Sebelum lanjut aku bales reviews dulu :)
guilliano : nih..udah chap kedua, wajib review cerita ya :D
Chaos Seth : kok manggil senpai sih? arigatou reviewnya :)
Shinichi Kudo 44 : arigatou reviewnya Shin...ngebet banget nikah sama Ran. Kemaren aja bilangnya masih SMA ¬_¬
Re-1Kudo : smoga tambah penasaran k chapter selanjutnya #eh :)
Psychrocer : haha..udah aku update nih :)
YuraKudoKiddo : arigatou reviewnya..alur emang sengaja aku buat gitu, di chapt ini ntar jelas kok ;) , gomen kalo ada typo ya -.-v ga sempet cek ulang
Tidak Seburuk yang Kukira (chapter 2)
By : The Night Baroness
Detective Conan ~ Aoyama Gosho
catatan : gomen kalo ceritanya tdk sesuai harapan -_-" , gomen kalo ada typo ya..
FLASHBACK
...4 jam yang lalu
"Pasti Ibu tadi bicara macam-macam." Ucap Shin.
"E-enggak kok."
"Bohong."
"Ah..biarin." Ran mempercepat langkahnya meninggalkan Shin.
"Oi..Ran!" Shinichi segera menyusul. "Maaf maaf." Ran tetap diam.
"Ran..maaf.." ucap Shinichi dengan mengatupkan kedua telapak tangannya memohon.
"Iya..iya..wek" Ran menjulurkan lidahnya.
"Dasar kau ini, bikin orang khawatir." gumam Shinichi.
"Eh..lucu." ucap Ran.
"Aku minta maaf kau bilang lucu?"
"Bukan kau Shin, tapi itu tuh.." Ran menunjuk seekor kucing persia yang sedang menjilati tubuhnya dipinggir jalan.
"Ehh? Kucing?" Shinichi terlihat bingung.
"Pus..kitty kitty.." Ran berlari mendekati kucing itu.
TIINN..TIINN.. sebuah mobil fortuner melaju kencang kearah Ran yang sedang memungut kucing itu.
"RAANNN!" Shinichi berusaha menarik Ran.
BRUUKK... mereka terjatuh di bahu jalan dengan posisi Ran memeluk kucing tadi, sedangkan Shinichi memeluk Ran. *eh?* -.-v
"Kau baik-baik saja Ran?" Shinichi masih dalam posisinya.
"I-iya..maaf Shinichi."
"Syukurlah.." Shinichi berusaha bangun dan duduk dihadapan Ran.
"Kalian tidak apa-apa anak muda?" Gerombolan orang-orang yang menyaksikan kejadian tadi mulai mengelilingi mereka.
"Sopir gila!"
"Orang kaya sombong!"
"Gue sumpahin tu sopir ambeyen tujuh hari tujuh malem!" *apa hubungannya?* -.-v
Begitulah kira-kira umpatan para warga.
"Kami baik-baik saja." Ucap Shinichi dengan berdiri.
"Kamu yakin?" Tanya seorang pria.
"Ya.." Jawab Shin mantap.
"Baiklah, lain kali hati-hati ya."
"Iya..terima kasih sarannya." Shinichi sedikit membungkuk. Gerombolan itupun segera hilang satu per satu .
"Shinichi..." panggil Ran dalam posisi masih terduduk.
"Huh..kau ini, lain kali hati-hati. Bikin khawatir!" Gumam Shin sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Ran berdiri.
"Maaf Shin...ini salahku." Ran menerima uluran tangan Shin.
"Argh.." umpat Shin.
"Ehh..Shinichi, tanganmu berdarah!" Ran panik melihat lengan seragam Shinichi robek dan mengeluarkan darah.
"Tidak..Cuma luka kecil." Shinichi berusaha menutupi lengannya.
"Mana mungkin ini luka kecil!" Ran menarik lengan Shinichi dengan paksa.
"Argh.."
"Ma-maaf.." Ran melepas genggamannya.
"Kucing itu akan kau apakan?" Shinichi mengalihkan pembicaraan.
"Hah? Oh iya..mungkin akan kuberikan pada Ibu. Ibu suka kucing." Ran tersenyum bangga.
"Oi..oi..tapi kucing itu ada pemiliknya. Coba kau lihat kalung yang dipakai kucing itu." Ucap Shinichi.
"Kalung?" Ran berusaha mencari benda yang dimaksud Shinichi. "Hakuba." Ran membaca tulisan di kalung itu.
