12. Needless Emotions
"As our lives go on, what kind of person, do you see me as? I want to hold your hand and talk about our dreams. And when I asleep, even if it's just for a moment, I want to be one with you." SPYAIR—Last Moment
.
.
Ichigo berjalan menjauhi kompleks istana dan menuju kompleks perumahan Seirei."Minamoto Yoshimaru ingin berbicara denganmu, Kurosaki-san." Suara Ukitake-sensei masih terngiang di telinganya. "Dia tinggal tak jauh dari kompleks istana. Dia ingin berbicara denganmu secara pribadi—dan ini menyangkut keselamatan Tuan Puteri." Alis Ichigo mengkerut mendengarnya. Dia tak ingin ada sesuatu yang terjadi pada Rukia. "Jangan khawatir terhadap Minamoto-sama. Dia orang baik dan kujamin dia takkan melukaimu ataupun Hime-sama." Kalau Ukitake-sensei sampai berkata begitu, rasanya tak ada salahnya mempercayai orang ini, Minamoto. Dia ingin tahu apa yang begitu penting sampai harus memanggilnya ke rumah dan berbicara secara pribadi. "Pergilah ke rumahnya. Dia sendiri tak memberi tahukan alasannya padaku. Minamoto-sama pasti punya alasan baik untuk itu." Ichigo mendesah. Selalu ada alasan dibalik tindakan. Semoga saja ini pembicaraan yang penting. "Satu lagi yang dia ingin kau tahu; Minamoto-sama punya intel yang hebat. Jadi dia mengetahui hampir apa saja. Kalau ada apa-apa, kau bisa menghubunginya secara pribadi—setelah bertemu dengannya tentunya." Tentu saja. Dia tidak akan menghubunginya. Dia bisa menjaga dirinya sendiri. Tapi kalau itu menyangkut keselamatan Rukia, nampaknya dia harus merendahkan harga dirinya dulu.
Ichigo mendesah. Sebenarnya dia tak ingin bangun pagi ini. Dia ingin tetap ada di tempat tidur dan merasakan berat badan Rukia yang berbaring tepat di atasnya. Itu adalah perasaan yang sangat menyenangkan baginya. Tertidur telanjang dada di atas ranjang Rukia dengan Rukia yang berbaring di atas dadanya dan merasakan tubuhnya yang bergerak naik turun sesuai irama napasnya. Ichigo tersenyum. Dia tidak bisa tidak mengingat apa yang terjadi tadi pagi.
.
.
.
Ichigo membuka mata. Sinar matahari menembus masuk lewat tirai jendela. Ichigo mencoba bergerak tapi tak bisa. Dia menengok ke dadanya dan melihat Rukia yang tertidur. Muncul seulas senyuman di wajahnya. Dia ingat apa yang terjadi tadi malam. Tadi malam dia memeluk Rukia yang menangis hingga dia tertidur. Ternyata mereka tertidur sampai pagi. Ichigo tak ingin waktu berjalan. Dia ingin menghentikan waktu sampai disini dan tak bangun dari tempat tidur. Perasaan itu adalah perasaan yang paling menyenangkan untuknya. Merasakan berat tubuh Rukia menindih dada dan tubuhnya dan merasakan tubuhnya yang bergerak naik turun saat dia bernapas. Rasanya seolah gadis ini adalah miliknya. Ya, miliknya. Walaupun dia tahu Rukia takkan pernah jadi miliknya, tapi setidaknya untuk saat ini, dia ingin merasakannya; merasakan bagaimana menyenangkannya saat gadis ini benar-benar miliknya.
Tiba-tiba dia merasakan Rukia mendesah dan menggeliat. Ichigo mengelus punggung Rukia lembut dan kepala Rukia mendongak cepat ke wajah Ichigo. Ichigo bisa merasakan dirinya meringis ketika melihat wajah terkejutnya. "Yo," katanya singkat. Wajah Rukia memerah dan Ichigo meringis makin lebar. Rukia cepat-cepat bangun dari atas Ichigo dan wajahnya memerah lagi ketika mengetahui dia telah tertidur di atas dada Ichigo. Ichigo dengan segera merindukan kehangatan tubuh Rukia di atasnya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Rukia hampir cepat-cepat.
Ichigo hampir tergelak mendengar pertanyaan itu. "Jangan bilang kau lupa? Tadi malam kau menangis sampai tertidur."
Beberapa detik berlalu sementara Rukia memproses informasi ini di otaknya dan kemudian kejadian tadi malam kembali diputar ulang di pikirannya. "Oh," itu saja responnya saat mengingat kejadian itu. Bukan hanya tangisan dan pelukan hangat Ichigo saja yang diingatnya. Ninja pembunuh itu. Rukia menautkan alisnya. Ada yang berusaha membunuhnya. Kalau Ichigo terlambat datang sedetik saja waktu itu, dia pasti sudah tak ada disini sekarang. "Ichigo..." Ichigo mendongak mendengar nada itu dari Rukia. "Terima kasih," katanya. Ichigo mengangkat satu alis. "Kalau kau terlambat sedikit saja berteriak malam itu, aku tak akan mungkin bangun lagi."
Ichigo mengkerutkan alisnya dan merenggut Rukia ke dalam pelukannya dengan cepat. Wajah Rukia memerah hebat. "I-Ichi—?"
"Aku takkan—takkan pernah—membiarkanmu menutup mata tanpa membukanya lagi!" kata Ichigo mantap. Mata Rukia melebar. "Kau tahu apa yang kuinginkan? Aku ingin bisa melihat mata birumu terbuka dan bersinar setiap pagi, setiap hari, setiap aku bangun." Ichigo meremas bahu Rukia dengan sayang. "Jadi jangan—jangan pernah—bilang kalau kau tak akan membuka matamu lagi! Kau mengerti aku, Rukia?"
Rukia tersenyum. Dari kata-kata dan matanya, kekuatan Ichigo mengalir ke dalam dirinya tanpa henti. Rukia menundukkan kepalanya di bawah dagu Ichigo. "Ya," gumamnya. "Aku mengerti." Dia tak ingin lepas dari pelukan Ichigo.
