Akaashi mengernyit saat membaca pesan masuk bertepatan saat suapan terakhir makan malamnya.

'Yo, Akaashi. Bokuto di sini.'

Mereka bahkan baru berpisah sejam yang lalu dan Bokuto sudah mengiriminya pesan. Dilihat Akaashi emotikon menyerupai burung hantu di ujung pesannya.

Jadi—untuk apa Bokuto mengiriminya pesan seperti ini? Akaashi harus membalas yang bagaimana? Jujur saja, Akaashi bukan orang yang terbiasa bertukar pesan dengan teman-temannya. Akaashi mendiamkan pesan itu sebentar. Ditinggalkannya ponselnya di atas meja sementara ia mengangkati piring-piring kotor di atas meja ke wastafel tempat ibunya sedang mencuci piring.

"Keiji, bagaimana pertandinganmu hari ini?"

Akaashi tersenyum tipis dan mengambil lap meja yang tergantung di dekat wastafel, "Musuh kami cukup menyusahkan, tapi ace kami bisa menembus pertahanan mereka."

"Besok Ibu buatkan bekal seperti tadi lagi?"

Anak tunggal Akaashi itu hanya mengangguk sambil mengelap meja makan. Tak sengaja tangan kirinya menyenggol ponselnya dan barulah ia kembali teringat dengan pesan Bokuto. Terdiam sejenak sambil memegangi ponselnya, Akaashi berpikir cepat.

'Ya, Bokuto-san. Ada apa?'

Akaashi bahkan baru mau berjalan mengembalikan lapnya ketika ponselnya kembali berbunyi, menandakan ada pesan yang masuk.

Balasannya cepat juga.

'Aku hanya ingin menyapamu. Hahaha. Sampai jumpa besok di stasiun.'

Hanya itu?

Akaashi menatap layar ponselnya dengan bingung.

Sebenarnya, makhluk apa yang harus dia hadapi mulai dari sekarang?

-disambung di chapter selanjutnya