11. Breathe


"And we know it's never simple, never easy. Never a clean break; no one here to save me. You're the only thing I know like the back of my hand. And I can't breathe without you, but I have to. Breathe without you, but I have to." Taylor Swift ft. Colbie Caillat—Breathe

"Bagaimana?" tanya Yoshimaru pada Yoruichi.

Yoruichi menghela napas, "Melelahkan." Katanya. Kemudian dia menarik sebuah dokumen dari yukatanya dan menyerahkannya pada Yoshimaru dan Mirai. "Hanya itu yang bisa kudapatkan. Selain kenyataan bahwa Ryou berkunjung pada Rukia pada waktu yang sama sekali tak terduga dan melihat tampang kusut Ichigo saat mereka berduaan, hanyalah bahwa Aizen memiliki niat tak baik terhadap Ryou, Rukia, maupun Ichigo." Kata Yoruichi menjelaskan.

"Saudaramu sudah datang?" tanya Mirai tak percaya.

Yoruichi mengangkat bahu. "Aku bahkan tak tahu kalau dia datang." Katanya. Lalu dia menjatuhkan dirinya di sofa terdekat dan menyilangkan kakinya sambil menyeruput teh yang disediakan untuknya. "Menurut yang kudengar, tadi Aizen berniat memancing Ichigo. Untunglah anak itu punya otak, dia tidak terpancing. Tapi justru itu akan membuat Aizen semakin bersemangat memancingnya. Dan dari percakapan yang kutangkap, kemungkinan besar Aizen akan mengincar Rukia. Itu akan membuat Ichigo sangat terpancing." Kata Yoruichi. "Anak bodoh itu sangat sensitif kalau menyangkut hal apapun tentang Rukia."

"Maksudmu Aizen akan berencana menyakiti Rukia Hime-sama, begitu?" tanya Mirai lagi.

Yoruichi mengangkat bahu. "Siapa tahu?"

Yoshimaru mengkerutkan alisnya. "Kalau begitu kita harus hati-hati. Kemungkinan sebentar lagi serangan dari Taira akan segera dimulai." Kata Yoshimaru.

"Serangan apa, maksudmu?" tanya Mirai.

"Tadi aku dengar dari mata-mataku di keluarga Taira, mereka sedang merencanakan penyerangan terhadap Shihouin Ryou jika dia tiba." Mata Yoruichi melebar mendengar kata-katanya. "Memang target utamanya adalah Kuchiki Rukia dan Kurosaki Ichigo, tapi untuk menyingkirkan Kuchiki Rukia, mereka harus terlebih dulu menyingkirkan calon tunangannya untuk mencegah Rukia-sama menjadi Kaisar. Mereka tahu kalau membereskan Kurosaki takkan mudah, jadi mereka memilih membereskan yang tempe-tempe dulu." Kata Yoshimaru. "Baru setelah calon tunangan Rukia-sama mati, mereka akan memancing Kurosaki menggunakan Hime-sama." Katanya.

"Maksudmu sekarang adikku akan dibunuh oleh mereka?" tanya Yoruichi tiba-tiba.

"Belum tahu," kata Yoshimaru. Dia duduk pelan-pelan di sofa. "Sekarang satu-satunya kesempatan kita adalah mencari bala bantuan." Katanya. "Maksudku bukan bantuan militer. Saat ini kita sedang adu kecerdasan dengan Taira. Mirai, persiapkan orangmu yang terbaik untuk menahan serangan dari Taira bila malam ini mereka benar-benar datang. Yoruichi, kau peringatkan Urahara-san dan Kurosaki kalau bisa untuk bersiap menghadapi Taira." Kata Yoshimaru. "Sedangkan aku," dia bangkit berdiri dan meletakkan dokumen ke meja. "Aku yang akan menghadapi Aizen."

"Aizen bukan lawan yang mudah, Yoshimaru." Kata Yoruichi memperingatkan.

"Aku sudah tahu itu." Kata Yoshimaru sambil tersenyum. "Malam ini akan jadi malam yang melelahkan." Dia mendesah dengan senyum di wajahnya.


Rukia lelah. Seharian ini dia menemani bangsawan Shihouin—yang merupakan tunangannya—berkeliling istananya. Dia mengomentari bagaimana ruangan-ruangan disana lebih mewah daripada rumahnya di kerajaan sebelah. Kemudian dia mencium punggung tangannya dan mengomentari bagaimana cantiknya dia hari itu sebelum mengucapkan selamat malam dan pulang. Sebenarnya dia tak ingin menemani pria itu; dia terlalu sombong, walaupun dia berusaha tidak memperlihatkan kesombongannya di depan Rukia, tetap saja Rukia menyadarinya. Misalnya, dia mencela kelakuan Ichigo karena mengikutinya walau dia sudah tahu kalau tugas Ichigo memang menjaganya. Lalu lagi-lagi dia mencela keadaan taman dan kolam koi ayahnya dan mencela bunga-bunga ibunya. Lalu dia berkomentar bagaimana kurangnya ruangan-ruangan di istananya karena kurang perabotan disana. Tapi meskipun mengetahuinya, Rukia memilih untuk memutar mata dan diam saja. Toh, nanti dia juga capek sendiri.

