Mungkin ini sebuah keberuntungan, mungkin juga tidak. Kapal yang Luhan tumpangi membawanya ke Korea Selatan. Negara yang selama tiga tahun selalu Xiumin banggakan dan rindukan. Beruntungnya, tiga tahun berteman dengan Xiumin membuatnya belajar bahasa negara yang tanpa disangkanya menjadi naungan baru. Setidaknya Luhan tidak akan mengalami kesulitan untuk berkomunikasi.

Mengerti Bahasa Korea nyatanya tidak cukup untuk membuat Luhan memperoleh segala sesuatu di sini dengan mudah. Selama seminggu semenjak ia menginjakkan kaki di sini, Luhan menjadi buruh angkut barang dan harus tidur di pinggir jalan. Upah yang ia terima hanya cukup untuk mengganjal rasa lapar tanpa tempat untuk bernaung. Hal yang terus berlangsung sampai seorang wanita tua menawarinya tempat tinggal dengan syarat Luhan harus membantunya berjualan di pelabuhan. Keberuntungan yang mengawali keberuntungan yang lain; sang wanita tua memberinya upah.

Luhan menerima tanpa penawaran.

Bibi Kim, begitu Luhan memanggil wanita yang menolongnya. Mereka dekat, namun asing. Luhan tidak pernah mendapatkan cubitan kecil di pipi, pun tidak pernah mendapat usakan pelan di kepala seperti yang Bibi Kim lakukan kepadanya. Itu membuatnya merasa tidak nyaman. Ia merasa salah. Perlakuan tidak familier membuatnya pergi setelah tiga bulan tinggal.

Luhan tidak suka dengan perasaan aneh yang muncul dihatinya.

.

.

Luhan menuju Myeongdong, salah satu distrik populer di ibu kota. Berbekal dengan uang yang ia kumpulkan selama ia tiga bulan tinggal dengan Bibi Kim, ia berniat mencari Kai, pria yang dikenalkan Xiumin kepadanya melalui telepon. Luhan tidak tahu pasti tempat tinggal Kai, juga tidak tahu bagaimana cara menghubungi pria itu. Dia hanya tahu jika lokasinya tidak jauh dari Cathedral Church of Virgin Mary –gereja Katolik terbesar di distrik Jung, Myeongdong.

Luhan berjalan tanpa arah yang jelas. Sudah hampir tiga puluh menit ia menyisir jalanan di distrik pusat, bertanya kepada orang-orang sekitar, tetapi tidak ada satu pun yang mengenal ataupun mendengar nama Kai. Luhan membodohkan diri sendiri. Seharusnya ia paham jika mencari satu orang di tempat manusia yang hanya memikirkan diri mereka sendiri tidaklah mudah.

Luhan kembali berjalan, bibir menggumam nama Kai seperti sebuah doa. Kali ini kakinya membawa dirinya ke Nandaemun –pusat tempat bangunan bersejarah di tengah apitan gedung modern kota. Sejenak ia berhenti, sekedar menikmati arsitektur bangunan yang anomali. Bangunan yang entah kenapa mengingatkan akan dirinya sendiri. Ia tumbuh dengan cara yang berbeda, hidup dengan cara yang berbeda pula. Luhan melihat sebagian dirinya di Nandaemun. Hanya sebagian, karena Nandaemun menarik orang-orang untuk mengunjunginya, sedangkan Luhan menghilangkan mereka.

"Permisi,"

Luhan menoleh, terkejut dengan sosok yang mengajaknya bicara lebih dulu. "Ya?"

"Aku mendengar kau mengucapkan nama Kai dari tadi, dari mana kau tahu nama itu?" Tanyanya, tanpa basa-basi.

Luhan tidak tahu dari mana datangnya kengerian yang merambat di tulang belakang. Sosok di depannya terlihat seperti orang baik, seperti remaja lugu yang belum lama lulus dari sekolah menengah. Tetapi ada sesuatu dalam dirinya sanggup membuat bulu kuduk Luhan berdiri. Luhan tidak yakin apa sesuatu itu. "Aku mengenalnya dari Xiumin." Jawabnya setelah cukup lama.

