Summary : Ketakutan Sungmin akan 'namja' perlahan luntur karena sosok Kyuhyun. Perlahan, perasaan cinta bersemi dihati keduanya. Apa mereka bisa bersatu?
O*o*O*o*O
-KyuMin FanFiction- Genderswitch
Tittle : MARS remake
Pair : KyuMin
Slight : HanChul, YunJae, YeWook
Other Cast :
Kang HongDo songsaenim
Choi Siwon
-akan bermunculan seiring waktu-
By © Choi Hyo Joon
O*o*O*o*O
Genre : Genderswitch, Romance, angst(?)
Warning : typo(s), bahasa yang tidak sesuai dengan EyD, penulisan masih jauh di atas rata – rata. Yang tidak suka dengan FF GS, mohon tinggalkan! Jangan paksakan anda untuk membacanya.
Disclaimer : Semua nama cast hanya sebuah pinjaman(?) semata. Namun, FF ini murni dari pikiran cetek milik sang author tak berbakat.
a/n : FF ini adalah remake dari komik dan drama yang sama yaitu MARS. Saya hanya mengubah beberapa alurnya, namun tidak menghilangkan konsep cerita yang ada di cerita tersebut. Saya hanya ingin FF ini bisa sesuai dengan KyuMin #maklum penggila KyuMin XD
Saya menerima Kritikan untuk FF ini, bukan kepada Pair-nya, MOHON DIPAHAMI! BUKAN PAIR!
O
o
O*o*O*o*O
MARS
O*o*O*o*O
o
O
Mereka berdua saling terdiam. Tak ada seorangpun yang memulai pembicaraan baik Hangeng maupun Sungmin. Sungmin hanya bisa merundukkan kepalanya, sulit baginya untuk menatap wajah Hangeng saat ini. Jujur saja, Ia juga sangat terkejut saat Kyuhyun memintanya untuk berkencan dengan Hangeng. Saat Kyuhyun mengatakan itu, jantungnya berdegum kuat, rasa sakit tertoreh tak terlihat dihatinya. Sungmin juga bingung dengan apa yng ia rasakan. Hanya saja sakit, teramat sakit bila harus dijabarkan dengan kata-kata.
Hangeng sesekali mencuri pandang kearah Sungmin. Ia terlihat sangat gugup, seolah semua perjuangannya tak sia-sia. Bertahun-tahun ia menunggu. Menunggu saat ini hadir. Saat dimana Sungmin bisa berada dengan jarak sedekat ini dengannya, tanpa penolakan dari Sungmin.
"Ehm.., Apa kau ingin nonton film? Kebetulan ada film baru yang sangat bagus?" Hangeng mencoba memecah keheningan diantara mereka. Ia hilangkan rasa gugup yang mendera dirinya. 'Tidak! Aku tak boleh gugup!' Ia memantapkan hatinya, unu bisa menarik perhatian yeoja yang dicintai-nya ini.
Mendengar sosok namja didepannya bertanya padanya, Sungmin langsung mengangkat kepalanya, menatap pria didepannya dengan sebuah senyum yang menawan. Seolah mengiyakan pertanyaan pria itu.
Hangeng tersenyum bahagia, hatinya berjingkrak gembira. Demi Tuhan! Senyuma itu sangat indah, sangat menawan hati. Ini pertama kalinya senyuman itu bisa ia lihat sedekat ini. Ingin rasanya Hangeng memeluk tubuh yang berada didepannya saat ini, tapi ia sadar diri. Bisa berkencan dengan Sungmin sudah menjadi hal yang sangat hebat baginya. Ia tidak akan merusak moment indah ini —baginya.
"Baiklah. Aku pergi membeli karcisnya dulu. Kau tunggulah disini." Segera Hangeng berdiri dan meninggalkan Sungmin yang hendak ingin ikut awalnya. Hangeng berlari menuju gedung bioskop yang tepatnya tak jauh dari tempat mereka minum coffee saat ini. Dan Sungmin bisa melihat siluet tubuh Hangeng dari jendela transparan tepat disamping tempatnya duduk saat ini.
Sungmin mengerjapkan kedua kelopak matanya secara bersamaan. Ada hal yang 'mengganjal' didirinya. Entah apa itu. Kencan yang seharusnya selalu bisa membahagiakan, tapi.., Sungmin tak merasakan semua itu.
Ia kembali merunduk. Ia memegang jaket tebal yang ia gunakan seolah degupan jantungnya sangat menyakiti dirinya saat ini.
O
o
O
o
O
Ditempat yang berbeda. Seorang pria melahap 'rakus' seluruh Jjajang Meoun yang ada dihadapanya. Sama sekali tidak ia pedulikan mulutnya masih penuh dengan Jjajang Meoun yang belum masuk ke kerongkongannya. Ia memaksa mie itu masuk kedalam mulutnya, seluruhnya.
Ia hentikan sejenak kegiatannya, dan melirik kesebuah kantung tas besar yang berada disamping tempat ia duduk saat ini. Tas coklat yang berisi jaket miliknya yang ia pinjamkan kemarin kepada seorang yeoja. Dan yeoja itu mengembalikannya tadi saat bertemu dengannya.