.
.
.
"Ah, selamat datang, Kurosaki Ichigo-sama," seorang butler tua dari keluarga Minamoto membungkuk melihat kedatangannya. "Tuan Yoshimaru-sama sudah menunggu anda." Ichigo ikut membungkuk formal dan mengikuti kemana butler itu pergi. Butler tersebut berhenti di sebuah pintu besar dan mempersilakan Ichigo masuk. Kemudian butler tersebut membungkuk hormat pada siapapun di balik pintu tersebut, "Kurosaki Ichigo telah tiba, Minamoto-sama." Katanya.
Seorang pria berambut keemasan dan berhaori hijau muncul dari balik pintu tersebut, "Terima kasih telah mengantarnya sampai sini, Saijyo-san. Anda boleh pergi." Katanya.
Ichigo ditinggal sendiri dan pintu di belakangnya ditutup oleh butler bernama Saijyou itu. "Selamat datang di Kediaman Minamoto yang sederhana ini, Kurosaki Ichigo-sama." Ichigo baru bisa menilik orang yang dipanggil Minamoto tersebut. Ia seorang lelaki yang kira-kira berumur dua puluhan, berambut keemasan yang dikepang panjang di belakang kepalanya. Ia tersenyum ramah dengan mata hijau emeraldnya—walaupun dengan sekali lihat, Ichigo tahu senyum tersebut telah dilatihnya dengan sangat baik. Ia mengenakan sebuah haori berwarna hijau yang disulam dengan benang emas—di baliknya, ia mengenakan setelan yukata berwarna putih yang disulam dengan benang perak. "Perkenalkan, nama saya Minamoto Yoshimaru, kepala keluarga Minamoto generasi ke-tujuh."
"Ada perlu apa denganku?" tanya Ichigo langsung ke poinnya.
Yoshimaru terkekeh ramah. "Anda memang langsung to the point. Orang yang seperti itu benar-benar langka." Katanya.
Ichigo pun melangkah mengikuti orang yang asing baginya itu. Mereka melewati taman yang mirip dengan yang ada di istana tapi lebih sempit. "Sebenarnya, kenapa bangsawan penting seperti anda ada urusan dengan orang seperti saya?"
"'Orang seperti kau'?" Yoshimaru balik bertanya. "Apa maksudmu? Bukankah kau ini seorang ksatria, Kurosaki-sama?"
"Tolong jangan pangil aku –sama." Kata Ichigo. "Memang aku ini ksatria. Tapi sebelum aku jadi ksatria, aku bukan siapa-siapa. Cuma seorang laki-laki miskin yang berusaha menghidupi adik-adiknya di tengah-tengah kehidupan keras Rukongai." Kata Ichigo. "Jadi, sekali lagi kutanya; kenapa bangsawan penting seperti anda berurusan dengan orang seperti saya?"
Yoshimaru terdiam sejenak setelah mendengar kata-kata Ichigo. "Mengapa anda memikirkan hal yang tidak penting seperti itu? Setelah apa yang terjadi tadi malam, bukankah seharusnya anda mempertanyakan; saya berada di pihak siapa?" Tanya Yoshimaru sambil tersenyum sopan.
Ichigo mengkerutkan alis, "Aku tidak tahu." Katanya. Seketika senyum palsu Yoshimaru sirna dari wajahnya dan ia mendengarkan. "Aku bahkan tidak tahu siapa dalang di balik penyerangan semalam dan aku juga tidak tahu siapa lagi yang terlibat dalam semua ini. Aku tidak peduli kau berada di pihak mana, tapi kalau kau sampai melukai sang putri, akulah yang akan membunuhmu lebih dulu." Katanya dengan mata penuh determinasi.
Yoshimaru terdiam sejenak sebelum berpaling darinya. Ichigo tak melihat sebuah senyum misterius yang terukir di bibir Yoshimaru sebelum pada akhirnya ia berkata, "Anda benar-benar orang yang menakutkan, Kurosaki-san." Katanya. Kemudian ia membuka sebuah pintu, "Silakan masuk, pertanyaan anda akan dijawab di dalam."
Dengan agak ragu, Ichigo masuk ke tempat yang dimaksud. Tempat itu lumayan luas dan terang. Ada seorang wanita duduk di kursi di sudut. "Yoshi-chan, kau sudah membawanya kemari, ya? Aku tak menyangka kau benar-benar serius."
"Mirai, sejak kapan aku jadi orang yang suka bercanda?" tanya Yoshimaru.
"Hmph," Mirai mendengus. "Dulu kau suka bermain denganku." Yoshimaru memutar matanya mendengar jawaban adiknya.
"Kurosaki Ichigo, perkenalkan. Minamoto Mirai, adikku." Kata Yoshimaru. Mirai mengangguk pada Ichigo. Ichigo membalas anggukannya. Ichigo mengamati gadis itu. Wanita itu paling tidak berusia enam belas sampai tujuh belas tahun. Rambutnya berwarna hitam kecoklatan panjang hingga ke pinggul, terdapat sepasang kepang kecil yang terletak di kedua sisi kepalanya. Matanya berwarna biru seperti buah blueberry—begitu mirip dengan milik Rukia, hanya saja lebih gelap. Dia mengenakan haori berwarna merah yang disulam dengan benang perak yang bermotif permata. Di baliknya, ia mengenakan setelan yukata berwarna putih dan hakama berwarna hitam.
"Selamat datang di Kediaman Minamoto yang sederhana ini, Kurosaki-san." Kata Mirai. "Kami memiliki hal penting yang harus disampaikan padamu."
"Apa ini menyangkut Hime-sama?" tanya Ichigo.
Mirai dan Yoshimaru tersenyum penuh arti, "Nanti juga kau akan tahu." Kata Yoshimaru. Ia mengambil perkamen dari meja kerjanya dan duduk menghadap ke meja kerjanya bersama Mirai di sampingnya. "Silakan duduk, Kurosaki-san."
Dengan agak ragu, Ichigo duduk dan melipat kakinya. "Jadi?"