Sepanjang hari, dia diam mendengarkan ceritanya tentang dirinya, keluhannya tentang ayahnya yang pelit, lalu keluhan macam-macam lagi tentang teman-temannya yang dicapnya tidak becus dalam melakukan apapun. Rukia hanya sempat mengucapkan kata 'oh', 'hm', dan 'ya'. Saat ditanya, Rukia menjawab. Dan saat diajak bicara, dia merespon. Tapi keseluruhan pembicaraan mereka benar-benar sepihak. Selain itu, pria itu juga beberapa kali mencoba menyentuhnya—yang untungnya Ichigo selalu ada di dekatnya untuk memberi death glare pada pria itu dan Rukia memiliki refleks yang baik untuk menghindar darinya.

Sekarang Rukia sedang duduk di taman bersama Ichigo. Dia mengulet. "Ahh, Ichigo. Hari ini melelahkan sekali." Kata Rukia. "Aku capek."

"Kalau capek, lebih baik kau tidur." Kata Ichigo.

Rukia mendesah dan meletakkan kepalanya di bahu Ichigo. Rukia menyukai bahu Ichigo. Hangat, nyaman, pas sekali untuk kepalanya. "Setelah makan malam, aku akan tidur." Kata Rukia pelan. Matahari sudah mulai condong ke barat dan hawa sudah mulai dingin. Rukia pelan-pelan merasakan lengan Ichigo yang kuat melingkari pinggangnya dengan lembut, membawa tubuhnya lebih dekat padanya. Rukia mendesah bahagia. Ketika Ryou itu menyentuhnya, Rukia tidak merasakan sensasi seperti ini. Rukia berusaha keras menahan kantuk, tapi angin dingin yang berhembus ke wajahnya dan kehangatan Ichigo di sebelahnya membuatnya lama-lama tertidur.

Ichigo membiarkan hingga beberapa saat sampai dia yakin Rukia benar-benar tertidur. Ichigo memeluk Rukia lebih erat lagi pada dirinya dan menghela napas. "Rukia..." gumamnya. "Kuharap kau tahu bagaimana perasaanku padamu." Gumamnya lirih. Ichigo mengangkat wajah Rukia dengan dagunya. Tanpa ada keraguan lagi, Ichigo menautkan bibirnya di bibir Rukia dengan lembut. Jantungnya berdegup kencang saat bibirnya merasakan kelembutan bibir Rukia dan tanpa ragu dia menggerakkan bibirnya untuk memperdalam ciuman itu. Hanya sekitar tiga detik Ichigo melakukan itu tapi Ichigo merasakan sensasinya. Rukia wangi strawberry. Ichigo tersenyum dan mencium pipi Rukia lembut.

"Aku bukan putri tidur," suara Rukia yang parau terdengar dan Ichigo menegakkan tubuhnya dengan kaget. "Kenapa kau menciumku saat aku tertidur?" tanya Rukia sambil menatap Ichigo dengan mata setengah tertutup karena masih mengantuk.

Ichigo tersenyum dan menautkan bibirnya lagi dengan bibir Rukia. Rukia merasakan jantungnya sekali lagi berdegup kencang dan perutnya naik ke dadanya saat dia merasakan bibir Ichigo menyentuh bibirnya dan menggerakkan bibirnya dengan lembut. Rukia hanya menutup mata dan tersenyum, merasakan bibir Ichigo bergerak di bibirnya, terasa seperti mimpi. Namun dia tahu itu adalah satu-satunya hal yang paling nyata. Perasaannya terhadap Ichigo dan dirinya sendiri. Ichigo mundur pelan-pelan, "Nah, sekarang aku menciummu saat kau terjaga." Katanya sambil tersenyum.

Rukia tersenyum dan kembali menyandarkan diri di bahu Ichigo. "Ayahku akan membunuhmu jika dia tahu apa kita lakukan, Ichigo." Kata Rukia.

Ichigo tertawa pelan. "Aku tahu itu."

"Aneh," gumam Rukia. "Aku tidak mencium tunanganku, tapi malah mencium ksatriaku." Gumamnya.

"Entahlah," Balas Ichigo. "Mungkin karena kau tidak mencintai tunanganmu tapi mencintai ksatriamu?" tebak Ichigo yang membuat Rukia meringis geli.

