09. The Wrong Side of Truth


"There are days to sow the seeds, there are days to give them water. There are days to stop, there are days to look for answers. Someday I'll smile, smile gently. It's just now, the road in front of my eyes, slowly continues." Atari Sousuke—Tane wo Maku Hibii

"Selamat pagi, saya anggota baru divisi anda, Kurosaki-sama. Nama saya Aizen Sousuke, salam kenal."

Sapa hormat nan formal itu mengagetkan Ichigo yang sedang lari pagi di kaki bukit. Orang itu membungkuk dalam-dalam sementara Ichigo masih terengah-engah karena dia baru saja lari empat puluh meter dan dengan mata lebar mengamati orang itu yang masih membungkuk. Dia baru saja memanggilnya –sama. Kurosaki-sama. Ichigo menelan ludah dengan susah dan dengan ragu menimbang-nimbang, apakah dirinya pantas dipanggil dengan embel-embel –sama dibelakang namanya.

Dengan grogi, Ichigo menggaruk lehernya—tak terbiasa dengan sapaan formal yang tak biasanya dia terima. "Ah," dia mendesah. "Tolong jangan membungkuk begitu. Sapa aku biasa saja." Katanya dengan susah. "Aku dulu orang susah, sama seperti yang lainnya. Jadi... tolong jangan panggil aku –sama." Katanya.

Aizen langsung menegakkan tubuhnya. "Tentu saja, maafkan saya." Katanya. "Anu, saya dengar, anda baru saja jadi ksatria, ya?" tanyanya.

Ichigo tersenyum, "ah, ya. Itu benar." Katanya. "Kau mau ikut lari bersamaku? Aku selalu latihan seperti ini setiap pagi. Sekalian, untuk saling mengenal." Lanjut Ichigo.

Aizen mengangguk, "baiklah." Lalu dia menempatkan diri di samping Ichigo. Ichigo menatapnya dengan tatapan yang kurang lebih berarti, 'seberapa jauh kau berlari?'. "Aku juga sering latihan setiap pagi." Lanjut Aizen.

"Baiklah, kalau begitu tak ada masalah." Ichigo melanjutkan berlari dan kali ini dengan Aizen di sampingnya.

"Anu, boleh saya bertanya?" tanya Aizen.

"Bukankah tadi kau sudah bertanya? Itu kan artinya boleh." Jawab Ichigo asal.

"Kurosaki-san, bagaimana anda bisa terpilih jadi ksatria?" tanya Aizen.

Ichigo terdiam. Apa dia tidak melihat sayembara itu? Bukannya mau sombong, tapi bukankah banyak orang yang melihat sayembara itu—dan diselenggarakan out-door pula. Dia juga menerima banyak surat penggemar yang menyatakan kegilaan mereka padanya atau cuma sekadar menyatakan selamat. Bukankah seharusnya dia juga melihatnya? Kecuali kalau dia memang tak pernah keluar rumah. Tapi bahkan Rukia pun melihatnya ketika dia bertarung dengan Kenpachi. Kenapa orang ini tak mengenalnya?

"Kau benar-benar tak tahu?" Ichigo balik bertanya.

"Bukan begitu. Maksudku, aku tahu kau terpilih setelah memenangkan sayembara yang sulit itu. Apa kau punya rahasia tertentu untuk menang?" tanya Aizen.

"Tidak. Aku tidak punya rahasia sama sekali." Kata Ichigo.

"Lalu bagaimana anda bisa menang?" tanyanya.

"Entahlah." Ichigo menatap langit subuh dan membayangkan wajah Rukia. "Takdir, mungkin?" tanyanya lebih kepada diri sendiri.

Aizen terdiam dan menatap Ichigo. "Anda percaya pada takdir?"

Ichigo mengerutkan alisnya. "Entahlah."

"Oh, ya. Ukitake-sama menceritakan hubungan anda dengan Hime-sama." Kata Aizen. "Seberapa dekat anda dengan Hime-sama?" tanyanya.

"Dia bilang begitu?" tanyanya. Ichigo membuat catatan mental untuk menginterogasi Ukitake-sensei nanti. "Yah, aku dan dia cukup dekat. Bisa dibilang teman." Kata Ichigo sambil menggaruk kepalanya. Dia mencoba menghiraukan rasa panas yang tahu-tahu merayap ke wajahnya.

"Kata Kyouraku-sama, kalian pernah berciuman."

"Omong kosong darimana lagi itu?" Ichigo hampir berteriak mendengarnya dan dia tidak peduli lagi dengan wajahnya yang memerah. "Kami bukan apa-apa kecuali teman! Dia juga tak menganggapku lebih dari teman. Kami cuma kadang-kadang sering pergi ke Rukon karena dia ingin pergi—tapi kami tak pernah melakukan sesuatu yang tidak senonoh seperti berciuman!" kata Ichigo bertubi-tubi.

