07. The Knight and the Princess


"White horses on a troubled sea. Your smile will flash through time. Up ahead a blackbird's wing. Your hair will come to mind. Every night, I see your face when I have to pray. I need a bell, book, and candle to keep your ghost away." Eddie Rider—Bell, Book and Candle

Sarapan pagi sudah selesai. Ichigo lega karena ternyata Kaisar sudah pergi malam tadi dan mereka tidak perlu berhadapan dengan beliau lagi. Auranya saja mungkin bisa membuatnya terbunuh.

Saat ini, dia sedang berjalan-jalan di taman istana bersama sang putri di sampingnya. Rukia menggunakan furisode yang tadi malam dia gunakan—furisode berwarna putih salju dengan motif bunga lili dan dedaunan yang disulam dengan benang perak. Tapi kali ini rambutnya tergerai. Ichigo tak pernah mengira rambutnya sepanjang itu. Rambutnya yang lurus tergerai sampai ke pinggulnya dan rambutnya yang hitam nampak berkilau di bawah cahaya mentari.

Sial, sekarang Ichigo malah jadi menatapnya terus-menerus. Dia segera mengalihkan pandangannya pada kolam koi yang ada di hadapan mereka.

Sedari tadi mereka membicarakan hal-hal yang tak penting dan saling adu argumen tentang sesuatu yang tak penting. Mereka hanya saling bertanya apa kesukaan masing-masing, apa yang tak disukai, dan bagaimana keadaan keluarga masing-masing. Keduanya mengetahui kalau satu-satunya persamaan yang ada di antara mereka adalah ibu mereka sudah meninggal. Ichigo mengetahui kalau Rukia hanya memiliki sedikit teman karena dia tak pernah diperbolehkan keluar dari istana. Rukia mengetahui kalau Ichigo punya banyak pekerjaan dan dia bisa melakukan apapun. Ichigo mengetahui kalau Rukia jago aikidou dan karate dan dia tak ingin macam-macam dengannya. Rukia mengetahui kalau Ichigo jago kendo dan karate sehingga banyak orang takut dan segan padanya. Ichigo mengetahui kalau Rukia itu keras kepala—sama seperti dirinya—dan sering bertengkar dengannya membuktikan hal itu. Rukia mengetahui kalau rambut Ichigo oranye alami dan sering bertarung di jalan karena rambutnya.

Akhirnya mereka kehabisan bahan pembicaraan dan hanya duduk termenung sambil memandangi kolam koi di hadapan mereka. Keduanya hilang dalam pikiran mereka masing-masing. Hanya terdengar suara percikan air dari pancuran bambu, suara kicauan burung dan gemerisik dedaunan yang ditiup angin. Semuanya begitu damai, begitu tenang, begitu menyenangkan. Di kompleks Rukon, tak ada tempat yang seperti ini—tenang dan damai. Orang-orang berkelahi, berteriak, berseru—selalu ramai dan berbahaya. Tunggu—harusnya dia tak memikirkan ini. Ichigo kembali mencuri pandang ke arah gadis yang sedang duduk di sebelahnya. Dia nampak sangat damai dengan mata tertutup dan kedua sudut bibir terangkat membuat sebuah senyuman. Ia nampak sedang meresapi semuanya—semua suara-suara tenang dan damai yang ada disekitar mereka. Tanpa disadarinya sendiri, Ichigo tersenyum pada dirinya sendiri.

"Ada apa dengan senyum mengerikan itu, Ichigo?" suara lembut itu membuat Ichigo kembali dari pikirannya. "Kau berkhayal apalagi?" tanyanya sekali lagi.

Ichigo tersenyum—senyum tulus kali ini. "Ah, yang jelas aku sedang memikirkan sesuatu." Katanya sambil bersandar pada kedua tangannya. "Itu rahasia, Rukia."

Rukia tersenyum menggoda, "Hn? Rahasia? Kau bahkan tak mau mengatakannya padaku, Ichigo?" tanyanya sambil mengerlingkan matanya pada Ichigo.

Ichigo memutar matanya, tapi senyumnya mengkhianati niatnya. "Dasar bodoh." Katanya singkat.

Rukia terkikik geli. "Aku tidak tahu kalau kau begitu murah senyum, Ichigo."

"Memang tidak," kata Ichigo singkat, tapi senyumnya tak menghilang dari wajahnya.

"Lalu apa itu yang ada di bibirmu?" tanya Rukia dengan senyum menggoda. "Mungkin itu sesuatu yang disebut 'senyuman'?" tanya Rukia. Senyuman menggoda itu tak lepas dari bibirnya. Anehnya, saat Rukia tersenyum, dia tak bisa tidak ikut tersenyum. Setiap kali dia tertawa, dia juga tak bisa tidak ikut tertawa. Ichigo sadar, jika gadis itu bersinar, maka dirinya pun akan ikut bersinar untuknya.

"Aneh," kata Ichigo setelah hening beberapa saat. Rukia menoleh padanya. "Kalau aku melihatmu tersenyum, entah kenapa, aku melihat sesuatu di wajahmu." Kata Ichigo.

Rukia langsung panik dan memegangi wajahnya sendiri. "Ah? Apa? Ada sesuatu di wajahku? Dimana?" tanyanya bertubi-tubi.