"Kau terlalu ge-er, Ichigo." Kata Rukia sambil tersenyum geli. Tapi kemudian, dia menarik kerah yukata Ichigo ke bawah dan menautkan bibirnya kembali dengan bibir Ichigo. Ichigo melumat bibir Rukia dengan lembut dan menjilat bibir Rukia. Gadis itu mengerang ketika Ichigo memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Rukia. Lidah Ichigo menggerayangi rongga mulut Rukia dengan penuh gairah hingga gadis itu harus menahan erangan. Sensasinya terlalu hebat. Setelah tiga menit, mereka berpisah—agak kehabisan nafas. "Kurosaki Ichigo," gumam Rukia. "Jangan mengkhianatiku."

Ichigo menyentuh pipi Rukia lembut. "Takkan pernah," Katanya. Dan dia menautkan kembali bibirnya dengan bibir Rukia—menciumnya dengan penuh perasaan. Kali ini Ichigo tak bisa berbohong lagi dengan perasaannya. Mungkin perasaan ini terlarang dan terasa tak nyata, tapi Ichigo tak bisa memungkiri, bahwa dia telah jatuh cinta pada sang Putri. Dan begitu pula dengan Rukia, yang akhirnya menyadari bahwa dirinya mencintai sang Ksatria.

"Ichigo..." Rukia sekarang berada di pelukan Ichigo. "Ayahku... benar-benar... akan membunuh kita berdua..." gumamnya kehabisan napas.

Ichigo tersenyum lelah. "Yeah..." gumamnya. "Kurasa... kau benar-benar harus tidur sekarang." Kata Ichigo. Dia bangkit dan membantu Rukia untuk berdiri. "Kau mau kutemani tidur?" tanya Ichigo dengan senyum nakal. Dia mendapat sebuah tendangan yang cukup keras di lututnya.

"Aku tak perlu kau untuk menemaniku tidur, bodoh!" seru Rukia. "Aku bisa jaga diriku sendiri! Dan kalau kau melakukan hal yang lebih aneh dari yang tadi, aku akan lapor pada ayahku!" ancam Rukia pura-pura marah.

Ichigo tertawa, "Kau pikir aku serius? Dasar bodoh," kata Ichigo. "Ayo, kuantar kau ke kamarmu." Ichigo menarik Rukia dengan pinggangnya dan mereka naik ke tangga.

Setelah sampai di depan kamar Rukia, keduanya terdiam—tak tahu harus berkata apa. Rukia akhirnya memecahkan keheningan canggung itu, "Selamat malam, Ichigo." Katanya.

"Yeah, selamat tidur." Kata Ichigo.

Rukia membuka pintu dan masuk ke dalamnya. Ichigo bingung. Ada sesuatu yang ingin dikatakannya pada Rukia, ada yang dia ingin Rukia tahu, tapi dia bingung bagaimana caranya dia harus mengatakannya atau apa yang harus dikatakannya. Tapi hatinya berdebar saat Rukia mulai menutup pintu. Sial! Sekarang atau tidak sama sekali! Ichigo meraih pintunya dan menahan pintu yang akan ditutup oleh Rukia. Rukia melebarkan mata dan mendongak ketika Ichigo melakukan itu. "Ichigo?" tanyanya heran.

"Rukia..." Ichigo memulai. Tapi apa yang ingin dikatakannya? Dia bingung. Tapi dia mengatakan satu kata yang terbersit di kepalanya pertama kali, yang ingin dikatakannya sejak dulu, sejak pertama kali dia melihat sepasang mata biru itu dari atas alun-alun. "Aku... aku mencintaimu." Katanya akhirnya. Dan dia serius—Rukia bisa melihatnya dari matanya. "Aku mencintaimu, Rukia." Ulangnya—lebih pada diri sendiri kali ini.

Rukia terdiam—terkejut dengan pengakuan Ichigo yang tiba-tiba. Setelah terdiam beberapa saat, Ichigo bisa melihat sinar matanya meredup. "Ichigo..." Rukia memulai. Ichigo menelan ludah—bersiap untuk yang terburuk. "Aku sudah bertunangan." Katanya lirih. "Jika aku berumur delapan belas, pernikahan kami akan dilangsungkan." Ichigo sudah mengantisipasi yang terburuk—tapi dia sama sekali tak tahu kalau rasanya akan seperti ini. Dia bisa merasakan lututnya bergetar, dan dia yakin dia bisa ambruk kapan saja. "Aku tak boleh mencintaimu—bagaimanapun besarnya cintaku padamu." Lanjut Rukia lirih. Tiba-tiba Ichigo merasakan rasa sakit yang menusuk di dada sebelah kirinya dan seluruh syaraf tubuhnya berhenti berfungsi. "Maafkan aku, Ichigo." Dengan pandangan sendu, Rukia akhirnya menutup pintu—meninggalkan Ichigo di luar.

