"KAPTEN, INI PEMBUNUHAN!" Bokuto berteriak nyaring saat dia melewati tiga orang seniornya yang duduk tepat di tangga pintu gedung olahraga yang menghadap langsung lapangan. Baju si perak basah karena keringatnya meski dia bahkan belum menyentuh bola sama sekali di latihan pagi ini.

"Salah sendiri terlambat. Kau juga, Akaashi. Pastikan ini pertama dan terakhir kalinya kau terlambat."

Akaashi hanya terengah-engah. Matanya menyipit saat dirasanya keringatnya turun ke kelopak matanya. Dia melirik si perak yang sama kelelahannya seperti dia karena diperintahkan berlari mengelilingi wilayah sekolah lima kali sebagai hukuman karena terlambat hari ini. Kemarin, sebelum latihan ditutup, kapten dan pelatih mereka sudah mewanti-wanti anggotanya untuk datang lebih cepat hari ini untuk mendiskusikan susunan tim reguler. Dan gara-gara Bokuto yang menyeret Akaashi salah masuk kereta, mereka terpaksa mendapatkan pinalti tak terampuni dari kapten mereka.

"Ayo, ayo, Bokuto. Masih ada dua putaran lagi. Cepatlah!" Konoha dan Sarukui yang mengawasi keduanya dari tepi lapangan tertawa terpingkal-pingkal melihat kawan mereka yang kepayahan. Fukurodani adalah sekolah yang besar yang bahkan luasnya dua kali lipat dari sekolah Nekoma karena SMP dan SMA Fukurodani berada di satu wilayah yang sama dan dikelilingi berbagai gedung kegiatan lain yang mendukung aktivitas siswa-siswanya dari SMP hingga SMA.

"Kalian tega!" Bokuto menjerit. Ditolehnya Akaashi yang bersiap memulai larinya lagi dan itu membuat Bokuto turut mengikuti langkah si hitam. "Akaashi, santailah."

"Kita disuruh berlari lima putaran dalam waktu dua puluh menit, Bokuto-san. Kita hanya punya waktu sepuluh menit lagi untuk dua putaran atau hukuman kita ditambah."

Si perak mendesah nyaring meski larinya masih tetap secepat tadi. Mereka berdua berlari beriringan dengan diisi engah napas yang teratur.

Dilihat Bokuto Akaashi tidak membawa handuknya dan rambut hitam cemerlang pemuda itu sudah basah dan melayu meski pagi itu masih belum sepanas biasanya.

Berlari melihat punggung Akaashi saja entah mengapa tak membuatnya mengeluh. Segera disusul Bokuto lari Akaashi dan ia tepat berada di sampingnya saat mereka mulai berlari menanjak. Diulurkannya handuk yang sedari tadi diikatnya di lengannya sendiri meskipun keduanya sama sekali tidak mengurangi laju mereka, "Butuh handuk?"

Tatap hijau itu lurus kepada emas Bokuto. Si perak tak bisa mengartikan wajah tanpa raut yang bisa dibaca itu.

"Tidak usah, Bokuto-san."

"Tidak apa, pakailah. Keringatmu bisa terhirup dan membuatmu tersedak nanti."

Akaashi tersenyum tipis dan masih menggeleng, "Tidak usah. Tidak apa." Disapunya keringat di bawah hidungnya sendiri dengan punggung tangannya dan kembali fokus pada larinya.

"Ayolah, Akaashi." Bokuto tetap bersikeras dan kini berlari mundur sambil menghadap si hitam. "Aku memaksa."

Kenapa dengan orang ini? Akaashi menatap heran si perak yang tingkahnya mulai aneh lagi itu. Dan lagi, ini tanjakan dan jika Bokuto berlari seperti itu akan sangat berbahaya.

"Aku tidak bisa memakai handukmu, Bokuto-san." Akaashi tetap menolak. Ditatapnya tajam Bokuto, "Dan berlarilah dengan serius. Kau menghalangi jalanku."

Tidak mempedulikan peringatan si hitam, Bokuto tetap mempermasalahkan Akaashi yang menolak bantuannya, "Hah? Kenapa kau tidak mau memakai handukku, Akaashi? Aku kan sudah berbaik hati."

"Handukmu kan basah karena keringatmu sendiri."

Lari si perak terhenti tiba-tiba dan si hitam yang berlari ke depan tak bisa menghentikan lajunya dan membuat Akaashi terbelalak kaget tanpa sempat menegur Bokuto. Ia tak mampu mengubah arah larinya dan tak sengaja menabrak tubuh besar si perak dengan tanpa diduga. Menjatuhkan tubuhnya dan Bokuto dan membuat mereka terguling jauh ke bawah.