Melihat tingkah Rukia, Ichigo tertawa geli. "Hei, sesuatu itu mungkin disebut 'cahaya'." Katanya pelan sambil menyentuh punggung Rukia dengan lembut.

Mendengar itu, wajah Rukia memerah. Dia menatap mata Ichigo dan melihat sesuatu yang tak pernah dilihatnya sebelumnya. Apa itu? Dia tak mengerti. Perasaan apa ini? Kenapa jantungnya berdebar setiap kali mendengar suara pria ini? Kenapa wajahnya terasa panas setiap kali pria ini menatapnya? Mengapa ini semua perasaan ini terasa begitu... benar?

"Yang jelas, bukan aku yang ada nasi di wajahnya." Kata Ichigo—kali ini dengan wajah mengejek.

Rukia mengusap sudut bibirnya, dan dia menyentuh sesuatu yang empuk dan dingin—nasi! Selama ini ada sebutir nasi di bibirnya dan pria ini tak memberitahunya? Brengsek! "Kau—! Kenapa kau tak memberitahuku dari tadi?" wajah Rukia merah karena malu, tapi juga karena marah.

"Yah, kupikir kau akan teliti mengusap-usap wajahmu tadi." Kata Ichigo santai.

Rukia mengerutkan alisnya dan dia menginjak kaki Ichigo. Ichigo langsung terlompat kesakitan dan memegangi kakinya yang baru saja diinjak oleh Rukia. "Kau—walau pendek, tapi injakanmu sakit juga, ya." Dia mendapatkan sebuah tendangan ke lututnya. Sekali lagi, Ichigo melonjak dan memegangi lututnya. "Sial! Untuk apa itu?"

"Untuk memanggilku 'pendek'." Kata Rukia.

"Aku hanya menyatakan fakta. Kalau wajah yang ada di cermin itu jelek, kan salah kalau marah ke cerminnya." Dan sekali lagi, Ichigo mendapatkan sebuah pukulan ke pinggangnya hingga Ichigo terbungkuk-bungkuk memegani pinggangnya.

"Aku tahu kalau itu fakta, jadi aku tak butuh kau untuk mengatakannya padaku." Kata Rukia dengan wajah dingin. "Dan aku tak butuh untuk diceramahi olehmu. Aku tahu peribahasa itu."

Ichigo masih terbungkuk-bungkuk sambil memegangi pinggangnya. Gadis itu mungil, tapi kenapa pukulannya bisa menyakitkan begini, sih? "Sial kau—"

"Wah, wah, wah, nampaknya kalian sudah akrab sekali, ya?"

Keduanya menoleh ke arah suara dan melihat Ukitake-sensei berdiri di belakang mereka. "Ukitake-sensei?" kata mereka berdua bersamaan.

"Kalian pasti tidak tahu kalau aku dari tadi memperhatikan dari belakang?" tanyanya dengan senyum terhibur. "Satu detik, kalian terlihat sangat mesra, detik berikutnya, kalian bertengkar seperti anjing dan kucing. Tapi harus kuakui, memang sangat menyenangkan melihat kalian bertengkar. Bukan berarti aku ingin melihat kalian terus bertengkar, justru lebih baik kalian bermesraan. Lebih baik lagi kalau kalian lebih akrab dan saling mengerti satu sama lain."

Ichigo mendengus, "cih, siapa yang mau bermesraan dengan perempuan ini?"

Rukia memasang tampang jijik, "siapa saja, asal bukan kau." Katanya.

Ichigo mendekatkan wajahnya ke wajah Rukia untuk membuatnya terintimidasi, "kalau saja kau bukan putri, sudah kupukul kau." Katanya.

Rukia tak mundur, dia malah makin mendekatkan wajahnya pada Ichigo, "oh, jadi begitu? Jadi pertarunganmu tiap hari adalah berkelahi melawan wanita, Ichigo?"

"Kau sialan."

"Brengsek."

"Sudah, sudah. Tak perlu bertengkar." Ukitake-sensei melerai mereka dan menjauhkan mereka dari satu sama lain. Baru kali ini dia melihat sang putri berdebat dengan begitu hebatnya dan bahkan berlaku seperti itu di depan seseorang—apalagi seorang lelaki. Sungguh, deh. Apalagi yang diperdebatkan sama sekali bukan hal yang penting. "Nah, Hime-sama, daripada bertengkar dengan Ichigo-kun, bukankah lebih baik untuk memberinya tur keliling istana? Dia kan belum hafal tempat ini. Setelah tur, mungkin dia akan bisa berkeliling sendiri dengan leluasa." Katanya dengan senyum penuh arti.

Mendengar itu, Ichigo dan Rukia berpandangan dengan ragu.


Mereka berjalan dalam hening. Tak ada satupun yang bicara. Mereka sedang berjalan berdua di lorong luar yang berbatasan dengan taman. Keheningan itu tak nyaman. Ichigo masih bisa merasakan hawa kemarahan Rukia seperti menyala-nyala—dia bisa merasakannya—dan itu semua salahnya. Tadinya dia berniat memuji sedikit, tapi mulutnya itu—dia harus memukul mulutnya sendiri nanti—lagi-lagi melemparkan ejekan. Memang baginya ejekan itu tak seberapa, tapi dia tak mengira Rukia akan semarah itu. Ichigo mendesah dan menggosok rambutnya. Dia harus meminta maaf. Dia seorang pria—dia harus bertanggung jawab.