Ichigo mengepalkan tangannya begitu keras hingga muncul titik-titik darah yang tidak disadarinya. Rasa sakit di dada kirinya belum memudar sama sekali—walaupun dia tahu tak ada apapun yang menusuk jantungnya—dan dia menggosok rambut oranyenya dengan kasar dan frustasi. Ichigo membiarkan lututnya menyerah dan dia ambruk, duduk bersandar di tembok beton kamar Rukia. Jadi beginikah rasanya patah hati? Rasanya bahkan lebih sakit saat Kenpachi menusuknya di bahu sampai perut. Malah saat ini, dia ingin Kenpachi membunuhnya saja. Ichigo memegangi kepalanya dan menggantung kepalanya diantara lututnya sambil mengatur napas. Dia takkan menangis. Dia sudah bersumpah takkan menangis lagi sejak ibunya meninggal. Tapi sejak hari itu, ini adalah salah satu hari yang jarang dimana dia merasa tangisnya hampir meledak.

Ichigo mendesah keras-keras dan memutuskan untuk pergi ke kamarnya. Setidaknya disitu dia akan lebih tenang dan bisa memukul-mukul beberapa barang untuk dijadikan pelampiasan—tak peduli kalau nanti Ukitake-sensei akan cerewet, bilang kalau itu properti istana dan lain sebagainya. Ichigo tak peduli itu sekarang. Sulit. Memang tidak mudah—tapi dia harus menerimanya. Dia harus menerima kenyataan bahwa mereka berdua tak bisa bersama. Kenyataan itu membunuhnya, tapi dia harus bertahan. Setidaknya demi Rukia—dan demi dirinya sendiri, dia harus bertahan.


Rukia terisak sambil memeluk dirinya sendiri—berusaha keras untuk tidak gemetar. "Maafkan aku, Ichigo." Isaknya lirih. "Aku juga mencintaimu..." bisiknya di sela-sela tangisnya.

Rukia tahu mereka berdua tak mungkin bisa bersama. Rukia adalah seorang putri, sedangkan Ichigo adalah seorang ksatria. Rukia tahu perasaannya sendiri, dia tak bisa membohongi dirinya. Dia tahu kalau dia mencintai Ichigo, tapi mereka tak bisa bersama—Rukia tahu itu. Tugasnya sebagai seorang putri akan ditagih setahun lagi. Dia harus mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan kerajaannya. Perasaan cinta ini hanya mempersulit keadaan.

"Ibu..." bisiknya. "Apakah ibu mencintai ayah, seperti aku mencintai Ichigo?" tanyanya—bukan pada siapa-siapa. Yang tentu saja dijawab dengan keheningan. "Jika ibu boleh memiliki ayah, apakah salah bagiku untuk memiliki Ichigo?" Rukia terisak lagi mendengar pertanyaannya sendiri. Air matanya terus keluar, tak mau berhenti. Bahkan setelah dihapus berkali-kali, mereka tak berhenti mengalir. Sulit. Memang tidak mudah—tapi Rukia harus menerimanya. Rukia harus menerima kenyataan bahwa mereka berdua tak bisa bersama. Kenyataan itu membunuhnya, tapi dia harus bertahan. Setidaknya demi Ichigo, dia harus bertahan.


Pria berpakaian ninja hingga wajahnya tak terlihat sedang bersembunyi di atap—menunggu perintah dari tuannya. Dia melihat targetnya, sedang duduk di atas tempat tidur dan nampaknya hilang dalam pikirannya. Dia akan mudah dibunuh. Tapi tunggu, di seberang ada penjaga, dan Ksatria itu juga masih di luar. Mereka akan dengan mudah mendengarnya bila dia gegabah sekarang. Dia harus menunggu. Teman-temannya yang lain juga ada bersamanya. Sebagian berada di belakangnya dan sebagian lagi ada di atas atap seberang. Mereka rupanya juga masih menunggu perintas dari tuannya. Mereka menunggu dengan sabar di kegelapan malam. Target mereka sudah jatuh tertidur rupanya. Dan Ksatria itu juga sudah kembali ke dalam. Jumlah penjaga juga sudah agak berkurang. Target pertama sudah terlihat, tapi mana target kedua. Seorang pria berambut hitam keluar ke halaman tengah istana. Itu dia target kedua—memperlihatkan dirinya sendiri di tengah malam begini. Orang bodoh. Kondisi sudah memungkinkan. Sekarang tinggal tunggu perintah dari tuan.

Mereka melihat api yang dinyalakan dari kejauhan. Itu dia perintahnya. Orang tersebut merangkak dari atap menuju ke penjaga gerbang pertama. Dia mengendap-endap ke belakang orang itu dan memukul bagian belakang kepalanya dengan keras. Penjaga itu jatuh pingsan. Orang-orang ninja yang lain mengendap-endap ke halaman belakang dan melumpuhkan masing-masing penjaga tanpa suara. Dengan cepat, salah satu orang berbaju ninja mengeluarkan pedangnya tanpa suara dan lari dengan cepat ke arah target kedua dan menebas punggungnya.

