06. The King and the Knight
"At least within dreams, if I can swim freely then I don't need that sky anymore. Even if everything until now is forgotten, even if I can face tomorrow, I'm still not sure..." Aqua Timez—ALONES
Ichigo mematut diri lagi di cermin. Sebenarnya, Ichigo tak pernah terlalu memperhatikan pakaiannya karena dia tak peduli pakaian apa yang dia kenakan asalkan dia masih berpakaian dan pakaian itu masih layak dipakai. Tapi malam ini berbeda. Kaisar ingin bertemu dengannya. Dia harus menggunakan pakaian yang paling bagus.
Dia menggunakan kimono hitam dan hakama hitam. Dia mengikatnya dengan obi putih dan merah tua agar warnanya senada. Tak lupa dia juga menggunakan haori ksatria yang juga berwarna hitam. Dalam balutan warna hitam, rambutnya yang oranye nampak sangat menyolok. Dia tak yakin apakah Kaisar tak akan bertanya-tanya mengenai rambutnya—karena banyak orang yang selalu bertanya tentang rambutnya. Dia menggunakan zori sebagai alas kaki, dan menolak menggunakan geta—geta terlalu berat dan besar untuknya. Belum lagi, itu membuat kakinya kapalan.
Setelah sekali lagi merapikan rambutnya—yang memang selalu acak-acakan—dia memutuskan bahwa dia sudah siap. Kemudian dia menoleh ke arah jam di atas meja. Masih jam enam lebih lima belas menit. Dia memutuskan lebih baik sekarang saja dia berangkat karena dia masih belum hafal liku-liku tempat ini.
Begitu keluar dari kamarnya, dia langsung merasakan angin malam yang dingin berhembus dan menggelitik tengkuknya. Dia bersyukur dia menggunakan haori malam ini. Sambil merapatkan haorinya, dia berjalan melewati koridor dan mencari orang yang bisa ditanyai. Dia sampai ke ruangan tengah yang menghubungkannya dengan tangga tempat dia tadi naik ke kamar sang putri. Setidaknya dia tahu jalan menuju ke kamar sang putri, sekarang. Ichigo meringis sendiri menyadari pikirannya itu.
"Ada apa dengan senyum mengerikan di wajahmu itu, Kurosaki?" Sebuah suara terdengar dari atas. Ichigo mendongak dengan cepat dan dia menemukan sang Putri—Rukia—berdiri di atas tangga dan turun dengan anggun.
Rukia menggunakan furisode putih bercorak bunga lili dan dedaunan yang disulam dengan benang perak. Tadinya Ichigo mengira dia akan menggunakan kimono mewah, tapi ternyata hanya furisode sederhana berwarna putih dan dengan obi berwarna hijau mint dan biru langit yang lembut. Dia menggunakan uchikake—yaitu mantel yang mirip dengan haori yang dikenakan diluar furisode—yang berwarna biru langit. Rambutnya yang hitam panjang diikat dengan menggunakan pita warna peach. Dia hanya berpakaian sederhana, tapi entah kenapa Ichigo merasa gadis itu nampak cantik.
"Ada apa? Kau tersesat?" tanya dengan manis tapi dengan senyum menyindir.
Ichigo mengkerutkan alis melihat senyum gadis itu, "tentu saja aku tersesat. Kau mengharapkan aku hafal seluruh tikungan dan ruangan yang ada di istana ini? Tempat ini besar sekali, tahu." Katanya sembarangan—tanpa peduli kalau dia berhadapan dengan seorang putri.
Rukia terkekeh geli, "iya. Harusnya aku menyadari hal itu. Ikut aku." Katanya sambil berjalan ke pintu yang ada di bawah tangga. "Ingat baik-baik, Kurosaki, pintu menuju aula ada di bawah tangga."
"Ichigo." Kata Ichigo tiba-tiba.
"Permisi?" Rukia melemparnya pandangan kosong.
"Panggil aku Ichigo." Ulang Ichigo lagi.
Rukia tersenyum. "Yahh, karena kau memanggilku Rukia, jadi baiklah. Kita impas," Kata Rukia sambil tersenyum. "Ichigo."
Ichigo tersenyum lebar mendengar namanya disebut oleh Rukia. Lalu dia menghadap ke jalan lagi. Mereka berdua berjalan dalam hening dan keduanya hilang dalam pikiran masing-masing.
"Ukitake-sensei sudah memberitahukanmu segalanya?" tanya Rukia tiba-tiba.
"Tergantung." Jawab Ichigo. "Yang kau maksud 'segalanya' itu tentang apa? Kalau tentang ayahmu yang akan pergi, ya, dia memberitahu. Tentang tugasku, ya, dia memberitahu. Tapi tentang etika di depan sang Kaisar, kurasa tidak. Yahh, tidak sepenuhnya." Katanya menjelaskan.
