Adalah sebuah kesalahan besar saat Luhan berpikir pertemuannya dengan pelanggan yang memberinya perasaan aneh hanya terjadi satu kali. Si pelanggan nyatanya datang hampir setiap hari dan Luhan mulai belajar bahwa nama si pelanggan adalah Oh Sehun.
Luhan tidak mengetahuinya dengan cara berkenalan. Ia mendapatkan nama Sehun dari nametag yang terpasang di sisi kiri seragam sekolah yang ia kenakan. Satu fakta lain yang mengejutkan Luhan karena ternyata Sehun masihlah seorang remaja. Remaja kelas tiga SMA, jika dilihat dari buku-buku yang selalu Sehun bawa. Luhan tahu beberapa hal tentang Sehun, tetapi komunikasi mereka masih hanya sebatas antara seorang barista dan pelanggan. Tidak pernah lebih.
Sering kali Luhan ingin mengakrabkan diri karena Sehun. Bukan hanya didasari alasan karena ia merasa mengenal Sehun, tetapi juga karena Sehun adalah seorang pelanggan tetap. Sayangnya Luhan tidak tahu bagaimana ia harus memulai. Ia ingin mengenal Sehun, ingin tahu apa yang membuatnya merasa begitu familier dengan pemilik mata tajam yang kerap terlihat bosan. Tetapi ia tidak pernah mendapatkan kesempatan yang tepat, setidaknya sampai suatu hari dia melihat Sehun terlihat kebingungan dengan kertas-kertas yang ada di depannya. Luhan sedikit mengintip, lalu tersenyum. Mungkin ini adalah situasi paling tepat untuk mengajak Sehun bicara.
"你最想成为哪种动物 (nǐ zuì xiǎng chéngwéi nǎ zhǒng dòngwù?) Hewan apa yang paling kau sukai. A."
Sehun menoleh, terkejut.
Luhan memberinya senyuman kecil, meletakkan pesanan Sehun dan mendudukkan diri di depan si remaja. "Kau lihat kalimat ini," Luhan menunjuk tulisan yang dimaksud. "Di situ tertulis 我喜欢狗和猫 (wǒ xǐhuān gǒu hé māo) yang berarti 'aku suka anjing dan kucing', otomatis yang harus kau cari adalah pertanyaan yang sesuai dengan jawaban yang disediakan, bukan? Jawabannya adalah A, karena jawaban B adalah tentang di mana kau bekerja, C tentang kau ingin minuman apa dan D malah menanyakan tentang usia."
Luhan dapat melihat anggukan kepala Sehun, tanda jika ia telah paham. Ia pun tersenyum, mengucapkan selamat ke diri sendiri karena telah berhasil. Saat Luhan akan beranjak, ia harus dikejutkan oleh Sehun yang memegang tangannya, membuatnya menoleh dengan raut wajah yang bertanya.
"Terima kasih, hyung." Lirih suara Sehun terdengar, rona merah muda menghiasi pipi menjadi indikasi bahwa dia malu.
"Sama-sama, kalau kau mengalami kesulitan lain kau bisa bertanya padaku." Tawarnya, namun sayang Sehun malah memandangnya skeptis. "Aku orang Tiongkok," Luhan mengungkap, tawa kecil mengiringi kalimatnya. "Tidak perlu ragu dan memandangku seperti itu jika kau memang tidak berminat menerima bantuan." Luhan kembali tertawa, kali ini karena wajah Sehun yang memerah. "Namaku Luhan, ngomong-ngomong. Silakan menikmati pesanannya, Oh Sehun."
Setelah mengatakannya, Luhan lantas pergi masih dengan senyuman yang mengembang di wajah. Entah kenapa dia merasa lega, lega karena berhasil mengenalkan diri? Lega karena berhasil memanggil nama Sehun? Atau mungkin lega karena akhirnya percakapan mereka tidak lagi hanya sekadar antara penjual dan pembeli? Luhan tidak terlalu yakin faktor mana yang paling berkontribusi, tetapi satu hal yang ia yakini, Luhan akan susah menghilangkan bayangan senyum malu Sehun untuk beberapa waktu ke depan.
.
.
Segalanya berjalan jauh lebih baik dari pada yang Luhan kira. Semakin bertambah hari, semakin bertambah pula kedekatannya dengan Sehun. Berawal dari menjadi tutor pribadi Bahasa Mandarin bagi Sehun, kini ia telah menjadi tempat Sehun bercurah hati akan anjingnya yang susah untuk dilatih. Bukan satu dua kali Luhan tertawa karena Sehun berada dalam suasana hati yang buruk karena Vivi –nama anjingnya enggan menurut.