"Hei, Rukia." Panggilnya. Rukia tak menjawab, dia hanya diam dan terus berjalan. "Aku minta maaf." Katanya pelan dan hati-hati. "Kurasa aku memang agak keterlaluan tadi. Dan waktu aku bilang aku akan memukulmu, aku cuma mengatakan itu untuk menakutimu. Aku tak pernah memukul wanita atau anak kecil." Katanya. Rukia masih tetap diam, tapi Ichigo bisa merasakan kemarahannya mereda. "Sungguh, aku minta maaf. Aku cuma mencoba bercanda, tapi aku tak menyangka kau akan marah gara-gara itu. Aku tak bermaksud mengejekmu."

Ichigo ada di belakangnya sehingga dia tak melihat seulas senyum di wajah Rukia kini. Hanya senyum kecil, tapi setidaknya itu sebuah senyuman. "Aku juga minta maaf, Ichigo." Kata Rukia pelan dan hati-hati. "Pukulanku pasti agak menyakitkan, ya? Maaf. Mungkin sikapku terlalu berlebihan. Harusnya aku tak marah hanya gara-gara ejekan seperti itu. Entahlah. Setiap kali kau ada di sekitarku, aku jadi sering ganti mood." Kata Rukia.

Ichigo tersenyum mendengarnya. "Itu ejekan atau pujian?" tanyanya dengan senyum di wajahnya.

Rukia mengangkat bahu sambil tersenyum. "Terserah kau mau menganggapnya apa." Katanya. "Tapi aku serius tentang yang satu itu. Sejak kau datang, aku selalu sering ganti mood. Biasanya aku biasa saja dan tenang-tenang saja, tapi sejak kau datang..." Rukia berhenti sejenak lalu mendesah. "Ah, entahlah." Katanya kemudian. "Lupakan saja. Aku bicara melantur."

"Ya, tadi itu kau memang melantur." Ichigo mendapat sebuah pukulan ringan di bahunya. Tak menyakitkan, itu hanya main-main. Ichigo tertawa geli dan dia bisa melihat Rukia tersenyum malu walau wajahnya tertunduk.

Ichigo mengulurkan tangan pada Rukia yang dibalas dengan mata lebar yang tak mengerti. "Apa?" tanya Rukia bingung.

Ichigo memutar mata lalu meraih tangan Rukia dan menjabatnya. "Ini adalah caraku untuk berkata, 'kita impas'." Katanya sambil menjabat tangan Rukia turun naik.

Rukia tersenyum. "Baiklah. Aku mengerti maksudmu. Kita impas." Katanya. Kemudian dia menarik kembali tangannya, "atau jangan-jangan kau hanya berniat mengambil keuntungan dariku?" tanyanya dengan tampang curiga.

Ichigo tersenyum nakal. "Mungkin iya." Rukia mengambil zori yang dipakainya dan dilemparnya ke arah Ichigo yang sudah lari duluan menjauh sambil tertawa-tawa. Rukia mengejar sambil tertawa-tawa.

Mereka tak menyadari kalau Ukitake sedang mengamati dari kejauhan dengan senyum di bibirnya. Sementara, kedua bawahannya, Kiyone dan Sentarou juga sedang melihat mereka berdua dengan tampang terhibur. "Ukitake-sama, apa menurut anda Hime-sama dan Kurosaki-sama akan bersama?" tanya Kiyone.

Ukitake-sensei tersenyum sedih. "Mungkin tidak, Kiyone."

Kiyone dan Sentarou terkejut, "kenapa tidak, Ukitake-sama?" tanya Sentarou.

Ukitake-sensei mendesah. "Karena, Byakuya-sama sudah merencanakan perayaan ini. Perayaan pertunangan Hime-sama pada keluarga Shihouin." Wajah Kiyone dan Sentarou berubah murung. "Aku juga sedih. Padahal kupikir mereka cocok. Hime-sama pun pasti akan sedih." Katanya.


Tahu-tahu Ichigo teringat tentang rencananya untuk mengunjungi keluarganya. Dia menoleh pada sang putri yang masih asyik berkhayal di taman di hadapannya. Ichigo sedang duduk di lantai kayu koridor luar sambil memandangi Rukia yang menari-nari dan menyanyi-nyanyi sendiri di taman. Rukia nampak seperti bidadari dengan lengan kimono putih panjang itu melayang-layang setiap kali ia berputar dan menari sehingga nampak seperti sayap. Dan dengan rambut hitam legam yang panjang itu menari ditiup angin dan terlihat kontras dengan kimononya. Tanpa disadarinya, Ichigo tersenyum. Sementara gadis itu menari-nari sambil menyanyi untuknya, Ichigo sendiri hanya duduk dan mengamati sambil tersenyum—seperti bayi yang mengamati sebuah kelereng.

"Hei, Rukia." Panggilnya. Rukia berhenti menari dan menoleh ke arahnya. "Aku mau pulang ke rumah." Katanya singkat.

Mata biru Rukia membulat mendengarnya. "Kenapa? Kau tak suka disini?" tanyanya cepat. Kemudian bahu Rukia merosot, "apa gara-gara aku kau akan pergi?"