"Maksudmu, kau tak tahu sama sekali tentang etika di meja makan?" tanya Rukia—kali ini dengan kaget.
"Yahh, aku bukan dari keluarga kelas atas, jadi—" Ichigo tak perlu melanjutkan kata-katanya, karena dia tahu Rukia sudah mengerti.
Rukia mendesah dan berhenti, "baiklah. Ini masalah. Kalau ayahku tahu kau tidak tahu etika, kau bisa kehilangan pekerjaan." Kata Rukia.
"Tentang itu, Ukitake-sensei sudah mengatakannya padaku." Ichigo mengangkat bahu.
Rukia nampak berpikir sebentar. "Begini saja," Rukia meraih tangan Ichigo dan mempercepat langkahnya. "Kita akan tiba disitu duluan, dan sebelum ayahku datang, aku akan mengajarimu etika yang utama di meja makan." Katanya.
Ichigo yang merasakan kehangatan di sekeliling pergelangan tangannya merasa nyaman. Entah kenapa, Ichigo merasa dia ingin Rukia menggandeng tangannnya seperti ini lebih lama. Ichigo mengkerutkan dahinya mengetahui pikiran itu. Kenapa bisa begitu?
Rukia membuka pintu fusumi yang lebar dan mereka tiba di ruangan yang luasnya tiga kali ruangan Ichigo. Bagian langit-langitnya tinggi dan luasnya kira-kira tujuh belas kali enam belas tatami. Mulut Ichigo terbuka mengetahui dia berada di tempat yang cukup luas untuk bermain bola.
"Mulutmu terbuka, Ichigo." Kata Rukia mengingatkan.
Pipi Ichigo bersemburat pink, dan dia menutup mulutnya. Dia mengikuti Rukia ke meja yang ada di tengah ruangan. "Ini adalah meja tempat dimana kami biasa makan malam." Jelasnya. "Ini masih pukul setengah tujuh, masih ada setengah jam lebih sedikit untuk kita latihan, jadi cepat duduk disini!" Rukia menepuk bantal duduk di sebelahnya, dan Ichigo segera duduk bersila disitu.
"Yang pertama adalah, jangan duduk bersila! Kau harus duduk bersimpuh!" kata Rukia.
Ichigo mengerang. "Duduk bersimpuh itu membuat kaki kram—tidak baik untuk kesehatan." Balas Ichigo.
"Duduk bersila juga sama saja. Ayo, ikuti caraku. Atau kau mau kehilangan pekerjaan, hah?" tanya Rukia sambil mencontohkan cara duduk yang benar.
Ichigo mendesah, lalu mencoba duduk bersimpuh seperti yang dicontohkan Rukia. "Aneh, kenapa kau peduli kalau aku kehilangan pekerjaan?" tanyanya.
Dia melihat semburat pink di kedua pipi Rukia, "memangnya aneh kalau aku mengkhawatirkanmu?" tanyanya. Ichigo mengangkat bahu. Rukia mendesah dan kembali ke pokok persoalan. "Kemudian, cara memegang sumpit. Lihat?" Rukia mengambil sumpit dengan satu tangan. Ichigo mengambilnya dengan kasar dan meletakkannya di antara kedua jarinya. "Jangan kasar begitu! Mengambilnya harus pakai perasaan!" kata Rukia. "Yang lembut, dong! Ambil dulu, baru diposisikan untuk makan." Katanya sambil mencontohkan langkah-langkahnya. Ichigo melakukannya dengan kaku, tapi setidaknya dia berhasil. "Kemudian, cara makan. Jika makan nasi, kau harus membawa mangkuknya dekat di mulutmu," dia mengambil mangkuk kosong dan berpura-pura menyuap nasi dari situ. "Lalu, kunyah dengan pelan dan pasti. Jangan ambil nasi terlalu banyak, dan jangan kunyah terlalu cepat. Setelah menelan, ambil gelas dan minum seteguk. Setelah itu, ambil serbet dan lap mulutmu sepelan mungkin." Rukia mencontohkan gerak-geriknya.
Ichigo hampir kewalahan dengan semua etika yang diajarkannya. Tapi apa boleh buat, dia juga tak ingin kehilangan pekerjaan. "Apa semua harus dilakukan dengan pelan seperti ini, Rukia?" tanya Ichigo. Dia mulai tak bisa merasakan kakinya yang terlipat di bawah berat badannya.
"Benar. Yang utama dalam etika adalah pelan, tenang, dan bersahaja. Maksudnya, kau melakukan segala sesuatu dengan anggun, tanpa suara, dan dengan penuh perasaan. Termasuk untuk tidak bicara di saat makan, apalagi saat ayah tidak mengajakmu bicara. Kau harus tetap diam! Tapi kalau ayah menanyaimu sesuatu, jawablah dengan singkat, jelas, padat. Jangan jawab dengan jawaban yang tidak perlu—itu selalu menjengkelkan ayah. Kau tidak akan mau membuatnya jengkel, percayalah."