Perlahan, Luhan mulai mengerti bagaimana sosok Sehun. Remaja itu baru berusia delapan belas tahun dan dia cukup pemalu. Sehun bercerita jika dia tidak pernah memiliki teman dekat karena tidak tahu bagaimana caranya. Jika saja Luhan tidak mengajaknya bicara terlebih dahulu, mungkin ia akan terus menjadi pelanggan yang menghabiskan diri di pojok lantai dua dengan tugas sekolah yang berserakan di sekitar.
Luhan juga belajar bahwa Sehun adalah sosok yang begitu penyayang. Ia tidak perlu banyak bukti, dengan melihat bagaimana Sehun memperlakukan Vivi saat Sehun membawanya ke J Holic saja sudah cukup. Bagaimana Sehun meminta maaf ke si anjing putih jika Vivi terlihat tidak senang dengan perlakuan Sehun lalu menciumnya. Luhan rasa, itu semua sudah memberi gambaran akan sifat Sehun.
Dari situ juga Luhan mulai belajar kasih sayang.
Ia merasa sedikit miris jika mengingat dirinya di masa lalu. Menganggap pukulan sang ayah sebagai cinta dan menganggap usapan pelan Bibi Kim di kepala sebagai hal yang aneh. Seandainya dia dulu tahu, mungkin Luhan tidak akan meninggalkan pelabuhan dan berakhir menjadi anak angkat Bibi Kim tanpa perlu mengalami dinginnya lantai di balik jeruji besi, tidak akan pernah juga mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari beberapa orang di penjara.
Tetapi, jika Luhan melihat sisi positifnya; jika ia tidak pernah meninggalkan pelabuhan dan mengalami itu semua, dia tidak akan bertemu Sehun. Tanpa ia sadari Sehun telah mengambil tempat di hatinya, mengisinya dengan senyum dan sedikit demi sedikit mengobati luka. Luhan tidak pernah berpikir bahwa ia akan jatuh hati ke remaja yang empat tahun lebih muda, tetapi saat Sehun tersenyum dan memberinya ucapan agar harinya menyenangkan, Luhan tidak dapat menahan diri untuk tidak mencintai sosoknya.
.
.
"Malam minggu besok kau ada acara tidak?"
Sehun mendongak, mengunci tatapannya ke Luhan yang meletakkan makanan yang ia pesan. "Apa yang barusan itu adalah sebuah ajakan kencan?"
"Well, jika kau menganggapnya begitu." Luhan merasa wajahnya agak mengalami kenaikan suhu –ia merona. Luhan meruntuki diri, dalam dua puluh dua tahun hidupnya, ia tidak pernah mengalami apa yang orang-orang sebut dengan merona. Luhan membuang pandangannya ke arah lain, khawatir jika wajahnya akan semerah tomat dan terlihat kurang enak dipandang.
"Hyung," sayangnya panggilan dari Sehun kembali membuatnya untuk menatap si anak kecil yang ternyata juga memiliki pipi yang merah. Luhan lega jika dia bukan satu-satunya yang harus terlihat menggunakan riasan pipi.
"Ya?"
"I'd love to."
"Great! Uh-" Luhan segera menutupi bibir, tingkahnya kikuk karena memberi respons yang terlewat bahagia hanya dalam sepersekian detik. Canggung kembali menyelimuti dan Luhan membiarkan pandangannya menyisir ruangan –menatap apapun yang bukan Sehun. "Uh… kalau begitu aku akan menjemputmu di-"
"Sebenarnya, hyung," Sehun memotong. "Aku rasa kita bertemu di sini saja."
"Oh? Baiklah kalau begitu. Besok kita bertemu di sini jam lima sore, bagaimana?"
Sehun mengangguk malu-malu dan Luhan tidak dapat menahan diri untuk tidak mencuri ciuman di pipi.
.
.
Sehun dalam pakaian kasual menjadi pemandangan yang jarang Luhan lihat, mungkin hanya satu dua kali ketika Sehun berkunjung ke J Holic pada hari libur. Tetapi saat ini ia berjalan berdampingan dengan Sehun yang mengenakan jaket denim yang dipadukan dengan kaus putih dan celana jin hitam. Begitu menawan dengan wangi parfum yang membuatnya ingin selalu dekat.
Destinasi pertama tempat kencan mereka adalah bioskop. Klise memang, tetapi kencan memang rasanya tidak lengkap jika tidak dihabiskan untuk menonton film bersama. Tangan bertaut, kepala menyandar di bahu dengan kecupan yang sesekali di curi Luhan di kening Sehun, rasanya tidak ada yang lebih sempurna dari pada itu. Genggaman tangan mereka kini terjadi secara natural, tautan yang tidak terlepas sekalipun mereka menuju destinasi lain.
