Disclaimer Fujimaki Tadatoshi
WARNING: AU, OOC, Typo(s)
0
0
0
"Selamat pagi, Kagami-kun."
Kagami tidak menjawab sapaan Kuroko dan langsung duduk di kursinya. Pagi ini dia sebenarnya sangat malas untuk berangkat bekerja karena masih memikirkan komentar-komentar terhadapnya itu.
"Kagami-kun, kau kenapa?" tanya Kuroko, menghampirinya.
"Hah—oh tidak," balas Kagami mencoba tersenyum ke Kuroko.
Kuroko mengerutkan keningnya. Meskipun dia adalah aktor, tapi Kagami tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya kalau dia sudah terlalu sedih atau senang.
"Selamat pagi~"
Kuroko mengalihkan perhatiannya dari Kagami ketika mendengar sapaan riang dari Momoi yang baru datang dengan Aomine di belakangnya terlihat malas seperti biasa. Tapi ketika melihat Kagami, Aomine langsung terlihat bersemangat sedikit dan menyeringai kemudian menghampiri Kagami.
"Oi, Bakagami, ayo bermain game lagi. Tapi jangan menangis kalau kau kalah seperti kemarin," kata Aomine, merangkul pundak Kagami.
Kagami membalas hanya dengan menyingkirkan lengan Aomine.
Aomine mengerutkan keningnya. Tidak biasanya Kagami seperti ini. Dia pasti akan membalas dengan meneriaki Aomine dan menerima tantangan Aomine dengan berapi-api.
"Hey, Tetsu, Kagami kenapa?"
"Aku juga tidak tahu," jawab Kuroko.
"Oi, Bakagami—"
"Aku akan ke belakang sebentar." kata Kagami yang kelihatannya tidak mendengar perkataan Aomine.
Aomine dan Kuroko hanya bisa melihat kepergian Kagami dengan mengerutkan kening.
0
"Oke, good job untuk hari ini semuanya. Berhubung aku besok ada urusan di luar kota yang tidak bisa ditinggalkan kita libur satu hari untuk besok," Riko memberi pengumuman yang disambut dengan sorak sorai seluruh orang di set itu kecuali Kagami. "Tapi aku mengharapkan semua orang dalam keadaan terbaiknya untuk kembali bekerja dan aku tidak mau mendengar alasan apapun seperti terlalu mabuk sampai tidak tahu dirinya di mana."
Semua orang memandang Aomine.
"Cuma satu kali itu terjadi." kata Aomine enteng dan mengangkat bahu.
"Aomine-kun, aku tidak menerima alasan apapun. Kalau kau masih ingin melihat esok hari sebaiknya kau tidak macam-macam."
"O-oke." balas Aomine.
"Baiklah, kalian bisa kembali dan jaga kesehatan. Selamat malam, semuanya."
"Selamat malam, Kantoku."
Setelah semuanya sudah mengucapkan selamat malam atau mengucapkan sampai bertemu lagi, Kagami akan segera kembali ke apartemennya ketika tangannya ditahan.
"Bakagami, aku akan tidur di apartemenmu lagi." kata Aomine dan merangkul Kagami.
"Tidur di apartemenmu sendiri Ahomine," balas Kagami dan melepaskan dirinya dan rangkulan Aomine.
"Terlalu jauh, apartemenmu lebih dekat dan aku sudah ngantuk."
"Tch, whatever." Kagami kemudian berjalan untuk pulang diikuti Aomine di belakangnya.
"Kuroko, aku akan pulang." kata Kagami ketika dia bertemu dengan Kuroko.
"Ya, hati-hati Kagami-kun," balas Kuroko kemudian melihat Aomine yang mengikuti Kagami. "Eh, Aomine-kun ikut juga?"
"Ya, Kagami kesepian dan dia mengajakku ke apartemennya untuk menemaninya." jawab Aomine.
"Oh," balas Kuroko datar. "Jangan lupa kalian masih harus bekerja jadi jangan terlalu mainnya."