"Lagipula, aku adalah ksatria dan tugas utama yang diberikan padaku adalah melindungi Rukia!" Aizen mengangkat kepala dan menatap Ichigo. "Aku sudah bersumpah, aku akan menjaganya—tubuh dan hatinya. Aku takkan membiarkannya terluka—baik tubuh maupun hatinya." Wajah Rukia yang sedang tersenyum dengan mata berbinar-binar terbayang di benak Ichigo. Otaknya memutar ulang keadaan saat mereka berdua menari dan saat Rukia mendesah di bahunya dengan bahagia. Benar. Itulah tujuannya. Untuk membuatnya tersenyum. Untuk menjaga agar senyum itu selalu berada di wajah cantiknya.

"Kau mencintainya, ya?" tanya Aizen. Ichigo terdiam. Untuk pertanyaan yang satu itu, dia tak tahu harus menjawab apa. "Tujuan orang untuk melindungi seseorang adalah beragam. Tapi biasanya mereka melindungi orang tersebut untuk kepentingan mereka sendiri. Misalnya, dalam kasusmu, kau melindungi Hime-sama karena itu adalah kepentingan pekerjaanmu. Atau kalau memang tulus ingin melindunginya, adalah karena dia membuatmu bahagia. Apakah aku benar?"

"Aizen-san," nada dalam suara Ichigo membuat Aizen agak takut. "Tolong biarkan aku sendiri." Aizen melebarkan matanya. Mungkin kata-katanya tadi keterlaluan. Tapi dia tak membantah dan menghentikan larinya—membiarkan Ichigo lari sendiri ke balik bukit. Aizen mengambil sebuah catatan yang diselipkan di balik yukatanya dan mulai menulis.

'Hari 1'

'Target pertama: Ukitake Juushirou; kuat, baik, ramah, tenang, liar. Kepribadian?'

'Hari 2'

'Target kedua: Kurosaki Ichigo; polos, menakutkan. Kemauan keras. Mudah tersinggung. Liar. Informal. Keluarga?'

'Target ketiga: Kuchiki Rukia.'

Dia melingkari nama terakhir dalam catatan itu.


"Mirai, aku punya ide." Kata Yoshimaru.

"Hn? Jangan katakan ini menyangkut Kurosaki Ichigo?" balas wanita itu malas.

"Sayangnya, iya. Suruhlah salah satu bawahanmu untuk memantau keadaan Kurosaki itu di istana." Perintah Yoshimaru tanpa menunggu jawaban dari saudarinya.

"Yoshi-chan," wanita itu memanggilnya dengan nada manja. "Aku tahu aku saudarimu, tapi aku malas menghadapi pria itu. Aku malas menghadapi pria manapun." Katanya. "Aku tak mau berurusan dengan pria lagi."

"Lalu kau anggap aku ini apa?" Yoshimaru memutar matanya. "Dan jangan panggil aku Yoshi-chan!" gerutunya.

"Pokoknya kalau aku bilang tidak mau, ya tidak mau." Tegas wanita itu.

Yoshimaru menggelengkan kepalanya. "Aku tidak menyuruhmu memantaunya; aku menyuruh orangmu memantaunya! Dan jangan mulai lagi cerita membosankanmu tentang Ichimaru Gin; aku sudah muak mendengarnya." Katanya dengan tampang bosan.

Wanita berambut hitam panjang itu berdiri dan menarik rambut keemasan Yoshimaru yang dikepang. "Jangan pernah sebut nama itu di depanku, Yoshi-chan. Hanya Kami-sama yang tahu seberapa benci aku padanya—pria ular itu. Dan kalau dia tidak memutuskanku waktu itu, aku sudah akan—" wanita itu terdiam sejenak dan melepaskan adiknya.

Yoshimaru terdiam. "Mimi, aku sudah bilang supaya jangan memikirkannya lagi, kan? Itu salahmu sendiri masih jadian dengan pria itu waktu itu bilang putuskan saja." Katanya. Mirai tak menjawab, dan Yoshimaru mendesah. "Baiklah, maafkan aku. Aku takkan menyangkut-pautkanmu dengan pria itu lagi. Tapi setidaknya, lakukanlah yang aku minta." Katanya.

Mirai menatap adiknya yang berambut kepang panjang itu dan mendesah. "Baiklah, kau menang. Aku akan menyuruh Yoruichi untuk mengawasinya. Dia kenal dengan kenalan Kurosaki—jadi pastinya dia tahu bagaimana Kurosaki itu. Dia pasti akan lebih mudah mengawasinya. Belum lagi, saudaranya akan dinikahkan dengan Kuchiki, jadi dia pasti tahu banyak." Kemudian dia melotot pada adiknya, "dan jangan panggil aku Mimi, Yoshin!"

