"Akaashi." Bokuto menoleh pada si hitam yang menyapukan handuk ke punggungnya. Pemuda hitam itu memilih mandi terlebih dahulu sebelum pulang karena permainan mereka dengan Nekoma delapan set dan membuatnya cukup kelelahan. Belum ditambah dengan Bokuto yang menuntutnya kembali latihan lagi. Beberapa seniornya bahkan sudah terkapar tak bernyawa di lantai ruang klub mereka. Mata hijau Akaashi lurus pada Bokuto yang memakai kemejanya, "Ya, Bokuto-san?"

"Kau pulang naik kereta menuju Minato? Aku melihatmu kemarin di stasiun."

Bokuto hanya mendapat anggukan pelan sebelum Akaashi menunduk dan mengambil kemejanya yang terjatuh, "Benar, Bokuto-san. Aku tinggal di dekat stasiun Tamachi."

"Kebetulan sekali." Ditutup si perak pintu lokernya, "Aku tinggal di Shinagawa. Tiga stasiun dari tempatmu. Kita harus berangkat dan pulang bersama, Akaashi."

"He?" Akaashi menaikkan alisnya bingung, "Pulang—mungkin masih bisa. Tapi untuk berangkat, aku tak yakin, Bokuto-san. Aku tak yakin kita bisa bertemu. Kereta pagi hari sangat ramai."

"Aku tahu—" Bokuto menyampirkan jasnya ke pundak kanan sementara tangan kirinya mengambil tasnya, "—aku bisa turun di stasiun Tamachi dan menunggumu di sana lalu kita naik kereta bersama menuju sekolah."

"He? Untuk apa?"

Si perak melotot tajam pada si hitam, "Tentu saja untuk makin menyinkronkan kita berdua. Sekarang kan kita partner."

"Kupikir aku hanya bermain di pertandingan kali ini saja, Bokuto-san. Aku bahkan bukan anggota reguler."

Bokuto menoleh pada kapten mereka yang baru datang dari toilet dan katanya pada seniornya itu, "Senpai, kita belum menentukan susunan tim yang baru, bukan? Akaashi akan jadi anggota reguler, bukan?"

"Bokuto!" Konoha menjitak kepala jabrik itu, "Kau yang sopan."

"Eh, tapi setter utama kita kan sudah lulus kemarin. Berarti kita belum punya setter pengganti."

"Tapi bagaimana dengan—" ujaran Komi terpotong karena sang setter kelas dua segera berkata, "Komiyan, aku sudah tidak mau mengoper pada Bokuto lagi. Dan aku tahu Akaashi jauh lebih berbakat dariku. Pertandingan hari ini bisa jadi buktinya. Kupikir Yamiji-san juga berpikir begitu. Aku tak masalah jadi cadangan daripada mengurusi burung hantu berisik itu."

"Oi, kata-katamu jahat sekali."

-disambung di chapter berikutnya