"Hakuba?" Pikir Shinichi.
"Shin..kau kenal Hakuba?"
"Emm..aku kurang yakin."
"Oh..lalu bagaimana kucing ini?"
"Kita serahkan Detektif Takagi, biar dia yang mencari pamilik kucing ini." Shinichi berjalan menuju halte bus terdekat. Mereka menaiki bus menuju kantor Detektif Takagi.
"Shin..bagaimana lenganmu?" Ran terus memperhatikan lengan Shinichi yang berdarah.
"Tidak apa-apa."
"Tapi.."
"Aku bilang tidak apa-apa kan? Sudahlah jangan dipikirkan, Ran."
"Tapi.."
"Ssstt..bagaimana kalau kau diam dan menjadi bantalku. Semalam aku kurang tidur." Shinichi bersandar di bahu Ran dan memejamkan matanya.
"Ehh? Shinichi!" Ran terkejut.
"Sstt..aku butuh tidur sebentar." Shinichi tetap menutup matanya.
"Ta-tapi kan..." Wajah Ran langsung memerah. Ran pun berhenti protes dan diam mematung. Selama perjalanan Ran terus menatap keluar jendela agar Shinichi tidak bisa melihat semburat warna merah di wajahnya sekarang. Tak lama mereka tiba di kantor Detektif Takagi, Ran menyerahkan kucing itu, lalu mereka kembali menuju sekolah.
Jam di tangan Ran menunjukan 06.59 sedangkan mereka masih 50 meter jauhnya dari gerbang sekolah.
"Shinichi..tinggal satu menit dan kita pasti akan terlambat." Ran khawatir.
"Yasudah..kita terlambat aja." Ucap Shinichi enteng.
"Hah? Kok gitu sih?"
"Tuh..ada beberapa anak yang berdiri di luar gerbang, tandanya gerbang telah ditutup kan?" Shinichi menunjuk gerombolan anak yang berseragam sama dengan mereka.
"Huaaa...kita telat Shinichi..." Ran terlihat kecewa.
"Tenang, kita tidak akan dibunuh karena satu kali terlambat kok."
"Isshh..garing tauk."
"Hahaha.."
Kemudian jadilah mereka dihukum hormat bendera di lapangan basket. Sedangkan murid lain karena lebih dari dua kali terlambat diberi hukuman berlari keliling lapangan sepak bola 10x.
.
Flashback end~
.
"Ran..oi..Ran..." Panggil Shinichi saat tiba di UKS.
"Umm.." Ran sedikit membuka matanya.
"Syukurlah kau sadar Ran." Sonoko langsung memeluk Ran yang terbaring di salah satu ranjang UKS.
"Aww..Sonoko, kau berat." Rintih Ran.
"Ahh..gomen gomen.." Sonoko berdiri disamping Shinichi.
"Kok aku disini sih?" Tanya Ran setelah sadar seutuhnya.
"Tadi di lapangan kamu pingsan Ran. Lalu Shinichi yang menggendongmu kesini." Jelas Sonoko.
"Pingsan? Masa sih?"
"Dasar anak ini, udah pingsan..keras kepala pula." Sindir Sonoko.
"Hehe..gomen deh Sonoko." Ran meminta maaf.
"Oh..Ran udah bangun?" datang menhampiri Ran.
"Iya, sensei..arigatou." Ucap Ran.
"Douitashimashita..harusnya kamu makasih ke Shinichi sama Sonoko. Satu jam mereka nungguin kamu bangun Ran." Jelas .
"Sa-satu jam?" Ran terlihat tidak percaya.
"Tapatnya satu jam dua puluh empat menit tiga puluh detik.." Lanjut Shinichi.
"Ah..go1men gomen.." Ran langsung terduduk di atas ranjang. "Aww.." Ran memegangi kepalanya.
"Hati hati Ran.." Ucap . "Kamu belum sembuh total, kamu kecapekan. Lebih baik hari ini kamu istirahat di UKS."
"Ta-tapi sensei.." Ran berusaha menolak.
"Udahlah Ran, ikuti saja Araide-sensei." Potong Sonoko.
"Tapi Sonoko..."
"Akan kutemani." Potong Shinichi.
"Shinichi..."
"Ciiee~~ Suaminya gak ikhas ninggalin istri sendirian." Goda Sonoko.
"Sonoko!" Wajah Ran mulai memerah.
"Baiklah Kudo juga disini karena lengannya masih terluka. Sensei tinggal sebentar ya." keluar UKS.
