Summary : Sungmin butuh seseorang yang menjaganya. Kyuhyun mau memberikan tubuhnya secara cuma – Cuma untuk Sungmin. Apa Sungmin masih mau menolaknya?

O*o*O*o*O

-KyuMin FanFiction- Genderswitch

Tittle : MARS remake

Pair : KyuMin

Slight : HanChul, YunJae.

Other Cast :

Kang HongDo songsaenim

Choi Siwon

-akan bermunculan seiring waktu-

By © Choi Hyo Joon

Genre : Genderswitch, Romance, angst(?)

Warning : typo(s), bahasa yang tidak sesuai dengan EyD, penulisan masih jauh di atas rata – rata. Yang tidak suka dengan FF GS, mohon tinggalkan! Jangan paksakan anda untuk membacanya.

Disclaimer : Semua nama cast hanya sebuah pinjaman(?) semata. Namun, FF ini murni dari pikiran cetek milik sang author tak berbakat.

a/n : FF ini adalah remake dari komik dan drama yang sama yaitu MARS. Saya hanya mengubah beberapa alurnya, namun tidak menghilangkan konsep cerita yang ada di cerita tersebut. Saya hanya ingin FF ini bisa sesuai dengan KyuMin #maklum penggila KyuMin XD

Saya menerima Kritikan untuk FF ini, bukan kepada Pair-nya, MOHON DIPAHAMI! BUKAN PAIR!

O*o*O*o*O

O

o
MARS

O

O*o*O*o*O

Pria asal China itu membasuh wajah hingga rambutnya di westafel. Wajahnya terlihat kesal, Ia terkadang melirik kecil namja yang sedang terkikik menahan tawa disampingnya."Berhenti tertawa Cho Kyuhyun! Ini semua salahmu!" ucap pria itu kesal, dan segera menyambar handuk putih kecil yang bertengger di bahu temannya yang bernama Kyuhyun itu.

"Lho? Kenapa aku yang salah? Hahaha..., jelas – jelas Kang songsaenim tadi melemparmu." Tanpa adanya rasa bersalah sedikitpun, Kyuhyun menertawakan Hangeng dengan gamblangnya.

Hangeng mengusa rambaut dan wajahnya yang basah. Ia sepertinya selalu menjadi 'korban' dalam kejahilan temannya satu ini, "Berhentilah menggoda gadis – gadis disaat pelajarannya. Kau itu! apa tidak bosan menjadi seorang 'kelamin berjalan oeh?" tanya Hangeng dengan nada mengejeknya, handukitu ia lemparkan ke wajah Kyuhyun.

Kyuhyun semakin tertawa geli mendengar Hangeng yang tengah kesal, "Hei Tan Hangeng. Kau tahu gadis – gadis itu yang datang padaku, mereka suka dengan 'kelamin berjalan' sepertiku...," Kyuhyun malah bangga dengan istilah 'kelamin berjalan' yang diberikan Hangeng.

"Sigh..., Dasar!" Hangeng menggerutu tak jelas, Ia mematuk diri di depan cermin sembari merapikan tatanan rambutnya yang terlihat acak. "Kau jangan mengganggu gadis bernama Lee Sungmin itu." secerca kalimat larangan tersungging dari bibir tipisnya. Hei! Hangeng biasanya tidak peduli dengan gadis – gadis yang dikencani Kyuhyun, tapi kenapa kali ini tersirat nada tidak suka dalam ucapannya?

Pria berwajah stoic itu menatap Hangeng dengan tatapan mengintimidasi, dengan cepat Kyuhyun menyimpulkan, "Kau menyukainya?"

Hangeng terlihat 'sedikit' kikuk, namun ia masih bisa mnetralisir keadaan seperti biasanya. Hangeng berdecak sebal dengan ucapan Kyuhyun, seakan menjadi 'penolakan' pertanyaan Kyuhyun, "Dia itu membenci pria. Apalagi 'kelamin berjalan' sepertimu!"

Seketika Kyuhyun melotot kaget, "Maksudmu? Dia penyuka sesama jenis begitu." Begitulah pendapat Kyuhyun.

Hangeng mengedikkan bahunya, "Entahlah. Aku juga kurang tahu tentang hal itu. Aku dan Sungmin adalah teman satu sekolah dulu. Kau tahu, bahkan dia pernah menolak bergandengan tangan dengan pasangannya saat latihan dansa di sekolah." Tutur Hangeng.

Kyuhyun terdiam mendengar semua 'keterangan' Hangeng, "Ada yang bilang, Ia phobia dengan laki – laki. Jadi berhentilah mengganggunya!" larang Hangeng, menepuk bahu Kyuhyun secara tegas.

Sebagai sebuah balasan, Kyuhyun tersenyum menjawabnya. Jujur saja, Ia malah semakin penasaran dengan sosok Sungmin, setelah semuanya diperjelas oleh Hangeng.

"Ah iya! Bagaimana kalau pertandingan nanti kita ajak saja Kang songsaenim. Kau lihat tembakannya sangat jitu bukan." Kyuhyun mengalihkan pembicaraan Hangeng, dan kembali meledek temannya kembali pecah saat mengingat adegan lempar 'penghapus' ala Kang songsae itu.