Sosok di depannya memicingkan mata, kali ini dia betul terlihat seram. "Xiumin?"

"Minseok," Luhan mengoreksi, untuk sejenak dia lupa jika ia tidak lagi berada di Tiongkok.

"Oh,"

Hal yang terakhir Luhan ingat adalah tengkuk yang terhantam oleh benda berat.

.

.

Luhan terbangun dengan tengkuk nyeri yang ia pijat sejenak sebelum ia melihat sekeliling. Dia seperti berada di sebuah kamar, kamar yang benar-benar normal. Bukan ruang bawah tanah gelap dengan lantai dingin yang sempat terlintas dipikirannya. Luhan malah merasa aneh, bukankah dia baru saja diserang dan diculik adalah satu dari sekian besar kemungkinan yang terjadi setelahnya. Tetapi ruangan ini malah menunjukkan hal yang sangat bertolak belakang dengan kemungkinan-kemungkinan tadi.

Derit pintu yang tertangkap oleh pendengaran Luhan membuatnya menoleh ke arah suara. Di sana berdiri sosok asing yang memberinya senyum ramah. Dan dia adalah orang asing yang berbeda dari yang ditemuinya di Nandaemun.

"Sudah bangun?"

"Siapa kau?" Enggan menjawab, Luhan memberi pertanyaan balik. Dua kali ia bertemu orang asing dalam satu hari dan kali ini dia tidak akan membiarkan dirinya lengah seperti tadi. Tangannya otomatis memegang saku –berniat mengambil senjata namun dia harus mengumpat karena senjatanya tidak ada. Pasti dirinya telah digeledah.

"Aku?" Si orang asing tertawa, jari telunjuknya menunjuk dirinya sendiri. "Aku orang yang kau cari." Jawabnya, lantas mengambil kursi dan duduk dengan kaki bersilang.

"Kai…?" Luhan menebak, sedikit tidak yakin. Karena orang di depannya begitu terlihat normal, terlihat seperti tipikal mahasiswa yang hidup jauh dari orang tua. Sama sekali tidak menunjukkan indikasi kalau dia adalah ketua kelompok pembunuh yang beroperasi di Seoul.

Alis Kai terangkat –mengiyakan. "Kau yang namanya Luhan?" Kai kembali mengajukan pertanyaan dan kali ini anggukan Luhan diterimanya sebagai jawaban. "Junmyeon beberapa kali menceritakanmu padaku, walaupun tidak sesering Minseok." Tambahnya.

"Junmyeon? Kau mengenalnya?" Luhan agak merasa bodoh. Kai mengenal Minseok, tentu saja pria itu pasti akan mengenal Junmyeon.

"Tentu, aku adiknya. Adik tiri, tepatnya. Orang tua kami menikah empat tahun lalu."

Mungkin itu bukan jawaban yang diekspektasikan Luhan, tetapi jelas jika kalimat yang baru saja keluar dari bibir Kai memberinya kejutan hingga matanya membeliak. Satu kejutan lagi, Luhan akan berpikir jika hari ini mungkin hari ulang tahunnya.

"Dia tidak pernah menceritakan itu kepadamu?"

Luhan menggeleng. "Kami tidak begitu dekat."

"Dimengerti," Kai terdengar maklum. "Junmyeon memang tidak suka orang-orang tahu kalau kami bersaudara dan Minseok pasti akan melakukan apapun yang diinginkan Junmyeon." Tukasnya.

Kening Luhan mengernyit. "Apa kau akan membunuhku?"

"Dan apa alasanku untuk membunuhmu?"

"Ayahku hampir membunuh kakakmu, Yifan pasti juga tidak akan tinggal diam saat tahu keberadaanku saat ini." Luhan mulai berpikir jika Jongin mudah sekali tertawa. Ia kembali tergelak saat mendengar penjelasan Luhan hingga harus menyeka air mata.