"Seperti yang kau tahu, tadi malam ada penyerangan." Kata-kata Yoshimaru membuat Ichigo menjadi kaku. "Kami percaya bahwa penyerangan itu didalangi oleh Fujiwara dengan motif ingin mengambil alih kerajaan. Kami masih belum tahu apakah motif itu benar, tapi didukung dengan kekayaan yang melebihi kaisar, keluarga Fujiwara akan dengan mudah menyebarkan pengaruhnya ke Kerajaan. Bahkan mungkin Fujiwara dapat dengan mudah menggulingkan kaisar dan menggantikan Ukitake-sama."
Ichigo mengerutkan dahi, "Apa itu maksudnya?"
"Kami percaya, Fujiwara berniat menyebar pengaruhnya dengan menjadi penasihat bagi Kuchiki Rukia-sama di waktu dia sudah cukup umur untuk menjadi Kaisar." Kata Mirai.
"Bagaimana caranya? Byakuya-sama masih berkuasa." Dalih Ichigo.
"Kau mungkin tak tahu, tapi penyerangan tadi malam ditujukan untuk Kuchiki Byakuya-sama dan tunangan Kuchiki Rukia-sama." Kata Yoshimaru dengan serius. "Ryou-sama sudah dibunuh, jadi sekarang target mereka adalah Kuchiki Byakuya-sama."
"Apa?" Ichigo terperanjat. "Aku mengerti tujuan mereka membunuh Byakuya-sama, tapi untuk apa mereka membunuh tunangan Rukia?"
Yoshimaru menaikkan alis mendengar Ichigo memanggil sang putri dengan panggilan yang begitu akrab, tapi ia tak menggubris dan menjawab pertanyaannya, "Perlu kau ketahui, bila Kuchiki Rukia-sama menikah dengan Shihouin Ryou-sama, maka semua pengaruh yang diterima oleh Kerajaan adalah dari Keluarga Shihouin dan keluarga Fujiwara harus bekerja dari titik nol lagi bila hal itu terjadi. Apalagi, Kerajaan Wasuru belum pernah mengangkat seorang wanita menjadi Kaisar sebelum Kuchiki Rukia-sama. Bila Shihouin Ryou menikahi Rukia-sama, maka akan besar kemungkinan bahwa keturunan Shihouin yang akan menguasai kerajaan."
Ichigo terdiam dan memproses apa yang baru saja didengarnya. Itu semua masuk akal. "Lalu, apa hubungan semua ini denganku?"
Mirai mengangkat kepala, "Gampang saja; yang berdiri di antara Fujiwara dan Kerajaan Wasuru adalah kau, Kurosaki Ichigo."
Ichigo tersentak, "Apa maksudmu? Aku hanyalah seorang ksatria."
Yoshimaru tersenyum misterius, "Kalau begitu, biar kutanya kau, Ksatria. Apa tugasmu?"
"Melindungi... Hime-sama." Jawab Ichigo ragu. "Tapi bukankah kau sendiri yang bilang kalau penyerangan itu ditujukan untuk Byakuya-sama?" Tanya Ichigo dengan bingung.
"Memang. Tapi apakah malam itu Hime-sama tidak diserang sama sekali? Kau sebagai Ksatria tentunya paling tahu hal itu." Tanya Yoshimaru. Pertanyaan itu seketika membuat Ichigo bungkam. "Jadi singkatnya, menurut analisis kami, beginilah rencana mereka; Fujiwara membunuh Byakuya-sama, kemudian meneror Rukia-sama sehingga Penasehat ketakutan dan akan buru-buru menobatkan Rukia-sama menjadi Kaisar dan tanpa berpikir panjang menobatkan salah satu keluarga Fujiwara untuk menjadi penasihat Kaisar Muda. Setelah Kaisar Muda beranjak dewasa dan pengaruhnya mulai menguat, mereka akan membunuh Kaisar Muda dan mengangkat salah satu dari keluarga Fujiwara untuk menjadi Kaisar." Ichigo terperanjat. "Dengan demikian, Fujiwara akan menguasai seluruh tanah Kerajaan Wasuru."
.
.
.
.
"Begitu katanya," Ichigo selesai menceritakan seluruh analisa yang diceritakan oleh Minamoto Yoshimaru. Dahi Ichigo berkerut begitu dalam ketika mengingat-ingat semua yang dikatakan Yoshimaru sebelum dia kembali ke istana. "Katakan semua yang telah kau dengar dariku pada Ukitake-sama. Dia mempercayaimu dan aku." Yoshimaru mengatakan semua itu dengan wajah dingin—sama sekali tak ada mimik cemas ataupun tidak senang. "Paduka Byakuya-sama akan pulang dalam waktu kurang dari satu bulan dari sekarang—kemungkinan itulah saat yang terbaik bagi mereka untuk menyerang—baik Byakuya-sama maupun Rukia-sama." Ichigo memincingkan matanya. "Jika sampai batas itu kita tidak mempersiapkan diri, maka tamatlah riwayat kerajaan ini—sekaligus akhir dari riwayat keluarga Kuchiki. Kau mengerti yang aku maksud, bukan? Kurosaki Ichigo?" Ichigo menggeram ketika itu. Dia yakin yang Yoshimaru maksudkan adalah bila ia tidak bersiap-siap menghadapi perang dalam waktu kurang dari tiga bulan, maka Rukia akan mati.
Ukitake-sensei meletakkan mulut dan dagunya dibalik jari-jarinya yang menyatu di atas sikunya di atas meja. Matanya tertutup dan dahinya berkerut—tanda bahwa dia sedang berpikir keras dan dia sedang dalam keadaan tidak senang—sangat tidak senang. Setelah terdiam cukup lama, Ukitake mendesah dengan berat dan bersandar di kursinya. Beliau memijat batang hidungnya—tanda bahwa dia sedang frustasi. "Aku akan memikirkan masalah ini, Ichigo-kun." Kata Ukitake-sensei kemudian. "Untuk sementara waktu sampai kami tahu apa yang harus kami lakukan, aku ingin kau terus bersama Hime-sama. Aku mempercayaimu untuk melindungi Hime-sama, Ichigo-kun—jangan kecewakan aku."