"Yah, aku mengerti tentang hal itu." Kata Ichigo sambil menggerak-gerakkan kakinya yang sudah mati rasa. "Rukia, apa tak ada cara lain?" tanyanya. Dia akhirnya menyerah dan meluruskan kakinya. "Kalau aku harus duduk bersimpuh selama setengah jam, kakiku bisa kram nanti!" katanya sambil memijat kakinya yang sudah tak dirasakannya.
"Setengah jam? Kau bercanda? Makan malam kerajaan tak pernah sesingkat itu. Makan malam di keluarga kerajaan selalu berlangsung setidaknya satu jam." Kata Rukia. Mata Ichigo terbelalak mendengarnya, lalu dia mengerang lagi dan terus memijat kakinya.
Rukia tertawa geli, "nanti aku akan memanggilkan tukang pijat kalau kakimu benar-benar tak bisa digerakkan." Kata Rukia. "Jangan khawatir. Kau bisa melalui pertarungan dengan pria besar itu, kau bisa memenangkan sayembara, kau bisa menjadi ksatria, apa sulitnya makan malam dengan Kaisar? Kau pasti bisa, Ichigo." Rukia mengatakannya sambil tersenyum sehingga Ichigo merasakan wajahnya panas.
Rukia melihat semuanya? Dia melihat saat dia bertarung dengan Kenpachi? Mau tak mau, dia jadi ikut tersanjung. Wajahnya terasa panas. Perutnya naik ke dadanya dan hatinya terasa mekar menjadi seribu kupu-kupu. Perasaan apa ini? Kenapa tubuhnya bereaksi seperti ini terhadap gadis di sampingnya?
Tiba-tiba terdengar suara-suara di koridor. "Ssstt! Itu ayah! Cepat, duduk bersimpuh!" bisik Rukia. Ichigo pun segera melipat kakinya di bawah tubuhnya dan duduk tegak.
"Bagaimana kalau aku berbuat sesuatu yang salah?" bisik Ichigo masih tak yakin.
"Ikuti saja setiap gerakanku." Balas Rukia.
Pintu fusumi tergeser dan terbuka. Muncullah Ukitake-sensei dan sang Kaisar. Ichigo menebak kalau beliau akan menggunakan kimono besar dan mewah, tapi ternyata dugaannya salah. Beliau menggunakan montsuki—yaitu kimono formal untuk pria—yang berwarna biru tua, dengan hakama hitam, obi putih dan haori putih yang terdapat lambang keluarga Kuchiki dibelakangnya.
Ichigo menelan ludah. Walaupun dia tidak menggunakan kimono terlalu yang mewah sehingga membuatnya tak nyaman, tapi tetap saja aura kewibawaan beliau yang begitu besar membuatnya sangat terintimidasi. Ichigo bergerak-gerak gelisah karena sudah merasakan kakinya kesemutan. Sebuah senggolan dari Rukia menyuruhnya untuk diam karena Kaisar sudah mulai masuk ke dalam.
"Jadi inikah Ksatria pilihanmu, Ukitake?" tanya Kaisar. Seraya masuk ke dalam dan mulai mengamati Ichigo yang berkeringat dingin.
Ukitake-sensei mengangguk, "benar, Yang Mulia. Ksatria Kurosaki Ichigo." Kata Ukitake-sensei memperkenalkan.
Kaisar terdiam sebentar sambil mengamati Ichigo. Ichigo mencoba untuk tak terlihat gentar, jadi dia menatap balik. "Berdirilah, Bocah." Perintah beliau.
Akhirnya, pikiran Ichigo yang sedari tadi ada di kakinya langsung bersorak dalam hati. Akhirnya dia bisa berdiri juga. Dengan pandangan mantap, dia menatap Kaisar—yang menatapnya dengan pandangan menyelidik. "Umurmu berapa?" tanya Kaisar.
"Dua puluh tahun." Jawab Ichigo, mantap dan lantang.
"Tinggal dimana?"
"Kompleks Rukon."
Kaisar terdiam sebentar. Ichigo berani taruhan, beliau pasti sedang menimbang-nimbang apakah orang dari kompleks Rukon pantas diberi keistimewaan ini.
"Pekerjaan sebelum jadi Ksatria?"
"Pengawal kerajaan."
"Benarkah?" Kaisar langsung bertanya cepat. "Aku tak pernah melihatmu." Katanya.
Karena kau tak pernah keluar dari istana, pikir Ichigo. "Saya bekerja di Gerbang Utara." Tambah Ichigo.
Kaisar manggut-manggut. Memaklumi jawaban Ichigo. "Jadi kau jelas punya pengalaman." Itu bukan pertanyaan. Tapi Ichigo juga tak yakin kalau itu pernyataan, jadi dia hanya mengangguk—apalagi yang bisa dia lakukan?