Bahkan keduanya tak berkuasa untuk menghentikan tarikan gravitasi yang terus memaksa mereka terus jatuh jauh ke bawah lagi dan mulai keluar dari jalanan beraspal.

"Akaashi." Sempat dilihat Bokuto—saat ia mulai bisa mengendalikan dirinya sendiri—tiang pembatas jalan yang menghadang jalur jatuhnya Akaashi sebelum akhirnya si perak menarik tubuh si hitam dan kembali menggulingkan tubuhnya, menghadapkan punggungnya ke tiang itu sementara kepala Akaashi di dalam pelukannya.

Besi itu menghantam punggung Bokuto dengan keras dan Akaashi membelalak terkejut. Ia mendongak demi melihat Bokuto yang meringis kesakitan sebelum memberikan senyuman lebarnya pada si hitam yang menatapnya. "Ya ampun, hampir saja."

Jantung Akaashi berdebar kencang karena dipacu untuk berlari cepat ditambah dengan insiden jatuhnya mereka. Dan kini ia bisa membaui tubuh besar yang memeluknya itu dengan lebih dekat lagi daripada biasanya. Bukan bau keringat yang asam dan tak menyenangkan. Aroma deterjen dan pelembut yang tadi disukainya pun sudah hilang. Bau itu berbeda. Nyaman dan harum yang tak bisa diidentifikasikan oleh otak Akaashi yang masih terkejut dan belum memproses kejadian yang saat ini terjadi padanya.

"Akaashi, kau baik-baik saja?"

"Tunggu sebentar." Akaashi memegangi baju Bokuto yang sudah akan bangun dan melepaskan pegangannya. Hidungnya masih mengendus-endus bau itu, merasa ingin mengenal bau itu, namun lupa apa dan dimana.

"Oh—" Akaashi pun Bokuto yang memaku di posisi mereka yang rebahan di sisi jalan menoleh ke atas. Dilihat oleh keduanya anggota tim voli yang berdiri mengelilingi si perak dan hitam dengan tatapan terkejut dicampur geli memandangi mereka berdua. "—sudah sepuluh menit berlalu, kukira kenapa tak ada yang muncul padahal baru selesai tiga putaran. Rupa-rupanya malas-malasan di sini, ya?"

Sarukui membantu Akaashi bangun sementara Bokuto ditarik oleh Washio untuk berdiri. Si perak terkekeh pelan dan katanya, "Kami jatuh, Senpai."

"Bokuto-san yang membuat kami terjatuh." Akaashi menambahi.

"Eh?"

"Bokuto, kau lari lima putaran lagi latihan nanti sore!"

"Eh? Akaashi aku tidak—"

.

"Cologne? Tidak, aku tidak pakai." Bokuto melemparkan kaus olahraganya dengan sembarangan ke arah tasnya di bawah loker. Akaashi menatapnya dengan tidak percaya.

Si perak merogoh saku celana pendeknya, mengambil sebutir permen tak dikenali Akaashi dan membuka plastiknya. Mencium aroma yang menguar dari permen itu membuat si hitam makin mendekati sang ace dengan raut penasaran. "Ini. Bau ini."

"He?" Bokuto terpaku. Mata hijau Akaashi tak ia duga memelototi permen yang terbuka di tangannya, "Oh. Ini. Ini permen teh melati. Tetanggaku baru kembali dari jalan-jalan di Indonesia dan memberi oleh-oleh permen seperti ini kepadaku."

Melihat mata yang berkilat tertarik itu menyentil Bokuto untuk memberikan cengiran tipis dan katanya, "Kau mau, Akaashi?"

Kini tatap itu lurus ke arahnya. Tatap ingin yang sangat kuat. "Kau bersedia memberikannya padaku?"

Bokuto tersenyum tipis dan melahap permennya sendiri. Ditariknya dagu si hitam dan bisiknya lagi, "Ambil sendiri di dalam mulutku."

Semu merah di wajah itu menarik hati Bokuto. Manis dan menggiurkan. Tatap hijau Akaashi menoleh ke tempat lain, tak berani membalas yang emas yang lurus tertuju padanya itu. "Ji—jika kau memaksa, B—Bokuto-san."

Wajah Akaashi mendekatinya. Makin berkurang jaraknya, makin terbakar merah yang menawan itu. Senyuman Bokuto hilang. Bibirnya dijilatinya, mempersiapkan Akaashi yang akan datang. Tertutup mata emas itu dalam sekejap, mengikuti yang hijau yang sudah terpejam meski wajah keduanya makin mengeliminasi jarak hingga tiada sama sekali.

Kasar. Bukannya lembut dan manis. Berserat tak menyenangkan dan makin dirasa Bokuto makin basah dan mengganggu.

"KOTARO! BANGUN! ALARMMU BERISIK!"

"ARGH!"

-disambung di chapter selanjutnya