"Mau melihat bintang?"
Ketika Luhan menawari dirinya untuk melihat bintang, Sehun berpikir Luhan akan membawanya ke bukit atau dataran tinggi di sekitar tempat kerjanya. Hal yang tidak ia duga adalah Luhan membawanya ke bubungan atas J Holic. Yang lebih mengejutkan, Luhan tampaknya sudah menyiapkan itu semua. Terdapat tikar dengan meja yang didekorasi dengan beberapa hiasan kecil, termasuk makanan dan lilin yang belum dinyalakan. Tersanjung, Sehun memberi Luhan senyuman kecil dan mengeratkan genggaman tangan mereka.
"Hyung menyiapkan semua ini?"
Luhan menggeleng. "Aku terkejut dengan ini sebenarnya," Luhan mengungkap, lantas menuntun Sehun untuk duduk di sampingnya. "Mungkin lain kali aku harus membelikan Jongdae makan malam."
"Jongdae hyung? Kenapa dengan dia?"
Tertawa kecil, Luhan menjelaskan. "Aku sama sekali tidak memiliki pengalaman kencan dan aku gugup. Aku tidak tahu bagaimana harus bersikap, ada kekhawatiran aku akan mengacaukan semuanya, jadi aku meminta bantuan Jongdae. Dia yang memberiku saran untuk kencan hari ini, menurut Jongdae itu akan romantis dan berkesan. Dia juga yang menyarankan untuk melihat bintang di sini, aku sama sekali tidak menduga dia akan menyiapkan semuanya."
"Kita harus benar-benar berterima kasih kalau begitu." Sehun ikut tertawa kecil, matanya melengkung seperti bulan sabit di minggu pertama. Tawa halusnya menyapa pendengaran Luhan dan ia tertegun. Hatinya menghangat, tatapannya terkunci pada Sehun dengan penuh adorasi.
"Sehun," Sehun menoleh menatapnya, jernih mata Sehun begitu indah untuk ia pandang. Dunia Luhan seakan terhenti untuk sejenak. "Sehun," sekali lagi Luhan memanggil nama Sehun selayaknya sebuah doa. Tangannya bergerak, menyentuh pipi Sehun dengan perlahan seolah-olah Sehun adalah sebuah relik berharga.
"Hyung?"
Luhan tidak dapat menahannya lagi, tidak saat raut khawatir Sehun menatapnya. Ia terlihat rapuh dan Luhan tidak ingin itu terjadi. Bibirnya menyambangi milik Sehun, lagi-lagi dengan kelembutan dan perlakuan yang begitu hati-hati. Matanya terpejam, meresapi tiap perasaan yang mengalir saat bibir mereka menyatu. Hatinya membuncah, asing dengan perasaan yang membuatnya ingin menitikkan air mata karena begitu indah.
Luhan menjadi pihak yang melepaskan tautan mereka lebih dahulu, hanya untuk menatap Sehun yang memandangnya dengan senyum kecil. "Aku mencintaimu."
.
.
Tujuh bulan berlalu dalam kedipan mata. Hampir tidak ada yang berubah dari Luhan, termasuk hubungannya dengan Sehun. Hampir, karena beberapa aspek dalam hidup Luhan telah berubah. Ia kini paham benar bahwa menyakiti bukanlah mencintai, paham benar jika senyum tulus yang menghiasi wajah Sehun menjadi tolok ukur rasa bahagia yang juga menjadi bahagianya, dan ia paham benar, jika hidupnya sebelum bertemu Sehun adalah hidup yang salah.
Berbeda dengan Luhan, Sehun banyak memiliki perubahan baik dari segi fisik maupun sifat. Jika tujuh bulan lalu dia hanyalah siswa SMA yang masih tersenyum malu saat Luhan memberinya ciuman di sana sini, kini dia adalah mahasiswa yang kerap menginisiasi intimasi di antara keduanya. Fisiknya turut berubah, menjadi lebih tinggi dan berisi. Sehun menganggapnya sebuah keuntungan karena ia bisa mencium kening Luhan dengan mudah meskipun sisi negatifnya adalah dia terlihat lebih tua dari kekasihnya. Tetapi itu bukan masalah besar, selama ia dan Luhan tetap bersama, baginya itu sudah cukup.