"Kuroko!" seru Kagami. "Dan jangan bicara yang tidak-tidak, Aho!" lanjut Kagami kemudian berjalan meninggalkan dua orang berambut biru itu.
"Oi Bakagami, tunggu!" kejar Aomine.
0
Aomine memandang Kagami yang sejak mereka pulang terus bermain dengan gawainya. Selama beberapa bulan ini dia bekerja bersama Kagami, Aomine tidak pernah melihat Kagami terlalu berlama-lama dengan gawainya. Tentu saja dia akan mengecek gawainya sewaktu-waktu tapi tidak akan selama ini. Aomine mengerutkan kening, apa yang sangat menarik sampai Kagami tidak menggubrisnya seperti ini.
"Oi Bakagami, aku lapar."
Kagami tetap mengabaikannya.
"Bakagami, kau dengar?"
"Oi Kagami…" Aomine menoel-noel pipi Kagami—yang Aomine tidak tahu kenapa—memerah.
"Kau menyebalkan, Ahomine!" Kagami menyingkirkan tangan Aomine di pipinya dan memelototinya.
"Aku lapar." kata Aomine.
"Lalu?"
"Kau 'kan bisa masak atau apa itu, jadi buatkan aku makanan."
"Aku bukan maid-mu!"
"Tentu saja bukan," Aomine kemudian memandang Kagami dan menyeringai. "Meskipun aku akan senang melihatmu memakai pakaian meido."
"Pervert!" kata Kagami dan meninggalkan Aomine.
"Hei, bagaimana makananku?" tanya Aomine yang sebenarnya tidak mengerti perkataan Kagami.
"Tidak tahu!" seru Kagami.
"Tsk." decih Aomine. Dia kemudian mengambil gawainya dan mencari nomor delivery restoran cepat saji untuk memesan makanan.
30 menit kemudian pesanannya sudah sampai dan Aomine sudah mulai memakannya, Kagami masih belum kembali. Meskipun begitu, Aomine tidak menghiraukannya dan berpikir mungkin Kagami sudah tidur. Tapi keasyikannya terganggu karena gawai berwarna merah Kagami yang ketinggalan kerap kali berbunyi. Aomine tahu tidak sopan melihat-lihat barang pribadi seseorang tapi dia menjadi penasaran juga kenapa gawainya Kagami selalu berbunyi. Mungkin ini alasan kenapa dari tadi Kagami selalu mengabaikannya.
Aomine kemudian meletakkan ayam gorengnya yang masih separuh ke dalam kotaknya dan mengambil gawai Kagami yang ditinggalkan di meja. Dia benar-benar menyeka tangannya sampai bersih yang sebelumnya terkena minyak dari ayam gorengnya agar tidak meninggalkan jejak di gawai Kagami. Seperti yang sudah dia duga, Kagami memberikan kata sandi pada gawainya. Aomine berpikir sejenak apa yang memungkinkan dipakai Kagami sebagai kata sandinya dan untungnya dia bisa menebaknya pada percobaan ketiga. Dia langsung masuk ke aplikasi Twitter yang sepertinya Kagami lupa untuk me-log out akunnya. Ternyata yang membuat gawainya berbunyi terus-menerus dari tadi adalah dia mendapat banyak mention dari followers-nya. Beberapa mention adalah mengomentari unggahan baru Kagami yaitu foto terbarunya ketika dia sedang wawancara dengan salah satu majalah remaja. Dan layaknya penggemar, banyak yang mengomentari betapa tampan atau lucu atau manis atau imutnya Kagami dan banyak juga yang berkata sudah tidak sabar ingin membaca wawancara Kagami itu.
Tapi yang membuat Aomine mengerutkan keningnya adalah beberapa komentar yang terkesan menyerang Kagami.
"Jelek!!!"
"Kenapa orang ini masih bertahan aku tidak tahu, dia tidak bisa berakting sama sekali."
"Hanya orang bodoh dan tidak bisa melihat yang masih nge-fans :P"
"Padahal dia tidak tampan dan gendut tapi kenapa dia bisa bermain di dorama bagus seperti ini?!"