"Aku tidak tahu bagaimana pembunuh sepertimu bisa begitu naif," kembali Kai menyeka air matanya di antara jeda kalimat. "Jika Yifan ingin membunuhmu, dia sudah akan melakukannya pada saat itu juga dan tidak akan memberimu kesempatan untuk menginjakkan kaki di sini. Singkatnya, dia memberimu kesempatan lain."

Luhan terdiam untuk sejenak, untuk sesaat kehilangan kemampuan untuk merespons. Ia menatap Kai, lantas menyisirkan pandangannya ke sekitar dan bergumam lirih. "Aku… tidak mengerti."

"Tentang Yifan?" Pertanyaan Kai mendapat gelengan Luhan sebagai jawaban. "Lalu?"

"Aku hanya tidak mengerti kenapa semua ini terlihat begitu… normal? Maksudku… kau bahkan tidak terlihat seperti pembunuh."

Kembali Kai terbahak, ia menyilangkan kembali kaki dan lagi-lagi memberikan Luhan senyuman kecil. "Apa kau pernah mendengar yang namanya penyamaran?" Luhan mengangguk. "Kami menyamar, Luhan. Jika kau ke lantai satu, kau pasti akan terkejut jika kami adalah pemilik restoran kecil dan kau tidak akan tahu siapa itu Kai, orang-orang hanya akan tahu Kim Jongin, sang pemilik restoran ayam dengan harga murah. Singkatnya; identitas ganda, cara bertahan hidup yang pertama."

Kai tersenyum miring, beranjak keluar ruangan namun berhenti di tengah-tengah untuk mengatakan hal lain. "Oh, aku hampir lupa, D.O akan membawakan makananmu setelah ini. Atau mungkin sebaiknya kau memanggilnya dengan Kyungsoo ketika kalian berada di luar misi. Dia pria kecil yang menyerang sekaligus membawamu dan… apakah aku sudah mengatakan kalau dia adalah koki utama di sini?"

Tawa Kai kembali menggema seiring kepergiannya, meninggalkan Luhan yang matanya membeliak untuk kesekian kalinya dalam sela waktu yang singkat.

Well, Luhan, happy birthday.

.

.

Tinggal bersama Jongin dan Kyungsoo bukan hal yang buruk. Terlebih, Luhan mengalami apa yang disebut 'hidup normal' saat siang hari. Membantu Kyungsoo dan Jongin menjalankan restoran sampai matahari kembali ke peraduan dengan nama barunya, Xiao Lu. Sempat Luhan berpikir untuk menjalani hidup normal yang seperti ini, tetapi sepertinya itu hanya akan menjadi angannya saja karena tiap hari sudah gelap, ia akan kembali menjadi malaikat pencabut nyawa.

Terhitung sudah enam target yang berhasil ia bunuh selama dua bulan terakhir. Angka yang kecil jika dibandingkan dengan saat ia berada di Tiongkok. Tetapi Luhan memaklumi, dia masih harus memfamilierkan diri. Lagi pula dia masih perlu banyak belajar. Terutama dari Kyungsoo, pria yang terlihat lugu dari luar namun mampu membunuh hanya dengan pena khusus yang telah diberi racun.

Ia suka mengamati teknik membunuh Kyungsoo yang apik dan sama sekali tidak terdeteksi. Seperti dua minggu lalu, Kyungsoo mengajaknya untuk melihat bagaimana ia membunuh hanya dengan berjabat tangan. Mereka berdua pergi ke sebuah kafe, di mana Kyungsoo dan si korban bertemu untuk mendiskusikan pembelian saham yang tentu hanyalah sebuah kebohongan. Sebelum bertemu korban, Kyungsoo sudah menyiapkan sarung tangan beracun yang sengaja dibentuk dan diwarnai seperti kulit asli sehingga korban tidak akan curiga. Ketika kesepakatan tercapai, keduanya pasti akan berjabat tangan dan tinggal menunggu reaksi racun yang akan bekerja kurang dari dua puluh empat jam.

Misi tidak berhenti sampai di situ, keduanya harus mengikuti korban untuk memastikan racun yang mereka berikan bekerja dengan semestinya. Jika gagal, maka Kyungsoo baru akan menggunakan senjata api dan menembak kepala korban. Hanya jika gagal, karena selama ini Kyungsoo bahkan tidak perlu mengeluarkan senapannya dari saku celana.

