Ao… Beby-chan balik nich khukhukhu…

Aku baru balik lagi, abis nya lagi banyak tugas *alesan aja* hehehe..

Yo weis… Langsung aja keceritanya nyok.

Disclaimer : Masih tetep punya om Masashi Kishimoto. (Masashi-san: Sejak kapan gue jadi om lo?)

*KURAKE IN LOVE*

#Chapter 3#

^ Me Ngi Nap ^

Created By: Beby-chan.

Genre: Romance/Drama/Humor(maybe)

Rate: T

Language: Indonesian

Warning: AU, OOC, gaje, aneh dan lain-lain.

Don't Like, Don't Read..!

Keesokan harinya sekitar pukul tiga pagi, Sakura mendapat panggilan mendadak dari rumah sakit untuk melaksanakan oprasi darurat pada korban kecelakaan lalulintas. Oleh sebab itu Sakura mendapat hadiah kantung hitam yang menempel dengan indah di bawah kedua mata Emeraldnya. Setelah selesai menjalankan oprasi Sakura langsung menuju ruang kerjanya untuk beristirahat sebentar.

Ruangan yang lumayan besar itu terlihat sangat nyaman dengan design sederhana. Meja kerja yang dihiasi vas bunga kecil warna putih, bingkai foto dengan gambar kedua orang tuanya dan sekikit map-map laporan pemeirksaan para pasiennya disisi meja itu. Sofa dan meja hitam di tengah ruangan untuk menerima tamu penting atau teman-temannya, dispenser disalah satu sudut ruangan dan lemari besar berwarna hitam berisi barang-barang penting Sakura disudut yang lain dan semua itu di lengkapi dengan dinding berwarna hijau muda.

"Ah~ gara-gara kurang tidur jadi hitam begini mataku," keluh Sakura saat melihat dirinya di cermin kecil yang ia pegang.

"Sudah jam setengah sepuluh, sebaiknya aku pulang saja ah, jam tiga nanti ada janji dengan Ino kan." Sakura menggumam sambil melihat sms dari Ino kemarin.

~Kurake In Love~

In Uchiha Corp (Ruangan Sasuke)

Ruangan Sasuke hanya terdiri dari dua warna, yaitu abu-abu dan hitam. Dinding berwarna abu-abu, kursi, meja kerja, sofa, meja tamu, lemari-lemari kecil dan yang lainnya berwarna hitam. Sungguh itu mungkin warna yang sangat membosankan bagi sebagian orang, tapi tidak bagi Sasuke. Karena itu adalah warna favoritnya.

Ternyata Sasuke sedang asyik melamun di ruangan itu, sehingga tidak sadar kalau dari tadi ada yang mengetuk pintu ruangannya.

"Hah~" Sasuke menghela nafas panjang.

"Kenapa kau teme?" kata seseorang yang berada tepat di depan Sasuke.

"Hwaaaaaaaaaaaa….! Naruto?" Sasuke kaget setengah mati, tiba-tiba saja salah satu sahabat kuningnya mucul tepat di depan matanya. Uzumaki Naruto.

"Kenapa, kenapa, kenapa? Ada apa hah? Hei… teme ada apa?" tanya si pirang itu panic melihat sahabatnya berteriak.

BLETAK

"Jangan muncul dengan tiba-tiba di depan wajah orang dobe! Kalau aku jantungan gimana hah? dan bagaimana kau bisa masuk kemari?" Sasuke menjitak kepala Naruto sambil mengomel (Sampe jantungan segala, LEBAY).

"Biasa aja dong ah, ga usah histeris gitu, aku kira ada apa, bikin kaget saja!" Naruto menghela nafas lega, "tadi aku dan sekertarismu sudah mengetuk pintu tapi kau tidak menjawab sama sekali, jadi aku masuk saja hehehe…" katanya dengan senyum tanpa dosa.

"Dasar!"

"Ekh, kita hangout yuk?"

"Kemana?" tanya Sasuke malas-malasan.

"Kemana kek gitu. Kita berangkat aja dulu baru kita tentukan mau kemananya." bujuk Naruto.