"Petisi untuk Dai-chan agar berhenti bermain dengan Kagami!!!"
"Apa-apaan ini," gumam Aomine ketika melihat komentar-komentar jahat lain yang ditujukan pada Kagami. Dia melihat banyak juga yang menyebutkan namanya, mereka bilang Aomine tidak seharusnya berakting dengan Kagami atau Kagami tidak pantas bermain dengan aktor populer seperti Aomine atau Autumn Lights harusnya menyuruh aktor lain yang bermain selain Kagami dan lain-lain.
Aomine yang penasaran kemudian mencari tahu ke akun-akun yang membenci Kagami itu dan setelah beberapa menit stalking dia dapat kesimpulan kalau haters-nya Kagami itu sebenarnya hanya troll yang mungkin kekurangan kasih sayang di hidupnya. Aomine pernah diberitahu Momoi kalau penggemarnya adalah orang-orang yang sangat protektif yang berarti mereka akan sangat pemilih dengan siapa Aomine akan bekerja sama. Dan kenyataan bahwa mayoritas orang-orang yang menyerang Kagami adalah fans-nya membuat Aomine malu dan menjadi segan pada Kagami.
"Ini benar-benar bodoh," gumam Aomine saat dia tetap membaca cuitan-cuitan yang menyerang Kagami. Dia mengecek lagi dan melihat fanwar yang terjadi antara penggemarnya dan orang-orang yang menyebut mereka sebagai AoKa shipper.
"Apa lagi ini?" Aomine tidak tahu apa artinya itu dan setelah mencari tahu karena kepo, dia akhirnya tahu kalau itu adalah bagaimana penggemar menyebut diri mereka yang meng-coupling-kan Kagami dengan dirinya.
"Oh AoKa itu dari Aomine dan Kagami," Aomine mengangguk-angguk paham. "Apa yang orang-orang ini makan sampai membuat mereka bisa berpikir seperti ini aku tidak akan tahu."
Aomine melihat penggemarnya menuduh kalau orang-orang yang meng-coupling-kan dirinya dan Kagami adalah orang-orang yang mempunyai halusinasi parah dan delusi tingkat tinggi dan butuh dokter untuk menyebuhkan khalayannya sementara orang-orang yang meng-coupling-kan dirinya dan Kagami bersikukuh kalau Aomine dan Kagami benar-benar berkencan karena mereka mempunyai bukti yang dapat dipercaya dan Aomine berpikir kalau kedua kubu butuh keluar rumah untuk menjernihkan pikiran.
"Aku harus minta maaf pada Kagami," Aomine bergumam. "Tapi sembunyi-sembunyi."
Aomine langsung meletakkan gawai Kagami ke tempatnya ketika dia mendengar pintu kamar Kagami terbuka dan mengambil ayam gorengnya lagi dan berakting sedang memakan ayam gorengnya selama 10 menit dan tidak "membajak" gawai Kagami.
"Aku melupakan hape-ku," kata Kagami dan mengambil gawainya. "Oh, kau sudah membeli makan malam? Aku akan membuat makan malam untuk diriku sendiri kalau begitu."
"Ap--hey!" Aomine protes. "Kenapa kau tidak bilang kalau akan memasak?"
"Aku tidak perlu memberitahukanmu apapun," jawab Kagami.
"Tentu saja kau harus kalau itu menyangkut makan malamku."
"Sudah untung aku memperbolehkanmu menginap di sini dan tidak menendangmu keluar." kata Kagami dan meninggalkan Aomine untuk membuat makan malam.
"Tch, Bakagami."
Ketika Kagami sudah meninggalkannya, Aomine ganti mengeluarkan gawainya. Dia kemudian membuka akun twitter-nya sendiri dan melihat-lihat linimasanya sebentar. Karena dia dan Kagami sudah saling mengikuti masing-masing akun, dia bisa melihat unggahan terbaru Kagami pada linimasanya. Dia kemudian me-retweet serta meng-quote unggahan Kagami. Di quote-nya dia menuliskan "Looking good (emojitersenyum) (emojijempol)"
"Ya, ini sudah cukup bagus kelihatannya."