Hangeng segera menar4ik kembali handuknya, dan menyumpalkan handuk itu di mulut Kyuhyun, "Berhenti tertawa Cho Kyuhyun!"

O*o*O*o*O

O

o
MARS

O

O*o*O*o*O

"Good afternoon my lovely student."

Sekarang ruang kelas telah berganti di dalam lab bahasa. Di sudut kiri ruangan terlihat Kyuhyun yang sedang duduk disebelah Hangeng, tengah bersantai memakan cemilan potato miliknya, kakinya menyanggah di kursi depan yang kebetulan sedang kosong, begitulah Kyuhyun dengan gaya urakan khas miliknya.

Matanya sesekali melirik kearah Sungmin yang duduk di kursi tengah, lebih tepatnya gadis itu sendiri, tanpa ada teman yang mau duduk disamping kanan dan kirinya. Yeah, begitulah seorang Lee Sungmin, yang penyendiri dan tidak memiliki teman.

"Baiklah Lee Sungmin, baca halaman 57." Perintah Jung songsaenim.

Segera Sungmin berdiri dari tempatnya, dan bersiap membaca apa yang diperintahkan Jung songsae.

"This story..."

Mendengar suara yang teramat pelan itu, semua orang berbisik – bisik melihat Sungmin. Suara Sungmin bahkan mengalahkan decitan suara semut yang tengah terinjak, sangat – sangat, bahkan sangat kecil!

"Ayolah Nyonya Ant! Aku tidak dengar!" suara ledekan dari seorang Kim Heechul nyaring terdengar. Heechul yang duduk dideretan kursi paling depan, menggerutu kesal.

"Ant?" teman sebelah heechul, bingung mendengar nama aneh yang heechul persembahkan untuk Sungmin. Apa maksudnya?

"Ne..., ant! Semut maksudnya, kau dengar suaranya sama dengan suara semut!" ejek Hecchul. Seketika membuat tawa yang memecah belah suasana ruang lab bahasa itu. Sedangkan 'objek' tertawaan mereka, hanya sanggup merunduk tanpa mampu membalas sepatah katapun, cibiran dari teman – temannya.

"Sudah...sudah! Heechul kau saja yang baca. Sungmin duduklah." Perintah Jung songsae, Songsae tersenyum mendengar guyonan dari Heechul. Jung songsae menghampiri segera menghampiri Sungmin.

Disudut kiri, ada sepasang mata yang tampak memandang kalut melihat gadis bernama Sungmin itu. Ia terus menerus memandang wajah kaku Sungmin yang penuh rasa takut. Kyuhyun, ialah yang sedang memandang Sungmin dengan sangat fokus. Sampai ia bisa melihat jelas, bagaimana Jung songsaenim yang tengah memegang kuat bahu Sungmin. Kyuhyun memandang tak suka dengan sentuhan Jung songsaenim pada Sungmin. Seperti ada nafsu terselubung dalam sentuhan itu, lama songsae meletakkan tangan itu dibahu Sungmin sembari mengelus – elus bahu itu, membuat bahu Sungmin terlihat bergetar hebat karena rasa takut.

Setelah beberapa lama Jung songsae kembali ketempatnya –kedepan. Heechul terus membacakan uraian tulisan yang diperintahkan songsae, suaranya terdengar sangat lantang membahana diruang lab. Itulah Heechul.

Terlihat jelas dari tempat Kyuhyun. Sungmin menghela nafas lega, Ia seperti menahan tangis, terlihat dengan bibir bawahnya yang tengah ia gigit. Sungmin benar – benar takut dengan sentuhan pria, tapi apa dayanya, Ia tak sanggup melawan sentuhan Jung songsae padanya. Tercetus sebuah ide dipikiran Kyuhyun.

"Apa yang kau lakukan?" Hangeng terganggu dengan Kyuhyun, yang secara tiba – tiba mengoyakkan selembar kertas dari buku miliknya. Maklum saja, sipembuat onar itu tidak memiliki buku.

Kyuhyun tidak peduli dengan 'omelan' Hangeng untuknya, segera ia menuliskan kertas itu dan menggulungnya, melemparkannya kearah Sungmin. Namun sayang, lemparan Kyuhyun tidak tepat sasaran, kertasnya jatuh dibawah kaki Sungmin. Hangeng hanya bisa mendengus melihat tingkah temannya itu.

"Psst..., Lee Sungmin ambil kertasnya!" Kyuhyun bicara berbisik – bisik dengan Sungmin. Namun yang diajak bicara malah merunduk semakin dalam.

"Psst..., Sungmiiin...," Kyuhyun tidak menyerah, Ia terus memanggil nama Sungmin, agar gadis itu mau memungut kertas kecil yang ada dibawah kakinya, sebuah pesan yang sudah ditulisnya.