Ada keinginan yang terbesit dipikiran Luhan untuk menggunakan metode yang sama, namun ia sadar dia belum bisa menyetarakan kelasnya dengan Kyungsoo. Lagi pula dia tidak pandai bersandiwara, juga tidak pandai berbicara dengan orang. Metode tersebut malah hanya akan membawa dia ke penjara, oleh karena itu dia masih memilih untuk menggunakan cara lama; mengintai lalu menembak.

.

.

Malam musim panas adalah waktu yang bertepatan dengan Luhan yang akan membunuh target ke-tujuh dan ke-delapan. Luhan sedikit memiliki afeksi khusus dengan angka tujuh dan selalu menganggap jika angka tujuh adalah angka keberuntungan. Mungkin saja nanti dia akan mendapatkan keberuntungan selama menjalankan misi.

Pindad SPR dan suppressor[1] sudah ia siapkan, senjata terbaik khusus untuk korban ke-tujuh. Lagi pula, ia tidak ingin gagal karena ini adalah misi sulit dengan bayaran tinggi; Luhan harus menghabisi pasangan konglomerat Cheongdam di tempat tinggal mereka. Luhan harus betul-betul berhati-hati. Oleh karena itu ia sudah mempersiapkan diri dari pukul tiga sore, mengamati korban dari gedung yang berseberangan langsung dengan tempat tinggal calon korban.

Pukul tujuh malam, Luhan melihat kedua calon korbannya pulang ke rumah dan langsung menuju meja makan. Sepasang suami istri yang terlihat masih muda, mungkin masih baru menginjak usia empat puluh tahunan. Luhan mengamati dan menunggu di balik senapan, dia harus memastikan misi kali ini sama suksesnya dengan yang lain.

Saat yang ia nanti akhirnya semakin dekat. Pada pukul sembilan, kedua calon korban Luhan sudah berada di kamar mereka dan bersiap untuk tidur. Luhan mulai mengarahkan senapannya, membidik target yang tanpa ia prediksi tengah berciuman dengan punggung laki-laki yang membelakangi Luhan. Luhan tersenyum miring, sepertinya memang benar jika angka tujuh adalah angka keberuntungannya.

Satu tembakan Luhan lepas, membidik tepat ke tempat jantung korban ke-tujuh yang juga sekaligus menembus dada korban ke-delapan. Tembakan kedua Luhan lepas hanya dengan jarak waktu tiga detik dari tembakan pertama, memastikan jika tembakannya tidak akan meleset sebelum korbannya limbung. Kali ini Luhan mengarahkannya ke kepala dan seperti yang sudah ia perkirakan, pelurunya menembus kepala si pria dan melubangi kepala si wanita.

Luhan tidak langsung beranjak pergi, ia harus memastikan terlebih dahulu jika kedua korbannya benar-benar sudah tidak bernyawa. Baru setelah yakin jika kedua korban sudah terbunuh, Luhan merapikan senjatanya dan bersiap untuk kembali ke tempat Jongin jika saja tidak ada senapan yang mengacung tepat di sisi kanan kepala.

Luhan membeku.

"Letakkan senjatamu dan angkat tanganmu di belakang kepala!"

'Sial, apa aku dijebak?!'

.

.

Ada aturan mutlak jika kau menjadi anak buah dalam suatu organisasi pembunuh bayaran dan kau tertangkap oleh polisi: pertama, kau tidak boleh mengatakan dari organisasi mana kau berasal; kedua, kau tidak boleh membocorkan identitas klien; ketiga, kau harus menerima saja dan membiarkan dirimu di penjara. Ketiga aturan itu harus mereka patuhi jika mereka ingin diselamatkan oleh sang pemimpin dan memperoleh hukuman paling ringan. Luhan, tanpa ragu melakukan semuanya.