Keduanya banyak menghabiskan waktu di rumah Luhan, sesekali berkencan di akhir minggu. Luhan sama sekali tidak keberatan, ia suka melihat Sehun yang berkonsentrasi di antara tumpukan buku dan mengetik tugas di kamarnya. Baginya itu memesona. Kalau sudah begitu, maka Luhan akan memilih untuk merebahkan diri di samping Sehun dan ikut membaca bukunya. Setidaknya itu menambah pengetahuan umum yang ia miliki.
Semuanya berjalan indah, sama sekali tanpa masalah. Tetapi layaknya sifat alami manusia yang tidak pernah puas, Luhan merasa ada hal yang kurang dari hubungan mereka. Adalah kejujuran yang menjadi masalah. Luhan tidak pernah jujur kepada Sehun akan masa lalunya, dia belum sanggup. Meskipun ia percaya Sehun akan tetap mencintainya, tetapi dia masih tidak ingin melihat raut kecewa yang Sehun akan berikan kepadanya saat ia jujur. Tetapi Luhan merasa jika ia yang menyembunyikan masa lalu adalah adil jika mengingat Sehun yang juga tidak pernah menyinggung akan kehidupan pribadinya.
Sejujurnya itu membuat Luhan khawatir, karena dia pernah mendengar jika hubungan yang terbangun atas ketidak jujuran tidak akan bertahan.
.
.
"Hun, sudah berapa lama kita saling mengenal?"
Sehun menghentikan kegiatannya sejenak, meletakkan literatur dan menoleh untuk menatap Luhan yang bersandar di ranjang. "Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"
"Hanya karena terpikir beberapa hal." Kening Sehun mengerut, Luhan sadar jika Sehun tidak akan puas dengan jawaban dengan makna kabur. Beranjak, Luhan beralih dari tempatnya tadi ke samping Sehun. Ditatapnya Sehun untuk beberapa saat dan dicurinya sebuah kecupan yang masih belum menghilangkan alis Sehun yang bertaut. "Aku hanya merasa kita tidak begitu… mengenal satu sama lain." Luhan menautkan jemarinya dengan Sehun. "Apakah kau tidak pernah berpikir untuk tahu masa laluku?"
Ada senyum kecil yang muncul di wajah Sehun dan ia menggeleng. "Hyung yang sekarang saja sudah cukup untukku."
Luhan tidak bisa mendefinisikan perasaannya. Antara lega, tetapi juga kecewa. "Kau yakin?" Luhan bertanya sekali lagi, telapak tangan membelai pipi Sehun. Sehun menjawabnya dengan anggukan pasti. "Sehun-"
"Sshh," Sehun memotong. "Aku tidak ingin kita membicarakan ini lagi, oke? Apa yang terjadi di masa lalu tidak penting lagi, hyung. Bahkan jika kau pernah membunuh seseorang di masa lalu pun aku tidak peduli. Yang jelas sekarang hyung ada di sini, bersamaku."
Seribu bahasa Luhan terdiam, bahkan saat Sehun mendaratkan kecupan kecil di kening. Tanpa Sehun sadari, dia telah mengusik masa lalu tergelap Luhan.
Melihat Luhan yang hanya membisu, Sehun mengusap pipi kekasihnya pelan. "Hyung?"
Luhan berkedip beberapa kali, tersadar dan memberi Sehun senyuman kecil.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Rasa khawatir melanda Sehun karena Luhan tidak biasanya menjadi pendiam seperti ini.
Sayangnya Luhan menggeleng, tampaknya enggan untuk memberikan jawaban gamblang kepada Sehun yang pada akhirnya mengalah. Mungkin kekasihnya belum siap untuk bercerita. Sekali lagi Sehun mengecup kening Luhan, meremas telapaknya dan bersiap untuk melanjutkan kegiatannya tadi.
"Aku…"
Sehun menoleh ketika Luhan kembali bicara, memberikan seluruh atensinya ke pria yang tengah menghela napas berat.
"Aku hanya ingin mengenalmu lebih jauh, Sehun." Luhan mengungkap. "Aku bahkan tidak tahu di mana kau tinggal dan-"
"Hyung," Sehun memotong, kali ini dengan nada dingin yang mengejutkan Luhan. Sehun tidak pernah bersikap seperti itu kepadanya. "Bisakah kita bicarakan ini lain kali? Aku harus mengumpulkan jurnalku besok." Sehun terlihat jengkel.
"Maaf,"
.
.
Jika ada perasaan yang Luhan paling benci, maka rasa itu adalah rasa penasaran. Kilasan memori akan Sehun yang bersikap dingin padanya masih terngiang. Sekalipun kekasihnya sudah kembali bersikap hangat, tetapi tetap saja, Luhan tidak bisa tenang saat dia belum mendapatkan jawaban.