Lagi dan lagi tak ada tanggapan dari Sungmin, membuat Kyuhyun tidak sabar melihatnya, ia segera mengutip kertas itu dan meletakkannya diatas buku Sungmin, "Bacalah!" ucapnya masih dengan nada berbisik.

Sungmin semakin merunduk dalam, perlahan Ia membuka kertas itu, mecoba membaca pesan yang sepertinya penting bagi pria bermarga Cho itu.

Sketsa gambarmu ada padaku. Gambar seorang Ibu yang sedang menyusui anaknya.

"AH!" pekik Sungmin dengan suara yang terdengar kuat, setelah membaca pesan itu.

"Ada apa Lee Sungmin?" Jung songsaenim, ikut terkejut mendengarnya.

Sungmin menggeleng lemah. Semua orang berjengit kaget saat mendengar suara pekikan Sungmin, terlebih lagi Kyuhyun ia 'sedikit' melompat dari bangkunya saat melihat Sungmin yang memekik seperti mengingat sesuatu. Tapi selang beberapa waktu Kyuhyun tersenyum melihatnya.

O*o*O*o*O

O

o
MARS

O

O*o*O*o*O

"Nasi kari dan Jajamyeon satu!" Terus menerus Hangeng yang harus mengalah. Sekarang lihatlah! Hangeng harus rela mengantri, menunggu pesanan makanannya tiba. Lalu..., kemana Kyuhyun?

Sigh, namja pembuat onar itu malah sedang asyik duduk dan..., sepertinya mengganggu makan siang orang lain –Sungmin. Hangeng memandangi mereka dari tempatnya berdiri saat ini, ada kilatan kecewa dimatanya saat melihat, bukan dirinya yang tengah duduk dihadapan gadis itu. Ia menginginkannya, Hangeng selalu berharap ia dapat mengobrol bahkan menyapa Sungmin, tapi kenapa Kyuhyun yang malah berhasil mendapatkan perhatian Sungmin, bukan dirinya.

"Hei! Apa kau tidak bisa bersuara?" Kyuhyun menyandarkan dagunya pada meja makan dihadapannya. Ia terpaksa melakukan itu, karena wanita dihadapannya terus merunduk sembari mengaduk nasi kari miliknya, dan sama sekali tidak berniat melihat wajah tampannya sama sekali.

"Ayolah Lee Sungmin! Apa perlu aku membuka mulutmu dengan lidahku?" canda Kyuhyun seketika membuat Sungmin tersentak.

Kata – kata Kyuhyun terdengar sangat menggelikan ditelinga Sungmin, "Kenapa kau masih menyimpannya?" Suara Sungmin terdengar sangat pelan untuk memulai pembicaraan. Ia sekedar berbicara, hanya untuk membuat Kyuhyun berhenti mengganggunya.

"Hwaa! Suaramu sangat indah!" puji Kyuhyun berlebihan. Ia tersenyum menyeringai, akhirnya ia bisa membuat seorang Lee Sungmin berbicara padanya. "Hmmm..., Aku menyimpannya karena aku menyukainya."

Sungmin melirik Kyuhyun yang tengah memandang, menerawang. Sungmin dapat melihat dengan jelas, ucapan itu terdengar sangat jujur dari mulutnya, mata Kyuhyun yang berbicara seperti itu.

"Apa yang membuatmu suka dengan gambar itu?" Sungmin berbicara masih dengan nada yang sangat pelan, tapi kalimat yang diucapkannya kali ini terdengar 'sedikit' lebih panjang.

Kyuhyun terlihat berpikir memikirkan jawaban yang sesuai dengan yang ia rasakan, "Damai. Aku merasa damai saat melihat gambar itu. Kasih sayang seorang ibu benar – benar seperti nyata dalam goresan pensil itu. Aku menyukainya." Kyuhyun jujur dengan apa yang ia rasakan, senyuman manispun tersungging di bibirnya. Ia kembali melirik Sungmin, dan tanpa sengaja sepersekian detik tatapan mereka saling bertemu, hanya sekejap. Sungmin kembali merunduk dan diam.

"Hah~ Diam lagi. Ayolah atau kau ingin aku benar – benar membuka mulutmu dengan lidahku." Lelucon itu kembali dilontarkan Kyuhyun. Tapi kali ini, Sungmin memilih bangkit dari kursinya dan meninggalkan makanannya yang baru sesuap ia sentuh. Meninggalkan Kyuhyun disana.

Dari arah tempat pengantrian makanan, seseorang harus melengos kecewa. Pada awalnya ia berharap bisa bergabung dengan Sungmin, tapi sayangnya gadis itu telah pergi.

O*o*O*o*O

O

o
MARS

O

O*o*O*o*O

Selalu seperti ini, Hangeng selalu setia menjadi bayang – bayang seorang Lee Sungmin. Mengikuti langkah gadis itu dari belakang. Sejak dulu, hingga sekarang rasa cinta dihatinya tidak pernah bisa terungkap. Hangeng takut, bahkan sangat takut, seorang Lee Sungmin akan membencinya, menghindarinya. Mengingat gadis itu begitu membenci pria.