Kaisar mempersilakan Ichigo kembali duduk, dan Ichigo kembali duduk bersimpuh di bantal duduk—melipat kakinya di bawah berat badannya. Baru saja dia duduk, dia langsung merasakan kakinya kesemutan lagi.
Begitu Kaisar duduk, para pelayan langsung datang dan meletakkan piring-piring dan mangkuk-mangkuk penuh berisi makanan enak yang tak pernah dilihat Ichigo sebelumnya. Ichigo hampir mangap karena dia tak pernah melihat—apalagi memakan—makanan yang seperti ini sebelumnya. Appetizer pertama berupa sushi telur kepiting dan takoyaki hangat. Melihat makanan itu, mulut Ichigo hampir terbuka kalau bukan karena Rukia yang berdeham untuk mengingatkannya. Ichigo kembali fokus pada makanannya dan dia bengong melihat banyak sekali peralatan makan yang belum pernah dia lihat. Hanya sumpit yang dia kenal. Dia menatap Rukia dengan bingung. Rukia menyadarinya dan dia mengambil sumpit pelan-pelan agar Ichigo punya waktu untuk mencontohnya.
Kemudian, mereka menyuap sushi kepiting dengan pelan dan pasti. Ketika Ichigo berniat mengambil sebuah sushi lagi, Kaisar berbicara, "Kurosaki. Ceritakanlah tentang keluargamu." Katanya sambil menyuap sushi. "Apakah kau punya orang tua? Adik?"
Ichigo tersenyum mengingat mereka. "Ya." Jawabnya. "Kembar perempuan. Masih berumur 11 tahun." Kata Ichigo.
"Begitu." Kemudian beliau menyeruput teh panasnya. "Bagaimana dengan orang tuamu?" tanyanya.
"Ibuku sudah meninggal." Kata Ichigo sambil tersenyum. Rukia berhenti begitu mendengar kalimat itu dan dia menatap Ichigo yang tersenyum. Senyumnya nampak dipaksa.
"Oh," Kaisar menyadari kesalahannya. "Aku turut berduka." Katanya. Kemudian beliau berdeham. "Bagaimana dengan ayahmu?"
"Ayahku bekerja sebagai tabib umum," jawab Ichigo. "Penghasilannya tidak mencukupi, jadi aku juga harus bekerja sebagai pengawal." Kata Ichigo.
Kaisar kembali terdiam dan mengamati Ichigo. Nampaknya beliau masih juga menimbang-nimbang—apa benar orang miskin dari Rukon seperti dirinya bisa mengemban pekerjaan seperti ini? Beliau pasti ragu untuk mempercayakan putrinya pada orang seperti Ichigo. Menyadari pikirannya itu, Ichigo mengkerutkan dahi.
Tepat pada saat menu utama dihidangkan di atas meja, Kaisar angkat biacara, "Ukitake, bisakah aku bicara denganmu sebentar?" tanya Kaisar pada Ukitake. Mereka berdua berdiri dan Ukitake-sensei menutup pintu fusumi dari luar. Suara percakapan mereka berdua di luar tak terdengar dari dalam, tapi firasat Ichigo mengatakan kalau Kaisar tak ingin putrinya dipercayakan pada orang tak meyakinkan seperti dirinya.
Ichigo meluruskan kakinya pada kesempatan itu dan memijat-mijat kakinya yang mati rasa sambil mendesah lega.
"Maaf," kata Rukia.
Ichigo menoleh bingung pada Rukia, "ha?"
Rukia nampak bersalah. "Aku tahu yang kau pikirkan." Kata Rukia sambil menatap Ichigo. "Kau pasti berpikir kalau ayahku tak menganggapmu pantas kan?" tanyanya. "Maafkan ayahku, dia hanya memikirkan yang terbaik untukku. Aku yakin dia sama sekali tak bermaksud meremehkanmu. Maaf."
Ichigo melebarkan matanya. Mungkin gadis ini lebih pintar dari perkiraannya. "Yah, itu bukan salahmu. Aku sendiri yang tampil tak meyakinkan, jadi pantas saja dia menganggapku tak pantas melakukan pekerjaan ini." Katanya sambil menyandarkan diri pada kedua tangannya sementara dia meluruskan kedua kakinya.
Rukia tersenyum. "Kau ini... orang yang baik, Ichigo." Katanya kemudian. Ichigo melebarkan matanya—sama sekali tak menyangka akan mendapat pujian dari gadis yang baru saja dikenalnya. "Perlu kau tahu, aku sama sekali tak menganggapmu tidak pantas seperti ayahku." Katanya. "Aku sudah melihat kemampuanmu. Kau orang yang kuat, Ichigo. Aku tahu kau pasti bisa mengemban tugas ini." Katanya mantap.
