Akaashi menatap heran Bokuto yang menyodorkan ponselnya ketika mereka berdua berjalan pulang menuju stasiun. Anggota yang lain ada yang masih tertinggal di belakang, ada jua yang sudah pulang lebih dulu.

"Emailmu. Aku mau alamat emailmu dan nomor teleponmu."

"Untuk apa?" Meski bertanya, Akaashi tetap menyambut ponsel itu dan menuliskan alamat email dan nomor teleponnya. Bokuto menjawab dengan cengiran tipis, "Mulai besok aku akan menunggumu di stasiun Tamachi. Jadi aku akan mengemailmu nanti."

"Tapi, Bokuto-san—" Akaashi terlihat ragu untuk menyerahkan ponsel Bokuto selesai ia menuliskan apa yang si perak itu minta, "—tidakkah itu menyusahkanmu?"

"Tidak apa. Tidak apa. Aku senang kok." Direbut Bokuto ponsel yang menggantung itu, "Kita juga bisa jadi teman email, bukan?"

Tak ada tanggapan dari si hitam. Matanya menatap yang berjalan di depannya dengan langkah bahagia itu dengan kebingungan. Bokuto menurutnya cukup sulit dipahami. Di salah satu pertandingan tadi, untuk pertama kalinya ia melihat seorang pemain merajuk di tengah pertandingan karena tadi Akaashi mengoper kepada yang lain sebanyak dua kali ketika tak disangkanya Bokuto sudah siap untuk melakukan spike. Bokuto. Ace Fukurodani. Fukurodani yang merupakan salah satu sekolah yang tim volinya menjadi unggulan di Tokyo. Merajuk padanya.

Saat Akaashi SMP dulu, ia memang sering menonton pertandingan Fukurodani. Namun baru kali ini ia menyadari bahwa salah satu pemain unggulan sekolah yang ia favoritkan itu ternyata cukup bermasalah dengan mentalnya. Beruntungnya Akaashi bisa menghentikan rajukan dan kerut tak senang di wajah Bokuto dibantu dengan seniornya yang lain.

Dipikirnya bahwa Bokuto akan sebal padanya dan takkan mau berbicara dengannya lagi. Namun rupanya kemenangan mereka delapan kali berturut-turut tadi melupakan kekesalan Bokuto dan si perak itu bahkan yang memulai perbincangan mereka setelah latihan selesai tadi.

"Aku akan mengirimimu email nanti, Akaashi." Kepala perak itu menoleh padanya. Memperlihatkan sebuah cengiran lebar yang makin lama makin membuat Akaashi terbiasa melihatnya.

"Selama kau tidak mengirimkan sesuatu yang jorok, tidak apa, Bokuto-san."

Alis tajam itu terangkat, wajah itu terlihat kebingungan, "Apa maksudmu jorok?"

"Siapa tahu kau suka mengirimkan gambar porno kepadaku."

"Akaashi, aku tidak semesum itu."

"Jaga-jaga saja." Akaashi tersenyum tipis. Sebenarnya ia hanya menggoda seniornya itu. "Siapa tahu."

"Yah, tapi kalau sesekali tidak apa, kan?"

"Eh?"

-disambung di chapter berikutnya