Setelah Aomine menyelesaikan memakan ayam gorengnya, dia menghampiri Kagami di dapur yang masih memasak. Gyoza dan ramen yang dibuat Kagami kelihatannya enak tapi karena dia sudah kenyang dia harus menahan nafsunya.
"Oi Kagami, besok kau ikut aku ke taman bermain yang baru buka itu." kata Aomine yang memasuki dapur dan tanpa izin mengambil soda kalengan dari lemari es Kagami.
"Hah?" Kagami bertanya bingung karena Aomine tiba-tiba mengajaknya (lebih tepatnya menyuruhnya) untuk ke taman bermain bersama.
"Aku mendapat dua tiket masuk dari Satsuki dan karena besok libur kita bisa ke sana bersama," lanjut Aomine meminum sodanya dan membuang kalengnya ke tempat sampah ketika sodanya sudah habis. "Kau besok harus bangun pagi."
"Jangan seenaknya membuat rencana sendiri!" Kagami protes.
"Aku akan tidur sekarang, selamat malam." kata Aomine seakan tidak mendengar protes Kagami.
"Dasar aho!" Kagami bersungut-sungut dan duduk untuk memakan makan malamnya. "Seenaknya saja dia menyuruh-nyuruh seperti itu. Lihat saja aku tidak akan bangun besok pagi." Kagami mengomel sambil menyumpit banyak-banyak ramennya dan memasukkannya ke mulutnya.
Kagami yang masih setengah jalan memakan makan malamnya harus berhenti karena gawainya berbunyi terus-menerus karena notifikasi. Dia kemudian membuka akun Twitter-nya dan melihat Aomine yang me-retweet dan meng-quote unggahan terbarunya. Kagami merasakan pipinya menghangat ketika membaca quote Aomine di unggahannya yang memujinya dan balasan followers-nya yang bisa dibilang menggila dengan memenuhi memenuhi kolom komentar dengan komentar-komentar tidak kalah gila.
"What the…" Kagami bergumam penuh kebingungan dengan apa yang sedang terjadi pada linimasa akun media sosialnya.
0
Kagami mengerutkan keningnya ketika melihat Aomine masih tertidur nyenyak di ruang tamunya tanpa ada tanda-tanda kalau dia akan segera bangun. Sangat kontras dengan Kagami yang sudah mandi dan wangi dengan outfit kaos berwarna putih yang ditambah dengan jaket tipis belang-belang hitam putih yang dibiarkannya terbuka serta celana berwarna hijau kecokelatan. Ini bukannya Kagami terlalu bersemangat akan "berkencan" dengan Aomine di taman bermain tapi dia sebenarnya ingin bertanya apa maksud Aomine di Twitter kemarin malam. Dan oke, dia memang sedang ingin bermain untuk melepaskan jenuh, apalagi dia mendapat tiket masuk gratis, Kagami bukan orang yang akan menolak apapun yang diberikan padanya apalagi secara cuma-cuma.
Kagami kemudian menendang ranjang yang digunakan tidur Aomine dengan sangat keras dan berteriak. "Bangun!"
"Wa--eh--he--wa!" Aomine terbangun secara kaget.
"Bangun, sekarang sudah jam sembilan!"
"Lima menit lagi," gumam Aomine dengan suara serak dan kembali menidurkan tubuhnya.
Kagami menghela napas kemudian melihat gelas berisi air di meja nakas di samping ranjang. Dia kemudian mengambilnya dan tanpa perasaan menumpahkannya ke kepala Aomine yang membuatnya terbangun dengan kaget untuk kedua kalinya.
"Cepat bangun, saranpanmu akan dingin." kata Kagami dan keluar dari kamar untuk menuju dapur.