Ichigo tersenyum tulus pada gadis itu. "Terima kasih." Katanya. "Cuma kau dan sahabatku saja yang seyakin itu kalau aku bisa." Katanya. "Berarti, kau orang pertama yang percaya."
Rukia dan Ichigo tertawa geli bersama, tapi tentu saja pelan-pelan. Mereka tak ingin kedua orang di luar menyadari kalau mereka berisik. Rukia menarik napas dan menatap Ichigo. Dia menyadari kalau Ichigo juga sedang menatapnya. Rukia merasakan wajahnya panas, dan dia tahu kalau wajahnya memerah. Rukia langsung membuang muka sambil tersenyum malu.
Dia berdeham. "Jadi..." katanya ragu. "Kau umur dua puluh tahun?" tanyanya.
Ichigo mengangguk. "Kau?"
Rukia tersenyum malu, "aku masih tujuh belas."
"Itu kan sudah termasuk dewasa." Kata Ichigo sambil tersenyum geli.
Rukia tersenyum. "Benar juga."
Percakapan mereka hanya sedikit dan sama sekali tak penting. Mereka hanya bercakap-cakap sebentar, kemudian terdiam, kemudian saling menatap, dan saling tersenyum. Itu saja. Tapi senyum tak pernah lepas dari bibir mereka apapun yang mereka lakukan. Bahkan percakapan bukanlah hal utama dalam interaksi mereka. Mereka hanya tersenyum, tertawa, lalu saling menatap. Mereka bahkan tak tahu apa yang sebenarnya mereka tertawakan—mereka hanya sedang ingin tertawa.
"Sebaiknya kau duduk bersimpuh lagi, Ichigo." Kata Rukia mengingatkan.
Ichigo mendesah lelah—yang membuat Rukia geli. Tapi dia tetap melipat kakinya di bawah berat badannya dan duduk tegak. "Rukia. Kau tidak capek duduk begini?" tanya Ichigo.
Rukia tersenyum, "aku sudah dilatih duduk bersimpuh sejak aku masih kecil. Aku sudah biasa, Ichigo." Kata Rukia.
Ichigo tertawa, "bagus untukmu." Katanya sambil tersenyum.
Ichigo kemudian berpikir, sejak kapan dia jadi sering tersenyum. Dia jarang tersenyum—bahkan dengan Renji. Tapi jika ada di dekat gadis ini, dia malah ingin terus tersenyum, tertawa—seolah ingin menunjukkan bahwa dia bahagia. Dia merasa bahagia. Dia merasa bahagia? Entah sejak kapan dia tak merasakan perasaan ini sejak dia ditinggal mati ibunya. Tapi di dekat gadis ini, kenapa dia merasa seperti ini? Kenapa tubuhnya bereaksi seperti ini terhadapnya?
Pintu fusumi terbuka dan Kaisar masuk ke dalam bersama Ukitake. Suasana yang tadi dirasakan Ichigo langsung menghilang, diganti dengan rasa mencekam walaupun keadaan ruangan itu terang.
Sambil mengunyah sashimi dengan sup misoshiru, semua orang terdiam—hilang dalam pikiran masing-masing. Ichigo hanya ingin cepat-cepat selesai supaya dia bisa memijat kakinya dan pergi tidur.
"Rukia," Rukia mendongak cepat pada ayahnya. "Ada perubahan rencana." Katanya. Rukia menelengkan kepala tak mengerti. "Aku memutuskan akan pergi ke negara tetangga malam ini." Katanya.
Rukia melebarkan matanya, tapi dia tak berkata apa-apa, "begitu." Jawab Rukia pelan.
"Dan selama aku pergi, aku akan meminta Ukitake untuk mengawasi kalian." Kaisar berkata 'kalian' tapi dia mengamati Ichigo. Ichigo yang mengetahui hal itu tetap sibuk makan dan berpura-pura tidak tahu. "Aku harap Kurosaki dapat mengemban tugas yang dipercayakan padanya." Katanya dengan nada menyindir pada Ichigo. Ichigo mengetahuinya tapi dia tak berkata apa-apa. Dia sudah terbiasa diremehkan. Nanti dia akan tunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.
Kemudian, makan malam berlanjut tanpa ada kejadian yang istimewa dan Kaisar tak lagi menginterogasi Ichigo dengan pertanyaan macam-macam.
Makan malam selesai, dan setelah Kaisar dan Ukitake-sensei pergi duluan, barulah Ichigo dan Rukia keluar. Ichigo keluar dengan buru-buru dan meregangkan otot-otot tubuhnya sambil menghirup udara malam yang dingin.
"Huwaahh..." desahnya sambil meregangkan tangannya. "Rukia. Ayahmu itu menakutkan sekali." Komentar Ichigo.
Rukia terkikik geli, "semua orang bilang begitu." Katanya. "Kau harus bersyukur ayah pergi malam ini sehingga besok kau tak harus berurusan dengannya lagi."