Ia selalu melihat, bagaimana gadis itu menghindar ke kanan maupun ke kiri saat tanpa sengaja pria – pria asing tidak sengaja bersentuhan dengannya. Gadis itu begitu manis, namun kesan kaku tak hilang dari dirinya. Hangeng mencintai gadis itu. gadis yang selalu mengucir rambutnya tanpoa berniat menggerai rambut indah panjangnya. Gadis yang selalu membawa alat – alat lukisnya kemanapun ia pergi.

Langkah Sungmin seketika terhenti, saat ia menyadari seperti ada yang mengikutinya dari belakang. Hangeng segera berjalan mendahului Sungmin, yang sedikit menyingkir karena takut bersentuhan dengannya. Hangeng takut Sungmin mengetahui dirinya, menguntit sedari tadi.

Sungmin menoleh dan tidak menemukan siapapun yang mengikutinya, 'Perasaanku saja ternyata." Ia menghela nafas saat menyadari ketakutannya sendiri.

"Sungmin!" Suara bass seorang pria meneriaki nama Sungmin, membuat yeoja itu menoleh. Oh Tuhan! Lagi – lagi Kyuhyun. Sungmin segera mengambil langkah cepat saat menyadari Kyuhyun semakin mendekat kearahnya. Sedikit lucu melihat langkah kaki kecil Sungmin yang mengambil langkah jauh, namun yeah kakinya tidak cukup lebar melangkah dibandingkan kaki jenjang Kyuhyun yang sudah bisa menyeimbangkan langkahnya tepat disamping Sungmin sekarang.

"Hei! Kita berjoh bukan, Lihat! Dalam kurun satu hari ini kita terus bertemu! Ck! Ah kau mau kemana?" Kyuhyun berbicara terus – menerus, sembari melangkah mengikuti langkah kaki Sungmin yang cepat. Kyuhyun sepertinya bersiap kelapangan basket, terlihat dari bola basket yang tengah ia bawa.

Ia sama sekali tidak mendengar jawaban dari Sungmin. Kyuhyun segera menyenggol bahu Sungmin agar mendapat respon dari gadis itu. Tepat dugaan Kyuhyun! Langkah Sungmin terhenti, Ia menoleh kesamping, seikit mendongak menatap Kyuhyun yang lebih tinggi darinya, "BIsakah kau tidak mengg—"

"Kyuhyun! Ayo cepat!"

Ucapan Sungmin ter-intrap saat Hangeng meneriaki nama Kyuhyun dari kejauhan.

"Sebentar!" Kyuhyun menyahuti dengan berteriak sekuat mungkin kearah Hangeng. Ia menoleh kepada Sungmin, "Ehm, bisa aku pinjam uangmu? 2000won saja nanti aku kembalikan 2x lipat." Itulah Kyuhyun dengan saraf urat malunya yang sudah putus. Ia tidak segan – segan meminta pada Sungmin. Sedangkan Sungmin –yang tidak ingin mencari masalah. Segera mengeluarkan uang yang ada didalam tasnya. Dan menyerahkannya kepada pria bermarga Cho itu.

"Baiklah. Aku pinjam dulu, nanti aku kembalikan. Dan sekalian...," Kyuhyun menarik ikat rambut milik Sungmin, "Aku pinjam ini juga!" Kyuhyun tersenyum hangat kepada Sungmin.

"Kyuhyun cepatlah!" Hangeng kembali berteriak.

"Iya!" Sahut Kyuhyun berteriak, "Dasar cerewet! Ah Aku pergi dulu ne!" Kyuhyun berlalu dari hadapan Sungmin, segera mendekati Hangeng. Ia melemparkan bola basket itu kearah Hangeng, diterima sangat baik oleh Hangeng.

'Kenapa ini?' Sungmin menggumam dalam hati. Ada desiran hangat, saat ia melihat senyum tulus Kyuhyun kepadanya tadi. Benar – benar berbeda, Sungmin dengan rambut tergerai jauh lebih cantik dibandingkan rambutnya yang selalu ia sembunyikan keindahannya.

Sungmin segera melangkah meninggalkan tempat itu dan memilih ke ruangan yang ia sukai –ruangan seni.

O*o*O*o*O

O

o
MARS

O

O*o*O*o*O

Objek di depan sana, menjadi fokus bagi para pelukis yang tengah menghayati dari sisi mana saja penggambaran objek itu bisa terlihat indah. Semua tampilan akan indah, saat penghayatan yang penuh dengan naluri kita aplikasikan melalui goresan pensil di atas kanvas besar itu. Begitulah cara Sungmin mengekspresikan semua benda yang ia lihat, ia menyampaikan setiap 'amanat' benda yang ia lihat melalui goresan pensil. Hidupnya adalah sebuah seni lukis. Sungmin sudah ditakdirkan menjadi seorang pelukis, Ia begitu mencintai kegiatan ini.

"Kau lihat Kyuhyun! Aiissh dia itu begitu tampan, apalagi dengan rambut yang dikuncir begitu. Argh! Aku menyukainya~" Walaupun sudah jelas larangan untuk anggota diluar club melukis yang boleh masuk keruangan ini. Tapi masih ada yeoja –yeoja pembangkang yang menyalahgunakan ruangan club seni sebagai ajang tontonan mereka melihat kearah lapangan.