Ichigo menggelengkan kepalanya, "bukan, bodoh. Aku belum memberitahu pada keluargaku kalau aku dapat pekerjaan ini." Mendengar itu, bahu Rukia merosot karena lega. "Kenapa? Kau takut aku akan pergi?" tanya Ichigo dengan nada menggoda.

Pipi Rukia bersemburat merah. "Tentu saja. Kau kan ksatria. Aneh kalau kau mau pulang dan menghiraukan pekerjaanmu." Katanya mencari alasan sambil mencoba menghiraukan rasa panas di pipinya.

Ichigo tertawa, "bodoh. Aku takkan pergi selamanya. Aku cuma pulang sebentar dan setelah itu kembali lagi." Katanya sambil bangkit berdiri dan menghampirinya dengan kedua tangan di kantung hakama. "Lagipula, aku tahu kau takkan bisa hidup tanpa aku." Katanya dengan tampang arogan itu lagi.

Rukia menimpuk dada Ichigo dengan kepalan tangannya. "Aku baik-baik saja tanpamu, bodoh." Katanya dengan hidung terangkat. Kemudian mereka berdua terdiam. "Kapan kau akan pulang?" tanyanya.

"Rencanaku, sebenarnya hari ini. Dan aku juga akan kembali hari ini—kalau memungkinkan." Kata Ichigo sambil menggosok rambut oranyenya. "Mungkin kau mau ikut?" tawar Ichigo sambil tersenyum. "Aku tahu kau mau ikut denganku."

Wajah Rukia memerah dan dia memalingkan mukanya, "aku tidak minta ikut, kok." Katanya—walaupun dalam hati dia mengakui kalau dia memang ingin ikut. "Kalau kau mau pergi, pergilah. Asalkan kau kembali lagi, aku tak keberatan." Katanya sambil membalikkan badannya ke arah kolam koi sehingga Ichigo tak bisa melihat wajahnya. "Tapi berjanjilah untuk kembali, Ichigo."

Mendengar perkataan itu, Ichigo tersenyum tulus. Dan dia mendekat ke punggung Rukia—tiba-tiba dia ingin memeluk pinggang kecil itu dekat ke tubuhnya. Tapi dia urungkan keinginan itu—dia masih ingin hidup. Sebagai gantinya, dia membungkukkan tubuhnya hingga selevel dengan tinggi Rukia dan berbisik di telinganya, "aku akan berjanji, kalau kau berjanji untuk menungguku kembali." Katanya pelan—membuat Rukia bergidik.

Rukia berbalik untuk melihat Ichigo berada sangat dekat dengannya. Rukia merasakan wajahnya panas lagi, dan dia memalingkan wajahnya. "Tentu saja aku akan menunggumu. Apalagi yang bisa kulakukan?" katanya tanpa menatap Ichigo. Dia tahu Ichigo pasti sedang meringis sekarang.

Ichigo menggosok rambut hitam Rukia dengan gemas. "Aku pasti kembali, Rukia." Katanya. Kemudian dia beranjak dari situ menuju ke kamarnya.

Sepeninggal Ichigo—entah kenapa—Rukia sekali lagi merasakan sesuatu yang sering dirasakannya. Rukia terduduk di tengah rumput dan memandangi kolam koi. Perasaan sepi. Sendirian. Dia sendirian. Rukia menaikkan kedua lututnya dan memeluk lututnya dengan kedua tangannya. Mungkin harusnya dia ikut dengan Ichigo? Tapi dia tahu Ichigo butuh waktu bersama dengan keluarganya. Tak seperti dirinya—yang sudah tak punya siapa-siapa. Ibunya sudah meninggal sehingga dia kesepian, dan ayahnya meninggalkannya sendirian. Kini giliran Ichigo yang meninggalkannya sendiri disini.

Rukia meletakkan kepalanya di atas lututnya.

Lagi-lagi... dia ditinggal sendirian.


Ichigo menghentikan Zangetsu di depan rumahnya. "Karin! Yuzu! Aku pulang!" serunya. Dari pintu depan muncullah Yuzu yang matanya sembab, disusul dengan Karin yang nampak baik-baik saja. Yuzu langsung menghambur keluar dari rumah dan memeluk Ichigo yang baru saja turun dari kudanya hingga dia hampir terpelanting.

"Hei, Yuzu. Tenanglah. Ada apa?" tanyanya sambil menggosok rambut cokelat adiknya. Kemudian dia merasakan tubuh adiknya bergetar dan Ichigo sadar kalau Yuzu menangis.

"Ichi-nii pergi kemana saja selama tiga hari ini?" tanya Karin sambil berkacak pinggang. "Apa Ichi-nii tidak tahu kalau kami sangat cemas? Apalagi si jenggot baru saja pulang pagi ini!"

Ichigo kaget mendengarnya. "Apa?"

"Iya. Ayah baru saja pulang pagi ini! Dan dia mabuk berat! Lihatlah di dalam kalau tak percaya." Kata Karin sambil berkacak pinggang dan menunjuk pintu masuk.

Ichigo menggendong Yuzu yang masih memeluknya dan masuk ke dalam dengan cepat. Dengan sebuah bantingan, dia membuka pintu dan dilihatnya ayahnya tertidur dengan muka merah dan mengigau sesuatu yang tak jelas dengan wajah mesumnya. Ichigo mendesah melihat kondisi ayahnya. Ini bukan sesuatu yang langka—malah, dia selalu pulang dalam keadaan mabuk setiap kali habis pertemuan dengan para tabib.

