10. If Only They Could Talk
"If my wish could be granted, I want that flowers to bloom once more. Because right now, with them I can take away your sadness. Under this shining starry sky, there is a flower that will never wither. Let's make them bloom tomorrow. Right here I swear, I promise I will make you happy." Rookiez Punk'D—Song For...
Ichigo kesal. Tidak, bukan hanya kesal. Ichigo marah! Ichigo berjalan dengan panjang dan lebar—menghentakkan kakinya setiap kali dia melangkah. Sudah semalam sejak kejadian itu, tapi Ichigo tak bisa berhenti memikirkan kata-kata Aizen yang terakhir; bagaimana kalau aku mendekati pacarmu? Ichigo menggeram pelan mengingat bagaimana ekspresi wajahnya ketika itu—seolah-olah dia menantangnya dan berkata; apakah kau benar-benar bisa melindungi Sang Putri?
Lihat saja, pikir Ichigo geram. Kalau sampai dia melukai Rukia, aku benar-benar akan membunuhnya. Lihat saja.
Ichigo melangkah ke dapur dengan wajah menakutkan sampai gadis-gadis di dapur berteriak dan kabur seperti kelinci yang ketakutan. Tapi tidak dengan Momo dan Ran. Mereka malah cemas melihat wajah Ichigo. Kalau wajah Ichigo seperti itu, berarti cuma ada satu kesimpulan—ada masalah. Ichigo cuma berjalan cepat saja melewati mereka. Ran dan Momo saling pandang lalu menyusul Ichigo.
"Ichigo!" seru Ran—sengaja memanggil dengan nama depan. Ichigo menoleh ke belakang dan alisnya lebih rileks sedikit ketika melihat teman-teman Rukia mendekat.
"Oh, hei. Rangiku-san, Momo-san." Sapa Ichigo. "Apa sarapannya hari ini?"
Ran berkacak pinggang, "tak usah berpura-pura ramah, Ichigo. Kami tahu ada yang terjadi." Katanya. Ichigo terkejut, tapi dia kembali tenang. Dia menunggu Ichigo mengatakan sesuatu, tapi ketika tak ada jawaban, Ran melipat tangannya. "Jadi? Jangan katakan kalau kau putus dengan Rukia-sama." kata Ran yang membuat Ichigo memutar mata.
"Rangiku-san, kapan kau akan berhenti menyomblangi kami?" gumam Ichigo sambil mendesah. "Tak ada masalah antara aku dan Rukia, oke? Lagipula masalahnya sama sekali bukan itu. Tapi... ada sesuatu yang lain..." Ichigo menatap ke taman.
"Apa? Yang lain? Jangan-jangan ada orang lain yang mencintaimu?" tanya Momo dengan polosnya.
Ichigo memutar mata lagi. Tak ada gunanya membicarakan masalah tentang Aizen pada gadis-gadis bodoh yang hanya tahu masalah percintaan ini. "Dengar, masalahnya bukan aku atau Rukia. Itu masalah yang rahasia. Jadi, sekarang aku tanya; apa sarapan hari ini?"
Ran dan Momo hanya bisa berkedip.
"Pagi, Ichigo!" Rukia tersenyum seperti biasa.
Entah kenapa, senyum Rukia selalu bisa mencairkan hatinya yang sedang panas. Ichigo tersenyum dan menggosok rambut Rukia, "pagi, pendek." Katanya pelan. Ichigo yang tadi marah, sekarang sudah reda berkat senyuman ceria dari Rukia. Mungkin hanya dengan mendengar suaranya saja, hati Ichigo yang berapi-api akan langsung membeku.
"Berhentilah memanggilku 'pendek', Ichigo!" kata Rukia sambil mencegah tangan Ichigo mengacak-acak rambutnya yang sudah ditata rapi. "Dan berhentilah mengacak-acak rambutku—ini merapikannya susah, tahu!" Ichigo tertawa sementara Rukia bersiap menendang lututnya. Tapi refleks Ichigo yang sudah terbiasa dengan gerakan Rukia dengan mudah menghindar.
Wajah Rukia memerah, dia bersiap melakukan pukulan ke dadanya. Tentu saja dia tak berencana memukulnya keras-keras, hanya sekadar main-main saja. Tapi tanpa disangka, ketika Rukia hendak memukul dadanya, Ichigo justru menangkap pergelangan tangannya dan menariknya lebih dekat padanya. Bukan hanya pergelangan tangannya saja, Rukia juga merasakan tangan Ichigo yang hangat menarik pinggangnya sehingga sekarang dadanya bersentuhan dengan dada Ichigo yang hangat. Rukia tahu wajahnya pasti merah sekarang, tapi Ichigo menatapnya dengan tatapan yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya. Sama. Sama seperti kejadian waktu itu—pagi itu, ketika Ichigo memerangkapnya diantara kedua tangannya dan dirinya.