Senyuman hangat terkulum dari mulutnya yang masih penuh dengan Jja jang Meoun. Seperti sebuah roda yang memutar mundur, ia kembali teringat saat yeoja itu memeluknya dengan sangat erat karena takut dengan kecepatan motor yang ia bawa. Saat yeoja itu takut menerima ajakannya karena sebuah gurauan yang ia sampaikan tentang 'kecemburuan' motornya. Hei! Bukankah ia yang sudah meminta yeoja itu untuk berkencan dengan temannya?
Tapi kenapa ia masih mengingat semua itu. Seperti menerima sebuah tamparan telak dipipinya. Seketika ia tersadar dengan fantasi –nya yang melambung jauh. Tidak! Ia tidak boleh memikirkan yeoja itu. kembali ia lahap Jja jang Meoun-nya dengan rakus.
Senyuman yang awalnya hangat, sekarang terlihat sangat tidak tulus. Ia sedang memaksa diri untuk tersenyum. Mencoba memperlihatkan ketegarannya pada sesuatu yang—tanpa ia sadari—sudah menyakiti hatinya. Sosok yeoja itu sedikit demi sedikit masuk kedalam relung jiwanya, namun ia menolak hal itu. 'Tidak! Itu tidak boleh terjadi.' Ia menolak kuat perasaan yang tengah datang padanya. Ia menganggap sikapnya hanyalah sebuah rasa kasihan, simpatik yang begitu kuat kepada yeoja itu. Ia juga sama terkejutnya dengan Hangeng—sahabatnya—saat yeoja itu menerima tawaran kencan yang ia ucapkan.
Namun, rasa keterkejutan yang ia alami bukanlah terkejut bercampur bahagia—sama—seperti yang Hangeng rasakan. Rasa terkejut yang ia rasakan adalah sebuah degupan jantungnya yang menghentak kuat sehingga membuatnya lemah sesaat. Entah sampai kapan ia akan menolak kehadiran yeojaitu. Hanya dia yang tahu. Ia lah yang bisa mengendalikan dan mengetahui perasaan yang masuk kedalam dirinya. Tanpa harus melakukan hal yang bertentangan dengan risalah hati.
Sungmin berharga untukmu Kyuhyun. Percayalah!
O
o
O*o*O*o*O
MARS
O*o*O*o*O
o
O
Hangeng sudah kembali ketempat kencannya dengan Sungmin. Ia terlihat sangat senang, walau lelah menderanya. Yeah, pemuda asal China itu harus rela mengantri panjang untuk mendapatkan karcis yang sudah ia janjikan dengan Sungmin. Ia tak ingin mengecewakan Sungmin, bagaimanapun caranya.
Sungmin tersenyum menyambut kedatangan Hangeng. Pemuda itu duduk kembali ditempatnya semula—tepat didepannya. "Kau lelah?" tanya Sungmin lembut penuh perhatian. Ia bisa melihat dada Hangeng yang memburu cepat naik dan turun seolah menggambarkan kelelahannya.
Hangeng dengan nafas yang tersengal-sengal memperlihatkan pada Sungmin dua tiket yang telah ia dapatkan dengan sebuah senyuman kepuasan.
"Mianhae." Hangeng berucap sembari mengtur nafasnya.
"Minumlah dulu." Sungmin menyodorkan air putih yang ada disana yang belum tersentuh sama sekali sedari tadi.
Hangeng menolak dengan cara mengibaskan kedua tangannya dihadapan Sungmin, "Anni. Gomawo." Ia senang Sungmin begitu perhatian padanya.
Hangeng mencoba mengatur nafasnya secara teratur. Ia buang udara melalui mulutnya dan menampung udara sebanyak-banyaknya melalui lubang hidungnya. Ia lakukan itu berulang-ulang hingga deru nafasnya kembali stabil.
"Mianhae Sungmin-ah. Kau menunggu lama. Aku tadi harus mengantri, tapi akhirnya aku mendapatkannya."
"Gwenchana." Sungmin menyunggingkan senyumannya kepada Hangeng, sebagai rasa terima kasihnya karena pemuda itu sudah mau bersusah payah karenanya.
Kembali terdiam dan hening. Perbincangan itu hanya berlangsung sekejap dan berakhir secepatnya. Sungmin yang tidak banyak bicara, memang sulit untuk memulai suatu pembicaraan dengan orang lain.
"Maafkan aku. Aku terlalu kaku." Sungmin merasa bersalah, karena membuat suasana jadi kurang nyaman untuk Hangeng yang sudah berkorban untuknya. Ia menyesal.
Hangeng menggeleng cepat ia cukup terkejut dengan 'kata' maaf Sungmin, seolah tersirat penyesalan yang mendalam. Bagi Hangeng malah ini adalah kesalahannya karena tidak bisa mencairkan suasana dengan baik seperti.., Kyuhyun.