"Dobe! Dimana-mana itu tentukan dulu mau kemana, baru berangkat!" Sasuke mulai naik darah. Sahabatnya yang satu ini memang pandai membuatnya emosi.

"Ah, terserah kau sajalah teme, ayo kita jalan! Aku bosan melihat runganmu yang pucat ini." Naruto bicara sambil menyeret (?) Sasuke keluar.

~Kurake In Love~

"SAKURA CEPAT BANGUN!" seorang gadis rambut pirang berkuncir satu mengguncang-guncang tubuh Sakura yang sedang tidur di kamarnya.

"Engh~" Sakura membuka dan mengedip-ngedipkan mata untuk melihat sosok yang mengganggu acara tidurnya itu.

"Ayo bangun bangun bangun!" orang itu mengguncang Sakura lebih keras.

"Ino? Kenapa kau kemari? Bukannya kita janji bertemu dengan Hinata, Tenten dan Temari di café Konoha jam tiga nanti?" tanya Sakura masih belum sepenuhnya sadar.

"Apanya yang jam tiga? Lihat jam berapa sekarang!" Ino menyodorkan jam weker kewajah Sakura, "sekarang sudah jam setengah lima Sakura, kami menunggumu tapi kau malah enak-anakan tidur." omelnya bak seorang ibu.

Sakura mengarjap matanya kaget melihat jam weker itu dan penjelasan Ino. "Eh~ yang benar? Ah maaf Ino aku ketiduran, maaf hehehe..."

"Ah, sudahlah sekarang yang lainnya ada di rumah Tenten, cepat mandi aku tunggu di bawah. Jangan lama yah, awas!"

"Iya iya…"

.

.

.

Setelah mandi dan berpakaian Sakura langsung ke ruang tamu, tempat biasa Ino menunggunya.

"Ayo berangkat." kata Sakura

"Ayo, naik mobilku saja yah. Tumben mandinya cepat sekali, biasanya satu jam lebih?" ledek gadis pirang itu.

"Huh, aku gamau kena omelanmu yang seperti ibu-ibu itu lagi! Nanti antar aku pulang lagi loh."

"Iya iya forehead." Ino menyeringai.

Lalu Sakura naik ke mobil Honda-CRV hitam milik Ino menuju rumah Tenten.

~Kurake In Love~

Sakura dan Ino sampai di rumah Tenten, Ino langsung memarkirkan mobilnya lalu menuju pintu rumah tersebut dengan Sakura.

"Kok banyak mobil begini? Memangnya ada siapa lagi selain Hinata dan Temari?" tanya Sakura bingung pada Ino.

"Tidak tahu, perasaan cuma kita aja deh." kata Ino yang ikut bingung.

CEKREK

Ino langsung mebuka pintu itu tanpa permisi. "Hei ketuk pintu dulu, tidak sopan!" kata Sakura

"Enggak dikunci kok." jawab Ino santai.

"Dasar."

"Heii… Kamarku jangan diacak-acak yah, awas kalian!" terdengar suara Tenten yang berteriak di bawah tangga saat Sakura dan Ino masuk.

"Ten ada siapa si? Kok berisik banget di atas, di luar juga banyak mobil." tanya Ino yang sudah sampai di ruang tengah tenten.

"Apaan nih? Kok jadi kaya kapal pecah begini rumahmu Ten?" tanya Sakura yang kaget dengan kondisi rumah Tenten.

"Ini karena si Naruto yang tiba-tiba datang dengan membawa komplotan pengacaunya." kata Tenten sambil memandang Hinata.

"Ke… kenapa melihat kearahku?" tanya Hinata gugup.

"Pacarmu bikin kacau." kata Temari meledek tepat duduk disebelahnya.

"…" Hinata malah blushing mendengar nama pacarnya disebut.

"Eh, memangnya pelayanmu kemana?" tanya Ino.

"Mereka semua sedang cuti." Tenten menjawab sambil berjalan menuju sofa dan diikuti oleh yang lainnya. "Eh Saku, tadi kau kemana?" lanjutnya.