Wajah Yoshimaru memerah mendengar nama kecilnya disebut. "Namaku Yoshimaru!" serunya.


Rukia mengangkat kepala ketika mendengar ketukan lembut di pintu kamarnya. "Masuklah."

"Rukia?"

Mendengar suara yang sudah tak asing lagi itu, Rukia menoleh sambil tersenyum. "Ichigo! Masuklah! Aku sedang membuat zuihitsu. Apa yang kau lakukan? Sudah selesai latihan?" tanyanya bertubi-tubi.

Ichigo menggelengkan kepala sambil tersenyum. Semenjak dia mengajak Rukia pergi ke Rukon, gadis ini selalu terlihat riang dan selalu tersenyum bila melihatnya. Yang paling parah, senyum gadis ini selalu membuat jantungnya berdetak tak beraturan dan membuatnya berdiri terpaku dengan gugup tanpa bisa berkata apa-apa seperti orang bodoh. "Aku sudah selesai latihan dari tadi, Rukia. Kau sedang membuat apa?"

"Zuihitsu." Kata Rukia. "Aku masih bingung dengan cara membuatnya. Kau bisa bantu aku, Ichigo?" tanyanya.

"Kau sedang membuat zuihitsu atau sedang menggambar kelinci?" sindir Ichigo.

Wajah Rukia memerah, "E-enak saja! Aku sedang membuat zuihitsu! Lihat!" Rukia mendorong sebuah kertas yang masih basah dengan tinta ke wajah Ichigo hingga wajah Ichigo penuh tinta. Ichigo yang tidak tahu hanya bengong ketika melihat gadis itu tertawa.

"Eh?" Ichigo menyentuh wajahnya dan di jarinya terlihat semburat tinta hitam. Dia melirik kertas zuihitsu Rukia yang sekarang tintanya celemotan. Sial, pikir Ichigo. Dia pikir lucu, hah? Wajahnya memerah melihat Rukia yang tertawa geli sekali sampai terbungkuk-bungkuk. "Heh! Ini semua gara-gara kau, pendek! Dimana air?" dia berdiri dan mencoba menghiraukan rasa panas yang naik ke wajahnya.

Rukia menghapus airmatanya yang keluar karena terlalu keras tertawa. Lalu dia mengambil sebuah baskom berisi air hangat dan mencelupkan lengan bajunya ke air. Ichigo terpana melihatnya. Ichigo tak bisa bergerak ketika Rukia mendekat dan mengusapkan lengan bajunya yang basah ke wajahnya dengan lembut. Ichigo mencoba melihat ke arah lain, tapi mata biru Rukia memerangkapnya. Dia tak bisa bergerak, tak bisa berkata-kata, dia hanya terpaku di tempatnya dan hanya bisa menatap mata biru Rukia yang dalam dan misterius.

Rukia memeras kain lengan bajunya dan mencelupkannya lagi ke dalam air hangat dan mengusapkannya sekali lagi ke wajah Ichigo—ke pipinya, ke hidungnya, ke dahinya... bibirnya. Syaraf kontrol Ichigo putus ketika Rukia menyentuh bibirnya—walau dengan menggunakan kain—dan dia menyentuh pergelangan tangan Rukia yang menyentuhnya. Rukia yang kaget tidak bisa berkata-kata dan menatapnya dengan bingung. Ichigo menariknya ke arahnya dan membungkuk, makin lama makin dekat dengannya. Rukia tahu wajahnya memerah ketika dia bisa merasakan napasnya berhembus di pipinya dan merasakan panas wajah Ichigo. "Jangan pernah lakukan itu lagi, Rukia." Kata Ichigo pelan di telinganya. Rukia tak tahu apa yang dia maksud dengan 'itu'; apakah maksudnya untuk tidak mencoreng mukanya lagi, atau untuk tidak menyentuh wajahnya lagi. Dia tak bisa berpikir, apalagi saat dia merasakan napasnya yang hangat di telinganya yang membuatnya geli dan tanpa disadarinya, Rukia mengerang pelan. Suara erangan Rukia membuat Ichigo semakin mendekat dan dekat lagi. Rukia mencoba mundur dari Ichigo, tapi semakin dia mundur, Ichigo akan semakin mendekat. Akhirnya tangan Ichigo mendapatkan pergelangan tangan Rukia dan dia mendorongnya ke lantai kayu.