"Seharusnya aku yang meminta maaf padamu. Aku juga tidak pandai berbicara. Tapi.., bolehkah aku tahu Sungmin-ah, Bagaimana kau bisa kenal dengan Kyuhyun?" tanya Hangeng.
"Oh itu. Saat itu ia sedang tersesat, kertas alamat yang kuberikan ternyata dibaliknya ada sketsa lukisanku. Kyuhyun bilang ia menyukai lukisanku." Terang Sungmin. Ia terlihat bersemangat menceritakan kronologi pertemuannya dengan Kyuhyun.
Hangeng mengangguk paham, "Lalu, sketsa apa yang kau berikan? Ia biasanya tertarik dengan sketsa bergambar wanita yang sedang yeah kau tahu Kyuhyun bukan? Hehe..," tanya Hangeng diselingi dengan tawanya mengingat sifat 'kelamin berjalan' bernama Kyuhyun itu.
Kali ini, Sungmin memberikan senyuman tulus nan hangat yang terpancar jelas diwajahnya—tanpa ia sadari—karena membicarakn sifat Kyuhyun, "Bukan. Bukan gambar yang seperti 'itu'. Gambar seorang ibu yang sedang menggendong anaknya." Terang Sungmin.
Tawa Hangeng seketika memudar. Ia mengerti sekarang, "Ibu? Pantas saja ia menyukainya?" Hangeng paham alasan Kyuhyun menyukai lukisan itu.
Dahi Sungmin mengkerut tipis menciptakan garis kecil disana, dengan sebuah tatapan mata yang tersirat kebingungan. Sungmin ingin melontarkan sebuah pertanyaan untuk Hangeng, tapi Hangeng seolah mengerti arti dari sorot mata Sungmin.
"Kyuhyun sudah kehilangan ibunya sejak ia berumur 7tahun. Jadi.., dia pasti merindukan ibu-nya saat melihat lukisan itu." kata Hangeng, iba.
"Pantas saja." Sungmin mencicit pelan. Ia akhirnya bisa paham dengan 'kesenangan' Kyuhyun akan lukisannya itu. Alasan Kyuhyun begitu menyukai lukisan ciptaannya.
Saat Sungmin disibukkan denganpemikirannya tentang Kyuhyun. Tanpa ia ketahui, Hangeng sedang menatapnya, "Kau terlihat bersemangat saat membahas tentang Kyuhyun." Jujur Hangeng, itulah yang bisa ia lihat saat ini.
Sungmin merunduk malu-malu. Entahlah, hanya saja 'topik pembicaraan' mengenai Cho Kyuhyun tidak membuat dirinya jenuh. Itu artinya perasaan suka atau…
"Ah! Sepertinya film-nya sudah mau dimulai. Ayo kita pergi!" Ajak Hangeng dan mulai berdiri dari tempatnya. Ia meletakkan lembaran uang diatas meja-nya. Tak berapa lama, Sungmin ikut berdiri dan mereka beranjak bersama meninggalkan café coffee tersebut.
O
o
O*o*O*o*O
MARS
O*o*O*o*O
o
O
Kicauan burung terdengar merdu—seharusnya—untuk mengawali pagi yang cerah ini. Namun tidak dikampus ini. Lagi dan lagi Kang songsaenim harus rela mengejar sepeda motor si 'pembuat onar' yang selalu berulah. Menjalankan laju motor-nya dengan kecepatan maksimal. Tapi Kang songsaengnim harus rela berlari jauh lebih pagi dibandingan biasanya, karena sipemilik kendaraan itu datang terlalu pagi untuk hari ini.
Belum sempat Kang songsaengnim mengejar pemuda itu. wujudnya sudah tak ditemukan di area parkir. Membuat emosi yang sudah membuncah hingga diatas kepala Kang songsaeng ingin meledak.
"CHO KYUHYUUUN!" teriakan Kang songsaengnim cukup menggema di area parkir. Pria bertubuh tambul itu mengatur nafasnya. Kesabarannya benar-benar diuji bertemu dengan pemuda bermarga Cho itu.
Pria bernama asli Kang HongDo ini sudah menggerutu kesal. Ia yakin bahkan sangat yakin. Bila kegiatan kejar mengejar 'buruan' ini dilakukannya setiap hari, maka berat badannya akan turun drastis.
Dan berterima kasihlah kau pada Kyuhyun. Karena ialah penyebab turunnya berat badanmu nanti Kang songsaengnim.
O
o
O
o
O
Hangeng bersandar pada tiang penyanggah di lobby kampus. Ia terlihat tengah menunggu seseorang. Sesekali pandangan matanya mengarah pada jalanan yang biasanya selalu dilewati sosok itu jika ingin memasuki kampus. Hingga akhirnya penantiannya tak sia-sia. Dari kejauhan ia sudah bisa menebak siluet tubuh yang semakin lama semakin mendekat. Yeah, Lee Sungmin yeoja yang sedang ditunggu Hangeng.
Sungmin berjalan merunduk tanpa mengindahkan orang-orang yang berjalan di kanan dan kirinya. Ia bahkan tak sadar seseorang sudah menantinya. Hingga, sebuah kaki menghalau langkahnya—berdiri tepat didepannya. Sungmin mendongakkan kepalanya melihat Hangeng yang sedang tersenyum menyambutnya.