"Iya, ga asik nih." sahut Temari.

"Iya maaf, tadi aku ketiduran. Oh iya memangnya siapa saja yang datang?" Sakura mangalihkan pembicaraan supaya tidak diserang.

"Shikamaru, Naruto, Sai, Neji, Rocklee, pasangan Kiba dan Akamaru, Sasuke dan Gaara," jelas Temari yang menyebutkan nama mereka satu-satu dengan jarinya.

"Kyaaa~ ada Sai sayang~" Ino teriak histeris.

'Sasuke? Apa Sasuke naknya bibi Mikoto ya?' Sakura membatin.

"Heh biasa aja kenapa sih!" bentak Temari pada Ino, "aku ada Shika aja tidak histeris sepertimu." lanjutnya lagi.

"Biarin," kata Ino sambil menjulurkan lidahnya dan terus menerus menggumamkan nama Sai.

"Dasar gila!" kata mereka semua minus Hinata yang masih asik ngebliushing ria(?).

"Sudah, sebaiknya kalian bantu aku membereskan rumah,"

"Eh kita'kan kemari mau ngegosip, kok jadi acara bersihin rumah sih?" Ino merajuk.

"Udah, bersihin aja apa susahnya sih, kalau berantakan begini juga ga enak'kan ngegosipnya?" rayu Temari.

"Ia juga yah, kalau berantakan tidak akan meresapi (emangnya bumbu) gosipnya. Ayo besihkan!" Ino mendadak menjadi semangat '45 mendengar kata 'gosip'.

Sendangkan yang lain hanya sweatdroop.

Setelah setengah jam berlalu, ruangan itu menjadi rapih seperti semula. Mereka pun tepar seketika di sofa putih ruangan tersebut.

"Tenten aku kedapur dulu ya." Sakura bangkit dari sofa.

"Dapurku enggak berantakan kok Sak, jadi enggak usah repot-repot dirapihin." jawab Tenten dengan wajah Innocent.

"Siapa yang mau ngerapihin dapur! Aku mau ambil minum!"

"Eh? kirain… hehehehehe…"

TAP TAP TAP

Terdengar langkah seseorang menuruni tangga.

"Sasuke? Kok turun? Kenapa?" tanya Ino dan Tenten serempak (kompak bener).

"Hn. Pusing." jawab Sasuke datar lalu ikut duduk bersama yang lainnya.

"Pasti mereka semua sedang karaoke yah?" tanya Ino lagi.

"Hn, tuh tau."

"Kyahahahahaha, kok Shika dan Neji bisa tahan sama suara Naruto dan Rocklee sih?" kata Temari tidak percaya sambil memegangi perutnya yang sakit karena tertawa.

"Shikamaru tidur, kalau Neji ketularan si alis tebal." jawab Sasuke singkat, padat dan jelas.

"HAAAAAH…! SHIKAMARU BISA TIDUR DENGAN SUASANA BERISIK BEGITU? DAN NEJI SEPERTI ROCKLEE?" semuanya termasuk Hinata histeris kaget mendengar jawaban Sasuke, sedangkan Sasuke hanya bisa menutup telinga dengan kedua tangannya dan berdoa agar telinganya tidak tuli mendengar teriakan gadis-gadis itu setelah diserang suara teman-temanya yang sedang karaoke di kamar Tenten tadi.

"Kalian kenapa sih berisik sekali? Sa…Sasuke-San?" Sakura keluar dari dapur dan hampir menjatuhkan nampan berisi lima gelas sirup orange ditangannya karena melihat Sasuke.

"Kau? Sakura?" Sasuke balik bertanya.

"Eh, kau kenal Sakura, Sasuke?" tanya Ino bingung.

"Hn"

"Sejak kapan?" sekarang Ino bertanya pada Sakura yang sedang menaruh sirup orange itu di meja.

"Baru kemarin" sawab Sakura sekenanya.

"Kenapa kau di sini? Aku tidak pernah melihatmu bersama mereka sebelumnya." tanya Sasuke.