Sebelum Rukia mengetahuinya, dia sudah berada di bawah Ichigo dengan Ichigo yang memerangkapnya di antara lengannya, lantai kayu dan dadanya yang bidang. Dia menatapnya dengan pandangan yang tak pernah dilihatnya sebelumnya. Dalam mata cokelat itu terdapat rasa bersalah, rasa lapar dan rasa ingin yang dalam. Rukia terperanjat ketika melihat Ichigo membungkuk padanya dan semakin dekat ke wajahnya. Rukia tetap tak melepaskan pandangan dari matanya dan hidung Ichigo menyentuh pipinya. "Rukia..." bisik Ichigo di telinganya. Rukia memejamkan matanya ketika merasakan napas panas Ichigo menggelitik telinganya, tak tahu apa yang akan dilakukan Ichigo padanya. "Aku..." Rukia menunggu kata-kata selanjutnya. "Rukia, aku ingin..." Rukia tetap memejamkan matanya—menunggu.

"..."

Kalimat itu tak pernah selesai.

Rukia membuka mata, dan melihat Ichigo sudah tak ada di atasnya lagi. Rukia duduk dan melihat Ichigo duduk mengarah ke balkon—membelakanginya. Rukia menarik napas lega karena Ichigo tak melakukan apa-apa, tapi ada sebagian dari hatinya yang kecewa.

Dengan hati-hati, Rukia memanggil namanya. "Ichigo?"

Ichigo menoleh sedikit padanya. Lalu dia tersenyum pahit—yang membuat Rukia merasa bersalah. "Maaf." Kata Ichigo lirih. Lalu dia menggosok kepala oranyenya dengan gagu. "Harusnya aku tak melakukan itu. Aku tadi... di luar kendali." Kata Ichigo dengan semburat pink di pipinya.

Rukia tersenyum menenangkan. "Dasar bodoh. Kalau kau lakukan itu lagi, ayahku akan membunuhmu, kau tahu." Katanya ringan. "Sekarang cepat bantu aku mengerjakan zuihitsu ini—kalau tidak, aku akan mengurangi gajimu." Kata Rukia dengan tangan dilipat di dada dan hidung terangkat yang membuat Ichigo jadi geli dan lebih tenang. Rukia berkata seperti itu dengan enteng, seolah tak ada yang terjadi. Baiklah. Untuk sementara, mereka akan bermain seperti ini dan berpura-pura bahwa itu tak pernah terjadi. Sialnya, bagi Kurosaki Ichigo, hal itu takkan pernah dilupakannya.


"Ya, ya, aku tahu. Aku disuruh mengawasi saja, kan?" tanya Yoruichi. "Itu tugas yang terlalu enteng—membuatku malas."

Yoshimaru memegangi kepalanya sambil geleng-geleng kepala. "Justru karena itu, aku mengandalkanmu, Yoruichi-san. Aku dan Mimi." Katanya. Kemudian kepalanya dihadiahi sebuah getokan dari Mirai yang berada disebelahnya karena memanggilnya 'Mimi'. "Kenalanmu kan kenal dengan Kurosaki, menurutku itu akan jadi tugas yang terlalu gampang bagimu, kan? Dan, tolong jangan beritahu dia kalau kami mengawasinya. Kami hanya melihatnya sebagai orang yang penting."

Yoruichi menguap. "Ichigo itu orang yang kuat. Dia takkan membutuhkanku untuk melindunginya setiap waktu." Katanya. "Lagipula, dia itu orangnya terbuka—kenapa bukan kau saja yang mendekatinya? Kau bisa pakai poker face andalanmu, Yoshimaru." Katanya dengan malas.

Yoshimaru mendesah. "Walaupun dia kuat, tapi dia juga punya otak, dia takkan percaya padaku—walaupun aku bermaksud baik padanya."

"Yoruichi," kali ini Mirai yang bicara. "Aku juga sebenarnya malas—tapi ini harus dilakukan. Kau kan tahu sendiri lewat mata-matamu, bahwa Fujiwara dan Taira itu bersekongkol—dan Kurosaki Ichigo menghalangi mereka. Kalau orang itu dibunuh, kerajaan ini bisa hancur dengan mudah. Satu-satunya batu penghalang antara Fujiwara dan Kerajaan Wasuru, hanyalah Kurosaki Ichigo dan sang putri." Yoruichi terdiam. Mirai melanjutkan, "Apalagi kami dengar suruhan dari Fujiwara sudah datang ke istana—untuk memata-matainya. Kita tak boleh ambil resiko." Katanya.

Yoruichi nampak berpikir sebentar. "Baiklah." Katanya kemudian. "Aku akan mengawasi mereka dan melindunginya bila mereka memang benar-benar dalam keadaan bahaya. Meski aku yakin Ichigo pasti bisa menanganinya."