"Sudah menunggu lama?" tanya Sungmin, lembut.
Hangeng menggeleng dengan cepat. Rasanya pagi ini begitu indah karena yeoja itu begitu peduli padanya. Hangeng mulai menyingkir, dan berdiri disamping Sungmin. Memberikan akses pada yeoja istimewa—baginya—untuk berjalan bersama. Pada akhirnya merekapun berjalan bersama.
"Bagaimana tadi malam, apa ibumu marah?" tanya Hangeng khawatir. Yeah bagaimanapun ia merasa bersalah, karena membuat acara kencannya rusak karena telah menghilangkan karcis bioskop itu. Membuatnya kebingungan mencarinya, mereka mencari bersama kesemua tempat yang mereka kunjungi, namun tetap tidak ketemu.
Sungmin menggeleng, "Tidak. Aku pulang tidak terlalu malam." Jelas Sungmin, iatidak ingin melihat Hangeng merasa bersalah karenanya.
"Mianhae. Karenaku, kita tidak jadi menonton." Sesal Hangeng.
Sungmin merasa sangat sungkan dengan sikap Hangeng padanya, "Ah gwenchana. Lagipula semua itu bukan salahmu sepenuhnya." Ia tak ingin Hangeng begitu menghawatirkan perasaannya hanya karena secarik kertas—karcis—yang tidak begitu penting baginya.
Tiba-tiba dua orang wanita menyela pembicaraan Hangeng. Mereka mengekang Sungmin di kanan dan kiri, "Hangeng-ah. Kami pinjam Sungmin sebentar ne?" tanya salah seorang yeoja yang sekarang berdiri tepat disamping Hangeng, menggantikan posisi Sungmin sebelumnya.
Hangeng yang merasa bingung kontan mengangguk refleks. Mengizinkan kepada kedua orang wanita yang ia kenal membawa Sungmin menjauh dari hadapannya.
Tidak sadarkah Hangeng, tatapan mata Sungmin memelas meminta tolong padanya agar menyingkarkan kedua yeoja menakutkan ini dari dirinya. Ia sudah jengah berurusan dengan mereka tempo hari. Ia tidak ingin di bully lagi.
O
o
O
o
O
Di bangku kelas terlihat Kyuhyun yang sedang asyik membaca buku. Hei! Tidak pernah-pernahnya pemuda itu begitu rajin, untuk sekedar membuka buku saja ia malas. Malah sekarang ia terlihat membaca.
"Hei! Kau membaca majalah seperti itu di dalam kelas! Hwaa! Aku bisa mengaduhkanmu pada Kang songsaenim." Seseorang yang baru hadir didalam kelas memergoki Kyuhyun yang sedang menutup cover majalah porn miliknya dengan sebuah buku Sosiologi. Sigh! Itulah dalih seorang Cho Kyuhyun.
Kyuhyun mendongak menatap namja perusuh yang sudah mengganggu aktifitasnya. Namja itu sangat mengganggunya dan sekarang malah duduk disampingnya. Kyuhyun segera menutup bukunya. Ia mencari seseorang yang seharusnya 'dibawa' namja itu bersama dirinya.
"Bagaimana kencanmu kemarin?" tanya Kyuhyun dengan menyenggol bahu Hangeng dan mengengkat alisnya. Sengaja, menggoda Hangeng.
Dari wajah Hangeng, Kyuhyun dapat menyimpulkan pemuda itu bahagia dengan acara kencannya."Mana Sungmin? Kalian tidak bersama tadi?" tanyanya, lagi.
"Oh, tadi Jessica dan Yoona membawanya." Kata Hangeng, yang masih sibuk mengeluarkan buku-buku materi dalam tas-nya.
Kyuhyun menyatukan alisnya, tengah berpikir sesuatu yang menurutnya ganjil, "Yoona temannya Chullie?"
"Ne."
Sontak, kedua orbs Kyuhyun melotot. Terburu ia bangkit dari tempat duduknya, membuat Hangeng yang berada disampingnya merasa heran dengan perubahan sikap Kyuhyun. Kyuhyun terlihat tengah mengedarkan pandangannya mencari sesosok lain disana. "Dimana mereka membawa Sungmin?" tanyanya membentak.
Hangeng terkejut mendengarnya, "Dd—di kolam belakang." Jawab Hangeng tergagap. Ia terkejut dengan perubahan ekspresi Kyuhyun yang terlihat menakutkan.
Kyuhyun segera berlari saat menyadari sosok yang ia 'takutkan' tak berada disana. Ia berlari tanpa mempedulikan panggilan Hangeng yang bertanya-tanya padanya. Hangeng ikut menyusul Kyuhyun, berlari bersama, karena merasa khawatir dengan maksud Kyuhyun.
"Kyuhyun! Katakan ada apa?" Hangeng berusaha mengejar Kyuhyun. Mengikuti pemuda itu dari belakang.
