Bokuto terengah-engah dan berhasil menghentikan laju larinya di depan Akaashi yang duduk tenang sambil membaca buku entah apa di kursi stasiun. Ada perasaan bahagia mengetahui si hitam itu rupa-rupanya menunggu kedatangannya dan bukannya berangkat ke sekolah lebih dulu, meninggalkannya.
Tatap hijau yang terlihat kesal itu hanya bisa dibalas Bokuto dengan cengiran merasa bersalah, "Maaf. Maaf. Aku terlambat bangun."
"Ini bahkan baru hari kedua kita berangkat bersama, Bokuto-san. Aku tak menyangka niatmu untuk berangkat pagi selemah itu."
"Yah—mau bagaimana lagi?" Bokuto menggerutu. Meski Akaashi dilihatnya kesal setengah mati, pemuda hitam itu tetap mengambil botol minum di tasnya dan menyodorkannya pada si perak. Bahkan Akaashi tak memiliki keinginan untuk ingin tahu kenapa Bokuto terlambat—yang untungnya kali ini Bokuto tidak akan mau menceritakannya pada siapapun. Siswa kelas satu—dan setter baru tim voli Fukurodani—itu berdiri setelah memasukkan buku dan botol minum yang dikembalikan si perak ke dalam tasnya. "Itu kereta kita. Dan jangan sampai salah masuk kereta lagi seperti kemarin, Bokuto-san."
"Aku mengerti. Aku mengerti." Bokuto hanya mengekori langkah si hitam berdiri di tepian peron. Melihat rambut hitam cemerlang dan segar Akaashi mengingatkan Bokuto lagi akan mimpinya tadi.
Dirogoh Bokuto permen yang sama seperti yang diinginkan Akaashi—di mimpinya. "Akaashi."
Si hitam menoleh pada Bokuto yang memperlihatkan sebungkus permen yang asing untuknya. Alis Akaashi naik dengan heran, "Apa itu?"
"Permen. Permen dari Indonesia. Enak, loh. Dan baunya menyenangkan."
"Oh ya?" Akaashi hanya membalas sambil lalu. Fokusnya kembali pada kereta yang memasuki stasiun. Kali ini alis tajam si perak yang naik keheranan. 'Reaksinya kenapa berbeda?'
Keduanya masuk ke gerbong kereta, berhimpit-himpitan dengan orang-orang lain yang tidak mau ketinggalan kereta jua. Akaashi pasrah ketika akhirnya ia tak bisa bergerak mencari ruang kosong dan berdiri bersandaran di dekat pintu dengan Bokuto yang berdiri di depannya sambil memegang pegangan yang ada di sisi pintu.
"Wah—benar-benar penuh, ya?"
"Menurutmu karena siapa kita terlambat?" Akaashi mendelik tak berminat pada pasangan spiker barunya itu. Bokuto merengut sebal dan membalas, "Aku kan sudah minta maaf."
"Beruntung hari ini latihan tidak sepagi kemarin."
Melihat Akaashi yang bersandaran tak bisa bergerak leluasa itu mengingatkan Bokuto lagi pada mimpinya. Permennya masih dipegangnya dan katanya, "Oh ya. Permen. Kau mau?"
Diambil Akaashi permen yang disodorkan Bokuto padanya. Dibuka si hitam plastik pembungkusnya, dan aroma campuran melati dan teh yang tidak biasa ia temui membuat kesal dan lelah pagi harinya kali itu hilang seketika.
Belum permen itu disuap ke mulutnya, Bokuto sudah menunduk ke arah tangan Akaashi yang memegangi permen dan memakannya sendiri. Dia mengusahakan senyuman terbaik—dan termenggodanya—pada Akaashi, sedikit menunduk untuk menyamai tinggi Akaashi, menyipitkan mata emasnya, dan bisiknya tepat di sisi telinga si hitam, "Kalau kau mau, kau bisa ambil sendiri."
—dan ia meniru adegan yang di mimpinya tadi malam.
Akaashi menatap tak berminat sosok yang berdiri kesusahan, berkeringat karena berdesakan, wajah yang kelelahan, menungging dengan tidak kerennya, dan berbagai hal lain yang menghilangkan nafsu siapapun untuk menatap pemuda perak jabrik itu.
"Bokuto-san, jika kau ingin permenmu untuk apa memberikannya padaku? Dan tolong hentikan tingkah anehmu itu."
Dan Akaashi memutar tubuhnya untuk membelakangi Bokuto, menghadap ke luar. Tidak peduli pada mata emas yang kini membelalak terkejut dan ternganga tak percaya itu. Kepala perak itu terjatuh ke pundak kanan Akaashi dan katanya dengan sebal, "Akaaaaaashi!"
Si hitam hanya melirik pelan pada yang tiba-tiba menjadi lemah itu. Hela napasnya pelan selama tiga detik sebelum kemudian tangan kirinya terangkat, menepuk-nepuk kepala jabrik di pundaknya. "Iya. Iya."
Entah untuk apa Akaashi melakukan itu. Yang ia tahu kemudian ada kikik pelan dari siswi di dekat mereka dan membuatnya malu sendiri, menghentikan perlakuannya pada ace barunya itu.
"Akaashi. Lagi."
"Tanganku terluka karena rambut landakmu."
"Bohong."
Tak ada jawaban dari si hitam.
"Akaashi."
"Apa lagi?"
Kepala perak itu terangkat dan katanya dengan bergetar, "Permennya jatuh ke jas seragammu."
"Bo—ku—to—san!"
-disambung di chapter selanjutnya