Yeah, dari ruangan club seni inilah tempat yang paling tepat untuk melihat, memantau dan menyaksikan dengan jelas pemain – pemain dari team basket bertarung. Club seni begitu teduh, tidak seperti dilapangan harus berpanas – panasan. Maka dari itu yeoja – yeoja itu menyukai ruangan seni sebagai tempat untuk menonton.

Sungmin masih terfokus dengan objek yang ia gambar, namun gendang telinganya menangkap jelas suara histeris yeojayeoja itu. 'Pria berkucir, bukankah itu Kyuhyun?' hatinya langsung mengerti dengan pria yang dimaksud oleh mereka. Sungmin kembali melanjutkan konsentrasinya yang sempat terpecah, dan kembali melukis dengan hikmat.

O

o

O

o

O

"Sungmin! Aku duluan ne!" orang terakhir yang berada di ruangan seni berpamitan dengan Sungmin, yang masih setia melukis objeknya. Yeah, ruangan seni telah sepi, tinggal seorang Lee Sungmin yang berada disana.

"Ne! Hati – hati dijalan ne." Sungmin tersenyum kepada teman satu clubnya yang sudah berada diambang pintu dan menutup pintu itu seketika. Sungmin kembali fokus dengan objek seni yang sedang digambarnya. Ia harus menyiapkan tugasnya hari ini, paling tidak mood-nya sedang baik saat ini.

Sebuah langkah mengendap – endap masuk ke dalam ruang seni, tanpa diketahui oleh Sungmin. Sosok misterius itu mengunci rapat – rapat pintu depan ruang seni, berharap tidak ada yang mengganggu waktunya saat ini. Sungmin tidak menyadari itu, sampai sosok itu semakin lama semakin mendekat kearahnya, membuat ia berjengit kaget melihat kehadiran sosok itu yang sudah berada disamping objek yang tengah dilukisnya.

"Jung songsaenim."

Pria yang berstatus sebagai pengajar itu, tersenyum mendengar namanya dipanggil oleh Sungmin, Ia mendekat ke tempat Sungmin. Ada kilatan berbeda dari sorot mata pria itu. Ia sepertinya memiliki niatan lain, bukan berniat mengajar.

"Kau sudah selesai melukis Lee Sungmin?" tanyanya dengan nada yang dibuat lembut. Ia berdiri dibelakang Sungmin yang tengah duduk ketakutan. Terlihat dari kepalan tangan Sungmin yang memegang kuat pensil yang ia pegang. Sungmin benar – benar merasa kurang nyaman dengan keadaan seperti ini, berdua dalama ruang seni yang kedap suara.

Jung songsae sedikit menunduk, Ia mencium aroma vanilla yang menyeruak dari geraian rambut Sungmin, "Aromamu begitu lembut Sungmin-ah." Ia memegang kuat bahu Sungmin, menciumi rambut itu dengan sangat dekat.

Sungmin tidak sanggup bersuara, Ia menahan tangisnya dengan menggigit bibir bawahnya. Ia takut, teramat takut. Sungmin bahkan menahan nafasnya, untuk mengrangi rasa ketakutannya.

"Kau tahu Sungmin-ah. Aku menyukai aroma tubuhmu. Kau itu murid kesayanganku hmm...," Suara pria itu terkesan mendesah seperti memaksa nikmatnya sendiri, sedangkan orang yang ia puji malah ketakutan tak menentu, Ia sibuk menciumi pucuk kepala Sungmin bertubi - tubi. Perlahan, tangan pria itu mulai menjalar dari bahu Sungmin berniat menyusup kedalam baju hangat yang Sungmin kenakan. Tangannya sudah menyusup masuk, ingin menyentuh sebuah gundukan di dalam sana.

Sungmin semakin mengeratkan genggamannya pada pensil itu, Ia semakin takut. Ingin rasanya ia menjerit, memori kelamnya tiba – tiba terlintas dipikirannya, saat masa lalu yang tidak ia harapkan kembali muncul.

Braakkk...

Mereka tersentak saat ada seorang pria yang sedang berdiri memperhatikan mereka dengan tatapan dari mata obsidiannya.

"Kk—kyuhyun!" Pria itu tergagap, saat melihat Kyuhyun yang sudah berdiri didepan sana. "Aaa—app—apa yang kau lakukan disini!" Ia bertanya dengan nada ketus.

Kyuhyun menatap tajam kearahnya, "Seharusnya aku yang bertanya pada songsae, apa yang songsae lakukan disini? Kau tahu. Kau terlalu ceroboh. Apa kau lupa kalau kau belum mengunci pintu belakang, pintu yang menghubungkan lapangan basket dengan ruangan seni." Terang Kyuhyun dengan nada dinginnya.

Sungmin menatap kulatan mata tajam Kyuhyun, Ia menatap aura kemarahan pada mata itu, namun pandangannya buram, terhalang oleh airmata yang tak ingin jatuh dari mata indahnya.