Ichigo menatap Rukia, "apa boleh seorang anak berkata begitu tentang ayahnya?" tanyanya.
"Tentu saja tidak." Kata Rukia. "Aku hanya bilang, kalau kau beruntung. Kebanyakan orang disini selalu lega jika ayah pergi selama beberapa bulan. Mereka tak perlu merasa terintimidasi dengan keberadaan ayah." Katanya. Kemudian dia terdiam sejenak. "Apa kau tak merasa terintimidasi, Ichigo?" tanyanya kemudian.
"Apa kau bercanda? Tentu saja iya!" kata Ichigo. "Kehadiran ayahmu, walaupun dia hanya menatapku saja, aku bisa merasakan tatapannya seolah membakar. Kau mengerti?" Rukia tertawa mendengar metafor Ichigo. "Tidak, aku serius." Kata Ichigo sambil tersenyum geli.
"Bagaimana kakimu?" tanya Rukia.
"Masih mati rasa." Kata Ichigo sambil memijat betisnya.
"Aku akan panggilkan pemijat kerajaan untuk memijat kakimu." Kata Rukia. "Kau istirahatlah malam ini. Pasti berat bagimu, ya?" tanya Rukia.
Ichigo mendengus, "hah, aku baru pertama kali merasakan aura ayahmu. Tak heran dia jadi Kaisar." Katanya. "Oh, ya. Makanannya enak. Aku tak pernah makan makanan seperti itu sebelumnya." Tambahnya.
"Benarkah?" tanya Rukia. "Aku bisa minta Momo untuk memasakkannya lagi untukmu kalau kau mau." Kata Rukia menawarkan.
"Kau bisa?" tanya Ichigo.
"Yah, kalau kau mau. Makanan apa yang kau suka?" tanya Rukia.
Ichigo menggaruk kepala. "Yahh, sebenarnya aku tak pernah pilih-pilih makanan karena keadaan ekonomiku di rumah. Tapi kalau kau bertanya, aku sebenarnya suka kare." Kata Ichigo mengakui.
"Kau suka kare?" tanya Rukia. "Itu suatu kejutan."
"Kenapa?" tanya Ichigo. "Kau heran kenapa orang miskin suka kare?" tanyanya.
Rukia langsung menyadari kesalahannya, "bukan! Aku tidak pernah berpikir begitu. Hanya saja..." Rukia tak melanjutkan kata-katanya dan wajahnya memerah. "Hanya saja, aku tak pernah suka kare sebelumnya." Katanya mengakui.
Ichigo melebarkan mata. "Kau tak suka kare?" tanyanya tak percaya. "Kenapa? Padahal enak begitu, kok. Apanya yang tak kau suka?"
"Yahh, aku tak suka baunya. Aromanya terlalu kuat bagiku dan... yahh, aku tak terlalu menyukainya." Rukia mengangkat bahu.
"Aromanya memang harus kuat, bodoh." Kata Ichigo sambil melipat tangan di balik kepalanya. "Itu supaya rasanya lebih mantap." Kemudian mereka berdua berjalan dalam hening. "Bagaimana kalau kubuatkan kapan-kapan? Mungkin kau akan berubah pikiran." tawar Ichigo.
Rukia menoleh, "kau bisa masak?" tanya Rukia.
Ichigo mengangguk. "Aku tahu. Kelihatan aneh kan kalau pria bisa masak? Tapi aku sudah belajar masak sejak aku masih kecil, jadi... yahh, begitulah." Dia mengangkat bahu.
"Ah, aku bisa sedikit-sedikit. Tapi aku masih takut pada apinya." Kata Rukia.
"Tak usah takut dengan api," kata Ichigo. "Kalau kau percaya pada apinya, maka api pun akan percaya padamu dan dia takkan melukaimu." Katanya sambil tersenyum.
Rukia menatap Ichigo yang tersenyum, "kau berkata seolah kau percaya pada api, Ichigo." Kata Rukia sambil tersenyum.
Ichigo mengangkat bahu. "Itu yang sering dikatakan ibuku padaku." Katanya.
Kemudian mereka terdiam. "Yah, aku harus pergi ke kamar sekarang." Kata Rukia. "Kau juga harus tidur, Ichigo."
"Biar kuantar." Tawar Ichigo.
"Ah, tak usah. Aku tak apa-apa."
"Tidak. Aku memang sedang ingin mengantarmu. Ayo." Rukia tak bisa menolak sebab Ichigo sudah meraih tangannya dan menggandengnya menuju ke tangga. Ichigo berada di depan, sehingga dia tak menyadari wajah Rukia yang memerah.
