"Yo, Akaashi." Akaashi menatap si perak jabrik yang memberikan senyuman lebarnya saat ia baru melewati palang masuk stasiun. Jaket Bokuto tidak direstletingnya dan ia telah memakai seragam volinya di balik jaket itu. "Bagaimana punggungmu? Sudah sembuh?"

Akaashi mengangguk dan tersenyum tipis, "Terima kasih, Bokuto-san. Aku tidak menyangka kau benar-benar bisa memijit."

Keduanya berjalan berdampingan menuju peron dengan diisi tawa bangga Bokuto, "Saat aku kelas satu dulu, para senpai sering mengerjaiku dan menyuruhku mengurut mereka. Jadi begitulah—hahaha."

Mata hijau itu menyipit saat Akaashi tertawa, "Bokuto-san, kau tidak perlu membanggakan diri saat kau dikerjai."

Bibir Bokuto merengut dengan jenaka dan kedua tangannya meregang, menempel di belakang kepalanya dengan kedua lengannya terbuka lebar. Keduanya berdiri, menunggu kereta mereka yang masih belum datang. "Tapi aku tidak menduga kau sering dikerjai, Bokuto-san?"

Bokuto memegangi dagunya, matanya menyipit sambil berpikir keras. Dia berdehem lama, "Tidak juga. Kapten yang dulu—yang sudah lulus—memiliki hobi menyebalkan. Dia suka menggoda junior-junior. Dan favoritnya adalah aku. Katanya karena aku berbakat. Bukankah itu alasan yang sangat tidak masuk akal? Menyebalkan."

Tawa Akaashi ringan dan pelan, dan untuk sesaat Bokuto terdiam hanya untuk menikmati suara menyenangkan itu di antara kesibukan stasiun. Wajah yang tergelak pelan itu sangat disukai Bokuto, segar dan tubuhnya pun menguarkan aroma harum yang begitu disukainya sejak pertama kali Bokuto menciumnya.

"Berhenti membicarakanku, Akaashi. Kau membuatku malu." Wajah Bokuto sedikit bersemu, namun bukan karena malu seperti yang dikatakannya. Semakin lama Akaashi begitu, membuat peredaran darahnya sendiri bekerja abnormal di dalam tubuh. Jantungnya sudah tak terhitung lagi berapa kecepatan kerjanya persekon saban Bokuto bersama Akaashi.

Ah, untuk kali kesekian Bokuto membatin, betapa dia menyukai Akaashi.

"Bagaimana denganmu?" Bokuto menggaruk kepalanya sebentar. Ia masih tidak berani menatap mata hijau Akaashi atau ia akan hilang akal pagi ini. "Bagaimana kau saat SMP, Akaashi?"

Akaashi diam sejenak. Dia pun sama menatap pandangan ke depannya. "Aku sudah bermain voli sejak SD. Dan aku sudah mengikuti pertandingan resmi sejak SMP."

"Ah—aku juga."

"Aku dan Sakusa—spiker kelas satu Itachiyama—kami dulu satu tim. Aku dulu adalah setter-nya."

Kali ini si perak jabrik menatap sisi kepala Akaashi. "Hee? Aku tidak tahu."

Bokuto ingat Sakusa. Dia spiker yang cukup menarik perhatiannya saat kemarin ia menonton sekilas pertandingan mereka. Spike orang itu cukup kuat dan dia memiliki teknik yang cukup bagus. Jika Fukurodani dan Itachiyama memenangkan pertandingan semifinal hari ini, mereka akan bertemu besok di final.

"Dia terpilih sebagai kandidat perwakilan Jepang di bawah usia 19 tahun. Tim nasional sudah mengincarnya sejak dia lulus SMP."

Mendadak ada perasaan tidak nyaman di dalam dada si perak. "Apa dia memang sehebat itu?"

Bokuto menyadari ada nada kecemburuan di suaranya sendiri. Cepat-cepat ia melirik pada si hitam di sampingnya untuk mengetahui apakah Akaashi mendengarnya atau tidak. Tidak ada reaksi berarti. Yang ia dapat hanyalah tatap yang semangatnya surut serta senyum getir. "Dia sangat hebat. Aku rasa Itachiyama akan jadi lawan yang cukup menyulitkan besok."

Si perak sudah akan memukul pundak Akaashi lagi jika ia lupa kejadian yang baru terjadi kemarin, sehingga kini tangan kanannya melayang aneh di udara sebelum menepuk pelan pundak Akaashi yang lain yang jauh dari bekas pukulannya kemarin, "Lawan besok kita pikirkan besok, Akaashi. Lawan hari ini yang harus kita hadapi."

Senyuman getir itu berganti dengan sebuah kelegaan tipis dan Akaashi menoleh pada Bokuto. "Kau benar, Bokuto-san."

.

Seruan bahagia membahana saat bekas jatuhnya bola yang di-spike Bokuto ke lapangan lawan menandakan bahwa itulah akhir dari pertandingan semifinal hari ini. Pukulan terakhir Bokuto tajam menyilang dan jatuh di posisi yang sulit untuk diterima lawan. Fukurodani mengantungi satu tiket menuju nasional. Pertandingan besok akan menjadi penentu siapa yang terkuat di Tokyo.

Bokuto berseru nyaring, "YOSHA!"

Dia berlari cepat dari sisi lapangan tempat ia mendarat ke sisi lapangan lain tempat Akaashi berada. Sambil berlari, tangannya mengepal kuat, teracung ke udara sebagai bentuk puasnya atas kemenangan hari ini. Dilihatnya Akaashi yang terengah-engah dan segera ditariknya tubuh si hitam ke pelukannya dan dia berteriak nyaring, "NASIONAL!"

Dan tanpa diduga siapapun Bokuto melepaskan pelukannya pada Akaashi untuk mencium kening si hitam dengan dalam dan cukup lama sebelum sang ace berlari mengelilingi lapangan dengan penuh kebahagiaan. Mengompaki kawan-kawan setimnya yang sama terpakunya seperti sang setter melihat perbuatan si perak.

Bunyi 'Boo' mendadak membahana di stadion dan justru berasal dari para pendukung pemenang hari ini. Ada seruan ketidakrelaan, ada jua jeritan histeris bermakna ambigu. Beberapa teman anggota tim voli yang tidak terpilih bahkan meski hanya menjadi cadangan berteriak kesal pada si perak. "BOKUTO! TAHU TEMPAT, BODOH!"

-dilanjut di chapter berikutnya