Tanpa sadar, kegundahan yang ia alami membawanya kembali mengingat saat ia masih menjadi tahanan. Dia penasaran dengan sikap yang Yoochun tunjukkan kepadanya hingga pada akhirnya dia nekat bertanya. Meskipun pada akhirnya jawaban yang Luhan dapatkan bukanlah seperti apa yang ia harapkan, tetapi setidaknya rasa penasarannya terbayar. Ingin ia melakukan hal yang sama dengan Sehun, tetapi jika mengingat bagaimana Sehun yang sama sekali tidak ingin disinggung akan kehidupan pribadinya, Luhan merasa hal itu akan percuma.
Hingga pada suatu hari, Luhan dengan nekat mengikuti Sehun ketika kekasihnya pulang dari J Holic. Ia melihat Sehun yang menaiki mobil dan keningnya langsung berkerut. Sehun selalu bercerita dia menaiki bus untuk pulang dan Luhan beberapa kali mengantarnya ke halte. Menaiki taksi, Luhan meminta kepada sopir untuk mengikuti mobil Sehun membawa kekasihnya itu pergi.
.
.
Familier.
Luhan merasa ia berada di lingkungan yang begitu familier. Matanya tidak lepas dari gedung-gedung yang masih kokoh berdiri bahkan setelah hampir lima tahun. Telapak tangan Luhan tiba-tiba berkeringat dingin. Dadanya berdebar karena rasa takut yang tiba-tiba menyergap. Takut jika apa yang ada dalam pikirannya berubah menjadi kenyataan yang paling ingin dia hindari.
Dan di sana, mobil Sehun memasuki gerbang rumah yang juga familier baginya. Terlalu familier faktanya. Luhan meminta sopir taksi yang mengantarnya untuk berhenti di gedung seberang, lalu turun dengan tergesa setelah membayar. Ia melesat ke bubungan atas untuk memastikan.
Lutut Luhan mencium substansi keras bubungan, tulang seakan kehilangan kemampuan untuk menyokongnya berdiri. Sekarang semuanya jelas. Wajar jika Luhan merasa mengenal Sehun ketika mereka pertama kali bertemu. Nyatanya, Sehun adalah anak dari pasangan konglomerat yang dibunuhnya hampir lima tahun lalu, juga remaja yang menangis saat ia mengalihkan pandangan dari lelaki paruh baya yang memakinya setelah interogasi berakhir.
Tangan Luhan terlalu lemah untuk menggenggam dan memaki diri. Ia merasa begitu hina. Tidak pantas ia berdiri di samping lelaki yang orang tuanya ia bunuh. Tidak pantas dia menerima segala kasih sayang yang Sehun berikan. Tanpa sadar bening bulir air matanya mengalir, rasa bersalah terlalu menggerogoti.
Tangis Luhan semakin susah untuk ditahan saat ia melihat Sehun yang menggendong Vivi, menciuminya sayang dan Vivi membalasnya dengan mengibaskan ekor kanan kiri. Luhan bertekad untuk pergi. Pergi dari kehidupan Sehun sebelum pahitnya kenyataan akan membunuh keduanya secara perlahan.
.
.
"Jaejoong hyung,"
"Luhan? Ada apa kau menelepon tengah malam begini? Kau ada masalah?"
"Hyung, maafkan aku tetapi aku tidak bisa lagi bekerja di J Holic."
"Kenapa tiba-tiba? Kau bertengkar dengan Jongdae?"
"Tidak, Jongdae baik. Aku- hyung bolehkah aku minta tolong kau carikan pekerjaan yang lain untukku? Di tempat yang jauh, aku mohon."
"Kau menangis? Apa yang sebenarnya terjadi padamu?"
"Hyung, tolong…"
"Baiklah, kebetulan keponakanku butuh bartender, aku akan memberikan kontakmu kepadanya dan akan ku suruh dia untuk menghubungimu."
"Terima kasih, hyung. Sungguh aku-"
"Luhan,"
"Hm?"
"Kau bisa bercerita padaku saat kau siap. Anggap saja aku kakakmu, oke?"
.
.
Bising musik menjadi sahabat baru Luhan selama dua bulan terakhir. Tidak nyaman, jika Luhan ingin berkata jujur. Tetapi mau tidak mau dia harus melakukan ini jika ingin menjauh dari Sehun.
Sudah dua bulan Luhan sengaja memutus kontak dari sang kekasih. Memilih tidur di tempat kerja saat siang hari sebelum kembali berkutat dengan ingar bingar manusia-manusia yang ingin membebaskan diri. Luhan tidak pernah pulang, hatinya belum siap untuk melihat Sehun dan mungkin tidak akan pernah siap. Kesalahannya terlalu besar.
