dengan lambaian tangan, dia menghilang dari kamar itu.
Rukia masih dalam keadaan bermimpi ketika pria bernama Ichigo itu keluar dari kamarnya. Masih dalam keadaan setengah bermimpi, suara pria bernama Ichigo itu terngiang-ngiang di telinganya. Rukia. Dia memanggilnya Rukia. Biasanya bila ada orang yang mengenalnya atau orang yang statusnya lebih rendah darinya, mereka akan memanggilnya Rukia-sama, atau Lady Kuchiki, atau Kuchiki-sama, atau Putri Rukia. Tapi orang itu—yang bahkan tak dikenalnya dan baru pertama kali bertemu—memanggilnya dengan nonformal, dia memanggilnya Rukia. Dan ada satu perasaan dalam hatinya mengenai bagaimana cara pria itu memanggilnya—dan Rukia mengetahui, bahwa dia menyukainya.
Ini yang pertama kalinya bagi Kurosaki Ichigo untuk melihat gadis bernama Kuchiki Rukia dari dekat. Dan dari dekat, gadis itu nampak semakin cantik. Matanya yang biru nampak semakin berkilau dari dekat. Dia juga bisa melihat bahwa ada sedikit bayangan ungu di irisnya yang berwarna biru. Hidungnya kecil dan bangir. Rambutnya yang hitam berkilau nampak lebih bersinar terkena pantulan cahaya mentari dari arah balkon—membuatnya nampak semakin cantik. Kulitnya yang putih seperti porselen nampak semakin putih dari dekat. Selain itu, entah kenapa, Ichigo tidak tahu kenapa bibirnya yang kecil, penuh, dan berwarna merah marun itu nampak begitu menggoda jika dilihat dari dekat.
Dan begitu dia mendekat, Ichigo juga mengetahui kalau dia tak lebih tinggi dari bahunya. Kira-kira 140 cm, agak lebih tinggi sedikit. Renji salah—dia sama sekali tidak gendut, dia memang salah lihat. Kimono itu yang membuatnya terlihat gendut. Padahal dia kecil begitu. Ichigo berani taruhan, dia pasti beratnya tak lebih dari 40 kg.
Ketika gadis itu menahannya, Ichigo bersyukur sekali. Dia tadinya juga berharap gadis itu akan menahannya sehingga dia bisa mengembalikan saputangan itu—sekalian mempelajarinya dari dekat. Ternyata permintaannya terkabul. Dia harus berdoa dan berterima kasih pada Kami-sama nanti.
Karena tubuh dan perawakannya yang mungil, Ichigo mengira suaranya juga pasti akan kecil dan lemah lembut. Tapi ternyata tidak. Suaranya dalam, lantang, dan jernih seperti air terjun. Dan dengan suara seperti itu, bahkan pengawal yang paling besar dan sangar sekalipun akan terintimidasi oleh gadis pendek ini.
Ichigo berlari melewati koridor berlantai kayu dengan suara berdebum dan menuruni tangga dengan berisik. Ukitake-sensei sudah menunggu di bawah dan nampaknya dia sudah memperkirakan keadaan ini. "Sudah kuduga kau akan pergi ke kamar sang Putri." Kata Ukitake-sensei. "Aku tak terkejut. Kemarin aku melihatmu saling bertatapan dengan Tuan Putri." Katanya sambil mengelus dagunya. Kemudian dia tersenyum, "nah, bagaimana? Kalian sudah saling mengenal? Bagus kalau sudah. Karena kau akan sering bertemu dengannya besok-besok. Kau paham tugasmu, kan? Ichigo-kun." Katanya.
"Ya, aku harus melindungi sang Putri sampai Kaisar kembali dari negara tetangga." Jawab Ichigo.
Ukitake tersenyum sambil mengangguk-angguk dengan puas. "Ikut aku." Ichigo pun menurut dan berlari menyusulnya. Ukitake mulai berjalan keluar dan menuju koridor luar. Ichigo mengikuti Ukitake sambil tetap menikmati pemandangan taman di luar. Kemudian Ukitake-sensei berhenti di sebuah pintu fusumi. Dia membukanya, "ini kamarmu, Ichigo-kun." Katanya.
Ichigo masuk ke dalam dan tersenyum lebar. Tempat ini bahkan jauh lebih besar dari seluruh rumahnya. Di sebelah kiri ruangan ada sebuah lemari geser yang berisi futon dan pakaian-pakaian; Yukata, hakama, haori, obi, zori, geta, dan banyak lainnya yang Ichigo tidak bisa menyebut. Di sudut ruangan sebelah kanan terdapat sebuah meja kecil dan kursinya. Di atas meja ada sebuah lampu ruangan. Lantai kamar ini adalah tatami, sehingga hangat. Di samping lemari terdapat sebuah penghangat ruangan yang terbuat dari besi dan diisi dengan batu bara. Pantas terasa hangat. Di sudut ruangan di arah yang berlawanan terdapat sebuah meja besar yang diatasnya terdapat kertas-kertas dan tinta untuk menulis. Terdapat juga kursi kecil disitu. Nampaknya selain sibuk menjaga Putri, dia juga akan disibukkan oleh tugas zuihitsu atau essay—seperti sekolah saja. Ichigo mengkerutkan dahi dengan adanya pikiran itu.
"Ruanganmu ada di bawah kamar sang Putri—kalau kau belum menyadarinya." Kata Ukitake-sensei. "Makan malam ada di aula pada jam tujuh. Jangan terlambat—karena aku ingin memperkenalkanmu pada Kaisar. Di lemarimu ada pakaian pantas pakai. Dan setiap kali kau menggunakan kimono, pakailah haori ksatriamu. Itu akan membuatmu lebih mudah dikenali sebagai ksatria."