Kyuhyun tetap tidak menjawab. Ia berlari tanpa mempedulikan langkahnya yang sudah menabrak bahkan menyenggol orang-orang yang tengah melintas. Hingga tanpa ia sadari Kang songsaeng menjadi salah satu korban dari aksi berlari cepat ala Kyuhyun.
"HYA! CHO KYUHYUN BERHENTI MEMBUAT KEONARAN DI KAMPUS!" kang songsaengnim berteriak sekuat-kuatnya. Namun sayangnya Kyuhyun tidak peduli itu.
Ia menghawatirkan sosok Sungmin disana.' Sungmin dalam bahaya. Sung,min dalam bahaya.' Seperti sebuah mantra. Kyuhyun terus menerus mebatinmenyebutkan perihal itu.
O
o
O
o
O
Tampat ini, tempat yang cukup sepi, jauh dari lalu lalang mahasiswa. Yeah, tempat ini dulunya adalah kolam, namun sudah tak terpakai akhirnya dijadikan gudang oleh pihak Sungmin dipaksa untuk cepat oleh dua orang yang sedang mengekangnya.
Setelah tiba ditempat yang sudah dijanjikan oleh sesosok yeoja yang tengah menikmati sepuntung rokok ditangannya, mereka berdua menghempaskan tubuh Sungmin dihadapan yeoja itu. Yeoja yang tengah menghirup tembakau itu dan mengepulkan asap kelabu ke udara. Ia menyeringai saat kedua temannya telah membawa sasaran yang sudah ia bidik.
Yeoja cantik namun menakutkan itu segera berjalan menuju tubuh berlapisi jaket tebal itu. Ia tarik secara kasar dagu tegas milik yeoja itu dan…
Plakkk…
Tamparan kuat berbekas di pipi chubby yeoja itu —Sungmin. Sungmin meringis menahan perih di pipinya. Sungguh menyakitka menerima tamparan kuat dari Heechul untuknya. Dengan kasar, Heechul menarik tangan Sungmin dan meletakkannya diatas tumpukan kayu dihadapan Sungmin.
Heechul membidik tangan Sungmin dengan puntung rokok yang masih membara itu. Ia dekatkan puntung rokok itu dengan tangan Sungmin hingga tersisa beberapa jarak saja. Dibantu dengan dua teman lainnya agar menahan tubuh Sungmin tidak bergerak dari bidikannya.
Sungmin menggigit bibir bawahnya, meredam rasa takut yang berkecamuk kuat dihatinya. Ia takut, namun 'Aku tidak boleh lemah.' Batinnya memperkuat dirinya sendiri.
"Kau tidak ingin tangan indahmu ini menjadi cacat bukan? Jadi, aku peringatkan padamu yeoja tidak tahu diri! Jauhi Kyuhyun!" urat-urat diwajah cantiknya sudah menyembul kehijauan dibalik kulit putihnya, Heechul menggeram hebat.
"…" Sungmin tidak bergetar hebat, ingin ia mengepalkan tangannya sekarang juga dan menjauh dari bidikan puntung rokok itu, naun lagi-lagi tangannya tetap terjaga oleh dua wanita yang menahannya.
"JAWAB AKU!" teriak Heechul, kalap.
"…" mata indah itu kini tengah berkaca-kaca menahan derai airmata yang menampung dikantung matanya. Sungmin bersikap tegar, ia mampu untuk bersikap itu. 'Aku bisa. Jangan takut Sungmin!.' Ia motivasi dirinya sendiri dengan segala pemikiran-pemikirannya.
Heechul semakin dekat mengarahkan puntung rokok itu ke tangan Sungmin, "Kau mau bermain-main denganku oeh! Baiklah!" Heechul sudah bersiap mempertemukan punggung tangan itu dengan puntung rokoknya yang menyala.
"Chullie-ya. Kau tidak serius bukan?" salah seorang temannya ikut takut melihat evil smirk Heechulyang teramat menakutkan. Bukan hanya satu, bahkan keduanya takut melihat Heechul yang bertindak seserius itu, padahal awalnya mereka sepakat hanya ingin mengancam Sungmin.
"Diam kalian! Jawab aku Lee Sungmin!" Heechul sudah menggeram penuh emosi yanga akan meledak seketika. Ia sudah tak bersabar.
"Tidak! Aku tidak akan melakukannya!" Sungmin menjawab dengan nada lantang, walau masih terdengar gemetar.
Kedua mata Heechul sontak melotot, "Kau ingin tanganmu ini cacat oeh? Kau ingin menangis seumur hidupmu karena Kyuhyun!"
Sungmin mengatur nafasnya yang benar-benar tercekat oleh ketakitan. Ia harus berani dan kuat. Ia harus bisa.
Perlahan, Sungmin mengangkat kepalanya, menatap Heechul yang sedang sinis menatapnya, "Jika aku menangis, Apa kau akan mengizinkanku mendekatinya?" tanya Sungmin, dengan nada pasti.
