Dia sedang mencuci tangannya di toilet kala dilihatnya dari cermin seorang pria berambut hitam masuk. Wajah orang itu ditutupi masker, seperti yang selalu dihapal Akaashi sejak mereka SMP. Sakusa Kiyoomi. Akaashi satu tim dengannya saat SMP dulu sebelum ia memutuskan untuk berpisah dari spiker yang telah bersamanya sejak tiga tahun masa junior mereka.

Mata Sakusa kecil, tajam menatapnya saat diketahuinya bahwa ia bertemu dengan Akaashi di sana. Suaranya bergetar, pelan, dan serak saat memanggil, "Keiji-kun—"

Akaashi berbalik dan menghadap mantan kawan satu timnya. Mata hijaunya menatap Sakusa dua detik sebelum ia mengangguk, "Sakusa—" Akaashi melihat jaket yang melekat di tubuh Sakusa yang dilihatnya jauh lebih besar dari terakhir kali dilihatnya. Jaket itu berwarna ungu menenangkan khas Itachiyama, sekolah yang dulunya juga menjadi incaran Akaashi sebelum Fukurodani berhasil menarik minatnya, "—lama tidak bertemu."

Mata kecil itu menatap Akaashi dari bawah ke atas dan sebaliknya dua kali. Tubuh Sakusa sedikit membungkuk untuk mengamati baik-baik sang setter. "Kau tidak berubah sama sekali. Menyedihkan."

"Kita bisa melihatnya di pertandingan."

Sakusa acuh tak acuh pada jawaban Akaashi. Ia berjalan ke stall dan ogah-ogahan mengeluarkan tangannya dari kantung jaketnya, "Kita berada di blok yang berbeda. Di final, aku akan menghancurkan Fukurodani. Itupun jika kalian bisa sampai di final."

Si hitam tak membalas dan berjalan menghampiri pintu. Katanya sebelum menghilang, "Aku seharusnya tidak mengatakan ini, tapi jangan meremehkan sekolah unggulan nomor satu di Tokyo."

Perpisahan mereka berdua dulu tidak terlalu menyenangkan jika diingat Akaashi. Dan dia merasakan nuansa hatinya memburuk jika mengingat lagi apa yang terjadi saat pertandingan terakhir mereka. Mungkin memori buruk itu akan bisa dilupakan dan dihadapinya dengan lebih bijaksana jika dia berhasil membungkam permainan Sakusa. Sakusa berbakat, Akaashi mengakui itu. Dia takkan heran jika dia sudah menjadi anggota inti di Itachiyama saat ini, toh mereka berdua—Akaashi dan Sakusa—sama-sama mendapatkan undangan istimewa dari pelatih tim voli Itachiyama secara langsung dulu itu.

"Akaashi. Lama!" Bokuto berteriak kencang saat Akaashi baru memasuki tempat persiapan. Si perak melambai-lambaikan jaketnya ke sana kemari untuk menjadi penanda keberadaannya pada sang setter. Si perak bahkan belum memakai bajunya dan membuat beberapa manajer wanita tim lain yang sama-sama bersiap sedikit terpaku pandangan mereka pada kebesaran tubuh Bokuto dan kesintalan tangan dan dadanya.

Akaashi berlari pelan mendekati si perak. Membungkuk untuk mengambil kaos yang terletak di dekat kaki sang ace yang diduganya adalah baju si perak dan melemparkannya ke kepala jabrik orang itu, "Bokuto-san. Pakai bajumu. Kau akan kedinginan."

Jaket yang tadi dipermainkan si perak dilemparnya begitu saja dan itu cukup untuk membuat Akaashi secara terang-terangan berdecih di depan Bokuto. Baru beberapa bulan menjadi partner orang ini, Akaashi sudah merasa umurnya benar-benar bertambah tua. Mungkin jika Akaashi tidak memperhatikan wajahnya, bisa-bisa ada keriput di keningnya.

Lagi-lagi ia membungkuk untuk mengambil jaket itu dan katanya setelah menahan napas untuk mengontrol emosinya, "Bokuto-san, jangan sembrono."

"Yah—" Bokuto kesulitan bernapas saat kepala jabriknya dilihat Akaashi sulit untuk melewati lubang atas bajunya sementara kedua tangan Bokuto sama tersangkutnya di lubang masing-masing, "—mau bagaimana lagi—ah—kenapa dengan baju ini? Akaashi, bantu aku!"