"Aku mengerti, Ukitake-sensei." Kata Ichigo sambil membungkuk. "Apakah hal ini perlu diberitahukan pada Hime-sama? Menurutku Rukia berhak tahu hal yang sebenarnya." Tanya Ichigo.
"Kalau bisa, jangan. Tapi kalau memang sudah tak bisa, katakan saja setengah kebenarannya. Kau tidak perlu berbohong—katakan saja kau tidak mengerti selebihnya bila ia bertanya lebih lanjut. Ia tidak perlu tahu tentang rencana Fujiwara dan keterlibatan Minamoto dan Taira. Katakan saja bahwa penyerangan tadi malam memang didalangi oleh Fujiwara—tapi dia tak perlu tahu tentang rencana Fujiwara lebih lanjut. Kau mengerti, Ichigo-kun?" Kata Ukitake-sensei dengan sabar.
Ichigo memutuskan untuk tidak memperburuk keadaan dan dia membungkuk, "Aku mengerti, Ukitake-sama."
Ukitake-sensei mengangguk, "Kau boleh pergi."
Setelah Ichigo keluar ruangan, Ukitake mengusap dahinya. "Situasinya benar-benar buruk." Sebuah suara membuatnya mengangkat kepalanya. Ia melihat kawan sejawatnya yang bercaping dan berhaori pink. Ukitake mendesah sambil tersenyum lelah. "Kalau memang benar Fujiwara berniat demikian, dia bisa langsung membunuh Kaisar—melakukan kudeta. Tapi itu tidak dilakukannya secara terang-terangan. Kenapa ya?"
"Bukankah itu jelas, Kyouraku? Untuk mengambil alih negeri ini, dengan cara kekerasan saja tidak cukup. Kau lupa banyak bangsawan yang berpihak pada Kaisar?" Kata Ukitake. "Kalau mereka dengan gegabah menggulingkan kaisar, maka rakyat bisa berontak dan mereka bisa perang. Orang-orang seperti mereka pasti akan menghindari resiko yang tidak perlu seperti perang. Apalagi, Genji adalah pasukan perang terkuat yang kita punya. Kalau mereka gegabah, mereka akan kalah dan harus memulai lagi dari nol."
Kyouraku mengangguk-angguk khidmat sambil menyembunyikan matanya di balik capingnya. "Lalu, menurutmu apakah kita harus memberitahu kaisar tentang hal ini?" Tanyanya. "Kita sudah tahu sekarang kalau beliaulah yang diincar. Setidaknya, kita harus memperingatkannya, bukan? Kaisar adalah orang yang bijaksana—ia takkan dengan gegabah kembali ke negara tempat ia diincar bila kita memperingatkannya."
"Kau lupa? Hime-sama juga baru saja diserang dan kemungkinan dia juga bisa menjadi sasaran yang mudah. Kalau kita memberitahukan Kaisar tentang penyerangan ini, dia pasti akan kembali—bukan karena gegabah, tapi karena putrinya ada disini. Kyouraku, insting seorang ayah akan selalu membawanya kembali ke putrinya—walaupun itu artinya menantang bahaya." Ukitake berkata dengan senyum sedih.
"Setidaknya, kita harus melakukan sesuatu untuk memperingatkannya, Ukitake." Kata Kyouraku yang menatapnya dengan senyum jahil seperti biasanya. "Setidaknya—seperti yang kau katakan pada Ichigo-kun—kita harus memberitahukan hal yang perlu-perlu saja. Tak perlu memberitahukan semuanya dan kalau perlu, kita beritahu setengah kebenarannya saja." Kyouraku mengambil sebuah kertas dan pena bulu angsa. "Sekarang beliau masih ada di Kerajaan Nobunaga. Kalau kita mengirimkan merpati pos sekarang, mungkin kita bisa memberi setengah kabar untuknya." Katanya sambil mulai menulis.
Ukitake menelengkan kepalanya tak mengerti. "Memangnya apa yang akan kau beritahukan padanya?"
"Aku akan mengatakan padanya untuk berhati-hati karena kita mendapat ancaman kudeta. Dia pasti akan bertanya-tanya tentang keadaan putrinya, jadi akan kutuliskan juga kalau Hime-sama baik-baik saja dan bahwa Kurosaki Ichigo telah menjaga Kuchiki-sama dengan sangat baik." Kata Kyouraku sembari menulis.
"Bagaimana tentang penyerangan tadi malam?" Tanya Ukitake dengan sikap was-was.
"Tentang hal itu takkan kutulis." Jawab Kyouraku. "Tenanglah, kawan lama. Aku juga akan menulis supaya Kaisar jangan kembali dulu ke kerajaan ini hingga ancaman ini berakhir. Bila memang sudah berakhir, akan aku kirimkan lagi surat."
Ukitake tersenyum lembut lalu menggelengkan kepalanya, "Kyouraku, Kyouraku. Taruhan Kaisar akan segera kembali ke sini setelah kau mengirimkan surat itu padanya."
Kyouraku mendongak dan meringis mendengar perkataan temannya itu, "Oh, ya? Berani bayar berapa kau?"
.
.
.
.
"Kau baik-baik saja, Ichigo?" Rukia bertanya.
Ichigo mendongak ke arah suara tersebut dan ia bertatap muka dengan objek yang sedari tadi dilamunkannya, "Rukia? Sejak kapan kau ada disini?" Tanya Ichigo agak kaget karena jarak mereka yang terlalu dekat.
Rukia mengkerutkan alisnya seraya meraba kening Ichigo, "Kau ini sakit atau memang bodoh, sih? Ini ruanganku, tahu." Katanya sambil memutar mata. Kemudian ia beranjak dari hadapan Ichigo ke depan meja tulisnya—kembali menekuni zuihitsu.
Ichigo melihat sekeliling dan baru menyadari kalau dia memang sedang berada di dalam ruangan Rukia. Ichigo menggosok mukanya, "Ahh, maaf, Rukia. Hari ini... hari ini banyak sekali yang terjadi. Pikiranku penuh. Aku tidak tahu lagi apa yang harus dipikirkan." Katanya lesu. "Aku benar-benar lelah. Aku tidak tahu apakah keadaanku sekarang ini baik atau tidak."