Rukia tak bisa bernapas ketika melihat wajah Ichigo mendekat. Dekat, dan lebih dekat lagi. Sekali lagi, Rukia merasakan hembusan napas hangat Ichigo di wajahnya. Hangat. Panas... Rukia merasa bahwa dia ingin meleleh saja dan membiarkan dirinya dipeluk oleh hangat tubuh Ichigo. Ketika disangkanya bibirnya akan bertemu dengan bibir Ichigo, Rukia merasakan seluruh tubuhnya dibungkus oleh kehangatan Ichigo. Ichigo bernapas di telinganya—menggelitiknya. "Rukia," bisiknya. "Aku takkan membiarkanmu terluka." Katanya. Rukia melebarkan mata. "Aku akan melindungimu. Aku janji."
"Ichi... go?" Rukia tahu wajahnya masih memerah, tapi dia hanya bisa menyebut namanya. "I-Ichi..."
"Sssshh..." Ichigo membenamkan tubuh Rukia lebih dalam lagi ke dalam pelukannya. Dia merasakan Rukia bergerak, Ichigo mundur sejenak dan matanya bertemu dengan mata biru Rukia. Ah, mata itu... mata yang selalu bisa membuatnya tenggelam setiap kali dia menatapnya. Mata yang penuh gravitasi dan selalu bisa menyadarkannya dan kembali ke dunia nyata. Rukia menatapnya dengan bingung, penuh tanda tanya, tapi ada rasa lapar dalam mata itu. Ichigo tahu Rukia menginginkan ini—sama besarnya seperti dia menginginkan ini. Mungkin ini saat yang tepat? Saat yang tepat untuk memberitahu perasaannya padanya? Bibir merah itu nampak begitu menggoda dilihat dari sini. Ichigo memfokuskan pandangannya pada bibir Rukia dan merunduk lebih dekat pada wajahnya.
Rukia nampaknya tahu apa yang selanjutnya akan terjadi. Ichigo menatap bibirnya dan matanya bergantian—seolah meminta ijin. Rukia tak ingin apa-apa lagi. Dia tak menginginkan apa-apa selain ingin membiarkan dirinya meleleh pada Ichigo, jadi dia memejamkan matanya dan menunggu apa yang akan terjadi. Hembusan nafas panas Ichigo terasa di bibirnya. Dia merasakan tangan Ichigo di belakang kepalanya dan menariknya lebih dekat. Ah, dia bisa merasakan hidung Ichigo menyentuh hidungnya sendiri. Rukia tak mau tahu seberapa merah wajahnya sekarang. Rukia masih tetap memejamkan matanya—sebagian takut, sebagian ingin. Kemudian dia merasakan hangat dan basah bibir Ichigo di bibirnya sendiri...
"Sarapannya siap!" terdengar suara ceria Rangiku yang masuk ke dalam ruang makan.
Dalam hitungan mili-detik, Ichigo langsung melepaskan Rukia dan Rukia pun langsung melepaskan diri dan duduk bersimpuh.
Setelah meletakkan sarapan di meja, Ran menoleh pada mereka berdua yang duduk bersimpuh dengan kaku. "Sarapan pagi ini adalah—! Lho? Kalian kenapa?" tanyanya heran. Dia heran kenapa keduanya sekarang duduk bersimpuh kaku, masing-masing berwajah merah, dan menghindari tatapan satu sama lain. Ran hanya bisa tersenyum dan membayangkan apa yang mereka lakukan sebelum dia datang. "Maaf, aku menganggu momen yang penting bagi kalian, ya?" katanya dengan riang—yang membuat mereka berdua jadi kaku lagi. "Maaf, aku tidak sengaja. Lain kali kalau kalian sedang berciuman, dan aku harus mengganggu, aku akan mencoba menunggu sampai sesi kalian selesai. Bagaimana menurut kalian?" tanya Ran menggoda.
"Shut up, Ran." Keduanya berkata bersamaan—dengan wajah yang sama-sama merah.
Ran hanya bisa terkikik geli dan kembali lagi ke dapur. Ah, dia sudah tak sabar menceritakan ini pada rekan-rekannya—Kurosaki Ichigo dan Kuchiki Rukia akhirnya benar-benar berciuman!
"Yoshin, ada tamu untukmu." Kata Mirai. Yoshimaru merengut mendengar nama kecilnya disebut. Tapi dia bangkit juga.
"Siapa, Mimi?" tanya Yoshimaru.
"Entahlah. Mungkin dari keluarga Taira." Katanya dengan tampang bosan.
