Starless Sky
.
"I get what I love whatever it takes."
.
[Sembilan tahun lalu]
Oh Sehun bukanlah tipikal anak sepuluh tahun kebanyakan. Dia tidak mengenyam sekolah umum. Bukan karena orang tuanya tidak mampu, tetapi karena orang tuanya melindungi dia dari mata-mata yang haus akan darahnya. Bahaya, jika ayahnya mengatakan. Jika orang-orang tahu akan dirinya, maka mereka akan menggulingkan tahta sang ayah melaluinya. Menurut orang tuanya, cukup mengenal orang-orang kepercayaan mereka dan orang-orang yang akan melayani Sehun layaknya raja saja sudah cukup.
Sehun, yang sekalipun masih berusia dini sangat memahami itu. Atau mungkin terlalu memahami. Dari kecil ia dididik untuk melanjutkan apa yang ayahnya telah bangun dan melindunginya. Dan ia juga dididik, banyak orang-orang di luar sana yang berusaha untuk merebut apa yang akan menjadi haknya nanti.
"Pertahankan apa yang menjadi milikmu dan raih apa yang kau sukai, Sehun. Whatever it takes."
Sepuluh tahun Oh Sehun menanamkan pesan ayahnya layaknya sebuah mantra.
.
.
Sehun berusia empat belas tahun dan dia sudah lebih banyak tahu. Dia tahu beberapa hari terakhir rumahnya diamati oleh orang asing yang sepertinya usianya tidak jauh berbeda darinya. Sehun mengamati orang itu dari tirai kamar dan dadanya berdebar ketika si orang asing membuka masker yang memperlihatkan seluruh wajahnya.
Sehun tahu, dia jatuh cinta.
Dia juga tahu jika si orang asing akan membunuh orang tuanya melalui gedung seberang dan Sehun membiarkan itu terjadi. Saat yakin orang tuanya telah terbunuh, Sehun menginstruksikan polisi yang sebelumnya ia minta untuk berada tiga puluh meter dari lokasi sang penembak untuk menangkapnya. Sehun tersenyum tipis, sebentar lagi dia akan tahu identitas sang orang asing.
Luhan, Sehun belajar mengucapkan nama itu sepulang dari kantor polisi. Luhan bahkan jauh lebih memesona ketika terlihat dari dekat dan Sehun segera ingin memilikinya. Tanpa ragu, ia lantas menelepon salah satu orang kepercayaan ayahnya.
"Buat hukuman Luhan tidak lebih dari lima tahun."
Singkat, tetapi penuh penakanan.
Dan Sehun tersenyum ketika mendapatkan pesan singkat jika hakim setuju untuk mendakwa Luhan hanya empat tahun dengan syarat sejumlah uang harus dikirimkan padanya. Sehun, sekali lagi, tanpa ragu melakukannya.
.
.
Pada usia enam belas, Sehun memutuskan untuk mengenyam pendidikan menengah atasnya di sekolah umum. Bukan karena ingin, tetapi karena dia bosan menunggu Luhan yang masih akan bebas dua tahun lagi.
Awal dia membuat keputusan itu, pamannya melarang. Mencegah Sehun dengan alasan yang sama yang diucapkan mendiang ayahnya. Namun, Sehun tahu pasti jika pamannya takut Sehun akan dikenal publik dan haknya sebagai pewaris akan diperbincangkan. Dia tahu pasti dengan munculnya ia di muka umum, kedudukan pamannya yang sementara menggantikan ayahnya akan terancam.
Sehun tidak peduli dengan hal itu. Di hari dia mendaftar sekolah, di hari itu pula dia menginstruksikan Kyungsoo untuk membunuh pamannya. Sebagai pembalasan atas kematian orang tuanya yang ia bunuh lewat tangan Luhan beberapa tahun lalu.
"Kyungsoo, apa pamanku pernah bertemu denganmu?"
"Tidak, dia hanya pernah bertemu Luhan dan Jongin. Kenapa?"
"Bagus," Sehun menyeringai. "Bunuh dia dan buat dia seolah mati karena kecelakaan. Aku akan memberimu bonus."
"Misi diterima."
.
.
Ketika hampir waktunya masa hukuman Luhan habis. Sehun menemui Jongin dan Kyungsoo, membayar mereka lebih dan menjanjikan kehidupan yang nyaman di Belanda sebagai ganti dari aset yang mereka miliki untuk Luhan. Keduanya tanpa berpikir panjang setuju. Lagi pula, jika dirunut dalam hierarki, Sehun adalah atasan mereka dan aturan utama dalam organisasi adalah untuk tidak menolak perintah dari atasan.
Tidak lupa, Sehun menginstruksikan keduanya untuk menemui Luhan dan meyakinkannya agar tetap tinggal di Myeongdong. Seperti dugaan Sehun keduanya berhasil untuk membuat Luhan tinggal. Kini hanya tinggal permainan kecil untuk membuat Luhan menjadi miliknya.
.
.
[Present Days]
Kalian bisa mengatakan Sehun bajingan, dia tidak akan peduli. Satu-satunya hal yang ia pedulikan hanyalah bagaimana cara mendapatkan Luhan. Sejak Luhan keluar dari penjara, Sehun telah memerintahkan beberapa orang untuk mengawasi pria tersebut dan secara mengejutkan Luhan tidak sadar. Sedikit mengherankan untuk mantan pembunuh sepertinya. Mungkin kehidupan penjara telah menumpulkan kepekaannya terhadap sekitar.