Tapi bukankah harusnya hari ini Ichigo datang membawa kabar gembira dan disambut dengan hangat? Kenapa sambutannya malah seperti ini? Dia akan lebih menghargai sebuah tendangan di pinggang daripada disambut dengan orang mabuk yang tertidur di rumahnya. Ichigo mendesah dan meletakkan Yuzu ditangannya ke lantai tatami.

"Dengar, aku baru pulang hari ini karena aku ikut sayembara ksatria. Bukankah aku sudah bilang pada kalian?" tanyanya pada Karin yang masih berkacak pinggang di belakangnya.

"Ya, tapi hari itu kau bilang kau akan pergi selama dua hari saja." Kata Karin dengan tangan terlipat di dadanya. "Pergi selama dua hari saja sudah membuat kami khawatir. Kami melihat sayembaranya. Itu sangat berbahaya! Dan kau tidak memberi kabar selama sehari semalam! Yuzu sampai menangis, tahu!" kata Karin dengan tangan masih terlipat di depan dada.

Ichigo menoleh pada adiknya yang paling kecil. Yuzu menatapnya dengan puppy eyes dengan mata berair yang paling bisa membuat hati Ichigo luluh. Ichigo menatap Yuzu dan mendesah. Kemudian, dia menggosok rambut oranyenya, "iya, deh. Maafkan aku. Harusnya aku memberitahu dulu kalau aku akan menginap. Tapi aku punya kabar bagus untuk kalian." Ichigo berjongkok di depan Yuzu dan mengusap rambutnya yang cokelat itu. "Aku menang! Aku diterima oleh kerajaan untuk menjadi ksatria! Bisakah kalian bayangkan?" serunya dengan gembira.

Mata kedua anak itu melebar—terutama Yuzu. Dia langsung melompat ke pelukan Ichigo, "itu bagus sekali, Onii-chan!" serunya dengan gembira. Ichigo memeluk adiknya dan menggendongnya dengan senyum di wajahnya.

Karin melipat tangan dan mengamati kakaknya, "pantas tadi nampaknya kau gembira sekali." Katanya. "Jadi... itu artinya...?"

"Aku akan tinggal di istana." Kata Ichigo. "Aku akan melindungi sang putri dan seluruh keluarga kerajaan." Katanya dengan penuh semangat. "Aku akan pulang sebulan sekali, dan aku akan membawa uang kesini." Kata Ichigo sambil menatap Karin yang mengamatinya dengan pandangan aneh itu lagi. "Aku janji."

Karin terus mengamati kakaknya. Tapi kemudian dia mendesah. "Terserah Ichi-nii. Kalau mau pergi, pergilah. Kami tidak bisa mencegah." Katanya. Ichigo melebarkan mata mendengar kata-kata yang familiar. "Tapi Ichi-nii harus kembali sesuai janji yang dikatakan Ichi-nii! Sebulan sekali kau harus pulang. Kalau tidak, aku akan pergi sendiri ke istana dan menemuimu!"

"Karin-chan, itu tidak baik." Kata Yuzu.

"Biar saja! Ichi-nii pantas menerimanya!" bantah Karin.

Ichigo tersenyum dan memeluk kedua adiknya. "Kalian benar-benar keluarga yang baik." Katanya dengan gemas. "Terutama kau, Karin. Ada seseorang di istana yang mirip sekali denganmu." Katanya sambil menggosok rambut hitam Karin.

"Tak usah bercerita." Kata Karin sambil merapikan rambutnya yang diacak-acak oleh Ichigo. "Sebaiknya Ichi-nii makan dulu sebelum kembali ke istana. Ichi-nii akan membutuhkan tenaga ekstra untuk melindungi sang putri, kan?" tanyanya. "Yuzu sudah membuat kare kesukaan Ichi-nii."

Perut Ichigo langsung keroncongan mendengar kata 'kare'. Dia memang belum makan dari siang. "Bagus! Aku memang sudah kelaparan dari tadi!" katanya.

Mereka melanjutkan sore itu dengan makan malam sambil bercerita dan tertawa-tawa. Yuzu bercerita tentang sekolahnya dan bagaimana pelajarannya; bahwa ada pelajaran baru yang disebut zuihitsu dan dia punya pe er untuk mengerjakannya tapi dia tak bisa mengerjakan tanpa bantuan Ichigo. Yuzu juga bercerita kalau dia punya teman yang jago kendo seperti Ichigo dan ingin bertemu dengan Ichigo untuk diajari kendo. Karin bercerita tentang si jenggot yang sudah lama tidak pulang, tapi malah pulang dengan tangan kosong—mabuk lagi. Kemudian saking jengkelnya, suatu hari si jenggot pulang saat pagi buta, dan Karin memberinya pelajaran dengan mengunci pintu sehingga dia tidur diluar semalaman.

Ichigo sadar bahwa tanpa dirinya, keluarganya hampir tak bisa berbuat apa-apa. Setidaknya gajinya selama 4800 yen per hari sudah sangat membantu sehingga Yuzu bercerita dia sudah bisa membeli baju layak untuk sekolah, dan Karin bercerita akhirnya dia bisa membeli bahan-bahan untuk memasak sukiyaki kapan-kapan. Mereka keluarga miskin dan sukiyaki bukanlah makanan umum yang dimasak oleh keluarga kelas rendah seperti keluarga Kurosaki. Tapi saat punya uang, mereka bisa saja kapan-kapan memasak sukiyaki—karena Karin tak pernah makan sukiyaki dan sudah dari dulu mimpinya untuk makan sukiyaki.

