Cast : Choi Seungcheol, Yoon Jeonghan, Jang Doyoon, Tuan-Nyonya Choi, Tuan-Nyonya Yoon, Tuan-Nyonya Jang, dan cast lainnya yang akan muncul seiring perkembangan cerita.
.
.
.
.
Damanic's present
-o0o-
With the world of imagination
"Replay"
Red
.
.
.
"Hanie... Aku merindukanmu..."
Sebuah ekspresi penuh kerinduan tergambar jelas dari wajah Seungcheol. Jangka waktu yang memisahkan mereka semenjak terakhir bertemu bisa dibilang panjang.
"Aku juga... Doyoonie, lama tidak berjumpa..."
Jeonghan, namja yang berada di pelukan Seungcheol tadi langsung menuju ke arah Doyoon yang tersenyum manis. Memberikan pelukan penuh kerinduan pada Doyoon.
"Ne, lama kita tidak berjumpa. Oh iya, bagaimana kabarmu Jeonghan-ah?" Tanya Doyoon.
"Sangat baik..." Jawab Jeonghan dengan senyuman di wajahnya.
Jeonghan mengusap wajah Doyoon yang tampak pucat. Ia lantas kembali memberi pelukan erat kepada Doyoon.
"Aku baik-baik saja Jeonghan… Tolong jangan mengkhawatirkanku…" Ucap Doyoon menenangkan Jeonghan yang masih erat memeluknya.
Disaat ketiga namja itu saling melepas rindu dengan berbagai macam percakapan, tiga sosok pasangan menghampiri mereka. Ketiga pasangan itu terlihat sudah agak berumur.
"Aigoo... Kalian itu seperti sudah lama saja tidak bertemu..." ucap Nyonya Choi dengan senyuman menawannya.
Seungcheol, Doyoon, dan Jeonghan menengokan kepala mereka bersamaan dan hanya tersenyum penuh kemakluman.
"Mereka memang sudah lama tidak bertemu, Minhyunie" Jawab Tuan Jang kepada Nyonya Choi.
"Ne eomma, yang Ailee ajumma katakan itu benar. Kami sudah 13 bulan tidak bertemu." Jawab Jeonghan.
"Oke, eomma kalah sekarang, Jeonghan-ah." Jawab Nyonya Choi.
"Kau memang harus kalah pada calon menantumu, Minhyunie." Kata Nyonya Yoon sambil terkikik geli.
"Jja, kita harus segera kembali." Intrupsi Tuan Choi sebelum omongan panjang lebar itu tersambung lagi.
Para orang tua berjalan dahulu sedangkan Seungcheol, Jeonghan, dan Doyoon berjalan di belakang.
Saat ini mereka tengah ada di bandara Canada.
Yoon Jeonghan, nama lelaki berambut panjang tadi beserta orang tuanya, Choi Jonghyun dan Choi Minki baru saja datang dari Korea.
Sedangkan Jang Doyoon dan Choi Seungcheol beserta kedua orang tua mereka yang memang tinggal di sini, tengah menjemput Jeonghan beserta keluarganya.
"Seungcheol... Aku akan membeli ice cream. Kau dan Doyoon tunggu disini." Ucap Jeonghan kala matanya melirik stand ice cream yang menggoda.
Dengan langkah sedang, Jeonghan berlari kecil menuju stand ice cream terdekat meninggalkan kedua namja itu.
Ingin tahu apa yang terjadi di antara dua orang yang ditinggal Jeonghan kini?
Aura seketika berubah. Tak ada senyum cerah yang Seungcheol beri. Tak ada pula senyuman manis yang Doyoon tunjukan beberapa saat lalu. Kedua sosok itu tak ada yang saling tatap.
"Kau akan menikah..." Lirih Doyoon memecah keheningan.
Seungcheol menatap Doyoon namun Doyoon menghindari tatapannya.
"Ya..." jawab Seungcheol.
"Jujur saja... Aku masih belum rela untuk melepaskanmu..." Ucap Doyoon.