"Kenapa ya?" Sakura jadi bingung sendiri mau menjawab apa.

"Kenapa? Pertanyaan aneh." jawab inner Sakura.

"Wa… wajar saja kalau kalian tidak pernah bertemu sebelumnya karena Kalau Sakura ada, Sasuke yang tidak ada. Begitu pun se.. sebaliknya." Hinata menjelaskan.

Sasuke dan Sakura menganggukkan kepala tanda mengerti.

"Jadi bagaimana kalian saling kenal?" Ino mulai mencari gossip baru.

"Itu…" Sakura melirik kearah Sasuke dan yang dilirik memberikan pandangan 'katakan-yang-wajar saja'. "Orang tua kami sudah berteman sejak lama." lanjutnya.

"Hmmm~ benarkah? Ino dan Temari mulai mengintrogasi Sakura.

"Ia benar, kalian mau bilang aku berbohong?" tanya Sakura gugup.

"Kau tidak bisa membohongi kami Sakura. Ingat? kau tidak bisa berbohong." kata Temari.

Grubukgrubukgrubuk…

Terdengar suara beberapa kaki turun dari tangga sehingga membuat yang lainnya menengok kearah tangga itu.

"Haaaaah~" Sasuke dan Sakura benafas lega, karena bisa gawat kalau biang gossip seperti Ino dan Temari tahu mereka dijodohkan.

"Ternyata kau di sini Sasuke, dasar tau-tau menghilang begitu saja," kata seseorang yang bernama Kiba sambil duduk di atas anjing putih besar. Akamaru.

"Wah~ ada Sakura-chan? Apa kabar? Kau kemana saja?" kata Naruto. Rocklee dan Kiba serempak melihat kearah pandang Naruto.

"Hai." jawab Sakura ceria karena sudah lama tidak bertemu teman-temannya itu.

Lalu mereka semuapun ikut menimbrung disana. Ada Ino yang langsung menyambar Sai, Temari yang menceramahi Shikamaru agar tidak terlalu banyak tidur, Tenten yang bermanja-manja dilengan Neji, Hinata yang berusaha keras tidak pingsan karena mengobrol dengan Naruto, dan sisanya tinggal Sasuke, Sakura, Kiba + Akamaru, Rocklee dan Gaara.

"Hehehe sudah lama kita tidak bertemu Sakura-chan, kau tambah cantik saja," kata Rocklee dengan senyum blink-blinknya + dua jempol.

"Gombal kau alis tebal." sahut Kiba dan Gaara.

"Guk…" Akamarupun tidak mau kalah.

"Lihat, Akamaru saja setuju." lanjut Gaara.

"Hahaha, kalian tidak berubah ya?" timpal Sakura sambil mengelus kepala Akamaru.

Drrrtt drrttt…

Ponsel Sasuke bergetar tanda panggilan masuk. Ia menjauh dari gerombolan berisik itu.

"Halo? ada apa, bu?"

"Sasu-chan kau ada di mana?" kata Mikoto di seberang sana.

"Aku di rumah teman, kenapa?"

"Jam tujuh nanti kau jemput Sakura ya Sasu-chan."

Sasuke mengecek jam tangannya. Menunjukkan pukul enam tepat. "Untuk apa?" Ujarnya bingung.

"Sudah jemput saja. Bawa dia kerumah, Ibu akan menghubunginya setelah ini."

"Tidak usah menghubunginya, dia ada di sini biar aku yang memberi tau." jawab Sasuke.

"Eh? Sakura-chan di sana? Tidak kusangka anakku begitu agresif khukhukhu…" Mikoto tertawa sambil menari gaje disebrang sana.

'Dasar.' batin Sasuke.

"Sasu-chan, Ibu mau bicara dengan Sakura-chan."

"Tidak usa-"

"Sasuke?" Mikoto menyela ucapan Sasuke dengan nada horor.

"Iya, tunggu sebentar."

"Sakura!" Sasuke menjauhkan ponselnya dari telinganya, lalu memanggil Sakura.

"Iya?" tanya Sakura heran.