Yuzu bercerita kalau dia sudah sangat rindu dengan Zangetsu-kun bahwa dia selalu berhalusinasi mendengar dia meringkik saat malam tiba dan Karin selalu harus mengingatkannya bahwa itu hanyalah suara burung hantu.

Tanpa terasa hari sudah malam dan bulan setengah muncul di tengah-tengah langit hitam. Ichigo baru mengetahui kalau hari itu sudah malam ketika malam sudah mulai larut. Dia melongok ke luar jendela dan terkesiap.

"Ya, ampun! Sudah malam!" serunya kaget. "Aku harus cepat-cepat kembali." Katanya sambil mengambil pedangnya yang terletak di ujung ruangan.

"Ichi-nii harus pergi lagi?" tanya Karin.

"Onii-chan mau pergi? Kembali lagi tidak?" tanya Yuzu dengan mata berlinang.

Ichigo tersenyum pada Yuzu dan mengusap kepalanya. "Aku akan kembali akhir bulan nanti, Yuzu." Kata Ichigo. "Karin, jaga semuanya, ya. Kuserahkan semuanya padamu—si jenggot itu tak bisa diandalkan." Karin mengacungkan jempol sebagai jawaban. "Oh, dan kalau si jenggot itu pulang lagi dalam keadaan mabuk, jangan segan-segan untuk menguncinya di luar rumah." Pesan Ichigo. Sekali lagi, Karin mengacungkan jempol, tapi sambil meringis lebar kali ini.

Ichigo menaiki kudanya, dan dengan lambaian terakhir, dia memacu kudanya kembali ke istana. Hari sudah malam, dan dia khawatir pada Rukia. Dia sudah janji akan kembali cepat-cepat. Tapi karena keasyikan, tahu-tahu sudah malam. Dia harus bersiap-siap untuk sebuah pukulan di perut setelah ini.

Setelah memarkir kudanya di kandang kuda, dia segera lari ke kamar Rukia. Dia menaiki tangga dan membuka pintu kayu satu per satu. Dengan hati-hati, dia membuka pintu kamar Rukia dan menyebut namanya. Dengan sekali intip, Ichigo tahu pemilik kamar itu tak ada di dalam. Ichigo menggeram dengan jengkel dan kembali ke bawah. Kemana gadis itu? Masa sih masih ada di taman?

Ichigo lari ke koridor luar dan dia menemukan Rukia tertidur di lantai kayu—dengan furisode berbeda. Kali ini, dia menggunakan furisode berwarna merah tapi dia tetap membiarkan rambutnya tergerai. Ichigo berlutut dan bersimpuh di dekatnya untuk mempelajari wajahnya saat dia sedang tidur. Rukia nampak sangat cantik saat sedang tertidur. Begitu damai dan sangat mempesona. Bulu matanya yang panjang-panjang akan bergerak-gerak saat dia bermimpi dan alisnya akan mengkerut jika sedang gelisah. Ichigo tersenyum. Dia tak pernah melihat gadis secantik ini sebelumnya. Rukia pasti terus menunggu kedatangan Ichigo disini—dia menepati janjinya. Dia janji untuk menunggunya kembali, dan dia sudah melakukannya. Ichigo menemukan hal lain dari Rukia—dia setia. Walaupun Ichigo mengira dia pasti akan mengikari janjinya, Rukia tetap setia. Ichigo menatap gadis itu. Anak ini...

Tiba-tiba Rukia mengulet dan mengubah posisi tidurnya. Ichigo lega karena dia tak membuka mata. Dengan hati-hati, dia mengambil Rukia dan meletakkan kepalanya di dadanya. Dengan lembut, dia mengangkat kakinya dan menopang kepalanya dan membawanya ke kamarnya. Dia berjalan pelan-pelan dan hati-hati agar tak mengganggu tidurnya. Dia tak mau Rukia terbangun saat berada di pelukannya. Kalau begitu, dia akan mudah dipukul, atau ditendang, atau... ah, Ichigo tak mau memikirkannya—apalagi saat merasakan berat dan hangat tubuh Rukia di dada dan kedua lengannya, juga merasakan cara Rukia bernapas. Dia membuka pintu kamar Rukia dengan bahunya dan pintunya mengeluarkan bunyi berderit pelan. Dengan hati-hati dan lembut, Ichigo meletakkan Rukia di atas kasurnya yang berderak ketika menerima beban tubuhnya. Rukia mengulet dan menggumam tak jelas, tapi dia tetap tak membuka matanya.

Dengan cahaya bulan dari balkon yang menyinari wajahnya, Rukia nampak seperti bidadari yang tertidur. Tiba-tiba Ichigo punya keinginan untuk menggambar wajah itu—wajah Rukia yang sedang tertidur. Merasakan wajahnya yang tahu-tahu terasa panas, dia cepat-cepat mengambil kertas dari tas selempangnya yang selalu dia bawa-bawa dan pensil yang sudah diruncingkan dari awal. Dengan hanya cahaya bulan sebagai penerangan, dia menggoreskan pensilnya dan menghembuskan nafas pada kertas tua berwarna kekuningan itu.