Mata bening Doyoon mulai berkaca- kaca. Membuat wajah pucat pasi itu semakin sendu.
Doyoon sedang berusaha menahan air matanya. Ia tak dapat memungkiri hatinya saat ini benar- benar hancur.
"Kau sudah sangat terlambat. Kenapa sekarang? Sepertinya kau yang bersikeras agar aku menerima Jeonghan! Aku sakit-"
"Sakit? Siapa?"
Suara halus itu membuat Seungcheol menengokan kepala dan Doyoon membuang mukanya.
"Aniya, Jeonghanie. Gwechanayo. Jja, kita berangkat..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Aigoo... Neomu yeopposeo!"
"Really sweet boy!"
"Kau seperti berlian, Jeonghan..."
Entahlah apa Jeonghan menerima setiap pujian yang keluar dari bibir ketiga sosok cantik dan manis itu, namun Jeonghan menyadari bahwa dirinya memang sangat cantik dengan kain putih panjang yang menghiasi kepalanya ini.
"Kau siap Jeonghan?"
Sosok tinggi sang appa menyadarkan Jeonghan dari lamunannya.
"Ne..."
"Minhyun, Minki, dan kau Ailee, cepatlah menuju tempat kalian. Percayakan Jeonghan pada appanya." Kata Tuan Jang yang muncul bersamaan dengan Tuan Yoon.
"Jangan gugup Jeonghan."
"Biarkan jiwamu tetap diragamu."
"Eomma merasa bahagia jika kau bahagia..."
Dan ketiga sosok cantik itu menghilang di balik pintu setelah memberikan Jeonghan nasihat dan kecupan di pipi dan dahi. Tuan Jang juga mengikuti langkah kaki istri dan teman-temannya itu.
Dengan penuh kelembutan Tuan Yoon mengulurkan tangannya. Jeonghan tersenyum kecil dan menerimanya dengan perlahan.
"Masa depanmu harus cerah, Jeonghan-ah. Appa mencintaimu..."
Jeonghan mengangguk pelan dan merangkul lengan Tuan Yoon.
.
.
.
.
.
.
Suasana sangat hening. Tak ada dentingan piano mau pun sorak sorai penonton. Hahaha, tentu saja karena kedua pengantin tengah mengikrarkan janji suci mereka.
"You can kiss your wife..."
'Kumohon jangan lihat ini…'
Mulai disitu lah suara tepuk tangan para tamu undangan riuh. Juga suara jepretan kamera yang ada dimana- mana.
"Mereka sangat serasi..." Ucap Nyonya Jang sambil berbisik ke dua sahabatnya.
"Ne. Mereka sangat serasi. Aku tak salah memilih Jeonghan sebagai menantuku." Ucap Nyonya Choi bangga dan bahagia.
"Tapi kuharap Seungcheol bisa meladeni sikap keras kepala Jeonghan." Ucap Nyonya Yoon.
Nyonya Jang dan Nyonya Choi hanya mengangguk dan kini kembali menatap kedua pengantin yang kini berjalan menuju keluar gereja.
"Sekarang saatnya untuk menuju ke ruang rias. Dimana Doyoon-ah?" Ucap Tuan Choi yang baru saja berdiri di hadapan ketiga Nyonya besar kita.
"Loh, bukannya tadi di samping kita?"
Baik Nyonya Choi, Nyonya Jang dan Nyonya Yoon sama-sama heran. Pasalnya Doyoon duduk di sebelah mereka bahkan sempat menangis, turut berbahagia.
"Minhyunie, kau temani Ailee mencari Doyoon. Aku dan Jonghyun harus segera mengikuti kedua pengantin. Dan kau Minki, tetaplah di samping Jeonghan. Ia pasti lumayan takut."
Dengan sigap, Nyonya Choi dan Nyonya Jang langsung berjalan entah kemana. Sedangkan Nyonya Yoon mengkuti Tuan Choi menuju ruang pengantin.
"Hyung, aku khawatir dengan keadaan Doyoon... Kau pasti mengetahui hal itu juga kan?"
