Akaashi menatap Bokuto yang tersenyum konyol di depannya. Kapten tim klub voli Fukurodani memperkenalkan dua orang itu. "Ah—Akaashi, perkenalkan. Dia Bokuto Kotaro, ace baru tim kita. Dia kelas dua."
"Oh." Sekali lagi Akaashi menunduk, "Salam kenal, Bokuto-san."
"Mulai sekarang, kau cobalah latihan dengannya. Spike orang ini lumayan merepotkan bagi musuh, tapi bukan berarti itu juga pekerjaan mudah untuk kita."
"Maksudmu apa, Senpai?" Bokuto mengeluh kesal. "Aku tidak merepotkan."
Anak kelas satu itu memandangi Bokuto dalam diam. Kata Kaptennya lagi, "Setter kelas dua kami saja menyerah mengurusinya. Tapi aku pernah melihatmu bertanding saat SMP dulu dan kau cukup berkemampuan, Akaashi. Kudengar kau juga mendapatkan penghargaan setter terbaik saat SMP dulu."
"Ah—" Tatap hijau itu memandangi anggota kelas tiga itu. "—iya. Tapi saya tidak yakin apakah kemampuan saya bisa mengimbangi dengan kemampuan Bokuto-san."
Si perak tersenyum lebar. Dipeganginya pundak Akaashi, "Jangan khawatir. Jangan khawatir. Aku percaya padamu, Akaashi."
"Kalau begitu—" Akaashi beralih pada sang senior kelas dua. Mata hijaunya lurus langsung menatap yang emas itu, "—saya mohon bimbingannya, Senpai."
Yang jabrik yang terpaku mendengar panggilan Akaashi padanya. Mata emasnya berbinar cerah dalam tiba-tiba, wajahnya memerah, dan air matanya terjatuh. Katanya pada Kapten mereka, "Senpai—aku baru ingat kalau aku sudah jadi senpai juga, Senpai. Aku baru saja dipanggil 'senpai', Senpai!"
Sang Kapten tertawa hambar dan menanggapi sambil lalu anggota terbaiknya itu. Katanya pada Akaashi yang keheranan melihat tingkah laku si perak, "Yah, beginilah orang ini yang sebenarnya, Akaashi. Semoga kau kuat."
Tatap Akaashi tak lepas dari si perak yang menangis penuh kebahagiaan hanya karena panggilan yang menurutnya sangat biasa saja itu. Katanya pelan dan nyaris menggumam, "Ah, baik. Terima kasih. Doakan aku."
-disambung di chapter berikutnya
