"Tidak biasanya."
Semenit Bokuto tak bergerak melihat pelatih tim mereka yang wajahnya terlihat menakutkan hari ini. Akaashi berdiri di depan pelatih Yamiji yang terus mengomel pada sang setter. Siswa kelas satu itu menunduk dalam, ada aura sendu yang dirasakan si perak dari si hitam. Komi melanjutkan di belakangnya, menanya pada seniornya, "Sudah berapa lama dia begitu?"
"Sepuluh menit. Hari ini Yami-sen moodnya sedang buruk. Malangnya Akaashi."
"Tapi—" Bokuto meletakkan botol minumnya ke lantai dan berjongkok untuk membenarkan tali sepatunya, "—bukankah hari ini Akaashi memang bermain kurang bagus?"
Kepala si perak dijitak sang kapten, "Bagaimana mungkin kau mengatakan itu pada juniormu yang sudah harus mengurusimu sejak dia baru bergabung di tim?"
Bokuto bersungut dan memegangi bekas pukulan seniornya itu, "Tapi kan sudah resikonya untuk harus selalu dalam kondisi terbaiknya jika dia ingin terus berada di tim inti. Kalau kondisinya labil seperti hari ini, bagaimana bisa kita memenangkan pertandingan bahkan hanya dalam tingkat regional?"
"Uwaah—" Konoha berjengit mendengar kata-kata sang ace, "—sesuatu yang tidak seharusnya dikatakan oleh orang yang permainannya selalu labil. Bokuto, kau bercermin sana!"
Kekeh pelan senior yang lain terdengar jua. Bahkan sang kapten sendiri berujar, "Bukankah kau selalu jadi langganan omelan Yamiji kantoku sejak awal masuk dulu, Bokuto? Lebih baik kau beri kiat Akaashi bagaimana caranya tahan menghadapi kantoku."
"Berisik!" Bokuto mengernyit sebal. Dia sudah berdiri saat pelatih mereka menunjuk lapangan, entah memberi perintah apa pada setter utama mereka itu. Akaashi hanya menunduk sekali dan berlari ke arah para pemain inti berkumpul. Kata si hitam ketika sudah sampai, "Hari ini aku berlatih dengan tim 2. Maafkan aku."
Sang kapten tersenyum pelan dan menepuk pundak si hitam, "Aku tak tahu apa yang membuatmu begitu murung hari ini, tapi cerialah, Akaashi. Aku tahu kau bisa lebih baik dari ini."
Mata hijau Akaashi menatap Bokuto yang tak menanggapinya dan hanya melakukan peregangan singkat. Beberapa ujar menyemangati lain diterima Akaashi sebelum dia berlari menuju tim 2 yang sudah bersiap untuk melakukan latih tanding dengan sekolah lain. Washio memandangi ace mereka dan katanya, "Kau tidak mengatakan apapun pada Akaashi?"
"Tidak ada yang perlu dikatakan." Bokuto melemparkan handuknya, "Akaashi baik-baik saja bahkan tanpa disemangati sekalipun."
"Uwah, ada apa ini?" Komi menyindir pelan. Senyumannya mengejek si perak jabrik, "Bokuto berbeda dari biasanya."
Ia mendesah pelan sebelum berkata, "Berisik."
.
Akaashi membuka pintu pagar rumahnya dan terpaku melihat kuburan kecil di sudut taman kecil yang tertangkap matanya. Dengan pelan ia berjalan ke arah gundukan tanah baru itu dan berjongkok. Menangkupkan tangannya, memejamkan mata, dan berdoa dalam hati. "Graham, bahagia lah di sana."
Graham adalah anjing peliharaannya. Akaashi menemukan Graham di dekat pintu keluar stasiun dalam kondisi kehilangan satu kakinya dan bergelimangan darah dua tahun lalu. Semula keluarganya menolak saat Akaashi meminta untuk merawat Graham karena anjing itu adalah anjing tua yang sudah jelas tidak lama lagi akan mati hingga akhirnya Akaashi Keiji—untuk pertama kalinya—berkeras kepala menjaga Graham.
"Keiji, kau pulang?"
Ia menoleh dan menemu ibunya yang memasuki pagar sambil membawa banyak belanjaan. Dengan cepat si hitam berdiri dan menghampiri ibunya, mengambil barang-barang yang memberatkan wanita tua itu, dan mengekori langkah ibunya yang masuk ke rumah. Usai meletakkan barang belanjaan ibunya, Akaashi ke kamarnya. Mendesah panjang dan tiduran dengan tidak semangat.
Hingga bunyi pesan masuk di ponselnya terdengar. Dengan tidak berniat Akaashi membuka pesan itu.
'Lihatlah televisi.'
Dilemparkan Akaashi ponselnya setelah membaca pesan dari Bokuto dan ia tetap berbaring malas di kasurnya.
Lagi-lagi ponselnya berbunyi. Dari Bokuto lagi.
'Saluran TV nomor 4.'
Apa sebenarnya mau orang itu? Dengan terpaksa Akaashi bangun dan keluar kamar, menuju ruang keluarga. Diambilnya remote televisi dan mengganti saluran seperti yang diperintahkan Bokuto.
Melihati anak-anak burung hantu yang berumur sekian minggu dan disuapi oleh orang tuanya. Tak lama anak-anak burung hantu itu berganti bulu, kemudian belajar terbang. Warna-warna manis burung hantu itu membawa ketenangan muncul di hati Akaashi. Belum cericip pelan anak-anak burung hantu itu maupun tingkah lucu mereka saat terjatuh ketika berupaya terbang. Laku kasih sayang oleh burung hantu dewasa pada anak-anaknya membuat hati si hitam menghangat.
Tak disadari oleh Akaashi sendiri bahwa ia sendiri tersenyum. Tatapannya dari yang malas dan sendu menjadi lebih lembut.
Ponselnya berbunyi lagi.
'Kau pasti tersenyum.'
Akaashi terkejut sekian detik sebelum tertawa pelan. Ah, kenapa dengan orang ini?
'Terima kasih, Bokuto-san.'
-disambung di chapter selanjutnya