"Kk—kau kan bukan anggota seni, kenapa kau masuk kesini?" Pria itu sudah ketakutan yang semakin menjadi – jadi. Keringat dingin mengucur didahinya.

Kyuhyun tersenyum menyeringai mendengarnya, "Aku akan masuk menjadi anggota seni mulai hari ini."

Mendengar ucapan Kyuhyun, Jung songsae tertawa mengejek, "tahu apa kau soal seni? Kau kan hanya mahasiswa pemalas!" hina pria itu.

Kyuhyun merunduk sesaat, Ia menoleh menatap objek lukisan yang ada disampingnya saat ini, disana ia melihat ada sebuah pisau curter. Kyuhyun mengambil benda itu, "Terkadang..., apa yang terlihat dari luar jauh berbeda dengan apa yang terlihat sebenarnya?" Kyuhyun berbicara dengan nada santai.

Ia berjalan semakin mendekat dengan langkah pelan menuju ketempat Sungmin, pisau itu ia atur keluar masuk dari sarangnya, dengan menggunakan ibu jarinya.

"Aaa—apa maksudmu?" Pengajar itu semakin melangkah mundur, ketakutan melihat Kyuhyun.

"Seperti seorang songsae yang disegani dan dihormati banyak orang, diluar kelihatan ia sangat dipuja banyak orang, namun yang sebenarnya ia malah mencoba 'mencabuli' muridnya sendiri." Kata – kata Kyuhyun semakin terdengar dingin.

"Orang – orang seperti itu, seharusnya bisa enyah dari muka bumi ini. Munafik!" Kyuhyun berucap dengan nada sarkastik. Kilata emosi terpancar dari mata obsidian miliknya.

Sungmin, Sungmin semakin terpaku. Ia bisa melihat Kyuhyun serius dengan ucapannya, langkah Kyuhyun semakin dekat dengannya. Kyuhyun masih tetap menaik turunkan pisau curter itu dengan menggunakan ibu jarinya. Hingga saat Kyuhyun sudah berada didepannya, Sungmin segera bangkit dari duduknya.

Langkah Kyuhyun seketika terhenti, aktivitasnya pada pisau itu sampai pada pisau itu tertutup. Kyuhyun sadar, ia terperanjat pada luapan emosinya.

"Kk—kau gila!" dengan hinaan terakhir, Jung songsae segera berlari meninggalkan ruangan seni.

Bantingan pintu depan menjadi suara pamitan 'tidak langsung' daari pengajar itu. Kyuhyun tertawa pelan, "Sigh..., cepat sekali dia berlari, padahal aku hanya bermain – main, heeuhh~ tidak seru!" Kyuhyun berusaha menghilangkan ketakutan diwajah Sungmin.

Walaupun Sungmin itu 'anti sosial', namun ia masih bisa membedakan mana mimic wajah yang serius mana yang tidak. Dan tadi Kyuhyun benar – benar berniat membunuh pria itu. Sungmin bisa melihat itu.

Kyuhyun membuang pisau itu kesembarang arah, Ia mendekat kearah Sungmin, "kau jangan bermimik wajah ketakutan seperti tadi. Ia semakin suka mengganggumu arra!" Kyuhyun tersenyum hangat menatao Sungmin, dan segera mendapat balasan anggukan dari Sungmin.

Entahlah, Sungmin sama sekali tidak takut berduaan dengan Kyuhyun. Pandangan mata Kyuhyun tanpa sengaja menangkap kanvas Sungmin, "Waaah! Kau benar – benar berbakat. Ck! Gambarmu benar – benar seperti nyata. Daebak!" Kyuhyun memuji berlebihan, tapi itu benar adanya. Ia suka gambar Sungmin.

"Siapa dia?" Kyuhyun melirik gambar Sungmin dan obejk yang dilukis Sungmin.

"Mars." Jawab Sungmin seadanya. Kyuhyun sibuk menyentuh lukisan Sungmin, dan berjalan mendekati objek patung tersebut.

"Dewa perang itu?"

Sungmin mengangguk mengiyakan.

"Dewa perang yang haus darah. Sigh!" Kyuhyun sepertinya tidak suka dengan objek yang dimaksud.

Sungmin mengernyitkan dahinya, "Bukankah dia dewa yang baik? Dia adalah dewa yang mampu mengendalikan beribu pasukan perang. Memandu mereka untuk menyerbu lawan." Terang Sungmin.

Kyuhyun semakin menatap dalam patung kepala dewa Mars yang dimaksud, "Karena dia, banyak terjadi pertumpahan darah. Dewa yang egois bukan!" Kyuhyun semakin menatap patung itu.

"Kyuhyun-ah!" seseorang memanggil Kyuhyun dari arah pintu belakang ruang seni. Sungmin dan Kyuhyun memandang arah suara itu bersamaan, dan ternyata Hangeng.

"Haah` sudahlah..., Aku pulang dulu. Oh iya ini aku kembalikan!" Kyuhyun melemparkan gulungan kertas kecil kepada Sungmin, dan tepat ditangkap gadis itu.