Sasuke mengangkat ponselnya ke udara. "Untuk mu." Sakura pun berjalan mendekati Sasuke diikuti tatapan heran dari semua yang ada di sana. "Siapa?" tanya gadis itu. "Ibuku," jawab Sasuke singkat. "Hah? ke.. kenapa?" Sakura gugup. "Tidak tahu, sudah terima saja."

"Ha… halo?"

"Saku-chan?"

"I.. ia bibi apa kabar?" tanya gadis itu masih gugup.

"Baik. Oh iya Saku, nanti ikut Sasuke kesini yah, bibi sudah bicara pada Sasuke."

"Memangnya ada apa?"

"Nanti bibi jelaskan oke?"

"Baik." jawab Sakura meng-iya-kan.

"Tolong sambungkan ke Sasuke lagi." Sakura mengembalikan hp Sasuke. "Ingin bicara denganmu," jelasnya

Sasuke kembali menepelkan ponselnya pada telinganya. "Hn."

"Sasu-chan, karena Sakura ada di sana pulang sekarang saja oke? Cepat ya tidak pakai lama!"

"Hn. Iya." Sasuke mematikan ponselnya lalu melihat Sakura yang berdiri di sampingnya, "kau bawa mobil?" tanyanya dan dijawab gelengan kepala oleh Sakura.

"Ayo berangkat sekarang."

"Se…sekarang.?" Sakura memastikan.

"Iya sekarang, kenapa kau jadi seperti Hinata begitu?"

"Aku duluan," Sasuke pamit pada teman-temannya yang lain sambil berlalu ke pintu keluar.

"Eh? A… aku juga, sampai jumpa." kata Sakura segera mengambil tas tangannya dan berlari menyusul Sasuke tanpa menghiraukan tanda tanya besar pada teman-temannya.

Sakura P.O.V.

Saat aku sampai di depan, Sasuke sudah berdiri di samping mobil Jaguar hitamnya.

"Ayo naik." katanya padaku sambil masuk ke dalam mobilnya.

"Iya." Aku masuk ke dalam mobilnya. Lalu Sasuke menyalahkan mesin mobilnya dan mulai mengendarainya.

Di sepajang perjalanan kami berdua hanya diam dan tanpa sadar aku terus saja memperhatikan wajah Sasuke yang sedang serius mengendarai mobil. Dia benar-benar keren!

"Kenapa memperhatikanku terus?" pertanyaannya membuyarkan lamunanku.

End Sakura P.O.V.

"Kenapa memperhatikanku terus?" tanya Sasuke datar, yang sebenarnya berusaha menahan blushing diwajahnya karena di perhatikan oleh Sakura.

"Eh? Ah tidak apa-apa kok hehehe…" Sakura salting.

"…"

"Ano… Sasuke-san dima-"

"Jangan memanggil namaku dengan embel-embel seperti itu." Sasuke memotong kalimat Sakura dengan nada tidak suka.

"Ah, ma… maaf, kalau begitu Sasuke?"

"Hn?"

"Rumahmu di mana?"

"Konoha Barat."

"Ooh… kau masih tinggal dengan orang tuamu?"

"Hn."

Hening sejenak. "Apa perjalanannya masih jauh?"

"Hn."

"Bisa jawab yang lain selain 'Hn'?."

"Hn." Sasuke bingung sendiri kenapa masih menjawab 'hn'. Kebiasaan!

"Eh?" Sakura bingung.

"Orang ini mahluk 'Hn' kali yah?" Inner Sakura berteriak kesal.

"Kau itu mahluk 'Hn Hn' yah? Ups…" Sakura keceplosan dan segera menutup mulut dengan kedua tangannya.

"…"

"…"

"Hahahahaha…" Sasuke tertawa lepas (akhirnya pertahanan Sasuke goyah juga hahaha).* di cidori Sasu*

"Kenapa malah tertawa? Kau tidak marah?" tanya Sakura bingung.

"Kau itu polos sekali, hahaha…" jawab Sasuke disela tawanya.