"Aaaakh!" Sial! Dia berteriak! Ini akan menarik perhatian. Ksatria itu ada di sekitar sini. Bunuh dia dulu!


Ichigo baru saja akan tertidur setelah memukul-mukul meja sampai kepalan tangannya lecet parah ketika dia mendengar seseorang mengerang—tepat dari luar kamarnya. Ichigo cepat-cepat bangkit dan membuka pintu kamarnya dan disambut dengan sebuah sambetan pedang yang hampir saja mengenai kepalanya (kalau dia lebih cepat satu langkah saja lagi, dia pasti sudah mati). Ichigo lompat mundur dan melihat... ninja? Penyerangan! Ichigo mencabut pedangnya dengan cepat dan menangkis serangan ninja itu. Beberapa penjaga datang dan melihat Shihouin Ryou sudah... apakah dia mati? Atau cuma pingsan karena luka? Siapa yang menyerangnya? Ninja dihadapannya inikah? Ichigo tak punya waktu untuk berpikir. Serangan orang ini... caranya dia bertarung... pembunuh bayaran! Dengan cepat, Ichigo menangkis keras pedang ninja itu dan berpivot menuju ke punggung ninja itu yang masih terbuka. Ichigo menebas punggungnya. Darah bercipratan, dari pedang ke bajunya. Orang itu tumbang, tapi masih hidup dan merangkak di lantai. Beberapa penjaga lain bertarung dengan beberapa ninja yang masih tersisa di situ.

Ichigo menarik kerah ninja itu dan memaksanya untuk melihatnya. "Siapa yang mengirim kalian kemari?" tanyanya dingin. Ichigo bisa merasakan orang itu tertawa sinis—walaupun seluruh wajahnya (kecuali mata) ditutup oleh kain hitam. "Siapa yang kalian incar?" tanya Ichigo sekali lagi. Dia bisa merasakan kesabarannya menipis dalam setiap pertanyaan. Ninja itu bungkam tapi dia menunjuk Shihouin Ryou yang masih terkapar di tengah halaman. "Bukan hanya dia saja kan? Katakan!" seru Ichigo semakin tidak sabaran. Orang itu tetap bungkam dan sesaat kemudian dia jatuh lemas. Mati. Ichigo berdecak dan menjatuhkan orang itu.

Beberapa dari ninja itu mati dibunuh oleh penjaga-penjaga, tapi yang lainnya berhasil lari. Ichigo tak menyuruh bawahannya mengejar karena dia tahu orang-orang itu pasti menggunakan jalan rahasia untuk menghilang, atau malah beresiko membunuh orang-orangnya. Dia menghampiri Shihouin Ryou yang masih terkapar. Dia membalikkan tubuhnya dan mencoba merasakan denyut nadinya di leher. Tak ada. Dia sudah meninggal. Ichigo menyuruh para penjaga mengambil tubuhnya dan Ichigo sendiri segera menuju kamar Rukia. Apa dia baik-baik saja? Kalau ada penyerangan di saat seperti ini, pasti yang akan pertama kali diincar adalah...

"Rukia!" Ichigo mendobrak pintu kamarnya. Seruan itu mengagetkan Rukia—dan pria ninja yang sedang mengangkat pedangnya pada Rukia. Seketika itu juga mata Rukia melihat pria berbaju hitam yang berniat menyerangnya itu dan menjerit. Ichigo tak buang waktu—segera setelah dia melihat bayangan hitam itu mengangkat pedangnya terhadap Rukia, Ichigo segera mencabut pedangnya dan menyerang ninja itu. Pedang mereka bertolak. Dengan kekuatannya, Ichigo mendorong mundur pria itu dan menendang perutnya. Ninja itu jatuh terduduk, tapi segera mengangkat pedangnya kembali ketika melihat Ichigo maju dan mengayunkan pedang ke arahnya. Pedang mereka bertemu kembali. Ninja tersebut menendang kaki Ichigo sehingga dia jatuh. Melihat kesempatan itu, ninja itu segera berdiri dan mengayunkan pedang ke arah Ichigo. Berpikir cepat, Ichigo menusuk kaki pria itu sehingga dia tumbang sambil mengerang. Ichigo bangkit dan menarik kerah ninja itu. "Siapa yang mengirim kalian? Katakan!" seru Ichigo.