Sekarang mata Yoshimaru melebar. Taira? Pikirnya. Apa yang mereka inginkan sekarang? Dengan langkah lebar tapi tenang, Yoshimaru melangkah menuju teras dan mendapati dua orang dengan kimono sutra yang mahal.
"Ah, Minamoto-sama, apa kabar?" tanya orang itu dengan sopan sambil membungkuk hormat. "Sudah lama kita tidak saling menyapa. Bagaimana kabar kakak anda, sehat?" tanyanya—masih dengan sopan—yang membuat Yoshimaru menelengkan kepalanya dan menyipitkan matanya. Jelas curiga. Tapi dia tetap menjawab—dengan senyum palsu yang sudah terlatih sejak dia masih kecil. "Mirai baik-baik saja." Katanya. "Bagaimana dengan anda? Sehat?"
"Kami sehat-sehat saja." Katanya sambil tersenyum. "Anda kenal saya, bukan? Saya Taira Sanosuke; adik Taira Kaoru." Katanya.
Yoshimaru tersenyum palsu lagi dan mengangguk, "Ya, saya kenal anda. Nah, apa ada yang bisa saya bantu?" tanyanya. Dia tak perlu menanyakan pria satu lagi yang di sebelahnya. Dia tahu itu pasti bodyguardnya. Apalagi dengan bekas luka di pipi seperti itu. Atau mungkin pembunuh bayaran yang khusus dibawa kesini untuk membunuhnya langsung? Dengan pikiran itu, Yoshimura menyentuh wakizashi yang berada di belakang punggungnya untuk sedikit keyakinan. Lagipula kakaknya ada di belakang, kakaknya punya ilmu yang lebih hebat darinya.
"Kami hanya ingin tahu apakah anda tahu banyak tentang Kurosaki Ichigo?" tanya Sanosuke.
Yoshimaru menaikkan satu alis. Apa yang ingin mereka lakukan terhadap Kurosaki Ichigo? "Tidak." Jawabnya tanpa dosa. "Saya hanya tahu dia adalah ksatria yang memenangkan sayembara tempo hari. Tapi selain itu, saya tidak tahu." Katanya. "Memangnya ada apa?"
Mendengar itu, Sanosuke mengamati Yoshimaru baik-baik. Mungkin untuk mendeteksi kebohongan yang dilakukannya. Tapi Yoshimaru sama sekali tak gentar dan justru menatap balik. Itu akan membingungkannya. Setelah beberapa detik kompetisi menatap, Taira itu mendesah. "Baiklah. Kami hanya ingin tahu saja. Karena kabarnya dia dan sang putri berada dalam bahaya. Mungkin akan lebih baik kalau saya meminta tolong pada Ukitake-sama untuk mengawasi Kurosaki Ichigo dengan lebih dekat lagi." Lanjutnya. Kemudian dia menoleh lagi pada Yoshimaru. "Apa anda yakin tidak kenal dengan Kurosaki Ichigo?" tanyanya sekali lagi.
Yoshimaru mengangguk mantap. "Sudah saya bilang, saya tidak mengenalnya. Saya tidak suka kalau harus terus mengulang kata-kata yang sama, Taira-sama." Katanya sambil tersenyum palsu. "Sekarang, apakah urusan anda sudah selesai? Karena saya juga masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Begini-begini juga, bisnis saya banyak—saya cukup sibuk." Lanjutnya—masih dengan senyum palsu manis di wajahnya.
Sanosuke mengangguk, "Baiklah. Terima kasih banyak atas waktu anda. Saya permisi." Katanya sambil membungkuk.
Yoshimaru tersenyum palsu, "Ah, saya tidak keberatan." Sanosuke cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Yoshimaru memandang kepergian itu sejenak ketika adiknya mendekat dari belakang dan menggunakan bahunya untuk tempat bersandar.
"Apa yang mereka inginkan, Yoshin?" tanyanya.
"Informasi."
"Oh?"
"Tentang Kurosaki Ichigo." Lanjutnya.
Keduanya terdiam. "Apa yang kau pikirkan?" tanya Mirai.
Yoshimaru mendesah. "Menurutmu apa?" Yoshimaru balas bertanya. "Kita harus meningkatkan kewaspadaan lebih terhadap Taira. Mereka mungkin merasakan bahwa kita berusaha melindungi Kurosaki." Katanya. "Kurosaki dan Hime-sama harus dilindungi. Kalau cuma Kurosaki saja, aku takut yang terburuk akan terjadi pada mereka berdua. Kalau tidak..." Yoshimaru tidak melanjutkan pemikiran itu dan mendesah berat.