Kurang lebih 15 menit kemudian, Aomine menghampiri Kagami dengan sudah mandi. Aomine mengenakan kaus berwarna putih yang dimasukkan pada celananya kemudian ditambahkan dengan jas kasual berwarna biru yang lengannya dia gulung sampai sikunya. Betapapun menyebalkannya Aomine, Kagami mengakui kalau Aomine tampan. Tidak heran kenapa dia bisa sangat populer karena selain visualnya, Aomine juga mempunyai bakat berakting yang bagus.
"Kau tidak perlu menyiramku dengan air seperti itu, kau pikir aku tanaman yang harus disiram di pagi hari? Kupingku sampai kemasukan air." komplain Aomine dan duduk di depan Kagami untuk memakan sarapannya yang sudah disiapkan Kagami yaitu french toast dengan telur sunny side up dan sosis goreng.
"Bukan urusanku," jawab Kagami. "Cepat makan sarapanmu, aku tidak mau antre nanti kalau masuk ke taman bermainnya."
"Oh kau kedengarannya tidak sabar sekali ingin berkencan denganku," kata Aomine sambil menyeringai.
Kagami mengerutkan keningnya. "Aku pikir kau sudah bangun, ternyata kau masih bermimpi."
"Heh."
"Aku bilang juga apa, sudah banyak yang antre kan," omel Kagami ketika akhirnya mereka sampai pada taman bermain dan sudah ada antrean pada pintu masuk.
"Berhenti menjadi drama queen, di depan cuma ada sepuluh orang." balas Aomine dan memimpin berjalan untuk menukarkan tiket masuk agar mereka bisa masuk.
"Tetap saja." gerutu Kagami dan mengikuti Aomine.
Setelah 5 menit mereka mengantre akhirnya mereka bisa masuk ke dalam taman bermain. Karena taman bermain ini masih baru dan karena sekarang bukan akhir pekan, pengunjung yang datang tidak seberapa jadi mereka bisa puas berkeliling tanpa harus bersenggolan dengan orang lain. Kagami melihat hanya beberapa pengunjung dan tidak sampai ramai.
"Aku ingin naik itu," kata Aomine dan menunjuk kincir ria dengan beberapa pengunjung yang menunggu untuk naik pada sesi selanjutnya.
"Aku tidak ingin naik itu," balas Kagami.
Aomine mengerutkan keningnya kemudian menarik tangan Kagami untuk ikut mengantre.
"Jangan tarik tanganku!" kata Kagami mencoba menarik tangannya. Tapi dia tidak ingin terlalu menarik perhatian karena Kagami yakin pasti bakal ada 1 atau 2 orang yang akan mengenali mereka dan Kagami tidak ingin ada gosip baru di antara mereka.
"Nah," Aomine menempatkan Kagami di depannya ketika mereka mengantre dan dia memegang pinggang Kagami dengan kedua tangannya untuk mencegah Kagami untuk kabur.
"Kenapa kau ingin naik ini, memangnya kau lima tahun?" dia bisa merasakan pipinya memerah dengan posisi yang dibuat Aomine saat ini jadi untuk menyembunyikan rasa malunya, Kagami memilih untuk insult.
"Memangnya yang boleh naik ini cuma anak lima tahun?" balas Aomine dan dengan tidak sengaja meremas pinggang Kagami yang membuat Kagami melonjak sedikit.
"Lalu kenapa kau mengajakku?" Kagami bertanya lagi.
"Kau mau hanya diam saja menungguku?"
"Kata siapa aku akan menunggumu, aku bisa saja kembali pulang."
"Kau tahu 'kan aku yang membawa kunci mobil, kau mau pulang dengan apa? Dan kita berdua tahu kau tidak tahu jalan kecuali daerah sekitar apartemenmu, kau mau tersesat?"
"Tsk," Kagami yang tidak tahu harus mengeluarkan argumen apa lagi hanya bisa mendecih dan menatap ke depan antrean.