Ninja itu tersenyum licik—walau Ichigo tak bisa melihatnya. Tahu-tahu Ichigo merasakan benda tajam menusuk pinggang kanannya. "Aaakh, Ichigo!" Rukia menjerit. Ichigo tumbang sambil memegangi perutnya. Rukia segera mengambil pedang putihnya yang bersandar di lemari dan mencabutnya. Pria itu sudah bangkit kembali. Rukia mengayunkan pedangnya dan pedang mereka bertemu. Pedang mereka bertemu lagi beberapa kali tapi ninja itu sudah melemah sehingga Rukia dengan mudah menebas perutnya dan membiarkan pria itu tumbang dengan darah yang mengalir keluar dari perutnya.

Segera setelah pria itu tumbang, Rukia membuang pedang putihnya yang bernoda darah dan menghampiri Ichigo yang masih di lantai. "Ichigo! Ichigo, kau tak apa?" seru Rukia.

"Kau tak perlu berteriak, bodoh," kata Ichigo—masih sambil memegangi perutnya. "Walaupun pinggangku kena, tapi kupingku masih berfungsi dengan baik." Lanjutnya. Dia menerima sebuah pukulan ke kepalanya. Dia mengerang lebih keras lagi, "Hei, begitukah perlakuanmu terhadap orang yang terluka, hah?" serunya.

"Aku disini mencemaskanmu, ternyata kau tak perlu dicemaskan." Kata Rukia. "Kalau kau masih bisa mengumpat, kurasa kau baik-baik saja." Katanya. Tapi Rukia tetap menarik Ichigo dan membawanya ke tempat tidur. Ichigo mendesah merasakan nyaman tempat tidur Rukia, tapi mendesis karena sakit di pinggangnya. Ichigo melebarkan mata ketika menyadari bahwa Rukia sedang melepas yukatanya, "Hei, hei, apa yang kau—?" wajahnya memerah, dan dia berusaha menepiskan lengan Rukia yang sedang melepas pakaiannya.

"Berhentilah berontak, bodoh. Aku akan mengobati lukamu!" seru Rukia. Baru saat itulah Ichigo sadar kalau wajah Rukia juga memerah. Ichigo berhenti berontak dan membiarkan Rukia melepas yukatanya—membuat tubuh bagian atasnya terekspos. Wajah Rukia memerah di setiap detiknya dan wajah Ichigo memerah di setiap sentuhan yang diberikannya. Rukia memeriksa luka Ichigo. Agak dalam dan agak lebar, tapi setidaknya tidak sobek dan tidak separah dugaannya. Tapi sedari tadi, darah tak berhenti mengalir. Rukia segera menyobek yukata putihnya dan mata Ichigo melebar lagi. "Hei, kau... itu kan pakaianmu!" kata Ichigo.

"Berisik." Gumam Rukia. "Tubuh itu lebih penting dari pakaian." Katanya kemudian. Rukia membasahi sobekan kain itu dengan air hangat dan dengan hati-hati membalutkannya di pinggang Ichigo. Setelah mengikatkannya dengan agak kencang (sehingga Ichigo kesakitan), Rukia mendesah. "Ini terakhir kalinya aku melihatmu terluka, Kurosaki Ichigo. Kau dengar aku?" katanya dengan agak marah.

Ichigo mengetahui nada itu. Dia menggeleng. "Tidak bisa. Pekerjaanku adalah melindungimu. Lebih baik aku yang terluka daripada aku melihatmu terluka." Kata Ichigo sambil menatap Rukia. "Karena kalau kau terluka, Kaisar bisa membunuhku." Tambahnya.

"Dan kalau kau terluka, aku yang repot harus mengobatimu." Bantah Rukia. Ichigo baru akan membalas perkataannya ketika dia melihat mata Rukia berkilau. Air matanya berlinang. Ichigo tak bisa bernapas. "Kalau kau sampai terluka lagi," Rukia terdiam sejenak—berusaha agar air matanya tak keluar. "Aku takkan memaafkanmu." Lanjutnya.

Ichigo terpana. Jantungnya serasa berhenti sejenak. Kemudian dia mendesah. "Baiklah. Terserah katamu, Hime-sama." Kata Ichigo.

"Dan jangan panggil aku Hime-sama lagi, Ichigo." Tambah Rukia. Kali ini dia menunduk—tak kuasa menahan air mata. Setidaknya dia takkan memperlihatkan air matanya di depan Ichigo.

Ichigo tersenyum. Dia segera menarik kepala Rukia ke dadanya. Merasakan hangat tubuhnya, air mata Rukia semakin deras mengalir. Dia mulai sesenggukan. "Menangislah sepuasmu." Bisik Ichigo di telinganya. Tak perlu dikatakan dua kali, Rukia menangis sepuasnya di dada Ichigo—sementara Ichigo dengan sabar memeluknya dan membiarkannya menangis. Rukia menangis hingga tertidur di pelukan Ichigo. Ichigo sendiri dengan senang hati memeluknya. Sudah lama dia ingin melakukan ini, tapi tak pernah ada kesempatan untuk melakukannya. Ichigo berbaring telentang dengan kepala Rukia di dadanya dan tangan kiri Ichigo melingkari pinggangnya, membuatnya tetap dekat dengannya. Mungkin besok pagi Kaisar atau Ukitake-sensei akan membunuhnya, tapi sekarang, dia akan menikmati waktu-waktu ini.