"Kau mau aku berbuat apa?" tanya Mirai. Mendengar itu, Yoshimaru menatap adik perempuannya yang berambut hitam panjang dan sepasang kepang dengan tatapan seolah dia bukanlah adiknya. Wajah Mirai memerah. "A-apa-apaan tatapanmu itu?" tanyanya.
Yoshimaru meraba kening adiknya yang lebih pendek lima belas senti darinya sejenak dan berkata, "Apakah kau baru saja terbentur hari ini sampai menawarkan bantuan?" Detik berikutnya, tubuh Yoshimaru melayang satu meter dari tempatnya berdiri sementara Mirai menepuk-nepuk kepalan tangannya.
"Kau tak perlu mengenakan pewarna bibir itu lagi, Rukia." Kata Ichigo. Rukia yang sedang mendandani dirinya di cermin menatapnya dengan heran. "Kau sudah terlihat cantik." Lanjutnya sambil tersenyum. Rukia tersenyum malu. Ichigo bersandar di dinding dengan cool sementara Rukia kembali meletakkan pewarna bibirnya.
"Sebenarnya, kau tak perlu menggunakan semua yang kau tempelkan di wajahmu selama ini." Kata Ichigo sambil mendekat pada Rukia. Dia mengambil saputangan Rukia yang putih dan dicelupkannya ke dalam air hangat. Ichigo mengusap seluruh wajah Rukia yang tertutup bedak dan pewarna hingga warna-warna itu pudar dan memperlihatkan wajahnya yang sebenarnya. "Nah," gumam Ichigo pelan. Rukia tak mengerti apa yang dilakukan Ichigo sampai dia menatap cermin. Dia melihat Ichigo berdiri di belakangnya, dan dirinya sendiri—apa adanya. "Tahu tidak?" gumam Ichigo pelan di telinga Rukia. "Pria lebih senang melihat wanita yang tampil apa adanya." Katanya. "Dan kau... kau terlihat lebih cantik saat kau tak mengenakan pewarna di wajahmu." Ichigo meletakkan kepalanya di atas kepala Rukia. Rukia merasakan hatinya melayang ketika mendengar kalimat itu dan wajahnya memerah. Ichigo geli melihat wajahnya yang berubah warna.
"Dasar bodoh, kau." Kata Rukia pelan. "Kau tahu kau sedang dalam ruangan wanita, hah?" tanyanya menyindir. Ichigo mengangkat bahu sambil tersenyum. Rukia terkekeh geli dan menyandarkan diri di tubuh Ichigo yang memang berada di belakangnya.
Terdengar ketukan di pintu Rukia. Rukia langsung mendorong Ichigo yang masih meringis menjauh darinya sambil tersenyum geli. "Masuklah." Kata Rukia mempersilakan siapapun di luar untuk masuk.
Pintu terbuka. "Rukia Hime-sama," Seorang gadis berambut kepang bersujud di hadapan Rukia.
"Ada apa, Nemu-san?"
"Shihouin Ryou-sama telah datang menemui anda." Katanya. Mata Rukia melebar terkejut mendengar nama itu.
"Dia," Rukia menatap Nemu yang masih bersujud dengan rasa tak percaya. "Sudah datang, ya...?" kemudian sinar matanya meredup.
Ichigo menatap Rukia heran, "Siapa?" tanyanya pada Rukia.
"Shihouin Ryou." Ulang Rukia. Rukia memandang Ichigo sedih. "Tunanganku."
Tunangan? Ichigo merasakan seribu petir menyambarnya ketika mendengar kata-kata yang ditakutkannya. Rukia... dia sudah... bertunangan? Dan tunangannya... datang kemari? Kenapa kalimat itu begitu menyakiti hatinya? Kalau Rukia memang sudah bertunangan, lalu kenapa? Rukia adalah seorang putri. Wajar kalau dia sudah ditunangkan—dan memang sudah seharusnya begitu. Peraturan utama dari seorang bangsawan—apalagi putri kaisar—adalah bertunangan dengan seorang bangsawan pula. Seorang putri kaisar tak boleh menikahi rakyat biasa. Dan yang dimaksud rakyat biasa adalah termasuk Kurosaki Ichigo.
Rukia menundukkan kepalanya dan bangkit berdiri keluar dari kamarnya. Setelah Rukia menghilang dari pandangan mereka, barulah Nemu bangkit. "Kurosaki-sama," panggil Nemu pelan. "Lebih baik anda ikuti Tuan Puteri." Katanya. Kenapa? Pikir Ichigo dalam hati. Dia tak ingin menyakiti hatinya lebih jauh dengan melihat bangsawan sombong bermesraan dengan Rukia. "Anda adalah Ksatria Tuan Puteri. Tugas anda adalah melindungi Tuan Puteri—termasuk ketika Tuan Puteri bersama dengan tuangannya." Katanya.