"Apa yang kaubicarakan, Ichigo?" Tanya Rukia sambil masih menekuni zuihitsunya.
Ichigo mendesah. "Aku membicarakan tentang keselamatanmu, Rukia." Katanya akhirnya—ia tak mampu berbohong—tidak di depan Rukia. Berbohong juga percuma, Rukia akan langsung bisa melihat menembus dirinya seolah dirinya terbuat dari kaca.
Rukia menoleh pada Ichigo, wajahnya cemas, "Apa maksudmu, Ichigo? Keselamatanku? Kalau kau membicarakan soal tadi malam—"
"Aku memang membicarakan soal tadi malam." Ichigo menatapnya kali ini. "Aku serius, Rukia. Kurasa... kurasa aku harus benar-benar berada di sisimu mulai sekarang. Aku hanya..." Ichigo terdiam sejenak. Rukia melihat ekspresinya berubah dari lelah, serius, menjadi tekad. "Aku tidak bisa membiarkanmu terluka lagi, Rukia."
Rukia terdiam dan tersenyum lembut. Tentu saja Ichigo akan bilang begitu. Ichigo selalu overprotektif dengan sesuatu yang sangat dipedulikannya, tapi dengan nyawanya sendiri saja dia tak peduli. Kalau perlu, Ichigo bahkan rela menukar nyawanya demi melindungi sesuatu yang dicintainya. Rukia beranjak dari tempatnya duduk dan bersimpuh di hadapan Ichigo yang sedang duduk di tepi tempat tidurnya. "Ichigo, aku mengerti dan aku tahu kau tidak bisa melihatku terluka. Tapi itu bukan berarti kau bisa dengan bebasnya menukar nyawamu untukku. Kau yang paling dekat denganku mestinya tahu hal itu." Kata Rukia sambil menggenggam tangan Ichigo dengan lembut. "Namun apapun yang terjadi, kita akan tetap menghadapinya bersama, bukan?"
Ichigo menghembuskan nafasnya dan meremas tangan Rukia dengan lembut. "Benar. Kau benar." Ichigo tersenyum lembut pada Rukia. Ia membawa tangan mungil Rukia ke pipinya, bersandar pada sentuhan tangan Rukia.
Momen mereka berdua hancur berkeping-keping ketika terdengar seruan dari arah luar balkon, "KAU TIDAK BOLEH MASUK, NONA!" Rukia yang menoleh duluan ke arah seruan lantang seorang penjaga yang tak dikenalnya.
"AKU TIDAK PEDULI! AKU HARUS BERTEMU DENGAN KUROSAKI ICHIGO!"
Mendengar suara yang familiar dan namanya yang disebut, Ichigo menoleh dan melihat ke bawah dari balkon. Dari atas situ, ia bisa melihat seorang gadis berambut hitam dan bermata cokelat yang begitu dikenalnya, "Karin?" Ichigo menelengkan kepalanya heran melihat adik perempuannya di depan gerbang, mencoba menerobos masuk tanpa menyerah walaupun dihalang-halangi seorang penjaga yang nampak kewalahan. "Sedang apa dia di sini?" Tanyanya pada diri sendiri.
"Kau kenal, Ichigo?" Tanya Rukia.
"Yeah, dia adikku." Jawab Ichigo.
"Kalau begitu, temui dia. Kasihan kan, dia tidak bertemu dengan kakaknya selama dua bulan." Kata Rukia.
Glek! Benar juga. Bukankah Karin pernah bilang padanya untuk pulang sebulan sekali atau dia akan datang langsung ke istana? Gawat! Dia lupa sama sekali pada janjinya itu. Seketika itu juga, ia merasa telah menjadi kakak yang buruk. "Maaf, Rukia. Sebentar." Ichigo langsung lari keluar dari kamar Rukia untuk bertemu dengan adiknya. Rukia menggelengkan kepala. Ia tahu Ichigo butuh waktu berdua dengan adiknya. Kalau sampai adiknya datang sendiri ke istana, pasti ada sesuatu yang penting yang harus disampaikan.
.
.
"Karin!" Mendengar namanya disebut oleh suara yang familiar, gadis itu berusaha menengok ke dalam. Tapi penjaga pelit dan keras kepala ini terus saja menghalanginya. Bosan dihalangi, dengan sikap tak sabar, Karin menyapu kaki orang itu sehingga ia jatuh dan Karin melompatinya tubuh penjaga tersebut dengan enteng untuk melalui gerbang.
"Ichi-nii!" Seru Karin ketika melihat sosok kakaknya itu. Rupanya tak berubah—rambutnya masih berwarna oranye, alisnya juga masih mengkerut—tapi tubuhnya terlihat lebih besar dan berotot, terutama bagian lengan dan punggungnya. Dia juga nampak lebih bahagia walaupun terlihat agak capek. Ketika kakaknya mendekatinya sambil menyebut namanya, dengan sigapnya Karin melayangkan tangan kanannya ke belakang dan kepalan tangannya mendarat dengan mulus di pipi kakaknya yang langsung jatuh tersungkur di tanah—tidak menyangka bahwa pukulan adiknya akan sekeras itu. Wajah kakaknya yang menatapnya dengan tatapan tidak percaya dan begitu bingung waktu itu begitu lucu hingga tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tapi membahas tentang wajah absurd kakaknya bisa nanti saja—sekarang, dia punya urusan yang harus dibereskan. "Bukannya Ichi-nii janji pulang sebulan sekali? Ini sudah dua bulan Ichi-nii tidak pulang! Kau tahu tidak kalau Yuzu terus-terusan menangis cemas sambil memeluk Bostaf? Ayah juga sudah sadar kalau Ichi-nii tidak pernah pulang! Kau sadar tidak rumah itu seperti apa kalau orang tua itu terus menangis ke lukisan ibu sambil teriak-teriak, 'Masakiiiii, putra kita melupakan keluarganyaaaaa' dan aku harus menendangnya dulu baru dia mau diam? Kau bikin rumah kacau, tahu! Para tetangga protes terus karena harus mendengar lolongan si tua bangka itu siang malam! Aku capek mengurusi mereka dan harus menenangkan Yuzu, si kambing tua, juga para tetangga! Pulang sekali saja kenapa, sih? Kami kan tidak akan membunuhmu!" Napas Karin sampai terengah-engah setelah menyemprotkan seluruh uneg-uneg yang dipendamnya selama dua bulan pada kakaknya yang berambut oranye ini. Suasana hening sejenak ketika Karin mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan diri setelah meracau tak jelas pada kakaknya tadi.