"Oke deh, aku balik ke kelas. Selamat honey moon di UKS ya." Sonoko berlari keluar UKS.
Suasana canggung langsung menyelimuti keduanya. Shinichi duduk di tepi ranjang dan membelakangi Ran.
"Maaf ya Shinichi, aku terus merepotkanmu." Ucap Ran.
"Tidak, Ran. Aku tidak pernah direpotkan olehmu." Shinichi tidak menoleh.
"Tapi aku selalu membuatmu susah."
"Sekalipun tidak pernah, Ran." Shinichii tersenyum untuk meyakinkan.
"Shinichi.." Air mata Ran mulai membasahi pipinya.
"Oi..oi..kenapa menangis?" Shinichi panic dan segera menghapus air mata itu dengan ibu jarinya.
"Heii..kaliang sedang apa?" Teriak seseorang dari ambang pintu UKS.
"Hah?" Shinichi terlihat bingung dengan kehadiran orang itu. "Kau siapa?"
"Kau sendiri siapa? Membuat wanita menangis itu banci!" Pria itu mendekat. Pria yang mengenakan seragam seperti mereka kini berdiri tepat di hadapan mereka.
"Aku Kudo. Siapa kau? Tuan ikut campur." Sindir Shinichi.
"Oh..jadi kau yang bernama Kudo. Orang yang selama ini menggantungkan perasaan Ran?" Orang itu tak kalah menindir.
"Maksudmu?" Shinichi terlihat bingung.
"Bukankan selama ini kau tidak pernah menjawab perasaan Ran padamu? Itu menggantung perasaan orang kan?"
"Hah? Menjawab perasaan Ran? Bagaimana aku tahu perasaan dia jika Ran tidak pernah mengatakannya padaku."
"Detektif bodoh! Kau itu pria! Punya harga diri kan? Kenapa menunggu wanita yang mengatakan lebih dulu? Bodoh!"
"Oi..oi..itu bukan urusanmu, Hakuba-san." Ucap Shinichi santai.
"Heh..jadi kau sudah tau siapa aku?" Hakuba tersenyum puas.
"Iyalah..name tag nempel tuh di dada lu, bego! "
"Name tag?" Hakuba melirik dadanya. "Bakka!" Umpatnya.
"Kamu Hakubba?" Ran memberanikan diri angkat bicara.
"Ehem..perkenalkan, aku Saguru Hakuba. Murid pindahan di kelas 2A." Hakuba mencim punggung tangan kanan Ran. Ran terkejut, hal itu membuat wajahnya kembali memerah. Belum pernah ada yang berani mencium tangannya. *kecuali Kaito Kid* . Diam-diam Shinichi mengepalkan telapak tangannya karena kesal.
"Eh..a-aku.." Ran tergagap.
"Aku tahu siapa dirimu putri..." Potong Hakuba.
"Hah?" Ran bingung.
"Kau adalah putri yang khusus diciptakan untuk pangeran sepertiku. Ran Mouri..." Saguru masih menggenggam tangan Ran.
"Oi..oi..drama selesai, sebaiknya kau kembali ke kelasmu." Sindir Shinichi.
"Aku akan disini menemani putri Ran." Hakuba tidak mengindahkan perkataan Shinichi.
"Kau.." Shinichi berusaha menekan amarahnya.
"Em..Hakuba.." Ran kembali berbicara.
"Panggil aku Saguru." Potongnya.
"Eh..umm..Sa-Saguru.." Ran sedikit canggung karena langsung memanggil namanya.
"Iya..putri."
"Kau bisa melepaskan tanganku?" Ran melirik tangannya yang masih di genggaman Saguru.
"Sesuai perintah putri.." Saguru tersenyum dan melepas genggamannya.
"Arigatou."
"Douita, putri."
"Berhenti memanggilku putri, namaku Ran Mouri, bukan putri." Lanjut Ran.
"Baiklah..Ran."
"Emm...kembalilah ke kelasmu. Sudah ada Shinichi yang menemaniku disini. Arigatou atas perhatianmu...Saguru." lanjut Ran.
"Kalau permintaan ini aku tidak bisa mengabulkannya. Aku akan terus disini menemanimu Ran." Saguru tersenyum dan sedikit menoleh kearah Shinichi yang daritadi diam membisu.
Hari ini kau kalah, Kudo. Aku tak akan membiarkanmu bersama Ran dengan mudah. Batin Saguru.
Apa yang akan terjadi setelah ini? - see u in next chapter :)