"Bukankah dia sudah punya tunangannya untuk menjaganya?" tanya Ichigo.
Nemu menggeleng. "Selama mereka belum menikah, tunangan Tuan Puteri tidak memiliki hak ataupun tanggung jawab atas Tuan Puteri dan tidak memiliki kewajiban untuk melindunginya. Karena itu, sampai Tuan Puteri menikah, Kurosaki-sama yang akan menjaganya." Jelas Nemu. Begitu, ya? Ichigo mendesah. Itu memang benar juga kalau dipikir-pikir. Tapi dia tak ingin melihat bangsawan sombong itu bermesraan dengan Rukia. "Lebih baik anda pergi sekarang, Kurosaki-sama." Kata Nemu sekali lagi.
Ichigo mendesah lalu mengangguk. "Yah." Ichigo melangkah keluar dari kamar. Setelah menutup dan mengunci pintunya, dia turun ke bawah diikuti oleh Nemu ke aula besar Istana. Di aula yang terdapat tahta Kaisar itu, dia melihat Rukia berdiri di tahta ayahnya, sedangkan ada seorang laki-laki yang bersujud di hadapannya di tengah-tengah ruangan. Ada beberapa orang laki-laki di pintu depan.
"Rukia Hime-sama," pria itu mendongak dan Ichigo bisa melihat wajahnya dengan jelas. Dia seorang pria dengan rambut hitam dan mata cokelat madu. Dia tak terlalu jelek, tapi menurutnya senyumnya terlalu arogan.
Pantas saja Rukia tadi berdandan, mengenakan kimono terbaiknya, dan rambutnya disanggul rapi begitu—dengan ornamen rambut yang besar-besar sehingga berbunyi gemerincing ketika dia berjalan. Tapi tadi Ichigo sudah menghapus dandanannya. Ichigo jadi sedikit merasa bersalah. Apa dia tidak apa-apa? Tapi nampaknya dari cara Rukia berdiri, gadis itu tak peduli dengan apapun juga pada dirinya. Dia berdiri tegak—melampaui pria yang membungkuk itu—percaya diri, walaupun Ichigo tahu dia tidak sekuat yang terlihat.
"Maafkan atas kunjungan saya yang tiba-tiba ini," kata pria itu. "Tapi saya masih dalam perjalanan saat saya diberitahukan bahwa saya akan mampir ke kerajaan anda. Karena itu, saya juga baru bisa memberitahu kedatangan saya dua hari yang lalu." Katanya.
Rukia turun dari tahta dan pria itu bangkit, melangkah maju ke depan Rukia. Mereka berhadapan selebar lengan. Pria itu kembali membungkuk, "Saya mohon ijin untuk berjalan-jalan dengan anda." Katanya.
Rukia mengangkat dagunya, "Silakan." Katanya.
Pria itu bangkit kembali dan menjulurkan tangannya, menunggu Rukia untuk meraihnya. Dengan ragu, Rukia mengambil tangan pria itu dan mereka keluar ke halaman belakang istana. Ichigo merasa tak ingin melihat dan memutuskan untuk pergi saja ketika Nemu menghentikannya, "Kurosaki-sama, anda mau kemana?" tanyanya.
"Tentu saja mau pergi," kata Ichigo dengan nada getir. "Untuk apa aku melihat orang pacaran?" tanyanya tanpa memandang gadis berambut kepang itu.
"Anda adalah Ksatria sang Putri, Kurosaki-sama." Nemu kembali mengingatkan. "Bukankah saya tadi sudah bilang untuk mengawasi Hime-sama selama dia masih belum menikah dan selama pria itu tak memiliki hak apapun atas Hime-sama? Anda wajib melindunginya, Kurosaki-sama." Katanya.
Ichigo kembali mendesah. Percuma saja berdebat mengenai tugasnya. Itu tugasnya, for God's sake. Untuk apa dia berdebat untuk pekerjaan dan jabatan yang sudah dipertarungkannya sampai hampir mati kalau dia hanya mengesampingkannya? Dengan langkah gontai, dia melangkah ke kebun belakang yang luas—mengamati dari dalam, dari balik fusuma yang terbuka.