Heechul semakin tak sabar, "Kau ingin aku menghilangkan tanganmu ini! Agar kau tidak bisa melukis lagi!" gemeletuk gigi Heechul saling bersahutan, menandakan ia menahan kekesalannya yang bisa membuncah kapanpun.
"Jika aku harus kehilangan tangan kananku, aku bisa melukis dengan tangan kiriku. Hikss.., Jika kedua tanganku cacat. Aku bisa melukis dengan kakiku, dan jika kakiku tidak ada. Aku akan melukis dengan mulutku." Disela ucapannya, Sungmin sempat terisak takut. Ia sudah tidak bisa menahan airmatanya yang ingin jatuh seketika.
Mendengar jawaban itu, emosi Heechul sudah tak dapat dibendung lagi. Ia membuang puntung rokok miliknya. Dan mengambil sebuah bongkahan batu besar yang berada disana.
"Chullie jangan gila!" kedua temannya sudah sangat takut melihat amukan Heechul.
Sungmin memejamkan matanya. Apapun yang terjadi ia sudah pasrah. Ia lebih memilih hidup dalam keberanian ketimbang harus selalu dihantui ketakutan menghadapi orang-orang seperti Heechul. Yeah, sedikit tidaknya Kyuhyun telah mengubah Sungmin menjadi seseorang yang lebih tegar.
"HYAAAA!"
.
.
Bruughh…
O
o
O
o
O
Kyuhyun berlari sekencang-kencangnya hingga sampai di kolam belakang kampus. Nafasnya tersengal-sengal, langkahnya lambat laun menjadi pelan. Saat diyakini sosok yang tengah dicarinya telah ia temui. Ia beringsut mendekat, mencoba melihat keadaan yeoja yang sedang sibuk memegang tangannya. Sebuah bongkahan batu telah memecahkan kayu yang ada didepan Sungmin.
"Sungmin." Cicit Kyuhyun pelan. Kyuhyun berjongkok disamping gadis itu. ia dapat melihat seberapa besar gelombang ketakutan yang dirasakan gadis itu dari gemetar bahunya yang naik turun karena sesunggukan.
Sungmin menoleh saat namanya terpanggil. Tanpa ia sadar, ia langsung melepaskan tangisnya begitu saja. Ia bebaskan airmata yang tertampung sedari tadi dimatanya menetes tanpa ampun saat melihat sosok Kyuhyun disampingnya. Ia menangis tanpa henti.
Perlahan tubuh Kyuhyun mendekat dan membawa tubuh mungil itu dalam dekapannya, mencoba memberikan kekuatan pada Sungmin, bahwa dirinya ada disini saat ini untuk melindunginya. Sungmin masih setia menangis, sembari memegangi tangannya. Tangannya tak terluka namun rasa takut sangat mendominasi dirinya.
Kedua insan itu tak menyadari, Hangeng tengah menatap mereka. Tak pernah sekalipun dalam masa pertemanan mereka, ia melihat Kyuhyun sekalut ini, sepeduli ini dengan seorang yeoja. Tidak sekalipun. Hangeng merasa tidak berguna, karena tidak dapat mengetahui marabahaya apa yang sedang berada didepakt orang yang ia cintai. Ia tidak tahu.
O
o
O*o*O*o*O
MARS
O*o*O*o*O
o
O
Yeoja itu menegak kasar cocktail miliknya. Bahkan ini sudah gelas ke-4 yang ia habiskan dalam sekali tegak. Waw! Kemarahan bisa menimbulkan hal sehebat itu pada diri yeoja itu. ia membanting kasar gelas yang telah habis isinya, kemudian waiter secepatnya menggantinya dengan yang baru, menisci kembali gelasnya dengan minuman berkadar alcohol tinggi.
"Aku satu!" seorang pemuda menyambar duduk disamping bangku kosong yeoja itu.
Segera gadis cantik itu melirik pemuda itu dengan ekor matanya, dan tercipatlah seulas senyum sinis dari bibir merahnya.
"Sudah puas!" bukan bentuk sebuah tanya yang dilontarkan pemuda disampingnya saat ini, tapi sebuah bentuk kekesalan yang ia ucapkan pada yeoja itu.
"Berhenti melukai Sungmin! Arraseo!" tatapan mata itu berkilat akan kemarahan. Namun yeoja itu masih tak menganggap penting ucapan namja yang sedang menatap matanya dengan mata obsidiannya.
"Kalau dia berhenti mendekatimu, maka aku akan berhenti melukainya! Sigh! Bahkan ia rela kehilangan tangannya karenamu, dasar gadis bodoh!" heechul mendesah sebal. Ia memainkan jemarinya pada gelas miliknya dan kembali menatap namja yang tengah membidikkan matanya menatap dirinya dengan sangat lekat.
"Kalau kau berani melukainya. Maka aku akan membunuhmu!"
Sontak, tatpan Heechul menegang seketika. Gelombang ketakutan mendera dirinya, "Kau mengancamku Cho?" tanya Heechul menghilangkan rasa khawatirnya.