Suara bening Nyonya Yoon mulai merendah. Sangat terlihat raut kesedihan dari nadanya dan juga raut wajahnya.
Tuan Choi kini merangkul Nyonya Yoon sambil berjalan menuju mobil yang sudah siap di ujung sana.
"Sudahlah, Minki-ah. Yang terjadi tidak usah dipikirkan. Seungcheol akan lebih baik jika bersama Jeonghan." Ucap Tuan Choi.
.
.
.
.
.
Apa yang kalian harapkan akan keadaan Doyoon?
Sosok cantik itu terbaring lemah. Hanya bisa membaringkan tubuhnya di ranjang rumah sakit ini. Lihatlah tabung oksigen dan berbagai macam alat yang terpasang di tubuhnya.
Wajahnya amat sangat taka da darah yang melewati setiap inci tubuhnya.
Di samping raga Doyoon yang tak sadarkan diri, dua sosok cantik tengah menangis pilu. Satunya menangis dalam diam dan satunya terisak pelan.
Jika saja kalian melihat wajah kedua sosok ini, mungkin kalian akan ikut menangis pula.
"Eot..thoke...hisk.. Oppa... Do..doyoon tengah sekarat..." Ucap Nyonya Jang terbata- bata.
"Kau tetaplah disini, Ailee. Jaga Doyoon. Kuyakin kekuatan sang eomma mampu membuatnya bertahan." Ucap Nyonya Choi yang kini tengah menghapus kasar air matanya.
"Ne... Oppa kembalilah... Jangan katakan apa yang terjadi... Ini hari pernikahan mereka, jangan sampai hari ini diliputi kesedihan..." Kata Nyonya Jang sambil tersenyum pilu.
Ia mencoba untuk tersenyum seperti biasa, namun melihat sang aegya seperti ini, hanya senyuman pilu yang bisa ia keluarkan.
Nyonya Choi mendekat ke tubuh lemah di hadapannya dan mengelus lembut pipi tirus Doyoon.
"Bertahanlah... Sebentar saja... Buktikan bahwa kau mencintainya..."
Dan sebuah kecupan di dahi Doyoon mengakhiri ucapan Nyonya Choi.
"Aku kembali, Ailee-ah. Jaga Doyoon, ne..." Pamit Nyonya Choi.
"Ne... Titip salamku, Minhyun oppa..."
.
.
.
.
.
Panik.
Jeonghan terkena serangan panik.
"Eomma... Bagimana ini? Kalau tidak ada Doyoon, aku tidak bisa menenangkan jantungku..." ucap Jeonghan.
Jeonghan kini sedikit –sangat- panik. Bahkan keliwat panik.
"Tenangkan dirimu Jeonghan..."
Jeonghan sudah mencoba. Dari berjalan berputar-putar, memainkan handphonenya, meloncat-loncat seperti orang aneh, hingga ia sempat-sempatnya merajut sebuah syal. Namun usahanya sia-sia.
Ia butuh sosok Doyoon di sampingnya untuk menenangkannya selain Jisoo sahabatnya yang ada di Korea sana yang tak bisa hadir karena menemani suaminya.
Maka dari itu pelukan dan kata penyemangat dari Doyoon bisa meredakan adrenalin pada tubuhnya.
"Appa... Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Jeonghan.
"Cobalah menarik nafas yang dalam, Jeonghanie..." Ucap sang appa dengan nada lembut.
Jeonghan menuruti namun ia masih tetap merasakan jantungnya berdetak cepat.
Krieet...
Pintu terbuka dan sosok tegap Tuan Jang terlihat.
"Ada apa ini? Sepertinya ribut sekali..." ucap Tuan Jang.
"Aron hyung... Penyakit lama Jeonghan kambuh lagi..." jawab Nyonya Yoon.
Tuan Jang mengerutkan keningnya. Melihat pemandangan yang tak biasa seperti ini memang memerlukan pemahaman yang tinggi.