"Bukankah manusia pasti memiliki batas, Yoruichi-san? Seberapapun kuatnya Kurosaki Ichigo, pasti ada batas-batas tertentu yang tak bisa ditanganinya." kata Yoshimaru. Mendengar itu, Yoruichi menguap lagi.


"Ichigo, bolehkah kita ke Rukon lagi?" tanya Rukia.

"Tapi ini kan sudah hampir malam." Kata Ichigo—ingin menolak. "Rukia, kamu kan tahu kalau malam-malam di Rukon itu berbahaya, tidak ada cahaya pula. Walaupun aku bersamamu, tidak ada jaminan kalau kita akan bisa pulang dengan selamat."

Rukia berpikir sebentar dan mengakui bahwa dia benar. "Kalau begitu jangan ke Rukon, bagaimana kalau ke bukit itu lagi?" tanya Rukia.

"Bukit itu kan melewati hutan. Kamu mau melewati hutan malam-malam begini?" Ichigo balik bertanya. Rukia yang membayangkannya pun jadi bergidik sendiri. "Bukan cuma binatang aneh yang merayap keluar pada malam hari di hutan, Rukia. Bahkan perampok pun ada di hutan. Mereka bisa membunuh kita dengan cepat kalau kau mau kita kesana sekarang." Ichigo menatap Rukia yang bahunya merosot karena kecewa. Ichigo mendesah lalu menepuk punggungnya. "Hei, jangan kecewa begitu, besok pagi, aku janji kita akan makan lagi tempat ramen itu. Atau pergi ke pasar dan membeli permen, atau hiasan rambut lagi. Atau kau mau pergi ke bukit lagi. Atau kau mau turun ke sawah. Kemanapun, terserah kau—aku akan membawamu kesana."

Rukia mendongak menatap Ichigo sambil tersenyum dengan mata berbinar. Melihat senyum itu, jantung Ichigo melewatkan satu detak, kemudian langsung berdetak tak keruan. Tiba-tiba Rukia mengangkat jari kelingkingnya ke hadapannya yang membuat Ichigo kaget. "Janji?" tanya Rukia dengan alis mengkerut. Ichigo tersenyum sambil geleng-geleng kepala dan dia menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Rukia yang jauh lebih kecil.

"Jarimu kecil ya, pendek." Komentar Ichigo sambil tersenyum.

"Biarin, bodoh." Balas Rukia—dengan tersenyum pula.

Keduanya saling menatap selama beberapa saat, kemudian tertawa. Menakjubkan bagaimana mereka dapat saling berkomunikasi tanpa bicara. 'Jarimu kecil ya, pendek' artinya, 'aku janji'. 'Biarin, bodoh' artinya 'Terima kasih'.

Rukia akhirnya memamerkan kepalan tangannya. "Pokoknya kalau besok kau tidak mengajakku pergi, aku akan—"

"Berapa kali aku harus bilang kalau aku akan membawamu kemanapun kau mau, pendek?" kata Ichigo iritasi.

"Dan jangan panggil aku 'pendek'! Aku memiliki tinggi yang cukup untuk seorang—"

"Kurcaci? Ya, aku tahu." Dan Ichigo mendapatkan sebuah pukulan di kepalanya.

"Untuk seorang gadis Jepang berumur tujuh belas tahun, Ichigo!" lanjut Rukia.

"Wah, wah, wah. Ternyata isunya benar-benar tepat!" sebuah suara feminin melayang dari belakang. Rukia memerah ketika mengetahui itu suara siapa. Mereka berdua menengok ke belakang dan melihat seorang gadis blonde dengan (ahem) aset yang besar, dan seorang gadis berambut hitam kecil yang pemalu. Siapa lagi kalau bukan Rangiku dan Momo? "Lihat, lihat, Momo-chan! Rukia ternyata memang pacaran dengan Kurosaki-san!" kata Ran sambil berjingkrak.

"Benar! Apakah benar kalian benar-benar berciuman?" tanya Momo dengan polosnya.

Keduanya langsung memerah ketika membayangkan diri mereka berciuman dan kejadian tadi pagi langsung terputar ulang di otak mereka—Ichigo berada di atas Rukia yang terbaring telentang di lantai. "Kami tidak pernah berciuman!" seru mereka berdua bersamaan. Kemudian mereka saling pandang selama beberapa detik dan langsung buang muka dengan muka merah. Momo dan Ran yang melihat pemandangan menarik di depan mereka hanya tertawa saja.

"Hei, biar kutanya kalian, siapa yang bilang kami pernah berciuman?" tanya Ichigo dengan muka masih merah.