Ichigo yang masih kebingungan kemudian matanya melembut dengan pengertian dan dia mulai tertawa. Tertawanya juga tidak setengah-setengah—seolah dia geli sekali—meksipun dia sadar dia masih tersungkur di tanah, dia tetap tertawa. Karin yang menunggu kakaknya berhenti tertawa selama dua menit mulai kesal karena kakaknya tidak juga berhenti tertawa. Tapi beberapa saat kemudian, tawa Ichigo mereda dan dia berdiri, "Aku juga merindukanmu." Katanya dengan senyum lembut. Wajah Karin memerah karena malu. Ia baru saja akan membantah perkataan tersebut ketika kakaknya melangkah ke arahnya. Detik berikutnya, dia merasakan sepasang tangan kuat milik kakaknya menyelimuti tubuh kecilnya. Aroma kakaknya yang khas kokoa dan kayu manis menyerbu hidungnya. Ketika dipeluk seperti ini, Karin baru menyadari betapa mungil dirinya dibandingkan dengan kakaknya. Kemudian suara dalam kakaknya yang lembut menyerbu telinganya—Ichigo meletakkan dagunya di atas kepala Karin sehingga ia bisa merasakan rahang kakaknya naik turun ketika ia berbicara—namun begitu, kakaknya berbicara dengan lembut sehingga hanya ia sendiri yang mendengar. "Maaf aku tidak bisa pulang," Katanya memulai. "Ternyata di sini terdapat lebih banyak masalah daripada di rumah." Karin merasakan kakaknya mendengus geli ketika menyebut hal itu. "Kemarin malam, para ninja menyerang kami. Aku hampir saja terbunuh bila tidak hati-hati. Sang Putri hampir terbunuh bila aku tidak mengganggu. Seorang bangsawan mati terbunuh dan kami baru saja mengetahui ada persekongkolan orang dalam." Karin mendengarkan cerita itu diam-diam dan menyadari apa yang akan dikatakan oleh kakaknya. "Mereka membutuhkanku di sini, Karin. Aku masih belum bisa pulang." Karin menutup matanya dan merasakan tangan kakaknya mengelus punggungnya dengan lembut—untuk menenangkannya atas pernyataan mengecewakan ini barangkali. "Tapi kurasa, aku bisa pulang sebentar. Mengunjungi Yuzu takkan melukai siapapun." Mendengar itu, Karin hampir terlonjak karena senang—bila bukan karena pengendalian dirinya yang ekstrem, dia sudah akan melonjak sambil berteriak, 'benarkah?' lalu memeluk kakaknya—Ichigo mungkin takkan keberatan menerima tingkah lakunya, tapi ayolah, Karin sudah remaja, ia masih tahu malu untuk bertingkah seperti anak berumur enam tahun.
Sebagai gantinya, ia mendengus dan membalikkan badannya ketika kakaknya melepaskannya—berpura-pura tak tertarik walaupun dalam hatinya ia girang sekali. "Kalau begitu, cepat pulang sekarang. Aku tidak mau kau sampai berubah pikiran." Katanya.
"Tunggu sebentar, Karin." Gadis itu menoleh kembali pada kakaknya. Ia mengangkat satu alis ketika melihat wajah Ichigo yang gugup dan memerah. "Aku ingin membawa seseorang. Ada yang ingin kuperkenalkan pada kalian." Mendengar deklarasi kakaknya yang kurang percaya diri serta gerak-gerik gugupnya, Karin tersenyum penuh arti dan warna merah di kedua pipi Ichigo semakin dalam.
"Aku yakin si kambing tua itu akan ribut nanti."
.
.
.
.
Rukia tidak yakin tentang akan dibawa kemana ia sekarang. Ia hanya tahu bahwa setelah Ichigo berbicara berdua dengan adiknya tadi, Ichigo kembali untuk menemuinya dengan napas memburu. Ichigo bilang, ia akan membawanya pergi ke suatu tempat bersama adiknya. Kemana, ia tak bilang. Sudah berkali-kali Rukia bertanya, tapi Ichigo selalu mengelak—mengatakan bahwa ia juga akan tahu akhirnya—dengan muka merah, entah kenapa. Sedangkan adiknya nampaknya mengerti sesuatu tapi ia pun tak mau memberitahukannya—tapi dengan senyum yang entah kenapa sangat mengganggu Ichigo. Setelah Ichigo memperkenalkan dirinya pada Karin—tanpa memberitahu identitasnya sebagai seorang putri—Ichigo langsung memberikan seekor kuda untuk ditunggangi Karin sedangkan Rukia sendiri langsung digendongnya naik ke pangkuannya di atas Zangetsu. Jadi sekarang, di sinilah ia, di atas sadel kuda hitam Ichigo dengan pria itu berada di belakangnya dan dirinya berada di antara kedua lengannya yang kokoh. Sedangkan adiknya, Karin, menunggang kuda kerajaan yang berwarna cokelat muda bernoda putih—atau sebaliknya, putih bernoda cokelat? Entahlah, ia takkan pernah tahu. Mereka menunggang kuda berdampingan dan mereka sampai di sebuah rumah kecil sederhana di lingkungan Rukon.
"Yuzu, kami pulang." Karin membuka pintu yang terbuat dari bambu itu.