Rukia ada disitu. Bersama dengan tunangannya. Tunangan. Kenapa satu kata itu begitu menusuk hatinya? Rukia berdiri di atas jembatan yang ada di atas kolam ikan yang cukup lebar disana, sedangkan pria itu berdiri cukup jauh darinya. Rukia tersenyum dan berbicara sesuatu pada pria itu yang tidak bisa dia tangkap karena terlalu pelan. Untuk pertama kalinya, Ichigo merasa Rukia begitu jauh. Begitu... tak terjangkau. Untuk pertama kalinya, dia berharap dia bisa memiliki gelar, memiliki istana, memiliki bawahan-bawahan—agar dia diijinkan untuk mencintainya. Seandainya dialah pria yang ada disitu saat ini. Seandainya Rukia tak perlu bertunangan. Dia ingin—ingin sekali—menjadi pria yang ada disitu sekarang. Pikirannya melayang ketika dia berada disitu bersama Rukia, ketika Rukia bernyanyi untuknya dan Ichigo mengamatinya sambil tersenyum. Seandainya waktu itu bisa terulang kembali. Sekarang Rukia berada di tempat yang sama—dengan pria yang berbeda. Kemudian pikirannya kembali melayang ke kejadian tadi pagi, ketika Ichigo hampir saja mencium Rukia. Ichigo mendesah. Dia menyesal. Harusnya saat itu juga, tanpa ragu, dia menciumnya. Kalau dia sudah menciumnya, setidaknya dia sudah merasakan rasanya sebelum Rukia berjalan dengan pria itu. Kenapa sekarang Ichigo jadi ingin memiliki gadis itu? Gadis itu berada di strata yang lebih tinggi daripada dirinya. Tak mungkin mereka bisa bersama. Ichigo menghela napas putus asa sambil mengawasi mereka berdua yang masih bercakap-cakap. Setidaknya pria itu tidak menyentuhnya. Kalau sampai dia menyentuh Rukia, Ichigo bersumpah dia akan...
"Sedang apa berdiri di situ, Kurosaki-sama?" Tanya sebuah suara yang tak asing.
Ichigo tak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang menyapanya, "Kau sendiri sedang apa disini, Aizen-san?" tanyanya. "Ini bukan saat yang tepat untuk berada di tempat yang sama sepertiku, kan?"
Aizen tersenyum. "Saya hanya cemas melihat tampang anda yang kusut," kata Aizen. Dia melihat apa yang dilihat Ichigo di halaman belakang. "Oh, ternyata Shihouin Ryou-sama sudah datang, ya? Tak kusangka dia akan datang begini cepat. Harusnya dia datang besok." Kata Aizen sambil membetulkan kacamatanya yang berbingkai tebal. Kemudian dia mengamati Ichigo yang tak mengacuhkannya dan berdiri disampingnya. "Kurosaki-sama, apakah gadis itu begitu berarti untuk anda?" tanyanya.
Ichigo mendesah mendengar pertanyaan pancingan itu. "Itu bukan urusanmu." Kata Ichigo dingin. "Dan untuk menjawab pertanyaanmu, kurasa kau sendiri sudah tahu jawabannya." Lanjutnya.
Aizen tersenyum licik—yang tidak dilihat oleh Ichigo. "Pasti menyakitkan, bukan," kata Aizen kali ini. "Melihat gadis yang kau pedulikan ternyata berjalan dengan pria lain, bertunangan dengan pria lain?" katanya.
Kali ini Ichigo terpancing, dia memandang Aizen dengan tajam. "Lebih baik jangan kau lanjutkan kata-kata itu." Kata Ichigo memperingatkan.
"Rukia-sama sudah bertunangan dengan seorang bangsawan—sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dan menurut peraturan, seorang bangsawan tidak boleh menikahi seorang rakyat biasa—yaitu orang seperti kita, Kurosaki-sama." Aizen memandang Ichigo yang menatapnya tajam. "Apakah anda ingin bisa bersama Rukia-sama, Kurosaki-sama?"
Ichigo memalingkan mukanya dari Aizen dan kembali menatap Rukia yang sekarang sedang duduk di kursi taman. Pria itu juga berniat duduk dan Rukia menggeser posisi duduknya. Tapi dengan sengaja, pria itu mendempetkan posisi duduknya pada Rukia dan melingkari pinggangnya dengan lengan kirinya. Ichigo memandang lantai dengan kecut. Harusnya dia yang melakukan itu. Bukankah dia yang lebih dulu menemukannya? Ichigo yang menemukan Rukia lebih dulu, dia tak ingin kehilangan gadis itu. Apakah anda ingin bisa bersama Rukia-sama, Kurosaki-sama? Ya! Oh, God, ya! Dia ingin bersama Rukia! Suara hatinya berteriak bahwa dia menginginkan gadis itu, tapi mulutnya enggan menyuarakannya, pikirannya membuatnya berpikir logis. Mendengar pertanyaan Aizen yang membuatnya tergoda untuk berkata, 'ya, apakah ada caranya?', membuatnya berpikir dua kali. Pikirannya lebih kuat ketimbang suara hatinya. Kalau dia bertindak ceroboh, keselamatan Rukia bisa terancam. Dan bagaimanapun besarnya dia menginginkan gadis itu, baginya, melindungi Rukia adalah prioritas paling utama. Dia tak ingin melihat gadis itu terluka.