Hangat. Itu yang pertama kali dirasakan oleh Rukia. Hangat, dan nyaman. Aneh. Bukankah seingatnya dia masih duduk di lantai koridor luar untuk menunggu Ichigo pulang? Si brengsek itu tak pulang-pulang. Tapi entah kenapa, dalam hatinya tetap ada rasa percaya pada Ichigo dan menyuruhnya untuk menunggu. Dia jarang mendengarkan kata hatinya, jadi dia memutuskan, untuk sekali ini, dia akan mendengarkannya. Maka dia duduk di koridor dan menunggu sambil mendengarkan bunyi air dan bunyi angin. Dia tak tahu sudah berapa lama dia menunggu. Dia tak tahu apakah ini mimpi atau bukan. Dia juga tak merasakan angin malam yang dingin menina-bobokannya. Dia hanya merasakan dingin lantai kayu. Tapi kali ini hangat. Dia ada dimana?

Rukia membuka mata. Gelap. Ada cahaya bulan. Tempat ini... Ini kan kamarnya. Kenapa bisa sampai sini? Apa dia tidur sambil berjalan? Hangat. Kamarnya tidak sehangat ini. Ia melihat semburat oranye di samping tempat tidurnya dan mengetahui kalau itu adalah Ichigo. Matanya melebar begitu ia mengetahuinya. Ichigo tertidur dengan tubuh bagian atas di atas kasur dan kakinya tergantung di pinggir tempat tidur. Dia menggenggam sesuatu. Rukia duduk untuk melihat lebih jelas lagi karena matanya mengantuk. Dia mengambil benda yang digenggam Ichigo, dan dia mengetahui kalau dia sedang menggenggam pensil dan kertas. Dia mengambil kertas itu dan melihatnya. Matanya membulat sempurna dan wajahnya berubah jadi merah ketika mengetahui bahwa dirinyalah yang ada di atas kertas itu. Wajahnya yang sedang tertidur. Dari sudut gambarnya, dia tahu kalau Ichigo pasti duduk di atas tempat tidur dan menggambarnya. Goresan pensilnya masih baru, berarti dia baru saja menggambar ini dan baru saja selesai. Wajahnya terlihat begitu nyata dalam kertas itu. Dia bisa melihat bulu matanya yang panjang-panjang dan tiap helai rambut panjangnya yang mengkilau terkena sinar dengan begitu detail. Dia bisa melihat setiap goresan bibirnya dan setiap helai rambut hitamnya. Dia bahkan menggambar kimononya yang berantakan dengan begitu nyata—nampak betul-betul seperti kain. Tapi yang digambarnya hanya bagian leher dan bahu dan yang lainnya memudar karena wajahnya adalah fokus utama dalam gambar itu. Di bagian paling bawah gambar nampak tanda tangan Ichigo yang nampak seperti coret-coretan—disertai dengan sebuah nama dengan huruf katakana yang nampak familiar di sebelahnya; 'Rukia'.

Rukia memerah dan menatap Ichigo yang tertidur di kasurnya. Apa dia sedetail itu mengamatinya, sehingga bisa menggambar tiap detail dari wajahnya? Apa dia selalu mengamatinya? Yang pasti tak sesering dia mengamatinya. Rukia mendesah dan memutuskan untuk bertanya besok. Sekalian untuk menghajarnya karena tak muncul dari tadi dan memutuskan untuk muncul ketika dia sudah tidur.

Rukia mendekat untuk melihat wajah Ichigo. Dia nampak imut saat sedang tertidur. Matanya tertutup, mulutnya sedikit terbuka, dan wajahnya nampak damai. Dia nampak seperti anak kecil. Rukia menahan tawanya dan menyelimuti sebagian tubuhnya dengan selimutnya. Dia pasti ada disini semalaman untuk menggambar... itu. Apakah hanya untuk menggambar itu atau untuk meminta maaf? Rukia tak tahu. Tapi dia akan mencari tahu besok.

Tapi harus diakuinya, gambar ini bagus. Dia harus memujinya besok. Rukia tersenyum sekali lagi melihat dirinya sendiri yang tertidur di atas kertas itu dan mengembalikannya di tangan Ichigo yang sedang tertidur. Kantuk mulai datang lagi, dan cukup mudah untuk kembali tertidur. Dia cukup membaringkan kepalanya kembali ke atas bantalnya dan sekejab kemudian dia terbang ke dreamland.

Hal terakhir yang dilihatnya sebelum ia benar-benar tertidur, adalah Ichigo yang nampak sedang menggambar dirinya di atas kasur...


Seorang pria dengan kerudung hitam memasuki wilayah elite. Malam itu hujan, dan air hujan membasahi tubuhnya dan jubah yang dipakainya. Dengan langkah panjang, dia memasuki wilayah tersebut dan para penjaga yang berjaga di depan pintu membukakan pintu untuknya. "Tuan Minamoto Yoshimaru-sama sudah menunggu anda." Kata salah satu dari mereka. Orang berkerudung itu tak menjawab, tapi dia masuk ke pintu yang dibuka.

