"Lalu, saat aku menegur orang itu dia langsung berlari kencang sekali meninggalkan sebelah sepatunya." Bokuto bersungut. Akaashi terkekeh sebentar menanggapi cerita Bokuto, "Dan kau menjadi pangeran di Cinderella?"

"Mana aku mau. Aku meneriakinya 'Oi, jangan tinggalkan sepatumu di sini' dan dia kembali lagi untuk mengambil sepatunya. Orang-orang yang ada di toko tertawa melihatnya."

Akaashi kembali terkekeh. Dilipatnya kertas pembungkus roti yang menjadi bekal makan siangnya hari ini. Angin akhir musim semi kali ini semakin hangat, menghembuskan dedaunan kecil dan tipis ke arah Bokuto dan Akaashi yang makan siang berdua di taman sisi sekolah. Bokuto menggigit dua kali roti lapis yang ia beli di kantin. "Lalu—lalu, pemilik toko datang padaku dan memberiku hadiah terima kasih."

Konoha membuka jendela koridor dan melihat kawan dan juniornya yang makan berdua. "Oya?"

Sarukui ikut menyender ke jendela dan menatap apa yang menjadi perhatian kawannya, "Oya oya?"

Komi melotot mengetahui apa yang dilihat Konoha dan Sarukui, "Oya oya oya?"

Washio mengernyitkan keningnya, "Tidak kusangka Akaashi bisa begitu cepat beradaptasi dan akrab dengan Bokuto."

"Benar!" Komi memekik. "Dan—lihat! Dua bulan aku jadi seniornya dan baru kali ini aku melihat Akaashi tertawa. Kupikir dia junior sombong yang menunggu kebangkitannya di klub sebelum memusnahkan siapapun yang ada di dunia bola voli dengan permainannya yang busuk!"

Kepala Komi dijitak Konoha, "Akaashi bukan antagonis seperti di anime-anime, Komiyan. Kau ini."

"Yah, Akaashi juga manusia. Tentu saja dia bisa tertawa." Washio menambahkan, "Dan aku penasaran cerita macam apa yang diberitahukan Bokuto padanya."

"Kuharap bukan cerita konyol seperti saat Bokuto tak sengaja mencukur habis bulu kemaluannya."

"Eh, dia menceritakan itu padamu juga, Konoha?"

Konoha melotot, "Tentu saja. Dia juga menceritakannya pada anggota kelas tiga, tahu! Kau lupa dia jadi bahan tertawaan para senior selama sebulan gara-gara itu?"

"Nah—" Sarukui memegangi dagunya. Ia sedari tadi diam memandangi Bokuto dan Akaashi yang masih terus bercerita di taman. "—Bokuto benar-benar terlihat serius mendekati Akaashi, ya? Jangan-jangan dia suka Akaashi?"

"Hah?" Konoha membelalak ke arah kawannya. "Kau baru sadar, Saru? Bokuto kan memang menyukai Akaashi."

"Eh?"

Komi tergelak melihat reaksi Sarukui yang terkejut pada informasi yang diterimanya. Washio hanya mengerjapkan matanya dan mengangguk. "Kurasa, semua orang di klub juga sudah tahu."

"Astaga Sarukui, sepertinya di dunia ini hanya kau yang belum tahu, ya?" Komi mengujarkan ejekan pada sang kawan di tengah tawanya yang terbahak-bahak.

Akaashi mengernyit sebentar ke arah jendela di lantai dua yang terlihat ramai dan ribut sambil terus mendengarkan cerita Bokuto. "Aku sudah menolaknya, maksudku aku ke toko untuk membeli komik saja tapi dia memaksaku untuk menerima hadiah darinya."

Mata hijau si hitam hanya mendelik sekali tahu senior-seniornya entah mengobrolkan apa sehingga tawa mereka bisa didengar hingga ke bawah sini. Akaashi membalas Bokuto, "Tapi kau tetap menerimanya?"

"Mau tidak mau. Tapi bukan style-ku sama sekali, tahu. Aku ingin yang warna hitam. Jadi, bagaimana jika untukmu saja, Akaashi?"

Ditatap Akaashi tangan Bokuto yang menjulur padanya dan memperlihatkan sebuah gantungan kunci burung hantu seukuran ibu jarinya. Burung hantu bertanduk berwarna perak kehitaman dengan mata kancing berwarna kuning keemasan. Katanya, "Tapi itu cukup keren, Bokuto-san, bahkan untuk laki-laki."

"Eeh—aku menginginkan yang hitam. Tapi aku tidak bisa pilih-pilih karena ini pemberian. Jadi aku membeli sendiri yang warna hitam. Jadi, yang abu-abu untukmu saja."

Akaashi menerima gantungan kunci itu dan mempermainkan ibu jarinya pada boneka burung hantunya, "Kalau begitu, terima kasih."

Senyuman Bokuto lebar. Dijulurkannya kakinya sementara punggungnya menyandar ke pohon di belakangnya dan ia mendongak, menatap langit yang mulai cerah bernuansa musim panas akan tiba. "Sebentar lagi interhigh, lalu musim panas. Aku tidak sabar untuk segera bertanding di pertandingan resmi lagi."

"Aku tidak menyangka akan secepat ini." Akaashi mengantungi gantungan kuncinya di saku bajunya. Sampah bekas bungkus roti Bokuto yang digeletakkan si perak begitu saja diambilnya dan dijadikannya satu dengan sampahnya sendiri.

"Ah, aku ingin segera memperlihatkan pada semua orang perkembangan kemampuanku denganmu, Akaashi. Aku semakin kuat dan aku akan membawa pulang piala interhigh yang lima tahun lalu sempat pulang ke sekolah kita."

"Kurasa tidak akan semudah itu, Bokuto-san."

"Akaashi! Kau jangan berkata seperti itu. Fukurodani kan memiliki aku sebagai ace baru mereka sekarang dan kau jadi setter super jenius terbaik yang pernah Fukurodani miliki. Jadi kita akan menang!"

"Jika para senpai mendengarmu, kau akan dipukul mereka, Bokuto-san. Kau berkata seolah-olah yang lainnya hanya pelengkap saja."

"Tenang saja, Akaashi." Tiba-tiba beberapa orang yang tak mereka sadari ada di belakang mereka melompat ke depan dan menindihi tubuh si perak, "Kami sudah mendengarnya dan akan kami bunuh junior kelewat percaya diri ini, dasar Bokuto!"

.

"Jadi kalian resmi pacaran sekarang?"

"Eh?" Akaashi yang baru menurunkan celana olahraganya terhenti seketika saat Sarukui menanyainya. "Aku tidak pacaran dengan siapapun."

"Bohong!" Komi menuding tas Akaashi yang terlihat di loker. Menunjuk gantungan burung hantu perak yang sejak kemarin sudah menghiasi tasnya. "Kalian punya gantungan yang sama. Ah! Dasar pasangan tukang pamer!"

"Oh? Maksudmu ini? Ini hanya pemberian Bokuto-san. Aku tidak memiliki kekasih, jadi ini bukan gantungan pasangan."

Konoha menggigiti bibirnya. Sarukui tersenyum hampa. Washio hanya berkata, "Akaashi, aku tak menyangka ternyata kau cukup bodoh juga, ya?"

-disambung di chapter selanjutnya