"Huh…" Sakura mengembungkan pipinya.

"Maaf." Sasuke berusaha menghentikan tawanya dan kembali focus menyetir.

Sakura memulai lagi pembicaraan. "Eh, sebenarnya kenapa aku disuruh ke rumah mu?"

"Soal itu, aku juga tidak tahu."

"Hahahaha…" Sakura tertawa.

"Kenapa? Ada yang lucu?" Sasuke bingung.

"Ternyata kau bisa bicara tanpa kata 'hn' juga yah,"

"Cih, jadi kau balas dendam?"

"Sekarang kita impas, hehehe…"

'Ternyata dia tidak buruk juga.' Sakura membatin.

Tidak lama kemudian mereka sampai di Mansion kediaman Sasuke yang bergaya Eropa dan Sasuke segera memparkirkan mobilnya. "Sudah sampai," kata Sasuke. Sakura mengangguk mengerti.

Sasuke pun turun diikuti oleh Sakura, lalu mereka memasuki sebuah pintu basar berwarna coklat dengan gagang dilapisi cat emas.

"Selamat datang tuan muda dan nona Haruno." sapa seorang pelayan wanita yang sepertinya kepala pelayan di mension itu.

"Hn." jawab Sasuke singkat, dan Sakura hanya tersenyum dan membatin 'Bahasa hn nya keluar lagi.'

"Aku ke atas dulu." kata Sasuke pada Sakura sambil menuju kearah tangga, dan dijawab dengan senyum oleh Sakura.

"Perkenalkan nama saya Mitarashi Anko, saya adalah kepala pelayan di sini. Nyonya Mikoto sudah menunggu anda di dalam, mari?" kata pelayan itu yang ternyata bernama Anko.

"Iya." jawab Sakura sopan.

Anko mengantar Sakura sampai di depan pintu ruang tengah keluarga Uchiha, di sana terlihat Mikoto yang sedang asyik menonton drama Korea dengan serius.

"Silahkan masuk."

"Terima kasih."

"Permisi?" Sakura masuk ke ruang keluarga itu.

"Eh, Sakura-chan sudah sampai? Selamat datang. Muach…muach." sambut Mikoto yang langsung menghampiri dan men-cipika-cepiki pipi Sakura. "Mana Sasuke?" lanjutnya.

"Sasuke mau ke atas dulu katanya. Ano… Bibi, ada apa mengundangku kesini?" jawab dan tanya Sakura.

"Oh iya, tadi orang tuamu menelfon Bibi, katanya mereka mendadak harus keluar kota, jadi mereka menitipkanmu di sini. Katanya mereka takut meninggalkanmu sendirian di rumah." jelas Mikoto.

"Heh?" Sakura bengong.

"Lha kok mereka enggak ngomong apa-apa kemarin?"

.

.

.

.

.

TO BE CONTINIUED…

Ya-Ha… selesai juga chapter tiga

Tapi kok kayanya garing banget yah?

Aku lagi setres karena banyak tugas di sekolah, tugas buat bikin karya ilmiah sama jadi team art-tistik drama antar kelas yang judulnya ROH, susah banget cari bahan-bahan dan bikin pola lantainya. Huft…

Lha kok jadi curhat? Yasud, mari balas Review yang ga login dulu….

Sasusaku nunggu lanjutannya : Di chapter ini masih belum ada jawabannya hehe.. Silahkan ikuti terus ceritanya. *ngarep* hehehe

Sakura Haruno 1995 : Wah, emang ceritanya so sweet ya? hehehe jadi malu *apa hubungannya* -di timpuk pake hp sama Sakura Haruno 1995- *makasih hp nya* SasuSaku nya udah ga diem-dieman lagi tuh, khusus buat kamu. R&R lagi yah. *plak

Hehe : wah aku masih baru, jangan panggil senpai hehehe… review lagi yah.

Okeh… makasih banyak yang udah ngereview fict aneh ini. Review kalian semua bikin aku semangat.

Ada yang mau nge review lagi?

Ayo klik yang warna ijo di bawah ini…..hehehehe