"Karin-chan? Apa itu kau?" Sebuah suara feminin terdengar dari dalam. Rukia melihat seorang gadis seumuran dengan Karin, berambut cokelat pasir yang dikuncir jadi dua, menghampiri pintu. "Karin-chan, dari mana—" Pertanyaannya terjawab ketika matanya yang secokelat susu mendarat pada sosok di belakang Karin. Sosok tinggi, tegap, berambut oranye, dan tersenyum lembut padanya. Ia menyapa Yuzu dengan begitu biasa, "Hai." Setelah mendengar satu kata itu, gadis itu lari menghambur pada kakaknya yang sudah lama tidak dilihatnya hingga mereka nyaris terpelanting.
"ONII-CHAN!" Serunya sambil membenamkan hidungnya ke dada kakak laki-lakinya, kemudian ia terisak.
Ichigo tersenyum lembut dan memeluk gadis itu, menggendongnya dengan mudah, "Aku juga merindukanmu, Yuzu." Bisiknya pada gadis kecil yang terisak di pelukannya itu."Maafkan aku sudah membuatmu menangis. Aku benar-benar kakak yang buruk, bukan?"
Gadis yang dipanggil Yuzu itu mendongak pada kakaknya yang jauh lebih tinggi itu dengan air mata yang masih berlinang-linang, "Tidak! Onii-chan bukan kakak yang buruk—Onii-chan kakak yang baik! Baik sekali!" Gadis itu membenamkan wajahnya di leher kakaknya pada kalimat terakhir. Ichigo tersenyum lembut dan mengusap rambut adiknya.
"Yuzu, ada orang yang aku ingin kau temui." Kata Ichigo. Rukia sadar, Ichigo mempertemukannya pada keluarganya. Ichigo meletakkan adiknya yang sesenggukan kembali ke tanah dan menoleh pada Rukia, "Yuzu, Rukia. Rukia, Yuzu."
Rukia tersenyum lembut pada gadis kecil di depannya. "Hai. Senang bertemu denganmu." Katanya.
Yuzu tersenyum lebar walaupun Rukia masih melihat sisa air mata di sudut matanya, "Hai! Apakah anda teman Onii-chan di istana?" Tanyanya. Rukia mengangguk. Untuk sementara, ia takkan mengatakan pada siapapun kalau ia adalah sang Putri sendiri. "Kalau begitu, kau teman kami juga! Ayo, masuklah! Maaf, rumah kami sederhana begini." Kata Yuzu dengan ramah.
"Tapi masih lebih mendingan setelah Ichi-nii bekerja sebagai ksatria. Sekarang kami bisa memperbaiki atap dan tembok yang rusak." Kata Karin sambil tersenyum. "Masuklah. Anggap saja rumah sendiri. Ichi-nii, nanti urus si kambing tua itu."
Ichigo mendecakkan lidahnya dengan kesal, "Tck, aku akan menjauh setidaknya satu meter dari tua bangka itu." Kata Ichigo sambil memutar mata. Rukia penasaran dengan siapa orang yang mereka panggil 'tua bangka', 'si jenggot', 'si tua gila', 'kambing tua' itu. Tapi ia punya perasaan bahwa sebentar lagi ia akan tahu. Rukia melangkah dari pintu depan dan segera mengetahui bahwa hanya terdapat satu ruangan di rumah kecil itu. Tapi ada kabinet kecil yang memisahkan ruang tengah dengan dapur. Sementara dapur disatukan dengan ruang makan—tempat mereka berkumpul sekarang—dan ruang tengah, selain digunakan untuk menerima tamu dan berkumpul, juga digunakan sebagai ruang tidur. Di ruang makan tersebut, Rukia bisa melihat sebuah lukisan besar di dinding tepat di depannya. Lukisan itu bergambarkan seorang wanita yang cantik dan terlihat sangat keibuan. Rambutnya berwarna cokelat pasir—sewarna dengan gadis yang dipanggil Yuzu—matanya sewarna kayu—mata yang persis sama dengan yang membuatnya jatuh cinta pada Ichigo—dan senyum yang begitu keibuan yang mengingatkannya pada almarhum ibunya sendiri. Rukia langsung bisa menduga bahwa wanita cantik di lukisan tersebut adalah almarhum ibu dari ketiga anak Kurosaki.
"Kuharap kau suka tamagoyaki, Rukia nee-chan." Sapaan Yuzu terhadap Rukia yang begitu akrab mengagetkannya, tapi dia tersenyum mengetahui bahwa mungkin beginilah keluarga Kurosaki yang hangat. "Menu makan siang hari ini adalah tamagoyaki dan okonomiyaki." Yuzu mengumumkan dengan senyum lebar.
Tiba-tiba pintu geser terbuka dan Rukia melihat seorang pria berusia paling tidak empat puluhan dengan rambut hitam yang dipotong cepak dengan janggut yang menyambung dari jambangnya. Pria itu melihat Yuzu yang sedang memotong daging dan menari ke arahnya... tunggu dulu, menari? "Yuzu-chan, Otou-chan ingin ikut membantu memasak." Katanya dengan nada-nada seolah sedang menyanyi... tunggu sebentar, menyanyi? Dan apa tadi katanya? Otou-chan?
"Otou-san, kalau tidak berangkat kerja, nanti terlambat." Omel Yuzu lembut. Oh, ternyata telinga Rukia tidak rusak. Pria itu memang ayahnya... tunggu dulu, ayah?
"Ah~ Putraku yang tidak tahu terima kasih ini akhirnya pulang juga!" Seru pria itu ketika pandangannya jatuh pada rambut oranye Ichigo. Sebentar kemudian, pria itu sudah mengunci kepala Ichigo dengan sempurna.
"Lepaskan aku, Tua Bangka! Aku sedang tidak ingin bertarung denganmu!" Seru Ichigo—walaupun Ichigo tahu ayahnya hanya bermain-main saja. Rukia melihat sesuatu yang berkelebat berwarna hitam ketika tiba-tiba tubuhnya diselimuti oleh bear-hug dari kepala keluarga Kurosaki itu hingga ia sulit bernapas. "Hei, Tua Gila! Lepaskan dia! Kau bisa membunuhnya!" Ichigo menendang ayahnya pergi dari Rukia. Sedetik kemudian, Rukia akhirnya bisa menarik napas lega. Tapi itu tidak berlangsung lama.