Kyuhyun, menegak cocktail miliknya dan meletakkan lembaran uang disana, "A-ku-akan-mem-bu-nuh-mu!" Kyuhyun menerangkan kata-katanya dengan sangat jelas tepat didepan wajah Heechul. Dan berlalu meninggalkan Heechul disana.
Tatapan mata itu, tatapan mata yang paling menakutkan yang pernah Heechul lihat selama ia mengenal Kyuhyun. Tidak pernah namja itu memberikan tatapan sebegitu menakutkannya.
Ia selalu mengikuti Kyuhyun, memperhatikan setiap lekuk wajah namja itu, ia tahu mana tatapan mata yang penuh arti keseriusan, dengan tatapan yang hanya sebuah lelucon semata.
"Kita perlu bicara Chullie-ya." Sosok Hangeng tiba-tiba muncul disaat Heechul tengah kalut dalam ketakutannya.
O
o
O*o*O*o*O
MARS
O*o*O*o*O
o
O
Sayup-sayup terdengar dimalam sunyi ini. Sungmin menangkap suara laju sepeda motor yang sangat ia kenal bunyinya tengah mendekat. Sungmin yang saat ini berada didalam kamarnya mencoba mengintip dari balik tirai jendelanya. Senyum terlukis diwajahnya kala melihat sosok itu ada disana.
Ia melangkah gembira menghampiri sosok Kyuhyun disana. Bahkan ia lupa akan kejadian tadi siang yang sudah menimpanya. Ia hanya ingat Kyuhyun menggendong tubuhnya, membawanya ke ruang kesehatan. Kemudain namja itu juga yang telah mengantarnya pulang. Artinya Kyuhyun sudah mengantarnya dua kali.
Sungmin sudah berada di halaman depan rumahnya. Ia dapat melihat Kyuhyun yang sedang duduk diatas motor besarnya. Namun, namja itu segera berdiri saat melihat Sungmin mendekatinya.
"Kau belum tidur?" tanya Kyuhyun lembut.
Sungmin menggeleng dan duduk di pembatas jalan, dibawah Kyuhyun. "Aku belum mengantuk." Jawab Sungmin seadanya.
Saat ini bila keheningan malam benar-benar tak bersuara sedikitpun, pasti suara gemuruh detakan jantung kedua insan ini dapat terdengar lantang. Debaran-debaran yang selalu terjadi jikalau kau tengah bersama dengan orang yang kau sukai.
"Tanganmu sudah tidak apa-apa?" Kyuhyun masih sangat merasa bersalah dengan apa yang terjadi. Batinnya terus merasa ialah yang paling bersalah dalam tragedi ini.
Sungmin memandangi tangannya yang masih seperti biasa, "Dia tidak melakukan apapun pada tanganku." Terangnya sembari memperlihatkan tangannya.
"Sigh! Ia benar-benar sudah tidak waras!" ucap Kyuhyun kesal. Ia menutup wajahnya, entah mengapa saat berada didepan yeoja mungil ini ia tak sanggup marah bahkan berteriak. Selalu tatapan-tatapan hangat yang ia perlihatkan pada yeoja itu.
Sungmin menggeleng pelan, "Anni. Itu hanya karena dia cemburu. Hal yang wajar." Sungmin membela orang yang telah melukainya. Karena ia bisa merasakan dirinya saat berada diposisi Heechul saat itu.
Kyuhyun melepaskan tangannya dari wajahnya, ia benar-benar tidak menyangka Sungmin berkata seperti itu padanya. Saat ia melihat mata kelinci itu, ia dapat melihat betapa jujurnya tatapan mata itu padanya. Sungmin benar-benar tidak membenci Heechul.
"Lain kali jika ia melakukan itu padamu. Aku akan membunuhnya." Ancam Kyuhyun dengan nada tegas.
Sungmin kaget mendengarnya, bagaimanapun Heechul itu hanyalah seseorang yang sangat mencintai Kyuhyun. Sungmin segera berdiri, "Kau tidak boleh melakukan itu padanya. Aku tidak ingin kau dianggap jahat oleh orang lain." Kata Sungmin, pelan.
Kyuhyun terkekeh pelan, "Aku bahkan pernah hampir membunuh namja sebayaku dengan menodongkan senjata api padanya!" Kyuhyun terdiam sejenak, dan melanjutkan ucapannya, " Aku tidak terlalu peduli dengan anggapan orang mengenai keburukanku, karena memang anggapan mereka benar, aku seorang yang jahat dan penggoda wanita."
"Tidak! Mereka tidak benar!" Sungmin segera berdiri dari tempatnya. Ia menolak pernyataan Kyuhyun dengan sangat lantang. "Mereka tidak mengenalmu. Mereka tidak tahu siapa kau sebenarnya. Mereka selalu menganggap orang yang jahat itu adalah baik dan sebaliknya. Kau hanya orang yang butuh perhatian, kau hanya ingin ada yang memperhatikanmu menyadari. Kau membutuhkan kasih sayang. Aku tidak jahat Kyuhyun-ah." Sungmin mengungkapkan apa yang ia rasakan pada Kyuhyun. Ia tak emungkiri namja itu begitu baik padanya. Begitu melindungi dirinya. Kyuhyun baginya adalah seseorang yang baik. Bullshit! Tentang anggapan orang tentangnya.