Jaket yang diambil Akaashi tadi disampirkannya ke pundaknya dan Akaashi mendekati tubuh besar itu. Ditariknya baju itu ke bawah dengan kuat dan membuat kedua tangan dan kepala Bokuto sekaligus keluar dari lubangnya. Desah lega Bokuto keras kedengarannya dan wajah cokelatnya memerah karena karet di kerah bajunya yang menggosok pipinya dengan kasar tadi. Rambut jabriknya sedikit berantakan dan Akaashi mengusap pipi merah Bokuto dengan handuk dingin sementara si perak membenahi tatanan rambutnya sendiri.

"Kau seharusnya memakainya pelan-pelan, Bokuto-san. Bagaimana jika tanganmu terluka jika kau memasukkannya semua sekaligus?"

"Ugh—tapi lebih cepat begitu. Aduh, dingin." Bokuto menjauhkan wajahnya dari handuk Akaashi meski si hitam tetap memaksa. Kali ini hidung merah si perak yang ditempeli Akaashi dengan handuk itu. "Diamlah. Kau tidak ingin terlihat jelek di mata fansmu, bukan?"

"Tidak masalah." Bokuto membusungkan wajahnya dan memilih menurut pada Akaashi. "Jika mereka benar-benar mencintaiku dan fans sejatiku, mereka tidak peduli pada bagaimana penampilanku. Bagi mereka, aku akan selalu keren. Sangat keren. Sangat amat keren. Tidak ada tandingan kekerenan bagiku."

Kali ini Akaashi menempelkan handuk itu sedikit lebih dalam, menekan hidung Bokuto. Mata hijaunya mendelik pada si perak, "Kau terlalu percaya diri."

Senyuman bodoh Bokuto terlihat lebar, "Aku keren kan, Akaashi?"

"Iya. Iya." Akaashi berbalik saat dirasanya telah cukup mendinginkan merah di wajah ace-nya. Diletakkannya handuk itu ke termos lagi dan ia sendiri melepas jaketnya. "Lebih baik kau cepat pemanasan, Bokuto-san. Aku akan menyusul nanti."

Komi, Konoha, dan Sarukui menatap datar dua orang itu dalam diam. Mata ketiganya menyipit, makin menyipit melihat bagaimana Akaashi memperlakukan Bokuto dengan semakin telatennya.

"Nah—"

"Komiyan, aku tahu apa yang akan kau katakan."

"Aku boleh menegur mereka?"

"Sarukui, tahan dulu. Aku juga sebal sih, tapi tahan dulu."

Washio yang sudah selesai memakai sepatunya ikut trio itu memperhatikan ace dan setter mereka. Katanya, "Mereka tidak seperti pasangan. Lebih cocok seperti ibu dan anak."

Komi membelalak dan menggeretakkan giginya sebelum berteriak, "WASHIO, KENAPA KAU MENGATAKAN APA YANG INGIN KUKATAKAN SEJAK TADI?"

.

Babak penyisihan interhigh regional Tokyo. Ada sekitar 128 SMA di Tokyo turut bertanding, dibagi menjadi empat blok. Dan dari semua itu, hanya dua sekolah yang bisa melaju ke jenjang nasional dan satu sekolah sebagai perwakilan tuan rumah Tokyo. Fukurodani adalah satu-satunya sekolah yang selalu menjadi langganan nasional saban tahunnya. Bergantian disusul Itachiyama, terkadang Nekoma, terkadang Nohebi.

Sambutan itu begitu meriah kala para penghuni sarang burung hantu itu memasuki lapangan. Seru-seruan, sanjungan, teriakan semangat ditujukan pada susunan baru anggota inti Fukurodani serta anggota cadangannya. Nama Fukurodani bergema di langit-langit tinggi stadion, mengalahkan teriakan siapapun yang berupaya mematahkan satu saja aliran suara nyaring pendukung para burung hantu.

"BOKUTO!"

"KOTARO-KUN!"

"GO GO FUKURO! FU-KU-RO-DA-NI!"

"UWOO!"

"SENPAI!"

"AKU MENCINTAIMU!"

"HEI, TAMPAN!"

"BOKUTO!"

"AKAASHI-KUN! AKU MENCINTAIMU!"

Bokuto mendadak melotot pada pendukung sekolahnya. "TIDAK ADA YANG BOLEH MENCINTAI AKAASHI!"

"Bokuto berisik!"

-disambung di chapter selanjutnya