"Aku pulang dulu ne..., behati – hatilah! Dan ingat jangan pasanga mimic wajah ketakutanmu itu!" Kyuhyun memperingatkan dengan sebuah senyuman yang terpasang diwajahnya. Setelahnya ia menghampiri Hangeng dan berlalu dari ruangan seni.

Sungmin menatap gulungan kertas, ah lebih tepatnya gulungan uang yang diikat dengan ikat rambut miliknya. Ternyata Kyuhyun benar – benar mengembalikan uangnya.

Sungmin memandang uang itu, ia tersenyum lembut, desiran hangat itu kembali menyengat hatinya. Entah perasaan apapun itu, tapi Sungmin merasa nyaman dengan Kyuhyun.

O*o*O*o*O

O

o
MARS

O

O*o*O*o*O

Kehidupan bagai sebuah misteri tersembunyi. Kita tidak akan pernah tahu siapa dan apa yang akan datang. Bahkan kita tidak dapat memilih apa yang tidak ingin terjadi, namun bisa menjadi pengalaman begitu pahit di dalam diri.

Bayang – baying wajah itu kembali datang dalam mimpinya. Dimana saat pria itu dengan laknatnya menyentuh tubuhnya. Ia tak mampu berteriak. Seandainya saat itu ada teman atau siapapun dirumahnya pasti mereka akan segera menolong teriakan histeris ketakutan gadis itu. Tangan jahanam itu begitu terampil membuka satu per satu kancing kemeja miliknya walaupun ia sudah meronta meminta ampun untuk dilepaskan. Tapi, nafsu bejat itu tetap lebih diutamakan, walau wanita itu meronta meminta ampun untuk dilepaskan.

"Kau hanya milikku!"

O

o

O

o

O

Seketika Sungmin tersentak terbangun dari tidurnya. Nafasnya tersengal – sengal tak beraturan, dadanya bergemuruh kembang kepis dengan tempo cepat. Ia benci saat – saat seperti ini dalam tidurnya, mimpi buruk itu kembali datang.

"Hiks..." isakan tangis melesak dari bibir mungilnya. Ia benci, bahkan sangat membenci malam dimana ia harus merasakan hal sesakit ini. Ia benci dengan dirinya yang selalu ketakutan dengan apa yang terjadi dimasa lalunya.

Malam begitu gelap, mengiringi isakan kecil yang teredam dimalam sunyi ini. Malam yang ia habiskan sendiri di ruang kamarnya.

O

o

O

o

O

Trauma dan kenangan pahit, insan manusia benci hal itu terjadi pada dirinya. Namun kata takdir seperti menjadi mujarab terampuh untuk menerima 'kutukan' asing itu.

Kyuhyun tergeletak di lantai rumahnya yang beralaskan bedcover. Tangan sebelah kananya telah diperban, setelah ia memecahkan kaca disalah satu toko kecil dipinggiran jalan.

Yeah, trauma! Lain halnya dengan Kyuhyun yang tidak bisa melihat pantulan dirinya didepan cermin, asa lalu kelam, sangat kelam, membelenggunya menjadi seorang pria yang penuh dengan rasa ketakutan akan dirinya sendiri. Ia selalu merasa ada iblis yang tertanam dan siap keluar dalam dirinya. Bukan maunya menjadi pribadi yang takut akan dirinya sendiri. Ia tak berharap itu.

Memorinya akan wajah – wajah orang yang hadir di masa lalunya kembali terkenang. Ia benci itu. setitik airmata menetes dari sudut mata onyx miliknya. Remangnya cahaya lampu semakin menjadikan ia merasakan rasa sakit atas kenangan masa lalunya.

Kyuhyun meneteskan airmata tanpa mengeluarkan suara isakan. Ia menoleh kesampingnya, matanya mendapati sebuah lipatan kertas yang masih ia simpan. Tangannya yang terluka terulur meraih kertas tersebut, membuka lipatan kertas itu.

Seketika ia mengulum senyum tulusnya, gambar itu benar – benar mententramkan jiwanya. Hangatnya pancaran kasih sayang seorang ibu. Walau Kyuhyun tidak pernah merasakan itu, tapi ia dapat merasakan hangatnya 'amanat' yang tersampaikan dalam lukisan itu.

O*o*O*o*O

O

o
MARS

O

O*o*O*o*O

Semua anak club seni telah berkumpul di ruang seni. Dengan langkah yang pelan, seorang pria masuk dari pintu belakang ruang seni. Ia tengah mencari sosok yang ia yakini akan ditemukan bila dicari diruang seni.

Tepat! Orang yang ia maksud sedang hikmat memandangi objek seni yang berada didepan, dengan panduan seorang pengajar disampingnya.

"Psst… Sungmiiiiin…"

Tak ada sahutan untuk panggilan itu.

"Sungmiiiiin…" Pria yang pantang menyerah itu meninggikan suara panggilannya. Membuat suasana ruang seni tertuju padanya.

"Annyeong! Annyeong! Annyeong!" Ia menyapa setiap mata yang melihatnya.

