"Jadi kalian memainkan kelas satu juga?" Kuroo melemparkan handuknya ke kursi sambil menatap Akaashi yang mendengarkan intruksi dari pelatih mereka, Takeyuki Yamiji. Bokuto yang selesai menenggak airnya terkekeh, "Dia keren, loh."
"Yah—" Kuroo balik menatap Kenma yang tunggang langgang menyerahkan handuk dan botol minum ke senior-senior Nekoma, "—pantas saja kali ini kau menyebalkan sekali. Apa-apaan spike-mu tadi?"
Kekehan si perak menyaring. Ia berkacak pinggang dengan dada membusung, "Yah, aku memang hebat. Dan Akaashi membuatku makin hebat, kan?"
Tawa Bokuto membahana hingga kapten tim Fukurodani meneriakinya, "Bokuto, oi. Berkumpul!"
"Iya. Iya."
Lari Bokuto cepat. Bahkan sesekali ia melompat bahagia. Maklumlah, set pertama latih tanding melawan Nekoma hari ini Bokuto menyumbangkan dua belas poin dari dua puluh lima yang diperoleh Fukurodani. Nekoma biasanya sedikit lambat dalam pemanasan mesinnya dan ia menduga set kedua nanti takkan semudah set pertama. Tapi—Bokuto masih tetap yakin permainannya akan selancar tadi.
"Seperti biasa, Morisuke selalu menjadi orang pertama yang bisa mengatasi spikemu, Bokuto."
Bokuto berujar pada Akaashi yang terlihat bingung dengan ujaran Kapten mereka, "Libero Nekoma, Akaashi. Yang nomor tiga. Dia sudah menjadi libero sejak kelas satu. Dan dia menyebalkan. Seperti bloker mereka."
"Kau bisa mengatasinya, Akaashi?" Sang Kapten menatap setter baru mereka. "Bagaimana pendapatmu?"
"Dia begitu tenang," aku Akaashi. Dia melirik tim Nekoma yang berkumpul dan mendengarkan arahan dari pelatih mereka. Mata hijaunya lurus ke pemain kelas dua berambut cokelat pucat yang meminum airnya. "Keberadaannya menyatu dengan anggotanya yang lain sehingga saya sendiri sering tidak sadar bahwa dia menjaga di baris belakang."
"Nanti—" Sang pelatih tersenyum tipis, "—saat mengoper pada Bokuto, kau perhatikan dulu posisinya, Akaashi. Sisanya, Bokuto—kau harus menyelesaikan sisanya."
"Aku mengerti. Aku mengerti." Bokuto tertawa pelan. Dirangkulnya pundak Akaashi, "Oper bola yang bagus kepadaku, Akaashi."
"Anu—Bokuto-san, kau bau keringat."
"Oi!"
-disambung di chapter berikutnya