Menuju ke kamar Rukia, harus melewati tiga pintu besar yang terbuat dari kayu tebal yang dijaga oleh masing-masing dua penjaga. Sementara, tak seperti yang lain yang dindingnya terbuat dari kayu tebal, dinding lorong bagian itu terbuat dari beton. Sepanjang tangga hingga mencapai kamar sang putri—semuanya terbuat dari beton. Nampaknya sang Kaisar memang serius dalam membuat penjagaan terhadap putrinya. Meski pintu kamar sang Putri nampak kecil dibandingkan dengan ketiga pintu sebelumnya, tapi tetap saja nampak kalau pintu itu juga dibuat dari kayu tebal yang sama dengan ketiga pintu sebelumnya. Dinding di sekitar kamar sang putri juga terbuat dari beton. Tapi yang aneh, tak ada penjaga di depan pintu kamar sang putri.
Ichigo melepaskan pegangannya pada tangan Rukia, dan Rukia segera membuka pintu kamarnya. Tempat itu gelap dan hanya diterangi cahaya temaram dari lampion. Rukia tersenyum pada Ichigo dalam temaram cahaya lilin.
"Kau harus tidur, Ichigo." Kata Rukia dengan nada yang lembut yang membuat hati Ichigo—entah kenapa—bergetar. "Besok hari yang besar. Dan kau tak akan mau terlambat untuk sarapan besok."
"Memangnya sarapan jam berapa?" tanya Ichigo—berusaha menghiraukan pipinya yang panas.
"Jam enam," kata Rukia sambil tersenyum. "Jangan kesiangan." Kata Rukia seraya masuk ke dalam kamarnya.
Saat Rukia hendak menutup pintunya, tiba-tiba Ichigo menahan pintu kamar Rukia dengan tangannya. Rukia yang kaget dengan gerakan tiba-tiba itu menatap Ichigo yang menatapnya balik. Ichigo menatapnya seolah dia bisa membaca apa yang ada dalam pikirannya. Karena tak bisa membaca arti tatapan Ichigo, Rukia pun ikut menatapnya—ingin tahu apa yang dia pikirkan. Dan setelah itu, Rukia sadar kalau mata Ichigo berwarna cokelat kemerahan—bukan cokelat madu seperti yang dia pikir. Mereka bertatapan selama beberapa detik.
Rukia berkedip, "selamat tidur, Ichigo."
Ichigo berkedip dan melepaskan tangannya dari pintu kamar Rukia, "selamat tidur," katanya. "Rukia."
Rukia tersenyum. Dia mengira Ichigo akan memanggilnya 'putri'. Dan dia senang jika dugaannya salah. Setelah tersenyum terakhir kalinya hari itu pada Ichigo, Rukia menutup pintu kamarnya dan terduduk dengan punggung menempel di pintu.
Chappy, kelincinya, mendekat dengan mata terbuka lebar. Dia mengendus-endus Rukia dan menjilat pipinya. Rukia terkekeh geli. Dia meletakkan kelincinya di pelukan tangannya, sementara dia duduk dengan lutut ditekuk. Dia memikirkan pria itu. Ichigo. Kenapa saat Ichigo menatapnya dia tak bisa bernapas? Kenapa dia merasa seolah hatinya terbang menjadi seribu kupu-kupu saat melihatnya tersenyum padanya? Kenapa dia merasa perutnya naik ke dadanya saat mendengarnya menyebut namanya? Kenapa tubuhnya bereaksi seperti itu terhadapnya? Apa yang dimiliki laki-laki itu sehingga dia bisa melakukan ini padanya?
Rukia mendesah dan mengelus bulu kelincinya. "Chappy," katanya. "Aku lelah. Aku mau tidur saja malam ini, dan melupakan segalanya." Gumamnya—walaupun dia mengakui bahwa tak seluruhnya benar.
Rukia bangkit dari duduknya dan berjalan ke tempat tidur. Setelah mengganti furisode putihnya dengan yukata tidur, dia membaringkan diri di tempat tidurnya dan menatap langit-langit selama beberapa menit sebelum akhirnya tertidur.
Seorang pria dengan kerudung hitam menunggang kuda cokelatnya dengan diam-diam. Di bawah pantulan sinar bulan, kerudungnya tak mengijinkan seorangpun untuk melihat wajahnya dan hanya menyisakan bibirnya untuk diintip. Dia menggunakan kimono hijau tua, obi putih, dan hakama hitam. Sebuah katana terikat dengan rapi di pinggangnya.
Dia menghentikan kudanya tanpa suara di depan sebuah bangunan bertutupkan tembok batu tinggi besar dengan dua orang penjaga yang membiarkannya masuk. Di balik tembok batu tersebut, nampak sebuah bangunan besar yang dikelilingi oleh taman yang luasnya beberapa hektar. Sambil menengok ke kanan dan kiri, pria itu menyentuh sebuah lembaran kertas yang diselipkan di yukatanya dan berjalan dengan cepat-cepat tapi tenang dan pelan agar tak seorangpun tahu dia ada disitu. Dia menelusuri tanah yang ditutup dengan bebatuan yang menuju ke arah pintu utama bangunan utama di situ. Setelah melihat ke kanan dan kiri, dia mendorong pintu utama bangunan tersebut sepelan mungkin. Suara pintu berderit dalam tapi pelan. Setelah memastikan tak ada orang di dalam, dia masuk dan menutup kembali pintu tersebut. Pria tersebut cepat-cepat menuju ke ruangan yang telah diperintahkan tuannya tanpa banyak suara.