Sering Luhan berpikir untuk mengakhiri hidup, tetapi kilas memori akan Sehun menjadi pencegah hal itu terjadi. Luhan berpikir, jika keinginan untuk tidak lagi hidupnya sudah terlalu kuat, setidaknya dia harus bertemu Sehun untuk terakhir kali dan meminta maaf. Dan mungkin… untuk mengatakan jika Luhan masih mencintainya.
Meskipun Luhan tahu, Sehun yang membencinya setelah ia jujur adalah kemungkinan terbesar yang akan terjadi. Hela napas berat meluncur. Gundah hati untuk kembali masih tertahan dengan agonia yang menghantui.
Luhan tersenyum miris. Dulu, tidak pernah ia meragu untuk menghias kepala orang dengan lubang bekas peluru. Tetapi kini dia hanyalah seorang pengecut, seorang pecundang yang kalah oleh rasa takutnya sendiri.
Luhan kembali merasa dia menjadi bagian dari anomali. Tidak pantas berbaur dan tidak semestinya menjadi bagian dari tatanan yang berlaku.
.
.
"Hyung ada masalah?"
Luhan berjingkat, terkejut dengan kehadiran Taeyong –keponakan Jaejoong yang juga pemilik tempatnya bekerja sekarang. Luhan memberinya senyuman tipis, lantas menggeleng –menghindar.
"Eh, kalau hyung tidak ada masalah mana mungkin hyung terus mengelap titik yang sama selama sepuluh menit terakhir." Taeyong mengungkap. "Aku mulai khawatir meja ini akan menjadi transparan karena terlalu bersih." Candanya.
Terkesiap, Luhan agak melempar kain setengah basah ke atas meja. Tawa halus Taeyong mengalir, Luhan mendongak untuk melihat dua sudut bibir Taeyong yang tertarik ke atas.
"Maaf,"
Berkedip cepat, Taeyong mendudukkan dirinya di depan Luhan. "Hyuuuungg, kenapa kau meminta maaf? Hyung tidak melakukan kesalahan apapun." Bagai anak kecil Taeyong merengek, lantas menggenggam tangan Luhan yang menatapnya bingung. "Aku tidak akan memaksa hyung untuk bercerita, tetapi anggaplah aku sebagai adikmu, oke? Itu artinya kau bisa mengeluh kepadaku kapan saja."
Atensi Luhan tersita oleh kalimat terakhir Taeyong, kalimat yang persis diucapkan oleh Jaejoong beberapa waktu lalu. Mungkin gen ramah dan mengayomi memang turun-temurun dimiliki oleh keluarga mereka. Ia lantas memandang Taeyong yang masih memberinya senyuman terlebar. Begitu kontras dengan dirinya yang bahkan untuk mengangkat sudut bibir saja ia terpaksa.
"Bagaimana kau bisa selalu tersenyum?" Pertanyaan meluncur tanpa mampu ia tahan. Selama mengenal Taeyong, tidak pernah sekalipun Luhan melihat lelaki itu menunjukkan emosi lain selain bahagia. Bahkan ketika dia turun tangan langsung untuk melerai pengunjung, dia masih sanggup memasang senyum.
"Eh?" Taeyong terkesiap, sama sekali tidak menduga jika Luhan malah mengajukan pertanyaan semacam itu.
"Kau selalu bahagia," Luhan mengulang. "Aku jadi penasaran bagaimana."
Satu alis Taeyong terangkat naik. "Apa hyung mengasumsikan aku tidak pernah mendapat masalah?"
"Mungkin,"
Kali ini Taeyong terbahak, sekali lagi menarik atensi Luhan untuk melihatnya yang menyeka air mata karena tertawa terlalu keras. "Hyung bukan orang pertama yang menanyakan hal itu, sebenarnya. I get that a lot. Tetapi percayalah, aku pernah berpikir untuk bunuh diri."
"Bunuh diri…?"
"Hm," Taeyong mengangguk. "Beberapa tahun lalu aku melakukan kesalahan yang… well, katakanlah cukup fatal dan membuatku hampir kehilangan segalanya. Aku benar-benar hampir bunuh diri jika saja aku tidak bertemu…" Taeyong menjeda ceritanya, sudut bibir terangkat sedikit dan membentuk sebuah senyuman kecil. "Aku hampir saja bunuh diri jika tidak bertemu seorang teman yang katakanlah membuatku sadar. Sadar jika bunuh diri bukalah sebuah solusi dan tidak akan pernah menjadi sebuah solusi. Mungkin itu membuatmu bebas dari jeratan kesalahan, tetapi itu tidak akan pernah mengubahnya. Kau akan tetap diingat sebagai orang yang berbuat salah. Akan lain cerita jika kau tetap memilih untuk hidup dan memperbaikinya."