Sungmin, gadis yang sedari tadi dipanggil itu, tertunduk malu, seorang pengajar club seni segera menghampirinya, "Sungmin kau mengenalnya?" tanya wanita tua berkacamata itu.

Sungmin mengangguk lemah, "Ne." jawabnya pelan.

"Temui dia. Kenapa kau bisa mengenal 'sipembuat onar' itu?" wanita tua itu tidak suka kelasnya erganggu oleh Kyuhyun, atau yang sebenarnya Ia memang benar – benar tidak menyukai Kyuhyun, yang tercap sebagai pembuat onar di kampus.

Sungmin membungkuk hormat dan segera mendatangi Kyuhyun yang berada di pintu belakang klub seni.

Mereka berjalan bersama, Sungmin memandu jalan, membawa Kyuhyun ke gudang belakang ruang seni. Setelahnya Sungmin bertanya, "Ada apa?"

"Ah..., sebentar!" Kyuhyun mengambil tas ransel miliknya dan mencari sesuatu di dalam sana. Mata Sungmin tanpa sengaja melihat tangan Kyuhyun yang tengah terperban itu.

"Tanganu kenapa?" tanya Sungmin.

"Ah ini..., gwenchana, hanya terkena pecahan kaca." Jawab Kyuhyun yng masih sibuk mencari 'sesuatu'. "Ah dapat! Ini!" Kyuhyun menyerahkan secarik kertas yang telah di laminating olehnya, dan kertas itu adalah sketsa milik Sungmin.

Sungmin memandang kertas itu, "Kenapa kau mengembalikannya?"

"Karena itu milikmu.Mianhae.., Aku melipatnya sembarangan. Aku tidak tahu kalau ada gambar itu dibelakangnya." Nada bicara Kyuhyun sarat akan penyesalan.

"Ini untukmu saja." Sungmin mengembalikan sketsa itu pada Kyuhyun. Terlihat jelas, Kyuhyun benar – benar menyukai gambar itu.

Seketika raut wajah itu kembali ceria, "Cheongmalyo?" tanya Kyuhyun penuh semangat.

Melihat wajah ceria itu. Sungminpun mengangguk dengan semangat, tanpa ia sadari ia tersenyum melihat wajah Kyuhyun, "Kalau kau mau, aku bisa membuatkan gambar yang sudah jadi padamu nanti." Tawar Sungmin.

Kyuhyun melotot kaget, "Cheongmal? Hwaaa..., Gomawo Sungmin-ah." Kyuhyun terlihat senang, bahkan ia bingung mengekspresikan kesenangannya bagaimana. Mengingat gudang itu begitu kecil, bisa – bisa jika ia bergerak sedikit semua barang akan beruntun jatuh.

"Aku tidak tahu akan membalasmu bagaimana. Ah begini saja! Bagaimana kalau aku membalasnya dengan tubuhku, kau boleh memakai tubuhku dengan gratis kapanpun kau mau, free. Aku akan melayanimu sepuas yang kau mau. Bagaimana?" Itulah Kyuhyun, entah ia serius atau tidak dengan ucapannya. Tapi yang pasti ide gila itu, membuat Sungmin malu dan merunduk. Ayolah! Ini pertama kalinya ia mau berbicara dan dekat dengan pria, tapi malah pria itu berbicara yang tidak – tidak.

Melihat raut wajah Sungmin yang merunduk dalam, Kyuhyun menjadi merasa bersalah, "Aku hanya bercanda!" Kyuhyun menepuk bahu Sungmin, "Kalau begitu aku pergi dulu ne?" Kyuhyun berpamitan dan melangkah meninggalkan Sungmin.

"Bagaimana kalau kau pinjamkan tubuhmu untukku?" Sungmin berteriak kecil, untuk memanggil Kyuhyun yang sudah berjalan jauh dari hadapannya.

"MWO?" Kyuhyun membalikkan tubuhnya, Ia kaget dengan ucapan Sungmin dan...

Bruugghh…

Bugghh

Praang…

Semua barang yang ada di gudang jatuh beruntun terkena bahu Kyuhyun. Kyuhyun memandang semua barang yang jatuh karenanya. Ia masih terpelongo menunggu jawaban Sungmin.

"Ne, Pinjamkan tubuhmu untukku. Jadilah objekku."

Kau yang menawarkan tubuhmu Kyuhyun, sekarang terimalah takdirmu!

O*o*O*o*O

O

o
TBC

O

O*o*O*o*O

Annyeong yeorobun (^ ,^)/

Makasih buat reviewnya yang di Chap1, Mianhae..., lagi – lagi aku cuman bisa bilang maaf

(_ _")a

Aku g bisa balas reviewnya atu – atu, tapi aku berharap chingu sekalian masih mau review di chap ini.

(^o^)d

Gomawoyo buat perhatiannya yang udah ngeFave story dan author bala – bala ini.

Gomawoyo..

#pake lipgloss *kecup atu –atu ^ )3^~

.

.

.

Reviewnya please?

|(^O^)/