"YOSHA!" Bokuto menepuk kencang punggung Akaashi yang langsung terbatuk kuat. Matanya terbelalak dan seluruh urat wajahnya menegang, tak menyangka menerima pukulan keras dari tangan kanan spiker terkuat timnya itu. Para pendukung di belakang berteriak, "SATU POIN LAGI!"
Rasa-rasanya urat-urat di punggung Akaashi berdenyut semua, terasa panas dan perih, dan mata hijau itu melotot pada si perak yang menyengir merasa bersalah, "Maaf. Maaf."
Ini babak kedua perempat final dengan kemenangan besar di babak pertama 25-20. Satu poin lagi, Fukurodani bisa dengan mudah melenggang ke semifinal. Akaashi mengamati lawan mereka yang sudah terlihat putus asa. Sejauh ini, belum ada tim yang bisa mengantisipasi spike menyilang Bokuto dan itu menjadi kunci kemenangan mereka selama ini. Seperti yang diduga Akaashi.
"Washio, nice serve!"
Akaashi berkonsentrasi saat bola melambung dengan rendah ke seberang lapangan, menyulitkan lawan menerimanya dan memberi kesempatan bola kembali kepada mereka. "CHANCE BALL!"
Akaashi berlari cepat ke depan saat salah seorang seniornya menerima bola itu dan mengantarkannya padanya. Ia melihat sekilas posisi Bokuto yang bersiap melakukan serangan dari garis belakang. "Bokuto-san. Back."
Dan saat ia mengangkat tangannya untuk toss, punggungnya berdenyut tak nyaman. Tepat di mana Bokuto memukulnya tadi. Si hitam berdecih pelan saat sadar bahwa bola yang ia berikan pada Bokuto sangat buruk, namun entah kenapa mata emas itu berkilat penuh nafsu melihat bolanya. Tubuh Bokuto mungkin terlihat besar dan berat, namun yang besar itu melompat ringan di udara, menuju bola yang melayang padanya sebelum menghantamnya sekuat mungkin ke lapangan lawan tanpa bisa diterima bahkan oleh libero lawan sekalipun.
Skor itu membawa gegap gempita di stadion. Tidak diragukan lagi bahwa Fukurodani akan melaju ke semifinal esok.
"Maafkan aku, bolanya sedikit tinggi tadi."
Bokuto memberikan senyuman lebarnya seperti biasa. Ibu jarinya terangkat tinggi ke depan wajahnya. "Akaashi, tidak apa. Selama ada aku, bola seburuk apapun akan menghasilkan poin untuk kita."
Tak ia pedulikan tawa kepuasan Bokuto sementara tangan kanannya mengurut pundaknya yang memerih kembali. Ah, bekas pukulan Bokuto benar-benar menyakitinya. Dengan cepat Akaashi berlari ke arah manajer kelas tiganya yang mengulurkan botol minum padanya, "Anu—bolehkah aku minta kompres?"
Yamiji menoleh pada sang setter dan tanyanya, "Kau terluka, Akaashi?"
Si hitam melepas bajunya terlebih dahulu sebelum menoleh pada punggungnya yang tak ia sangka jauh lebih merah dari dugaannya. "Bekas dipukul Bokuto-san."
Para senior kelas tiga—yang turut melihat punggung merah Akaashi—mendelik pada si perak yang sudah kembali ke tepi lapangan dan berteriak nyaring pada ace mereka, "Bo-ku-to! Apa yang telah kau lakukan pada setter berharga kita, bodoh?!"
.
"Masih sakit?" Mata emas itu sedikit murung menatap yang hijau itu. Akaashi diam saja dan tak melepaskan kompres di punggungnya. "Akaashi, jawab aku. Kau marah padaku?"
Lagi-lagi si hitam terdiam. Bibir Bokuto merengut jauh ke bawah. Ditangkap Akaashi segenangan kecil air mata di pelupuk mata emas itu. "Maafkan aku."
Ia mendesah pelan. "Kau harusnya bisa mengontrol kekuatanmu itu, Bokuto-san."
Kepala Bokuto terjatuh ke pundak terbuka Akaashi. Hidungnya membaui aroma tubuh si hitam yang entah bagaimana masih terasa menyenangkan meskipun hari ini mereka telah bertanding dua kali. Anggota Fukurodani yang lain telah pergi mencari tempat duduk untuk menonton pertandingan yang akan menentukan siapa lawan mereka di semifinal nanti, meninggalkan Bokuto dan Akaashi berdua di lobi stadion.
"Aku sangat menyesal. Tidak lagi. Aku akan mengontrolnya. Aku takkan memukul siapapun kecuali bola."
Akaashi melirik kepala jabrik di pundaknya itu. Mata emas Bokuto tersembunyi di bawah dan Akaashi senang merasai kelembutan rambut perak itu sehingga tangannya terangkat untuk membelai yang masih dibasahi keringat itu sebelum kepalanya sendiri ia sandarkan di kepala Bokuto. "Jangan melakukannya pada yang lain. Beruntung aku cukup kuat untuk menahannya."
Kali ini Bokuto yang diam. Sekitar semenit keduanya begitu hingga Bokuto mengangkat kepalanya yang mau tak mau mengubah posisi kepala Akaashi jua. Wajah keduanya begitu dekat, tatap hijau Akaashi makin dirasa jauh lebih indah dilihat Bokuto. Napas segar Akaashi meredakan kepanikan dan bersalahnya yang sesaat tadi. Tangan besarnya terangkat pelan, ingin membelai pipi si hitam yang dilihatnya begitu kenyal dan menggoda.
Meski akhirnya terhenti di udara. Tangannya melayang ganjil di punggung Akaashi tanpa sempat sampai di wajah sang setter. Si perak tertawa ganjil dan buru-buru mengalihkan pandangannya ketika dirasanya jantungnya makin tak normal kinerjanya di dalam dada. Suaranya bergetar dan ia gugup. "A—Akaashi. Biar aku saja yang mengompres punggungmu. Masih sakit? A—ah apa perlu diperban? Dipijat? Aku sangat hebat mengurut orang, loh."
Tubuh si hitam buru-buru ia balikkan dan direbutnya kompres yang sedari tadi dipegangi Akaashi. Bokuto tak ingin wajah merahnya dilihat Akaashi. Dan dia juga tak ingin lama-lama melihat wajah Akaashi kali ini. Bisa-bisa dadanya berhenti seketika setelah meledak hebat di dalam tubuhnya.
Dan—apa-apaan wajah itu? Kenapa Akaashi jauh lebih menawan saat berkeringat begitu? Ah, sialan.
"Oya?" Komi mengintip dari balik dinding. Diikuti Sarukui yang turut muncul di atasnya, "Oya oya?"
Konoha berjongkok di bawah Komi sambil menopang dagu, "Oya oya oya?"
"Perkembangan macam apa itu?" Komi menyengir tipis. Si tukang gosip nomor satu di Fukurodani itu mencium suatu persitiwa yang bisa menjadi bahan bakar untuk senior-seniornya agar makin menggoda si perak itu.
"Sangat ambi—" ujaran Sarukui dipotong Konoha, "—gay."
Komi menunduk melihat Konoha yang berjongkok, "Kau ingin jadi gay juga denganku, Konoha?"
"Komiyan berisik!"
-disambung di chapter berikutnya