Tangan Luhan mengepal di bawah meja, rahang mengeras menahan luapan emosi yang tiba-tiba membuncah layaknya ombak. Taeyong mungkin tidak tahu, tetapi apa yang ia ceritakan berhasil menampar Luhan, mengolok dan mencacinya seperti seorang pecundang. Tanpa sadar Luhan mengambil napas besar dan menghelanya.
"Perkataannya entah kenapa seperti sebuah mantra sihir," Taeyong melanjutkan, mengedikkan bahu tanpa menyadari kondisi emosional Luhan. "Aku memilih untuk bangkit meskipun tidak mudah. Memilih untuk menghadapi, bukannya lari. Dan di sinilah aku, hyung. Sekarang aku menjadi Taeyong yang kau kenal."
Kembali tangan Luhan ia genggam perlahan, lalu menatap mata sang pemilik untuk memberikan senyum teduh yang menenangkan. "Hyung, dengar," Taeyong kembali berbicara. "Kita memang belum terlalu lama mengenal dan aku tidak tahu masalah apa yang membuatmu begini, tetapi jika aku boleh memberi saran, aku akan mengatakan kepadamu untuk jangan lari."
Luhan mengangkat wajah, menemukan Taeyong yang memberinya dorongan lewat isyarat mata. Luhan tidak tahu sejak kapan pipinya basah, ia hanya tahu kedua tangannya melingkar, merengkuh tubuh Taeyong dan menahan isakan kecil di bahunya. Tepukan pelan di punggung makin deras mengalirkan air mata, namun, Luhan lega. Akhirnya dia mendapatkan jawaban atas kegundahannya.
Dia harus pulang.
.
.
Udara terasa hangat dengan angin yang enggan berembus. Malam musim panas sekali lagi menyapa, mengundang kenangan yang sengaja Luhan kubur untuk kembali muncul. Langkah kakinya pelan dan berat, menyusuri jalan yang selama dua bulan tidak ia lalui.
Satu tangan bersembunyi di balik saku, sedangkan yang lain meraih knop pintu. Luhan membuka rumah yang minim akan penerangan. Ia tidak bersusah-susah untuk memencet tombol sakelar dan langsung menuju lantai dua, ingin segera mengistirahatkan diri di kasurnya yang dingin, menyiapkan hati untuk bertemu Sehun esok hari.
Namun niat hanya tinggal niat. Luhan terkejut saat mendapati Sehun yang tidur terduduk di depan pintu kamarnya. Badannya meringkuk, merengkuh ransel yang menjadi alas kepala. Napasnya tenang, tetapi kerut di antara keningnya menandakan bahwa ia tidak nyaman. Hatinya terenyuh, Sehun membuktikan kalau dia betul-betul mencintainya.
Berhati-hati Luhan mendekat. Langkahnya pelan, takut jika kegaduhan barang sedikit saja bisa membangunkan Sehun. Luhan lantas berjongkok di depan kekasihnya yang masih terlelap, mengusap rambutnya dan mengecupnya dalam di kening. Luhan tidak tahu berapa kali Sehun menunggunya di depan kamar seperti ini, dia yakin jika pasti Sehun melakukannya hampir setiap hari dan ia merasa begitu bersalah.
Cukup lama ia mengecup kening Sehun, hingga Luhan melepaskan karena kening Sehun yang basah karena tangisnya. Akhir-akhir ini dia sering menangis, sama sekali tidak menyangka jika rasa sayangnya kepada Sehun bisa berimbas sebanyak ini.
Dengan hati-hati ia bopong tubuh Sehun, menidurkannya di kasur sebelum ia sendiri merebahkan diri di samping. Luhan kembali terisak, dipeluknya tubuh Sehun erat –seolah seluruh hidupnya bergantung pada lelaki yang masih enggan membuka mata.
Luhan telah banyak berubah. Dulu, ia tidak pernah sekalipun ia menangis meskipun mendiang ayahnya menghukumnya dengan keras, tidak pernah sekalipun ia mengeluh saat menjalani latihan kejam dari Kris, bahkan ia tidak menangis saat satu-satunya sahabat yang ia punya pergi. Namun, Sehun telah mengubah segalanya. Hati Luhan yang dulu beku perlahan ia cairkan dengan segala kasih sayang yang ia punya.
Kini hati Luhan telah menjadi hati yang repas, Sehun telah mengubahnya sebanyak ini.