Ia tidak memedulikan wajahnya yang lebam akibat pukulan inspekstur, tidak pula memedulikan rasa perih pada lukanya yang disiram air dengan sengaja. Luhan tidak boleh menyalahi aturan, atau dia sendiri yang akan terbunuh. Luhan masih diam saja ketika polisi menetapkannya sebagai tersangka dan menyuruhnya untuk mengganti pakaiannya menjadi warna oranye.

Tangan diborgol, Luhan diseret oleh dua polisi keluar dari ruang interogasi untuk dipindahkan ke dalam kurungan. Baru beberapa langkah kakinya berjalan, Luhan mendapat tamparan keras dari seorang lelaki paruh baya yang langsung mengumpatinya dengan berbagai kata kasar. Luhan mengasumsikan jika lelaki itu adalah keluarga korban. Memilih untuk tidak peduli, Luhan mengedarkan tatapannya ke sekeliling; acuh.

.

.

Mungkin Luhan tidak sepenuhnya sial. Setelah sidang yang berlangsung hampir tiga jam, hakim memutuskan bahwa dia hanya akan menjalani hukuman empat tahun penjara karena usianya yang masih delapan belas tahun. Masih remaja. Ditambah dengan lemahnya bukti jika pembunuhan terhadap korban telah direncanakan jelas banyak mengurangi jumlah hukuman dari yang dituntutkan oleh jaksa. Jangan lupakan juga campur tangan Jongin, pria itu benar memenuhi janji.

Empat tahun di penjara… seharusnya bukan hal yang terlalu buruk, bukan?

.

.

Mungkin Luhan mengambil kesimpulan terlalu cepat, mungkin juga ia terlalu meremehkan. Ia tidak pernah tahu jika kehidupan di dalam penjara bahkan lebih keras dari kehidupannya saat menjadi pembunuh bayaran. Apalagi Luhan di tempatkan pada penjara kelas pembunuh, di mana ramah dan baik menjadi hal paling asing dan tidak mungkin. Dua bulan pertama, kedatangan Luhan disambut dengan tendangan di perut oleh salah satu narapidana bernama Choi Taejun. Pria bertubuh kekar yang usianya tidak terlalu terpaut jauh dengan dirinya.

Luhan melawan dan berhasil menumbangkan Choi Taejun. Choi Taejun mungkin memiliki fisik kuat dan kasar, tetapi ia tidak terlatih seperti Luhan. Luhan pikir dengan mengalahkan Choi Taejun yang dianggap 'pimpinan' di kelas mereka akan membuat siksaan narapidana lain berkurang kepadanya, well, memang berkurang, namun itu hanya sementara. Sampai Park Yoochun datang dan menggantikan Choi Taejun yang berakhir menjadi pecundang di tahun kedua.

Berbeda dengan Choi Taejun, Yoochun menyiksa Luhan dengan menjadikan Luhan sebagai boneka. Boneka porselen Tiongkok, Yoochun menyebutnya. Beberapa kali dalam satu bulan Yoochun memuaskan nafsunya dengan menggauli Luhan hingga si remaja Tiongkok tidak kuat membawa diri. Jika Luhan menolak, Yoochun akan mencekik Luhan hingga Luhan memohon agar membiarkannya bernapas. Perlakuan yang membuat Luhan berpikir jika Choi Taejun masih bisa dimasukkan ke dalam kategori 'baik'.

Luhan tidak hanya diam dan menerima perlakuan Yoochun padanya, beberapa kali ia melawan dan selalu berakhir sama; Yoochun yang mencekik dan menggaulinya hingga ia hampir kehilangan kesadaran karena susah untuk bernapas. Luhan sempat melaporkan perlakuan Yoochun pada polisi yang bertugas, tetapi mereka acuh dan malah ikut menggoda Luhan untuk melayani mereka. Luhan menuliskan catatan imajiner untuk membalas dendam pada petugas jika ia telah bebas nanti.

Kesimpulannya; Luhan tidak bisa melakukan apapun selama ia di penjara.

.

.

"Kau mencitaiku?" Pertanyaan keluar dari bibir Luhan tanpa bisa ia tahan. Jari-jarinya bergerak mengancingkan baju, sedangkan matanya menatap Yoochun tersedak oleh asap rokok.

"Kau gila, ya?"