Kedua tangan Rukia tahu-tahu digenggam dengan eratnya oleh kepala keluarga Kurosaki tersebut. "Nona muda! Siapa namamu? Putraku tidak pernah—seumur hidupnya—membawa pulang perempuan. Aku hampir yakin bahwa ia penyuka sesama jenis," Ichigo langsung tersedak minumannya. Pria itu menjabat tangan Rukia dengan erat, seperti jabat tangan mertua yang menerima pinangan. "Perkenalkan, namaku adalah Kurosaki Isshin—ayah dari putra yang tak tahu terima kasih ini." Katanya memperkenalkan diri sambil memegang kedua tangan Rukia. Cara berkenalan yang begitu aneh.
"Ah, aku Rukia." Kata Rukia dengan kikuk—tidak terbiasa berkenalan dengan cara yang begitu... uhh, radikal.
"Rukia-chan, putri ketigaku!" Seru pria yang menyebut dirinya Isshin. Rukia dan ketiga orang yang lainnya yang berada di ruangan tersebut menatap pria itu tak percaya dan bingung. Dia baru saja menyebut Rukia putri ketiganya? "Dimana kau bertemu dengan putraku yang tak tahu diri ini?" Rukia hampir tertawa mendengar semua celaan sayang dari seorang ayah yang ditujukan untuk putranya yang hanya bisa menggeram kesal.
Rukia tersenyum canggung, "Kurosaki-san, aku..."
"Rukia-chan, sebentar lagi kau akan menjadi menantuku. Panggil aku Papa Isshin!" Katanya sambil meringis. Keringat Rukia menetes mendengar saran yang menurutnya aneh itu. Untunglah ia diselematkan oleh sebuah tendangan yang mengenai kepala Isshin—begitu kuatnya sampai pria setengah baya itu terpelanting dan melepaskan kedua tangan Rukia. Pria itu tersungkur lalu satu detik kemudian lompat berdiri lagi sambil melempar tinju pada putranya. "Ichigo! Kau sungguh anak durhaka! Beraninya kau menyerang saat aku masih berbincang dengan calon menantuku!"
Ichigo lompat ke arah ayahnya sambil melayangkan tinjunya. "Berisik, Kambing Tua!" Isshin berhasil mengelak dari pukulan Ichigo.
Isshin meringis bahagia, "Kau tahu, putraku? Aku menginginkan cucu. Aku ingin menimang cucu di masa tuaku yang tak lama lagi ini. Jadi, Ichigo, buatlah anak-anak yang manis untuk kumanjakan dengan Rukia-chan!" Mendengar perkataan Isshin, tiga wajah di ruangan itu memerah sedangkan Karin hanya tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya. Wajah Ichigo dan Rukia-lah yang paling merah. Sedangkan Yuzu hanya memerah sedikit mendengar kata-kata ayahnya yang tidak pantas.
"Otou-san, itu bukan perkataan yang pantas dikatakan di depan tamu!" Omel Yuzu dengan wajah sedikit merah—tapi tak ada yang mempedulikannya.
"Siapa yang setuju aku akan membuat anak untukmu, hah?" Ichigo dengan berang dan malu langsung melayangkan tendangan berputar ke kepala ayahnya tapi ditangkis dengan sigap oleh pria tua itu. Dengan segera, kedua pria Kurosaki itu bergulat di lantai.
Karin menoleh pada Rukia ketika mengetahui gadis itu sedang mengamati kedua pria itu dengan agak cemas, "Jangan khawatir, Ruki-nee. Hal seperti ini sudah biasa." Katanya sambil menyuap sesuap nasi dengan sumpitnya. Rukia tersenyum melihat interaksi di rumah kecil sederhana ini. Kedua pria Kurosaki yang bergulat di tanah, Yuzu yang memasak sambil berusaha berteriak untuk melerai mereka, sementara Karin berlagak seolah tidak mengenal kedua pria yang tengah bergulat di belakangnya itu sambil meminta tambah porsi nasinya pada saudarinya. Di tengah-tengah keributan besar di rumah kecil itu, Rukia tertawa lepas. Di tengah keluarga tersebut, Rukia merasa bahwa di tempat inilah ia benar-benar diterima.
.
.
.
.
.
.
Author's Note:
Oke, oke, aku tahu kalian semua mau ngomong apa, "Ehh? Morte tuh masih hidup yah? Kupikir dia udah mati!" Nope! I'm still alive, people! Alive and breathing! °\(=o=)/° Ada lagi yang mau ngomong? "Dia update dua fic sekaligus? Dunia udah mau kiamat kali ya?" Probably. Yeah, yeah. Kalian semua berhak ngomong begitu setelah my freaking long hiatus. Ternyata bosen juga hiatus mulu, gak ngapa-ngapain. Hehehe. Akhirnya karena gak ada kerjaan, chapter 12 ini selesailah dalam 14 halaman word. Entah kenapa saya malah masukkin Papa Isshin disini—padahal rencananya enggak begitu. Ah, susah buat papa Isshin. Kayaknya saya malah bikin dia jadi OOC... Entahlah, kalo kerja malem-malem, otak jadi gampang error. And yes, I changed my name to Morte-Nekochan, sebagai tanda cintaku pada kucing. Those creatures are just too cute for their own good! *pelukkucing#dicakar
Maaf karena saya gak sempet bales review satu-satu. Tapi saya masih mengucapkan terima kasih pada semua orang yang menyempatkan diri membaca fic ini walaupun gak review. Just reading this and feeling happy makes me happy too. Jadi jangan sampek kalian baca ini dan kalian malah tambah pundung, okay? Just be happy! Saya janji, saya akan membalas review kalian setelah chapter ini dan seterusnya—selama saya bisa. Bagi yang review tanpa akun, kasih nama ya, supaya aku tahu harus manggil kalian siapa waktu aku bales review kalian di chapter yang akan datang.
Jangan lupa review! Ingat, reviews make authors happier and happy authors will update faster O(∩_∩)O! So please review. Reviewers will get a cracker each! Ada yang suka malkist rasa abon (my favorite food currently)? Kupikir mereka masukin zat adiktif ke dalam benda itu—seriously!