"Kenapa hyung menangis?" Suara Sehun menggantikan isakan Luhan yang tertahan dan mengisi keheningan di antara mereka. "Jika ada di antara kita yang harus menangis, maka orang itu adalah aku." Sehun mengubah posisi tubuhnya, kini berhadapan dengan Luhan yang menatapnya dengan mata sembap. "Dua bulan… dua bulan kau menghilang dan mengabaikanku. Aku hampir gila, kau tahu."
"Maaf,"
"Sampai kapan hyung berencana mengabaikanku?" Sehun mencoba menggenggam tangan Luhan, tetapi pria itu menepisnya.
"A-aku… kau tidak seharusnya bersamaku, Sehun. Aku tidak pantas untukmu." Luhan kembali menangis tanpa mampu ia tahan. "Kau terlalu baik, kau tidak tahu hal buruk apa saja yang ku lakukan di masa lalu. Kau bahkan tidak tahu kalau aku adalah-"
"Aku tahu," Sehun memotong, mengejutkan Luhan yang kini memandang dengan mata membulat. "Aku tahu, hyung."
"Bagaimana…?"
"Kau lupa jika lima tahun lalu kita pernah bertemu?"
Ah, benar. Lima tahun lalu mereka bertemu sebagai seorang tersangka dan anak dari kedua korban. Lucu bagaimana takdir mempermainkan mereka, mempertemukan kembali dan menjadikan mereka seorang kekasih. Ingatan Luhan membawanya kembali ke pertama kali mereka bertemu setelah sekian lama, tatapan terkejut Sehun yang berusaha ia sembunyikan. Kini semuanya jelas, Sehun terkejut karena bertemu kembali dengan pembunuh kedua orang tuanya.
Luhan merasa dirinya makin tidak pantas. Bagaimana mungkin lelaki yang tahu tentang identitas pembunuh orang tuanya menerima pembunuh itu dengan tangan terbuka?
"Jangan salahkan dirimu, hyung. Kau adalah korban, sepertiku." Sekali lagi Luhan terkesiap. Bibirnya terbuka, hendak mengatakan sesuatu namun segera dipotong oleh Sehun. "Kita berdua korban keserakahan pamanku, hyung." Sehun menjelaskan. "Kau bukan pembunuh, tetapi pamanku."
"Hyung," Sehun mengelus pipi Luhan yang masih basah. "Kau tidak bersalah, oke? Penyebab semua ini adalah pamanku dan orang tua itu sudah mendapatkan hukumannya sendiri, hyung. Dia mati karena kecelakaan mobil. Sekarang yang aku ingin kau lakukan adalah untuk berhenti menyalahkan dirimu, mengerti?"
Luhan membisu, tidak tahu bagaimana harus bersikap. Bagaimana mungkin rasa bersalah selama lima tahun yang ia pikul bisa ia hilangkan hanya karena kekasihnya mengatakan hal itu? Bagaimanapun dia adalah seseorang yang menembakkan peluru.
"Do you even love me?" Luhan terkejut dengan pertanyaan Sehun, tetapi dia masih tetap memilih untuk menutup mulut. "I said, do you even love me?" Sehun mengulang, kali ini dengan tekanan dan nada yang lebih keras. "Answer me goddamn it!"
Sehun berteriak. Tanpa disangka matanya turut basah, sama seperti Luhan yang sekali lagi harus terisak. Jemari Luhan lantas bergerak perlahan, menangkup pipi Sehun dan mempertemukan dahi mereka.
"Of course, I do," bisiknya disela-sela isakan. "I really really do love you."
"Then stay," Sehun balas berbisik dan menatap Luhan tepat di kedua mata. "Luhan… I beg you to stay."
Luhan…
Untuk pertama kalinya Sehun memanggilnya tanpa tambahan 'hyung'. Rasanya begitu berbeda, seolah Sehun yang kini mengambil peran untuk mengayomi. Dan setelah semua yang terjadi, mungkin Luhan memang butuh Sehun untuk menuntunnya berdiri di atas kakinya lagi.
Oleh karena itu tanpa ragu ia mengangguk, mengecup kening Sehun perlahan dan berkata;
"I'll stay."
Two midsummer's eves, two new beginnings.
.
To Be Continued
a/n:
Satu bab lagi dan cerita ini akan selesai, saya mohon pembaca sekalian sabar karena saya juga punya hidup dan kepentingan yang harus dijalani^^ Dan seperti yang saya katakan dari kemarin-kemarin, cerita ini sudah selesai, jadi tidak perlu khawatir saya akan menelantarkannya. Tapi ya sekali lagi, mohon dimengerti jika hidup saya tidak hanya di depan komputer^^