Beberapa menit mereka mengantre, akhirnya sesi mereka untuk menaiki kincir ria tiba. Untung tempat kincir itu besar sehingga bisa muat untuk 2 orang dewasa dengan tubuh besar seperti mereka. Aomine dan Kagami duduk berhadapan di dalam kincir dan Kagami melihat pemandangan ketika kincir itu mulai bergerak. Well, pemandangan dari atas sangat bagus jadi Kagami tidak bisa berlama-lama kesal pada Aomine.
Seperti kincir ria pada umumnya, kincir ria ini akan berhenti beberapa saat ketika mereka berada di paling atas untuk memberi kesempatan kepada pemumpang untuk mengamati pemandangan dari atas. Kagami melihat Aomine yang mengambil beberapa gambar dengan gawainya dan itu jadi mengingatkan Kagami akan sesuatu.
"Aomine," panggil Kagami.
"Hn?" Aomine menjawab tapi masih fokus untuk mengambil gambar.
"Aku ingin bertanya,"
"Ya?"
"Em…" Kagami memulai. "Kenapa kau me-retweet dan meng-quote fotoku? Di twitter."
Kali ini Aomine memasukkan gawainya ke kantong dan menatap Kagami. "Kau tidak mau? Dengan begitu aku memberimu free promo jadi kau bisa mendapatkan lebih banyak RT dan likes."
"Aku tidak butuh itu darimu!" balas Kagami sedikit tersinggung.
Aomine tertawa kecil. "Aku ingin mendukungmu."
"Hah?"
"Kau tahu aku sudah cukup lama di dunia ini, dan aku tahu baik buruknya mempunyai profesi di dunia ini. Apapun yang kau lakukan pasti akan menjadi bahan pembicaraan kalau kau terkenal. Dan hal sekecil apapun yang kau lakukan yang menurut mereka salah pasti mereka akan memberikan feedback negatif padamu. Kau mungkin merasa kau tidak melakukan kesalahan apapun dan kau mungkin merasa segala komentar negatif yang ditujukan padamu tidak adil tapi itulah risiko di dunia ini. Dan percayalah aku juga pernah mengalami hal-hal seperti itu," kata Aomine panjang lebar. Dia mengalihkan pandangannya dari Kagami dan ganti memandang pemandangan dengan nostalgia. "Tapi kau harus ingat, dari setiap satu komentar negatif ada beberapa komentar positif untukmu dari orang-orang yang benar-benar mendukungmu dan kau harus bertahan untuk orang-orang itu. Selain itu, kau juga mempunyai orang-orang terdekatmu yang benar-benar menyanyangimu jadi jangan terlalu pikirkan apa yang orang-orang asing anonim di internet katakan."
Kagami membelalakkan matanya dengan kaget. Apakah Aomine tahu tentang apa yang terjadi padanya dengan hate message yang didapatkannya selama ini? Tapi dia bahkan tidak memberitahu Kuroko jadi dari mana Aomine bisa tahu? Tapi kata-kata Aomine memberikannya sedikit kekuatan untuk menghadapi masalahnya.
"T-Thanks," balas Kagami dengan suara kecil bersamaan dengan kincir ria yang kembali bergerak.
Selanjutnya mereka mencoba beberapa permainan yang ada pada taman bermain itu. Ketika mereka melewati stand permainan, Aomine mengajak Kagami berhenti pada stand memasukkan bola basket untuk mendapatkan hadiah.
"Aku bertaruh, aku bisa memasukkan semua bola basket itu tanpa ada satu pun yang meleset," kata Aomine dan membayar untuk bermain selama 30 detik memasukkan bola basket ke keranjangnya.
"Arrogant bastard," gumam Kagami. "Kalau kau tidak bisa melakukan itu kau harus membelikanku tiga puluh sushi kalau pulang nanti."
"Itu tidak akan terjadi," balas Aomine sambil menyeringai.
Ada 3 bola dan satu keranjang yang harus dimasukkan selama 30 detik. Penjaga kemudian menyalakan mesin agar bola-bolanya keluar dan Aomine bisa memasukkannya ke dalam keranjang. Dengan tanpa mengeluarkan keringat, dengan mudah Aomine memasukkan setiap bola ke dalam keranjang. Kagami tidak sadar membelalakkan matanya dan mulutnya terbuka karena secara praktis, Aomine bisa memasukkan bola setiap detik. Damn, apa sih yang tidak bisa dilakukan Aomine, orang ini sepertinya bisa melakukan segala hal, Kagami mengutuk di dalam hati.
