"Wah, orang yang suka pamer."

"Lihat, orang yang suka pamer."

"Awas, awas. Biarkan orang yang suka pamer berjalan duluan."

"Shirofuku, orang yang suka pamer sedang mencarimu."

"Waah, mau apa orang yang suka pamer denganku?"

Bokuto melotot dengan wajah memerah. Dibantingnya handuk basahnya ke lantai dengan kesal dan dua alisnya nyaris menyatu karena keningnya yang mengerut luar biasa. "Hentikan itu. Aku bukan orang yang suka pamer, duh."

Tak ada yang menanggapi protes Bokuto sementara Komi menyerahkan tisu dan disinfektan pada setter kelas satu mereka, "Akaashi, lebih baik cepat dibersihkan, nanti kau kena infeksi. Kau tidak ada alergi orang yang suka pamer, kan?"

"KOMIYAN!"

Si hitam yang tidak mengerti sama sekali hanya menerima apa yang diserahkan kakak kelasnya dengan bingung dan berterima kasih pelan. "Ah, aku tidak ada alergi dengan apapun. Daya tahan tubuhku cukup kuat."

"Akaashi, jangan ditanggapi serius begitu. Kau ini—setidaknya bela aku sedikit." Bokuto menggerutu kesal. Bibirnya mengerucut dan matanya menyipit pada sang setter. Kakinya dihentak-hentakkan ke lantai ketika ia berjalan mengekori kawan-kawan setimnya yang tertawa berjalan menuju tempat istirahat.

Tingkah Bokuto membuat para anggota kelas tiga tak berhenti terkikik. Sang kapten meraih pundak sang perak dan merangkulnya, "Salahmu sendiri pamer-pamer seperti itu."

"Pamer yang bagaimana?" Bokuto tak mengerti. Sampai detik ini pun dia tak tahu apa yang membuat nyaris seluruh isi stadion mengejeknya tanpa henti. Wakil kaptennya—yang sama-sama siswa kelas tiga—mengacak rambut jabrik sang junior dengan gemas, "Kalau mau cium-ciuman itu ada tempatnya, bodoh. Kau pikir kau orang barat?"

"He?" Bokuto menatap seniornya bingung. Akaashi yang juga mendengarkan di belakang sama herannya, dan katanya sebelum Bokuto sempat menyangkal apapun, "Bukankah itu biasa saja?"

Bokuto melotot dan mengangguk kuat-kuat pada kata-kata Akaashi. Dilepasnya rangkulan seniornya dan dia langsung menggandeng Akaashi, "Nah, benarkan! Kalian saja yang kuno. Orang-orang di TV-TV setelah main sepakbola dan menang juga ada cium-ciuman dan biasa saja. Kalian kuno!"

"Tapi—" Akaashi tiba-tiba merenung. "—kalau dipikir lagi, memang tidak biasa, Bokuto-san. Di voli tidak biasa yang seperti itu."

"Salah. Aku pernah nonton pertandingan voli sedunia, dan mereka juga cium-ciuman."

"Tapi itu karena mereka sudah sangat dekat dan berlatih bersama hingga bertahun-tahun sehingga ikatan di antara mereka sudah begitu dekat."

"He? Bukankah kita juga sudah dekat?"

"Apanya?"

"Ikatannya!"

"Aku tidak mengerti."

Sarukui tertawa. "Sudahlah, Akaashi. itu hanya modus Bokuto saja. Biarkan sajalah. Iyakan saja kata-katanya."

"Modus apa?"

Semua anggota Fukurodani yang ada di situ terpana pada kekompakan duo setter-ace yang menanyakan hal itu bersamaan. Baik oleh si tukang modus maupun yang diberi modus. Sama tak menyangkanya bahwa ternyata Akaashi cukup—bodoh?—untuk tidak mengerti apa yang terjadi.

Dan saat tawa-tawa kegembiraan itulah Akaashi mendapati tatap tajam lurus kepadanya. Dengan cepat si hitam ikal menoleh, matanya tertuju pada sudut lorong tempat anggota Itachiyama bersiap untuk berpindah tempat. Menatap Sakusa yang sama meliriknya dari balik maskernya yang nyaris menutupi hingga matanya. Langkahnya melambat sementara Bokuto sudah melepaskan rangkulannya pada bahu Akaashi dan masih turut ikut bercengkrama dengan senior-seniornya.

Sakusa berjalan di paling belakang ketika para pemain Itachiyama berjalan ke arah timnya menuju yang mendadak keheningan Fukurodani saat berpapasan dengan tim yang sama juara jua hari ini. Tawa sukacita itu hilang, berganti ketegangan karena musuh esok hari telah ada di depan mata.

"Besok, aku—" Sakusa nyaris berbisik saat ia melewati Akaashi, "—akan menghancurkan ace barumu."

-dilanjut di chapter berikutnya