Bukan respons yang Luhan inginkan, tetapi ia dapatkan. Angkuh tangan Yoochun terlipat di depan dada, menatap Luhan jijik dengan matanya yang nyalang.

"Aku menidurimu bukan berarti aku mencintaimu, Luhan." Tukasnya menahan marah. "Jika meniduri seseorang berarti kau mencintai mereka, apa bisa kau bayangkan berapa banyak orang yang ku cintai?" Tambahnya lagi, terdengar begitu angkuh.

Luhan menggeleng. "Bukan, bukan itu maksudku…"

"Lalu?"

"Kau menyakiti –menyiksaku, bukankah itu artinya kau mencintaiku? Bukankah… bukankah saat kau menyayangi seseorang, atau mungkin malah mencintai mereka, maka kalian akan menunjukkannya dengan cara menyakiti?"

Yoochun tertawa keras, cukup keras hingga mata Luhan memejam. "Luhan… Luhan, dari mana kau mendapatkan kesimpulan seperti itu? Kau tidak pernah memiliki kekasih, ya?" Luhan kembali menggeleng dan Yoochun terkekeh. "Luhan, dengar, jika seseorang mencintai orang lain, mereka akan membuat orang lain itu bahagia, bukannya menyiksa."

Yoochun menjeda kalimatnya untuk kembali tertawa. "Tetapi kau tidak perlu repot-repot mencari orang untuk kau cintai atau mencintaimu, cinta itu hanya omong kosong! Lagi pula kau bisa bahagia dengan cara lain, memasukkan cinta ke dalam hidup hanya akan menambah beban saja."

Luhan diam, tidak merespons dan tidak pula memedulikan Yoochun yang telah keluar dari selnya. Luhan menghela napas, merebahkan tubuh dan menatap langit-langit ruang tahanan dengan pikiran yang berkecamuk. Di tahun ketiga ia menjalani hukuman, kesadaran akan miskonsepsi yang selama ini ia percayai menghantamnya layaknya ombak.

Luhan berusia dua puluh satu tahun dan ia baru menyadari jika masa kecilnya dipenuhi oleh kebohongan besar.

.

.

Dua bulan sebelum masa tahanan Luhan berakhir, Jongin dan Kyungsoo mengunjunginya. Keduanya terlihat sama, hanya gaya rambut yang membedakan. Terutama Kyungsoo, gaya rambutnya sekarang cepak seperti tentara. Dan memang, Kyungsoo baru saja menyelesaikan wajib militernya dua minggu lalu, wajar jika rambutnya belum tumbuh banyak.

Mereka memberi Luhan kunci, mengatakan jika ruko yang mereka tinggali sebelumnya kini telah menjadi milik Luhan. Hanya sebagai rumah karena usaha restoran telah mereka tutup. Keduanya juga mengatakan jika Luhan tidak perlu khawatir dengan biaya listrik dan air karena mereka sudah melunasinya untuk tiga tahun ke depan, setidaknya cukup sampai Luhan menemukan pekerjaan baru. Untuk biaya makan, Jongin dan Kyungsoo memberikan Luhan tabungan yang berisi upah Luhan selama Luhan bekerja untuk mereka dan juga bonus dari klien terakhir Luhan. Jumlahnya cukup banyak, mungkin tidak akan habis dalam waktu satu tahun jika Luhan hanya menggunakannya untuk makan dan keperluan-keperluan umum lain.

"Kenapa kalian memberi semua ini padaku?" Tanyanya, penasaran karena ini semua terlalu tiba-tiba.

"Kami akan pindah ke Belanda," Kyungsoo mewakili Jongin menjawab. "Sebenarnya kami memiliki penawaran untukmu; untuk ikut kami ke Eropa –dengan pekerjaan sama atau tetap tinggal di Seoul dan memulai kehidupan baru. Jika kau memilih ikut, semua hal yang kami berikan kepadamu akan kami jual –kecuali upah, tentu saja. Bagaimana?"

"Aku…"

.

.