"Woah Tuan, kau hebat sekali!" kata penjaga yang juga tak kalah takjub dengan Aomine.
"Itu hal yang gampang." balas Aomine.
Kagami mengerutkan keningnya, oke Aomine memang bisa melakukan apapun tapi tetap saja egonya setinggi gunung Everest.
"Kau boleh mengambil hadiah apa saja," kata penjaga dan menunjuk rak di belakangnya yang berisi berbagai jenis hadiah.
Aomine memikirkan dulu hadiah yang diinginkannya kemudian dia menunjuk posisi rak yang paling atas. "Aku mau itu."
"Oh ini hadiah yang menurutku kurang cocok untukmu, Tuan." kata penjaga mengerutkan keningnya tapi tetap saja mengambilkan hadiah yang ditunjuk Aomine yaitu boneka macan berwarna kuning kecokelatan dengan ukuran 60 cm.
"Oh ini bukan untukku, ini untuk dia." kata Aomine dan memberikan bonekanya ke Kagami.
"A-Apa? Aku tidak mau!" balas Kagami kaget ketika tiba-tiba Aomine menyodorkan boneka macan besar itu padanya.
"Tidak baik menolak pemberian orang lain." kata Aomine yang sedang mengambil gawainya dari saku celananya. "Kagami, kau ke sana aku akan memfotomu."
"Jangan seenaknya suruh-suruh!" Kagami tidak sudi akan diambil gambarnya oleh Aomine.
"Oh seperti itu juga tidak apa-apa, aku yakin penggemarmu akan berkata betapa lucunya Kagami-kun ngambek dengan membawa boneka macan imut." balas Aomine dan bersiap akan mengambil gambar Kagami yang memang sedang mengerucutkan bibirnya dengan mendekap boneka macannya.
"Jangan berani-berani!" seru Kagami dan segera membawa boneka macannya dengan satu tangannya.
"Cepat ke sana aku lapar." kata Aomine tidak sabar.
"Tidak mau!"
"Oke, kalau begitu aku akan mengunggah fotomu yang tadi."
"Kau tidak akan!"
"Kau mau bertaruh?"
"Tsk, baiklah!" akhirnya Kagami menuruti Aomine dan berpose di tempat yang diinginkan Aomine.
"Nah kalau seperti ini 'kan lebih mudah untuk kita berdua." kata Aomine setelah mengambil gambar Kagami. "Aku akan mengunggahnya di Twitter."
"Jangan bikin yang aneh-aneh!" Kagami memberi peringatan dan memperhatikan Aomine yang sedang mengetik sesuatu. Dia kemudian mengambil gawainya yang berbunyi dan melihat unggahan Aomine.
Kencan ;P @taiga_kagami
Dengan fotonya Kagami yang sedang memeluk boneka macan dan tersenyum lebar sampai matanya terpejam dengan latar belakang kedai-kedai yang berjejer menjajakan makanan dan permainan.
"Apa-apaan caption itu!" protes Kagami.
"Ya, memangnya bakal ada yang percaya kalau kita benar-benar berkencan? Lagian kita memang tidak benar-benar berkencan. Sudahlah aku lapar." balas Aomine kemudian berjalan menuju kedai takoyaki di depan.
"Fucking idiot." gumam Kagami dan mengikuti Aomine untuk membeli takoyaki.
"Ngomong-ngomong kau hebat sekali bisa memasukkan bola tadi." kata Kagami ketika mereka sudah mendapatkan takoyaki dan duduk untuk memakannya. Mereka sampai harus mengambil kursi 1 lagi sebagai tempat untuk boneka macan yang Aomine beri nama "Taiga" dengan protes dari Kagami.
("Itu namaku!"