Ran nampak berpikir. "Hm, siapa ya? Aku tahu dari Nemu, yang tahu dari Hisagi-san, yang tahu dari Nanao-chan, yang tahu dari Kyouraku-sama." Katanya.

"Dan dia bilang kapan dia melihat aku dan Rukia berciuman, hah?" tanya Ichigo lagi.

Ran mengangkat bahu. "Dia tak bilang. Dia hanya bilang kalau kalian berciuman di taman." Katanya.

Muka keduanya memerah tapi tentu saja kemudian mereka tahu itu cuma bohong. Mereka tak pernah berciuman di taman—lagipula kejadian itu tadi terjadi di dalam kamar Rukia, bukan di taman. "Dengar, ya. Kami tak pernah berciuman—apalagi di taman! Dimana-mana kalau mau berciuman, harusnya di tempat sepi, dimana tidak ada orang yang lihat!" kata Ichigo mencari penyakit.

Mendengar itu, Ran tersenyum mesum. "Jangan-jangan, kalian berdua sudah melakukan itu saat malam hari, saat semua orang sedang tidur, dan saat tak ada orang yang bisa melihat atau mendengar kalian?" katanya dengan wajah merah.

Mendengar itu, wajah Ichigo memerah hebat—mengetahui kesalahan argumennya tadi. Harusnya dia tidak bilang begitu. Sedangkan Rukia dan Momo yang masih polos dan naif hanya menelengkan kepala dengan bingung karena tak tahu apa yang dibicarakan oleh Ran. "Ran, bodoh kau!" seru Ichigo, sementara Ran makin membungkam mulutnya untuk menahan tawa melihat wajah Ichigo yang merah. "Mana mungkin aku akan—!"

"Ada apa ini ribut-ribut?" sebuah suara yang terdengar iritasi melayang dari belakang mereka dan mereka melihat Hitsugaya. "Matsumoto, sudah berapa kali kubilang untuk tidak mengganggu pasangan serius, hah?" katanya.

Ichigo melebarkan matanya dengan muka merah. Bahkan Hitsugaya pun percaya pada isu tentang mereka berdua pacaran? Siapa yang menyebarkan isu tak bertanggung jawab ini? Ketika menemukan orangnya, Ichigo sudah tak sabar ingin segera mencekiknya dan menarik segala akibat dari isu itu kembali. Ichigo menatap Rukia yang wajahnya nampak pink. Ketika dia mengetahui Ichigo menatapnya, Rukia segera membuang muka dengan malu-malu. Ichigo tersenyum melihatnya dan mengakui bahwa dia senang melihat wajah Rukia ketika malu-malu—dia terlihat sangat imut.

"Matsumoto, Hinamori, cepat kembali bekerja!" seru Hitsugaya tak sabar.

Ran menjerit takut dan lari kembali ke dalam. Sementara, Hinamori hanya berkedip melihat temannya yang begitu ketakutan terhadap kepala butler mereka. Benar, Hitsugaya adalah kepala butler dan Momo dan Ran merupakan bawahannya. "Shiro-chan, tidak perlu marah-marah begitu." Kata Hinamori dengan polos sambil menyentuh pundak Hitsugaya sehingga es yang menggelegar darinya kembali meleleh di bawah sentuhan Hinamori. Saat ini, Hinamori masih tidak tahu bahwa sentuhannya dapat meluluhkan hati es Hitsugaya. "Ayo, temani aku ke dapur." Lanjut Hinamori sambil tersenyum polos, hingga Hitsugaya yang biasanya nampak dingin, memerah.

"Eh, ya. Terserah kaulah." Kata Hitsugaya sambil memalingkan mukanya yang memerah.

Ichigo dan Rukia terkikik melihat pemandangan tersebut—Hitsugaya yang dingin memerah malu dan Hinamori yang naif tersenyum gembira. Setelah pasangan tersebut masuk kembali ke dalam, tinggallah Ichigo dan Rukia di koridor. Angin malam yang dingin membuat Rukia bergidik. Ichigo yang mengetahui hal itu langsung melepas haorinya dan menyampirkannya ke bahu Rukia yang gemetar kedinginan. "Kau baik-baik saja?" tanya Ichigo.

Rukia yang tadinya terkejut Ichigo akan memberi haorinya padanya, mengangguk sambil merapatkan haori yang wangi khas Ichigo itu lebih dekat lagi. "Yeah, aku baik-baik saja." Jawabnya lirih—masih memikirkan kejadian tadi pagi. Walaupun dia bilang untuk tidak menganggap hal itu terjadi, sesungguhnya, Rukia tak bisa melupakannya.

"Malam ini dingin, ya." Kata Ichigo sambil menatap langit yang berbintang. "Padahal sudah bulan Juni." Lanjutnya.