Luhan hampir lupa betapa nyamannya tidur di atas kasur, maka dari itu ia terlelap tidak berapa lama setelah punggungnya menyentuh empuk matras yang kini resmi ia miliki. Luhan akan mengkhawatirkan masalah lain esok hari, untuk saat ini yang ia paling butuhkan adalah istirahat. Ia sudah menderita selama dua puluh dua tahun terakhir dan ia ingin menghadiahi diri dengan kehidupan normal setelah ini.

.

.

Pekerjaan adalah hal yang menjadi prioritas utama Luhan, prioritas yang tidak mudah untuk dicapai. Myeongdong memang distrik komersial dengan ribuan toko dan tempat untuk bekerja, sayangnya, jarang ada yang mau menerima pria yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Hampir setiap toko yang menuliskan ada lowongan pekerjaan di pintu mereka Luhan datangi dan hampir semuanya mengatakan maaf karena tidak percaya dengan kemampuan yang ia miliki. Luhan maklum, oleh karena itu ia mencoba mencari pekerjaan di distrik lain dan Cheongdam adalah distrik yang ia tuju.

Perjalanan dari Myeongdong menuju Cheongdam menggunakan kereta bawah tanah hanya memakan waktu delapan belas menit dan Luhan tanpa ragu langsung mengelilingi area yang berlipat kali lebih mewah dari pada gemerlap Myeongdong pada malam hari. Ia jadi teringat perkataan Kyungsoo; orang-orang kaya di Korea Selatan umumnya tinggal di tiga distrik; Gangnam, Apgujeong dan Cheongdam, budak bisnis –jika Kyungsoo mengistilahkan. Tidak heran kemudian jika kebanyakan klien mereka berasal dari tiga distrik tersebut, persaingan yang teramat tinggi memang kadang membutakan. Luhan menggelengkan kepala, sadar betapa mengerikannya uang bisa mengubah seorang manusia.

Berjalan tanpa arah rasanya menjadi sahabat baru Luhan. Terhitung lebih dari lima belas menit ia berkeliling, mengamati gedung-gedung tinggi tanpa tahu gedung mana yang membutuhkan tenaga kerja tanpa gelar seperti dirinya. Desahan halus mengiringi langkah kaki, Luhan sempat berpikir untuk kembali ke pelabuhan dan mencari pekerjaan di sana, buruh tidak butuh ijazah.

"Hei!"

Luhan menoleh, meskipun tidak yakin panggilan itu ditujukan kepadanya. Tetapi ia cukup terkejut ketika melihat pria dengan setelah mahal yang terlihat akan menepuk bahunya. "Uh… Anda memanggil saya?" Tanyanya ragu. Pria tadi mengangguk, kacamatanya ia buka sehingga Luhan bisa melihat wajahnya secara penuh.

'Wah, tampan.'

"Apa kau model?" Si pria bertanya tanpa basa-basi, napasnya yang sedikit terengah mengindikasikan jika pria itu baru saja berlari.

Luhan menggeleng dan pria tadi tampak cukup senang.

"Oh? Bagus kalau begitu! Kau mau jadi modelku tidak? Merek pakaianku akan mengeluarkan koleksi baru dan kau terlihat seperti orang yang tepat untuk memperagakannya!" Si pria lantas menunjuk gedung bertingkat lima dengan tulisan 'Moldir' di samping Luhan. "Itu tokoku ngomong-ngomong, jika kau menyetujui tawaranku, maka wajahmu akan terpasang di sana dan tentu saja kau akan memiliki gaji besar. Bagaimana?"

Membeliak, Luhan menatap tidak percaya dengan pria di depannya. Bagaimana mungkin ia menyebut gedung semegah itu hanya dengan sebutan 'toko'? Yang Luhan tahu, tempat yang cocok disebut toko adalah tempat yang seperti milik Kakek Long, tempat kecil dengan barang-barang yang tidak terlalu tersusun rapi, sama sekali berbeda dengan gedung yang berdiri kokoh di sebelahnya.

'Orang kaya memang aneh.'