Ichigo menoleh pada Aizen, dan mulai berbicara. "Kalaupun aku berkata, ya, takkan ada yang bisa kau lakukan." Katanya. Sebelum Aizen sempat merespon, Ichigo melanjutkan. "Pekerjaanku adalah melindungi Rukia. Tak lebih. Selama dia masih belum menikah, dia adalah tanggung jawabku. Perasaan konyol seperti cinta hanya akan menghalangi pekerjaan ini. Karena itu, urusan ini adalah urusanku dan urusan Rukia. Kau, yang tak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan ini, jangan ikut campur." Ichigo tak ingin memberi kesempatan pada Aizen untuk berbicara. Aizen tersenyum mendengarnya. "Dan sekali lagi aku peringatkan, Aizen. Kalau sampai aku melihat Rukia berdarah, aku akan membunuhmu lebih dulu."
Aizen membetulkan kacamatanya, "Itu terdengar seperti ancaman, Kurosaki-sama." Katanya.
"Itu memang ancaman." Kata Ichigo membenarkan. "Tak peduli walaupun bukan kau yang melukainya—kalau sampai aku melihat darah di tubuh Rukia, kaulah yang akan kubunuh lebih dulu."
Aizen tersenyum terhibur, "Kalau begitu, ini pasti akan jadi menarik," katanya pelan. "Kurosaki-sama."
Mereka sangat berkonsentrasi pada kehadiran masing-masing sampai tak mengetahui ada beberapa orang yang berada di dekat situ—menguping tak sengaja pembicaraan mereka.
"Ku-Kurosaki-sama... dan Kuchiki-sama...?" Momo hanya bisa tergagap.
"Kau dengar sendiri 'kan, tadi Aizen bilang apa?" Rangiku hampir berseru. "Dia bilang Ichigo mencintai Rukia!"
"Maaf menyela, tapi Aizen-san maupun Kurosaki-sama tadi tidak mengatakan apa-apa yang berhubungan dengan cinta," bantah Nemu datar.
"Ah, omong kosong kau, Nemu!" kata Ran dengan gencarnya. "Barusan kau dengar tadi, Ichigo bilang, 'perasaan konyol seperti cinta', katanya! Bukankah itu cukup membuktikan kalau Ichigo memiliki rasa tersendiri terhadap Hime-sama?" katanya.
"Ta-tapi, Kurosaki-sama kan... rakyat biasa?" Momo bertanya. "Mungkinkah Hime-sama akan mengembalikan perasaan Kurosaki-sama?"
Nemu mengangguk, "Dari bagaimana Rukia Hime-sama memperlakukan Kurosaki-sama, ada kemungkinan bahwa dia juga merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan Kurosaki-sama terhadapnya." Katanya datar. "Secara teori, keduanya sudah memenuhi persyaratan untuk bersama. Tapi Kurosaki-sama adalah rakyat biasa, sama seperti kita. Sedangkan Rukia-sama adalah Putri Kaisar—yang secara teori, tak memungkinkan mereka untuk menikah."
Rangiku menghela napas. Dia juga tahu tentang hal itu. Sebenarnya dia menginginkan kedua orang itu—Ichigo dan Rukia—bersama. Tapi entah karena takdir kejam pada mereka, atau karena karma, mereka terlahir di strata berbeda. Tak mungkin Ichigo bisa menikahi Rukia, kecuali dia naik pangkat menjadi seorang bangsawan, atau peraturan yang dipertahankan generasi ke generasi itu diubah. Tapi keduanya pun tak mungkin dilakukan. Selama ini tak ada cara untuk menaikkan pangkat strata dari rakyat biasa menjadi bangsawan—kecuali kalau kau memiliki jin seperti Alibaba. Dan juga tak mungkin mengubah peraturan yang telah lama berada di masyarakat dari generasi ke generasi—kecuali kau adalah orang yang cukup penting dalam dewan Penasihat Kaisar. Dalam masalah ini, orang-orang tersebut adalah orang seperti Ukitake-sama dan Kyouraku-sama.
"Kalau masalah mengembalikan perasaan," kata Ran memulai. "Aku tahu Rukia-sama pasti juga memiliki perasaan yang sama juga dengannya. Tapi kalau tentang kebersamaan," Ran mengangkat bahu. "Pasrahkan saja pada yang di atas." Katanya.