Ia memandang Jeonghan yang kini berjalan mondar- mandir dengan tuxedo rose quartz berpotongan feminim dan veil panjang yang berkilau.
Jangan lupakan dua orang penata rias yang sibuk ke sana- sini mengikuti Jeonghan. Ada yang membawa tisu di tangannya, pasalnya Jeonghan terus berkeringat, dan ada yang membawa alat make up kesana- kemari.
Bisa dilihat juga kulit pucat Jeonghan walau ia sudah menggunakan make- up. Begitu pula dengan tangan Jeonghan yang dari tadi sibuk bermain satu sama lain.
Oh sepertinya Tuan Jang mengetahui apa yang dialami Jeonghan.
"Lee-ssi, Kim-ssi, kalian bisa istirahat dulu." Ucap Tuan Jang.
Dua penata rias itu mengangguk dan membungkuk hormat lalu meninggalkan ruangan pengantin itu.
"Minki-ah, bisa kau buatkan susu coklat?" tanya Tuan Jang.
Nyonya Yoon mengangguk lalu menuju pintu.
"Jonghyun, bisa kau bantu Baekho? Ia sepertinya kewalahan." Ucap Tuan Jang.
Tuan Yoon mengangguk dan kini meninggalkan ruangan itu.
Kini tersisa Tuan Jang yang menghela nafas dan menatap Jeonghan dengan senyuman.
"Jeonghan... Kemarilah..."
Jeonghan memalingkan wajahnya menghadap Tuan Jang dan kini menuju ke arahnya.
"Duduklah..."
Tuan Jang meminta Jeonghan untuk duduk di pinggiran kasur sedangkan Tuan Jang menyeret kursi menuju tepat di hadapan Jeonghan dan duduk disana.
"Wae? Ceritakan pada ajushi." Kata Tuan Jang.
Tangan Jeonghan masih bermain dan bibir Jeonghan tak berhenti untuk bergerak.
"Aku hanya gugup, ajushi. Doyoon tidak ada." Jawab Jeonghan.
Tuan Jang mengetahui syndrom Jeonghan ini.
"Jeonghan, kini kau sudah menjadi istri Seungcheol. Kau harus bisa mengendalikan perasaan gugup tanpa Doyoon mulai sekarang. Karena tidak mungkin Doyoon ada setiap kau merasakan hal seperti ini."
Tuan Jang kini mengenggam tangan Jeonghan. Memang tangan itu terasa dingin.
Jeonghan sedikit menunduk. Yang dikatakan Aron ajushinya ini memang benar.
"Ingat satu mantra ini. Dan yakinlah bahwa semua perasaan gugupmu akan hilang. Kau siap?"
Jeonghan menganggukan kepalanya.
"Pejamkan matamu dan ikuti apa yang akan aku bicarakan..."
Jeonghan mengikuti apa yang dikataan Tuan Jang.
"Aku bisa dan akan aku lakukan!"
"Aku bisa... dan akan aku lakukan!"
Jeonghan membuka matanya dan mulai merasakan jantungnya mulai melambat. Bersamaan dengan itu, Nyonya Yoon datang dengan membawa segelas susu coklat.
"Minumlah..." Ucap Tuan Jang.
Nyonya Yoon memberikan segelas susu coklat ke Jeonghan dan Jeonghan meminumnya dengan kecepatan sedang.
'Aku bisa... dan akan aku lakukan.'
Bathin Jeonghan berkali- kali mengucapkannya.
"Aku bisa dan aku akan melakukannya! Kamsahamnida, ajushi. Saranghae..."
Jeonghan memeluk Tuan Jang dan kini ia berjalan dan duduk di depan meja rias.
"Aku siap melanjutkan apa yang tertunda..."
Mrs . Yoon tersenyum begitu pula dengan Tuan Jang. Dan kini, Jeonghan melanjutkan apa yang sempat terhenti tadi.
.
.
.
Tbc~
.
.
.
.
"Kita akan bahagia jika kau menerima tawaran appaku. Kenapa kau menolaknya dan malah menggunakan Jeonghan sebagai alasan?!"