Ia tahu Luhan tengah kesulitan mencari pekerjaan, oleh karena itu dia mengutus Jaejoong untuk memberi Luhan dua opsi pekerjaan dengan dua kemungkinan yang sudah dikalkulasikan Sehun dengan matang. Ternyata Luhan memilih opsi kedua, menjadi barista di kafe baru Jaejoong. Pikirnya, ini akan jauh lebih mudah.
Dan benar, bertingkah seperti pelanggan remaja malu-malu berhasil membuatnya menarik perhatian Luhan. Ia tertawa dalam hati jika mengingat bagaimana Luhan berusaha mengajarinya Bahasa Mandarin dan ia yang pura-pura sulit untuk memahami. Sehun bahkan lancar berkomunikasi dan paham segala idiom Mandarin yang ada, dia sudah dilatih dari kecil untuk itu.
Tetapi demi Luhan, ia rela dianggap bodoh.
Dan seperti yang sudah ia prediksi, Luhan mengajaknya untuk berkencan dan meresmikan hubungan mereka. Sehun pikir bahwa itu adalah akhir dari perjuangannya dan dia akhirnya dapat memiliki Luhan untuk secara utuh, tetapi ternyata tidak.
Kalkulasi Sehun sedikit meleset.
Ia tidak pernah mengkalkulasikan Luhan yang nekat mengikutinya karena ingin mengetahui siapa dia sebenarnya dan dia tidak pernah mengkalkulasikan Luhan yang memilih untuk menghilang. Beruntung Jaejoong dan Taeyong adalah anak buahnya, keduanya memberi informasi akan Luhan dan akan memantau Luhan untuknya.
Saat Taeyong kemudian menghubunginya, mengatakan jika Luhan akan pulang ke rumahnya malam itu, Sehun bersiap. Ia membuat dirinya tampak kacau sebelum berpura-pura tidur di depan kamar Luhan, menunggu lelaki itu datang dan menemukannya dalam keadaan mengenaskan.
Semuanya berjalan mulus, sesuai apa yang diinginkan Sehun. Hanya saja Sehun tidak menyangka jika Luhan akan merasa sebersalah itu hingga tidak henti-hentinya menangis. Melihat Luhan yang seperti itu mau tidak mau membuat hati Sehun terenyuh. Dia memang bajingan, segala yang Luhan alami, apa yang terjadi dalam hidupnya adalah skenario yang telah ia atur. Namun, bagaimanapun cintanya kepada Luhan adalah perasaan yang murni.
Begitu murni hingga ia tidak menyangka jika ia bisa mengeluarkan air mata ketika ia menanyakan ketulusan cinta Luhan untuknya. Ia gelisah, takut jika rasa bersalah Luhan akan mengungguli rasa cintanya. Hatinya baru merasa lega ketika Luhan menjawab jika dia benar-benar mencintai Sehun.
Sehun kembali terkejut dengan kapabilitas menangisnya yang bisa menyaingi Luhan. Dia kembali menangis saat dia memohon agar Luhan tetap berada di sampingnya. Dia benar-benar takut kehilangan pria yang ada di depannya.
Ia tahu benar dia telah membuat banyak kesalahan, jauh lebih banyak dari yang pernah Luhan lakukan. Dia adalah orang yang keji, dia sendiri paham. Dia rela menukarkan nyawa kedua orang tuanya demi mendapatkan pria yang tangannya ia genggam. Untuk Luhan, dia juga rela menjadi bukan dirinya. Menjadi remaja penuh kasih sayang yang akan bertingkah malu jika sang kekasih memuji.
Dua sisi, dua sisi yang ia jalani untuk mempertahankan Luhan di sampingnya.
Sehun tahu pasti, lambat laun Luhan akan mengetahui semuanya dan dia masih belum bisa mengkalkulasi bagaimana reaksi Luhan jika tahu hidupnya selama ini telah diatur sedemikian rupa oleh Sehun. Tetapi untuk saat ini, biarkanlah hal-hal itu menjadi urusan nanti.
Karena saat ini dia ingin menikmati momen yang ia bagi dengan pusat dunianya.
"I'll stay."
And I would never leave.
-END-
a/n:
Akhirnya cerita ini berhasil saya rampungkan! Sebetulnya masih ada satu bagian lagi, namun itu saya simpan untuk saya jadikan hard copy bagi yang berminat :D (tidak usah khawatir, it's really cheap karena saya tidak mengambil untung). Namun karena saya masih banyak urusan, mungkin nanti kalau sudah agak senggang akan saya buka P.O *o*
Oh iya, ini salah satu hal paling penting yang ingin saya utarakan; memang betul cerita saya ini berlabel M alias mature (dewasa). Namun, perlu pembaca ketahui, dewasa di sini bukan selalu berarti ada adegan smut, ya. Saya mengkategorikan cerita ini dalam ketegori dewasa karena bagi saya memang temanya tidak cocok untuk masuk ke dalam kategori remaja, mungkin T+ namun karena ffn tidak ada pilihan T+, akhirnya saya memutuskan untuk memasukkannya dalam jajaran cerita dewasa :D
Sampai jumpa di cerita lainnya*.*)/