"Penyerangan terhadap Hime-sama!" seru Yoshimaru marah, dia menggebrak meja dengan kedua tangannya. Mirai membelalakkan matanya melihat kakaknya yang lebih tinggi lima belas senti itu. "Itu sudah diluar batas yang bisa kita toleransi! Kalau hal ini dibiarkan, Hime-sama bisa benar-benar terbunuh!" Mirai sudah bertahun-tahun hidup bersama kakak laki-lakinya dan baru kali ini dia melihatnya benar-benar muntab.

Pria bertopi garis-garis hijau putih itu menyembunyikan matanya di balik bayangan topinya tapi tetap bersikap tenang terhadap Yoshimaru yang marah di hadapannya. Jarang sekali dia melihat Yoshimaru marah. Biasanya dia selalu menutupi perasaannya dan selalu tersenyum palsu. "Minamoto-san. Tolong jangan terpancing amarah." Katanya tenang. "Memang ada penyerangan yang dilakukan terhadap Hime-sama dan Ryou-sama. Ryou-sama sudah meninggal—dan karena itu Yoruichi-san tidak disini sekarang. Tapi menurut kabar yang diberitahukannya, Rukia Hime-sama baik-baik saja."

"Meskipun begitu—!"

"Meskipun begitu," suara Urahara yang lebih tegas membuat Yoshimaru yang tadinya ingin memotong Urahara kembali mendengarkan. "Bukan berarti kita bisa berleha-leha disini untuk menunggu serangan selanjutnya. Kita masih tidak tahu apakah serangan tersebut dari Taira atau dari orang lain. Jika penyerangan ini didengar oleh Kaisar Byakuya-sama, dia pasti akan langsung kembali untuk melihat putrinya—yang tentu saja akan membuat kedua orang itu semakin mudah diincar. Memang nampaknya Byakuya-sama sangat kuat, tapi bila kekuatan bangsawan Fujiwara membesar, tentu saja ini akan mempersulit gerakan Kaisar. Aizen merupakan bawahan Fujiwara, tapi bukan berarti hanya Fujiwara saja atasannya. Pria itu licik. Jadi kalau kau mau menghadapi Aizen, lebih baik pikir-pikir dulu, Yoshimaru. Dia lebih kuat dari yang kau kira. Dan penyerangan tersebut mungkin hanya pancingan untuk kita. Karena itu, kita harus tetap tenang dan bertindak logis. Kau paham, Yoshimaru?"

Yoshimaru terdiam dan menatap Urahara lama sebelum akhirnya dia kembali duduk di bantalnya dan menyeruput tehnya dengan tenang, lalu meletakkannya kembali ke meja. "Baiklah," katanya setelah terdiam beberapa saat. "Aku akan mengambil sikap damai karena Tuan Puteri tak terluka. Tapi kalau sampai Kaisar datang dan penyerangan ini masih berlangsung, aku akan melakukan tindakan tegas. Sampai saat itu tiba, aku akan memanggil Kurosaki Ichigo dan berbicara serius dengannya." Dia mengambil napas dan berdiri. "Terima kasih atas waktumu, Urahara. Tolong sampaikan duka citaku atas Ryou-sama pada Yoruichi-san." Katanya. Urahara menyembunyikan matanya di balik topinya. Yoshimaru berbalik dan mencolek bahu Mirai, "Kita pulang sekarang, Mirai." Mirai hanya mengangguk dan mengikuti kakaknya setelah membungkuk sopan pada Urahara. Yoshimaru yang berambut keemasan dikepang itu memang lebih tua beberapa tahun saja darinya. Tapi terkadang Mirai merasa kalau dirinya yang jauh lebih muda dari kakaknya.


"Kurosaki Ichigo?" Tanya Ukitake-sensei heran. "Untuk apa?"

Minamoto Yoshimaru tersenyum. "Ah, Ukitake-sama. Ini urusan pribadi yang menyangkut permasalahan negeri ini." Katanya.

Ukitake-sensei nampak berpikir sebentar. "Dia belum terlihat dari tadi pagi, kalau tidak salah." Katanya. "Omong-omong, Yoshimaru-sama, kau sudah dengar tentang penyerangan itu kan?" tanyanya.

"Ah, ya." Kata Yoshimaru. Senyum palsunya agak meredup. "Saya turut berduka cita atas kematian Shihouin Ryou-sama." Katanya. "Menurut laporan yang diberikan orangku, yang menjadi target yang sebenarnya adalah Tuan Puteri Rukia." Katanya.