Luhan lantas kembali berpikir, tidak mungkin ia menerima tawaran pria asing di depannya. Alasannya tidak lain adalah karena dia mantan narapidana. Dia merasa tidak layak memamerkan wajah di depan umum. Terlebih, biasanya model akan menjadi panutan banyak anak muda, bagaimana jika penggemarnya nanti mengetahui masa lalunya? Membayangkannya saja Luhan tidak ingin.

"Maaf," Luhan dengan sopan menolak. "Saya tidak bisa menjadi model, tetapi jika Anda memiliki pekerjaan lain yang tidak mengharuskan wajah saya dipajang di depan umum, saya mau menerimanya." Tuturnya.

"Sayang sekali…" Si pria menghela napas. "Padahal wajahmu sangat menjual. Tetapi tidak apa-apa, kebetulan aku membutuhkan barista untuk kafe baruku di Myeongdong. Apa kau bisa membuat kopi uhh…"

"Luhan,"

"Ah! Luhan! Apa kau bisa membuat kopi?" Tanya si pria sekali lagi.

Luhan mengangguk antusias, kopi adalah bagian dari hidupnya. Ia mengawali dan menutup hari dengan secangkir cairan pahit yang ia nikmati –kebiasaan yang ia ambil dari Xiumin. Tentu saja ia tidak akan menolak. Ditambah pria ini mengatakan jika lokasi kafenya di Myeongdong, mungkin keberuntungan Luhan tidak sepenuhnya hilang.

Si pria asing tampak puas, tangannya masuk ke kantong untuk mengambil kartu nama yang ia berikan kepada Luhan. "Besok temui aku jam delapan pagi di depan Café J Holic, kalau kau tidak tahu lokasinya telepon aku saja di nomor itu." Tukasnya, memberi isyarat dengan satu alis yang naik ke atas.

Senyum Luhan mengembang, lalu membungkukkan badan dan mengucapkan terima kasih. Ada kemungkinan jika setelah ini kehidupannya akan membaik, mungkin juga setelah ini dia bisa benar-benar sanggup meninggalkan kehidupannya yang lama. Senyum Luhan masih mengembang, apalagi saat bibirnya menggumamkan nama atasannya yang baru.

Kim Jaejoong.

.

.

Jika Luhan harus menggunakan satu kata untuk mendeskripsikan tempat kerja barunya, maka kata itu adalah 'sempurna'. Suasana nyaman yang didampingi oleh aroma menenangkan dari kopi membuat hari-harinya selama satu bulan terakhir terasa begitu menyenangkan. Atasan dan rekan kerjanya juga turut memberi sumbangsih terhadap suasana hatinya yang tenang.

Jaejoong beberapa kali berkunjung untuk memantau, sesekali memberi lelucon yang disambut oleh tawa halus Luhan dan Jongdae. Sikapnya yang perhatian sempat membuat hati Luhan berdebar. Jika saja Jaejoong belum menikah, mungkin Luhan akan mempertimbangkan untuk mengungkapkan perasaan.

"Permisi,"

Luhan berkedip, lamunannya buyar oleh suara pelanggan yang secara alami ia beri senyum. "Ya?" Ia merespons. Alisnya terangkat, sedikit heran dengan reaksi pelanggan yang terlihat terkejut. "Boleh saya tahu apa yang ingin Anda pesan?" Luhan berkata sekali lagi, menghilangkan kecanggungan yang terbangun di antara keduanya.

"Uh… satu chococino dan brownie."

"Satu chococino dan brownie," Luhan mengulang sekaligus mencatat. "Semuanya 11.000 w-" kalimat Luhan terhenti, matanya terkunci pada mata sang pelanggan yang menatapnya secara intens. Untuk sejenak keheningan tercipta. Hingga Luhan menjadi orang pertama yang memutus kontak mata antar keduanya. "Semuanya 11.000 won," ulangnya sekali lagi. "Anda bisa menunggu pesanan Anda di lantai dua."

Interaksi selanjutnya terjadi tanpa saling menatap. Luhan tidak tahu kenapa, tetapi ia merasa sedikit aneh. Aneh karena dia merasa bahwa ia mengenal laki-laki tadi.

.

.

To be continued

a/n:

[1] peredam suara untuk senjata api.