Rukia memandang Ichigo yang memandang ke langit. Di bawah sinar bulan keperakan, wajahnya nampak mengkilau. Rukia langsung memalingkan wajahnya dan berpura-pura tidak melihat. "Ya, masih awal musim semi. Mungkin minggu depan sudah agak lebih hangat." Kata Rukia sambil melamun.

Ichigo menoleh ke arah Rukia yang menatapnya balik. Ichigo tersenyum dan menggosok rambut Rukia. Dia tersenyum lagi ketika melihat wajah Rukia memerah. Dia senang melihat wajah merah yang disebabkan olehnya itu. Mereka kembali saling pandang dan tertawa-tawa. Ichigo menyentuh punggung Rukia dan mendorongnya dengan lembut ke depan. "Lebih baik kau tidur sekarang, Rukia." Katanya lembut.

Rukia mengangkat bahu. "Kurasa begitu. Kau juga harus tidur, Ichigo." Katanya. "Terima kasih haorinya." Kata Rukia sambil mengembalikan haori hitam Ichigo. Dengan senyuman, Rukia berbalik membelakangi Ichigo dan kembali masuk ke dalam koridor dan menaiki tangga.

Ichigo menunggu hingga suara langkah Rukia tak terdengar lagi dari balik langit-langit. Kemudian dia berbalik dan mengenakan haorinya kembali. Dengan pandangan curiga, Ichigo menatap fusuma yang terletak di koridor luar. Ichigo menghela napas. "Mau sampai kapan kamu sembunyi disitu?" tanyanya dengan keras. Pintu fusumi bergeser dan sebuah sosok melangkah keluar—memperlihatkan dirinya. "Aizen-san." Ichigo mengamati Aizen dengan tajam.

Aizen sendiri tersenyum. "Hebat, sejak kapan kau tahu aku ada disini?" tanyanya.

Ichigo mengkerutkan alisnya lebih dalam lagi. Kemudian dia menunduk dengan tenang. "Sejak kau menanyaiku hal yang aneh-aneh tadi pagi di bukit." Katanya tenang. "Aku tahu kau mengikutiku sejak saat itu."

Aizen tersenyum lebih lebar. "Hebat." Katanya.

Ichigo memandang pria itu dengan tajam. "Apa maumu?" tanyanya. "Kalau kau mau tahu, bukankah lebih baik tanya saja terang-terangan pada yang bersangkutan daripada sembunyi-sembunyi begitu?" katanya sambil melipat tangan di depan dada.

"Jadi itu sebabnya kau menyuruh Hime-sama untuk pergi duluan?" tanya Aizen.

"Untuk melindunginya darimu." Balas Ichigo tenang. "Sekarang katakan apa maumu. Kalau kau mau bertarung, kapan saja kulayani." Tangan Ichigo mulai meraih pegangan pedangnya.

Aizen mengangkat tangan untuk melindungi diri sambil tersenyum dingin, "hei, hei, sabar dulu, Kurosaki-sama. Apakah anda tidak lihat kalau saya tidak membawa senjata? Kalau saya berniat menantang anda bertarung, tentu setidaknya saya akan menyiapkan pedang." Katanya. Ichigo mengkerutkan dahinya lagi, lalu pelan-pelan menurunkan tangannya. "Anda tahu? Anda harus mengurangi kerutan di dahi anda, kalau tidak, anda bisa cepat tua." Katanya.

"Shut up." Kata Ichigo singkat. "Aku peringatkan kau; kalau kau sekali lagi bertindak mencurigakan, aku akan berurusan denganmu." Kata Ichigo mengancam.

"Kalau begitu, bagaimana kalau aku mendekati pacarmu?" tanya Aizen dengan senyum terhibur di wajahnya.

Ichigo mengkerutkan alisnya dan memandang Aizen dengan pandangan yang kurang lebih berarti, 'jangan coba-coba!'. Ichigo menggeram pelan lalu membuka mulut, "Kalau sampai dia terluka," katanya dengan tatapan tajam. "Aku akan membunuhmu." Dan dia serius. Dengan ancaman terakhir itu, Ichigo membalikkan badan dan berjalan menjauhi tempat itu.

Sepeninggal Ichigo, Aizen terdiam kemudian tersenyum. "Orang ini—Kurosaki Ichigo—adalah orang yang sangat menarik." Dia tak menyadari ada sesosok bayangan yang mengamatinya dari atas pohon sakura.


Yoruichi menarik napas lega. "Melelahkan." Katanya.

Mirai dan Yoshimaru duduk di kursi di seberang Yoruichi sementara para pelayan menuangkan teh hijau untuknya. Mirai duduk dengan tampang bosan, sementara Yoshimaru duduk dengan tampang gugup, tapi berusaha tersenyum. Yoruichi menenggak tehnya dengan kasar—walaupun masih panas. Tapi nampaknya dia baik-baik saja walaupun meminum tehnya saat masih panas.