"Aku mengerti." Kata Ichigo.
"Kaisar akan berangkat dalam dua hari." Kata Ukitake-sensei. "Dan beliau sangat benci pada ketidak-sempurnaan. Jadi aku mohon dengan sangat padamu, Kurosaki Ichigo, untuk berlaku sopan dan beretika selama dua hari—setidaknya di depan Kaisar. Selebihnya, terserah kau." Kata Ukitake.
Ichigo melebarkan mata dan menggaruk kepala. "Aku tidak tahu apa-apa tentang etika meja makan." Akunya.
Ukitake-sensei mendesah. Dia memang sudah mengkhawatirkan hal ini. "Hal terpenting yang paling utama dalam etika meja makan adalah selalu duduk bersimpuh." Ketika mendengarnya, Ichigo memasang muka seolah dia sudah memakan sesuatu yang buruk. "Kau tidak pernah duduk bersimpuh, ya?" tebak Ukitake-sensei. Ichigo menggeleng dan Ukitake-sensei mendesah. Tapi dia melanjutkan, "yang kedua adalah, jangan pernah bicara saat makan—kecuali kalau kau ditanya oleh Kaisar. Dan yang ketiga, jangan berbicara pada siapapun—termasuk sang putri—jika tidak diajak bicara oleh siapapun. Jika Kaisar melihatmu angkat bicara duluan, beliau akan merasa tidak dihormati, dan kau bisa kehilangan pekerjaan." Katanya.
Ichigo menelan ludah. "Ironis." Gumam Ichigo. "Melewati ujian sayembara itu satu hal; menghadapi Kaisar, hal lain lagi." Jelasnya.
Ukitake terkekeh geli, "sudahlah. Camkan kata-kataku tadi, niscaya kau akan baik-baik saja." Katanya. "Istirahatlah dulu. Ini sudah jadi hari yang panjang, bukan? Aku akan mengatakan pada pelayan untuk membawakan kudapan." Lalu dia beranjak pergi.
"Tunggu, Ukitake-sensei." Ichigo menahannya, dan Ukitake-sensei berhenti. "Bagaimana kalau aku tersesat? Aku masih tidak tahu letak ruangan-ruangan."
"Tanyalah pada pelayan. Mereka akan memberitahumu." Kata Ukitake-sensei seraya menutup pintu fusumi.
Ketika pintu fusumi ditutup, entah kenapa Ichigo merasa aneh. Perasaan yang aneh yang tidak pernah melandanya sejak ibunya meninggal. Tapi dia tak tahu apa itu. Dia meletakkan pedangnya ke atas meja dan mengeluarkan futon dari lemari, setelah itu dia menggelarnya di tengah ruangan. Setelah melepas zorinya, dia langsung membaringkan diri di futon. Memang terasa seperti di rumah, saat dia masih belum jadi ksatria. Ah, dia belum mengatakan pada keluarganya kalau dia jadi ksatria. Besok dia harus mengatakannya. Mereka pasti bangga.
Ichigo menarik napas dalam dan memutuskan, mungkin tidur siang sejenak sebelum menghadapi Kaisar bukan ide jelek. Dia akan butuh seluruh energinya nanti untuk menghadapi beliau. Dengan pikiran itu, Ichigo menutup mata dan tertidur.
Saat menutup mata, yang pertama kali dilihatnya adalah wajah sang putri...
Author's Note:
Bonjour, Minna-san. Disini Morte.
Teman-temanku sesama fans Ichiruki, sesama authors, sesama reviewers, aku pengen mengatakan sesuatu nih. Aku kok selalu kecewa kalau ada reviewer yang pesennya cuman "update", ato "bagus", malah ada yang ngetik cuman begini doang, ":( :p". Aku bener2 kecewa kalau kalian cuman ngomong gitu, karena saya sendiri kalau nge-review seseorang selalu panjang dan ngasih tau kekurangan dan kelebihannya. Paling enggak saran, kritik, ato mungkin kesan2 kalian, curcol juga gak papa. Bukannya saya gak menghargai review, tapi saya sudah bersusah payah membuat fic ini, dan saya akan lebih menghargai orang yang nggak cuman bisa ngomong "keren" sama "update" saja. Kalau kita benar2 menghargai fic yang telah dibuat, kita juga tentu akan mengatakan sesuatu yang bermutu kan? Entah cuman kesan2, saran, kritik, kekurangan atau kelebihan, author yang diberi juga pasti dengan senang hati menerima. Inilah yang saya cari dari seorang reviewer dan memberitahu kekurangan dan kelebihan author juga salah satu tugas reviewers. Maaf kalau atmosfirnya jadi berubah gene dan maaf kalau saya melukai perasaan, tapi ini juga demi kebaikan kita semua. Karena bukankah kita semua disini untuk membaca dan untuk berlatih menulis? Kalau kita berlatih, tentu saja kita juga ingin tahu kelebihan dan kekurangan kita kan? Jadi, saya harap, reviewers yang membaca ini, jangan marah atau tersinggung, tapi justru ambil menjadi sebuah pelajaran, karena kita disini sama2 belajar menulis dan sama2 membaca dan sama2 belajar untuk memberi pendapat.
Maap chapter ini kependekan (cuman 9 halaman word), dan malah pidato lagi. Abaikanlah semua ini, dan semoga anda masih sudi untuk mereview.