Kyuhyun tertegun mendengarnya. Ia sama sekali tak menyangka Sungmin mengatakan tentang dirinya, dan semuanya…, tepat. Yeah, Kyuhyun membutuhkan seseorang yang bisa peduli dan sayang padanya.
"Kau yang menyelamatkanku saat Jung songsaeng ingin melecehkanku. Kau tidak sejahat pemikiran orang-orang. Kau hanya membuat dirmu tampakjahat diluar, tapi.."
.
Chuu~
.
Belum selesai kalimat-kalimat yang dilontarkan Sungmin tentang Kyuhyun. Pemuda itu segera menhentikannya dengan mencium lembut bibir yeoja itu. Menyesapnya dalam gelombang kasih sayang yang sudah membuncah tak tertahan. Kyuhyun begitu tak tahan untuk menyampaikan rasa sayangnya pada wanita ini.
Kyuhyun melumat lembut bibir Sungmin, menekan tengkuk Sungmin agar mendekat ketubuhnya. Yeoja itu memejamkan matanya menikmati setiap lumatan manis yang Kyuhyun berikan untuknya. Sungmin yang semula 'anti' dengan pemuda, namun ia tak dapat menolak cumbuan hangat Kyhyun dibibirnya saat ini. Tak ada paksaan dan tak ada kekasaran yang Kyuhyun berikan padanya. Pemuda itu melakukannya dengan sangat lembut.
Mereka melepaskan tautan bibirnya, Kyuhyun menyandarkan dahinya pada dahi Sungmin. Ia tatap kedua mata yang tengah tertutup itu dengan rona merah yang terlkihat diwajah putih Sungmin. Kyuhyun tersenyum, Sungmin begitu manis, begitu cantik, begitu indah, dan begitu sempurna baginya.
O
o
O*o*O*o*O
MARS
O*o*O*o*O
o
O
Hangeng membawa Heechul ke taman, membicarakan perihal masalah yang telah ditimbulkan oleh yeoja itu. namun percakapan itu belum dimulai sedari tadi. Heechul masih dengan dunia-nya melamun memikirkan ucapan Kyuhyun yang masih terngiang-ngiang dipikirannya. Ia menyembunyikan kepalanya disela lutu dan lengannya. Ia lemah, lemah karena Kyuhyun sekarang benar-benar membencinya.
"Sikapmu sudah kelewatan kali ini." Hangeng berucap pelan, ia tidak ingin menekan Heechul lagi. Bagaimanapun Heechul hanya lah orang yang dibutakan rasa cemburu.
Terdengar pelan, namun Hangeng masih bisa menangkap isakan Heechul, "Dia tidak pernah semengerikan itu. Tidak pernah sekalipun!" Heechul mengangkat wjahnya, menatap Hangeng dengan matanya yang sudah berair penuh tangis.
"Kau tidak perlu takut! Hanya sebuah ancaman saja, kau sudah mengenalnya bukan, kau pasti tahu Kyuhyun itu orang yang bagaimana?"
"Karena aku tahu dia orang yang seperti apa! Aku selalu memperhatikan semua yang ada didirinya. Saat dia tersenyum, tertawa, bahkan marah. Tapi…, Dia selalu tersenyum saat bersama Sungmin! Bahkan ia selalu memberikan senyuman yang tidak pernah ia perlihatkan pada orang lain! Tatapan matanya begitu tedu saat melihat wanita keras kepala itu!" Heechul memekik kesal, sembari menangis dengan apayang ia bayangkan saat Kyuhyun mengancamnya.
Hangeng mendengus sebal, "Jadi, apa yang mau kau lakukan?"
Heechul hanya menggeleng lemah, sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Bagaimana kalau kita lakukan sesuatu kepada kedua orang bodoh itu." Ucap Hangeng, dingin.
Mendengar 'rencana' yang akan disampaikan Hangeng, Heechul segera melepaskan tangannya dari wajahnya. Ia melihat manik mata Hangeng yang sedang serius menatapnya.
"Kau cukup membantuku menjalankan rencana ini."
O
o
O*o*O*o*O
TBC
O*o*O*o*O
o
O
Annyeong chingudel (^.^)/
Begimana? Begimana? (^_~)
Ayo berikan review-nya yach chingu. Maaf lagi dan lagi, hanya kata itu yang bisa saya ucapkan. Kesibukan saya membatasi saya untuk membalas review anda #alasan…=_=
Tapi serius chinguya, saya pengen banget bales review kalian satu per satu. Tapi…
Maafkan saya yach (_A_)
.
.
Mianhae update kecepatana. Soalnya minggu besok g bisa update ini FF. Minta do'a-nya buat chingu semua semoga perjalanan saya minggu depan lancar dan kembali dalam keadaan sehat wal'afiat tanpa kekurangan sesuatu apapun.
*Amiiiin*
(^/\^)
Maaf sebelumnya #bow…
.
.
Review please
|(^O^)/