"Jadi bagaimana Yoruichi-san?" tanya Yoshimaru sambil tersenyum sopan.

Yoruichi mendesah. "Melelahkan." Ulangnya.

Yoshimaru tersenyum gugup, "aku tahu, kau sudah bilang tadi." Katanya.

"Kalau sudah tahu, kenapa kau tanya balik?" Yoruichi tak peduli dan kembali menenggak tehnya seakan itu alkohol.

Mirai mendesah keras-keras, "Yoruichi!" katanya. "Serius, dong!"

Yoruichi mengerutkan alisnya lalu mengerucutkan bibirnya. "Iya, iya. Ah, kalian benar-benar kaku, nih." Katanya sambil melambaikan tangannya di depan wajah mereka. Yoruichi akhirnya menegakkan tubuhnya dan menyerahkan sebuah dokumen pada keduanya. "Aku menemukannya di kamar Aizen Sousuke. Nampaknya perkiraan kalian memang benar, mata-mata dari Fujiwara adalah Aizen Sousuke. Selain itu, nampaknya target mereka benar-benar adalah Kurosaki Ichigo dan Kuchiki Rukia." Katanya.

Yoshimaru membolak-balik dokumen yang diserahkan itu. Dia berhenti di satu halaman. Ada sebuah kertas yang diselipkan disitu—kertas tua berwarna kekuningan. Dengan penasaran, Yoshimaru membuka kertas tersebut. Dia melebarkan matanya ketika melihat wajah Hime-sama yang sedang tertidur di atas kertas itu. Di bagian bawah kertas itu terdapat dua buah nama; Ichigo, menggunakan huruf kanji 'ichi' dan 'go'. Ditulis dengan coret-coretan sembarangan—dan Rukia, menggunakan katakana—dan nampaknya ditulis sebagus mungkin. Yoshimaru tersenyum. Mirai yang penasaran melihat dari pundaknya. Dia juga melebarkan mata melihat wajah sang putri di atas kertas.

"Ya, itu memang wajah Kuchiki Hime-sama." Kata Yoruichi seakan membaca pikiran mereka. "Nampaknya itu hasil kerja dari Kurosaki Ichigo. Aku sendiri agak terkejut ketika melihat kertas itu ada di kamar Aizen Sousuke." Katanya.

"Ini? Ada di kamar Aizen Sousuke?" tanya Mirai tak percaya. Yoruichi hanya mengangguk santai.

Mirai memandang Yoshimaru untuk mengetahui reaksinya. Yoshimaru mengangguk puas. "Terima kasih, Yoruichi-san. Tolong dilihat perkembangan mereka." Katanya sambil membungkuk sedikit—sebagai ungkapan terima kasih.

Yoruichi mendengus. Lalu dia bangkit dan berniat pergi. "Baiklah. Urusanku disini sudah selesai." Katanya.

"Tunggu sebentar," Yoruichi berbalik. Yoshimaru bangkit dan menyerahkan kertas tua yang bergambar Rukia di atasnya pada Yoruichi. "Aku pikir, Kurosaki pasti ingin menyimpan gambar ini." Katanya sambil tersenyum. "Tolong kembalikan padanya, kalau kau tak keberatan."

Yoruichi memandang gambar di atas kertas tua itu, kembali memandang Yoshimaru. Sesaat kemudian, dia tersenyum terhibur, sementara Mirai hanya menatap mereka dengan bingung. Nampaknya, untuk sekali itu, mereka berdua mempunyai pikiran yang sama.


Author's note:

SEBELAS HALAMAN? CUMA SEBELAS HALAMAN? SUDAH HIATUS BERMINGGU-MINGGU JUGA HASILNYA CUMA SEBELAS HALAMAN? MENYEBALKAAAAAAAAAANNN! Fuuh, maafkan saia readers. Tapi saia janji kalau besok ngga lupa apdet ato punya duit buat pergi ke warnet, saia akan apdet... *menghela napas. Terlalu banyak tugas2 yang harus saia selesaikan minggu ini. Presentasi geografi belum kelar. Selasa ulangan seni rupa, kamis ulangan mandarin, jumat ulangan bahasa inggris. Mana matematika juga masih gak mudeng... *menghela napas.

ada pertanyaan dari anda sekalian? boleh tanya lewat facebook, PM, ato lewat review. asal kasih nama kalo nanya lwt review ya. biar gampang ngasi jawaban. okehhh..., abaikanlah semua kegajean ini, dan semoga anda sekalian masi sudi untuk mereview...