"Tidak, itu macan dalam bahasa Inggris."
"Macan dalam bahasa Inggris adalah tiger bukan taiga."
"Aku tidak bisa mengucapkannya dengan benar jadi namanya adalah Taiga.")
"Aku sudah bermain basket sejak kecil," jawab Aomine dan menusuk takoyaki-nya. "Dan bukan bermaksud menyombong tapi sejak SMP sampai SMA aku menjadi ace dan selalu membuat timku menang."
"Aku tidak mengerti kenapa kepalamu tidak sebesar balon udara sekarang dengan perkataan pamermu itu." Kagami memberikan komentar.
"Bukan pamer kalau memang kenyataan." balas Aomine.
Kagami mendengus. "Aku juga sering bermain streetball dulu waktu di Amerika jadi aku yakin aku bisa menendang bokongmu."
"Sekarang siapa yang pamer?" Aomine menyeringai. "Buktikan pada one-on-one kapan-kapan."
"Deal." balas Kagami.
Setelah mereka memakan takoyaki mereka, mereka bermain beberapa wahana dan permainan lagi sebelum memutuskan untuk kembali pulang karena Aomine mendapatkan panggilan dari Momoi karena katanya ada pekerjaan yang harus didiskusikan. Aomine kemudian mengantarkan Kagami dan boneka macan Taiga ke apartemennya.
"Thanks." kata Kagami dan keluar dari mobilnya Aomine.
"Kagami, tunggu!"
Kagami berhenti berjalan ketika mendengar panggilan Aomine dan Aomine yang menghampirinya. Aomine berhenti tepat di depannya dan di jarak sedekat ini Kagami harus agak mendongakkan kepalanya untuk melihat Aomine.
"Aku… aku menikmati tadi dan tadi sangat menyenangkan…" kata Aomine sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya. "Sankyu."
"A-aku juga," balas Kagami. Aomine yang bertingkah gugup tidak seperti dirinya biasanya yang sangat percaya diri membuat jantung Kagami berdetak cepat dan membuatnya gugup juga. "Terima kasih."
Aomine tersenyum. Bukan senyuman meremahkan atau menyeringai menyebalkan seperti biasanya tapi benar-benar tersenyum tulus ke Kagami. Kagami dapat merasakan Aomine memajukan tubuhnya dan Kagami mengantisipasi. Dia tidak tahu apa tepatnya yang dia antisipasi tapi melihat Aomine yang menyondongkan tubuhnya membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Setelah mereka sudah sangat dekat, Aomine seperti bingung akan melakukan apa dan dia memejamkan matanya sebelum melangkahkan kakinya ke belakang dan memberikan jarak pada Kagami.
"Uhh… aku akan kembali kalau begitu." katanya.
"O-oke." jawab Kagami dan melihat Aomine berbalik badan dan kembali memasuki mobilnya untuk pulang.
Kagami menghembuskan napas panjang dan memasuki apartemennya.
0
0
0
A/N: heloooooooo~
Ada yang masih ingat cerita ini atau aku nggak? Ehehehhe. Aku lupa terakhir kali update kapan ya XD. Anyway, ini sebenarnya bagian awal udah aku tulis beberapa bulan yang lalu tapi nggak ada waktu buat ngelanjutin jadi kalau ada yang mau baca dan lupa cerita sebelumnya gimana (karena terakhir kali aku update ini juga lupa kapan XDD) bisa dibaca lagi atau nggak dibaca juga nggak papa sih, no pressure~ ;)))
Oh ya setiap dapet email dari wattpad kalau ada follower baru aku jadi ngerasa bersalah banget, soalnya nggak ada update apa-apa dan nggak ada cerita baru XD jadi maaf yang kalau ada yang follow terus expect update-an cepet itu tidak dapat terjadi /slap XP
Oh ya ini masih hawa-hawa lebaran jadi mohon maaf lahir batin ya m(_ _)m maaf kalau ceritanya nggak jelas, ooc, update lama dan itu semua XD selamat lebaran~ bagi THR dong XD