Begitu melangkah ke dalam, semuanya langsung berubah menjadi gelap dan hitam. Dengan jubah yang basah, orang itu melangkah masuk ke dalam dan mencari orang yang dimaksud. Dia melangkah menuju ruangan yang nampaknya dikenalnya dengan baik. Di depan sebuah pintu, dia membukanya dengan satu dorongan. Di hadapannya nampak seseorang yang sedang duduk dengan punggung menghadap ke pintu. Dia sedang duduk menekuni sesuatu di mejanya yang berada berlawanan dengan pintu. Seorang pria, nampaknya. Pria berkerudung itu mendekat beberapa langkah sambil memastikan bahwa pria di depan meja itu mengetahui keberadaannya.

Kemudian pria berambut keemasan panjang itu mendongak dari mejanya tanpa menoleh ke belakang. "Apa kau membawa kabar baik?" tanyanya.

Pria berkerudung itu membuka kerudungnya. Dia adalah seorang pria berambut hitam dan bermata biru. Dia menyelipkan tangan ke yukatanya dan melemparkan sebuah perkamen ke meja pria itu. "Sesuai yang kau minta, Minamoto." Katanya kasar. "Sekarang aku ingin bayaranku."

Pria yang dipanggil Minamoto itu mengambil perkamen yang dilempar ke mejanya itu dan mengamatinya sejenak. "Benar." Katanya pelan. Kemudian dia meraih sebuah kantung yang berbunyi bergemerincing dan melemparkannya ke pria itu yang langsung menangkapnya dengan sigap. "Itu bayaranmu. Sesuai janjiku, dua puluh keping emas." Pria itu membuka kantung untuk memeriksa. Setelah yakin isinya sesuai keinginannya, dia memasukkan kantung itu ke balik yukatanya, kembali menutup wajahnya dengan kerudungnya dan bersiap untuk pergi dari situ.

Setelah pria itu pergi, pria bernama Minamoto itu meneliti perkamen yang ada di tangannya. Kemudian dia tersenyum. "Dia bisa menjadi daya tempur yang besar bagi Kerajaan." Gumamnya. "Bukankah begitu menurutmu, Mirai?" tanyanya pada seseorang di depannya.

Seorang perempuan menjawab dengan malas, "untuk mengalahkan Fujiwara atau Taira, maksudmu?" tanyanya balik.

Pria itu tersenyum, "tentu saja keduanya." Katanya. Kemudian dia melemparkan perkamen itu pada perempuan tersebut.

Perempuan itu mengambilnya dan mempelajarinya sebentar. "Bukankah dia ksatria itu?" tanyanya. "Jadi maksudmu selama ini adalah dia? Kenapa harus dia dari semua orang?" tanyanya tak percaya. "Kurosaki Ichigo itu bukan orang sembarangan. Kalau kau mau memperalatnya untuk bersekutu dengan kita, itu bukan perkara mudah." Perempuan itu melempar perkamen itu kembali pada pria itu.

Pria itu menangkapnya sambil tersenyum, "mungkin sulit, tapi bukan berarti mustahil, bukan?" tanyanya. "Kita pasti bisa mendapatkannya, Kurosaki Ichigo!"


Author's Note:

Hm, udah lebih dari sepuluh halaman word. Kemajuan, kemajuan. (manggut2 sambil megangin dagu ala Yama-jii). Udah ada Minamoto pula! Yippie! Tinggal munculin si Taira nih! Yoossshh!

Minamoto dan Taira adalah dua keluarga bangsawan di Jepang yang memiliki kekuatan militer paling besar. Kelompok militer Minamoto dinamai Genji, dan kelompok militer Taira dinamai Heishi. Nantinya, mereka akan berperang setelah kekuatan keluarga Fujiwara melemah. Perang tersebut diprakarsai oleh Jouko dan Tennou yang masing2 bersekutu dengan Taira dan Minamoto. Peperangan tersebut dikenal dengan Peperangan Hougen dan Heiji; zamannya dinamai zaman Genpei.

Saya melanjutkan cerita ini sampek jam sebelas malem (ngelirik jam meja). Gila, ngantuk banget gue. (nguap) belom lagi tuh tugas2 akuntansi masih bejibun di meja belajar saya (ngelirik meja belajar). Mungkin gak seberapa karena aku liat banyak author yang ngebela2in nglanjutin fic mereka sampek jam tiga pagi tanpa tidur (fyuhh~). Jadi... wajar dong kalau kita harus hargain mereka? (nih mau nglanjutin pidato tempo hari ceritanya?)

Aku agak kesulitan menciptakan suasana romantis di antara Ichiruki, karena waktunya (di dalam cerita fic ini tentunya) terbatas. Selain itu karena saya mencoba untuk bikin mereka tetap in-character; jadi Ichigo tetap jadi the cool-arrogant-hard-headed guy in love, dan Rukia tetap jadi the beautiful-modest-hard-headed-girl in love. Jadi saya mencoba untuk gak melebay2kan suasana romansa walaupun pikiran saya ngelantur sampek ke tempat tidur (mesum nih ceritanya?) (bukan, ngantuk gue!) (hayoo, yang mesum angkat tangan. Kikikik^^).

Daripada berlama-lama, lebih baik saya sudahi, karena saya juga ngantuk bukan main. Hoooaaaaaaahhhm. Okeh, met tidur all. Jangan lupa review ya. Zzzzzz...~ (u.u)