Kemudian setelah melewati beberapa tikungan, dia melihat sebuah cahaya lemah di ambang sebuah pintu yang terbuka. Dia yakin itulah ruangan yang dimaksud dan dengan buru-buru, dia membuka pintu tersebut dengan pelan. Dia masuk ke sebuah ruangan yang hanya diterangi oleh dua buah lampion meja sehingga dia tak bisa melihat seluruh detail dari ruangan tersebut. Di ujung ruangan, terdapat sebuah kursi dan dalam temaram cahaya lilin, dia bisa melihat sebuah sosok yang duduk disitu. Begitu dia mengetahui bahwa itu adalah tuannya, pria itu bertekuk lutut di depannya.
"Tuan Fujiwara-sama," katanya. "Saya telah kembali."
Sosok yang duduk di kursi tersebut berdiri dan mendekati pria tersebut. "Apakah kau sudah mendapatkan dokumennya?" tanyanya dengan suaranya yang berat dan berwibawa.
"Ya, Tuan. Dalam dokumen ini berisi semua tentang perjanjian Kaisar dan semua orang-orang dalam istana." Jawab pria tersebut. Dengan cepat, dia mengambil kertas yang diselipkan di yukatanya dan menyerahkannya pada tuannya.
Tuannya itu mengambilnya, membukanya dan mempelajarinya sekilas. Setelah yakin bahwa itu adalah dokumen yang benar, dia mengangguk. "Bagus." Katanya. "Sekali ini, kau sudah melakukan hal yang benar, Sousuke." Katanya.
Pria itu menunduk makin dalam, tapi senyuman di wajahnya menunjukkan bahwa dia senang tuannya memuji. "Terima kasih, Tuan."
"Hanya saja satu hal," kata tuannya itu—yang membuat pria yang dipanggil Sousuke itu mendongak cepat. "Sayembara yang diselenggarakan oleh Ukitake itu mungkin bisa membuat rencana kita kacau." Katanya. Lalu dia mengambil sebuah dokumen yang terletak di mejanya dan menyerahkannya pada pria itu. "Aku ingin kau mencaritahu informasi sebanyak mungkin tentang dia," katanya. Pria yang dipanggil Sousuke itu mengambil dokumen itu dari tangan tuannya dan mempelajarinya sejenak. Di atas dokumen tersebut terdapat sebuah nama yang ditulis besar-besar dan terdapat gambar seseorang disampingnya.
"Cari tahu sebanyak mungkin tentang pria itu," Kata tuannya. "Kurosaki Ichigo!"
"Baik, akan saya laksanakan." Katanya. "Tuan Fujiwara-sama!"
Author's Note:
Hmm, things started to get interesting. Antagonis udah keluar, mata-mata udah keluar, tinggal Taira dan Minamoto yang harus keluar. Hah! Harus balik kerja! Harus balik kerja! Aku harus tahu apa yang terjadi selanjutnya!
Keluarga Fujiwara adalah keluarga bangsawan yang berkuasa di Jepang di jaman Heian yang memiliki kekayaan melebihi Kaisar Kanmu pada masa pemerintahan Ritsuryou. Pada saat ini, keluarga Fujiwara memiki banyak tanah pribadi bebas pajak (yang disebut shouen) sehingga para petani lokal malah memberi pajak pada Fujiwara, bukannya pada Kaisar. Akibatnya, keluarga Fujiwara menjadi kaum penguasa (disebut juga Kizoku) yang paling berkuasa dan kekuasaannya bahkan menjalar sampai ke istana—dimulai dari Fujiwara Yoshifusa yang diangkat menjadi penasihat Kaisar yang belum dewasa (alias Sesshou).
Aku masih bingung bagaimana cara menjalarkan kekuasaan Fujiwara di kalangan istana. Mungkin nanti setelah Rukia jadi Empress—yang berarti masih lamaaaaa banget. Aku berniat mengubah sejarah Jepang nih, ceritanya? Hahaha, aku memasukkan BLEACH ke sejarah Jepang! Moga2 orang2 Jepang (termasuk Kubo-sensei) tidak membunuhku.
Nah, yang gak tahu sekarang jadi tahu kan? Diambil dari netnet-dot-net, siapapun yang punya blog itu, aku berterima kasih. Nah, semoga anda masih punya niat untuk me-review setelah apa yang kukatakan kemarin. (tolong jangan diambil hati, ya? Jangan, ya...? huhuhu, hiks~)