Tahu-tahu terdengar suara langkah kaki ke arah mereka dan mereka langsung diam. Yang menunjukkan diri di hadapan mereka adalah Butler atasan mereka—yang berambut putih perak dan bermata biru kehijauan. Wajahnya langsung merah padam ketika melihat gadis-gadis itu sedang bergosip-ria di pojokan. "Matsumoto, Hinamori," bisik Hitsugaya sambil mengertakkan giginya.
"I, iya?" kata Ran gugup.
"Kau masih ingat apa kata-kataku tadi pagi?" tanyanya—masih sambil mengertakkan giginya.
"U-umm... membersihkan ruangan aula dan koridor?" tanya Ran tak yakin.
"Lalu kenapa kalian malah ada disini dan menggosip, hah?" Ran bersumpah dia bisa melihat asap keluar dari kedua telinga Butler kecilnya itu. Ran menjerit ngeri ketika Butlernya itu menggeram marah dan Ran langsung ngacir ke koridor luar untuk segera membersihkannya. "Hinamori, kau juga bantu dia!" Perintah Hitsugaya pada Momo.
Momo menelengkan kepalanya lucu, "Iya, Shiro-chan." Katanya dengan manis.
Wajah Hitsugaya kembali merah, tapi bukan karena marah. "Dan jangan panggil aku begitu!" setelah Momo pergi, dia memandang Nemu yang masih mematung di tempat. Kurotsuchi Nemu bukanlah bawahannya seperti halnya Ran dan Momo, dia bawahan Kurotsuchi Mayuri—yang juga ayahnya sendiri. Dia cenderung penyendiri dan jarang berbicara. Tapi kenapa sekarang dia berkumpul dengan Rangiku dan Momo? Pikir Hitsugaya heran. "Kurotsuchi, kenapa kau ada disini?" tanyanya.
Tampang Nemu tetap datar seperti biasa. "Saya kemari hanya untuk mengawasi Kurosaki-sama, seperti perintah dari Mayuri-sama." Katanya.
"Mengawasi Kurosaki?" tanya Hitsugaya tak mengerti. "Kenapa Kurosaki butuh kau untuk mengawasinya?"
"Mayuri-sama menyadari sikap Kurosaki-sama terhadap Rukia Hime-sama. Dan untuk berjaga-jaga agar Shihouin Ryou-sama tidak berbuat yang aneh-aneh pada Rukia Hime-sama, juga untuk mencegah Kurosaki-sama melakukan hal yang vulgar, Mayuri-sama meminta saya untuk mengawasi Kurosaki-sama dan mencatat apa saja yang dia lakukan selama Rukia Hime-sama bersama dengan Ryou-sama." Katanya.
Hitsugaya manggut-manggut mengerti. Dia tak perlu curiga apakah Nemu berbohong padanya—Nemu tak pernah berbohong. Dia itu seperti robot—Nemu mengkonfirmasikan segalanya yang boleh dikonfirmasikan, melakukan apa saja yang diperintahkan (selama itu masih dalam batas kewajaran), dan menjaga segala rahasia yang harus tetap dijaga rahasianya. Mungkin hasil didikan yang keras—atau tak wajar—dari Kurotsuchi Mayuri sudah membuatnya jadi seperti ini. "Baiklah, aku mengerti." Kata Hitsugaya. "Teruskan saja pekerjaanmu." Lalu dia beranjak meninggalkan gadis berambut kepang itu.
"Hai, Hitsugaya-sama." Kata Nemu sambil membungkuk hormat.
Author's Note:
Akhirnya apdet juga setelah hiatus selama... berapa minggu? Enam minggu ada? Meskipun gak ada, tetap aja rasanya serasa sebulan... *menghela napas. Capek banget tau gak sih selama satu bulan ini. Ujian bertubi-tubi selama dua minggu, ulangan bejibun dengan bahan segudang, tugas gak ada yang kelar... aku masih harus nutup nilai bwt nilai bhs jawa yg gak kukumpulin sama tugas bhs inggris yg diilangin sama gurunya sendiri... sungguh deh, sekolah sungguh neraka dunia.. Aku jadi gak punya waktu bwt nglanjutin fic. Udah sepuluh halaman aja udah BEJO BANGET! TEACHERS! FUCK YOU! *Flicks middle finger #dibunuh massa
Warning for readers, setelah ini Morte akan hiatus lagi selama... yah, sampek ada pemberitahuan lagi dah! Asal tahu aja, minggu depan masi ada ujian, dan aku malah mempublish fic. Sungguh terlalu. Okeh, daripada aku bablas curcol disini, lebih baik REVIEW! Plis, tambahin reviewnya jadi 100! Kalo enggak, nggak akan ku update loh. Hohohoh (kayak ada yang nungguin aja...) maaf untuk readers yang masih menunggu Anxiety dengan sabar. Masih mati ide! DX Ilham! Dimanakah engkauuu? *stress
