Akaashi membenarkan tasnya yang salah satu talinya turun dari pundaknya ketika melewati palang pembatas dan menemu Bokuto yang berdiri dengan cengiran di depan matanya. Berbeda dari kemarin-kemarin saat dia bertemu dengan si perak di gedung olahraga, Bokuto kali ini harum wanginya dicium Akaashi. Bukan bau parfum, tapi aroma deterjen dan pelembut yang masih menempel di baju seragamnya. Bau yang menyenangkan dan berbeda.
"Yo, Akaashi."
Sebelah alis Akaashi naik heran dan tatapannya mendelik aneh pada ace Fukurodani itu, "Kau pagi sekali, Bokuto-san."
"Sengaja." Bokuto masih menyengir. Dia berbalik dan mengikuti langkah Akaashi menuju peron untuk menunggu ke sekolah mereka. Akaashi tersenyum tipis dan menunduk, "Terima kasih."
"Untuk apa?"
Lagi-lagi alis Akaashi naik sedikit, "Tentu saja karena kau sudah datang menjemputku, Bokuto-san."
Didengar Akaashi tawa Bokuto yang pelan. Mereka berdua berjalan berdampingan dan aroma menyenangkan itu makin kuat dicium Akaashi. Kata si perak, "Tidak masalah, Akaashi. Aku senang melakukannya."
"Kau memang selalu berangkat sepagi ini?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Aku sudah berjanji kita akan berangkat bersama, bukan?" Bokuto tidak menghilangkan cengirannya sama sekali. Akaashi diam sebentar. Dia sudah akan membuka mulut sebelum Bokuto menyambar lagi dengan cepat, "Lagipula aku ingin bertemu denganmu secepat mungkin."
Hening dan langkah mereka sudah sampai di pembatas rel. Apa yang harus Akaashi katakan lagi? Dia bukan tipe yang senang memulai pembicaraan dan kediaman keduanya terasa ganjil bagi Akaashi.
"Ternyata—" Akaashi menoleh pada si perak yang melipat tangannya di dada. Si perak melanjutkan, "—menyenangkan."
"Apanya?"
Kekeh pelan Bokuto didengar Akaashi. "Menyenangkan memiliki motivasi baru untuk bangun di hari yang baru."
Bibir si hitam membentuk senyuman tipis, "Kau sangat bersemangat menjadi pemain voli terbaik se-Jepang?"
"Hah?" Bokuto menatap Akaashi bingung, "Itu sudah jadi motivasiku sejak aku masih SD. Tentu saja aku sudah menjadi yang terbaik se-Tokyo dan tidak lama lagi akan menjadi yang terbaik se-Jepang. Motivasi baruku mulai dari kemarin—"
Bunyi kereta memasuki stasiun sangat nyaring dan nyaris meniadakan ujaran Bokuto di ruang di antara mereka berdua, "—adalah untuk menjadi lebih dekat denganmu."
"Eh?" Akaashi merasa tak yakin dengan apa yang didengarnya, karena selain karena bunyi kereta, pemberitahuan di speaker stasiun pun membikin ribut ditambah dengan langkah-langkah kaki orang-orang yang ingin segera mendapat tempat di dalam kereta. "Apa, Bokuto-san?"
"Akaashi, cepatlah. Nanti ketinggalan." Tak menghiraukan tanya Akaashi, tangan itu disambar Bokuto, dibawanya masuk ke dalam kereta sebelum pintunya menutup dan meninggalkan keduanya.
"Anu—Bokuto-san?"
Tatap emas Bokuto lurus kepada yang hijau itu. "Ya?"
"Kita masuk kereta yang berlawanan arah dari sekolah."
"ARGH!"
-disambung di chapter berikutnya