Ukitake-sensei memincingkan matanya pada dokumen yang tersebar di hadapannya. "Yoshimaru-sama, aku dan Kyouraku sudah mengenal anda sejak anda kecil. Kami punya alasan tersendiri untuk mempercayai anda." Katanya. Alis emas Yoshimaru terangkat, tanda untuk Ukitake-sensei untuk melanjutkan. "Aku ingin kau melakukan sesuatu untuk kami; awasilah gerak-gerik Taira dan Fujiwara di dalam istana." Alis Yoshimaru berkerut mendengarnya. "Bukannya aku tak mempercayai mereka. Tapi penyerangan tadi malam sudah cukup untuk membuat kami cukup waspada. Satu-satunya klan bangsawan yang bisa kami percayai saat ini hanyalah milikmu, Yoshimaru-sama. Dan aku harus memberitahukanmu satu hal, bahwa prediksimu tentang Rukia-sama dalam bahaya adalah benar." Yoshimaru tak menjawab, tapi terus menatap Ukitake-sensei—menyuruhnya melanjutkan. "Karena itu, tolong awasi Taira dan Fujiwara. Jika mereka benar-benar menguasai kita, maka kerajaan ini akan berakhir!"

Yoshimaru menutup matanya sejenak sebelum membukanya pelan. "Aku mengerti, Ukitake-sensei." Katanya. "Tapi sebelum itu, tolong pastikan Kurosaki Ichigo menemuiku malam ini juga." Katanya. Ukitake-sensei mengangguk dan Yoshimaru bangkit. "Senang akhirnya bertemu dengan anda lagi, Ukitake-sama. Tolong sampaikan salam saya pada Kyouraku-sama." Dia tersenyum palsu sekali lagi sebelum membungkuk sopan dan pergi dari tempat itu. Sebelum mencapai pintu, dia kembali berbalik pada Ukitake-sensei. "Ukitake-sensei," panggilnya. Ukitake-sensei mendongak padanya sekali lagi. Anak kecil bermata hijau dan berambut emas yang cengeng dan penuh senyuman yang dulu sering ditemuinya bermain bersama Tuan Puteri kecil, sekarang sudah menjadi pria yang penuh tanggung jawab dan misterius. Ukitake takkan pernah melupakan wajah anak kecil itu, yang sekarang sudah menjadi pria dewasa di hadapannya. "Aku... benar-benar bersyukur anda memilih Kurosaki Ichigo menjadi Ksatria." Katanya—kali ini dengan senyum tulus. Dia membungkuk sekali lagi, "aku permisi." Dan membuka pintu, keluar dari tempat itu.

Tanpa sepengetahuannya sendiri, Ukitake tersenyum. "Aku... tentang itu, aku sendiripun juga sangat bersyukur, Yoshimaru-san."


Author's Note:

Huwaaaa... OOC, OOC! (nangis2 di pojokan) tapi akhirnya mereka ciuman. Apakah kurang berasa ciumannya? Maksudnya, feelnya ngena gak? Aku kok gak ngena, ya? Apa aku yang salah? ato aku emang gak berperasaan? *plakk*

Baiklah, aku ingin berterima kasih pada para reviewer favoritku XD: Rukiberry si Silent Reader; Anezakibeech; Jee-zee Eunry; Aizawa Li Syaoran Vessalius; Reina Rukii; Wi3nter; Mugiwara 'Yuuki' Uzumakisakura; Diosas; Austine-sophia; ojou-chan; Ai 'Akira' Shirayuki; Meyrin kyuchan; Shinichirou-Aoi; ruki-darklight17; vita xc tari; Dina Rukia kuchiki D'hollow; Irfan Fathonio; Minami Tsubaki; Ruki Yagami; ika chan; bintang; Kyucchi; vvvv; Yanz Namiyukimi-chan; Qimkim; Ruinichi; Ai Sekai; Rukichi; Silent Reader; Kuchiki Ojou-sama; Miko Kazuma; Kianhe Tsuji; Etsu Zangetsu; dan KAMU yang telah membaca fic ini! XD THANK YOU SO MUCH, GUYS! You don't know how much your reviews means for me.

I'm so sorry gak bisa balas review dari kalian... saya gak punya waktu (dan uang) untuk berlama-lama di warnet. Jadi ini satu-satunya yang bisa saya lakukan untuk menghargai review-review kalian yang bikin saia semangat meng-apdet! Yuhuuu! Cuman... makin banyak chapternya, makin dikit yang review ya? Apa karena aku keseringan hiatus? #plakk# yap, mungkin itu. *menghela napas. Gomen nasai, minna! Saia akan berusaha lebih baik lagi! Karena itu, PLEASE REVIEW AND DO NOT MAKE ME LOOK LIKE A FOOL!